KETIKA ALLAH MENGGERAKKAN HATI

Hari ini saya terbangun kurang bersemangat. Sejak kemarin saya diberikan kesempatan tidak berpuasa karena pencernaan kurang mendukung.

Saya semakin tak bersemangat ketika teringat hari ini ada jadwal silaturahmi dengan teman-teman komunitas yang sudah ditunggu-tunggu. Tetapi saya ragu bisa hadir atau tidak di silaturahmi itu. Badan terasa belum fit.

Saat hati sedang tak bersahabat itu, tiba-tiba terbaca postingan teman di salah satu grup WA. Hanya karena dia menggunakan kata “assalamu’alaikum” dan saya merasa berkewajiban untuk membalas salamnya. Dia membutuhkan bantuan berupa buku-buku untuk aktivitas sosial KKN anaknya di pelosok Kalimantan.

Tiba-tiba saya juga teringat satu keinginan yang belum terlaksana. Menyumbangkan majalah-majalah yang sekarang menumpuk tak termanfaatkan di atas rak. Ada seorang teman yang bersedia dan dengan senang hati mau menerima untuk aktivitas sosialnya.

Entah kenapa hati yang murung jadi bersemangat lagi. Jadilah pagi ini saya, dibantu asisten RT, menyiapkan beberapa buku dan banyak majalah untuk kemudian kami packing. Dan betapa leganya hati ketika adzan dzuhur berkumandang, semua sudah rapih siap dikirimkan besok atau lusa karena hari ini libur.

Sambil memandang tumpukan dus yang tertumpuk rapih, rasa syukur menyelinap di hati. Sakit yang Allah berikan telah menggerakkan saya kepada aktivitas berbagi yang insyaAllah disukai-Nya. Jika saya sehat tentu aktivitas ini tidak terlaksana. Saya akan asyik dengan silaturahmi.

Bukan berarti silaturahmi lebih jelek. Allah sangat suka jika kita bersilaturahmi. Tapi, apakah kita mampu menghalau godaan bergunjing, riya’, dengki yang mungkin saja datang pada saat bersilaturahmi? Mungkin Allah sedang menyelamatkan saya dari godaan-godaan itu. MasyaAllah…

Jadi benar adanya apa yang Allah ucapkan dalam surat Al-Baqarah ayat 216. Apapun yang Dia berikan adalah yang terbaik untuk kita.

Alhamdulillah… ❤

#insightQuran
#AllahMahaBaik
#oneweekonepost
#wifiregionbandung
#enlightenedheart

YANG SANGAT BERHARGA

Berapa banyak kita sudah membaca surat Al-Ashr di rakaat-rakaat salat? Tidak terhitung kalau buat saya. Tapi pernahkah pada saat kita membacanya sadar bahwa surat itu mengingatkan kepada anugerah Allah yang sangat berharga?

Memang tentang apa ya? Kok sangat berharga?

Ya betul. Tentang waktu. Kesempatan kita di hidup di dunia ini. Hidup di dunia ini bukan hanya untuk bersenang-senang belaka. Melainkan menjadi ajang perjuangan untuk menentukan tempat kita di akhirat kelak. Yang menentukan apakah kita akan merasa sangat bahagia atau sebaliknya, sangat sengsara.

Coba rasakan sepenuh hati ketika membacanya. Rasakan betapa sedikit waktu yang kita miliki. Betapa kita bisa sangat merugi. Ketika kita mengabaikan keinginan Allah.

Mau merugi? Mau sangat sengsara? Mau ke neraka-Nya? Kalau saya gak mau.

Untunglah melalui surat yang sama Allah menyampaikan juga kesempatan bagi kita untuk meraih surga-Nya. Yaitu jika kita taat kepada-Nya.

Betapa baiknya Allah. Dia mengingatkan kita sekaligus memberikan solusinya.

Dan bagaimana dengan kita? Sudahkan kita berikhtiar menuju taat kepada-Nya? Atau hanya sekadar keinginan saja?

Semoga untuk selanjutnya, kita tidak hanya sekadar membaca surat Al-Ikhlas (dan surat-surat lainnya) dalam salat kita. Melainkan kita resapi benar sehingga membawa kita semakin taat kepada-Nya.

#insightQuran

#waktu

#yangsangatberharga

#selfreminder

#enlightenedheart

KOREKSI DIRI

Pagi tadi saya disuguhi peristiwa yang membekas di hati. Waktu itu pengemudi mobil yang saya tumpangi mengklakson angkot di depan kami. Angkot itu berhenti terlalu tengah dan menghalangi mobil kami.

Ketika kami melewati angkot itu, sopirnya berteriak dengan nada kurang enak didengar, “Mangga… mangga, Paaak! Ieu teh Romadhon, puasa Paaak!” (Silakan… silakan, Pak. Ini Bulan Ramadan, puasa Pak!)

Saya tahu maksudnya meminta kami bersabar. Apalagi sekarang sedang puasa Ramadan. Dia menganggap klakson yang kami bunyikan adalah tanda ketidaksabaran. Mungkin juga karena melihat pandangan kami yang tanpa senyum. Sehingga dia beranggapan kami kesal karena terhalangi.

Mungkin betul ada rasa kesal dari pengemudi mobil kami karena jalannya terhalangi, sehingga dia membunyikan klakson tanpa senyum di wajahnya. Dan nasihat sopir angkot itu baik kan? Mengingatkan kami untuk bersabar.

Tapi coba rasakan. Dia meminta kami bersabar, sementara apa yang dia lakukan belum mencerminkan hal yang sama. Seorang yang sabar tentunya tidak akan mengingatkan seseorang dengan cara  berteriak dan dengan nada kurang enak didengar.

Itulah, kadang-kadang kita tidak menyadari untuk koreksi diri. Malah mengingatkan orang lain untuk  berperilaku baik tapi kita sendiri lupa caranya bukan seperti orang berperilaku baik yang kita nasihatkan.

Jika saja saya ada di posisi sopir angkot itu, seperti apa semestinya berperilaku? Koreksi diri, apa sih yang membuat orang itu membunyikan klakson. O, ternyata  mobil yang saya kemudikan menghalangi jalan mobil lain. Jadi segera pindahkan posisi mobil ke tempat lain yang tidak menghalanginya sambil meminta maaf.

Hanya saja jangan lupa. Pada saat berada di posisi yang terhalangi pun perlu berhati-hati. Apakah dengan membunyikan klakson akan membuat orang lain terganggu? Toh kita juga bisa menunggu sesaat sampai angkot itu berjalan kembali. Kecuali jika menunggu terlalu lama, baru kita bunyikan klakson sekali saja dan wajah kita dihiasi senyum sopan ketika berpapasan pandangan dengan  sopir angkot tersebut.

Ah, kalau cuma nulis kan gampang. Pas ngalaminnya, emang bisa sabar?

Bisa. Asalkan hati kita sudah terbuka karena dipenuhi kebenaran-kebenaran Alquran dan Hadis. Tau kan sabar itu pembuka pintu surga? Tau kan Allah akan bersama dengan orang-orang sabar? Tau kan Allah suka banget kalau kita bersabar? Itu semua adalah kebenaran-kebenaran dari Alquran dan Hadis.

Jadi teruslah berproses, bertafakur agar kebenaran-kebenaran itu tertanam dan memenuhi hati.

#selfreminder

#berbagikebaikan

#tafakur

#enlightenedheart

#oneweekonepost

#wifiregionbandung

SHINE ON: Ungkapan Syukur Di Bulan Ramadan

Di saat Ramadan datang, rasa syukur begitu membludak memunculkan keharuan di hati. Namun syukur tidak cukup hanya diucap dan dirasakan saja. Kita sudah benar-benar bersyukur jika mampu memanfaatkan Ramadan sebaik-baiknya.

Kenapa begitu? Karena Ramadan adalah bulan istimewa. Seperti yang tercantum dalam beberapa hadis di bawah ini:

“Jika tiba bulan Ramadhan, maka dibuka pintu-pintu syurga dan ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu semua syaitan.”HR. Bukhari dan Muslim)

“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (ridha Allah), maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhari)

“Sesungguhnya di surga ada pintu yang dinamakan Ar Rayyan, yang akan dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat nanti, dan tidak ada yang memasuki melaluinya kecuali mereka. Dikatakan: “Mana orang-orang yang berpuasa? Maka mereka berdiri, dan tidak ada yang memasukinya seorang pun kecuali mereka. Jika mereka sudah masuk, maka pintu itu ditutup, dan tidak ada lagi seorang pun yang masuk melaluinya.” (HR. Bukhari, Muslim, At Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Berpuasa menjadi ibadah utama di bulan Ramadan. Sebagaimana yang tercantum dalam ayat pilihan #insightQuran kali ini surat Al-Baqarah ayat 183. Dan saya percaya kita sudah mengikhtiarkan itu sebaik-baiknya sebagai ungkapan rasa syukur.

