S A B A R

“Jadi gimana cara kamu menemukan solusi itu, Zan?” Tanya saya penasaran.

Azantya, adik kelas di SMA yang sekarang memiliki bisnis fashion yang sedang menanjak naik itu, tampak sudah siap menjawab ketika telepon genggamnya berbunyi. Diliriknya layar telepon genggam yang ada di meja kafe tempat kami bertemu ini, kemudian menjawab,” Maaf ya, Teh. Saya terima telepon dulu sebentar. Dari tim saya.”

Dan Azantyapun beberapa saat menjawab telepon tersebut. Terdengar suara perempuan namun tidak jelas apa yang dikatakannya dari telepon genggamnya itu. Hanya saja dari nada bicaranya terdengar kepanikan. Tapi Azantya terlihat tenang dengan senyum tampak membayang di bibirnya. Kemudian diapun berkata-kata dengan ketenangan yang sama walaupun terasa nada ketegasannya.

“Ada apa kalau boleh tahu, Zan?” Setelah Azantya menutup telepon genggamnya.

“O, itu. Biasalah. Ada kesalahan pengiriman, beberapa paket barang tertukar dikirimkan ke alamat yang bukan semestinya,” jawab Azantya sambil tersenyum.

“Sering hal seperti itu terjadi?”

“Sebetulnya hanya satu orang yang sering melakukan itu, yang barusan telepon itu. Memang agak teledor orangnya.”

“Sering? Memang enggak pernah dikasih tahu atau sanksi kalau dia melakukan itu lagi?” Tanyaku heran.

Azantya tertawa kecil,” Sudah. Tapi terulang lagi dan lagi.”

“Terus kenapa dia masih dipertahankan menjadi tim kamu?”

Azantya terdiam sebentar sambil memandang saya. Bibirnya tetap menyunggingkan sedikit senyum,” Dia memang tidak sepintar dan secekatan tim yang lain. Tidak jarang melakukan kesalahan bahkan untuk hal-hal kecil seperti lupa menyimpan peralatan. Tapi dia single parents, anaknya 3 masih perlu biaya banyak. Niat saya berbisnis bukan semata-mata untuk profit pribadi saja, tetapi juga ingin membantu orang lain yang membutuhkan.”

MasyaAllah, rasa kagum mulai saya rasakan. Kemudian kamipun melanjutkan percakapan yang terpotong tadi. Namun tidak lama terdengar telepon genggam Azantya berbunyi lagi. Diliriknya layar telepon genggam itu dan kali ini lebih cepat dia menjawab panggilan telepon tersebut.

“Maaf, sebentar ya, Teh. Dari suami,” katanya sambil berdiri dan menjauh dari tempat kami duduk. Beberapa saat kemudian Azantya berjalan kembali mendekati meja kami sambil berkata,” Ya udah, Pa, bawa ke sini aja Dik Rasya nya.”

“Rasya lagi agak rewel, mungkin karena sedang kurang enak badan, sedang agak pilek dia. Risya masih betah di toko buku. Jadi enggak sinkron deh,” katanya menjelaskan sambil tertawa kecil. Rasya adalah anak bungsu laki-laki Azantya yang baru bersekolah di TK. Sementara Risya adalah anak sulung perempuannya yang sudah di SMA.

Tidak lama kemudian suami dan anak bungsu Azantya datang. Rasya langsung merangkul ibunya dengan manja. Kata-kata bernada manja berhamburan keluar dari mulut kecilnya.

Yang membuat saya kagum adalah kesabaran Azantya menghadapi kemanjaan Rasya ketika kami kemudian melanjutkan percakapan yang tertunda setelah suaminya kembali ke toko buku untuk menemani anak sulung mereka. Tidak jarang percakapan kami harus berhenti sesaat karena Rasya meminta perhatian ibunya. Dari mulai ingin memesan makanan dan minuman tertentu, membujuk Rasya untuk tidak memesan minuman dingin, ke toilet, minta dipijit kakinya, minta dicium kedua pipinya, sampai minta disuapi.

Namun tidak ada sekalipun Azantya menghadapinya dengan kesal dan keras. Hanya ketenangan dan kelembutan yang tercermin dalam setiap tindakannya. MasyaAllah …

Kemudian terdengar lagi telepon genggam Azantya berbunyi. Dari timnya lagi. Sepertinya kali ini masalahnya cukup pelik sehingga membutuhkan kehadirannya di sana. Dan lagi-lagi sikap dia tetap tenang dalam menghadapi permasalahannya itu. Tidak terlihat kegelisahan dan kekhawatiran di dalamnya.

“Maaf sekali lagi ya, Teh. Kita enggak bisa lebih lama lagi ngobrolnya. Padahal saya masih kangen. Padahal saya yang semangat mengajak Teteh bertemu,” katanya ketika kami bersalaman pipi berpamitan. Kemudian dia mengajak Rasya berjalan meninggalkan kafe itu menuju toko buku untuk menyusul suami dan anak sulungnya.

Dan rasa kagum itu masih terus ada di hati ketika sosoknya menghilang ditelan dinding pembatas kafe dengan bagian lain di mal besar itu. Apa ya, yang ada di hatinya sehingga kesabarannya tetap ada walaupun berbagai ketidaknyamanan sedang menghampirinya?

#sarapankata
#day6
#kmoindonesia
#kmobatch12
#sabar
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day33

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *