VICTIM OR VICTOR? (1)

“Jalanan macet.”

“Hujan deras banget.”

“Ban motor bocor.”

Pernahkah mendengar seseorang yang menjawab seperti itu ketika dia datang terlambat pada saat meeting atau masuk kerja/kuliah misalnya? Sering, ya?

“Terlalu banyak tugas/pekerjaan dalam satu waktu.”

“Printernya rusak.”

“Anak rewel.”

“Waktunya mepet banget.”

Atau pernahkah mendengar seseorang menjawab seperti di atas ketika dia tidak bisa mengerjakan tugasnya di tempat kerja/kampus misalnya? Ternyata sering juga, ya.

Apakah salah jika seseorang memberikan alasan-alasan seperti itu? Belum tentu. Bisa jadi apa yang dikatakannya itu memang benar adanya. Jalanan memang macet, hujannya memang deras banget, printernya memang rusak, atau waktunya memang mepet banget.

Tetapi bukan masalah salah atau benar, terjadi atau tidak, apa yang dikatakannya itu. jika itu menjadi kebiasaan maka kita menjadi sering dan dengan mudah membiarkan janji atau tugas/perkerjaan kita terbengkalai. Pada saat seperti itu beribu alasan bisa dengan mudah kita temukan. Sehingga kita mungkin jadi tidak merasa bersalah dan mungkin juga tidak ada keinginan untuk mengerjakan tugas/pekerjaan kita dengan baik. Kita jadi lalai akan tanggungjawab/janji kita.

Bagaimana mungkin kita bisa menjadi pemenang jika hal itu sering kita lakukan? Bagaimana mungkin kita bisa mencapai keinginan-keinginan/mimpi-mimpi kita jika sering dan dengan mudah memberi alasan seperti itu? Katanya ingin berprestasi di tempat kerja. Katanya ingin bisnisnya sukses. Katanya ingin bisa lulus kuliah tepat waktu dan dengan nilai yang baik. Katanya ingin jadi penulis buku yang hebat dan terkenal.

Apakah semua itu bisa kita capai hanya dengan “ingin”? Tapi kita tidak memperbaiki kebiasaan-kebiasaan kita yang tidak baik seperti di atas? Yaitu dengan mudah kita memberikan banyak alasan untuk ketidakdisiplinan kita?

Selama kita merasa selalu menjadi korban (victim) kita akan sulit untuk menjadi pemenang (victor). Itulah kemudian yang membuat kita menjadi sering mengeluh saja tanpa mencari solusi dari apa yang kita keluhkan itu. Kita menjadi merasa nyaman dalam keluhan-keluhan itu. Kita tidak merasa bersalah ketika keluhan itu disampaikan.

Tapi memang semua kembali kepada diri masing-masing. Menjadi victim atau victor adalah pilihan. Tidak ada yang bisa menentukannya kecuali diri kita sendiri.

Jadi mau tetap menjadi victim atau berubah menjadi victor?

#sarapankata
#day7
#kmoindonesia
#kmobatch12
#victimorvictor?
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day34

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *