AKU KAN BUKAN PEMBANTU

Beberapa waktu lalu, saya tertegun cukup lama di satu postingan teman perempuan di akun media sosialnya. Dia men-share postingan orang lain (laki-laki, mungkin temannya) yang isinya kira-kira seperti ini.

“Kalau istri sedang malas ngerjain pekerjaan rumah. Dan saya juga sedang ga ada waktu untuk membantunya. Ya ga apa-apa. Biarkan saja. Cucian menumpuk, lantai kotor, ruangan acak2an, dan kalau mau makan, tinggal beli. Nanti kalau malasnya sudah hilang, kan bisa beres-beres lagi dan bisa masak lagi. Ga usah ribut, ngomel, dan panik. ‘Wah, jadi ga nyaman dong di rumah. Berantakan dan kotor.’ Kalau buat saya ga masalah. Karena saya bukan menikah dengan pembantu.”

Hmmm… jadi mikir, apakah Moms merasa menjadi PRT ketika harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga? Dulu, saya mungkin merasa seperti itu. Kalau kebetulan kami sedang tidak punya PRT, mau tidak mau kami harus turun tangan melakukan pekerjaan rumah tangga itu. Dan pada saat suami ada di rumah tapi dia tidak membantu dalam mengerjakan pekerjaan rumah, saya kadang kesal dan menggerutu walau dalam hati,” Memangnya aku pembantunya, kok enggak ada kesadaran membantu!”

Tapi setelah saya mengenal dan mengajak hati ini belajar, saya tidak lagi merasa seperti itu. Kenapa coba, Moms?

“Karena sudah menyadari bahwa pekerjaan rumah tangga itu adalah tanggung jawab kita, sebagai ratu rumah tangga. Ya kan?”

“Karena mengerjakan pekerjaan rumah tangga itu kita menyambut tawaran dari Allah berupa tiket-tiket surga.”

Saya setuju dengan jawaban Moms yang kedua, tapi masih ragu dengan jawaban Moms pertama.

“Kenapa ragu?”

“Berarti pekerjaan rumah tangga itu bukan tanggung jawab kita ya?”

Beberapa waktu lalu, ketika sedang mencari pendapat ahli agama tentang kewajiban suami dan istri, saya menemukan hal yang benar-benar baru buat saya. Ternyata pekerjaan rumah tangga itu tanggung jawab suami bukan tanggung jawab istri. (http://www.ummi-online.com/disangka-tugas-istri-sebenarnya-hal-berikut-ini-adalah-kewajiban-suami.html; https://m.eramuslim.com/nikah/benarkah-kewajiban-suami-mengurus-rumah-tangga.htm)

Saya agak terkaget-kaget membacanya, Moms. Karena itu berarti jika kita tidak melakukan pekerjaan rumah itu tidak apa-apa, karena itu bukan kewajiban kita sebagai seorang istri.

Tentunya seorang suami saleh yang penuh kasih sayang tidak akan membebankan kewajibannya itu kepada istrinya begitu saja. Jika secara ekonomi dia mampu, pastilah dia akan mempekerjakan pembantu rumah tangga untuk mengerjakan itu semua. Kalau belum mampu atau tidak ada orang yang bisa dipekerjakan, tentunya hanya untuk sebagian pekerjaan rumah saja dia meminta bantuan istrinya untuk mengerjakannya. Itu pun mungkin yang paling ringan. Sebagian lagi, yang lebih berat, akan dia kerjakan sendiri. Karena dia tidak memiliki banyak waktu dan tenaga lagi jika harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga tersebut.

Dan bagaimana dengan kita sebagai seorang istri, Moms? Jika kita ingin menjadi istri yang selalu bahagia, tentunya kita ikuti apa yang Allah mau. Dalam kondisi seperti itu apa sih yang Allah mau? Tentu saja kita dengan tulus dan senang hati mau membantu suami mengerjakan pekerjaan rumah tangga tersebut. Kenapa? Karena sudah jelas seorang istri itu butuh taat kepada suami. Itu adalah aturan Allah. Dan Allah memberikan aturan tersebut sudah pasti untuk kebaikan kita, yaitu agar kita selalu bahagia, baik dalam kehidupan di dunia ini maupun di akhirat nanti.

Dan jikapun suami tidak meminta tolong untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga tersebut; sebagai seorang yang ingin selalu bahagia tentunya kita ingin selalu melakukan kebaikan. Hal-hal yang baik menurut Allah. Kalau kepada orang lain saja kita mau membantu, karena menurut Allah membantu itu adalah hal baik; masa sama suami sendiri yang sudah susah payah menafkahi, tidak mau membantu?

Jadi, sebenarnya kewajiban siapapun pekerjaan rumah tangga itu tidak menjadi masalah ketika kita menyadari bahwa apapun yang kita lakukan itu karena ingin semakin taat kepada Allah. Dan kita ingin semakin taat agar kita bisa selalu bahagia.

Gimana? Setuju kan, Moms?

#empoweredmoms
#akukanbukanpembantu
#pekerjaanrumahtangga
#kewajibansiapa?
#niatmembantu
#karenaAllah
#kemampuanhati
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#inspiringwriting
#inginmenjadibaik

CUSTOMER EXPERIENCE

 

Kemarin siang, saya dikejutkan oleh bel rumah yang berbunyi. Saya tidak ada janji dengan mahasiswa atau siapapun juga. Bahkan sedang tidak ada kiriman paket belanja online yang ditunggu. Saya bertanya kepada anak saya, mereka juga tidak sedang menunggu siapa-siapa.

Dengan masih bertanya-tanya dalam hati, akhirnya saya buka pintu depan rumah dan berjalan menuju pagar.

“Gojek!” kata seseorang di luar pagar.

O, berarti ada kiriman via gojek, tebak saya dalam hati.

Dan benar. Saya terima selembar amplop bujursangkar cukup besar berwarna kuning pucat di dalam plastik. Tidak ada tulisan apa-apa di amplop tersebut.

Saking penasarannya saya buka amplop itu sambil berjalan masuk kembali ke dalam rumah. Dan saya pun terpesona melihat dan membaca isinya.

Bukan karena isinya surat cinta, atau surat pemberitahuan menang lotre. Tapi karena hal ini di luar ekspektasi saya. Ucapan terima kasih atas kerjasama yang sudah terjalin ini, benar-benar membuat saya merasa diperhatikan dan merasakan pengalaman yang tak terbayangkan sebelumnya.

Dan amplop itu datang di hari mereka selesai mengerjakan pekerjaannya setelah mengirimkan invoice yang saya minta. Bahkan saya belum sempat mentransfer untuk invoice itu pada saat itu.

Padahal mereka hanya dua orang mahasiswa yang pastinya belum lama berada di bisnis ini. Dan apa yang mereka lakukan adalah hal yang sederhana serta tidak mahal. Tapi efeknya… Wow! Salah satu pembelajaran yang sangat berharga untuk service excellent.

Good job Risang dan Opik! Semoga bisa terus mempertahankan bahkan meningkatkan pelayanan yang prima itu. Terima kasih untuk semua bantuannya kemarin dan kejutannya yang cantik ini 🙏😍. Aamiin untuk doa dalam kejutannya 🙏🙏.

Pssstt… Risang, Opik…, lain kali pake kata “Bunda” aja buat ganti kata “Tante” nya yaaaa…. hihi… *berasatua *tapigamasalah *sunatullah

Kandela Institute
#kandelainstitute
#serviceexcellent
#berbisnis
#customerexperience
#ilustrator
#bukuperdana
#empoweredmoms
#heartjourney
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#100daywritingchallenge2
#day12

MENULIS UNTUK BAHAGIA

MENULIS UNTUK BAHAGIA

Menulis adalah aktivitas yang sekarang ini sedang saya sukai, bahkan saya nikmati. Apakah karena saya selalu mudah menemukan ide dan menuangkannya menjadi tulisan yang enak dibaca? Ternyata bukan itu alasannya. Saya kadang masih merasa kesulitan menemukan ide yang menarik untuk ditulis dan lebih sering lagi merasa kesulitan menuangkan ide tersebut menjadi tulisan.

Rasa suka dan nikmat saya terhadap menulis ini belumlah lama. Baru terjadi sekitar 6 bulan belakangan ini. Saat itu saya sedang mulai mengalami perubahan rasa dalam memandang kehidupan ini. Kehidupan yang tadinya terasa sering membebani menjadi terasa lebih ringan. Hati terasa lebih tenang dan tenteram. Rasa sedih, khawatir, dan gelisah semakin jarang menghampiri.

Saya menyebutnya sebagai rasa bahagia. Dan ternyata rasa itu adalah rasa yang selalu saya ingin rasakan selama hidup di dunia ini bahkan juga ketika saya berada di kehidupan selanjutnya kelak. Atau dengan kata lain, dia adalah tujuan hidup hakiki saya yaitu bahagia di dunia dan akhirat.

Tentu saja hal itu tidak terjadi begitu saja. Ada sesuatu yang harus saya lakukan agar tujuan tersebut tercapai. Apa itu? Yaitu selalu taat kepada Sang Pencipta. Kenapa? Karena Sang Pencipta yang sedemikian sayang kepada kita, manusia, tidak membiarkan kita begitu saja hidup di dunia yang penuh godaan ini. Dia memberikan panduan agar kita selamat dari godaan-godaan tersebut. Jika kita taat kepada panduan tersebut maka bahagia di dunia akhirat akan tercapai.

Saya tidak ingin menghabiskan waktu sia-sia. Karena waktu yang saya miliki untuk hidup di dunia ini sangat terbatas. Jika mungkin seluruh waktu saya diisi dengan ketaatan kepada-Nya. Termasuk ketika saya sedang bermedia sosial. Sehingga saya memutuskan untuk menjadikan media sosial itu tempat saya menyampaikan kebaikan dan mengajak berbuat baik melalui tulisan. Itulah awal saya mulai suka dan menikmati menulis.

Saya ingin kebaikan yang saya sampaikan itu bisa tersampaikan kepada lebih banyak orang. Karena saya ingin semakin banyak orang yang bisa merasakan bahagia yang seperti saya rasakan sekarang ini. Untuk itulah saya kemudian mulai mengikuti kelas-kelas menulis online. Dengan harapan saya bisa semakin mudah membuat tulisan yang bagus dan enak dibaca, sehingga lebih banyak orang yang mau membaca tulisan saya.

Pada saat mengikuti kelas menulis online itulah saya mulai memiliki keinginan untuk menyampaikan kebaikan dan mengajak kebaikan dengan menulis buku. Terinspirasi juga oleh mereka yang sudah mampu menghasilkan buku yang berpengaruh terhadap pembacanya. Saya membayangkan melalui buku akan lebih banyak orang yang bisa menikmati dan mudah-mudahan tersentuh hatinya untuk berbuat baik, sehingga lebih banyak lagi orang yang bisa merasakan bahagia seperti yang saya rasakan. InsyaAllah …

  1. #KMOIndonesia
    #KMObatch12
    #KMOgroup09
    #lenypuspadewi
    #lenymenulis
    #menulisuntukbahagia
    #inginmenjadibaik
    #enlightenedheart

TAK CUKUP HANYA BERTEKAD

Seberapa sering kita bertekad untuk melakukan sesuatu? Dan seberapa sering juga apa yang kita tekadkan itu tidak tercapai?

Tiga bulan yang lalu mungkin ada yang bertekad seperti ini: 👇

Saya bertekad untuk berpakaikan lebih syar’i dengan selalu menggunakan kaos kaki …

Saya bertekad untuk melakukan sholat 5 waktu lebih awal (tidak di akhir waktu) …

Saya bertekad untuk bersabar dengan tidak mengomeli anak ketika mereka berulah …

Saya bertekad untuk bersabar dan ikhlas ketika sakit dengan tidak mengeluh …

Saya bertekad untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan ikhlas tanpa mengeluh dan kesal jika bertumpuk dan tidak ada yang membantu …

Saya bertekad untuk mencari nafkah yang halal bagi keluarga …

Saya bertekad untuk meninggalkan riba …

Saya bertekad untuk hanya membagikan kebaikan di postingan medsos saya …

Saya bertekad untuk mengubah pola makan menjadi lebih sehat …

Saya bertekad untuk menyelesaikan skripisi/tesis/disertasi saya dalam 3 bulan ini …

Saya bertekad untuk menyelesaikan naskah buku saya dalam waktu 1 bulan …

Yuk, cek apakah tekad kita itu berhasil?

Apakah ada tapi hanya sedikit, banyak tidak berhasilnya? Atau bahkan tidak ada yang tercapai sama sekali? Kenapa ya? Padahal kita sudah bertekad, lho.

Ternyata itu artinya kita belum yakin dengan tujuan dari apa yang kita tekadkan itu. Kita belum yakin kenapa kita perlu berpakaian lebih syar’i. Kita belum yakin kenapa kita perlu bersabar dalam menghadapi anak. Kita belum yakin kepada kita perlu meninggalkan riba. Kita belum yakin kenapa kita perlu menyelesaikan naskah buku kita.

Bahkan mungkin kita belum tahu kenapa kita perlu melakukan itu semua. Sehingga tidak ada pendorong yang kuat untuk mencapai itu semua.

“Tapi kenapa perlu yakin? Saya sudah tahu kok kenapa saya perlu melakukan itu semua.”

Yakin artinya apa yang kita tahu itu sudah tertanam di hati. Dan hanya hatilah yang mampu membuat kita bergerak melakukan sesuatu sesuai dengan keyakinan yang ada di hati kita itu. Setelah yakin, apapun akan kita lakukan untuk meraih tekad itu.

Mau semua tekad itu tercapai? Yuk temukan untuk apa kita perlu melakukan tekad kita itu. setelah ketemu, jadikan keyakinan di hati dengan cara merenung dan merasa-rasakannya.

Catatan: Tulisan ini terinspirasi oleh postingan Mba Inca Restu kemarin berdasarkan tulisan PakPermadi Alibasyahh di permadialibasyah.com. Terima kasih sahabat-sahabat jiwa ❤️.

#selfreminder
#tidakcukuphanyabertekad
#tujuan
#keyakinan
#hati
#merenung
#merasarasakan
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#berbagikebaikan
#enlightenedheart
#100dayswritingchallenge2
#day18

PERCIKAN KEBAIKAN

Kadang-kadang kita merasa kurang baik, kurang pintar, atau kurang mampu dibandingkan orang lain dalam banyak hal. Dan hal itu membuat kita jadi sungkan untuk berbuat baik kepada orang lain. Minder kata lainnya. Kita jadi terdiam, tidak melakukan apa-apa.

Tapi tau tidak, tanpa kita sadari bahkan kebaikan kecilpun ternyata bisa berefek besar. Saya pernah menonton iklan (saya lupa iklan apa itu) yang menceritakan kebaikan berantai. Ketika seseorang, sebut saja A membantu orang lain dengan kebaikan kecil (memberikan makanan kalau ga salah, lupa juga saya), sebut saja B; B kemudian terdorong untuk membantu orang yang lain lagi, sebut saja C. Berhenti di situ? Ternyata tidak. C pun kemudian terdorong untuk membantu orang lain, sebut saja D; dan begitu seterusnya. Sehingga menyebarlah kebaikan ke banyak orang yang berasal dari 1 kebaikan kecil saja.

Itu kalau kita hanya memberikan kebaikan kepada satu orang. Bagaimana kalau kita memberikan kebaikan kepada lebih banyak orang? Tentunya kebaikan akan semakin menyebar ke banyak orang.

Itu jugalah yang sekarang sedang saya ikhtiarkan, berbagi kebaikan kepada orang lain. Mungkin hanya kebaikan kecil, tapi jika menyebar ke banyak orang, maka bukan hal mustahil menghasilkan hal yang besar.

Ikhtiar seperti apa? Tunggu tanggal mainnya, insyaAllah akan saya paparkan di sini proyek #percikankebaikan.

O iya, ini bukan ide saya sebetulnya. Melainkan saya diajak untuk melakukan ini oleh seseorang yang usianya jauh lebih muda dari saya. Saya terkesan dengan ide-ide kebaikannya. Jadi ketika dia mengeluarkan proyek #25persons25dreams, saya mengajukan diri untuk bergabung.

Tertarik untuk bergabung juga? Silakan cek di IG @rezky_passionwriter dan bergabunglah dalam #lingkarankebaikan.

#percikankebaikan
#kebaikanyangmenyebar
#lingkarankebaikan
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#kandelainstitute
#100dayswritingchallenge2
#day19

PASRAH

Pada saat kita dihadapkan pada peristiwa -peristiwa ketidaknyamanan berturut-turut, apa yang Moms rasakan dan lakukan? Merasa sedih, kecewa, atau marah? Berkeluh kesah, sering menangis, atau bertanya-tanya “kenapa aku?” dan “apa salahku?”

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan teman lama, sebut saja Violet, yang sudah lama tak bertemu. Pada saat berteman dulu kami cukup dekat. Saat saya bertemu dengannya beberapa waktu lalu itu, Violet terlihat sedikit kuyu dan kurang bersemangat. Padahal setahu saya, dia orangnya cukup ramah dan agak ribut jika bertemu teman yang cukup dekat.

Walaupun ada rasa sungkan karena saya merasa dia agak menjaga jarak, tapi akhirnya saya gak tahan untuk bertanya kenapa dia terlihat kurang bersemangat. Violet terdiam cukup lama, membuat saya merasa tak enak hati telah bertanya seperti itu. Tapi untungnya dia akhirnya mau menjawab pertanyaan saya, bahkan kemudian bercerita panjang lebar.

Violet ditinggal pergi oleh beberapa orang terdekatnya dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Ternyata setahun lalu dia ditinggalkan oleh suaminya yang meninggal karena sakit. Terbayang dong, Moms, ditinggalkan oleh suami yang notabene adalah orang paling dekat dengannya saat itu. Orang yang biasanya selalu ada untuk menjadi sandaran hidupnya dan tempat berbagi suka dan duka, sehingga Violet mengatakan “separuh nafas saya sudah hilang saat itu”.

Tidak hanya itu, enam bulan sebelum suaminya meninggal, kakak perempuan satu-satunya pun meninggal dunia karena sakit. Violet sangat dekat dengan kakak perempuannya tersebut karena menjadi pengganti ibunya sejak ibunya meninggal di masa remajanya dulu. Tempatnya curhat berbagai hal, katanya.

Tahun ini, anak satu-satunya, perempuan, meninggalkannya untuk bersekolah dengan beasiswa ke luar negeri. Dan terakhir adalah, pembantu rumah tangganya, yang sudah 8 tahun menemaninya, berhenti bekerja karena ikut suaminya pindah ke pulau lain.

“Lengkap sudah, Teh. Bahkan Mbak Sus aja juga diambil dari saya,” katanya. Kesan mengeluh kuat sekali terdengar dari nada suaranya. Mbak Sus adalah pembantu rumah tangganya.

Saya hanya mengusap lembut lengannya dan membiarkan dia melanjutkan ceritanya.

“Sekarang saya cuma bisa pasrah. Apa lagi coba yang bisa saya lakukan. Semua sudah saya usahakan dengan membantu pengobatan Teteh dan suami semampu saya. Kalau anak, ya memang maunya sekolah di sana, alhamdulillah dapat beasiswa. Tidak ada alasan lagi bagi saya untuk menahannya. Apalagi Mbak Sus, dia bukan siapa-siapa saya. Jadi ya pasrah aja.”

Moms, memang betul pasrah atau berserah diri itu adalah salah satu kemampuan hati. Jika kita memilikinya maka bahagia setiap saat bisa kita raih. Tapi pasrah yang bagaimana?

Ternyata adalah pasrah yang sudah hadir sejak awal kita melakukan ikhtiar bahkan dari saat kita berencana untuk melakukan ikhtiar tersebut. Pasrah bukan hadir di saat kita sudah putus asa karena tidak bisa lagi melakukan apa-apa.

Kenapa begitu ya, Moms?

Karena ketika di awal ikhtiar kita belum pasrah, maka kita akan merasa sering khawatir kalau-kalau ikhtiar yang kita lakukan gagal atau tidak mencapai hasil yang kita inginkan. Dan ketika hal itu terjadi, kita jadi kecewa, sedih, dan mungkin marah karena merasa sudah berikhtiar sungguh-sungguh tapi kok tetap tidak berhasil. Bahagia pun menghilang, tidak ada ketenangan dan ketenteraman sama sekali.

Sebaliknya, ketika kita sudah pasrah sejak awal, maka kita tidak akan merasa khawatir dengan hasilnya karena yakin Allah pasti akan memberikan hasil yang terbaik untuk kita. Dan walaupun kemudian hasilnya tidak sesuai seperti apa yang kita harapkan kita tetap menerimanya dengan ikhlas karena keyakinan kita tersebut. Kita tetap dalam keadaan selalu bahagia. Indah kan, Moms?

Itulah kenapa kita butuh hati yang mampu. Karena tanpa hati yang mampu kita tidak mungkin bisa merasakan kepasrahan sejak awal.

#selfreminder
#pasrah
#berserahdiri
#kemampuanhati
#empoweredmoms
#thejourneyofempoweredmoms2
#enlightenedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#100dayswritingchallenge2
#day20

PRODUCTIVE FAMILY TIME

Pada saat mendengar kata “family time”, apa yang biasanya terfikirkan? Menghabiskan waktu bersama keluarga sambil refreshing di suatu tempat? Tempatnya tentu saja bisa di tempat yang cukup jauh dari rumah, di sekitar rumah, atau bahkan di dalam rumah kita sendiri.

Dan pada saat family time itu biasanya kita “menghabiskan” dana walaupun hanya sedikit dengan membeli/membuat gorengan misalnya untuk dikonsumsi bersama sambil nonton film di rumah di salah satu saluran tv kabel. Bahkan bisa menghabiskan dana yang lumayan jika family time kita lakukan di tempat yang cukup jauh sehingga kita perlu menggunakan pesawat misalnya ke tempat tersebut.

Tapi ternyata bagi saya, family time bisa juga lho dilakukan bukan dengan menghabiskan dana melainkan menambah pundi-pundi dana kami. Bukan hanya pundi-pundi keluarga tetapi juga pundi-pundi masing-masing pribadi. Saya menyebutnya productive family time 😍.

Seperti yang terjadi di weekend ini. 2 hari ini, saya bersama keluarga berada di luar kota untuk men-deliver pesanan salah satu klien Kandela Institute. Kami, dengan tugas masing-masing, menikmati weekend bersama di tempat itu.

Walaupun kadang ada kehebohan yang terjadi, atau harap-harap cemas karena kliennya baru misalnya; namun suasana tetap terasa ceria dan menyenangkan. Setelah saya renungkan, ternyata karena semua yang terjadi walaupun itu kehebohan, kami tetap bersyukur.

Bukankah Allah pasti memberikan yang terbaik buat kita? Pasti kehebohan itupun terbaik untuk kami. Itu menguatkan kami ketika menghadapi kehebohan yang sama di masa mendatang dan semakin mengeratkan hubungan kekeluargaan kami. Biasanya kami kemudian akan tertawa ketika membahas kehebohan tersebut pada saat evaluasi dan rasa syukurpun semakin dalam. Alhamdulillah …

Nah, itu cerita family time saya, bagaimana dengan family time anda?

#familytime
#familypreneur
#productivefamilytime
#enlightenedheart
#bersyukur
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#100dayswritingchallenge2
#day21

MENULIS DENGAN MELIBATKAN HATI

Sering saya membaca quotes menulis dan judul tulisan yang isinya mengajak kita untuk menulis dengan melibatkan hati. Walaupun temanya sama, namun pemaparan yang diberikan berbeda-beda. Ada yang berpendapat menulis dengan melibatkan hati adalah menghadirkan Allah dalam tulisan.

Ada yang berpendapat menulislah sesuai hati nurani, sesuai yang dirasakan saat itu, dengan gaya bahasa kita sendiri. Dan ada juga yang berpendapat bahwa menulis itu harus memberikan manfaat kepada pembaca sehingga penulis perlu memposisikan dirinya sebagai pembaca tidak hanya sebagai dirinya sendiri.

Saya setuju bahwa menulis memang perlu melibatkan hati. Bahkan hati dilibatkan tidak hanya di dalam tulisan kita atau pada saat kita menulis. Tetapi juga melibatkan hati agar kita bisa tetap konsisten dan selalu on fire menulis.

Memang bisa?

Justru hanya dengan melibatkan hatilah maka semangat untuk menulis itu akan tetap menyala. Ketika saya launching buku solo pertama, banyak yang bertanya,” Kok bisa sih launching buku tepat waktu?” dan “Gimana sih caranya supaya saya bisa segera menyelesaikan buku saya?”

Saya jawab begini: “Ga sulit kok sebetulnya. Kamu tinggal merasa-rasakan bagaimana perasaan kamu ketika buku itu sudah jadi, atau ketika buku itu menjadi best seller, atau ketika banyak orang terinspirasi oleh bukumu, misalnya. Rasakan juga bagaimana respon orang-orang di sekitarmu ketika bukumu sudah jadi.”

Merasa-rasakan artinya melibatkan hati di dalamnya. Pada saat kita sudah mendapatkan perasaan yang luar biasa itu, maka apapun akan kita lakukan agar naskah buku kita segera selesai dan terbit.

Ga percaya?

Ya, kalau belum mencoba pasti tidak akan percaya. So, coba lakukan deh cara di atas yaitu melibatkan rasa atau hati agar kita selalu on fire pada saat menulis (buku).

#tentangmenulis
#gandrungmenulis
#semangatmenulis
#konsistenmenulis
#libatkanhati
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#100dayswritingchallenge2
#day23
#enlightenedheart

BE PRESENT, DARLING

Akhir-akhir ini saya mendengar beberapa kali suami berkomentar: “Bun, ayah perhatikan bunda sekarang ini sering kurang nyambung deh kalau kita sedang membicarakan sesuatu. Be present lah, Bun…”

Be present. Konsentrasi penuh, hadir di saat sesuatu sedang berlangsung. Pada saat suami sedang membicarakan pencarian tempat untuk pelatihan Kandela Institute, lembaga pelatihan kami, misalnya, di tengah-tengah pembicaraan saya berkomentar yang tidak sesuai dengan topik pembicaraan saat itu; maka saat itu saya sedang tidak be present. Itu mungkin terjadi karena pikiran dan hati saya sedang tidak berada di topik tersebut melainkan memikirkan hal lain.

Atau, ketika kita sedang makan, misalnya Moms, pikiran dan hati kita fokus kepada aktivitas makan tersebut dengan menikmati setiap suapan dan rasa dari makanan yang kita makan itu. Kalau pada saat kita makan tersebut kita masih melirik dan membaca sesekali gadget kita atau sambil meneruskan membaca buku atau bahkan memikirkan anak kita yang sedang ujian misalnya, maka pada saat itu kita sedang tidak be present.

Memang ga boleh ya mengingat hal lain selain aktivitas makan pada saat kita makan? Ga boleh ya melihat sejenak kepada gadget kita kalau-kalau ada yang penting?

Tentu saja boleh, Moms. Mengingat sesaat sesuatu di luar aktivitas yang sedang kita lakukan, tidak masalah. Asalkan tidak mendominasi pikiran dan hati kita sehingga aktivitas yang sedang kita lakukan menjadi kurang bermakna.

Lagipula tidak ada yang bisa memaksa kita untuk apapun yang kita kerjakan di dunia ini. Bahkan Allah sekalipun tidak pernah memaksa kita untuk mentaatinya. Hidup ini pilihan kok, Moms. Moms boleh memilih apa saja yang ingin Moms lakukan. Tapi ingat, apapun yang kita pilih pasti ada konsekuensinya yang bisa kita terima langsung di dunia pada saat ini atau nanti di akhirat kelak.

Sama juga ketika kita memilih untuk be present atau tidak. Jika kita memilih untuk be present pada saat makan misalnya, paling tidak kita jadi lebih sadar dengan makanan apa saja yang kita makan, sehat atau tidak, sebanyak apa kita makan. Jadi kita tidak sembarangan dalam memilih makanan yang kita makan dan juga bisa memperhitungkan banyaknya makanan yang masuk ke tubuh kita. InsyaAllah kita jadi bisa lebih sehat, kan Moms.

Dan yang terpenting kita jadi mampu mensyukuri bahwa kita masih diberi kesempatan untuk makan walaupun hanya dengan makan tahu dan tempe saja. Kita bersyukur karena masih bisa merasakan nikmatnya makan. Coba bayang mereka di luar sana yang untuk makan sehari sekali saja sulit karena tidak punya uang untuk membelinya. Atau bayangkan mereka yang sedang sakit, tentunya tidak bisa merasakan nikmatnya makanan yang mereka makan.

Betapa Allah telah memberikannikmat begitu besar kepada kita. Bagaimana tidak muncul rasa syukur kita. Allah tentu suka dengan hal ini. Dan kalau Allah sudah suka, Moms tahu kan apa yang kita dapatkan? Ya benar, tambahan bekal kita untuk di akhirat kelak.

Tapi kalau kita tidak be present pada saat kita makan, kemungkinan kita memperhatikan asupan makanan kita menjadi kecil. Kesehatan kita bisa terancam. Dan bagaimana mungkin kita bisa bersyukur jika pikiran dan hati kita tidak merasakan nikmatnya aktivitas makan kita. Bahkan mungkin berdoa sebelum makan saja kita lupa. Kita tidak mendapatkan tambahan bekal untuk di akhirat nanti. Rugi kan, Moms?

Ini baru pada saat kita makan. Bagaimana dengan aktivitas kita yang lain, Moms? Apakah kita sering be present atau tidak? Lihat saja apakah kita sering mensyukuri apapun yang sedang kita lakukan atau yang terjadi pada kita? Jika tidak, maka mungkin kita memang masih sering dalam keadaan tidak be present.

Dan tahukah, Moms, ternyata kita butuh kemampuan hati untuk bisa selalu be present. Karena kita harus bisa melawan ego kita untuk beralih dari aktivitas atau hal yang sedang kita sukai dan inginkan saat itu kepada aktivitas yang harus kita lakukan. Hanya hati yang mampu lah yang bisa melawan ego itu.

Jadi kita sudah tahu sekarang ya, Moms, untuk bisa selalu be present kita butuh memampukan hati kita.

#selfreminder
#empoweredmoms
#bepresent
#pikirandanhati
#konsentrasi
#bermakna
#bersyukur
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#inginmenjadibaik
#100dayswritingchallenge2
#day13

HIDUP DI DUNIA INI AMAT SANGAT SEBENTAR SAJA

Tiba-tiba saja saya jadi baper banget, Moms, waktu chat WA sama Mom keren pebisnis baju renang muslim sporte.id ini

Mbak Helfa Afrianti (ME): “Assalamu’alaikum, Teh… Apa kabar?”

Saya: “Wa’alaikumsalam, alhamdulillah. Mbak Efa apa kabar? Masih jalan-jalan atau sudah kembali ke Jakarta?”

ME: “Alhamdulillah baik, Teh… Udah di Jakarta, Teh. Kemarin sempat ke Padang, hampir 3 minggu di sana. Teh Leni masih di Jakarta?”

Saya: “Waaa, alhamdulillah asyikknyaaa… Saya udah otw bandung ini, Mbak. Mau ketemuan sama Yulia aja enggak sempet. InsyaAllah selasa depan ada rencana ke Jakarta lagi. Yuk meet up? Tapi di daerah Kuningan ya… hehe… Biasanya nginep di daerah itu.”

Yulia adalah sahabat kami. Seorang Mom pebisnis salon muslimah yang ga kalah kerennya. InsyaAllah dia akan hadir di tulisan saya yang lain nanti ya, Moms. Kalau saya dapat izin darinya ya, Moms.

ME: “Yaahh… Enggak ke BSD lagikah? Bentar aja di Jakartanya ya, Teh..?”

Saya: “Kan udah lulus yg di BSDnya, Mbak. Kemarin saya di Jakarta dari Rabu. Iya sih biasanya enggak lama di Jkt, 2-3 hari aja tergantung keperluannya.”

ME: “Wah Kaka udah lulus aja ya? Bener-bener enggak berasa ya. Perasaan baru kemaren ketemu masih di SMP.”

Saya: “Bener banget, Mbak. Betapa hidup di dunia ini amat sangat sebentar ya, Mbak. Self reminder: sudah berapa banyak bekal yg saya punya untuk kehidupan selanjutnya kelak?”

Saya mengakhiri kalimat terakhir di atas dengan emoticon menangis berderai air mata. Emoticon itu bukan sekadar emoticon, Moms, karena entah kenapa air mata ini tak bisa dibendung turun mengingat apa yang saya tuliskan.

Astaghfirullah… Waktu terus berjalan dengan cepat dan saya tidak ingin merugi. Masih banyak hal yang harus dipelajari oleh hati ini. Masih perlu banyak merenung dan merasa-rasakan untuk memenuhi kebutuhan perbekalan di kehidupan selanjutnya nanti.

Kenapa begitu? Karena kadang masih ada rasa kesal sedikit mengintip di hati ketika suami menegur atau bedinde berulah misalnya. Kadang masih ada rasa kecewa sedikit lewat di hati ketika apa yang saya mau tak tercapai. Walaupun hanya sebentar saja, tapi berarti hati saya belum sepenuhnya mampu untuk mempertahankan kebahagiaan pada pukulan pertama ketika ketidaknyamanan itu datang.

Semoga saja melalui menulis ini semakin banyak dan dalam kebenaran-kebenaran Al Quran tertanam di hati ini. Aamiin.

Terima kasih Moms semua sudah mau membaca dan menemani saya berproses. Terima kasih Mbak Efa untuk chattingnya yang mencerahkan.

***

ME: “Yaa Allah, Teh… dan itu tidak bisa diulang ya. Dan banyak banget ternyata waktu terbuang sia-sia.”

Saya: “Betul sekali, Mbak, jadi kita harus segera bikin hati ini semakin mampu untuk selalu taat kepada-Nya.”

#selfreminder
#empoweredmoms
#hidupdiduniahanyasebentar
#bekalhidupselanjutnya
#kemampuanhati
#merenung
#kebenaranAlQuran
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#inginmenjadibaik
#100dayswritingchallenge2
#day15