GOOD BYE, MY JILBAB

Beberapa waktu lalu saya melihat seorang teman yang berhijab dan dulu kami pernah dekat, memposting foto dirinya tanpa berhijab di media sosial. Pada awalnya dia memposting foto tanpa hijab itu dari jauh dengan pencahayaan sedikit gelap dan terlihat seperti siluet. Sehingga tidak terlalu jelas dia sedang tanpa hijab saat itu. Tapi semakin lama, dia semakin berani memperlihatkan dirinya tanpa hijab dalam berbagai pose yang diambil dari dekat dengan pencahayaan yang cukup terang.

Ya memang Moms, hidup adalah pilihan. Setiap orang punya hak dan boleh memilih apa yang diinginkannya. Tidak ada yang memaksa, bahkan Allah sekalipun. Termasuk teman saya itu. Dia saat ini sudah memilih untuk melepas hijabnya.

Tapi peristiwa itu membuat saya bertanya-tanya, kenapa ya dia sampai memutuskan untuk melepas hijabnya? Tentunya dia memiliki alasan kuat untuk itu. Sayangnya saya belum sempat untuk bertanya langsung kepadanya, karena memang sudah lama juga kami tidak saling kontak langsung.

Dia memang bukan satu-satunya teman saya yang melepas hijabnya, Moms. Sebelumnya sudah ada beberapa teman yang melakukan hal sama. Dan lagi-lagi saya tidak sempat menanyakan alasannya. Yang ini lebih karena saya sendiri saat itu belum mengenal dan terbiasa untuk merenung dan merasa-rasakan berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar saya. Jadi hal seperti itu kurang mendapat perhatian dari saya.

Mungkin alasan mereka melepas hijab sama seperti yang pernah saya rasakan. Saya juga sempat tergoda untuk melepas hijab saya. Yang saya rasakan saat itu adalah berhijab membuat saya jadi terbatas dalam beraktivitas, bahkan kadang-kadang dalam melakukan gerakan tertentu. Padahal saat itu saya masih jarang memakai gamis lebar seperti sekarang. Saya lebih sering memakai celana panjang. Belum lagi kalau sedang terburu-buru perlu berangkat pagi, rasanya ribet harus menggunakan kerudung dan baju panjang.

Apakah Moms juga pernah merasa tergoda untuk melepas jilbab? Karena alasan apa?

“Ya pernah. Waktu itu saya merasa kurang oke kalau berjilbab.”

“Saya juga pernah. Sama alasannya karena ribet kalau pake jilbab. Gerak juga jadi terbatas.”

“Kalau saya pernah terpikirkan melepas jilbab karena melihat bahwa ternyata ada orang yang sangat baik, selalu merasa tenang dan damai, tanpa berjilbab. Jadi untuk apa berjilbab?”

Ya betul. Bisa jadi mereka merasa kurang pantas memakai hijab. Merasa penampilannya jadi kelihatan tua dan enggak oke banget. Mau pake make up yang tebal, enggak boleh karena katanya tabaruj. Mau pake baju yang sedang trendy, enggak boleh karena memperlihatkan lekuk tubuh atau bisa terselip riya’. Karena keinginan untuk tampil oke itu lebih besar daripada berhijab, jadilah mereka melepas hijabnya.

Atau mungkin karena mereka melihat kenyataan bahwa tanpa berjilbab pun ada manusia yang bisa merasakan tenang dan damai. Merekapun pun mencari tahu bagaimana caranya. Ketika sudah tahu, mereka melepas jilbabnya karena alasan berjilbabnya adalah ingin merasakan tenang dan damai. Toh tanpa berjilbab mereka bisa merasakan tenang dan damai tersebut.

Atau bisa jadi alasan mereka melepaskan hijab karena mereka merasa gagal. Gagal menjadi orang saleha. Mereka merasa dengan berhijab perilaku dan sikap masih sama seperti sebelum berhijab. Tidak ada perbaikan ke arah yang diharapkan. Salat masih bolong-bolong. Masih suka bergunjing. Masih lebih suka hura-hura dan kumpul-kumpul di mal dibandingkan ke pengajian atau komunitas agamis lainnya. Masih suka berkata-kata jelek. Dan sebagainya.

Sehingga mereka merasa malu ketika mendengar orang-orang berkata “untuk apa pake hijab kalau kelakuan masih kayak begitu?!”. Dan akhirnya menyerah, mereka pun melepas hijabnya.

Tapi mungkin Moms, mereka lupa atau belum menyadari bahwa perempuan muslim itu memiliki aurat yang harus ditutup dan tidak boleh sembarang orang melihatnya. Aurat perempuan itu adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangannya. Kenapa aurat perempuan itu sedemikian rapat, karena sesungguhnya tubuh perempuan itu sangat menarik, sehingga jika terlihat oleh pria bisa menimbulkan syahwat. Aturan aurat bagi perempuan bukanlah untuk membuat kita repot, melainkan untuk menjaga kita dari hal-hal yang tidak diinginkan. Karena perempuan sangat dimuliakan.

“Katakanlah kepada orang laki–laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allâh maha mengatahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau putera–putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allâh, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

“Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka !” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menegur Asma binti Abu Bakar Radhiyallahu anhuma ketika beliau datang ke rumah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengenakan busana yang agak tipis. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memalingkan mukanya sambil berkata : “Wahai Asma! Sesungguhnya wanita jika sudah baligh maka tidak boleh nampak dari anggota badannya kecuali ini dan ini (beliau mengisyaratkan ke muka dan telapak tangan).” (HR. Abu Dâwud dan al-Baihaqi di-shahihkan oleh syaikh al-Albâni rahimahullah)

Moms, tentunya pernah mendengar atau membaca tentang pelecehan seksual yang terjadi kepada perempuan bahkan bisa sampai terjadi perkosaan. Itu bisa saja terjadi karena kita, perempuan, tidak menutup aurat sesuai yang diperintahkan. Kalaupun pelecehan dan perkosaan itu tidak terjadi kepada kita, kita akan merasakan khawatir hal itu akan terjadi pada diri kita di saat-saat tertentu. Kehidupan kita di dunia menjadi tidak bahagia.

Dan bagaimana dengan di akhirat kelak? Ternyata perempuan yang tidak menutup auratnya akan sengsara, Moms. Sholatnya tidak diterima dan dia tidak bisa masuk ke surga bahkan mencium bau surgapun tidak bisa.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (yang pertama adalah) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (yang kedua adalah) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berpaling dari ketaatan dan mengajak lainnya untuk mengikuti mereka, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

Rasulullah bersabda: “Tidak diterima sholat wanita dewasa kecuali yang memakai khimar (jilbab).” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Majah)

Alhamdulillah ya Moms, bagi kita yang masih terus memakai jilbabnya sesuai aturan. InsyaAllah kita terhindar dari hal-hal tersebut di atas. Aamiin…

#selfreminder
#empoweredmoms
#jilbab
#membukajilbab
#aurat
#menjagadanmemuliakanperempuan
#mampukanhati
#inginmenjadibaik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *