KETIKA ALLAH MEMBERIKAN KESEMPATAN

Beberapa waktu lalu, sesama teman yang tinggal di Bandung, bercerita. Dia rutin dikunjungi kerabat jauh dari Kota Tasikmalaya. Seorang perempuan berumur sekitar 60 tahunan. Beliau datang dengan salah seorang cucunya menggunakan transportasi umum.

Kalau saja beliau sehat, tentu tidak menjadi masalah melakukan perjalanan cukup jauh dengan kendaraan umum dan hanya ditemani seorang cucu berusia 12 tahunan. Namun beliau pernah menderita stroke. Jalannya tidak normal lagi dan jari-jari tangannya yang sebelah kiri kaku sulit digerakkan.

Biasanya beliau datang di pertengahan bulan. Beliau mengunjungi rumah orangtua teman saya terlebih dahulu. Baru setelah itu mengunjungi rumah teman saya tersebut sambil berlanjut pulang kembali ke Kota Tasik.

Teman saya tidak bisa melarang beliau untuk datang. Keinginan beliau yang tinggi membuatnya selalu mampu untuk melakukan perjalanan Tasik-Bandung bolak-balik dalam satu hari.

Teman saya bilang, dulu setiap kali beliau datang, selalu merasa terganggu. Dia  merasa kerabatnya itu membebani keluarganya. Memang kebiasaan ini sudah terjadi berpuluh tahun lamanya. Sejak beliau masih relatif muda, masih sehat. Beliau sering berkeluh-kesah dengan segala permasalahan hidupnya. Termasuk masalah ekonomi.

Sudah sering orangtua teman saya membantu beliau terutama dalam masalah ekonomi tersebut. Termasuk memberi beberapa kali modal untuk berbisnis kecil-kecilan, namun tidak pernah berhasil. Selalu saja modal itu habis karena kebutuhan lain yang lebih mendesak.

Sang suami dari kerabat teman saya itu sudah lama tidak mau bekerja lagi setelah mengalami kebangkrutan karena ditipu orang. Dengan 4 orang anak, tentu saja hidupnya semakin sulit secara ekonomi karena tidak ada penopang keluarga. Dialah yang kemudian turun tangan. Hingga sekarang, dalam kondisi kesehatan yang kurang baik pun beliau meminta bantuan kepada keluarga teman saya itu hampir setiap bulannya.

Namun sekarang, teman saya itu merasakan hal yang berbeda. Dia bersyukur Allah sudah mengirimkan beliau kepadanya. Bahkan kadang jika telat datang, teman saya selalu menunggu-nunggu. Serasa ada yang kurang, katanya, dan merasa rugi.

Kenapa begitu ya?

Karena teman saya sekarang sudah menyadari. Kedatangan beliau adalah kesempatan yang Allah berikan untuk menambah bekal di akhirat kelak yang nilainya berlipat ganda. Yaitu kesempatan untuk bersedekah. Seperti yang tercantum di surat Al-Baqarah ayat 261 yang menjadi pilihan untuk #insightQuran kali ini.

Apalagi di bulan Ramadan seperti saat ini. Pemberian kepada beliau menjadi sangat berharga. Karena Rasulullah SAW lebih bersemangat dan rajin bersedekah di bulan Ramadan.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar bersedekah. Semangat beliau dalam bersedekah lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307)

Kadang kita lupa bahwa ketidaknyamanan yang datang kepada kita adalah kesempatan dari Allah untuk mendapatkan keuntungan. Hati kita masih sering tertutup untuk melihat hal seperti ini. Karenanya kita perlu terus berikhtiar. Berproses agar hati kita terbuka dan mampu dengan mudah mengenali kebaikan-kebaikan Allah yang terbungkus ketidaknyamanan.

#enlightenedheart

#ketikaAllahmemberikesempatan

#oneweekonepost

#wifiregionbandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *