KENALI DIRI 5

Ketika sudah mengetahui hasil dari The Wheel of Work Life Balance, kita perlu melakukan satu langkah lagi sebelum mencari tahu dan menerapkan bagaimana cara memupuk perasaan-perasaan positif dan meminimalkan perasaan-perasaan negatif. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui kapan perasaan-perasaan itu muncul dan kenapa perasaan itu yang kita rasakan pada saat itu .

Caranya dengan membuat tabel yang terdiri dari 3 kolom dan 15 baris. Kolom pertama dengan judul “Perasaan-perasaan” untuk 7 perasaan positif dan 7 perasaan negatif dituliskan per barisnya ke bawah. Kolom kedua diberi judul “Peristiwa” dan kolom ketiga diberi judul “Alasan”.

Di setiap baris dalam kolom “Peristiwa” diisi oleh peristiwa-peristiwa apa saja yang membuat kita merasa ke 14 perasaan itu. Isilah masing-masing kotak sebanyak yang diingat. Kemudian di setiap baris dalam kolom “Alasan” diisi oleh apa yang menyebabkan perasaan-perasaan itu ada di setiap peristiwa yang kita alami.

Contohnya untuk kotak pertemuan antara “Kekhawatiran” dengan “Peristiwa” diisi dengan kapan sih kita merasakan kekhawatiran pada saat bekerja, berkarya, dan berbisnis itu? Misalnya (1) ketika sedang melakukan suatu program atau proyek dengan tim, (2) ketika menyerahkan laporan hasil kerja kepada atasan, (3) ketika keberhasilan diperoleh, dsb.

Kemudian di kotak sebelah kanannya diisi dengan kenapa kekhawatiran itu kita rasakan. Misalnya (1) khawatir proyek atau programnya gagal karena kemampuan tim yang kurang memadai, (2) khawatir atasan kecewa, kesal, atau marah karena laporan hasil kerja tidak sesuai harapannya, (3) khawatir keberhasilan tersebut “direbut” oleh pihak lain di masa mendatang, dsb.

Atau untuk kotak pertemuan antara “Kekecewaan” dengan “Peristiwa” diisi dengan misalnya (1) ketika partner tidak menepati janji, (2) ketika penjualan tidak mencapai target, (3) ketika pelanggan melayangkan komplain, dsb. Dan di kotak sebelah kanannya diisi dengan (1) berharap partner selalu menepati janji, (2) berharap penjualan selalu mencapai target, (3) berharap pelanggan selalu puas dengan produk dan layanan kita, dsb.

Dengan mengisi semua kotak-kotak yang masih kosong di tabel yang saya sebut sebagai Tabel Perasaan, Peristiwa, dan Alasan itu, akan memudahkan kita untuk mengetahui dan menerapkan bagaimana cara memupuk perasaan-perasaan positif dan meminimalkan perasaan-perasaan negatif di diri kita. Seperti apa cara memupuknya? Dan bagaimana menerapkannya? Yuk, kita sama-sama cari tahu besok pagi, insyaAllah …

#sarapankata
#day23
#kmoindonesia
#kmobatch12
#kenalidiri
#tabelperasaanperistiwadanalasan
#wheelofworklifebalance
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day51

KENALI DIRI (4)

Sesuai janji kemarin, tulisan saya hari ini akan membahas tentang apakah perlu berganti bidang karir, pekerjaan, atau bisnis ketika diketahui karier atau pekerjaan kita ternyata tidak cocok dengan profil keseharian kita? Bagusnya memang berganti, namun kadang kita tidak bisa begitu saja meninggalkan karier, pekerjaan, atau bidang bisnis kita dan mencari yang baru. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan apalagi jika kita sudah berkeluarga atau menjadi tulang punggung keluarga.

Karena itu mari kita coba cara yang keempat untuk mengenali diri.

Saya menyebut cara ini sebagai The Wheel of (Work) Life Balance. Kenapa kata “work” ditempatkan di dalam tanda kurung? Karena sebetulnya cara ini tidak hanya bisa digunakan ketika kita berurusan dengan pekerjaan atau bisnis kita, melainkan juga bisa dipergunakan untuk semua hal dalam kehidupan kita.

Cara ini merupakan adaptasi dari cara yang dikemukakan oleh Seph Fontane Pennock dan Hugo Alberts dalam artikelnya yang berjudul “The Wheel of Life”. Di artikelnya itu mereka menawarkan cara bagaimana seseorang bisa mengetahui kepuasan atau ketidakpuasan dalam beberapa hal penting di hidupnya. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan rasa kepuasan hidup orang tersebut.

The Wheel of (Work) Life Balance merupakan lingkaran yang terbagi ke dalam 14 bagian. 7 bagian di kiri lingkaran adalah perasaan-perasaan negatif yang bisa kita rasakan pada saat bekerja, berkarya, dan berbisnis. Sementara 7 bagian di kanan lingkaran adalah perasaan-perasaan positifnya.

Positif di sini artinya bahwa semakin sering kita merasakan perasaan-perasaan ini, maka semakin tenang dan tenteram hati kita atau semakin bahagia. Negatif artinya bahwa semakin sering kita merasakannya, maka semakin sering ketidakbahagiaan akan kita rasakan.

7 bagian di kiri lingkaran adalah:
1. Kekhawatiran
2. Kegelisahan
3. Kekecewaan
4. Kesedihan
5. Ketidakperdulian
6. Kemarahan
7. Keputusasaan

7 bagian di kanan lingkaran adalah:
1. Kesabaran
2. Keikhlasan
3. Kepasrahan/keberserahdirian
4. Keperdulian
5. Kepuasan
6. Keyakinan
7. Ketenangan

Angka 1 sampai dengan 10 yang ada di setiap bagian merupakan hasil penilaian diri seberapa sering perasaan-perasaan itu dirasakan pada saat bekerja, berkarya, dan berbisnis. 1 artinya tidak pernah merasakan dan 10 artinya selalu merasakan hal tersebut.

Caranya sangat mudah, kita tinggal melakukan penilaian seberapa sering perasaan-perasaan di setiap bagian dirasakan pada saat bekerja, berkarya, atau berbisnis. Kemudian tandai angka di bagian tersebut sesuai hasil penilaian itu.

Hasilnya akan memperlihatkan perasaan-perasaan apa saja yang dominan dirasakan pada saat kita bekerja, berkarya, atau berbisnis. Biasanya jika bagian kanan hasil penilaiannya tinggi maka bagian kiri rendah, dan sebaliknya. Dari hasil itu kita akan tahu perasaan-perasaan mana saja yang perlu dimunculkan dan perasaan-perasaan mana saja yang perlu dihilangkan.

Nah, setelah kita mengetahui perasaan-perasaan mana saja yang perlu kita pupuk dan perasaan-perasaan mana saja yang perlu kita hilangkan, maka sekarang tinggal mencari tahu dan menerapkan bagaimana cara memupuk dan menghilangkannya. Mau tahu?

Cek postingan saya besok ya, insyaAllah …

#sarapankata
#day22
#kmoindonesia
#kmobatch12
#kenalidiri
#teskepribadian
#wheelofworklifebalance
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day50

KENALI DIRI (3)

Kalau kita merasa belum juga mengenali diri karena belum yakin dengan hasil dari dua cara pertama, maka ada cara ketiga. Cara ketiga ini memang terasa lebih meyakinkan karena kita nanti didampingi oleh seseorang atau beberapa orang yang ahli di bidangnya. Yaitu tes kepribadian berbayar dimana kita harus bertemu langsung dengan ahli yang menyelenggarakannya untuk melakukan (berbagai) aktivitas sebagai bentuk tesnya.

Tidak sedikit penyelenggara yang menawarkan tes kepribadian berbayar ini. Mahal? Tergantung test apa yang kita pilih. Semakin rumit dan banyak melibatkan ahli di dalamnya maka semakin mahal harganya. Boleh juga kita cari yang nyaman di kantong. Salah satu yang pernah saya ikuti adalah Tes Stifin.

Menurut Farid Poniman dalam buku yang berjudul “Stifin Personality: Mengenali Mesin Kecerdasan Anda”, Tes Stifin adalah tes yang dilakukan dengan cara men-scan kesepuluh ujung jari. Tujuannya adalah untuk mengenali jati diri seperti apa sih kita ini. Hal-hal apa saja yang kita yakini, kemampuan apa yang kita miliki, pekerjaan apa yang cocok untuk kita, dan yang terpenting dalam kondisi apa kira merasa nyaman.

Kenapa menggunakan sidik jari? Sidik jari kita ternyata mampu memberikan informasi tentang komposisi susunan syaraf sehingga bisa diketahui ciri-ciri dominan yang kita miliki. Dari ciri-ciri dominan inilah bisa membuat kita mengetahui jati diri atau kepribadian kita.

Ada 5 tipe kepribadian dari Tes Stifin ini yaitu Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, dan Insting. Ke 5 tipe kepribadian ini memiliki chemistry atau ketertarikan yang berbeda yaitu Sensing kepada “harta”, Thinking kepada “tahta”, Intuiting kepada “kata”, Feeling kepada “cinta”, dan Insting kepada “bahagia”.

Karakter atau profil keseharian masing-masing tipe kepribadianpun berbeda. Jika ingin mengetahui secara rinci silakan dibaca saja bukunya. Saya akan memberikan contoh salah satunya saja yaitu tipe Feeling.

Profil keseharian tipe Feeling adalah sebagai berikut:
1. Lebih menggunakan perasaan.
2. Ingin menyenangkan orang lain.
3. Mencari keharmonisan.
4. Ingin selalu mempimpin.
5. Pertimbangannya berdasarkan kasih sayang.
6. Menghargai perasaan orang lain.
7. Mengambil keputusan dengan mempertimbangkan akibatnya terhadap orang lain.
8. Hangat dan ramah kepada orang lain.
9. Pandai berempati.
10. Bekerjasama di komunitas sosial yang baik.
11. Menghindari argumen, konflik dan konfrontasi.
12. Perasaan mereka mudah sakit dan dendam.
13. Memulai dengan pembicaraan kecil.
14. Bertanya jika memungkinkan.
15. Mampu menunjukkan kekaguman dan emosional.
16. Kurang memiliki ketegasan menuntut hak.
17. Menggunakan banyak kata-kata berharga.
18. Sering menggunakan nama orang lain.
19. Lebih seperti sikap wanita (peluangnya 65%).

Karir atau pekerjaan yang cocok bagi tipe Feeling adalah: politisi, trainer/inspirator, motivator, psikolog, psikiater, counselor, ideolog, negarawan, personalia, lawyer, budayawan, diplomat, humas, salesman, seniman, dll.

Kemudian masing-masing tipe kepribadian bisa dibagi menjadi 2 tipe berdasarkan hal apa yang mendorong dia untuk melakukan sesuatu, kecuali untuk tipe Insting. Jika dorongan itu datangnya dari dalam dirinya maka dia bertipe Introvert, tetapi jika dorongan itu datangnya dari luar dirinya maka dia bertipe Ekstrovert. Sehingga jika kita mengikuti Test Stifin ini di belakang tipe hasil test itu disematkan huruf I (untuk introvert) atau E (untuk ekstrovert).

Nah, dari profil keseharian dan karier atau pekerjaan yang cocok, barangkali bisa menjadi pertimbangan kenapa kok selama ini kita sering merasa kecewa, gelisah, khawatir, kesal, dan marah pada saat bekerja atau berbisnis.

Jadi artinya kita perlu berganti pekerjaan ya?

Tunggu dulu. Siapa tahu bukan hal itu yang menjadi masalah melainkan hal lain lagi. Kita bahas tentang itu besok ya. InsyaAllah …

Btw, ada yang tahu kenapa tipe Feeling yang dijadikan contoh di tulisan ini?

#sarapankata
#day21
#kmoindonesia
#kmobatch12
#kenalidiri
#teskepribadian
#stifin
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day49

KENALI DIRI (2)

Cara kedua untuk mengenali diri adalah dengan mengikuti tes kepribadian yang banyak ditawarkan. Wah, kan mahal biayanya?

Tenang, ada kok yang murah. Hanya membutuhkan sedikit paket data untuk menggunakan internet setengah sampai satu jam. Waktu yang dibutuhkan tergantung dari tes kepribadian mana yang dipilih dan berapa tes kepribadian yang kita ikuti.

Saya baru saja mencoba 2 tes kepribadian melalui internet. Kenapa 2 bukan 1 tes saja? Untuk memastikan bahwa karakter/ciri-ciri saya mendekati kenyataan. Kalau hasil kedua tes mirip artinya ciri-ciri di hasil tersebut mendekati ciri-ciri yang saya miliki dalam kenyataan. Tetapi jika berbeda berarti ada yang salah, entah tesnya yang kurang akurat atau saya yang mengerjakannya kurang serius.

Tes pertama yang saya pilih adalah Tes Kepribadian DISC yang ditawarkan oleh website http://ekrut.com/tests/disc. Tes ini bertujuan untuk mengetahui kepribadian DISC dengan mudah yaitu mencari tahu bagaimana faktor DISC (Dominance, Influence, Steadiness dan Compliance) mempengaruhi perilaku kita terhadap sesama dan keseharian kita.

Saya diminta untuk mengerjakan 24 kelompok pernyataan. Satu kelompok terdiri dari 4 pernyataan. Dari 4 pernyataan tersebut saya diminta memilih 2 pernyataan, 1 yang paling mewakili dan 1 yang paling tidak mewakili diri saya.

Dan hasilnya adalah saya seorang convincer/persuader/promoter dengan ciri-ciri sebagai berikut: antusias, optimis, pandai berbicara; ceroboh, tidak konsisten dan tidak teratur, namun berusaha terlihat hebat dan menyenangkan orang lain; ingin mendapat pengakuan dan nama baik; takut kehilangan status sosial dan konflik.

Tes kedua adalah Tes Kepribadian Sanguin, Koleris, Melankolis, dan Plegmatis yang ditawarkan oleh website https://www.quibblo.com/quiz/gT2G–d/Tes-Kepribadian-Sanguin-Koleris-Melankolis-atau-Plegmatis.

Di tes kedua ini saya diminta mengerjakan 40 kelompok pernyataan dimana 20 pernyataan tentang kelemahan dan 20 sisanya tentang kekuatan saya. Dan hasilnya adalah sanguinis atau influencer.

Ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
1. Kekuatan:
a. Suka bicara
b . Secara fisik memegang pendengar, emosional dan demonstratif
c. Antusias dan ekspresif
d. Ceria dan penuh rasa ingin tahu
e. Hidup di masa sekarang
f. Mudah berubah (banyak kegiatan / keinginan)
g. Berhati tulus dan kekanak-kanakan
h. Senang kumpul dan berkumpul (untuk bertemu dan bicara)
i. Umumnya hebat di permukaan
j. Mudah berteman dan menyukai orang lain
k. Senang dengan pujian dan ingin menjadi perhatian
l. Menyenangkan dan dicemburui orang lain
m. Mudah memaafkan (dan tidak menyimpan dendam)
n. Mengambil inisiatif/ menghindar dari hal-hal atau keadaan yang membosankan
o. Menyukai hal-hal yang spontan

2. Kelemahan:
a. Suara dan tertawa yang keras (terlalu keras)
b. Membesar-besarkan suatu hal / kejadian
c. Susah untuk diam
d. Mudah ikut-ikutan atau dikendalikan oleh keadaan atau orang lain (suka nge-Gank)
e. Sering minta persetujuan, termasuk hal-hal yang sepele
f. RKP! (Rentang Konsentrasi Pendek)
g. Dalam bekerja lebih suka bicara dan melupakan kewajiban (awalnya saja antusias)
h. Mudah berubah-ubah
i. Susah datang tepat waktu jam kantor
j. Prioritas kegiatan kacau
k. Mendominasi percakapan, suka menyela dan susah mendengarkan dengan tuntas
l. Sering mengambil permasalahan orang lain, menjadi seolah-olah masalahnya
m. Egoistis
n. Sering berdalih dan mengulangi cerita-cerita yg sama
o. Konsentrasi ke “How to spend money” daripada “How to earn/save money”.

Ternyata mirip ya hasil kedua tes tersebut? 😄

Perlu disadari, tes tersebut hanyalah buatan manusia, keakuratannya tidak sempurna. Tetapi cukup membantu kita mengenali seperti apa sih diri kita ini. Sehingga kita bisa berfokus kepada meningkatkan kekuatan dan mengatasi kekurangan yang kita miliki.

#sarapankata
#day20
#kmoindonesia
#kmobatch12
#kenalidiri
#teskepribadian
#karakterdiri
#ciridiri
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day48

KENALI DIRI

Ketika kita ingin berhasil di suatu bidang apakah itu dalam bekerja maupun berbisnis, kita perlu mengenali diri sendiri. Dan ingat keberhasilan yang dimaksud tentunya tidak melulu dari pencapaikan berupa kenaikan pendapat atau omset, kenaikan jabatan atau peringkat bisnis, dan semakin populernya diri serta bisnis kita. Melainkan juga keberhasilan dalam membuat hidup ini lebih berkualitas secara jiwa dan raga.

Mengenali diri adalah mengetahui dan menyadari kelebihan dan kekurangan diri kita. Sehingga ketika kita sudah kenal akan diri kita, kita bisa mencari solusi apa yang membuat keberhasilan yang kita inginkan ini masih belum juga tercapai.

Ada beberapa cara untuk mengenali diri. Cara pertama ini menurut saya adalah cara yang paling mudah. Caranya dengan mencari nilai-nilai apa saja yang hadir pada saat kita mengalami keberhasilan tertinggi kita di masa lalu. Dan mencari nilai-nilai apa saja yang tidak ada pada saat kita mengalami keterpurukan terendah di masa lalu. Batasi masing-masing 3 nilai saja.

Nilai-nilai di sini maksudnya adalah sikap, perasaan, keyakinan yang kita miliki, seperti antusias, jujur, sabar, rajin, ikhlas, mau belajar, berserah diri, berani, penuh perhitungan, inovatif, dan sebagainya. Contoh untuk nilai-nilai yang hadir ketika keberhasilan datang adalah ketika saya mampu menyelesaikan 2 naskah buku solo dalam jangka waktu 2 bulan, saat itu saya sedang MEMEGANG (memiliki) 3 nilai utama yaitu antusias, mau belajar, dan sabar.

Sementara ketika saya mengalami sakit pencernaan yang parah untuk pertama kalinya dan berlangsung lama atau sulit sembuh, saat itu saya sedang TIDAK memegang 3 nilai utama yaitu penuh perhitungan, mau belajar, dan ikhlas. Ini adalah contoh dari nilai-nilai yang tidak ada pada saat saya mengalami
keterpurukan.

Dari dua pencarian itu saya menemukan 5 nilai yang jika saya pegang maka keberhasilan bisa saya raih. Ke 6 nilai itu adalah antusias, mau belajar, sabar, penuh perhitungan, dan ikhlas. Sehingga kemudian setiap saya berikhtiar untuk mencapai suatu keinginan, saya akan memegang ke 5 nilai ini agar kesempatan untuk mencapai kebehasilan semakin tinggi.

Apakah hal ini bisa memastikan saya berhasil mencapai berbagai keinginan saya? Tidak
juga. Masih ada beberapa cara lagi yang bisa kita lakukan yang membantu kita mendapatkan kesempatan untuk meraih keberhasilan. Selain perlu disadari tentu saja adanya ketentuan Allah juga yang ikut bermain di sini.

Tapi silakan coba dulu cara pertama ini sebelum kita berlanjut ke cara lainnya.

#sarapankata
#day19
#kmoindonesia
#kmobatch12
#kenalidiri
#nilai
#values
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day47

TUJUAN HIDUP

Pernahkah kita merasa heran ketika melihat atau mendengar seseorang merespon berbeda dengan kita pada saat mengalami peristiwa yang sama? Misalnya ketika atasan kita di tempat kerja kesal dan menegur dengan keras karena kesalahan yang kita lakukan; kita bisa tetap tenang dan menerimanya. Tetapi ada orang lain yang mengalami hal sama merasa sakit hati dan marah karenanya.

Atau partner bisnis kita sering ingkar janji, kita bisa tetap tenang menghadapinya. Tetapi ada orang lain pada saat mengalami hal yang sama merasa kesal sehingga kemudian memutuskan tali silaturahmi dengan partnernya itu.

Kok bisa ya? Apa yang menyebabkan perbedaan respon tersebut?

Respon adalah cara kita menyikapi sesuatu. Sikap dan perilaku kita ternyata ditentukan oleh apa yang ada di hati kita. Jika hati kita dipenuhi kebaikan-kebaikan maka sikap dan perilaku kita juga penuh kebaikan. Tetapi sebaliknya, jika hati kita dipenuhi hal-hal yang buruk maka sikap dan perilaku kita juga penuh keburukan.

Begitulah potensi hati. Sangat dahsyat sehingga selalu mempengaruhi sikap dan perilaku kita. Karenanya kita tidak boleh sembarangan memasukkan semua hal ke dalam hati kita. Pilihlah hanya hal-hal kebaikan saja. Agar kita hanya bersikap dan berperilaku baik selama hidup kita yang tidak lama ini.

Lantas bagaimana caranya agar kita bisa memilih hal-hal baik saja yang masuk ke dalam hati kita? Caranya adalah dengan menentukan apa tujuan hidup kita.

Jika tujuan hidup kita untuk kebaikan tidak hanya diri kita sendiri tetapi juga orang lain maka hal-hal baiklah yang akan masuk ke dalam hati kita. Kita tidak mau mencoba memasukkan hal-hal buruk karena sadar bahwa itu akan membuat tujuan hidup kita tidak tercapai. Sementara jika tujuan hidup kita hanya untuk memuaskan ego diri sendiri tanpa mempedulikan hal lain, maka akan banyak hal-hal buruk yang masuk ke dalam hati kita.

Apakah cukup sampai di sini saja agar hati kita penuh kebaikan?

Ternyata belumlah cukup. Jika kita tidak yakin dengan tujuan hidup kita yang penuh kebaikan, maka kita tetap tidak mampu mencegah masuknya hal-hal buruk ke dalam hati kita. Kenapa demikian?

Kita yakin akan sesuatu hal artinya sesuatu itu sudah masuk dan tertanam di
hati kita. Dengan masuk dan tertanamnya sesuatu itu di hati kita, maka otomatis sesuatu itu akan mempengaruhi sikap dan perilaku kita. Misalnya ketika kita bersabar pada saat mendapatkan kendala di tempat kerja, hal itu terjadi karena kita yakin dengan bersabar kendala itu bisa lebih mudah teratasi. Selain itu dengan bersabar kemungkinan kita menyakiti orang lain jadi kecil dan kita tidak ingin menyakiti orang lain, karena kita yakin semakin jarang kita menyakiti orang lain maka akan semakin jarang orang lain itu menyakiti kita.

Jadi kita perlu untuk yakin akan tujuan hidup kita. Begitu kita yakin dengan tujuan hidup kita, artinya kita sangat menginginkan tujuan hidup kita itu tercapai, maka sikap dan perilaku kita akan selalu mendukung kepada tujuan hidup kita itu.

Pertanyaannya, sudahkah kita punya tujuan hidup? Dan apakah tujuan hidup kita itu penuh kebaikan? Sudah yakinkah kita dengan tujuan hidup kita itu?

#sarapankata
#day18
#kmoindonesia
#kmobatch12
#tujuanhidup
#kebaikan
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day46

B E R S Y U K U R

Ketika kita sudah menyadari bahwa hidup di dunia ini hanya sebentar, apa yang ingin kita lakukan? Apakah memanfaatkan waktu sebaik-baiknya? Kalau saya iya.

Namun memanfaatkan waktu sebaik-baiknya yang seperti apa? Jawabannya tergantung dari keyakinan yang dimiliki oleh masing-masing orang. Jika kita yakin akan adanya kehidupan akhirat yang kekal, maka waktu akan kita manfaatkan secara seimbang tidak melulu untuk kebaikan dunia melainkan juga untuk kebaikan akhirat kita.

Sebaliknya jika kita tidak memiliki keyakinan akan keberadaan akhirat, maka waktu hanya akan kita habiskan untuk meraih kebaikan dunia saja. Padahal belum tentu kita mendapatkan kebaikan di dunia jika kebaikan diartikan hidup yang berkualitas atau bahagia.

Bagaimana dengan para pekerja dan pebisnis yang sebagian waktunya dihabiskan untuk bekerja dan berbisnis? Sementara aktivitas dalam bekerja dan berbisnis sering dimaknai hanya untuk urusan dunia.

Itu karena kita tidak menyadari bahwa sesungguhnya dalam berbagai aktivitas bekerja dan berbisnis, kita tetap dihampiri oleh urusan akhirat kita. Dan itu sudah ada dimulai dari niat kita bekerja dan berbisnis itu. Akan berbeda hasilnya jika bekerja dan berbisnis hanya diniatkan untuk meraih harta, jabatan, dan popularitas semata dengan diniatkan karena Allah.

Selain itu pada saat beraktivitaspun urusan akhirat mendatangi kita. Ketika kita berhadapan dengan berbagai kendala atau kesulitan, di sanalah urusan akhirat berada. Jika kita mampu menghadapinya dengan bersabar, ikhlas, dan berserahdiri; maka kebaikan akhirat akan kita dapatkan. Sementara jika kita menghadapinya dengan mengeluh, kecewa, kesal, dan marah; maka kebaikan akhirat tidak akan kita dapatkan.

Bahkan ternyata ketika kita memilih untuk berniat dan menghadapi berbagai kendala itu tanpa keinginan mendapatkan kebaikan akhirat, biasanya kebaikan di duniapun tidak kita dapatkan. Jika kebaikan di dunia diartikan sebagai hidup yang berkualitas atau bahagia.

Lantas apa yang bisa kita lakukan agar bisa seimbang mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat? Selalu gunakan hati untuk kebaikan dalam setiap aktivitas kita. Sulit?

Ada satu cara sederhana yang bisa membantu kita agar bisa selalu menggunakan hati untuk kebaikan. Yaitu dengan bersyukur. Seberapa seringkah kita bersyukur setiap hari? Jangan-jangan sangat jarang. Kenapa ya? Biasanya karena kita jarang merasa beruntung. Jarang merasakan kebaikan-kebaikan dari Allah. Padahal Allah memberikan kenikmatan dan anugerah-Nya kepada kita setiap saat. Tidak percaya?

Yuk, coba kita renungkan bersama. Apakah yang kita hirup setiap kali bernafas? Ya, betul oksigen. Darimana kita mendapatkannya? Dari udara di sekitar kita secara GRATIS. Coba bayangkan jika saja Allah mengubah aturannya: “Mulai sekarang setiap makhluk hidup di dunia harus membayar sejumlah uang untuk mendapatkan oksigen”. Bagaimana nasib kita? Bisa hancur tentu saja. Bukan hanya kita yang kesulitan mendapatkan oksigen karena mahal harganya. Tetapi juga binatang dan tumbuhan kemungkinan tidak
bisa bertahan. Keseimbangan alam terganggu dan bisa menyebabkan kehancuran dunia.

Itu adalah hal yang kita anggap kecil sehingga kita tidak menyadarinya. Ketika kita sekarang sudah menyadarinya, semestinya kita bersyukur setiap saat.

Di awal tahun ini, saya membaca postingan ajakan seorang mentor menulis untuk membuat 17 jurnal syukur. Dan karena menurut saya sangat menarik bisa membantu saya semakin sering bersyukur, langsung sesaat setelah sang mentor memposting ajakan itu, sayapun membuatnya. Dan inilah 17 jurnal syukur saya:

1. Masih diberi kesempatan untuk beribadah.
2. Dipertemukan dengan Majelis Tafakur Mutiara Tauhid.
3. Dipertemukan dengan sahabat-sahabat jiwa.
4. Suami dan anak bersedia bergabung dengan Majelis di atas.
5. Semakin hari hati terasa semakin pintar dan dunia terasa semakin indah.
6. Dipertemukan dengan pola makan sehat.
7. Diberi kesehatan yang semakin baik.
8. Diberi kesempatan berhaji dengan hati (MasyaAllah …).
9. Kakak Sasha lulus S-1 dengan predikat cumlaude.
10. Disetujui resain dari kampus oleh suami dan atasan-atasan di kampus dan sekarang sedang diproses.
11. Dipertemukan dengan aktivitas menyenangkan (atau mungkin passion, semoga) baru yaitu menulis.
12. Dipertemukan dengan kelas-kelas online menulis yang sangat membantu.
13. Dipertemukan dengan mentor-mentor menulis yang keren.
14. Dipertemukan dengan sahabat-sahabat menulis yang baik.
15. Selesai 2 naskah buku solo dalam waktu 2 bulan, 1 sudah launching yang satu insyaAllah sebentar lagi.
16. Launching 2 buku dan selesai 1 naskah buku antologi bersama.
17. Terbentuknya Kandela Institute, membuat kebersamaan keluarga kecil kami semakin erat.

Bagaimana dengan jurnal syukur anda?

#sarapankata
#day17
#kmoindonesia
#kmobatch12
#bersyukur
#17jurnalsyukur
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day45

W A K T U

W A K T U

Ada satu perumpamaan yang bagi saya sangat mewakili seberapa banyak waktu yang diberikan untuk kita, manusia, di dunia ini. Jika seluruh waktu dalam kehidupan manusia diibaratkan sebagai berikut: pada saat kita melempar bola ke dinding, maka hidup di dunia itu sama dengan pada saat bola tersebut menyentuh dinding; maka terbayang begitu sebentarnya waku yang kita miliki di dunia ini.

Lantas, apa yang semestinya kita lakukan dengan waktu yang sebentar itu? Jawabannya akan mencerminkan bagaimana kita memaknai waktu tersebut.

Waktu di dunia ini tidak hanya sebentar, melainkan juga tidak bisa diputar ulang. Apa yang sudah terjadi tidak mungkin kita alami lagi. Kalaupun kita mengalami hal yang sama di kemudian hari, pasti akan ada perbedaannya. Paling tidak perbedaannya adalah ada di usia kita.

Bagaimanakah selama ini kita memanfaatkan waktu? Untuk
apa saja waktu kita habiskan? Bagi para pekerja dan pebisnis, mungkin sebagian besar waktu dihabiskannya untuk beraktivitas di tempat kerja dan bisnisnya. Atau di tempat lain tetapi tetap dalam rangka melakukan tugas dari perusahaan tempatnya bekerja dan berbisnis.

Apakah salah menghabiskan sebagian besar waktu untuk itu? Tentu tidak salah, karena setiap orang boleh memilih apapun aktivitasnya untuk menghabiskan waktunya. Namun, setiap orang pastinya ingin meraih kualitas hidup yang baik. Dan hidup yang berkualitas tidak hanya semata-mata rasa puas dan senang karena mendapatkan harta, jabatan, atau popularitas. Tetapi juga rasa tenang dan tenteram di hati. Selama kita masih merasakan kecewa, gelisah, khawatir, kesal, dan marah; maka kualitas hidup kita menjadi rendah.

Ingat perumpamaan di awal tulisan ini? Waktu di dunia yang diibaratkan oada saat bola menyentuh dinding, sangat terasa bedanya dengan saat bola berads di tangan kita setelah dia menyentuh dinding, jauh lebih lama. Itu mengibaratkan waktu kita setelah kehidupan di dunia ini, yaitu akhirat, yang bahkan lamanya tidak terbatas.

Yang perlu disadari ternyata waktu yang panjang dia akhirat kelak itu ditentukan oleh perilaku kita di dunia yang hanya sebentar saja. Jika kita melakukan hal-hal yang disukai Pencipta Kita, maka kita akan berbahagia di sana. Tetapi jika sebaliknya, kita akan mendapatkan kesengsaraan di sana. Mau pilih yang mana?

Kalau inginkan yang pertama, maka kita perlu memenuhi kebutuhan-kebutuhan jiwa kita. Karena untuk melakukan semua hal yang disukai Allah hanya bisa dilakukan jika jiwa terlibat di sana. Dan hanya jiwa yang sehat saja, yang terpenuhi kebutuhannya, yang mampu membuat kita melakukan itu semua.

Tapi apa memang ini masalah waktu? Ya, karena waktu hidup di dunia yang sebentar dan tak bisa diulang, membuat kita perlu dengan segera memenuhi kebutuhan jiwa kita. Waktu di dunia bagi saya sangatlah berharga.

Bagaimana menurut anda?

#sarapankata
#day16
#kmoindonesia
#kmobatch12
#waktu
#hidupdiduniahanyasebentar
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day43

KEHIDUPAN DUNIA

Saat ini kita sedang melalui salah satu tahap kehidupan manusia. Yaitu menjalani kehidupan di alam dunia. Di alam dunia ini kita berikhtiar untuk memenuhi kebutuhan hidup agar bisa menjalani kehidupan ini sebaik-baiknya.

Kita bekerja atau berkarya di tempat masing-masing. Apakah menjadi seorang karyawan, pebisnis, bahkan istri dan ibu rumah tangga. Saya percaya hampir tidak ada yang ingin hidupnya sengsara. Kita ingin hidup di dunia ini selalu bahagia.

Namun kenyataannya tidak begitu. Tidak sedikit orang yang sering mengalami kekecewaan, kegelisahan, kekhawatiran, kekesalan, dan kemarahan di sepanjang hidupnya. Apalagi jika kita berada di kota besar yang suasananya dipenuhi kesempatan berkarir dan fasilitas yang menggiurkan.

Kota besar itu menjadi magnet bagi banyak orang untuk datang mengadu nasibnya di sana. Maka berbondong-bondonglah mereka menjadi karyawan di berbagai perusahaan atau membangun bisnisnya di sana.

Kota itu tumbuh menjadi kota yang semakin padat dengan kompetisi yang semakin ketat dan kemacetan yang semakin parah. Sehingga tekanan pekerjaan bagi para karyawan dan pebisnis semakin tinggi. Mereka harus berangkat ke tempat bekerja atau berbisnis lebih pagi dan pulang lebih malam. Hal itu dilakukan agar bisa memenangkan kompetisi dalam dunia kerja dan bisnisnya serta menghindari jam-jam macet yang parah.

Ketika seseorang hanya memikirkan keinginan memenuhi kebutuhan hidup lahiriyahnya semata, maka semua yang dialaminya akan terasa berat dan membebani. Tekanan pekerjaan yang semakin kuat dan kemacetan yang semakin parah bisa membuat mereka merasakan stres berkepanjangan.

Semua itu disikapi oleh mereka dengan beragam cara. Ada yang memilih jalan pendek agar kebutuhan-kebutuhan lahiriyahnya segera terpenuhi. Jalan yang tidak semestinya mereka lakukan. Menyogok, korupsi, dan menjegal orang lain yang dianggap pesaingnya adalah beberapa cara yang biasanya mereka lakukan.

Ada juga yang berusaha tetap berada di jalan yang dibenarkan, tetapi perilakunya dalam berhubungan dengan orang lain menjadi buruk. Cepat marah atau tersinggung, sering tidak menepati janji, dan menyalahkan orang atau pihak lain adalah beberapa perilaku diantaranya.

Kedua cara itu bisa membuat mereka stres berkepanjangan dan menderita penyakit raga seperti sakit pencernaan dan tekanan darah tinggi. Jika tidak dicari penyebabnya, penyakit-penyakit itu tidak akan membaik malah bisa menjadi lebih parah dengan munculnya penyakit lain seperti jantung dan stroke.

“Saya sudah ikhtiar mengobati penyakit-penyakit itu kok dan gaya hidup juga sudah berubah. Pola makan dan pola tidur sudah diperbaiki. Olahraga sudah rutin dilakukan. Tapi kenapa masih kambuhan terus ya?”

Semua yang disebutkan hanyalah untuk mengobati raga. Bagaimana dengan jiwa atau hati kita? Karena kita sebagai manusia tidak hanya diciptakan dalam
bentuk raga saja melainkan juga jiwa. Jiwa diciptakan menemani raga tentu ada maksudnya, ada fungsinya bagi kita dalam menjalani kehidupan ini. Pantas saja kita sulit untuk bahagia karena ternyata ada satu bagian dari diri kita yang terlupakan, yaitu jiwa kita.

Jadi jika ingin bisa menjalani kehidupan dunia ini dengan bahagia, jangan lupakan jiwa kita. Penuhi juga kebutuhan-kebutuhannya.

#sarapankata
#day15
#kmoindonesia
#kmobatch12
#kehidupandunia
#kebutuhanjiwadanraga
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#oneweekonepost
#wifiregionbandung
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day42

B A H A G I A

Kita sudah sering mendengar atau membaca orang menyarankan,” hadirkan bahagia, ciptakan bahagia.” Atau kata-kata dalam Bahasa Inggris,” Don’t worry, be happy”, yang pernah merebak karena merupakan sya’ir lagu terkenal di masanya. Yang artinya kira-kira seperti ini: “Jangan khawatir, berbahagialah”.

Khawatir memang salah satu sifat atau keadaan yang membuat diri kita tidak bahagia. Karena bahagia sejatinya adalah keadaan tenang dan tenteram yang kita rasakan tanpa ada sedikitpun rasa kecewa, khawatir, gelisah, atau marah.

Pertanyaannya adalah bagaimana membuat agar kita bahagia? Terutama pada saat kita bekerja atau berkarya di tempat kerja atau bisnis kita. Tentu saja jawabannya adalah dengan mengetahui hal apa saja yang bisa membuat kita bahagia.

Sering saya mendengar atau membaca bahwa bahagia itu sederhana.

“Bahagia itu sederhana, ketika saya bisa melakukan me time di sela-sela kesibukan bekerja.”

“Bahagia itu sederhana saat saya bisa melihat bos tersenyum.”

“Bahagia itu sederhana, di saat saya mendapatkan bonus.”

“Bahagia itu sederhana, di hari kerja bisa menikmati makan siang tepat waktu dan tanpa gangguan.”

“Bahagia itu sederhana, di hari kerja masih bisa melihat matahari ketika sampai di rumah.”

Betulkah semua itu? Coba yuk kita rasa-rasakan. Kalau kemudian kita tidak bisa melakukan atau mendapatkan semua itu; berarti kita tidak bahagia. Atau memang yang diinginkan adalah bahagia sewaktu-waktu saja? Kadang kita merasa bahagia, kadang tidak?

Kalau saya sih inginnya selalu bahagia. Dan rasanya hampir semua orang menginginkan hal yang sama. Jadi penyebab kita bahagia bukanlah seperti hal-hal di atas. Kenapa ya?

Karena kita tidak bisa memastikan hal-hal di atas selalu kita dapatkan. Semua itu adalah hal-hal di luar diri kita yang tidak mampu kita kendalikan. Apa kita bisa selalu melakukan me time setiap kita inginkan? Apakah kita bisa selalu membuat bos tersenyum? Apakah kita bisa selalu memastikan mendapatkan bonus? Apakah kita bisa selalu makan siang tepat waktu dan tanpa gangguan? Apakah kita bisa selalu melihat matahari setiap pulang kerja? Ya betul, tidak bisa.

Sehingga semua itu tidak bisa membuat kita selalu bahagia. Lantas apa dong yang bisa?

Ternyata hanya diri kita sendirilah yang bisa membuat bahagia. Hanya hal-hal di dalam diri kita yang bisa mengantarkan diri kita untuk selalu bahagia. Karena bahagia adalah salah satu rasa yang bisa kita miliki, yang artinya sangat melibatkan hati; maka hanya hati kitalah yang bisa membuat kita bahagia. Hati yang bagaimana?

Hati yang sudah memiliki kemampuan untuk menghadapi kehidupan di dunia ini, termasuk kehidupan kita di dunia kerja atau bisnis. Kemampuan apa? Kemampuan seperti sabar, ikhlas, dan berserah diri. Jika hati sudah memiliki berbagai kemampuan itu maka apapun yang terjadi kepada kita, tidak akan membuat kita kecewa, khawatir, gelisah, atau marah. Melainkan kita akan selalu dalam keadaan tenang tenteram atau dengan kata lain kita selalu bahagia.

Begitu juga di saat kita bekerja, berkarya, ataupun berbisnis. Kita bisa me time atau tidak, tidak masalah, hati kita tetap tenang. Bos tersenyum, cemberut, atau marah; hati kita tetap tenteram. Kita mendapatkan bonus atau tidak, kita tidak kecewa. Makan siang kita telat dan penuh gangguan, kita tidak kesal. Setelah bekerja atau berbisnis kita sampai di rumah matahari masih terlihat atau tidak, kita tidak tidak gelisah. Kita jadi selalu bahagia.

Betapa nikmatnya!

#sarapankata
#day14
#kmoindonesia
#kmobatch12
#bahagia
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day41