MEMBANGUN RAPPORT

Suatu ketika saya datang sendirian untuk menjadi peserta workshop. Sampai di sana ternyata tidak ada satu orang pesertapun yang dikenal. Namanya workshop tentu saja banyak praktek yang dilakukan peserta. Dan praktek-praktek itu dilakukan bersama-sama secara berkelompok. Karena itu saya harus bisa bekerjasama dengan beberapa orang tidak dikenal dalam satu kelompok ketika workshop itu berjalan.

Dengan kondisi tidak saling mengenal satu sama lain antar anggota kelompok, muncul rasa sungkan dan kurang nyaman di hati ini pada saat berhadapan dengan teman-teman satu kelompok. Untunglah hal pertama yang pemateri workshop berikan kepada kami, para peserta, adalah kesempatan berkenalan dengan teman-teman satu kelompok. Kemudian saya jadi tahu kenapa penting hal itu dilakukan.

Setelah berkenalan satu sama lain, rasa sungkan dan tidak nyaman itu jauh berkurang. Bahkan jika kita cukup pintar dalam berkomunikasi, maka kedekatanlah yang semakin terasa. Hilang sudah rasa sungkan dan tidak nyaman itu. Dan ternyata hal itu sangat menguntungkan kami. Praktek-praktek atau tugas-tugas bersama dalam kelompok tersebut bisa dikerjakan dengan baik, serta masing-masing peserta jadi bisa mengerti dengan baik materi yang disampaikan.

Hal yang sama saya alami juga pada saat praktek di sesi pertama Kandela Private Coaches Training minggu lalu. Bahkan saya mengalami hal yang tidak disangka-sangka sebelumnya. Walaupun saya sudah mengenal dengan baik sang coachee, ternyata tidak menjamin bisa dengan mudah mendapatkan kedekatan sesungguhnya.

Hal itu terlihat langsung ketika dia menolak untuk menjawab pertanyaan pertama yang ditugaskan pada sesi praktek coaching tersebut. Saya sempat kebingungan ketika itu terjadi. Untunglah pemateri mengarahkan saya untuk menerima penolakan itu dan mengajukan pertanyaan yang lebih sederhana dan dirasakan lebih mudah diterima oleh coachee.

Menarik ya? Saya perlu cari tahu agar mampu membangun rapport atau kedekatan dengan coachee sehingga hal di atas tidak terjadi lagi. Alhamdulillah tidak perlu menunggu lama untuk itu, di akhir sesi ketika melakukan evaluasi, saya mendapatkan jawabannya.

Sedikitnya ada 3 hal yang perlu saya perhatikan dan perbaiki agar kedekatan dengan coachee terbangun baik. Pertama, menghilangkan rasa superior jika coachee adalah orang yang secara hirarkis di bawah kita, seperti yang dialami saya kemarin ketika praktek dan dipertemukan dengan anak sulungku. Atau sebaliknya menghilangkan rasa inferior jika coachee adalah orang yang secara hirarkis di atas kita.

Kemudian menggunakan tone suara best friend sehingga membuat coachee merasa diperlakukan ramah dan menyenangkan. Suasana kaku di awal akan terasa semakin cair jika coachee merasa nyaman bersama kita.

Dan terakhir adalah tidak terburu-buru masuk ke fase selanjutnya dalam coaching setelah fase opening ini. Ya, fase membangun kedekatan ini adalah fase pertama atau opening dalam suatu coaching. Fase yang penting untuk keberlajutan yang baik dan hasil memuaskan bagi suatu sesi coaching. Sehingga lakukan dengan sabar dan pastikan coachee kita sudah merasa nyaman dan percaya kepada kita sebelum berpindah ke fase selanjutnya.

Ah senangnya! Baiklah. Jika begitu saya akan pelajari lebih dalam lagi dan memperbaiki ketiga hal di atas pada saat praktek coaching nanti. Terima kasih my best coach Fauzi yang sudah memberikan insight-insightnya yang sangat membantu.

“Wait! Memang ada berapa fase yang perlu kita lalui dalam sebuah sesi coaching itu? Dan apa saja sih?”

Next time insyaAllah saya cerita tentang itu. Okay!

“Satu lagi! Seperti apa sih tone suara best friend itu dan ada berapa tone suara yang biasanya bermanfaat jika kita sedang melakukan coaching?”

Nah … kalau yang ini akan lebih jelas dan asyik jika mendengar langsung dari pakarnya. Dm saya kalau belum tau siapa orangnya. Okay!

#coachlife
#kandelaprivatecoachestraining
#kandelainstitute
#coachchangeslife
#membangunrapport

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *