PERCIKAN KEBAIKAN

Kadang-kadang kita merasa kurang baik, kurang pintar, atau kurang mampu dibandingkan orang lain dalam banyak hal. Dan hal itu membuat kita jadi sungkan untuk berbuat baik kepada orang lain. Minder kata lainnya. Kita jadi terdiam, tidak melakukan apa-apa.

Tapi tau tidak, tanpa kita sadari bahkan kebaikan kecilpun ternyata bisa berefek besar. Saya pernah menonton iklan (saya lupa iklan apa itu) yang menceritakan kebaikan berantai. Ketika seseorang, sebut saja A membantu orang lain dengan kebaikan kecil (memberikan makanan kalau ga salah, lupa juga saya), sebut saja B; B kemudian terdorong untuk membantu orang yang lain lagi, sebut saja C. Berhenti di situ? Ternyata tidak. C pun kemudian terdorong untuk membantu orang lain, sebut saja D; dan begitu seterusnya. Sehingga menyebarlah kebaikan ke banyak orang yang berasal dari 1 kebaikan kecil saja.

Itu kalau kita hanya memberikan kebaikan kepada satu orang. Bagaimana kalau kita memberikan kebaikan kepada lebih banyak orang? Tentunya kebaikan akan semakin menyebar ke banyak orang.

Itu jugalah yang sekarang sedang saya ikhtiarkan, berbagi kebaikan kepada orang lain. Mungkin hanya kebaikan kecil, tapi jika menyebar ke banyak orang, maka bukan hal mustahil menghasilkan hal yang besar.

Ikhtiar seperti apa? Tunggu tanggal mainnya, insyaAllah akan saya paparkan di sini proyek #percikankebaikan.

O iya, ini bukan ide saya sebetulnya. Melainkan saya diajak untuk melakukan ini oleh seseorang yang usianya jauh lebih muda dari saya. Saya terkesan dengan ide-ide kebaikannya. Jadi ketika dia mengeluarkan proyek #25persons25dreams, saya mengajukan diri untuk bergabung.

Tertarik untuk bergabung juga? Silakan cek di IG @rezky_passionwriter dan bergabunglah dalam #lingkarankebaikan.

#percikankebaikan
#kebaikanyangmenyebar
#lingkarankebaikan
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#kandelainstitute
#100dayswritingchallenge2
#day19

PASRAH

Pada saat kita dihadapkan pada peristiwa -peristiwa ketidaknyamanan berturut-turut, apa yang Moms rasakan dan lakukan? Merasa sedih, kecewa, atau marah? Berkeluh kesah, sering menangis, atau bertanya-tanya “kenapa aku?” dan “apa salahku?”

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan teman lama, sebut saja Violet, yang sudah lama tak bertemu. Pada saat berteman dulu kami cukup dekat. Saat saya bertemu dengannya beberapa waktu lalu itu, Violet terlihat sedikit kuyu dan kurang bersemangat. Padahal setahu saya, dia orangnya cukup ramah dan agak ribut jika bertemu teman yang cukup dekat.

Walaupun ada rasa sungkan karena saya merasa dia agak menjaga jarak, tapi akhirnya saya gak tahan untuk bertanya kenapa dia terlihat kurang bersemangat. Violet terdiam cukup lama, membuat saya merasa tak enak hati telah bertanya seperti itu. Tapi untungnya dia akhirnya mau menjawab pertanyaan saya, bahkan kemudian bercerita panjang lebar.

Violet ditinggal pergi oleh beberapa orang terdekatnya dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Ternyata setahun lalu dia ditinggalkan oleh suaminya yang meninggal karena sakit. Terbayang dong, Moms, ditinggalkan oleh suami yang notabene adalah orang paling dekat dengannya saat itu. Orang yang biasanya selalu ada untuk menjadi sandaran hidupnya dan tempat berbagi suka dan duka, sehingga Violet mengatakan “separuh nafas saya sudah hilang saat itu”.

Tidak hanya itu, enam bulan sebelum suaminya meninggal, kakak perempuan satu-satunya pun meninggal dunia karena sakit. Violet sangat dekat dengan kakak perempuannya tersebut karena menjadi pengganti ibunya sejak ibunya meninggal di masa remajanya dulu. Tempatnya curhat berbagai hal, katanya.

Tahun ini, anak satu-satunya, perempuan, meninggalkannya untuk bersekolah dengan beasiswa ke luar negeri. Dan terakhir adalah, pembantu rumah tangganya, yang sudah 8 tahun menemaninya, berhenti bekerja karena ikut suaminya pindah ke pulau lain.

“Lengkap sudah, Teh. Bahkan Mbak Sus aja juga diambil dari saya,” katanya. Kesan mengeluh kuat sekali terdengar dari nada suaranya. Mbak Sus adalah pembantu rumah tangganya.

Saya hanya mengusap lembut lengannya dan membiarkan dia melanjutkan ceritanya.

“Sekarang saya cuma bisa pasrah. Apa lagi coba yang bisa saya lakukan. Semua sudah saya usahakan dengan membantu pengobatan Teteh dan suami semampu saya. Kalau anak, ya memang maunya sekolah di sana, alhamdulillah dapat beasiswa. Tidak ada alasan lagi bagi saya untuk menahannya. Apalagi Mbak Sus, dia bukan siapa-siapa saya. Jadi ya pasrah aja.”

Moms, memang betul pasrah atau berserah diri itu adalah salah satu kemampuan hati. Jika kita memilikinya maka bahagia setiap saat bisa kita raih. Tapi pasrah yang bagaimana?

Ternyata adalah pasrah yang sudah hadir sejak awal kita melakukan ikhtiar bahkan dari saat kita berencana untuk melakukan ikhtiar tersebut. Pasrah bukan hadir di saat kita sudah putus asa karena tidak bisa lagi melakukan apa-apa.

Kenapa begitu ya, Moms?

Karena ketika di awal ikhtiar kita belum pasrah, maka kita akan merasa sering khawatir kalau-kalau ikhtiar yang kita lakukan gagal atau tidak mencapai hasil yang kita inginkan. Dan ketika hal itu terjadi, kita jadi kecewa, sedih, dan mungkin marah karena merasa sudah berikhtiar sungguh-sungguh tapi kok tetap tidak berhasil. Bahagia pun menghilang, tidak ada ketenangan dan ketenteraman sama sekali.

Sebaliknya, ketika kita sudah pasrah sejak awal, maka kita tidak akan merasa khawatir dengan hasilnya karena yakin Allah pasti akan memberikan hasil yang terbaik untuk kita. Dan walaupun kemudian hasilnya tidak sesuai seperti apa yang kita harapkan kita tetap menerimanya dengan ikhlas karena keyakinan kita tersebut. Kita tetap dalam keadaan selalu bahagia. Indah kan, Moms?

Itulah kenapa kita butuh hati yang mampu. Karena tanpa hati yang mampu kita tidak mungkin bisa merasakan kepasrahan sejak awal.

#selfreminder
#pasrah
#berserahdiri
#kemampuanhati
#empoweredmoms
#thejourneyofempoweredmoms2
#enlightenedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#100dayswritingchallenge2
#day20

MENULIS DENGAN MELIBATKAN HATI

Sering saya membaca quotes menulis dan judul tulisan yang isinya mengajak kita untuk menulis dengan melibatkan hati. Walaupun temanya sama, namun pemaparan yang diberikan berbeda-beda. Ada yang berpendapat menulis dengan melibatkan hati adalah menghadirkan Allah dalam tulisan.

Ada yang berpendapat menulislah sesuai hati nurani, sesuai yang dirasakan saat itu, dengan gaya bahasa kita sendiri. Dan ada juga yang berpendapat bahwa menulis itu harus memberikan manfaat kepada pembaca sehingga penulis perlu memposisikan dirinya sebagai pembaca tidak hanya sebagai dirinya sendiri.

Saya setuju bahwa menulis memang perlu melibatkan hati. Bahkan hati dilibatkan tidak hanya di dalam tulisan kita atau pada saat kita menulis. Tetapi juga melibatkan hati agar kita bisa tetap konsisten dan selalu on fire menulis.

Memang bisa?

Justru hanya dengan melibatkan hatilah maka semangat untuk menulis itu akan tetap menyala. Ketika saya launching buku solo pertama, banyak yang bertanya,” Kok bisa sih launching buku tepat waktu?” dan “Gimana sih caranya supaya saya bisa segera menyelesaikan buku saya?”

Saya jawab begini: “Ga sulit kok sebetulnya. Kamu tinggal merasa-rasakan bagaimana perasaan kamu ketika buku itu sudah jadi, atau ketika buku itu menjadi best seller, atau ketika banyak orang terinspirasi oleh bukumu, misalnya. Rasakan juga bagaimana respon orang-orang di sekitarmu ketika bukumu sudah jadi.”

Merasa-rasakan artinya melibatkan hati di dalamnya. Pada saat kita sudah mendapatkan perasaan yang luar biasa itu, maka apapun akan kita lakukan agar naskah buku kita segera selesai dan terbit.

Ga percaya?

Ya, kalau belum mencoba pasti tidak akan percaya. So, coba lakukan deh cara di atas yaitu melibatkan rasa atau hati agar kita selalu on fire pada saat menulis (buku).

#tentangmenulis
#gandrungmenulis
#semangatmenulis
#konsistenmenulis
#libatkanhati
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#100dayswritingchallenge2
#day23
#enlightenedheart

BE PRESENT, DARLING

Akhir-akhir ini saya mendengar beberapa kali suami berkomentar: “Bun, ayah perhatikan bunda sekarang ini sering kurang nyambung deh kalau kita sedang membicarakan sesuatu. Be present lah, Bun…”

Be present. Konsentrasi penuh, hadir di saat sesuatu sedang berlangsung. Pada saat suami sedang membicarakan pencarian tempat untuk pelatihan Kandela Institute, lembaga pelatihan kami, misalnya, di tengah-tengah pembicaraan saya berkomentar yang tidak sesuai dengan topik pembicaraan saat itu; maka saat itu saya sedang tidak be present. Itu mungkin terjadi karena pikiran dan hati saya sedang tidak berada di topik tersebut melainkan memikirkan hal lain.

Atau, ketika kita sedang makan, misalnya Moms, pikiran dan hati kita fokus kepada aktivitas makan tersebut dengan menikmati setiap suapan dan rasa dari makanan yang kita makan itu. Kalau pada saat kita makan tersebut kita masih melirik dan membaca sesekali gadget kita atau sambil meneruskan membaca buku atau bahkan memikirkan anak kita yang sedang ujian misalnya, maka pada saat itu kita sedang tidak be present.

Memang ga boleh ya mengingat hal lain selain aktivitas makan pada saat kita makan? Ga boleh ya melihat sejenak kepada gadget kita kalau-kalau ada yang penting?

Tentu saja boleh, Moms. Mengingat sesaat sesuatu di luar aktivitas yang sedang kita lakukan, tidak masalah. Asalkan tidak mendominasi pikiran dan hati kita sehingga aktivitas yang sedang kita lakukan menjadi kurang bermakna.

Lagipula tidak ada yang bisa memaksa kita untuk apapun yang kita kerjakan di dunia ini. Bahkan Allah sekalipun tidak pernah memaksa kita untuk mentaatinya. Hidup ini pilihan kok, Moms. Moms boleh memilih apa saja yang ingin Moms lakukan. Tapi ingat, apapun yang kita pilih pasti ada konsekuensinya yang bisa kita terima langsung di dunia pada saat ini atau nanti di akhirat kelak.

Sama juga ketika kita memilih untuk be present atau tidak. Jika kita memilih untuk be present pada saat makan misalnya, paling tidak kita jadi lebih sadar dengan makanan apa saja yang kita makan, sehat atau tidak, sebanyak apa kita makan. Jadi kita tidak sembarangan dalam memilih makanan yang kita makan dan juga bisa memperhitungkan banyaknya makanan yang masuk ke tubuh kita. InsyaAllah kita jadi bisa lebih sehat, kan Moms.

Dan yang terpenting kita jadi mampu mensyukuri bahwa kita masih diberi kesempatan untuk makan walaupun hanya dengan makan tahu dan tempe saja. Kita bersyukur karena masih bisa merasakan nikmatnya makan. Coba bayang mereka di luar sana yang untuk makan sehari sekali saja sulit karena tidak punya uang untuk membelinya. Atau bayangkan mereka yang sedang sakit, tentunya tidak bisa merasakan nikmatnya makanan yang mereka makan.

Betapa Allah telah memberikannikmat begitu besar kepada kita. Bagaimana tidak muncul rasa syukur kita. Allah tentu suka dengan hal ini. Dan kalau Allah sudah suka, Moms tahu kan apa yang kita dapatkan? Ya benar, tambahan bekal kita untuk di akhirat kelak.

Tapi kalau kita tidak be present pada saat kita makan, kemungkinan kita memperhatikan asupan makanan kita menjadi kecil. Kesehatan kita bisa terancam. Dan bagaimana mungkin kita bisa bersyukur jika pikiran dan hati kita tidak merasakan nikmatnya aktivitas makan kita. Bahkan mungkin berdoa sebelum makan saja kita lupa. Kita tidak mendapatkan tambahan bekal untuk di akhirat nanti. Rugi kan, Moms?

Ini baru pada saat kita makan. Bagaimana dengan aktivitas kita yang lain, Moms? Apakah kita sering be present atau tidak? Lihat saja apakah kita sering mensyukuri apapun yang sedang kita lakukan atau yang terjadi pada kita? Jika tidak, maka mungkin kita memang masih sering dalam keadaan tidak be present.

Dan tahukah, Moms, ternyata kita butuh kemampuan hati untuk bisa selalu be present. Karena kita harus bisa melawan ego kita untuk beralih dari aktivitas atau hal yang sedang kita sukai dan inginkan saat itu kepada aktivitas yang harus kita lakukan. Hanya hati yang mampu lah yang bisa melawan ego itu.

Jadi kita sudah tahu sekarang ya, Moms, untuk bisa selalu be present kita butuh memampukan hati kita.

#selfreminder
#empoweredmoms
#bepresent
#pikirandanhati
#konsentrasi
#bermakna
#bersyukur
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#inginmenjadibaik
#100dayswritingchallenge2
#day13

HIDUP DI DUNIA INI AMAT SANGAT SEBENTAR SAJA

Tiba-tiba saja saya jadi baper banget, Moms, waktu chat WA sama Mom keren pebisnis baju renang muslim sporte.id ini

Mbak Helfa Afrianti (ME): “Assalamu’alaikum, Teh… Apa kabar?”

Saya: “Wa’alaikumsalam, alhamdulillah. Mbak Efa apa kabar? Masih jalan-jalan atau sudah kembali ke Jakarta?”

ME: “Alhamdulillah baik, Teh… Udah di Jakarta, Teh. Kemarin sempat ke Padang, hampir 3 minggu di sana. Teh Leni masih di Jakarta?”

Saya: “Waaa, alhamdulillah asyikknyaaa… Saya udah otw bandung ini, Mbak. Mau ketemuan sama Yulia aja enggak sempet. InsyaAllah selasa depan ada rencana ke Jakarta lagi. Yuk meet up? Tapi di daerah Kuningan ya… hehe… Biasanya nginep di daerah itu.”

Yulia adalah sahabat kami. Seorang Mom pebisnis salon muslimah yang ga kalah kerennya. InsyaAllah dia akan hadir di tulisan saya yang lain nanti ya, Moms. Kalau saya dapat izin darinya ya, Moms.

ME: “Yaahh… Enggak ke BSD lagikah? Bentar aja di Jakartanya ya, Teh..?”

Saya: “Kan udah lulus yg di BSDnya, Mbak. Kemarin saya di Jakarta dari Rabu. Iya sih biasanya enggak lama di Jkt, 2-3 hari aja tergantung keperluannya.”

ME: “Wah Kaka udah lulus aja ya? Bener-bener enggak berasa ya. Perasaan baru kemaren ketemu masih di SMP.”

Saya: “Bener banget, Mbak. Betapa hidup di dunia ini amat sangat sebentar ya, Mbak. Self reminder: sudah berapa banyak bekal yg saya punya untuk kehidupan selanjutnya kelak?”

Saya mengakhiri kalimat terakhir di atas dengan emoticon menangis berderai air mata. Emoticon itu bukan sekadar emoticon, Moms, karena entah kenapa air mata ini tak bisa dibendung turun mengingat apa yang saya tuliskan.

Astaghfirullah… Waktu terus berjalan dengan cepat dan saya tidak ingin merugi. Masih banyak hal yang harus dipelajari oleh hati ini. Masih perlu banyak merenung dan merasa-rasakan untuk memenuhi kebutuhan perbekalan di kehidupan selanjutnya nanti.

Kenapa begitu? Karena kadang masih ada rasa kesal sedikit mengintip di hati ketika suami menegur atau bedinde berulah misalnya. Kadang masih ada rasa kecewa sedikit lewat di hati ketika apa yang saya mau tak tercapai. Walaupun hanya sebentar saja, tapi berarti hati saya belum sepenuhnya mampu untuk mempertahankan kebahagiaan pada pukulan pertama ketika ketidaknyamanan itu datang.

Semoga saja melalui menulis ini semakin banyak dan dalam kebenaran-kebenaran Al Quran tertanam di hati ini. Aamiin.

Terima kasih Moms semua sudah mau membaca dan menemani saya berproses. Terima kasih Mbak Efa untuk chattingnya yang mencerahkan.

***

ME: “Yaa Allah, Teh… dan itu tidak bisa diulang ya. Dan banyak banget ternyata waktu terbuang sia-sia.”

Saya: “Betul sekali, Mbak, jadi kita harus segera bikin hati ini semakin mampu untuk selalu taat kepada-Nya.”

#selfreminder
#empoweredmoms
#hidupdiduniahanyasebentar
#bekalhidupselanjutnya
#kemampuanhati
#merenung
#kebenaranAlQuran
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#inginmenjadibaik
#100dayswritingchallenge2
#day15