ALASAN EMOSIONAL

Cara lain untuk memupuk perasaan-perasaan positif adalah dengan menemukan alasan emosional. Seperti apakah itu? Yuk kita simak cerita di bawah ini.

Pada saat melihat ibu atau ayah kita, atau keduanya, yang sekarang tampak semakin tua dan lemah, atau bahkan mungkin sedang berjuang untuk kesembuhan sakitnya yang cukup parah; apa yang terasa? Apakah rasa sedih karena belum mampu membalas jasa-jasa mereka terhadap kita? Ataukah merasa menyesal karena selama ini terlalu disibukkan oleh pekerjaan atau bisnis dan keluarga kecil kita sehingga mereka terbengkalai tidak mendapatkan perhatian yang cukup?

Kemudian kita teringat akan perjuangan mereka melahirkan dan membesarkan kita dengan penuh kasih sayang. Terasa begitu besar kasih sayang mereka kepada kita. Apalagi ketika kita sudah mempunyai anak. Bagaimana perasaan kita terhadap anak kita, maka seperti itu jugalah perasaan mereka terhadap kita.

Saya teringat perjuangan ketika hamil terutama di 3 bulan pertama dengan morning sicknya. Juga 2 bulan terakhir ketika kehamilan sudah membesar. Membawa beban perut yang semakin berat, bukan hanya cepat lelah ketika berjalan lama dan sering sakit pinggang bagian belakang, tetapi juga ketidaknyaman ketika tidur. Serba salah menentukan tidur dalam posisi apa. Telentang terasa agak sesak nafas. Miring ke kiri atau kanan, jika terlalu lama juga terasa pegal. Apalagi ketika kontraksi mulai terasa sering datang.

Tetapi saya juga ingat, semua itu tidak terasa berat karena menyadari bahwa ada sesuatu yang kehadirannya sangat diharapkan di perut saya. Seorang anak.

Rasa sakit dan tidak nyaman ketika melahirkan menambah daftar perjuangan itu. Bagaimana sakitnya perut yang semakin lama semakin menjadi ketika persalinan semakin dekat. Dan tenaga yang dikeluarkan pada saat persalinan juga tidak sedikit. Tetapi semua itu hilang ketika terpandang anak yang didamba ada di pelukan.

Selesaikah perjuangan seorang ibu? Belum. Hari-hari selanjutnya direpotkan oleh tingkah sang bayi yang memang sedang membutuhkan banyak perhatian. Kurang tidur, telat makan, badan tidak terperhatikan adalah beberapa hal yang menemani hari-hari kita dengan bayi sampai usia 2 tahun ketika waktunya disapih.

Setelah itu, perjuangan dan kasih sayang ibu terus berlanjut seperti iuga kasih sayang dan perjuangan ayah. Bagaimana ayah berjuang untuk memberikan segala sesuatunya yang terbaik untuk kita. Makanan, baju, rumah, sekolah, hiburan terbaik untuk kita. Selalu berusaha menyenangkan dan mengabulkan keinginan kita.

Kasih sayang mereka tidak berhenti hingga kita dewasa dan berumah tangga. Saya ingat bagaimana khawatirnya mereka ketika saya sakit. Mereka sering berkunjung sambil membawakan makanan kesukaan saya. Dan yang pasti doa mereka tidak pernah putus setiap harinya untuk kita, seperti juga doa kita kepada anak-anak kita.

Ah, ternyata saya sangat menyayangi mereka. Saya ingin membuat mereka bahagia tidak hanya ketika mereka masih ada tetapi juga setelah meninggal dunia. Saya ingin mengajak mereka untuk semakin taat pada-Nya agar apa yang kuinginkan itu tercapai. Tapi itu sulit karena kemampuan saya hanya sebatas mengajak sementara menjadi taat ditentukan oleh diri mereka sendiri. Saya tidak bisa mengendalikan mereka untuk mau taat.

Ada satu cara lagi yang bisa saya lakukan yang bisa saya kendalikan. Yaitu menjadi anak perempuannya yang salihah. Dengan menjadi salihah saya bisa membantu mereka untuk mendapatkan amal saleh ketika nanti mereka sudah tiada. Pahala tetap mengalir untuk mereka atas doa yang saya panjatkan kepada Allah bagi mereka.

Untuk menjadi anak salihah artinya saya butuh untuk selalu taat kepada Allah. Taat kepada Allah tidak hanya menjalankan amalan fisik seperti salat, puasa, zakat, baca alquran, sedekah. Melainkan juga amalan hati seperti sabar, ikhlas, khusu’, dan berserahdiri atau disebut juga perasaan-perasaan positif.

Kalau amalan fisik, sebagian besar dari kita sudah terbiasa melakukannya sejak kecil dulu. Sayangnya tidak untuk amalan hati. Sepertinya masih perlu perjuangan untuk bisa melakukan amalan ini.

Tetapi karena saya merasakan keinginan yang demikian kuat untuk membahagiakan kedua orangtua, maka sayapun berikhtiar terus untuk mampu merasakan perasaan-perasaan positif tersebut. Itulah yang disebut sebagai alasan emosional dalam memupuk perasaan-perasaan positif kita.

Cerita di atas adalah alasan emosional saya. Apakah alasan emosional anda?

#sarapankata
#day27
#kmoindonesia
#kmobatch12
#alasanemosional
#memupukperasaanpositif
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day55

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *