MENCUCI BAJU

Ini adalah salah satu tulisan yang insyaAllah akan ada dalam buku ke 3 saya.

Menjelang tidur tadi malam, saya termenung. Seorang teman sekamar, sebut saja Mawar, menegur salah satu teman sekamar kami yang lain, sebut saja Melati dengan nada yang terdengar sedikit kesal. Dan penyebabnya adalah sepele, yaitu kesempatan untuk mencuci baju dan menjemurnya di kamar mandi.

Menurut Mawar, Melati itu tidak punya tenggang rasa. Dia tidak peduli kalau orang lainpun perlu mencuci baju dan mendapatkan kesempatan menjemurnya. Yang penting bagi Melati semua masalah cuciannya beres. Jadi setiap kali dia perlu mencuci bajunya, langsung saja dicuci dan dijemur tanpa mempertimbangkan bahwa orang lain juga membutuhkan hal yang sama.

Betul juga sih, saya juga merasa kalau kamar mandi kami selalu dipenuhi oleh jemuran baju milik Melati. Dan saya sering merasa agak kesulitan ketika akan menjemur beberapa baju saya.

Rupanya Melati tidak terima dibilang tidak bertenggang rasa. Dengan wajah terlihat kesal, dia kemudian meninggalkan kamar kami dan pergi entah kemana. Dan entah jam berapa dia kembali ke kamar kami. Karena dia baru kembali ke kamar kami setelah kami semua di kamar itu tertidur. Saya terbangun sejenak ketika dia datang membuka pintu kamar.

Pagi tadi ketika saya terbangun sebelum subuh berkumandang, saya melihat Melati sudah terduduk rapih di tempat tidurnya sambil memakai jilbab hitamnya. Saya sapa dengan ramah bermaksud untuk mencairkan suasana yang tegang tadi malam, dia menjawab pelan tanpa senyum.

Ketika saya bersiap-siap untuk mengambil air wudhu, Melati berjalan menuju pintu kamar seperti yang akan pergi meninggalkan kamar ini. Saya pun bertanya mau kemana kepadanya. Dia menjawab dengan gumaman tak jelas dan menghilang ke luar kamar.

Pertanyaan itu terjawab ketika sarapan pagi. Rupanya tadi malam dan sebelum subuh Melati pergi ke salah satu kamar lain rombongan haji kami. Entahlah di sana dia curhat atau bagaimana. Yang pasti kemudian seorang teman dari kamar lain itu, sebut saja Dahlia, mengatakan kepada saya dan Mawar bahwa masalah perselisihan antara Melati dengan penghuni kamar kami yang lain harus segera diselesaikan.

Saya membatin, kenapa saya jadi diikutsertakan menjadi orang yang berselisih dengan Melati? Tapi ya sudahlah. Saya setuju kok untuk menyelesaikan segera masalah itu. Supaya suasana di kamar kami jadi nyaman lagi.

Jadilah setelah sarapan selesai, Melati dipertemukan dengan saya dan teman-teman sekamar yang lain ditengahi oleh Dahlia. Walaupun di awal pembahasan sempat memanas, namun akhirnya kami bisa sepakat dan saling berjanji untuk berbicara baik-baik jika ada yang dirasakan mengganjal. Kami sepakat untuk membatasi jumlah cucian per orang setiap harinya berdasarkan jumlah gantungan baju yang sudah ditentukan.

Sepele dan kesannya kekanak-kanakan ya? Tapi justru hal yang seperti ini, yang dianggap sepele, ternyata bisa membuat ibadah kita terganggu. Padahal kita sudah mengorbankan banyak energi, waktu, biaya, dan kedekatan dengan keluarga untuk berangkat haji. Sangat merugi jika kemudian ibadah haji tidak bisa kita jalankan dengan baik sesuai yang Allah inginkan.

Coba saja rasakan, kita jadi kehilangan ketenangan ketika merasa kesal dengan tingkah laku orang lain. Bagaimana bisa khusuk beribadah ketika ketenangan itu tidak ada. Sejak kemunculan rasa kesal itu pun sebetulnya tidak disukai Allah. Bukankah Allah menginginkan kita bersabar ketika ada orang lain yang bertingkah atau yang zalim kepada kita? Kok kita malah melakukan hal yang tidak disukai Allah, di rumah Allah, ketika menjadi tamu-Nya?

Lantas apa kita biarkan saja orang yang bertingkah itu? Kita kan perlu ikhtiar juga supaya hal yang tidak menyenangkan itu tidak terus-terusan kita alami.

Ikhtiar tetap kita lakukan. Boleh saja kita menyampaikan keberatan kita kepada orang bertingkah itu. Tapi tentu saja dengan cara yang baik dan waktu yang tepat yang tidak membuat orang tersebut tersinggung.

Sabar dan menyampaikan keberatan dengan baik adalah kemampuan hati. Tanpa kita menyadari kenapa kita perlu bersabar dan kenapa kita butuh menyampaikan keberatan dengan baik; maka kedua kemampuan itu tidak akan kita miliki. Sehingga kemudian kita menjadi kesal dan membuat orang lain tersinggung.

MasyaAllah, kalau saja Allah tidak mempersiapkan saya untuk menghadapi hal-hal seperti ini, tentunya saya pun akan ikut kesal dan menyinggung perasaan orang lain. Terima kasih, ya Allah. Pengaturan-Mu memang terbaik.

Mekah, 29 Agustus 2017, 15.05

#bukuke3
#enlightenedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#100dayswritingchallenge2
#day26

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *