ISI HATI ANAK DENGAN HATI-HATI

ISI HATI ANAK DENGAN HATI-HATI

Seorang anak biasanya sangat kritis. Semua hal dikomentari. Tanpa rasa segan dan gengsi. Kadang malah membuat kita jengah dan malu.

Misalnya ketika kita dan anak balita gak sengaja bertemu dengan seorang perempuan bermake up tebal. Tiba-tiba si anak berteriak di dekat perempuan itu: “Ma! Ada ondel-ondel!” sambil menunjuk perempuan tersebut.

Si perempuan dan beberapa orang sekitar langsung melihat ke arah anak dan kita. Wajah perempuan itu terlihat kesal. Sementara orang lain menahan tawa. Kita pun terjebak dalam suasana gak enak. Mungkin kita segera minta maaf kepada si perempuan dan menyeret sang anak meninggalkan tempat itu.

Atau ketika si anak SD melihat perempuan berjilbab dengan baju ketat. Dia bilang: “Pake jilbab kok ketat sih? Nenennya masih keliatan tuh. Gak malu apa?”. Walaupun gak terlalu keras tapi karena berdekatan, perempuan itu mendengar. Dia segera melirik jutek ke arah anak dan kita. Kita jadi salah tingkah.

Kok bisa ya?

Mungkin kita pernah berkata kepada teman atau pasangan di depan anak balita: “Eh, lihat cewek itu. Pengen cakep, malah kayak ondel-ondel”.

Atau berbicara langsung kepada anak SD kita bahwa perempuan itu diwajibkan untuk menggunakan jilbab agar aurat gak terlihat. Gak boleh ketat, karena akan tetap terlihat auratnya. Kan malu kalau aurat terlihat. Dan kita katakan juga payudara adalah salah satu aurat itu. Tentu saja maksud kita baik supaya anak mengerti kenapa perempuan diharuskan berjilbab.

Kita kadang lupa bahwa anak hanya akan bereaksi atas suatu peristiwa berdasarkan apa yang dia lihat dengar, dan rasakan. Terutama dari orang yang sering bersama. Siapa lagi kalau bukan kita, ibu dan bapaknya. Atau… jangan-jangan pengasuhnya? 😊

Kita sering tanpa sadar menanamkan hal yang belum dimengerti dengan benar oleh anak. Belum tentu anak kita mengerti, apa itu ondel-ondel. Belum ngerti juga kalau bilang seseorang itu ondel-ondel artinya tidak sopan. Walaupun mungkin betul orang itu seperti ondel-ondel menurut pandangan kita 😆.

Mungkin kita juga lupa untuk lebih sering bercerita kepada anak tentang etika ketika bertemu dengan orang yang menurut kita aneh atau salah. Jadi dia merasa baik-baik saja ketika melakukan hal yang tak menyenangkan di depan orangnya.

Tau gak? Sebetulnya ini masalah HATI.

Emmm… maksudnya?

Ya. Hati anak masih banyak kosongnya. Belum banyak terisi. Jadi sebetulnya lebih mudah menanamkan sesuatu di hati anak daripada kita, orang dewasa. Saking mudah, hal yang sekali dia lihat, dengar, dan rasakan bisa langsung masuk ke dalam hati. Apalagi yang berulang.

Terus apa hubungannya dengan tingkah laku anak?

Ternyata yang menentukan tingkah laku atau perilaku adalah isi hati. Bukan hanya anak tetapi tetapi perilaku kita juga.

Jadi kalau ingin anak kita berperilaku yang baik. Isilah hatinya dengan kebaikan. Kasih tau dan perlihatkan hanya hal yang baik-baik saja.

Kalau ingin anak kita jauh dari gadget misalnya. Beri contoh kalau kita juga tidak banyak dekat dengan gadget.

Masih belum tuned?

Kita pasti sudah tau ya kalau marah itu tidak baik. Bahkan Allah tidak menyukainya. Tapi kenapa kita masih suka marah? Karena hati kita belum terisi oleh keyakinan bahwa marah itu tidak baik.

🌷🌷🌷🌷🌷

Tulisan ini sangat terinspirasi oleh Teh Kathy Saelan-Ekopurnomo dan Noninya yang lucu serta Kang Asep. Nuhun pisan 🙏🙏.

#selfreminder
#isihatimenentukanperilaku
#perilakuanak
#tafakur

#enlightenedheart

SALAH SATU HASIL MENULIS BUKU

MasyaAllah 😍. Alhamdulillah 🙏.

Nikmat, haru, dan syukur bersatu ketika membaca tulisan ini. Begini rupanya ketika salah satu tujuan menulis tercapai, lebih indah daripada ketika membayangkan ya dulu. Ketika hati butuh tambahan semangat untuk mendapatkan STRONG WHYnya.

Terima kasih Mbak Triana 🙏😘. Menambah semangat untuk terus berkarya melalui buku, yang memang sekarang ini sedang dibutuhkan. Yaitu menyelesaikan naskah buku solo ke 4. Pengalaman pertama menulis naskah novel memang sesuatu. Sangat menggebu namun kadang masih sering termangu untuk mulai menuangkan ide di Bab yang baru. But I love the process ❤.


So, teman-teman salihah dan saleh Syarah, Shofa, Ihsan, Nida, Isny, Rina, dan Mas Adit di Proyek SHINE-ON Ramadan Produktif, ayo semangat menulis untuk selesaikan naskah bukunya yaaa… 💪🔥😍


#bersyukur
#testimonibukuLeny
#thejourneyofempoweredmoms
#shineonramadanproduktif
#enlightenedheart
#kandelainstitute

ULANG TAHUN

Moms, masih adakah yang merayakan hari ulang tahun? Hari kelahiran kita yang mungkin terjadinya sudah berpuluh tahun lalu. Kalau iya, kenapa ya kita masih merayakannya? Dan yang terpenting adalah boleh tidak sih kita merayakan dan mengucapkan selamat ulang tahun itu?

Ketika saya tanyakan kepada beberapa teman, kenapa sih masih merayakan dan mengucapkan selamat ulang tahun? Jawaban terbanyak adalah dalam rangka bersyukur karena masih diberikan usia sampai hari ulang tahunnya tersebut. Dan mengucapkan selamat ulang tahun dalam rangka menjalin hubungan yang baik dengan orang lain khususnya yang sedang berulang tahun dan membuat yang berulang tahun senang karena diberi perhatian. Bukankah semua itu hal yang baik? Dan bukankah Allah suka hal-hal yang baik?

Sayangnya, Moms, hal-hal yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Jika kita ingin tahu apakah sesuatu itu baik atau tidak untuk dilakukan menurut Allah, kita semestinya bertanya langsung kepada Allah. Ya tentunya melalui Al Qur’an dan hadis Rasul; dan juga pendapat berbagai ahli agama Islam.

Memang, Moms, pembahasan tentang perayaan dan ucapan selamat ulang tahun ini oleh para ahli agama berbeda-beda. Ada yang berpendapat bahwa perayaan ulang tahun dianggap bid’ah karena tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan karena hari raya bagi umat muslim hanya ada dua yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu anhu: “Saya terutus kepada kalian sedang kalian (dulunya) mempunyai dua hari raya yang kalian bermain di dalamnya pada masa jahiliyah, dan sungguh Allah telah mengganti keduanya untuk kalian dengan yang lebih baik dari keduanya, (yaitu) hari Nahr (idul Adh-ha) dan hari Fithr (idul Fithri)”. (HR. An-Nasa` dishahihkan oleh Al-Albani)

Sehingga merayakan ulang tahun dianggap sebagai kebiasaan jahiliyah yang dilakukan bukan oleh orang muslim. Sementara mengucapkan selamat ulang tahun tidak dibenarkan karena dianggap mendukung dan menyetujui ulang tahun sebagai hari yang dirayakan. Berarti jika itu dilakukan kita termasuk kepada golongan mereka.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda: “Orang yang meniru suatu kaum, ia seolah adalah bagian dari kaum tersebut” [HR. Abu Dawud, disahihkan oleh Ibnu Hibban]

Tapi ada juga yang masih membolehkan untuk merayakan hari ulang tahun jika dilakukan dengan cara bersedekah untuk mensyukuri kesempatan usia yang diberikan kepadanya. Ada juga yang membolehkan karena ada seorang sahabat Nabi yang mengucapkan selamat kepada sahabat yang lain atas penerimaan taubatnya. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa ketika sahabat Ka’ab bin Malik menerima kabar gembira dari nabi saw. tentang penerimaan taubatnya, maka sahabat Thalhah bin Ubaidillah menyampaikan ucapan selamat kepada Ka’ab bin Malik.

Nah, Moms, sekarang bagaimana dengan kita? Yang mana yang harus kita ikuti?

Ikutilah yang membuat kita semakin taat kepada Allah. Apakah dengan merayakan hari ulang tahun itu kita semakin taat kepada Allah atau semakin menjauh? Apakah memang merayakan ulang tahun itu hanya dalam rangka bersyukur dan bersedekah dengan lilahita’a atau jangan-jangan ada sepercik keinginan untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa kita mampu mengadakan pesta ulang tahun dan kita itu orang yang baik sehingga bersedekah?

Apakah dengan mengucapkan selamat ulangtahun kita semakin taat kepada Allah atau semakin menjauh? Apakah memang kita mengucapkan selamat itu semata-mata untuk berbuat baik menyenangkan hati orang yang berulang tahun dengan lillahita’ala atau kita merasa tidak enak hati karena yang ulang tahun adalah sahabat dekat, kerabat dekat, atasan, pejabat, atau orang yang penting buat kita? Apa kata orang kalau kita tidak mengucapkan selamat? Apa kata mereka yang berulang tahun kalau kita tidak mengucapkan selamat?

“Iya ya, selama ini apa tujuan kita merayakan dan mengucapkan selamat ulang tahun itu?”

Dan perlu diingat, Moms. Bersyukur itu seharusnya kita dilakukan setiap saat. Bukan hanya setahun sekali pada saat berulang tahun. Bukannya Allah memberikan nikmatnya untuk kita setiap saat? Dan semakin sering kita bersyukur semakin tenang rasanya hati kita. Begitu juga dengan bersedekah kan, Moms? Semakin sering bersedekah, maka semakin Allah suka, jika sedekahnya lillahita’ala.

“Wah, bener juga ya. Tapi gimana dong, masih sulit nih menghilangkan kebiasaan berulangtahun itu.”

Sama kok, Moms. Saya juga belum bisa menghilangkan seluruh kebiasaan yang berhubungan dengan ulang tahun ini. Alhamdulillah, sudah beberapa tahun belakangan ini saya tidak merayakan hari ulang tahun. Hanya saja saya masih belum bisa menghilangkan kebiasaan mengucapkan selamat ulang tahun walaupun ucapannya diganti dengan doa “barakallah fii umrik”. Tapi tetap saja saya merasa belum benar. Karena itupun dilakukan kadang masih dengan alasan enggak enak hati.

Ah, memang hati ini masih harus belajar. Agar apa yang dipilih memang benar-benar perwujudan kepada Allah Yang Maha Baik.

Ya deh kalau begitu belajar lagi dan semakin kencang. Semoga bisa, insyaAllah…

#empoweredmoms
#ulangtahun
#dirayakanatautidak?
#mengucapkanselamatatautidak?
#pilihlahyangmembuatsemakintaat
#mampukanhati

GOOD BYE, MY JILBAB

Beberapa waktu lalu saya melihat seorang teman yang berhijab dan dulu kami pernah dekat, memposting foto dirinya tanpa berhijab di media sosial. Pada awalnya dia memposting foto tanpa hijab itu dari jauh dengan pencahayaan sedikit gelap dan terlihat seperti siluet. Sehingga tidak terlalu jelas dia sedang tanpa hijab saat itu. Tapi semakin lama, dia semakin berani memperlihatkan dirinya tanpa hijab dalam berbagai pose yang diambil dari dekat dengan pencahayaan yang cukup terang.

Ya memang Moms, hidup adalah pilihan. Setiap orang punya hak dan boleh memilih apa yang diinginkannya. Tidak ada yang memaksa, bahkan Allah sekalipun. Termasuk teman saya itu. Dia saat ini sudah memilih untuk melepas hijabnya.

Tapi peristiwa itu membuat saya bertanya-tanya, kenapa ya dia sampai memutuskan untuk melepas hijabnya? Tentunya dia memiliki alasan kuat untuk itu. Sayangnya saya belum sempat untuk bertanya langsung kepadanya, karena memang sudah lama juga kami tidak saling kontak langsung.

Dia memang bukan satu-satunya teman saya yang melepas hijabnya, Moms. Sebelumnya sudah ada beberapa teman yang melakukan hal sama. Dan lagi-lagi saya tidak sempat menanyakan alasannya. Yang ini lebih karena saya sendiri saat itu belum mengenal dan terbiasa untuk merenung dan merasa-rasakan berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar saya. Jadi hal seperti itu kurang mendapat perhatian dari saya.

Mungkin alasan mereka melepas hijab sama seperti yang pernah saya rasakan. Saya juga sempat tergoda untuk melepas hijab saya. Yang saya rasakan saat itu adalah berhijab membuat saya jadi terbatas dalam beraktivitas, bahkan kadang-kadang dalam melakukan gerakan tertentu. Padahal saat itu saya masih jarang memakai gamis lebar seperti sekarang. Saya lebih sering memakai celana panjang. Belum lagi kalau sedang terburu-buru perlu berangkat pagi, rasanya ribet harus menggunakan kerudung dan baju panjang.

Apakah Moms juga pernah merasa tergoda untuk melepas jilbab? Karena alasan apa?

“Ya pernah. Waktu itu saya merasa kurang oke kalau berjilbab.”

“Saya juga pernah. Sama alasannya karena ribet kalau pake jilbab. Gerak juga jadi terbatas.”

“Kalau saya pernah terpikirkan melepas jilbab karena melihat bahwa ternyata ada orang yang sangat baik, selalu merasa tenang dan damai, tanpa berjilbab. Jadi untuk apa berjilbab?”

Ya betul. Bisa jadi mereka merasa kurang pantas memakai hijab. Merasa penampilannya jadi kelihatan tua dan enggak oke banget. Mau pake make up yang tebal, enggak boleh karena katanya tabaruj. Mau pake baju yang sedang trendy, enggak boleh karena memperlihatkan lekuk tubuh atau bisa terselip riya’. Karena keinginan untuk tampil oke itu lebih besar daripada berhijab, jadilah mereka melepas hijabnya.

Atau mungkin karena mereka melihat kenyataan bahwa tanpa berjilbab pun ada manusia yang bisa merasakan tenang dan damai. Merekapun pun mencari tahu bagaimana caranya. Ketika sudah tahu, mereka melepas jilbabnya karena alasan berjilbabnya adalah ingin merasakan tenang dan damai. Toh tanpa berjilbab mereka bisa merasakan tenang dan damai tersebut.

Atau bisa jadi alasan mereka melepaskan hijab karena mereka merasa gagal. Gagal menjadi orang saleha. Mereka merasa dengan berhijab perilaku dan sikap masih sama seperti sebelum berhijab. Tidak ada perbaikan ke arah yang diharapkan. Salat masih bolong-bolong. Masih suka bergunjing. Masih lebih suka hura-hura dan kumpul-kumpul di mal dibandingkan ke pengajian atau komunitas agamis lainnya. Masih suka berkata-kata jelek. Dan sebagainya.

Sehingga mereka merasa malu ketika mendengar orang-orang berkata “untuk apa pake hijab kalau kelakuan masih kayak begitu?!”. Dan akhirnya menyerah, mereka pun melepas hijabnya.

Tapi mungkin Moms, mereka lupa atau belum menyadari bahwa perempuan muslim itu memiliki aurat yang harus ditutup dan tidak boleh sembarang orang melihatnya. Aurat perempuan itu adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangannya. Kenapa aurat perempuan itu sedemikian rapat, karena sesungguhnya tubuh perempuan itu sangat menarik, sehingga jika terlihat oleh pria bisa menimbulkan syahwat. Aturan aurat bagi perempuan bukanlah untuk membuat kita repot, melainkan untuk menjaga kita dari hal-hal yang tidak diinginkan. Karena perempuan sangat dimuliakan.

“Katakanlah kepada orang laki–laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allâh maha mengatahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau putera–putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allâh, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

“Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka !” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menegur Asma binti Abu Bakar Radhiyallahu anhuma ketika beliau datang ke rumah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengenakan busana yang agak tipis. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memalingkan mukanya sambil berkata : “Wahai Asma! Sesungguhnya wanita jika sudah baligh maka tidak boleh nampak dari anggota badannya kecuali ini dan ini (beliau mengisyaratkan ke muka dan telapak tangan).” (HR. Abu Dâwud dan al-Baihaqi di-shahihkan oleh syaikh al-Albâni rahimahullah)

Moms, tentunya pernah mendengar atau membaca tentang pelecehan seksual yang terjadi kepada perempuan bahkan bisa sampai terjadi perkosaan. Itu bisa saja terjadi karena kita, perempuan, tidak menutup aurat sesuai yang diperintahkan. Kalaupun pelecehan dan perkosaan itu tidak terjadi kepada kita, kita akan merasakan khawatir hal itu akan terjadi pada diri kita di saat-saat tertentu. Kehidupan kita di dunia menjadi tidak bahagia.

Dan bagaimana dengan di akhirat kelak? Ternyata perempuan yang tidak menutup auratnya akan sengsara, Moms. Sholatnya tidak diterima dan dia tidak bisa masuk ke surga bahkan mencium bau surgapun tidak bisa.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (yang pertama adalah) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (yang kedua adalah) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berpaling dari ketaatan dan mengajak lainnya untuk mengikuti mereka, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

Rasulullah bersabda: “Tidak diterima sholat wanita dewasa kecuali yang memakai khimar (jilbab).” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Majah)

Alhamdulillah ya Moms, bagi kita yang masih terus memakai jilbabnya sesuai aturan. InsyaAllah kita terhindar dari hal-hal tersebut di atas. Aamiin…

#selfreminder
#empoweredmoms
#jilbab
#membukajilbab
#aurat
#menjagadanmemuliakanperempuan
#mampukanhati
#inginmenjadibaik

AKU KAN BUKAN PEMBANTU

Beberapa waktu lalu, saya tertegun cukup lama di satu postingan teman perempuan di akun media sosialnya. Dia men-share postingan orang lain (laki-laki, mungkin temannya) yang isinya kira-kira seperti ini.

“Kalau istri sedang malas ngerjain pekerjaan rumah. Dan saya juga sedang ga ada waktu untuk membantunya. Ya ga apa-apa. Biarkan saja. Cucian menumpuk, lantai kotor, ruangan acak2an, dan kalau mau makan, tinggal beli. Nanti kalau malasnya sudah hilang, kan bisa beres-beres lagi dan bisa masak lagi. Ga usah ribut, ngomel, dan panik. ‘Wah, jadi ga nyaman dong di rumah. Berantakan dan kotor.’ Kalau buat saya ga masalah. Karena saya bukan menikah dengan pembantu.”

Hmmm… jadi mikir, apakah Moms merasa menjadi PRT ketika harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga? Dulu, saya mungkin merasa seperti itu. Kalau kebetulan kami sedang tidak punya PRT, mau tidak mau kami harus turun tangan melakukan pekerjaan rumah tangga itu. Dan pada saat suami ada di rumah tapi dia tidak membantu dalam mengerjakan pekerjaan rumah, saya kadang kesal dan menggerutu walau dalam hati,” Memangnya aku pembantunya, kok enggak ada kesadaran membantu!”

Tapi setelah saya mengenal dan mengajak hati ini belajar, saya tidak lagi merasa seperti itu. Kenapa coba, Moms?

“Karena sudah menyadari bahwa pekerjaan rumah tangga itu adalah tanggung jawab kita, sebagai ratu rumah tangga. Ya kan?”

“Karena mengerjakan pekerjaan rumah tangga itu kita menyambut tawaran dari Allah berupa tiket-tiket surga.”

Saya setuju dengan jawaban Moms yang kedua, tapi masih ragu dengan jawaban Moms pertama.

“Kenapa ragu?”

“Berarti pekerjaan rumah tangga itu bukan tanggung jawab kita ya?”

Beberapa waktu lalu, ketika sedang mencari pendapat ahli agama tentang kewajiban suami dan istri, saya menemukan hal yang benar-benar baru buat saya. Ternyata pekerjaan rumah tangga itu tanggung jawab suami bukan tanggung jawab istri. (http://www.ummi-online.com/disangka-tugas-istri-sebenarnya-hal-berikut-ini-adalah-kewajiban-suami.html; https://m.eramuslim.com/nikah/benarkah-kewajiban-suami-mengurus-rumah-tangga.htm)

Saya agak terkaget-kaget membacanya, Moms. Karena itu berarti jika kita tidak melakukan pekerjaan rumah itu tidak apa-apa, karena itu bukan kewajiban kita sebagai seorang istri.

Tentunya seorang suami saleh yang penuh kasih sayang tidak akan membebankan kewajibannya itu kepada istrinya begitu saja. Jika secara ekonomi dia mampu, pastilah dia akan mempekerjakan pembantu rumah tangga untuk mengerjakan itu semua. Kalau belum mampu atau tidak ada orang yang bisa dipekerjakan, tentunya hanya untuk sebagian pekerjaan rumah saja dia meminta bantuan istrinya untuk mengerjakannya. Itu pun mungkin yang paling ringan. Sebagian lagi, yang lebih berat, akan dia kerjakan sendiri. Karena dia tidak memiliki banyak waktu dan tenaga lagi jika harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga tersebut.

Dan bagaimana dengan kita sebagai seorang istri, Moms? Jika kita ingin menjadi istri yang selalu bahagia, tentunya kita ikuti apa yang Allah mau. Dalam kondisi seperti itu apa sih yang Allah mau? Tentu saja kita dengan tulus dan senang hati mau membantu suami mengerjakan pekerjaan rumah tangga tersebut. Kenapa? Karena sudah jelas seorang istri itu butuh taat kepada suami. Itu adalah aturan Allah. Dan Allah memberikan aturan tersebut sudah pasti untuk kebaikan kita, yaitu agar kita selalu bahagia, baik dalam kehidupan di dunia ini maupun di akhirat nanti.

Dan jikapun suami tidak meminta tolong untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga tersebut; sebagai seorang yang ingin selalu bahagia tentunya kita ingin selalu melakukan kebaikan. Hal-hal yang baik menurut Allah. Kalau kepada orang lain saja kita mau membantu, karena menurut Allah membantu itu adalah hal baik; masa sama suami sendiri yang sudah susah payah menafkahi, tidak mau membantu?

Jadi, sebenarnya kewajiban siapapun pekerjaan rumah tangga itu tidak menjadi masalah ketika kita menyadari bahwa apapun yang kita lakukan itu karena ingin semakin taat kepada Allah. Dan kita ingin semakin taat agar kita bisa selalu bahagia.

Gimana? Setuju kan, Moms?

#empoweredmoms
#akukanbukanpembantu
#pekerjaanrumahtangga
#kewajibansiapa?
#niatmembantu
#karenaAllah
#kemampuanhati
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#inspiringwriting
#inginmenjadibaik

PASRAH

Pada saat kita dihadapkan pada peristiwa -peristiwa ketidaknyamanan berturut-turut, apa yang Moms rasakan dan lakukan? Merasa sedih, kecewa, atau marah? Berkeluh kesah, sering menangis, atau bertanya-tanya “kenapa aku?” dan “apa salahku?”

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan teman lama, sebut saja Violet, yang sudah lama tak bertemu. Pada saat berteman dulu kami cukup dekat. Saat saya bertemu dengannya beberapa waktu lalu itu, Violet terlihat sedikit kuyu dan kurang bersemangat. Padahal setahu saya, dia orangnya cukup ramah dan agak ribut jika bertemu teman yang cukup dekat.

Walaupun ada rasa sungkan karena saya merasa dia agak menjaga jarak, tapi akhirnya saya gak tahan untuk bertanya kenapa dia terlihat kurang bersemangat. Violet terdiam cukup lama, membuat saya merasa tak enak hati telah bertanya seperti itu. Tapi untungnya dia akhirnya mau menjawab pertanyaan saya, bahkan kemudian bercerita panjang lebar.

Violet ditinggal pergi oleh beberapa orang terdekatnya dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Ternyata setahun lalu dia ditinggalkan oleh suaminya yang meninggal karena sakit. Terbayang dong, Moms, ditinggalkan oleh suami yang notabene adalah orang paling dekat dengannya saat itu. Orang yang biasanya selalu ada untuk menjadi sandaran hidupnya dan tempat berbagi suka dan duka, sehingga Violet mengatakan “separuh nafas saya sudah hilang saat itu”.

Tidak hanya itu, enam bulan sebelum suaminya meninggal, kakak perempuan satu-satunya pun meninggal dunia karena sakit. Violet sangat dekat dengan kakak perempuannya tersebut karena menjadi pengganti ibunya sejak ibunya meninggal di masa remajanya dulu. Tempatnya curhat berbagai hal, katanya.

Tahun ini, anak satu-satunya, perempuan, meninggalkannya untuk bersekolah dengan beasiswa ke luar negeri. Dan terakhir adalah, pembantu rumah tangganya, yang sudah 8 tahun menemaninya, berhenti bekerja karena ikut suaminya pindah ke pulau lain.

“Lengkap sudah, Teh. Bahkan Mbak Sus aja juga diambil dari saya,” katanya. Kesan mengeluh kuat sekali terdengar dari nada suaranya. Mbak Sus adalah pembantu rumah tangganya.

Saya hanya mengusap lembut lengannya dan membiarkan dia melanjutkan ceritanya.

“Sekarang saya cuma bisa pasrah. Apa lagi coba yang bisa saya lakukan. Semua sudah saya usahakan dengan membantu pengobatan Teteh dan suami semampu saya. Kalau anak, ya memang maunya sekolah di sana, alhamdulillah dapat beasiswa. Tidak ada alasan lagi bagi saya untuk menahannya. Apalagi Mbak Sus, dia bukan siapa-siapa saya. Jadi ya pasrah aja.”

Moms, memang betul pasrah atau berserah diri itu adalah salah satu kemampuan hati. Jika kita memilikinya maka bahagia setiap saat bisa kita raih. Tapi pasrah yang bagaimana?

Ternyata adalah pasrah yang sudah hadir sejak awal kita melakukan ikhtiar bahkan dari saat kita berencana untuk melakukan ikhtiar tersebut. Pasrah bukan hadir di saat kita sudah putus asa karena tidak bisa lagi melakukan apa-apa.

Kenapa begitu ya, Moms?

Karena ketika di awal ikhtiar kita belum pasrah, maka kita akan merasa sering khawatir kalau-kalau ikhtiar yang kita lakukan gagal atau tidak mencapai hasil yang kita inginkan. Dan ketika hal itu terjadi, kita jadi kecewa, sedih, dan mungkin marah karena merasa sudah berikhtiar sungguh-sungguh tapi kok tetap tidak berhasil. Bahagia pun menghilang, tidak ada ketenangan dan ketenteraman sama sekali.

Sebaliknya, ketika kita sudah pasrah sejak awal, maka kita tidak akan merasa khawatir dengan hasilnya karena yakin Allah pasti akan memberikan hasil yang terbaik untuk kita. Dan walaupun kemudian hasilnya tidak sesuai seperti apa yang kita harapkan kita tetap menerimanya dengan ikhlas karena keyakinan kita tersebut. Kita tetap dalam keadaan selalu bahagia. Indah kan, Moms?

Itulah kenapa kita butuh hati yang mampu. Karena tanpa hati yang mampu kita tidak mungkin bisa merasakan kepasrahan sejak awal.

#selfreminder
#pasrah
#berserahdiri
#kemampuanhati
#empoweredmoms
#thejourneyofempoweredmoms2
#enlightenedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#100dayswritingchallenge2
#day20

BE PRESENT, DARLING

Akhir-akhir ini saya mendengar beberapa kali suami berkomentar: “Bun, ayah perhatikan bunda sekarang ini sering kurang nyambung deh kalau kita sedang membicarakan sesuatu. Be present lah, Bun…”

Be present. Konsentrasi penuh, hadir di saat sesuatu sedang berlangsung. Pada saat suami sedang membicarakan pencarian tempat untuk pelatihan Kandela Institute, lembaga pelatihan kami, misalnya, di tengah-tengah pembicaraan saya berkomentar yang tidak sesuai dengan topik pembicaraan saat itu; maka saat itu saya sedang tidak be present. Itu mungkin terjadi karena pikiran dan hati saya sedang tidak berada di topik tersebut melainkan memikirkan hal lain.

Atau, ketika kita sedang makan, misalnya Moms, pikiran dan hati kita fokus kepada aktivitas makan tersebut dengan menikmati setiap suapan dan rasa dari makanan yang kita makan itu. Kalau pada saat kita makan tersebut kita masih melirik dan membaca sesekali gadget kita atau sambil meneruskan membaca buku atau bahkan memikirkan anak kita yang sedang ujian misalnya, maka pada saat itu kita sedang tidak be present.

Memang ga boleh ya mengingat hal lain selain aktivitas makan pada saat kita makan? Ga boleh ya melihat sejenak kepada gadget kita kalau-kalau ada yang penting?

Tentu saja boleh, Moms. Mengingat sesaat sesuatu di luar aktivitas yang sedang kita lakukan, tidak masalah. Asalkan tidak mendominasi pikiran dan hati kita sehingga aktivitas yang sedang kita lakukan menjadi kurang bermakna.

Lagipula tidak ada yang bisa memaksa kita untuk apapun yang kita kerjakan di dunia ini. Bahkan Allah sekalipun tidak pernah memaksa kita untuk mentaatinya. Hidup ini pilihan kok, Moms. Moms boleh memilih apa saja yang ingin Moms lakukan. Tapi ingat, apapun yang kita pilih pasti ada konsekuensinya yang bisa kita terima langsung di dunia pada saat ini atau nanti di akhirat kelak.

Sama juga ketika kita memilih untuk be present atau tidak. Jika kita memilih untuk be present pada saat makan misalnya, paling tidak kita jadi lebih sadar dengan makanan apa saja yang kita makan, sehat atau tidak, sebanyak apa kita makan. Jadi kita tidak sembarangan dalam memilih makanan yang kita makan dan juga bisa memperhitungkan banyaknya makanan yang masuk ke tubuh kita. InsyaAllah kita jadi bisa lebih sehat, kan Moms.

Dan yang terpenting kita jadi mampu mensyukuri bahwa kita masih diberi kesempatan untuk makan walaupun hanya dengan makan tahu dan tempe saja. Kita bersyukur karena masih bisa merasakan nikmatnya makan. Coba bayang mereka di luar sana yang untuk makan sehari sekali saja sulit karena tidak punya uang untuk membelinya. Atau bayangkan mereka yang sedang sakit, tentunya tidak bisa merasakan nikmatnya makanan yang mereka makan.

Betapa Allah telah memberikannikmat begitu besar kepada kita. Bagaimana tidak muncul rasa syukur kita. Allah tentu suka dengan hal ini. Dan kalau Allah sudah suka, Moms tahu kan apa yang kita dapatkan? Ya benar, tambahan bekal kita untuk di akhirat kelak.

Tapi kalau kita tidak be present pada saat kita makan, kemungkinan kita memperhatikan asupan makanan kita menjadi kecil. Kesehatan kita bisa terancam. Dan bagaimana mungkin kita bisa bersyukur jika pikiran dan hati kita tidak merasakan nikmatnya aktivitas makan kita. Bahkan mungkin berdoa sebelum makan saja kita lupa. Kita tidak mendapatkan tambahan bekal untuk di akhirat nanti. Rugi kan, Moms?

Ini baru pada saat kita makan. Bagaimana dengan aktivitas kita yang lain, Moms? Apakah kita sering be present atau tidak? Lihat saja apakah kita sering mensyukuri apapun yang sedang kita lakukan atau yang terjadi pada kita? Jika tidak, maka mungkin kita memang masih sering dalam keadaan tidak be present.

Dan tahukah, Moms, ternyata kita butuh kemampuan hati untuk bisa selalu be present. Karena kita harus bisa melawan ego kita untuk beralih dari aktivitas atau hal yang sedang kita sukai dan inginkan saat itu kepada aktivitas yang harus kita lakukan. Hanya hati yang mampu lah yang bisa melawan ego itu.

Jadi kita sudah tahu sekarang ya, Moms, untuk bisa selalu be present kita butuh memampukan hati kita.

#selfreminder
#empoweredmoms
#bepresent
#pikirandanhati
#konsentrasi
#bermakna
#bersyukur
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#inginmenjadibaik
#100dayswritingchallenge2
#day13

HIDUP DI DUNIA INI AMAT SANGAT SEBENTAR SAJA

Tiba-tiba saja saya jadi baper banget, Moms, waktu chat WA sama Mom keren pebisnis baju renang muslim sporte.id ini

Mbak Helfa Afrianti (ME): “Assalamu’alaikum, Teh… Apa kabar?”

Saya: “Wa’alaikumsalam, alhamdulillah. Mbak Efa apa kabar? Masih jalan-jalan atau sudah kembali ke Jakarta?”

ME: “Alhamdulillah baik, Teh… Udah di Jakarta, Teh. Kemarin sempat ke Padang, hampir 3 minggu di sana. Teh Leni masih di Jakarta?”

Saya: “Waaa, alhamdulillah asyikknyaaa… Saya udah otw bandung ini, Mbak. Mau ketemuan sama Yulia aja enggak sempet. InsyaAllah selasa depan ada rencana ke Jakarta lagi. Yuk meet up? Tapi di daerah Kuningan ya… hehe… Biasanya nginep di daerah itu.”

Yulia adalah sahabat kami. Seorang Mom pebisnis salon muslimah yang ga kalah kerennya. InsyaAllah dia akan hadir di tulisan saya yang lain nanti ya, Moms. Kalau saya dapat izin darinya ya, Moms.

ME: “Yaahh… Enggak ke BSD lagikah? Bentar aja di Jakartanya ya, Teh..?”

Saya: “Kan udah lulus yg di BSDnya, Mbak. Kemarin saya di Jakarta dari Rabu. Iya sih biasanya enggak lama di Jkt, 2-3 hari aja tergantung keperluannya.”

ME: “Wah Kaka udah lulus aja ya? Bener-bener enggak berasa ya. Perasaan baru kemaren ketemu masih di SMP.”

Saya: “Bener banget, Mbak. Betapa hidup di dunia ini amat sangat sebentar ya, Mbak. Self reminder: sudah berapa banyak bekal yg saya punya untuk kehidupan selanjutnya kelak?”

Saya mengakhiri kalimat terakhir di atas dengan emoticon menangis berderai air mata. Emoticon itu bukan sekadar emoticon, Moms, karena entah kenapa air mata ini tak bisa dibendung turun mengingat apa yang saya tuliskan.

Astaghfirullah… Waktu terus berjalan dengan cepat dan saya tidak ingin merugi. Masih banyak hal yang harus dipelajari oleh hati ini. Masih perlu banyak merenung dan merasa-rasakan untuk memenuhi kebutuhan perbekalan di kehidupan selanjutnya nanti.

Kenapa begitu? Karena kadang masih ada rasa kesal sedikit mengintip di hati ketika suami menegur atau bedinde berulah misalnya. Kadang masih ada rasa kecewa sedikit lewat di hati ketika apa yang saya mau tak tercapai. Walaupun hanya sebentar saja, tapi berarti hati saya belum sepenuhnya mampu untuk mempertahankan kebahagiaan pada pukulan pertama ketika ketidaknyamanan itu datang.

Semoga saja melalui menulis ini semakin banyak dan dalam kebenaran-kebenaran Al Quran tertanam di hati ini. Aamiin.

Terima kasih Moms semua sudah mau membaca dan menemani saya berproses. Terima kasih Mbak Efa untuk chattingnya yang mencerahkan.

***

ME: “Yaa Allah, Teh… dan itu tidak bisa diulang ya. Dan banyak banget ternyata waktu terbuang sia-sia.”

Saya: “Betul sekali, Mbak, jadi kita harus segera bikin hati ini semakin mampu untuk selalu taat kepada-Nya.”

#selfreminder
#empoweredmoms
#hidupdiduniahanyasebentar
#bekalhidupselanjutnya
#kemampuanhati
#merenung
#kebenaranAlQuran
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#inginmenjadibaik
#100dayswritingchallenge2
#day15