BERBAGI PERCIKAN KEBAIKAN

Saya percaya sebagian besar dari kita mempunyai mimpi-mimpi yang ingin dicapai. Dan awal tahun adalah waktu yang dianggap paling tepat untuk menentukan kembali apa mimpi-mimpi yang ingin dicapai itu.

(1) Sudahkah teman-teman menentukan kembali mimpinya untuk tahun ini? Apakah itu? (2) Sudah tahukah cara teman-teman untuk mencapainya? Bagaimanakah itu? (3) Bagaimana cara teman-teman untuk memastikan ikhtiar yang direncanakan untuk mencapai mimpi-mimpi itu bisa terlaksana dengan baik?

Well, saya sudah. Pertanyaan-pertanyaan itu sudah ada jawabannya. Dan itu saya temukan salah satunya ketika berproses untuk bergabung dalam program #25persons25dreams yang dicetuskan oleh mentor menulis keren saya Mas Rezky.

Saya kemudin diizinkan bergabung dalam program kebaikannya itu. Saya sekarang berada dalam #lingkaran kebaikan bersama orang-orang baik. Yang artinya saya akan (dan sekarang sudah mulai) dibantu untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya tahun ini. Tetapi dengan syarat saya harus membantu minimal 7 orang mewujudkan mimpi-mimpi mereka tahun ini. Saya sebut program saya ini dengan #percikankebaikan.

Jadi, jika diantara teman-teman ada yang sudah mulai menemukan jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas, dan ingin dibantu untuk mewujudkannya; silakan bergabung dalam program #percikankebaikan. Dm saya jawaban-jawaban dari 3 pertanyaan di atas. Saya akan lihat apakah saya mampu untuk membantu teman-teman mewujudkan itu.

Tapi saya hanya bisa membantu mereka yang mau dibantu. Dan saya tidak menjamin teman-teman yang lolos nanti pasti terwujud impiannya. Semua kembali kepada diri masing-masing dan pengaturan Dia Yang Maha Tahu tentunya.

Namun ikhtiar tetap harus dilakukan. Dan ikhtiar lebih enak dilakukan jika tidak sendirian. So, saya tunggu dm nya untuk kita ikhtiarkan bersama.

#percikankebaikan
#lingkarankebaikan
#membantuwujudkanimpian
#7orangterpilih
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#100dayswritingchallenge2
#day31

T E R G O D A

Daffa terdiam. Dia bingung. Lembar tanda tangan di mejanya masih belum dia sentuh. Tanda tangan enggak, ya? Begitu bisik hatinya. Ragu untuk memilih. Ah tapi semua juga pernah mengalami ini dan ga masalah kok, tanda tangan aja deh sepertinya, lanjut hatinya lagi.

Akhirnya tangannya meraih balpoin di saku kemejanya dan menggoreskan tanda tangan di lembaran di atas meja itu. Kemudian Daffa memasukkan lembaran tanda tangan itu ke sebuah map berisi dokumen selengkapnya. Diapun berdiri dan berjalan ke luar ruangan kerjanya sambil membawa dokumen itu. Dokumen itu akan dia serahkan kepada atasannya di ruang sebelah.

Dokumen itu berisi laporan keuangan dari proyek yang menjadi tanggung jawabnya bulan lalu. Kebingungan yang tadi dirasakannya itu karena dia tahu laporan itu tidak real, ada unsur mark up dan fiktifnya. Tapi itu dilakukan agar dana yang sudah dipotong di sana dan di sini sebelum sampai kepada bendahara proyek itu bisa dipertanggungjawabkan. Termasuk untuk biaya potong sana sini tersebut.

Di lain waktu, Daffa kembali terdiam dan bingung ketika seseorang menyerahkan amplop cukup tebal ke hadapannya. Pembagian dari Pak Anu kata orang tersebut sambil menyebut nama atasannya. Kata pembagian segera difahami Rio berasal dari uang yang tak semestinya. Uang panas, begitu teman-teman Daffa menyebutnya. Tapi walaupun disebut “panas” tetap saja teman-temannya mau menerima amplop tersebut. Dan sepertinya kemudian mereka juga tidak sungkan membelanjakannya.

Ah, kan semua juga kebagian. Dan semua juga mau menerimanya, bisik hati Daffa. Dipandangnya lagi amplop tebal itu. Terbayang jumlah nominal di dalamnya. Terbayang pula berbagai hal yang bisa dia lakukan dengan uang sebanyak itu. Banyak hal bisa terselesaikan. Uang sekolah anak-anaknya, tagihan kartu kreditnya, dan biaya renovasi rumahnya. Akhirnya tangan Daffapun meraih amplop itu dan memasukkannya ke dalam tas kerja di samping kursinya.

Kenapa seseorang bisa tergoda oleh hal-hal yang bukan haknya di tempat kerja atau bisnisnya? Apakah sedemikian kuat godaan itu sehingga sulit untuk ditepis? Adakah hal yang bisa membuat seseorang tahan akan godaan seperti itu?

Pertanyaan-pertanyaan menarik. Adakah yang bisa menjawabnya?

#sarapankata
#day5
#kmoindonesia
#kmobatch12
#tergoda
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day31

MENJADI LUAR BIASA

Dunia ini memang sangat menarik untuk dikaji. Banyak peristiwa yang bisa kita jadikan pelajaran berharga. Salah satunya adalah peristiwa-peristiwa yang dialami oleh teman saya, sebut saja Rangga.

Rangga seorang laki-laki biasa saja sebetulnya. Seperti kebanyakan orang, dia berasal dari keluarga biasa-biasa secara ekonomi dan kedudukan di masyarakat. Ayahnya seorang karyawan swasta dengan penghasilan yang cukup
untuk menghidupi keluarga biasanya itu. Ibunya seorang ibu rumah tangga biasa dengan sambilan berjualan baju-baju muslim dan kerudung kecil-kecilan di sela-sela waktu luangnya.

Rangga mempunyai seorang kakak perempuan dan seorang adik laki-laki dengan perbedaan usia antarketiganya tidak terlalu jauh. Dua tahun saja. Hubungan antarketiganyapun biasa-biasa saja layaknya kebanyakan tiga bersaudara. Kadang kompak dan kadang terjadi sedikit persilihan antarmereka.

Masa kecil, masa remaja, hingga lulus kuliah juga dialami Rangga biasa-biasa saja. Prestasi sekolah dan aktivitas di luar sekolahnya pun biasa-biasa saja. Semua berjalan biasa-biasa saja, nyaris lancar, tanpa hambatan yang berarti.

Tapi kehidupan Rangga yang biasa-biasa itu kemudian mulai berubah ketika dia memasuki usia dewasa. Tidak lama setelah lulus kuliah, dia diterima si suatu bank dan menemukan jodohnya di sana. Ketika perekonomian dunia bergejolak yang juga menular ke perekonomian di Indonesia, Rangga ikut merasakan akibatnya. Dia menjadi salah seorang karyawan yang terkena PHK. Padahal saat itu dia sedang membutuhkan biaya yang cukup besar untuk keperluan persalinan istrinya melalui operasi dan perawatan anaknya yang mengalami komplikasi setelah lahir.

Sebagai seorang kepala keluarga, Rangga berusaha untuk mengatasi permasalahan keluarga kecilnya itu. Dia terus berikhtiar, berusaha bangkit dari keterpurukannya. Dalam kondisi kebingungan yang sangat akhirnya dia menerima tawaran seorang teman lamanya yang tidak sengaja bertemu kembali. Temannya itu mengajak Rangga untuk bergabung dalam bisnis yang sedang dirintisnya. Rangga setuju terutama karena teman lamanya itu bersedia meminjamkan sejumlah uang yang bisa menutup seluruh biaya yang sedang Rangga butuhkan.

Sayangnya teman lamanya itu ternyata tidak amanah dengan membawa lari hampir seluruh dana dalam bisnis yang sedang dirintisnya itu. Dan dana yang tidak sedikit itu berasal dari beberapa investor yang tidak terima uangnya dilarikan. Akhirnya masalah ini diperkarakan, masuk pengadilan, dan menyebabkan Rangga harus ikut merasakan hidup di penjara selama setahun bersama teman lamanya itu.

Hanya itu saja? Ternyata tidak. Ketika Rangga sedang dipenjara, sang istri tidak tahan dengan apa yang menimpanya. Dia meninggalkan Rangga dengan membawa surat perpisahan yang sah dari Pengadilan Agama. Istilah “sudah jatuh, tertimpa tangga pula” sepertinya sangat tepat disandang oleh Rangga saat itu.

Seperti apa kira-kira yang akan teman-teman lakukan kalau saja teman-teman yang mengalaminya? Apakah teman-teman akan menghabiskan waktu di penjara dengan menangisi nasib dan menutup diri? Ataukah teman-teman memupuk rasa marah sambil menyalahkan orang lain atas kejadian yang menimpa? Atau diam saja tanpa melakukan apa-apa karena menyerah dan putus asa? Semua itu akan membuat teman-teman semakin jatuh dalam keterpurukan. Padahal itu hanyalah sebagian dari pilihan yang bisa teman-teman pilih.

Bagaimana dengan Rangga. Ternyata Rangga memilih untuk bangkit segera dari keterpurukan. Pengalamannya selama satu tahun di penjara justru membuatnya menjadi kuat dan bertekad untuk memperbaiki secepatnya kehidupannya yang terpuruk itu.

Ketika Rangga terbebas dari penjara, diapun berikhtiar untuk keinginannya itu. Setelah berjuang beberapa waktu akhirnya Ranggapun bisa mengembalikan kehidupannya menjadi baik, bahkan lebih baik dari sebelumnya. Karena Rangga memilih untuk menjadi sebagian kecil yang tidak biasa-biasa saja. Rangga memilih untuk menjadi luar biasa.

Hmmm … Ada apa dengan Rangga ya? Kok bisa dia begitu ya?

#sarapankata
#day4
#kmoindonesia
#kmobatch12
#menjadiluarbiasa
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day30

M A L A S

Gladys masih terdiam di depan pintu ruangan atasan barunya. Keraguan memenuhi relung kalbunya. Rasanya enggan sekali masuk ke ruangan itu dan bertemu dengan atasan barunya itu. Ini sudah ke 3 kalinya dia menghadap atasannya untuk menanyakan penilaian dirinya oleh atasannya itu.

Tapi dua kali menghadap tidak ada hasilnya. Dia merasa ada saja alasan atasannya itu untuk tidak segera mengeluarkan penilaian dirinya. Dia juga merasa alasannya hanya dibuat-buat saja. Padahal penilaian atasannya itu diperlukan untuk laporan kemajuan dirinya kalau ingin nilainya bagus. Dan batas akhir penyerahan dokumen-dokumen untuk laporan kemajuan dirinya itu sudah sangat dekat.

Ini bukan yang pertama dia merasa dipersulit oleh atasannya itu. Sekitar sebulan lalu dia juga sulit mendapatkan tanda tangan atasannya itu untuk laporan hasil pengukuran perusahaan yang dia kerjakan. Sehingga penyerahan laporan tersebut kepada perusahaan yang diukur terlambat dari waktu yang dia janjikan. Membuat dia merasa malu kepada perusahaan tersebut dan kesal kepada atasannya.

Selama ini Gladys selalu bekerja penuh semangat. Selain karena memang dia menyukai aktivitas-aktivitas yang menjadi tugasnya, juga karena ada iming-iming penambahan insentif yang lumayan bagi mereka yang mampu melaksanakan berbagai tugasnya dengan baik. Belum lagi kalau menjadi staf terbaik ada ganjaran yang menggiurkan yaitu melakukan perjalanan umroh gratis untuk dia dan pasangannya.

Tapi kemudian Gladys keluar dari ruangan atasan barunya itu dengan wajah suram dan tubuh lunglai. Lagi-lagi dia gagal untuk mendapatkan penilailan dari atasannya itu. Dan alasan yang dikemukakan oleh atasannya menambah rasa kesalnya, lembar penilaiannya tertinggal di tempat klien kemarin katanya. Sehingga Gladys harus memintanya kembali ke Bagian SDM. Terbayang proses mengajukan lagi penilaian itu kepada atasannya yang membuatnya patah semangat. Diapun merasa atasannya itu tidak menyukainya sehingga dia dipersulit seperti ini.

Membayangkan semester ini laporan kemajuan dirinya kurang baik, sehingga insentif yang semestinya bisa dia dapatkan jadi batal; juga kesempatan menjadi staf terbaik jadi hilang karena kasus-kasus di atas; dia jadi malas untuk memperlihatkan kemampuan terbaiknya. Ah, sebaik apapun saya melakukan berbagai tugas saya, tidak akan mungkin mendapatkan hasil yang baik apalagi terbaik karena terhambat di tanda tangan dia (atasan barunya). Jadi untuk apa berusaha mengerjakan dengan sebaik-baiknya. Begitu yang ada di pikiran Gladys saat itu.

Akhirnya Gladyspun melakukan berbagai tugasnya asal-asalan saja. Tidak pernah lagi ada semangat untuk melakukan yang terbaik dalam pekerjaannya itu. Kemalasannya terpicu karena rasa kesal atas perlakukan atasannya terhadap dirinya. Bahkan untuk masuk kerjapun dia tidak bersemangat lagi. Yang ada rasa berat setiap kali memasuki kantor tempatnya bekerja.

Apakah ada yang sedang merasakan hal yang sama dengan Gladys? Atau bahkan mungkin ada yang mengalami hal yang sama dengan yang dialami Gladys? Kenapa ya perasaan malas, tidak bersemangat, berat dalam bekerja itu muncul? Apakah karena pihak lain, kalau dalam kasus Gladys adalah atasan barunya itu? Atau jangan-jangan penyebabnya ada dalam diri kita? Silakan telusuri dulu hati masing-masing untuk menjawabnya.

#sarapankata
#day3
#kmoindonesia
#kmobatch12
#semangat
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day29

S E M A N G A T

Saya sudah menunggu-nunggu sesi ke 3 ini sejak pagi. Sejak pelatihan ini dimulai. Terbayang sosok yang fresh dan penuh percaya diri akan tampil di depan sana. Dengan membawakan materi yang tidak jarang membuat lidah ini berdecak kagum. Materi yang jarang bisa dibawakan sesempurna ini oleh trainer manapun.

Trainer favorit yang satu ini memang memiliki semangat yang luar biasa. Walaupun kadang katanya dia harus berjuang untuk sampai tepat waktu ke tempat pelatihannya seperti sekarang ini karena sebelumnya dia bertugas di tempat yang agak jauh di pelosok sana, namun penampilannya tetap mempesona.

Setiap gerakan dan kata-katanya mampu menyihir saya sehingga saya terpaku dan menyerap dengan baik materi yang dia berikan. Latihan-latihan yang disampaikannyapun membuat peserta jadi lebih memahami materi yang dia sampaikan.

Kalau saya nanti menjadi seorang trainer, saya ingin bisa menjadi trainer seperti dia. Selalu memberikan pelayanan terbaik bagi kami para peserta pelatihannya. Gayanya yang khas dan energik itu selalu terbayang. Diselingi dengan candaan elegan dan tidak murahan, membuat sesinya selalu dinanti oleh banyak orang.

Kadang saya ingin bertanya langsung kepadanya, bagaimana sih bisa mempertahankan semangatnya tetap membara. Bahkan ketika dia harus memulai pelatihannya di waktu-waktu yang berbahaya, setelah makan siang misalnya. Sering peserta pelatihan menjadi kurang bersemangat setelah makan siang karena kondisi perut yang kenyang. Tapi dia selalu saja mampu mengatasinya. Mata peserta menjadi terbuka kembali ketika pelatihan dimulai lagi olehnya.

Tapi apalah daya diri ini. Siapalah saya ini. Hanya seorang peserta biasa dari pelatihan-pelatihan seperti ini yang sangat mengagumi penampilannya dalam berkarya di bidangnya ini. Bidang yang juga menjadi impian saya untuk berkarya nanti.

Apakah memang semangat seperti itu perlu dilatih atau bisa muncul dengan sendirinya? Semangat yang bisa menular kepada peserta yang ikut sesi pelatihannya. Apa sih yang ada di dalam dirinya yang mendorongnya selalu tampak bersemangat dalam memberikan tampilan terbaiknya? Pasti ada sesuatu yang sangat dipercayainya sehingga semangat itu tetap terjaga.

Betapa menyenangkannya kalau kita bekerja dalam kondisi seperti yang selalu dia alami. Selalu tampak bersemangat dan menikmati setiap tahapan pelatihan yang dia berikan. Tak pernah sekalipun saya melihatnya termangu dalam kebosanan atau terdiam terlalu lama dalam kebingungan ketika sedang memberikan materi pelatihan. Pasti segera dia akan bergerak dengan semangat mengelilingi ruangan pelatihannya itu mengawal para peserta juga pada saat latihan-latihan diberikan, kalau-kalau ada peserta yang perlu bantuannya.

Siapa yang tak ingin berkarya dalam kondisi yang dialaminya? Pasti semua inginkan seperti dia. Sepertinya seluruh jiwa tercurah untuk terselenggaranya dengan baik pelatihannya tersebut. Dan dia tampak sangat menikmati semua proses yang terjadi.

Lagi-lagi saya melontarkan pertanyaan yang masih belum terjawab sampai saat ini. Hal apa ya yang membuat dia selalu bersemangat dalam memberikan pelatihan-pelatihannya itu? Tidak ada tanda-tanda kelelahan sedikitpun terlihat darinya. Semangatnya memang luar biasa. MasyaAllah …

#sarapankata
#day2
#kmoindonesia
#kmobatch12
#semangat
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day28
#onepostoneweek
#WiFIregionbandung

C A P E K

Minggu lalu, ketika pencernaan saya sedang memberikan alarm alaminya, saya berkonsultasi dengan seorang dokter langganan yang praktek di apotik miliknya. Seperti biasa jika akan berkonsultasi dengannya, di siang harinya saya menelepon apotik tersebut untuk mendaftar. Dan sekitar menjelang magrib saya akan dikabari dokter perempuan cantik itu akan berpraktek jam berapa di hari itu. Praktek malam hari tentunya.

Saya kemudian ditelepon mendekati magrib yang isi pesannya adalah dokter cantik itu akan praktek jam 20.30 alias setengah sembilan malam. Saya pun mengiyakan dan mengisi waktu untuk menunggu waktu prakteknya itu dengan melaksanakan sholat, makan malam, dan istrirahat sejenak sambil meredakan gemuruh perut yang biasanya datang setiap kambuh setelah diisi makanan.

Sekitar lima menit sebelum setengah sembilan malam, kembali ada panggilan telepon dari apotek itu yang mengabarkan bahwa dokter cantik yang saya tunggu-tunggu sudah datang di tempat prakteknya. Maka sayapun memanggil anak sulung saya untuk menemani saya ke tempat praktek dokter tersebut yang tidak jauh jaraknya dari rumah.

Ketika saya sampai di apotek tersebut, sudah ada beberapa pasien lain yang menunggu. Dihitung-hitung ada 3 pasien yang datang sebelum saya dan pada saat saya menunggu masih datang 2 pasien lain. Cukup banyak juga pasiennya malam hari ini padahal waktu sudah menunjukkan pukul 9 kurang sepempat.

Tempat prakteknya ini tidak terlalu besar tapi cukup nyaman dan berada di satu ruko di bagian depan perumahan tempat saya tinggal. Dokter cantik itu memiliki 2 ruko di sana. Satu khusus untuk tempat prakteknya, dia sebagai ahli penyakit dalam di lantai bawah dan praktek dokter gigi di lantai 2. Satu ruko lagi khusus untuk apotek yang menurut saya cukup lengkap menyediakan obat-obatan.

Saya cocok berkonsultasi dengannya karena selain dia seumuran dengan saya, tempat prakteknya sangat dekat dengan rumah, dan saya mengenal pertama kali di sekolah anak saya yang bungsu karena merupakan salah satu orangtua dari teman anak bungsu saya itu. Mungkin karena seumuran dan saya juga punya kegiatan mengajar (sebagai pekerja), jadi konsultasi yang terjadi selalu menjadi ajang saling curhat. Apalagi saat ini kedua anak berada di sekolah yang berbeda sehingga saling memberikan kabar kedua anak bungsu kami seolah menjadi hal yang penting dalam pembicaraan kami.

Selain itu dia juga sudah sangat mengenal kondisi tubuh saya karena sudah sejak lama berkonsulitasi dengannya khususnya mengenai kondisi pencernaan saya. Dia tahu saya tidak terlalu suka mengkonsumsi obat-obatan kimia sehingga dia selalu memberikan obat yang relatif aman (tidak keras dan diusahakan berbasis herbal) khususnya untuk pencernaan saya.

Karena hubungan kami sudah dekat, dulu saya mudah menghubunginya jika saya butuh konsiltasi mendadak. Tinggal menghubungi via WA dan biasanya dalam jangka waktu 1 atau 2 jam kemudian sudah memberika jawaban yang sangat membantu saya. Jadi saya tidak perlu menunggu sampai jam praktek dia di Apoteknya tersebut. Saya sudah bisa mendapatkan resep obat darinya, tinggal diambil saja di apoteknya. Sayangnya akhir-akhir ini nomor WA yang dishare ke saya jarang sekali aktif, sehingga saya harus menunggu waktu prakteknya tiba yang semakin ke sini semakin malam saja dimulainya.

Nah salah satu yang kadang-kadang membuat saya terheran-heran adalah ketika saya berada di ruang prakteknya untuk berkonsultasi dengannya bukan saya yang banyak bercerita tentang kondisi saya melainkan dia. Dia bilang, sekarang ini jadi dokter adalah kerja rodi. Semenjak adanya program BPJS, pasiennya di rumah sakit membludak mencapai seratus orang setiap harinya. Dan minimal dia harus melayani 60 orang pasien. Dia bilang, sebetulnya dia tidak kuat dengan kondisi seperti itu setiap harinya. Sehingga tidak jarang dia pun mengalami sakit di pencernaan dan tekanan darahnya naik.

Betul pemasukannya meningkat sekitar 3 kali lipat dari sebelumnya tetapi tenaga dan waktu yang harus dikeluarkannya 5 kali lipat, katanya lagi. Jadi dia sering merasa kecapekan ketika sampai di rumah di malam hari. Padahal selama di rumahpun dia harus stand by dengan hp yang selalu siap menerima kabar pasiennya yang gawat dari rumah sakit tempatnya bekerja. Dia jadi tidak memiliki waktu lagi untuk suami dan anak-anak.

Anehnya lagi bukan suaminya yang merasa kurang perhatian, malah dia yang merasa kurang diperhatikan suami. Padahal yang sibuk adalah dirinya sendiri. Kadang dia merasa kesal dengan hal tersebut tetapi bingung mengungkapkannya kepada suaminya. Belum lagi rasa menyesal karena tidak memiliki waktu untuk memperhatikan ketiga anaknya yang beranjak dewasa. Ketika anak kedua dan ketiganya mengalami masalah di sekolahnya, dia menyalahkan dirinya sendiri untuk hal tersebut.

Memang saya melihat wajah yang tampak capek sekali ketika bercerita dengan kelopak mata bawah dari matanya yang menggantung. Saya jarang sekali berkomentar untuk apa yang dia curhatkan itu. Saya biasanya hanya tersenyum ketikan mendengar ceritanya itu. Saya percaya di hanya butuh orang untuk diajak bicara dan mendengarkan curhatannya saja. Karena biasanya setelah dia menceritakan berbagai permasalahan hidupnya itu, wajahnya terlihat lebih lega. Dan binar matanya terlihat kembali membuat kecantikannya semakin terpancar.

Di perjalanan pulang dari konsultasi dokter tersebut saya merenung sambil berdiskusi kecil dengan anak saya mengenai pembicaraan saya dengan dokter cantik itu. Sebagai seorang dokter ahli penyakit dalam dengan pasien jumlah pasien banyak, tentunya kehidupan ekonominya juga sangat terjamin. Apalagi dia masih berpraktek di luar jam kerjanya di rumah sakit dan memiliki apotik. Dia mampu menyekolahkan anak-anaknya di sekolah mahal dan bergengsi, memiliki rumah bertingkat yang megah (rumahnya di dekat apoteknya itu), dan mobil keluaran terbaru tampak berjejer di cartpot dan garasi rumahnya itu. Tubuhnya sebagai seorang perempuan juga sempurna dengan kecantikan dan tinggi tubuh yang seimbang. Sangat menarik sebagai perempuan di usianya.

Tapi ternyata semua itu tidak menjamin seseorang bisa merasakan ketenangan dalam hidupnya. Yang ada adalah rasa capek melanda, rasa tidak diperhatikan oleh pasangan, dan rasa menyesal karena tidak memiliki banyak waktu untuk anak-anaknya. Hmmm … apakah ada yang salah dari hidupnya? Dan bagaimana dengan hidup saya?

#sarapankata
#day1
#kmoindonesia
#capek
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#myfourthbook
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day27

MENCUCI BAJU

Ini adalah salah satu tulisan yang insyaAllah akan ada dalam buku ke 3 saya.

Menjelang tidur tadi malam, saya termenung. Seorang teman sekamar, sebut saja Mawar, menegur salah satu teman sekamar kami yang lain, sebut saja Melati dengan nada yang terdengar sedikit kesal. Dan penyebabnya adalah sepele, yaitu kesempatan untuk mencuci baju dan menjemurnya di kamar mandi.

Menurut Mawar, Melati itu tidak punya tenggang rasa. Dia tidak peduli kalau orang lainpun perlu mencuci baju dan mendapatkan kesempatan menjemurnya. Yang penting bagi Melati semua masalah cuciannya beres. Jadi setiap kali dia perlu mencuci bajunya, langsung saja dicuci dan dijemur tanpa mempertimbangkan bahwa orang lain juga membutuhkan hal yang sama.

Betul juga sih, saya juga merasa kalau kamar mandi kami selalu dipenuhi oleh jemuran baju milik Melati. Dan saya sering merasa agak kesulitan ketika akan menjemur beberapa baju saya.

Rupanya Melati tidak terima dibilang tidak bertenggang rasa. Dengan wajah terlihat kesal, dia kemudian meninggalkan kamar kami dan pergi entah kemana. Dan entah jam berapa dia kembali ke kamar kami. Karena dia baru kembali ke kamar kami setelah kami semua di kamar itu tertidur. Saya terbangun sejenak ketika dia datang membuka pintu kamar.

Pagi tadi ketika saya terbangun sebelum subuh berkumandang, saya melihat Melati sudah terduduk rapih di tempat tidurnya sambil memakai jilbab hitamnya. Saya sapa dengan ramah bermaksud untuk mencairkan suasana yang tegang tadi malam, dia menjawab pelan tanpa senyum.

Ketika saya bersiap-siap untuk mengambil air wudhu, Melati berjalan menuju pintu kamar seperti yang akan pergi meninggalkan kamar ini. Saya pun bertanya mau kemana kepadanya. Dia menjawab dengan gumaman tak jelas dan menghilang ke luar kamar.

Pertanyaan itu terjawab ketika sarapan pagi. Rupanya tadi malam dan sebelum subuh Melati pergi ke salah satu kamar lain rombongan haji kami. Entahlah di sana dia curhat atau bagaimana. Yang pasti kemudian seorang teman dari kamar lain itu, sebut saja Dahlia, mengatakan kepada saya dan Mawar bahwa masalah perselisihan antara Melati dengan penghuni kamar kami yang lain harus segera diselesaikan.

Saya membatin, kenapa saya jadi diikutsertakan menjadi orang yang berselisih dengan Melati? Tapi ya sudahlah. Saya setuju kok untuk menyelesaikan segera masalah itu. Supaya suasana di kamar kami jadi nyaman lagi.

Jadilah setelah sarapan selesai, Melati dipertemukan dengan saya dan teman-teman sekamar yang lain ditengahi oleh Dahlia. Walaupun di awal pembahasan sempat memanas, namun akhirnya kami bisa sepakat dan saling berjanji untuk berbicara baik-baik jika ada yang dirasakan mengganjal. Kami sepakat untuk membatasi jumlah cucian per orang setiap harinya berdasarkan jumlah gantungan baju yang sudah ditentukan.

Sepele dan kesannya kekanak-kanakan ya? Tapi justru hal yang seperti ini, yang dianggap sepele, ternyata bisa membuat ibadah kita terganggu. Padahal kita sudah mengorbankan banyak energi, waktu, biaya, dan kedekatan dengan keluarga untuk berangkat haji. Sangat merugi jika kemudian ibadah haji tidak bisa kita jalankan dengan baik sesuai yang Allah inginkan.

Coba saja rasakan, kita jadi kehilangan ketenangan ketika merasa kesal dengan tingkah laku orang lain. Bagaimana bisa khusuk beribadah ketika ketenangan itu tidak ada. Sejak kemunculan rasa kesal itu pun sebetulnya tidak disukai Allah. Bukankah Allah menginginkan kita bersabar ketika ada orang lain yang bertingkah atau yang zalim kepada kita? Kok kita malah melakukan hal yang tidak disukai Allah, di rumah Allah, ketika menjadi tamu-Nya?

Lantas apa kita biarkan saja orang yang bertingkah itu? Kita kan perlu ikhtiar juga supaya hal yang tidak menyenangkan itu tidak terus-terusan kita alami.

Ikhtiar tetap kita lakukan. Boleh saja kita menyampaikan keberatan kita kepada orang bertingkah itu. Tapi tentu saja dengan cara yang baik dan waktu yang tepat yang tidak membuat orang tersebut tersinggung.

Sabar dan menyampaikan keberatan dengan baik adalah kemampuan hati. Tanpa kita menyadari kenapa kita perlu bersabar dan kenapa kita butuh menyampaikan keberatan dengan baik; maka kedua kemampuan itu tidak akan kita miliki. Sehingga kemudian kita menjadi kesal dan membuat orang lain tersinggung.

MasyaAllah, kalau saja Allah tidak mempersiapkan saya untuk menghadapi hal-hal seperti ini, tentunya saya pun akan ikut kesal dan menyinggung perasaan orang lain. Terima kasih, ya Allah. Pengaturan-Mu memang terbaik.

Mekah, 29 Agustus 2017, 15.05

#bukuke3
#enlightenedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#100dayswritingchallenge2
#day26

ULANG TAHUN

Moms, masih adakah yang merayakan hari ulang tahun? Hari kelahiran kita yang mungkin terjadinya sudah berpuluh tahun lalu. Kalau iya, kenapa ya kita masih merayakannya? Dan yang terpenting adalah boleh tidak sih kita merayakan dan mengucapkan selamat ulang tahun itu?

Ketika saya tanyakan kepada beberapa teman, kenapa sih masih merayakan dan mengucapkan selamat ulang tahun? Jawaban terbanyak adalah dalam rangka bersyukur karena masih diberikan usia sampai hari ulang tahunnya tersebut. Dan mengucapkan selamat ulang tahun dalam rangka menjalin hubungan yang baik dengan orang lain khususnya yang sedang berulang tahun dan membuat yang berulang tahun senang karena diberi perhatian. Bukankah semua itu hal yang baik? Dan bukankah Allah suka hal-hal yang baik?

Sayangnya, Moms, hal-hal yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Jika kita ingin tahu apakah sesuatu itu baik atau tidak untuk dilakukan menurut Allah, kita semestinya bertanya langsung kepada Allah. Ya tentunya melalui Al Qur’an dan hadis Rasul; dan juga pendapat berbagai ahli agama Islam.

Memang, Moms, pembahasan tentang perayaan dan ucapan selamat ulang tahun ini oleh para ahli agama berbeda-beda. Ada yang berpendapat bahwa perayaan ulang tahun dianggap bid’ah karena tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan karena hari raya bagi umat muslim hanya ada dua yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu anhu: “Saya terutus kepada kalian sedang kalian (dulunya) mempunyai dua hari raya yang kalian bermain di dalamnya pada masa jahiliyah, dan sungguh Allah telah mengganti keduanya untuk kalian dengan yang lebih baik dari keduanya, (yaitu) hari Nahr (idul Adh-ha) dan hari Fithr (idul Fithri)”. (HR. An-Nasa` dishahihkan oleh Al-Albani)

Sehingga merayakan ulang tahun dianggap sebagai kebiasaan jahiliyah yang dilakukan bukan oleh orang muslim. Sementara mengucapkan selamat ulang tahun tidak dibenarkan karena dianggap mendukung dan menyetujui ulang tahun sebagai hari yang dirayakan. Berarti jika itu dilakukan kita termasuk kepada golongan mereka.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda: “Orang yang meniru suatu kaum, ia seolah adalah bagian dari kaum tersebut” [HR. Abu Dawud, disahihkan oleh Ibnu Hibban]

Tapi ada juga yang masih membolehkan untuk merayakan hari ulang tahun jika dilakukan dengan cara bersedekah untuk mensyukuri kesempatan usia yang diberikan kepadanya. Ada juga yang membolehkan karena ada seorang sahabat Nabi yang mengucapkan selamat kepada sahabat yang lain atas penerimaan taubatnya. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa ketika sahabat Ka’ab bin Malik menerima kabar gembira dari nabi saw. tentang penerimaan taubatnya, maka sahabat Thalhah bin Ubaidillah menyampaikan ucapan selamat kepada Ka’ab bin Malik.

Nah, Moms, sekarang bagaimana dengan kita? Yang mana yang harus kita ikuti?

Ikutilah yang membuat kita semakin taat kepada Allah. Apakah dengan merayakan hari ulang tahun itu kita semakin taat kepada Allah atau semakin menjauh? Apakah memang merayakan ulang tahun itu hanya dalam rangka bersyukur dan bersedekah dengan lilahita’a atau jangan-jangan ada sepercik keinginan untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa kita mampu mengadakan pesta ulang tahun dan kita itu orang yang baik sehingga bersedekah?

Apakah dengan mengucapkan selamat ulangtahun kita semakin taat kepada Allah atau semakin menjauh? Apakah memang kita mengucapkan selamat itu semata-mata untuk berbuat baik menyenangkan hati orang yang berulang tahun dengan lillahita’ala atau kita merasa tidak enak hati karena yang ulang tahun adalah sahabat dekat, kerabat dekat, atasan, pejabat, atau orang yang penting buat kita? Apa kata orang kalau kita tidak mengucapkan selamat? Apa kata mereka yang berulang tahun kalau kita tidak mengucapkan selamat?

“Iya ya, selama ini apa tujuan kita merayakan dan mengucapkan selamat ulang tahun itu?”

Dan perlu diingat, Moms. Bersyukur itu seharusnya kita dilakukan setiap saat. Bukan hanya setahun sekali pada saat berulang tahun. Bukannya Allah memberikan nikmatnya untuk kita setiap saat? Dan semakin sering kita bersyukur semakin tenang rasanya hati kita. Begitu juga dengan bersedekah kan, Moms? Semakin sering bersedekah, maka semakin Allah suka, jika sedekahnya lillahita’ala.

“Wah, bener juga ya. Tapi gimana dong, masih sulit nih menghilangkan kebiasaan berulangtahun itu.”

Sama kok, Moms. Saya juga belum bisa menghilangkan seluruh kebiasaan yang berhubungan dengan ulang tahun ini. Alhamdulillah, sudah beberapa tahun belakangan ini saya tidak merayakan hari ulang tahun. Hanya saja saya masih belum bisa menghilangkan kebiasaan mengucapkan selamat ulang tahun walaupun ucapannya diganti dengan doa “barakallah fii umrik”. Tapi tetap saja saya merasa belum benar. Karena itupun dilakukan kadang masih dengan alasan enggak enak hati.

Ah, memang hati ini masih harus belajar. Agar apa yang dipilih memang benar-benar perwujudan kepada Allah Yang Maha Baik.

Ya deh kalau begitu belajar lagi dan semakin kencang. Semoga bisa, insyaAllah…

#empoweredmoms
#ulangtahun
#dirayakanatautidak?
#mengucapkanselamatatautidak?
#pilihlahyangmembuatsemakintaat
#mampukanhati

GOOD BYE, MY JILBAB

Beberapa waktu lalu saya melihat seorang teman yang berhijab dan dulu kami pernah dekat, memposting foto dirinya tanpa berhijab di media sosial. Pada awalnya dia memposting foto tanpa hijab itu dari jauh dengan pencahayaan sedikit gelap dan terlihat seperti siluet. Sehingga tidak terlalu jelas dia sedang tanpa hijab saat itu. Tapi semakin lama, dia semakin berani memperlihatkan dirinya tanpa hijab dalam berbagai pose yang diambil dari dekat dengan pencahayaan yang cukup terang.

Ya memang Moms, hidup adalah pilihan. Setiap orang punya hak dan boleh memilih apa yang diinginkannya. Tidak ada yang memaksa, bahkan Allah sekalipun. Termasuk teman saya itu. Dia saat ini sudah memilih untuk melepas hijabnya.

Tapi peristiwa itu membuat saya bertanya-tanya, kenapa ya dia sampai memutuskan untuk melepas hijabnya? Tentunya dia memiliki alasan kuat untuk itu. Sayangnya saya belum sempat untuk bertanya langsung kepadanya, karena memang sudah lama juga kami tidak saling kontak langsung.

Dia memang bukan satu-satunya teman saya yang melepas hijabnya, Moms. Sebelumnya sudah ada beberapa teman yang melakukan hal sama. Dan lagi-lagi saya tidak sempat menanyakan alasannya. Yang ini lebih karena saya sendiri saat itu belum mengenal dan terbiasa untuk merenung dan merasa-rasakan berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar saya. Jadi hal seperti itu kurang mendapat perhatian dari saya.

Mungkin alasan mereka melepas hijab sama seperti yang pernah saya rasakan. Saya juga sempat tergoda untuk melepas hijab saya. Yang saya rasakan saat itu adalah berhijab membuat saya jadi terbatas dalam beraktivitas, bahkan kadang-kadang dalam melakukan gerakan tertentu. Padahal saat itu saya masih jarang memakai gamis lebar seperti sekarang. Saya lebih sering memakai celana panjang. Belum lagi kalau sedang terburu-buru perlu berangkat pagi, rasanya ribet harus menggunakan kerudung dan baju panjang.

Apakah Moms juga pernah merasa tergoda untuk melepas jilbab? Karena alasan apa?

“Ya pernah. Waktu itu saya merasa kurang oke kalau berjilbab.”

“Saya juga pernah. Sama alasannya karena ribet kalau pake jilbab. Gerak juga jadi terbatas.”

“Kalau saya pernah terpikirkan melepas jilbab karena melihat bahwa ternyata ada orang yang sangat baik, selalu merasa tenang dan damai, tanpa berjilbab. Jadi untuk apa berjilbab?”

Ya betul. Bisa jadi mereka merasa kurang pantas memakai hijab. Merasa penampilannya jadi kelihatan tua dan enggak oke banget. Mau pake make up yang tebal, enggak boleh karena katanya tabaruj. Mau pake baju yang sedang trendy, enggak boleh karena memperlihatkan lekuk tubuh atau bisa terselip riya’. Karena keinginan untuk tampil oke itu lebih besar daripada berhijab, jadilah mereka melepas hijabnya.

Atau mungkin karena mereka melihat kenyataan bahwa tanpa berjilbab pun ada manusia yang bisa merasakan tenang dan damai. Merekapun pun mencari tahu bagaimana caranya. Ketika sudah tahu, mereka melepas jilbabnya karena alasan berjilbabnya adalah ingin merasakan tenang dan damai. Toh tanpa berjilbab mereka bisa merasakan tenang dan damai tersebut.

Atau bisa jadi alasan mereka melepaskan hijab karena mereka merasa gagal. Gagal menjadi orang saleha. Mereka merasa dengan berhijab perilaku dan sikap masih sama seperti sebelum berhijab. Tidak ada perbaikan ke arah yang diharapkan. Salat masih bolong-bolong. Masih suka bergunjing. Masih lebih suka hura-hura dan kumpul-kumpul di mal dibandingkan ke pengajian atau komunitas agamis lainnya. Masih suka berkata-kata jelek. Dan sebagainya.

Sehingga mereka merasa malu ketika mendengar orang-orang berkata “untuk apa pake hijab kalau kelakuan masih kayak begitu?!”. Dan akhirnya menyerah, mereka pun melepas hijabnya.

Tapi mungkin Moms, mereka lupa atau belum menyadari bahwa perempuan muslim itu memiliki aurat yang harus ditutup dan tidak boleh sembarang orang melihatnya. Aurat perempuan itu adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangannya. Kenapa aurat perempuan itu sedemikian rapat, karena sesungguhnya tubuh perempuan itu sangat menarik, sehingga jika terlihat oleh pria bisa menimbulkan syahwat. Aturan aurat bagi perempuan bukanlah untuk membuat kita repot, melainkan untuk menjaga kita dari hal-hal yang tidak diinginkan. Karena perempuan sangat dimuliakan.

“Katakanlah kepada orang laki–laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allâh maha mengatahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau putera–putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allâh, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

“Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka !” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menegur Asma binti Abu Bakar Radhiyallahu anhuma ketika beliau datang ke rumah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengenakan busana yang agak tipis. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memalingkan mukanya sambil berkata : “Wahai Asma! Sesungguhnya wanita jika sudah baligh maka tidak boleh nampak dari anggota badannya kecuali ini dan ini (beliau mengisyaratkan ke muka dan telapak tangan).” (HR. Abu Dâwud dan al-Baihaqi di-shahihkan oleh syaikh al-Albâni rahimahullah)

Moms, tentunya pernah mendengar atau membaca tentang pelecehan seksual yang terjadi kepada perempuan bahkan bisa sampai terjadi perkosaan. Itu bisa saja terjadi karena kita, perempuan, tidak menutup aurat sesuai yang diperintahkan. Kalaupun pelecehan dan perkosaan itu tidak terjadi kepada kita, kita akan merasakan khawatir hal itu akan terjadi pada diri kita di saat-saat tertentu. Kehidupan kita di dunia menjadi tidak bahagia.

Dan bagaimana dengan di akhirat kelak? Ternyata perempuan yang tidak menutup auratnya akan sengsara, Moms. Sholatnya tidak diterima dan dia tidak bisa masuk ke surga bahkan mencium bau surgapun tidak bisa.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (yang pertama adalah) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (yang kedua adalah) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berpaling dari ketaatan dan mengajak lainnya untuk mengikuti mereka, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

Rasulullah bersabda: “Tidak diterima sholat wanita dewasa kecuali yang memakai khimar (jilbab).” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Majah)

Alhamdulillah ya Moms, bagi kita yang masih terus memakai jilbabnya sesuai aturan. InsyaAllah kita terhindar dari hal-hal tersebut di atas. Aamiin…

#selfreminder
#empoweredmoms
#jilbab
#membukajilbab
#aurat
#menjagadanmemuliakanperempuan
#mampukanhati
#inginmenjadibaik

AKU KAN BUKAN PEMBANTU

Beberapa waktu lalu, saya tertegun cukup lama di satu postingan teman perempuan di akun media sosialnya. Dia men-share postingan orang lain (laki-laki, mungkin temannya) yang isinya kira-kira seperti ini.

“Kalau istri sedang malas ngerjain pekerjaan rumah. Dan saya juga sedang ga ada waktu untuk membantunya. Ya ga apa-apa. Biarkan saja. Cucian menumpuk, lantai kotor, ruangan acak2an, dan kalau mau makan, tinggal beli. Nanti kalau malasnya sudah hilang, kan bisa beres-beres lagi dan bisa masak lagi. Ga usah ribut, ngomel, dan panik. ‘Wah, jadi ga nyaman dong di rumah. Berantakan dan kotor.’ Kalau buat saya ga masalah. Karena saya bukan menikah dengan pembantu.”

Hmmm… jadi mikir, apakah Moms merasa menjadi PRT ketika harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga? Dulu, saya mungkin merasa seperti itu. Kalau kebetulan kami sedang tidak punya PRT, mau tidak mau kami harus turun tangan melakukan pekerjaan rumah tangga itu. Dan pada saat suami ada di rumah tapi dia tidak membantu dalam mengerjakan pekerjaan rumah, saya kadang kesal dan menggerutu walau dalam hati,” Memangnya aku pembantunya, kok enggak ada kesadaran membantu!”

Tapi setelah saya mengenal dan mengajak hati ini belajar, saya tidak lagi merasa seperti itu. Kenapa coba, Moms?

“Karena sudah menyadari bahwa pekerjaan rumah tangga itu adalah tanggung jawab kita, sebagai ratu rumah tangga. Ya kan?”

“Karena mengerjakan pekerjaan rumah tangga itu kita menyambut tawaran dari Allah berupa tiket-tiket surga.”

Saya setuju dengan jawaban Moms yang kedua, tapi masih ragu dengan jawaban Moms pertama.

“Kenapa ragu?”

“Berarti pekerjaan rumah tangga itu bukan tanggung jawab kita ya?”

Beberapa waktu lalu, ketika sedang mencari pendapat ahli agama tentang kewajiban suami dan istri, saya menemukan hal yang benar-benar baru buat saya. Ternyata pekerjaan rumah tangga itu tanggung jawab suami bukan tanggung jawab istri. (http://www.ummi-online.com/disangka-tugas-istri-sebenarnya-hal-berikut-ini-adalah-kewajiban-suami.html; https://m.eramuslim.com/nikah/benarkah-kewajiban-suami-mengurus-rumah-tangga.htm)

Saya agak terkaget-kaget membacanya, Moms. Karena itu berarti jika kita tidak melakukan pekerjaan rumah itu tidak apa-apa, karena itu bukan kewajiban kita sebagai seorang istri.

Tentunya seorang suami saleh yang penuh kasih sayang tidak akan membebankan kewajibannya itu kepada istrinya begitu saja. Jika secara ekonomi dia mampu, pastilah dia akan mempekerjakan pembantu rumah tangga untuk mengerjakan itu semua. Kalau belum mampu atau tidak ada orang yang bisa dipekerjakan, tentunya hanya untuk sebagian pekerjaan rumah saja dia meminta bantuan istrinya untuk mengerjakannya. Itu pun mungkin yang paling ringan. Sebagian lagi, yang lebih berat, akan dia kerjakan sendiri. Karena dia tidak memiliki banyak waktu dan tenaga lagi jika harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga tersebut.

Dan bagaimana dengan kita sebagai seorang istri, Moms? Jika kita ingin menjadi istri yang selalu bahagia, tentunya kita ikuti apa yang Allah mau. Dalam kondisi seperti itu apa sih yang Allah mau? Tentu saja kita dengan tulus dan senang hati mau membantu suami mengerjakan pekerjaan rumah tangga tersebut. Kenapa? Karena sudah jelas seorang istri itu butuh taat kepada suami. Itu adalah aturan Allah. Dan Allah memberikan aturan tersebut sudah pasti untuk kebaikan kita, yaitu agar kita selalu bahagia, baik dalam kehidupan di dunia ini maupun di akhirat nanti.

Dan jikapun suami tidak meminta tolong untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga tersebut; sebagai seorang yang ingin selalu bahagia tentunya kita ingin selalu melakukan kebaikan. Hal-hal yang baik menurut Allah. Kalau kepada orang lain saja kita mau membantu, karena menurut Allah membantu itu adalah hal baik; masa sama suami sendiri yang sudah susah payah menafkahi, tidak mau membantu?

Jadi, sebenarnya kewajiban siapapun pekerjaan rumah tangga itu tidak menjadi masalah ketika kita menyadari bahwa apapun yang kita lakukan itu karena ingin semakin taat kepada Allah. Dan kita ingin semakin taat agar kita bisa selalu bahagia.

Gimana? Setuju kan, Moms?

#empoweredmoms
#akukanbukanpembantu
#pekerjaanrumahtangga
#kewajibansiapa?
#niatmembantu
#karenaAllah
#kemampuanhati
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#inspiringwriting
#inginmenjadibaik