POSITIVE QUESTIONS

Ketika ada seseorang yang curhat atau melihat seseorang yang dekat dengan kita tidak segera menyelesaikan pekerjaannya, maka biasanya otomatis kita akan bertanya “apa sih kesulitan/kendalanya?” Tentu saja kita bermaksud baik karena siapa tahu bisa membantunya setelah menjawab pertanyaan itu.

Sayangnya kita tidak menyadari pada saat kita memilih kata “kesulitan” atau “kendala” untuk diucapkan maka perasaannya, dan juga kita, cenderung menjadi negatif. Dan mungkin dengan rasa lelah, sedih, nyaris putus asa, jengkel, dan kesal; dia pun kemudian menceritakan “kesulitan-kesulitan”nya itu.

Terbayang pada saat dia bercerita perasaan-perasaan negatif itu semakin kuat menguasai hati. Dan biasanya kemudian dia dan kita jadi terfokus pada “kesulitan-kesulitan itu” bukan kepada solusi.

Saya jadi mengerti kenapa di pelatihan privat coaching dari Kandela Institute yang saya ikuti beberapa hari lalu, pemateri Coach Fauzi Rachmanto mensyaratkan untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan positif kepada coachee. Bagaimana bisa sang coachee menemukan solusinya kalau karena pertanyaan kita, sang coach, dia jadi hanya terfokus pada “kesulitan-kesulitan” yang dihadapi. Padahal seorang coach hanya bertugas membantu sang coachee untuk menemukan dan kemudian menerapkan sendiri solusi dari tantangan-tantangan yang sedang dihadapinya. Bukan memberitahukannya.

Jadi pertanyaan apa dong yang bisa kita lontarkan? Coba kita ajak dia untuk menemukan sebetulnya apa sih yang saat itu ingin dia raih dengan bertanya misalnya “apa sih yang ingin dicapai dalam satu tahun ini?” Maka dia akan terfokus kepada tujuan yang akan diraih tersebut bukan kesulitan-kesulitannya. Suasana hati lebih nyaman karena perasaan-perasaan positiflah yang cenderung muncul di hati.

Lantas selanjutnya apa? Kita bisa melontarkan pertanyaan dengan menggunakan cara scalling: “Jika dilihat dari skala satu sampai sepuluh, dimana sepuluh adalah tujuan tersebut sudah tercapai; maka saat ini anda sudah berada di angka berapa?” Dan dia akan menjawab berdasarkan ukuran tersebut. Sehingga kita tahu bahwa dia sedang menghadapi sesuatu yang cukup menantang ketika dia menyebutkan angka berada di sekitar angka 5 misalnya.

Gimana? Lebih enak kan rasanya? Kenapa coba? Ya betul, karena perasaan-perasaan positiflah yang hadir pada saat itu.

Hal itu juga yang sedang saya ikhtiarkan sekarang ini setiap kali berkomunikasi dengan orang lain. Memang perlu dibiasakan dengan banyak-banyak berlatih. Salah satunya adalah ketika saya diberi kesempatan sharing pengalaman menulis di salah satu kampus di Bandung kemarin.

Saya coba untuk menerapkannya dengan melontarkan positive questions setiap kali bertanya kepada audience. Saya perhatikan wajah-wajah audience terlihat cerah dan cukup bersemangat ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Terima kasih Kak Jee Luvina dan NulisYuk yang sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk berlatih menerapkan positive questions ini. Senang sekali bisa berbagi pengalaman menulis dan bertemu dengan calon-calon penulis hebat yang penuh semangat.
.
.
#coachlife
#positivequestions
#sharingkepenulisan
#STBABandung
#kandelainstitute
#nulisyuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *