BERSERAH DIRI

Kalau dua hari lalu sajian sarapan saya adalah tentang salah satu kata yang mudah untuk diucapkan tetapi sulit untuk dilakukan, yaitu ikhlas; maka hari ini sajiannya adalah kata lain dengan ciri yang sama yaitu berserah diri atau pasrah.

Siapa tidak tahu dengan kata itu, saya kira hampir semua orang tahu. Bahkan mungkin hampir semuanya pernah mengucapkannya.

“Pasrah saja, kawan, mau apa lagi?”

“Kalau sudah begini, saya hanya bisa pasrah.”

“Akhirnya saya pasrah, mau gimana lagi coba?”

Begitu kata “pasrah” sering saya dengar atau baca. Dari nada dan kata-kata lain yang “menemani” kata “pasrah” itu terkesan bahwa pasrah adalah jalan terakhir yang ditempuh ketika berbagai ikhtiar sudah dilakukan dan tidak ada hasilnya.

Misalnya ada seorang teman yang berpasrah ketika dia tidak berhasil menagih hutang yang dipinjam partnernya dalam jumlah yang cukup besar. Padahal hutangnya itu diambil dari sebagian uang bisnisnya yang katanya sedang sangat dibutuhkan saat itu. Berbagai cara sudah dilakukan, dari cara halus sampai dengan ancaman dilaporkan kepada yang berwajib dan diperkarakan ke pengadilan. Tapi tidak ada hasilnya. Partnernya menantang “silakan diperkarakan,” katanya.

Bagaimana respon teman saya atas hal itu? Dia tahu memperkarakan bukan hal yang mudah. Berbelit prosedurnya dan ongkosnya mahal. Dia sadar itu bisa berlarut-larut dan bisa membuat dia menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan dana yang tidak sedikit. Akhirnya dia bilang dengan wajah kuyu,” Ya sudah, saya pasrah saja. Mau gimana lagi coba?”

Atau saya pernah mendengar ada seorang karyawan di-phk. Sejak setahun sebelumnya dia sudah mendengar desas-desus bahwa perusahaan tempatnya bekerja itu akan melakukan pengurangan karyawan karena kondisi keuangan perusahaan yang semakin buruk. Dia berikhtiar dengan melakukan berbagai tugasnya sebaik-baiknya agar dia dinilai berharga oleh perusahaan sehingga dipertahankan tidak ikut di-phk.

Dia semakin rajin datang ke kantor, tidak pernah terlambat. Dan pulang lewat dari jam yang ditentukan kadang sampai malam sekali masih di kantor menyelesaikan tugasnya. Dia pun memberi perhatian lebih kepada atasan langsungnya. Dia mengirimkan bunga dan kartu ucapan ketika atasannya itu berulang tahun dan mendapat suatu penghargaan. Dia menjenguk ketika anak atasannya itu sakit dan dirawat di rumah sakit. Dia menawarkan bantuan ketika atasannya itu melangsungkan syukuran ketika akan berangkat haji.

Namun ketika phk diberlakukan, dia termasuk yang ikut di-phk. Dia pun dengan sangat kecewa berkata,” kalau sudah begini, saya hanya bisa pasrah.”

Berpasrah atau berserahdiri adalah salah satu sikap yang dibutuhkan agar kita tetap mampu menjalani kehidupan di dunia ini dengan baik atau dengan kata lain bahagia. Termasuk ketika memanfaatkan waktu kita di bisnis dan tempat kerja. Rasa bahagia membuat kita selalu bersemangat untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Rasa bahagia membuat kita selalu memandang segala sesuatu itu positif. Rasa bahagia juga membuat kita selalu bersikap baik kepada siapapun. Semua itu membuat kita mampu menjadi pekerja teladan dan pebinis handal. Siapa yang tidak mau? Sebagian besar orang pasti menginginkan itu.

Masih belum yakin? Inilah janji Allah kepada mereka yang berserah diri:

“… Dan barangsiapa yang bertawakkal (berserah diri) kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath-Thalaq: 3)

Semestinya kita menjadi bahagia karena Allah berjanji untukmencukupi segala keperluan kita jika kita berserah diri. Dan janji Allah adalah pasti. Dia Maha Suci tak mungkin ingkar janji.

Tapi apakah kita bisa merasa selalu bahagia dengan cara berserah diri seperti dua contoh di atas? Wajah kuyu dan rasa kecewa ketika mengatakan keberserahan dirinya itu memperlihatkan mereka tidak bahagia, jika bahagia diartikan sebagai rasa tenang dan tenteram tanpa ada rasa sedih, kecewa, gelisah, dan khawatir.

Mereka sudah berserah diri tapi masih belum merasa bahagia. Kenapa ya?

#sarapankata
#day10
#kmoindonesia
#kmobatch12
#berserahdiri
#pasrah
#tawakal
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day37

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *