Archive for Bisnis Fashion

Syarat, Ketentuan, dan Fasilitas Distributor Lepuspa (Lentik Fashion)

Syarat & Ketentuan:

  • Pembelian pertama minimal sejumlah Rp 8.500.000,- (sebelum diskon distributor).
  • Pembelian selanjutnya minimal sejumlah Rp 1.500.000,- (sebelum diskon distributor) untuk mendapatkan diskon distributor.
  • Minimal pembelanjaan setiap bulannya (akumulasi) Rp 2.000.000,- (setelah didiskon distributor).
  • Jika selama 3 bulan berturut-turut tidak mencapai minimal pembelanjaan di atas, maka syarat dan fasilitas yang berlaku adalah syarat dan fasilitas agen.
  • Bisa menjadi distributor kembali dengan syarat:  dalam 1 bulan minimal pembelanjaan  (akumulasi) Rp 2.000.000,- (setelah didiskon agen), bulan berikutnya syarat dan fasilitas distributor diberlakukan kembali.
  • Memberikan diskon kepada para agen dan reseller Lentik sesuai ketentuan agen dan reseller Lepuspa:
    • Reseller: pembelian pertama minimal sejumlah Rp 500.000,- (belum diskon reseller) diskon 20%, setelah itu setiap pembelian berapapun jumlahnya didiskon 20%
    • Agen: pembelian minimal sejumlah Rp 1.500.000, (belum diskon agen)- diskon 30%, setelah itu pembelian minimal Rp 500.000 (belum diskon agen) didiskon 30%
    • Menerima retur (berupa penukaran barang) dari reseller dan agen sesuai dengan ketentuan retur reseller dan agen jika pembelian barang tersebut dari distributor yang bersangkutan (sama seperti syarat retur untuk agen kec. jangka waktu untuk reseller 2 minggu untuk agen  1 bulan).
    • Perhatikan pula penentuan masa aktif agen di syarat dan ketentuan keagenan Lepuspa.
  • Untuk pemesanan, barang yang sudah tersedia akan disimpankan selama 1 minggu dari tanggal pemesanan pertama, jika lebih dari seminggu belum terjadi transaksi (transfer atau setor) maka barang akan disimpankan selama tidak ada pelanggan lain yang berminat.
  • Syarat retur (tukar barang):
    • Hang tag masih tergantung di pakaian/aksesoris.
    • Tidak ada kotor/sobek/cacat/modifikasi jahit kecuali kondisi sudah seperti itu pada saat diterimanya barang.
    • Untuk kondisi kotor/sobek/cacat pada saat diterima barang, klaim diterima dalam jangka waktu 48 jam sejak diterimanya barang.
    • Jika agen tidak melakukan konfirmasi  dalam jangka waktu 48 jam tsb di atas, maka klaim untuk kondisi kotor/sobek/cacat tidak bisa diterima.
    • Untuk barang yg sedang didiskon eceran, hanya bisa tukar size selama stok tersedia.
    • Fotocopy invoice/nota pembayaran harus disertakan pada saat pengiriman retur.
  • Untuk retur, pengganti retur sesuai dengan brand yang diretur tapi boleh berbeda model, warna, dan ukuran (jika ada perbedaan harga, maka kekurangannya harus dibayar oleh pelanggan, jika ada kelebihan maka bisa dijadikan deposit yang akan diperhitungkan pada pembelian selanjutnya atau pelanggan menambah barang lagi masih dengan brand yang sama).
  • Ongkos kirim retur ditanggung pelanggan, kecuali karena kesalahan Pusat ongkos kirim retur ditanggung Pusat.
  • Melaporkan nama dan no telpon Agen di bawahnya (untuk dicantumkan pada iklan Lepuspa di Media Massa). Melakukan up date untuk para agennya yang masih aktif dan tidak.
  • Harga semuanya belum termasuk ongkos kirim, ongkos kirim ditanggung pelanggan.

 

 

Fasilitas:

  • Diskon 40% dengan minimal pembelian sejumlah Rp 1.500.000,- (sebelum diskon distributor untuk pembelian ke 2 dan seterusnya selama masih menjadi distributor), pembelian di bawah itu mendapat diskon 30% dengan pembelian minimal Rp. 500.000 (sebelum diskon 30%), atau diskon 20% jika pembelian di bawah Rp 500.000,- (sebelum diskon 20%)
  • Nama dan no. telp  dicantumkan setiap Lepuspa beriklan di media massa.
  • 20 set katalog dan 1 buah spanduk pada saat pembelian pertama.
  • Untuk selanjutnya  1 set katalog untuk setiap pembelian min Rp 500.000,- dan berlaku kelipatannya, di bawah Rp 500.000 tidak mendapatkan katalog.
  • Retur (berupa penukaran barang)  berlaku dalam jangka waktu 1,5 bulan dihitung dari tanggal diterimanya barang oleh distributor (tolong segera konfirmasi jika barang telah diterima, jika tidak maka dihitung dari tanggal yang tercantum dalam invoice/nota pembayaran).
  • Diskon eceran yang boleh diberlakukan (untuk pembelian di bawah Rp 500.000,-) paling besar adalah 15%.
  • Distributor Terbatas:
    • Jumlah distributor ditentukan oleh potensi pasar di daerah/wilayah tersebut dan kemampuan distributor di daerah/wilayah tersebut, berjumlah dari 1 distributor sampai 3 distributor per daerah/wilayah dengan memperhatikan jauh dekatnya lokasi masing-masing distributor.
    • Dengan semakin berkembangnya sistem penjualan online, maka setiap distributor hanya diperbolehkan berjualan offline di wilayah dimana dia tercatat sebagai distributor kecuali distributor tersebut berjualan via online maka diperbolehkan untuk berjualan di luar wilayah/daerahnya.
    • Pelanggan eceran, reseller, dan agen akan dirujuk untuk membeli di distributor wilayah (kota/kabupaten) dimana pelanggan eceran, reseller, dan agen tersebut berada atau yang terdekat (kecuali agen dianggap tidak mampu menyediakan stok barang u/ para pelanggan eceran, reseller, dan agen tsb).

Membangun Perangkat Offline: Stok

Catatan: Tulisan ini pernah menjadi materi kultwit saya di @lenypuspadewi dengan hastag #BFPOS.

Bagi pebisnis fashion pemula, setelah semakin banyak pelanggan tentu kita ingin lebih memuaskan lagi mereka. Salah satunya adalah dengan memiliki stok untuk busana yang kita jual. Kenapa? Karena dengan memiliki stok, pelanggan tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan barang pesanannya. Khusus untuk pelanggan offline, mereka bisa langsung melihat, meraba, bahkan mencoba produk busana yang kita jual tersebut sebelum membelinya.

Selain itu, kita biasanya bisa mendapatkan diskon lebih banyak dari produsen jika kita membeli lebih banyak barang sehingga kita mendapatkan lebih banyak margin keuntungan. Jangan lupa untuk ongkos kirim (jika barang yang kita beli dari produsen dikirim via jasa pengiriman) juga lebih murah sehingga bisa lebih hemat.

Contoh, di Lentik, jika membeli barang minimal 500rb diskon yang didapat sebagai reseller adalah 20%, tetapi jika membeli barang minimal 1jt 750rb maka diskon yang didapat sebagai reseller adalah 30%.

Kemudian pertanyaannya adalah: bagaimana menentukan stok jika dana kita terbatas? Tips di bawah ini bisa diambil:

1. Pillih item-item yang best seller, baik untuk model maupun ukurannya. Biasanya untuk ukuran M paling banyak diminati, S dan L di urutan kedua, dan terakhir ukuran XS dan XL.  Tetapi tentu saja bisa berbeda tergantung dari pasar kita. Setelah menjalankan bisnis beberapa waktu sebagai pemula, tentunya mulai bisa menebak seperti apa pasar kita.

2. Sesuaikan banyaknya stok dengan cepatnya keluar barang tersebut di point 1. Batasi stok untuk setiap model bestseller, misalnya 7pcs: 1XS, 2S, 3M, 2L, 1 XL. Batasi juga jumlah model bestseller yang akan kita beli stoknya disesuaikan dengan dana yang tersedia.

3. Buat pengkodean dan pencatatan barang sederhana untuk stoknya agar memudahkan kita dalam pengecekan stok tersebut. Sehingga tepat pada waktunya kita bisa membeli stok kembali. Contoh pengkodean sederhana: BL-01 (artinya produk baju Lentik item ke 1), BZ-02 (artinya produk baju Zirac item ke 2), dst. Contoh pencatatan sederhana: buat catatan tersebut dalam 1 buku/1 file, buat tabel dengan kolom-kolom untuk: no, kode barang, supplier, tanggal habis jangka waktu retur, jumlah stok, rincian stok (XS,S,M,L,XL), keterangan.

4. Ubah rincian stok setiap ada barang yang keluar atau masuk sehingga pencatatan stok terjaga.

5. Beli kembali stok jika jumlah stok dari 1 model sudah kurang dari setengahnya, jika mungkin beli untuk beberapa model sekaligus supaya semakin banyak jumlah pembeliannya.

6. Lakukan QC begitu stok yang kita pesan datang dari produsen, karena biasanya waktu retur untuk barang yang cacat/rusak dari produsen sangat terbatas. Contoh Lentik hanya memberikan jangka waktu klaim cacat/rusak adalah 48 jam.

7. Simpan stok berdasarkan model dan ukurannya (untuk ukuran bisa menggunakan kertas/karton pemisah) di rak atau lemari khusus untuk stok. Buat tanda atau tulisan kode barang di bagian dimana barang dengan kode tersebut disimpan. Berguna pada saat pencarian stok apalagi jika stok semakin banyak model dan jumlahnya.

8. Retur/tukar stok yang belum laku paling tidak 1 minggu menjelang habis jangka waktu returnya.

9. Stok bisa ditingkatkan jumlahnya dengan semakin banyak jumlah pesanan yang masuk.

Memang mempunyai stok berarti menambah tugas/pekerjaan buat kita. Namun seiring semakin besar usaha kita, hal itu semakin dibutuhkan. Solusinya adalah mempekerjakan karyawan. Mengenai karyawan ini, insyaAllah akan saya bahas di postingan yang lain. Semoga bermanfaat.

Memulai Bisnis Fashion (4)

Tulisan ini adalah lanjutan dari postingan sebelumnya yang berjudul “Memulai Bisnis Fashion (3)”. Tulisan ini juga merupakan bagian dari makalah yang dipresentasikan di saat saya menjadi nara sumber pada Talkshows “Merintis Bisnis Online” yang diselenggarakan oleh Majalah Sekar bekerjasama dengan Komunitas Womenpreneur Indonesia di Bandung tanggal 9 Juli 2011. Dan pernah menjadi materi kultwit saya dengan hastag #bisnisfashion di @lenypuspadewi.

Di bagian ke 4 tentang Memulai Bisnis Fashion ini, saya akan membahas tentang memulai bisnis fashion dengan memproduksi sendiri busana yang akan dijual. Setelah menentukan busananya, pasarnya, bahannya, dan keunikannya, di bawah ini adalah langkah-langkah yang perlu dilakukan. Apa saja?

1. Mulailah mendesain busana yang akan kita produksi. Sesuaikan desainnya dengan jenis busana, pasarnya, dan bahan yang akan kita gunakan untuk memproduksi busana kita tersebut. Contoh: desain Lentik dengan Salfaz berbeda karena pasar dan bahannya berbeda. Lentik ditujukan bagi mereka yang lebih dewasa dan anggun, sementara Salfaz bagi mereka yang lebih muda dan ceria.

2. Apakah boleh desain mengikuti trend yang sedang berlaku? Tentu saja boleh, bahkan disarankan. Namun perlu diingat, keunikannya jangan sampai hilang karena mengikuti trend tersebut. Contoh: Lentik mengeluarkan desain yang memadukan bahan corak non-batik dengan bahan polos dan batik. Hasilnya adalah busana yang cantik, trendy, namun tetap anggun dan menggunakan batik sebagai keunikan Lentik.

3. Buat 15-20 desain untuk 5 desain pertama yang akan kita produksi. Produksi pertama cukup 5 model saja apalagi jika dana terbatas. Tetapi jika ingin lebih banyak pilihan maka bisa disiasati dengan memperbanyak di warna saja, misalnya satu model 3 pilihan warna berbeda.

4. Setelah desan-desain itu selesai dibuat, dari 15-20 desain tersebut pilih 8-10 desain yang menurut kita paling bagus dan paling memungkinkan untuk diproduksi saat itu. Misalnya dipilih desain-desain dengan detail yang tidak terlalu rumit, mengantisipasi ketidakmampuan penjahit nantinya.

5. Setelah terpilih 8-10 desain, cari bahan untuk membuat sampel atau mock up ke 8-10 desain tersebut. Pencarian bahan yang kadangkala membutuhkan waktu yang tidak sedikit bisa dibarengi dengan mencari penjahit untuk menjahitkan busana produksi kita.

6. Setelah bahan sampel siap, penjahit siap, jahitkan bahan sesuai desain ke penjahit kita.

7. Cara menjahitkan busana kita bisa dilakukan dengan dua cara: (a) membangun konveksi sendiri dengan memperkerjakan penjahit sebagai karyawan tetap kita, atau (b) makloon. Bagi pemula disarankan menggunakan cara kedua (makloon), setelah membesar nanti bisnisnya bisa saja kedua cara ini dijalankan.

8. Apa itu makloon? Makloon adalah menjahitkan desain-desain kita di orang lain yang memiliki konveksi. Kadang-kadang penjahit makloon bisa menyediakan bahannya sekalian sehingga kita tidak perlu mencari bahan (biasanya untuk bahan kaos).

9. Jahit pertama adlah membuat sampel atau mock up ke 8-10 desain kita. Buat sesuai ukuran badan kita atau kakak/adik/suami/istri/ yang nanti bisa mencoba sampel kita. Sehingga akan diketahui enak atau tidak jahitan penjahit yang kita pilih tersebut.

10. Setelah sampel jadi, lihat modelnya, perhatikan kualitas jahitannya, coba dipakai busananya. Pilih 5 desain yang paling bagus, jika perlu perbaikan untuk desain terpilih tersebut, segera perbaiki kembali di penjahit kita.

11. Setelah sampel sempurna, beli bahan untuk produksi banyak jika belum membeli banyak pada saat mencari bahan pertama kali. Perlu diperhatikan bahwa kadangkala kita harus membeli bahan sekaligus banyak untuk produksi pada saat membeli bahan untuk sampel. Kenapa? Karena bisa saja bahan yang kita pilih terbatas ketersediaannya dan tidak bisa repeat order. Jadi kita harus membeli langsung banyak sebanyak jumlah yang akan kita produksi baik produksi pertama maupun produksi ulang nantinya. Jika penjahit makloon bisa menyediakan bahan, langkah ini bisa diabaikan.

12. Tentukan ukuran/size, baik rentang ukuran (dari S sampai XL, misalnya), maupun detailnya (lebar bahu, lingkar badan, dsb). Contoh: untuk Lentik dan Salfaz, saya menentukan rentang size dari XS s/d XL, sementara untuk Zirac dari S s/d XL.

13. Jahit ke 5 desain sebanyak yang kita butuhkan, tapi jangan terlalu banyak dulu, cukup 1-3 buah untuk masing-masing warna (jika satu desain banyak warna) dan size. Ukuran M biasanya paling banyak diminta, S dan L lebih sedikit, dan XS dan XL paling sedikit (berdasarkan pengalaman dari permintaan para pelanggan Lentik). Tetapi itu juga biasanya tergantung dari usia pasar yang kita tuju. Memang lebih mudah lagi jika kita memproduksi busana yang ukurannya All Size, hanya pasarnya jadi terbatas bagi mereka yang ukurannya sesuai dengan ukuran All Size kita (biasanya All Size sama dengan ukuran umum antara M dan L).

14. Selama penjahitan, lakukan kunjungan dan pengecekan terutama untuk yang memilih cara makloon, agar jika terjadi kesalahan bisa segera diarahkan tidak semua jahitan kita terjadi kesalahan.

15. Setelah semua jahitan selesai, lakukan QC (quality control) yaitu pemeriksaan hasil jahitan. Sambil melakukan QC, tentukan harga jual busana produksi kita tersebut. Kemudian perbaiki segera ke penjahit, jika ada hasil jahit yang tidak lolos QC.

16. Mulailah jual produk kita via offline atau/dan online.

Selesai sudah pembahasan tentang “Memulai Bisnis Fashion” secara keseluruhan. Pembahasan selanjutnya akan mengambil tema yang berbeda-beda dan insyaAllah akan saya posting segera. Semoga bermanfaat.

 

Memulai Bisnis Fashion (3)

Tulisan lanjutan dari postingan saya sebelumnya yang berjudul “Memulai Bisnis Fashion (2)”, merupakan bagian dari makalah yang dipresentasikan pada saat saya menjadi nara sumber pada Talkshow “Merintis Bisnis Online” yang diselenggarakan oleh Majalah Sekar bekerjasama dengan Komunitas Womenpreneur Indonesia di Bandung tanggal 9 Juli 2011. Dan juga pernah menjadi materi kultwit saya di @lenypuspadewi dengan hastag #bisnisfashion.

Tulisan ini membahas tentang memulai bisnis fashion dengan cara membuat online store (toko online). Memang mengawali bisnis, untuk tulisan ini bisnis fahion, dengan modal kecil dengan cara online sedang menjadi trend sekarang ini dan sudah banyak orang yang melakukannya bahkan tidak sedikit yang sudah berhasil dalam bisnis online ini. Bagi mereka yang ingin memulai bisnis fashion via online, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan.

1. Cari supplier yang membolehkan foto-foto produknya dipajang di toko online kita tanpa kita melakukan pembelian dulu dari mereka. Misalnya Lepuspa, mengijinkan foto-foto produknya dipajang di toko-toko online reseller, agen, calon reseller, dan calon agennya.

2. Temukan supplier yang pembelian minimalnya rendah untuk mendapat diskon reseller. Misalnya Lepuspa sudah memberikan diskon reseller 20% bagi mereka yang minimal pembelanjaannya mencapai 500rb (sebelum diskon), pembelian selanjutnya tanpa minimal pembelian diskon 20%.

3. Jika memungkinkan pilih juga supplier yang menerapkan sistem dropshipping, sehingga kita tidak perlu memiliki stok dan bebas dari biaya packing dan delivering. Sistem dropshipping yaitu sistem dimana supplier langsung mengirimkan pesanan kepada pelanggan kita dengan pengirim nama kita.

4. Buat toko online dengan memanfaatkan website gratisan seperti Blogspot, Multiply atau Facebook jika belum ada dana untuk website berbayar.

5. Beri nama website anda dengan nama yang menarik dan mudah diingat orang dan mesin pencari google. Contohnya: butiklentik.com, busanacantik.blogspot.com, bajuunik.multiply.com, dsb.

6. Tata toko online anda semenarik mungkin dan pajang foto-foto produk yang akan dijual.

7. Jika sudah siap, pasarkan website anda supaya banyak pengunjungnya. Caranya? InsyaAllah akan saya posting di kesempatan mendatang.

8. Buat promo-promo menarik supaya pengunjung toko online anda mau melakukan transaksi. Promo bisa berupa pemberian diskon, pemberian merchandise, ongkos kirim gratis, dsb.

9. Siapkan perangkat offline-nya jika aktivitas toko online anda semakin banyak dan semakin besar. Perangkat offline seperti: stok, karyawan, pencatatan, pembukuan, tempat, sistem reseller/keagenan.

Saya sudahi sharing tentang memulai bisnis (fashion) online ini. Semoga bermanfaat.

Bazar Lebaran di Bio Farma

Dua hari kemarin, tepatnya tanggal 10 dan 11 Agustus 2011, Lentik mengikuti bazar lebaran yang diselenggarakan oleh sebuah BUMN di Bandung yaitu Bio Farma. Lentik memang sudah beberapa kali mengikuti bazar yg sama yg diadakan setiap tahun menjelang lebaran tersebut. Dari pengalaman, walaupun karyawan Bio Farma sebagai target pasarnya tidak terlalu banyak hanya sekitar 700 orang kalau tidak salah, tetapi penjualan cukup bagus,omset bisa mencapai 2-3 juta per harinya. Dan itu dengan biaya yang cukup murah,sewa stand 200rb untuk 2 hari dan 10% dari penjualan untuk koperasi karyawan jika pelanggan memilih pembayaran kredit via koperasi.

Tahun ini agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Lokasi yang biasanya di aula lama sekarang di aula baru yang lebih reprentatif. Juga Lentik sudah punya tim untuk berpameran serta barang-barang yang dipamerkan sudah lebih banyak modelnya. Jadi saya sudah tidak terlalu repot menyiapkan dan menjaga standnya.

Seperti biasa, jika Lepuspa mengikuti bazaar/pameran retail (bukan franchise), maka salah satu item yang menjadi andalan adalah barang diskonan. Barang diskonan ini biasanya menjadi magnet penarik bagi para pengunjung bazar. Tentunya diskonnya harus yang cukup besar supaya menarik. Lentik biasanya menyediakan barang diskonan sampai 50% untuk pameran/bazar retail. Di bazar akali ini juga, Lentik memberikan diskon sampai 50% untuk produk-produknya.

Di depan stand Lentik

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, kita membagi dua pelanggan dengan memberikan diskon yang berbeda bagi masing2 pelanggan tersebut. Pertama, yaitu pelanggan dengan pembayaran kredit melalui koperasi mendapatkan diskon 10% untuk barang2 non diskon dan 40% untuk barang2 diskon. Kedua, yaitu pelanggan dengan pembayaran cash langsung ke kita mendapatkan tambahan diskon 10% bagi masing-masing barang tadi.

Kenapa kita menerapkan diskon yang berbeda? Karena jika omset kita masuk ke koperasi (pelanggan memilih kredit via koperasi) maka omset kita dipotong 10% oleh koperasi. Nah, potongan koperasi tersebut kita berikan kepada pelanggan yang memilih pembayaran cash langsung ke kita. Cukup adil dan menarik bukan? Lagipula, dana langsung kita terima tanpa harus mengendap dulu satu minggu di koperasi. Lumayan buat saya yg sekarang sedang butuh dana paling tidak untuk THR karyawan.

Dan memang stand Lentik merupakan salah satu stand yang jarang sepi pelanggan jadinya dengan menerapkan diskon yang cukup besar tersebut. Sejak datang di hari pertama (menurut laporan tim pameran, karena saya datang ke lokasi agak siang), baru mulai merapikan stand sudah banyak pengunjung yang bertandang ke stand Lentik dan minta melihat barang dengan size yang mereka mau. Walaupun agak kewalahan, tim berusaha melayani para pengunjung tersebut sambil pelan-pelan menata stand yang masih berantakan. Pada saat itu juga sudah ada sekitar 5 transaksi yang terjadi, dan dari 5 transaksi itu hanya 1 yang memilih pembayaran kredit via koperasi.

Setelah beberapa transaksi cash langsung ke kita kembali masuk, baru kita sadar bahwa hal tersebut tidak diperbolehkan oleh panitia. Pada saat stand kita sedang tidak terlalu banyak pelanggan, kita baru menyimak pengumuan panitia tersebut melalui microphone. Akhirnya, saya memutuskan untuk memberhentikan aktivitas menerima uang cash langsung dari pelanggan, karena ternyata panitia juga menyediakan kasir untuk pembayaran cash tidak hanya untuk pembayaran kredit. Nah, tentu saja walaupun pelanggan membayar cash tetapi karena masuk ke panitia (baca: koperasi) dulu maka kita tetap dikenakan pemotongan 10%. Sehingga kita meniadakan penambahan diskon 10%.

Aktivitas menerima cash itu ternyata memancing masalah. Di hari kedua, pada saat baru satu orang tim Lentik hadir untuk merapikan stand di pagi hari, stand Lentik didatangi oleh panitia yang menegur aktivitas tersebut. Dan itu tidak hanya terjadi satu kali, melainkan sampai 2 kali oleh beberapa orang yang berbeda, bahkan sampai mereka meminta semua uang cash yang kita terima. Belum lagi ada pelanggan yang protes karena mendapatkan diskon yang berbeda dari temannya padahal item yang dibeli adalah sama. Dalam kesendiriannya, tim saya tersebut tentu saja shock karena tdk ada yang membela. Masih untung kemudian ketika sedang ditegur tersebut salah seorang pemilik stand tetangga yang kebetulan teman saya, datang dan mau menemani tim saya tersebut menghadapi panitia.

Begitu saya datang dan mendengar laporan tim, tentu saja saya keberatan apa yang sudah panitia lakukan terhadap tim saya yang pada saat itu baru datang sendirian. Melalui Kakak ipar (yang kebetulan adalah karyawan Bio Farma yang mendaftarkan Lentik untuk berpartisipasi di Bazar tersebut), saya minta dipertemukan dengan panitia yang tadi menegur tim saya. Saya sampaikan keberatan saya dan saya jelaskan kenapa aktivitas menerima cash itu bisa terjadi.

Keberatan saya adalah: (1) mereka menegur bukan langsung ke saya sebagai owner Lentik tetapi ke tim saya yang baru datang sendirian, sehingga mereka tidak tau kenapa kita memberlakukan pembayaran cash langsung ke kita (karena kita belum tau peraturan tidak membolehkan itu, kita belum mendapat lembaran peraturan tersebut), (2) mereka menegur lebih dari satu kali, (3) mereka hanya menegur stand kita padahal hampir semua stand melakukan hal yang sama sampai berakhirnya bazar, sementara kita begitu tau tidak diperbolehkan oleh panitia, kita hentikan aktivitas tersebut (it’s unfair, right?), dengan alasan tidak ada bukti.

Permasalahan memang kemudian selesai, setelah saya menjelaskan itu kepada panitia dan saya berjanji untuk memberikan semua uang cash yang diterima ke panitia (janji itu ditepati lho…). Sangat disayangkan memang hari kedua terganggu oleh masalah tersebut membuat mood kami agak berubah. Saya pribadi menyesal dengan prilaku saya yang menurut saya agak berlebihan pada saat berbicara dengan panitia. Nada suara saya agak tinggi pada saat itu, karena emosi saya agak terpancing. Padahal kan sedang puasa, astagfirullah… semoga Allah mengampuni saya. Mudah-mudahan hal seperti itu tidak terjadi lagi dalam bazar2 atau pameran2 lain yang diikuti oleh Lentik.

Saya dan Antik

Terima kasih untuk tim Lentik: Verra, Vitri, dan Rini yang sudah sangat membantu di Bazar Lebaran ini. Juga terima kasih untuk teman seperjuangan saya di Bazar tersebut: Antik untuk perhatiannya dalam segala hal kepada saya dan Lentik di Bazar tersebut.

 

Memulai Bisnis Fashion (2)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari postingan saya sebelumnya yang berjudul “Memulai Bisnis Fashion (1)”. Seperti postingan bagian pertama, tulisan ini juga merupakan bagian dari makalah yang dipresentasikan pada saat saya menjadi nara sumber pada Talkshow “Merintis Bisnis Online” yang diselenggarakan oleh Majalah Sekar bekerjasama dengan Komunitas Womenpreneur Indonesia di Bandung tanggal 9 Juli 2011. Dan juga pernah menjadi materi kultwit saya.

Tulisan ini akan membahas tentang bagaimana jika seseorang khususnya womenpreneur sudah menentukan untuk berkecimpung di bisnis fashion dengan menjualkan barang/produk orang lain. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan:

1. Tentukan penjualannya dengan cara apa: online ataukah offline? Tentu saja bukan berarti tidak boleh dilakukan keduanya, hanya di awal berbisnis lebih baik memilih salah satunya saja.

2. Cari siapa yang bisa men-supply baju/busana akan kita jual. Sebaiknya langsung ke produsennya. Misalnya langsung ke Lepuspa yang memproduksi tiga brand yaitu Lentik, Zirac, dan Salfaz. Ketiganya adalah busana muslim. Ingin tahu lebih jauh tentang Lepuspa? Silakan klik http://www.facebook.com/pages/Lentik-Fashion/59256852546 atau http://lepuspa/biz.

3. Jika belum memungkinkan untuk membeli langsung dari produsennya, bisa menjadi reseller dari agen/distributor baju/busana yang akan kita jual. Misalnya menjadi reseller dari salah satu agen Lepuspa yang tersebar di 12 kota di Indonesia.

4. Bisakah mengawali bisnis fashion seperti ini dengan modal kecil? Bisa banget. Mari kita bahas untuk cara offline. Carilah supplier yang memberikan katalog gratis atau berbiaya tetapi murah. Contohnya, Lepuspa pada saat-saat tertentu (pameran, bazaar, promosi) memberikan katalog gratis bagi pelanggan dan calon pelanggannya. Jikapun harus membeli, harganya tidak terlalu mahal. Untuk sekarang ini hanya Rp 15rb sudah mendapat 1 set katalog terdiri dari: 1 katalog Lentik, 1 katalog Zirac, dan 1 katalog Salfaz. Dan sudah beserta ongkir ke seluruh Indonesia.

5. Pilihlah supplier yang memberikan fasilitas retur (biasanya tukar barang) dengan jangka waktu yang cukup panjang dan tanpa pembatasan jumlahnya. Contohnya, Lepuspa memberikan fasilitas jangka waktu retur/tukar barang 2 minggu untuk reseller, 1 bulan untuk agen, dan 1,5 bulan untuk distributor; dan tidak dibatasi jumlah returnya.

6. Mulailah berjualan dengan mengedarkan katalog ke pasar anda. Caranya? Bisa door to door ke tetangga, teman kerja, teman main, dll; atau ke komunitas (arisan, pertemuan-pertemuan, dll).

7. Kumpulkan pesanan hingga mencapai pembelian minimal untk reseller/agen supaya mendapatkan diskon reseller/agen. Contohnya, di Lepuspa, untuk reseller minimal pembelian 500rb (belum diskon) sudah mendapat diskon 20%, u/ agen minimal pembelian 1,5jt (belum diskon) sudah diskon 30%.

8. Siapkan sejumlah modal untuk pembelian pertama. Supaya tidak terlalu besar, pilih supplier dengan minimal pembelian yang tidak terlalu mahal. Contohnya, Lepuspa hanya mensyaratkan model 400rb an untuk menjadi reseller-nya, pembelian selanjutnya tanpa minimal pembelian disk 20%.

9. Pesan, lakukan transaksi dengan supplier, dan deliver barang pesanan ke pelanggan sesegera mungkin jika barang pesanan sudah datang dari supplier.

Bagaimana dengan cara online? InsyaAllah akan saya posting di postingan mendatang. Semoga bermanfaat.

Memulai Binis Fashion (1)

Tulisan ini merupakan bagian dari makalah yang dipresentasikan pada saat saya menjadi nara sumber pada Talkshow “Merintis Bisnis Online” yang diselenggarakan oleh Majalah Sekar bekerjasama dengan Komunitas Womenpreneur Indonesia di Bandung tanggal 9 Juli 2011. Dan juga pernah menjadi materi kultwit saya.

Bagi mereka yang ingin memulai bisnis dan kemudian sudah menentukan untuk berkecimpung di bisnis fashion, yang biasa muncul adalah pertanyaan: bagaimana ya memulainya? Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan.

1. Tentukan apakah busana yang akan kita perdagangkan itu mau kita produksi sendiri ataukah kita menjualkan busana produksi orang lain? Hal ini ditentukan juga oleh kemampuan yang kita milliki. Jika kemampuan desain dan keuangan kita terbatas, lebih ba memilih menjualkan produk orang lain. Tetapi jika kemampuan desain dan keuangan kita mencukupi, silakan pilih untuk produksi sendiri busananya.

2. Tentukan jenis busananya, apakah baju atau aksesoris atau sepatu atau tas. Pilih salah satu dulu, setelah jenis yang satu itu mapan maka kita bisa menambah jenis yang lainnya. Pilih yang kita rasa tidak terlalu sulit untuk mencari pasarnya, kita tentu lebih mengenal pasar mana yang mudah kita jangkau.

3. Jika memilih baju, kemudian tentukan apakah baju muslim atau baju biasa, baju resmi atau baju santai atau baju olahraga.

4. Tentukan juga pasarnya (lebih baik pasar yang mudah kita jangkau) apakah perempuan atau laki-laki, anak-anak atau remaja atau dewasa, menengah bawah atau menengah atas.

5. Tentukan bahannya apakah khusus kaos atau khusus katun atau khusus poliester atau campuran.

6. Bagi mereka yang menjualkan produk orang lain, cari supplier atau produsen busana yang akan diperdagangkan.

7. Khusus untuk yang memproduksi sendiri, jangan lupa tentukan keunikan dari produk kita tersebut, apakah dari bahannya atau dari desainnya atau dari pemasarannya, dan sebaginya.

Masih banyak lagi hal langkah-langkah lain dan langkah-langkah berikutnya untuk memulai bisnis fashion. InsyaAllah akan saya posting di kesempatan berikutnya. Semoga bermanfaat.

Memilih Bidang Bisnis atau Barang yang akan Kita Jual

Banyak orang yang mau memulai berbisnis mengalami kesulitan untuk memilih bidang bisnis atau barang apa yang akan dijual (diproduksi). Paling tidak, ada 3 (tiga) cara untuk mengatasi kesulitan tersebut.

Pertama, pilih bidang yang menjadi passion kita atau barang yang berhubungan dengan passion kita. Passion adalah suatu pekerjaan atau kegiatan yang sangat kita sukai sampai-sampai kita mau mengerjakannya tanpa dibayar sekalipun. Contohnya, saya punya seorang sahabat di Surabaya bernama Mbak Christine Wu. Beliau sangat menyukai kegiatan mengajar, sehingga kemudian beliau memilih untuk terjun ke bisnis pendidikan dengan mendirikan kampus Swastika Prima di Surabaya.

Kedua, pilih bidang atau barang yang berhubungan dengan keahlian kita. Di bidang mana kita ahli maka insyaAllah bisnis di bidang itu menjadi bisnis yang prospektif buat kita. Contohnya, sahabat saya yang lain, Oma Ning Harmanto, memiliki keahlian di bidang herbal. Beliau memilih bisnis herbal dengan mendirikan Mahkota Dewa Indonesia. Sekarang kiprah beliau dalam bidang herbal ini sudah tidak diragukan lagi ditambah dengan berbagai inovasi yang terus beliau lakukan dalam bidang tersebut.

Terakhir, pilih bidang atau barang yang saat ini sedang (sangat) kita butuhkan dan kita kesulitan untuk mendapatkannya di pasaran yang sesuai dengan kriteria kita. Contohnya, saya memilih bidang fashion muslim sebagai bisnis karena kebutuhan akan fashion muslim yang nyaman dan unik dengan sentuhan etnik dan harga terjangkau pada waktu itu belum terpenuhi. Akhirnya muncullah Lentik (disusul dengan Zirac dan Salfaz), busana muslim dengan bahan yang nyaman, desain yang cantik dan unik dengan kombinasi batiknya dan harga yang cukup bersaing (bisa dilihat lebih lanjut di http://www.lepuspa.biz atau fanpage Facebook: Lentik Fashion).

Tidak hanya dengan salah satu cara di atas, penentuan bidang atau barang tersebut bisa dengan 2 diantara cara di atas, bahkan ketiga-tiganya. Ya, kalau memang bidang yang menjadi passion, yang menjadi keahlian, dan yang sedang dibutuhkan adalah sama; maka cara ketiganya bisa dilakukan.

Mudah-mudahan setelah membaca tulisan ini, kita tidak bingung lagi menentukan bisnis apa atau barang apa yang akan kita jual (produksi) dalam memulai berbisnis. Selamat mencoba!

Lentik: Asal-usul

Lentik adalah salah satu brand busana muslim yang saya miliki. Dia merupakan brand pertama untuk perusahaan saya : Lepuspa Kreasi Busana. Cerita bagaimana sampai menjadi Lentik seperti sekarang ini, cukup panjang ternyata, berawal dari sekitar 5-6 tahun yang lalu.

Lentik berawal dari hobby saya yaitu berbelanja. Memang bukan menjadi hal yang aneh jika seorang perempuan memiliki hobby tersebut. Sebagian besar perempuan biasanya menyukai hal tersebut. Hanya saja, setiap kali saya pulang ke rumah seusai berbelanja, tidak semua belanjaan saya terpakai. Sebagian darinya tersimpan dan akhirnya menumpuk begitu saja di sudut kamar. Suatu hari saya memandangi sudut kamar tesebut yang ternyata sudah penuh tidak mampu lagi menampung belanjaan yang belum terpakai jika nanti saya berbelanja kembali. Barang-barang belanjaan tersebut menjadi tidak bermanfaat karena dibiarkan begitu saja di sudut kamar. Suatu kemudharatan yang cukup besar. Dan saya merasa bersalah karenanya. Apalagi kemudian suami ikut berkomentar mengenai hal tersebut

Pada saat itu suami memberikan idenya untuk menjual saja kembali barang-barang tersebut kepada teman-teman saya. Kebetulan saya aktif di komunitas aerobik dan tetangga yang bisa menjadi pasar untuk berjualan barang-barang tersebut. Hasilnya tidak mengecewakan, malah kemudian menjadi kebiasaan baru yang cukup menguntungkan buat saya: hobby belanja tetap tersalurkan dan perintisan usaha dimulai. Kebiasaan ini saya jalani sekitar 1,5 tahun dan terhenti ketika saya terkena penyakit pencernaan yang cukup parah sehingga tidak mampu terlalu lama beraktivitas diluar rumah. Rupanya kebiasaan tersebut cukup menyita waktu saya. Sangking asyiknya, saya tidak memperdulikan kesehatan saya. Waktu makan adalah hal yang paling sering saya tunda, belum lagi aktivitas belanja dan aerobik yang semakin meningkat menyebabkan saya kecapekan dan masalah pencernaan menghampiri saya.

Setelah itu saya banyak berdiam di rumah tanpa melakukan aktivitas yang berarti. Bahkan ada satu semester dimana saya juga berhenti  beraktivitas sebagai pengajar dan aktivitas kampus lainnya karena masalah pencernaan tersebut. Saat itu saya merasakan kesedihan yang amat sangat karena merasa tidak berguna bahkan hanya untuk menemani aktivitas anak sekalipun saya tidak mampu.

Betul, saat itu saya seda terpuruk. Bagaimana saya bisa mengatasinya? Ternyata bagi saya ada dua aspek yang begitu penting dalam membantu saya keluar dari keterpurukan saat itu: (1) dukungan orang terdekat dan, (2) komunitas. Adalah suami tercinta yang berperan begitu besar pada saat saya dalam kondisi terpuruk tersebut. Dialah yang menyarankan untuk mulai browsing internet,  membuat blog, menulis di blog tersebut, dan berinteraksi dengan teman-teman dunia maya agar kesedihan yang saya rasakan berkurang. Di saat asyik dengan dunia maya itu, suami pula yang kemudian memperkenalkan dan mengajak bergabung di suatu komunitas.

Bergabung dengan komunitas ternyata menjadi pemasok semangat yang sangat berarti buat sayaAdalah Komunitas Tangan Di Atas (TDA) yang banyak membarikan inspirasi dan berbagai pencerahan kepada saya. Tidak hanya untuk kewirausahaan tetapi juga untuk kehidupan. Itu saya peroleh melalui berbagai acara yang digelar oleh komunitas TDA ini dan interaksi dengan sejumlah anggotanya dengan cukup intens. Saya selalu merasa sehat dan bersemangat jika mengikuti acara-acara tersebut dan berinteraksi dengan anggota-anggotanya. Dari komunitas TDA ini pulalah kemudian saya memulai lagi usaha dengan menjualkan beberapa barang yang diproduksi oleh beberapa anggotanya. Cara menjualnya pun bukan seperti sebelumnya langsung bertemu dengan pelanggan, melainkan berjualan online via internet. Maka terbentuklah lepuspa.biz (http://www.lepuspa.biz), toko online sekaligus brand yang saya gunakan pada saat itu. Kembali suami tercinta turut berperan besar mulai dari nama hingga pembuatan toko online ini.

Toko online sudah berjalan beberapa bulan ketika dipertemukan dengan seorang di Komunitas TDA Bandung di awal terbentuknya komunitas tersebut. Pertemuan saya dengan seorang anggota tersebut menghasilkan suatu kerjasama yaitu membuka outlet bersama di salah satu mall besar di Bandung.

Konsep yang ditawarkan cukup unik yaitu menyewa bersama dengan proteksi barang yang dijual oleh masing-masing penyewa dari satu outlet tersebut. Keuntungan yang didapat dengan konsep tersebut adalah uang sewa dan biaya operasional menjadi relatif murah karena dibagi diantara penyewa, dan terhindar dari persaingan antar penyewa satu outlet tersebut karena masing-masing penyewa sudah ditentukan akan berjualan apa dan tidak boleh ada yang berjualan jenis barang yang sama diantara para penyewa tersebut. Saat itu saya memilih untuk berjualan aksesoris wanita dan baju muslim anak yang memang sudah ada pemasoknya. Pada perkembangan selanjutnya, saya diperbolehkan berjualan baju dewasa juga dengan bahan katun dan kaos katun (full katun tanpa campuran polyester).

Berjualan melalui outlet dan sekali-sekali berpartisipasi dalam bazaar atau pameran berjalan sekitar 3 tahun lamanya. Ada satu waktu, saya bersama beberapa teman menyewa outlet sampai tiga outlet di tiga mall berbeda di Bandung. Di awal tahun ketiga, masih di Komunitas TDA Bandung, saya bertemu dengan seorang perempuan, masih mahasiswa, enerjik, lajang, tapi sudah berani untuk memproduksi sendiri barang jualannya yaitu baju muslimah berbahan kaos katun dikombinasikan dengan katun corak dan kadang dengan sulam dengan sistem makloon.

Sistem makloon adalah kita memproduksi baju dengan menjahitkannya ke orang lain. Jadi kita tidak perlu mengeluarkan dana besar untuk membeli mesin dan mempekerjakan penjahit. Kita hanya perlu mencari tempat makloon atau konveksi yang mau menjahitkan baju rancangan kita. Tentu saja kita perlu mempersiapkan desainnya dan bahan bakunya yaitu kain untuk membuat baju tersebut.

Saya terinspirasi untuk mulai memproduksi baju muslimah dewasa untuk dijual di outlet-outlet saya. Saya memang ingin ada nilai lebih dalam usaha saya yang berhubungan dengan agama yang saya anut yaitu Islam. Dengan memilih usaha di bidang busana muslim, maka saya mengajak para perempuan muslim untuk menggunakan pakaian yang sesuai dengan syariah. Dan bermaksud untuk memperlihatkan bahwa busana muslim juga bisa menarik, cantik, dan unik. Awalnya saya memproduksi baju muslimah berbahan katun. Dengan membuat desain sendiri dan berbelanja bahan sendiri mulailah saya memproduksi baju muslimah sendiri dengan brand lepuspa.biz dan penjahitannya menggunakan sistem makloon.

Ketika produksi pertama mulai dilakukan, saya dan suami tercinta berdiskusi untuk keberlanjutan usaha saya tersebut. Agar baju muslimah yang saya produksi bisa bagus penjualannya maka perlu ada keunikan di dalamnya. Selain itu saya ingin busana muslim yang saya produksi itu nyaman digunakan dengan harga cukup terjangkau. Untuk kenyamanan akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan bahan kaos full katun dengan kualitas terbaik. Untuk keunikan, karena pada saat itu batik masih naik daun, walaupun tidak sebagus musim sebelumnya, akhirnya kami memilih batik bersanding dengan kaos katun dalam busana muslim yang akan saya produksi. Alasan lain karena batik adalah warisan tradisi Indonesia dan juga kebetulan saya suka dengan batik. Saya juga melihat kombinasi kaos katun dengan batik masih sangat jarang.

Brand Lentik yang sekarang melekat di busana muslimah produksi saya, juga memiliki cerita yang cukup unik. Tadinya saya akan memproduksi busana muslimah ini bekerjasama dengan seorang teman. Nama Lentik diambil dari perpaduan nama kami berdua. Namun sebelum produksi Lentik berjalan, teman tersebut mengundurkan diri karena merasa tidak mampu mengimbangi langkah saya yang menurutnya terlalu cepat. Dengan ijin darinya nama Lentik tetap bisa saya pergunakan.

Di awal produksi Lentik, lagi-lagi saya mendapatkan tempat makloon pertama dari referensi salah seorang anggota komunitas TDA Bandung. Tempat makloon ini juga bukan tempat makloon besar. Pertama saya makloon, dia hanya mempunyai 2 mesin jahit dengan 1 orang penjahit saja. Kapasitas produksinya hanya berkisar 75 buah baju per bulannya. Lebih dari cukup untuk memasok outlet saya waktu itu, karena selain produksi sendiri, saya juga masih menjualkan produk orang lain. Setelah satu tahun berjalan, berdasarkan pengamatan saya dan suami, disimpulkan bahwa penjualan sistem outlet ini kurang efektif. Selama setahun itu tidak ada perkembangan yang berarti dari usaha yang dijalankan.

Kemudian saya banyak belajar dari orang-orang yang produknya saya jual kembali, bagaimana mereka memasarkan produk-produknya.  Konsepnya, mereka memproduksi barang, dalam hal ini busana muslim melalui internet dengan membuat toko online, beriklan di milis-milis, beriklan di website-website iklan, bertukar banner di blog, dan sebagainya. Selain itu, karena menerapkan sistem keagenan, mereka membuat brosur dan katalog. Saya lakukan juga hampir semua yang mereka lakukan tersebut. Hanya saja karena produksi masih terbatas, saya belum berani menggunakan sistem keagenan. Awalnya saya gunakan sistem reseller yang lebih mudah syarat ketentuannya bagi pelanggan, dan lebih mudah juga buat saya untuk menyediakan stok produknya.

Setelah berjalan selama tiga bulan, saya amati dari teman-teman anggota komunitas TDA ada yang bisa mengalami perkembangan yang cukup pesat. Mereka melakukan marketing melalui iklan di Majalah. Kemudian saya pun memberanikan diri untuk mulai beriklan di Majalah. Saya pilih majalah yang memang pasarnya sesuai untuk produk saya dan untuk sistem penjualan yang saya gunakan yaitu sistem keagenan dan reseller. Untuk mempersiapkan lonjakan pemesanan nantinya, saya juga mencari tempat makloon lain dan melakukan “pembinaan” supaya mereka terbiasa dengan produk yang saya buat. Saya juga mengundurkan diri dari kerjasama dengan teman-teman dalam menyewa outlet bersama dengan pertimbangan agar perhatian tidak terpecah menjadi dua, begitu juga dengan pendanaan.

Alhamdulillah, walaupun dengan berbagai tantangan yang datang, namun usaha saya di bidang busana muslim ini mengalami peningkatan yang cukup pesat. Kenaikan penjualan mencapai 700% daripada sebelum menerapkan sistem keagenan dan beriklan di Majalah. Sekarang ini belasan agen dan puluhan reseller sudah tersebar di seluruh Indonesia bahkan sampai ke mancanegara. Lepuspa.biz sudah pula melebarkan sayap dengan mengeluarkan brand untuk baju muslim laki-laki yaitu Zirac (bahkan sekarang muncul pula brand satu lagi untuk wanita dengan range usia lebih muda: Salfaz). Toko online (lepuspa.biz) yang sempat terbengkalai, sekarang mulai ditata lagi supaya bisa membantu meningkatkan penjualan Lentik dan Zirac. Kadang kala masih merasa tidak percaya jika di jalan saya bertemu dengan orang yang memakai produk saya. Senang dan bangga rasanya, ada hal yang saya lakukan bisa bermanfaat untuk orang lain.

3 (tiga) Alasan Untuk Tidak Menjadi Pengusaha

Selain menjadi owner sebuah perusahaan perorangan yang bergerak di bidang produksi dan perdagangan busana muslim dan aksesorisnya, saya juga menjadi pengajar di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Semenjak saya menjalankan bisnis fashion tersebut saya sering bertemu dengan rekan-rekan sesama pengajar yang menyatakan keinginannya untuk berbisnis, tapi mereka belum berani. Kemudian saya tanya, kenapa? Nah, biasanya mereka menjawab salah satu, dua di antaranya atau bahkan ketiga-tiga alasan yang akan saya bahas di bawah ini.

“Saya bukan keturunan pengusaha…” begitu biasanya salah satu alasannya. Kemudian biasanya saya mengomentari sambil bercanda,” wah kalau memang benar begitu, saya juga ngga bisa dong jadi pengusaha”. Kenapa? Karena saya juga bukan keturunan pengusaha. Saya dilahirkan dari keluarga pegawai: ibu seorang PNS dan bapak seorang pegawai BUMN. Begitu pula dengan kakek nenek dari keduabelah pihak orangtua saya, tidak ada yang pengusaha. Bahkan saudara-saudara dari ibu dan bapak, sebagian besar adalah pegawai baik pemerintah ataupun swasta. Tidak ketinggalan kakak dan adik pun sampai sekarang masih berstatus pegawai. Ada satu dua saudara dari ibu atau bapak yang berwirausaha, namun tidak memperlihatkan hasil yang memuaskan dari usaha-usaha yang mereka jalankan. Sehingga tidak ada cerita yang positif di keluarga saya mengenai wirausaha.

Dengan demikian, saya setiap hari menghadapi lingkungan yang tidak membukakan wawasan kepada kewirausahaan. Di rumah, pembicaraan adalah masalah pekerjaan di kantor sebagai pegawai. Di kampus, berkutat dengan pekerjaan sebagai pengajar. Pada saat pertemuan keluarga juga tidak ada pencerahan-pencerahan kepada kewirausahaan. Bahkan pemerintah sekalipun belum menggembar-gemborkan kewirausahaan seperti sekarang. Tapi sekarang saya memiliki usaha atau dengan kata lain menjadi seorang pengusaha. Usaha saya di bidang busana muslim dengan memproduksi busana muslim dengan brand Lentik dan Salfaz untuk perempuan dan Zirac untuk laki-laki.

“Jadi pengusaha kan perlu modal besar, puluhan bahkan ratusan juta rupiah…” salah satu alasan lagi yang biasanya keluar dari mulut mereka. Tidak juga. Saya memulai usaha dengan bermodalkan 750 ribu rupiah saja yang digunakan untuk membeli sejumlah barang di pasar, kemudian barang tersebut dijual kembali dengan mengambil sejumlah marjin (waktu itu sekitar 5 ribu sampai 10 ribu rupiah per barangnya) untuk keuntungan saya. Dari pengalaman ini, sekarang saya menerapkan satu sistem dalam menjalankan usaha saya yang bermaksud untuk mempermudah siapa saja yang ingin memulai usaha. Sistem tersebut adalah sistem reseller, dimana setiap pembelian minimal 500 ribu sudah mendapat diskon 20%. Dari pembelian sebesar itu, reseller akan mendapatkan 2-4 buah baju muslim tergantung dari pemilihan modelnya.

“Saya tidak bakat menjadi pengusaha…” adalah alasan lain lagi dari mereka. Bagi saya menjadi pengusaha berbeda dengan menjadi pelukis, atau penari, atau penyayi misalnya. Karena tiga profesi terakhir memang mensyaratkan kita untuk memiliki keahlian melukis untuk pelukis, menari untuk penari, menyanyi untuk penyanyi. Dan keahlian itu walaupun bisa dipelajari tapi kalau kita tidak dianugerahi kemampuan khusus itu dari Allah SWT, maka akan sulit untuk memiliki profesi-profesi tadi. Sementara untuk menjadi pengusaha, bisa memanfaatkan apa yang kita miliki saat ini.

Contohnya yang paling sederhana adalah profesi pedagang. Berdagang tidak hanya bisa dilakukan oleh mereka yang bermodal besar dengan membuka toko misalnya, tapi bisa dimulai dengan berjualan ke tetangga, teman-teman pengajian, teman-teman sekolah, atau teman-teman komunitas lain yang kita masuki. Carilah sumber-sumber yang murah tapi cukup berkualitas yang bisa menyediakan barangnya, jika mungkin cari yang bisa memberikan sistem konsinyasi, sehingga kita tidak perlu mengeluarkan biaya dulu di awal.

Nah, bagaimana cara mencarinya? Bagi saya komunitas adalah jawabannya. Dengan memasuki komunitas, khususnya komunitas pengusaha, maka kita bisa mendapatkan sumber-sumber itu. Bisa jadi sumber-sumber itu tidak langsung dari anggota komunitas tersebut tetapi kita bisa dihubungkan dengan sumber-sumber tersebut melalui anggota komunitas tersebut. Selain itu kita juga bisa belajar bagaimana mereka yang sudah lebih sukses bisa meningkatkan usahanya dan menyelesaikan masalah. Kita bisa membangun jaringan, sehingga jalan menuju sumber-sumber yang kita perlukan lebih mudah dijangkau.

Usaha saya sekarang adalah produksi dan perdagangan busana muslim dan aksesorisnya. Sebelum saya memproduksi sendiri, saya menjadi agen (menjualkan) beberapa produk busana muslim yang diproduksi orang lain. Pertemuan saya dengan orang-orang tersebut adalah hasil dari menjadi anggota komunitas. Ketika menjadi agen, saya juga belajar sistem keagenan dari mereka yang produknya saya ageni. Bahkan ketika saya beralih cara kepada memproduksi sendiri busana muslim juga, idenya datang karena sering berinteraksi dengan para anggota komunitas. Saya juga mendapatkan cara marketing yang dianggap cocok untuk usaha saya dengan belajar dan mengamati banyak anggota komunitas.

Mudah-mudahan setelah membaca tulisan ini, siapapun yang belum berani menjadi pengusaha, mendapatkan keberanian untuk menjadi pengusaha. Alhamdulillah begitu banyak manfaat yang bisa saya petik setlah menjadi pengusaha. Apa saja? InsyaAllah saya akan cerita di tulisan yang lain ya… :-)

Switch to our mobile site