SHINE ON PRODUKTIF MENULIS BATCH 2

Sejak awal memutuskan untuk merambah dunia tulis-menulis, saya ingin berbagi kebaikan. Saya ikhtiar mewujudkannya sendirian. Tadinya saya tidak perduli jika kebaikan itu hanya dibaca oleh sedikit orang. Tapi lama kelamaan saya ingin hal itu terbagi ke lebih banyak orang. Saya menyadari tak mungkin sendirian lagi. Waktu yang saya miliki terbatas dengan berbagai aktivitas lainnya.

Ketika @kandelainstitute memutuskan untuk membekukan sementara progran Shine On berbagi kebaikan di bulan Ramadan; saya tiba-tiba terpikirkan untuk melanjutkan program tersebut. Hanya saja kali ini dikhususkan untuk berbagi kebaikan melalui tulisan. Kemudian terlaksanalah program Shine On Ramadan Produktif dengan enam orang penulis Bandung menjadi partisipannya, tujuh dengan saya sendiri.

Alhamdulillah, Shine On Ramadan Produktif berjalan cukup lancar walaupun masih bolong sana sini. Tapi paling tidak menghasilkan satu pemenang yang ternyata mampu mencapai target 100%. Masyaa Allah. Barakallah Teh @alavyashofa.

Setelah terjadi pembicaraan dengan beberapa partisipan, akhirnya saya dengan dukungan mereka memutuskan untuk melanjutkan program Shine On. Karena bukan di bulan Ramadan maka taglinenya pun berganti menjadi Shine On Produktif Menulis batch 2.

Dan… senang sekali kemarin pertemuan tatap muka pertama sudah berlangsung dengan lancar, rame, walaupun masih belum yakin apakan target akan tercapai atau tidak. Tenang Teteh-teteh salihah, setiap bunga akan berkembang pada waktunya 😄.

Lupakan target, fokuslah pada ikhtiar melaksanakan RA-nya. Karena yang menentukan tercapai atau tidaknya target hanya Allah. Tugas kita hanyalah ikhtiar mencapainya. Saat itulah Allah menilai kita, apakah kita lulus ujian kehidupan atau tidak.

Siap Teteh-teteh salihah?

Terima kasih untuk dukungan penuh Teteh-teteh mentor @rina.ratnaningsih @ihsaniawati_rosadi @alavyashofa @nidathifah

Dan selamat bergabung buat Teteh-teteh partisipan baru di batch 2 @dianyunipratiwi @fatimah_razianarazak @hajahsofya Teh Mega Teh Wida Mbak @sukmadewimega Mbak Danik

Kita berjuang bersama yaaa… Mudah-mudahan Allah rida dan berkah. Aamiin 🙏

Semangaaaattt 💪🔥😘

Bismillah… ❤

Terima kasih untuk @coffeetoffeebdg yang sudah memfasikitasi.

#shineonbatch2
#produktifmenulis
#kandelainstitute
#berbagikebaikan
#enlightenedheart

MENULIS ATAU YANG LAIN?

Salah satu curhatan yang sering saya dengar dari teman-teman penulis adalah sulitnya mencari waktu untuk menulis. Alasannya beragam. Dari mulai disibukkan kegiatan kampus, kerjaan kantor, sampai mengurus anak dan rumah tangga. Kemudian cerita mereka berakhir dengan pertanyaan: “Gimana sih Bunda/Teteh/Kakak (senangnya berada di komunitas online menulis adalah selalu berasa muda, dipanggil “Kakak” 😄) bisa membagi waktu supaya bisa tetap konsisten menulis?”
 

Ketika pertama kali pertanyaan itu dilontarkan, saya tidak langsung menjawab; melainkan merenung dulu dengan mengingat-ingat kembali kenapa kok saya selalu punya waktu untuk menulis. Saya jadi teringat ketika saya menulis sering “mengorbankan” berbagai hal yang dulu saya senang melakukannya. Saya tidak hang out bersama teman, menonton film atau acara TV yang (menurut saya dulu) rame, memanjakan diri ke salon, berbisnis, sering mengajak main kucing-kucing peliharaan, dan sebagainya. Tidak dipungkiri menulis memang membutuhkan cukup banyak waktu. Satu sampai dua jam untuk menyelesaikan satu tulisan sebanyak caption di IG dan mempostingnya. Apalagi kalau dibarengi dengan menyelesaikan naskah buku.

Lantas kenapa kok saya memilih untuk “mengorbankan” hal-hal tersebut? Kenapa saya kok begitu bersemangat untuk menulis?

Ternyata karena dengan menulis apa yang sangat saya inginkan dalam hidup ini terasa mendekat. Menulis membuat saya bisa berbagi kebaikan kepada lebih banyak orang. Melalui menulis saya berproses mengisi hati dengan kebaikan-kebaikan. Sering tulisan yang saya buat adalah self reminder yang jleb.

Sehingga menulis menjadi salah satu aktivitas yang saya pilih dalam memanfaatkan waktu terbatas yang dianugerahkan Allah. Pada saat itu saya sudah menentukan prioritas.

Sebetulnya saya juga seperti teman-teman, punya banyak keinginan dan “keharusan” beraktivitas. Namun keterbatasan waktu membuat kita tidak bisa melakukan semuanya. Karena itu kita perlu menentukan mana-mana saja yang dilakukan dan yang tidak.

Dan saya menentukan pilihan berdasarkan: untuk apa sih saya hidup di dunia ini? Apakah hanya sekedar memuaskan ego/nafsu atau ada hal lain yang lebih penting? Apakah hanya inginkan kesenangan dunia atau kebahagian tidak hanya di dunia melainkan di kehidupan selanjutnya?

Ketika saya memilih yang kedua, maka menulis menjadi salah satu prioritas dalam hidup ini. Dengan berbagi kebaikan kepada lebih banyak orang dan hati semakin kaya akan kebaikan, insyaa Allah kebahagiaan dunia akhirat semakin mendekat.

Jadi kalau sekarang ini ada yang melontarkan pertanyaan seperti di awal tulisan, maka jawaban saya adalah buat prioritas yang disesuaikan dengan tujuan hidup. Silakan renungkan apakah menulis akan membuat kita semakin dekat dengan tujuan hidup itu atau tidak. Kalau ya, jadikan menulis prioritas dan “korbankan” beberapa hal lain yang tidak atau kurang mendekatkan kepada tujuan hidup kita.

#IndonesiaMenulis

#NarasiLiterasiNegeri

#KMOIndonesia

#selfreminder

#memilihsesuaitujuanhidup

#tafakur

#enlightenedheart

SALAH SATU HASIL MENULIS BUKU

MasyaAllah 😍. Alhamdulillah 🙏.

Nikmat, haru, dan syukur bersatu ketika membaca tulisan ini. Begini rupanya ketika salah satu tujuan menulis tercapai, lebih indah daripada ketika membayangkan ya dulu. Ketika hati butuh tambahan semangat untuk mendapatkan STRONG WHYnya.

Terima kasih Mbak Triana 🙏😘. Menambah semangat untuk terus berkarya melalui buku, yang memang sekarang ini sedang dibutuhkan. Yaitu menyelesaikan naskah buku solo ke 4. Pengalaman pertama menulis naskah novel memang sesuatu. Sangat menggebu namun kadang masih sering termangu untuk mulai menuangkan ide di Bab yang baru. But I love the process ❤.


So, teman-teman salihah dan saleh Syarah, Shofa, Ihsan, Nida, Isny, Rina, dan Mas Adit di Proyek SHINE-ON Ramadan Produktif, ayo semangat menulis untuk selesaikan naskah bukunya yaaa… 💪🔥😍


#bersyukur
#testimonibukuLeny
#thejourneyofempoweredmoms
#shineonramadanproduktif
#enlightenedheart
#kandelainstitute

SELF EDITING

Terus terang, ini adalah tahapan dalam menulis yang cukup menantang buat saya. Tahapan selanjutnya setelah menjadi seorang kreator. Semangat untuk melakukannya sering dikalahkan oleh aktivitas berkreasi tersebut.

Buat saya rasanya membosankan. Saya harus berkutat dengan satu naskah. Membaca, menelusuri, memperbaiki naskah itu-itu lagi yang dilakukan beberapa kali. Ya, melakukan self editing minimal 3 kali sebelum kemudian naskah kita siap untuk diajukan ke penerbit. Bahkan bisa jadi lebih dari itu. Kebayang kan bosannya?

Bukankah aktivitas ini bisa diserahkan ke pihak lain? Editor freelance misalnya?

Ternyata tidak. Tahapan ini perlu dilakukan sendiri terlebih dulu. Setelah itu jika ingin mendapat bantuan dari editor freelance, boleh-boleh aja.

Kenapa? Karena pada saat self editing ini, kita tidak hanya sekedar memperbaiki kesalahan menulis, pemakaian bahasa baku, dan bahasa yang efisien serta enak dibaca. Melainkan juga pemangkasan dan penambahan substansi yang hanya bisa dilakukan oleh Sang Penulis.

Lantas gimana ya caranya agar lebih bersemangat dalam melakukan aktivitas mengedit ini?

Saya menemukan satu cara yang bisa membuat lebih semangat. Ketika itu saya sedang melakukan self editing untuk naskah buku solo ke 3. Sebelum mengedit ke 3 kali, saya minta beberapa teman untuk menjadi reader dan memberikan masukan. Teman-teman tersebut saya pilih dengan berbagai alasan, salah satunya adalah mereka termasuk target pasar.

Pada saat mereka memberikan masukan terjadilah diskusi yang mengasikkan. Berbagai insight yang cerdas menambah semangat saya untuk melanjutkan aktivitas self editing.

Buat yang mengalami hal yang sama, silakan dicoba. Mudah-mudahan bisa membantu.

#selfediting
#tipsmenulis
#hadirkanreader
#gandrungmenulis
#oneweekonepost
#wifiregionbandung

MENULIS UNTUK BAHAGIA

MENULIS UNTUK BAHAGIA

Menulis adalah aktivitas yang sekarang ini sedang saya sukai, bahkan saya nikmati. Apakah karena saya selalu mudah menemukan ide dan menuangkannya menjadi tulisan yang enak dibaca? Ternyata bukan itu alasannya. Saya kadang masih merasa kesulitan menemukan ide yang menarik untuk ditulis dan lebih sering lagi merasa kesulitan menuangkan ide tersebut menjadi tulisan.

Rasa suka dan nikmat saya terhadap menulis ini belumlah lama. Baru terjadi sekitar 6 bulan belakangan ini. Saat itu saya sedang mulai mengalami perubahan rasa dalam memandang kehidupan ini. Kehidupan yang tadinya terasa sering membebani menjadi terasa lebih ringan. Hati terasa lebih tenang dan tenteram. Rasa sedih, khawatir, dan gelisah semakin jarang menghampiri.

Saya menyebutnya sebagai rasa bahagia. Dan ternyata rasa itu adalah rasa yang selalu saya ingin rasakan selama hidup di dunia ini bahkan juga ketika saya berada di kehidupan selanjutnya kelak. Atau dengan kata lain, dia adalah tujuan hidup hakiki saya yaitu bahagia di dunia dan akhirat.

Tentu saja hal itu tidak terjadi begitu saja. Ada sesuatu yang harus saya lakukan agar tujuan tersebut tercapai. Apa itu? Yaitu selalu taat kepada Sang Pencipta. Kenapa? Karena Sang Pencipta yang sedemikian sayang kepada kita, manusia, tidak membiarkan kita begitu saja hidup di dunia yang penuh godaan ini. Dia memberikan panduan agar kita selamat dari godaan-godaan tersebut. Jika kita taat kepada panduan tersebut maka bahagia di dunia akhirat akan tercapai.

Saya tidak ingin menghabiskan waktu sia-sia. Karena waktu yang saya miliki untuk hidup di dunia ini sangat terbatas. Jika mungkin seluruh waktu saya diisi dengan ketaatan kepada-Nya. Termasuk ketika saya sedang bermedia sosial. Sehingga saya memutuskan untuk menjadikan media sosial itu tempat saya menyampaikan kebaikan dan mengajak berbuat baik melalui tulisan. Itulah awal saya mulai suka dan menikmati menulis.

Saya ingin kebaikan yang saya sampaikan itu bisa tersampaikan kepada lebih banyak orang. Karena saya ingin semakin banyak orang yang bisa merasakan bahagia yang seperti saya rasakan sekarang ini. Untuk itulah saya kemudian mulai mengikuti kelas-kelas menulis online. Dengan harapan saya bisa semakin mudah membuat tulisan yang bagus dan enak dibaca, sehingga lebih banyak orang yang mau membaca tulisan saya.

Pada saat mengikuti kelas menulis online itulah saya mulai memiliki keinginan untuk menyampaikan kebaikan dan mengajak kebaikan dengan menulis buku. Terinspirasi juga oleh mereka yang sudah mampu menghasilkan buku yang berpengaruh terhadap pembacanya. Saya membayangkan melalui buku akan lebih banyak orang yang bisa menikmati dan mudah-mudahan tersentuh hatinya untuk berbuat baik, sehingga lebih banyak lagi orang yang bisa merasakan bahagia seperti yang saya rasakan. InsyaAllah …

  1. #KMOIndonesia
    #KMObatch12
    #KMOgroup09
    #lenypuspadewi
    #lenymenulis
    #menulisuntukbahagia
    #inginmenjadibaik
    #enlightenedheart

MENULIS DENGAN MELIBATKAN HATI

Sering saya membaca quotes menulis dan judul tulisan yang isinya mengajak kita untuk menulis dengan melibatkan hati. Walaupun temanya sama, namun pemaparan yang diberikan berbeda-beda. Ada yang berpendapat menulis dengan melibatkan hati adalah menghadirkan Allah dalam tulisan.

Ada yang berpendapat menulislah sesuai hati nurani, sesuai yang dirasakan saat itu, dengan gaya bahasa kita sendiri. Dan ada juga yang berpendapat bahwa menulis itu harus memberikan manfaat kepada pembaca sehingga penulis perlu memposisikan dirinya sebagai pembaca tidak hanya sebagai dirinya sendiri.

Saya setuju bahwa menulis memang perlu melibatkan hati. Bahkan hati dilibatkan tidak hanya di dalam tulisan kita atau pada saat kita menulis. Tetapi juga melibatkan hati agar kita bisa tetap konsisten dan selalu on fire menulis.

Memang bisa?

Justru hanya dengan melibatkan hatilah maka semangat untuk menulis itu akan tetap menyala. Ketika saya launching buku solo pertama, banyak yang bertanya,” Kok bisa sih launching buku tepat waktu?” dan “Gimana sih caranya supaya saya bisa segera menyelesaikan buku saya?”

Saya jawab begini: “Ga sulit kok sebetulnya. Kamu tinggal merasa-rasakan bagaimana perasaan kamu ketika buku itu sudah jadi, atau ketika buku itu menjadi best seller, atau ketika banyak orang terinspirasi oleh bukumu, misalnya. Rasakan juga bagaimana respon orang-orang di sekitarmu ketika bukumu sudah jadi.”

Merasa-rasakan artinya melibatkan hati di dalamnya. Pada saat kita sudah mendapatkan perasaan yang luar biasa itu, maka apapun akan kita lakukan agar naskah buku kita segera selesai dan terbit.

Ga percaya?

Ya, kalau belum mencoba pasti tidak akan percaya. So, coba lakukan deh cara di atas yaitu melibatkan rasa atau hati agar kita selalu on fire pada saat menulis (buku).

#tentangmenulis
#gandrungmenulis
#semangatmenulis
#konsistenmenulis
#libatkanhati
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#100dayswritingchallenge2
#day23
#enlightenedheart