Namun tidak hanya berpuasa; salah satu ungkapan syukur lain adalah lebih banyak bersedekah. Hal ini juga dicontohkan oleh Rasulullah SAW melalui hadisnya di bawah ini:

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu nahuma, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan dalam kebaikan. Dan beliau lebih dermawan lagi ketika di bulan Ramadhan pada saat Jibril menemuinya. Maka pada saat Jibril menemuinya, ketika itulah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan dalam kebaikan dari pada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ternyata sedekah tidak hanya berbentuk materi, seperti yang tercantum dalam 2 hadis di bawah ini:

Rasulullah SAW bersabda: “Setiap anggota badan manusia diwajibkan bersedekah setiap harinya selama matahari masih terbit; kamu mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah; kamu menolong seseorang naik ke atas kendaraannya adalah sedekah atau mengangkat barang bawaannya ke atas kendaraannya adalah sedekah; setiap langkah kakimu ke tempat salat juga dihitung sedekah; dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Setiap muslim harus bersedekah.” Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana pendapatmu wahai Rasulullah, jika ia tidak mendapatkan (harta yang dapat disedekahkan)?” Rasulullah SAW bersabda, “Bekerja dengan tangannya sendiri kemudian ia memanfaatkannya untuk dirinya dan bersedekah.” Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana jika ia tidak mampu, wahai Rasulullah SAW?” Beliau bersabda, “Menolong orang yang membutuhkan lagi teraniaya.” Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana jika ia tidak mampu, wahai Rasulullah SAW?” Beliau menjawab, “ Mengajak kepada yang ma’ruf atau kebaikan.” Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana jika ia tidak mampu, wahai Rasulullah SAW?” Beliau menjawab, “Menahan diri dari perbuatan buruk, itu merupakan sedekah.” (HR. Muslim)

Untuk itulah di bulan Ramadan ini saya mengajak beberapa teman bersedekah melalui tulisan di Proyek SHINE ON Ramadan Produktif.

Dimulai dari menemukan VALUES yang gue banget, menentukan STRONG WHY menulis, menetapkan GOALS menulis di Bulan Ramadan, mencari CARA mencapai dan penjaminnya, membuat RENCANA AKSI, PEMANTAUAN pelaksanaan, sampai EVALUASI hasilnya setelah lebaran nanti. Melalui tehnik COACHING, saya bantu teman-teman melakukan itu semua.

Semangat ya Teteh-teteh salihah Syarah Khaerunnisa Rina Ratnaningsih Ihsaniawati Rosadi Shofa Nida Isny dan Mas Adit.    Semoga apa yang kita lakukan di Proyek SHINE ON ini diridainya dan berkah. Aamiin 🙏.

#shineonramadanproduktif

#sedekahramadan

#berbagikebaikan

#enlightenedheart

#kandelainstitute

KENANGAN RAMADAN

Ada rasa rindu ketika mengenang Ramadan sebelumnya. Karena Ramadan kali ini terasa ada yang kurang di hati. Ini adalah Ramadan pertama tanpa kehadiran salah seorang terdekat. Papap tercinta.

Salah satu kenangan yang sangat melekat adalah ajakannya untuk salat tarawih berjamaah. Dulu sewaktu rumah jauh dari mesjid, kami melakukannya di rumah. Beliau menjadi imamnya. Bacaannya sangat baik dan merdu. Walaupun kadang saya merasa terpaksa kala itu. Namun ternyata kebiasaan menjadi makmumnya membuat saya mampu menghafal banyak surat pendek dengan bacaan yang baik.

Apa pelajaran yang didapat? Hafalkanlah surat-surat pendek itu dengan bacaan yang baik. Karena jika bacaan kita salah, ketika kita menjadi imam untuk anak-anak kita, mereka bisa jadi menghafalnya dengan bacaan salah. Bukankah salah melafalkan bisa salah juga artinya?

Kenangan yang lain adalah kebaikan hatinya. Beliau sering memberi atau bersedekah untuk siapa saja, khususnya di Bulan Ramadan. Semakin giat beliau lakukan. Hatinya mudah terenyuh yang kadang membuatnya mudah tertipu orang. Tapi itu tidak menghalanginya untuk terus memberi. Entah karena sedekahnya yang kuat, saya menyaksikan tak pernah beliau kesulitan dalam hal materi. Kehidupannya pun terlihat tenang dan damai.

Pelajaran yang didapat adalah untuk hidup yang lebih tenang dan damai, raihlah salah satunya dengan banyak-banyak bersedekah.

Namun ada satu pelajaran yang sangat berharga dari kerinduan kepada beliau. Ramadan tahun lalu, mungkin beliau tidak menyadari adalah ramadan terakhirnya. Dan Ramadan kali ini beliau sudah tak mengalaminya. Ini sangat mungkin terjadi pada kita.

Jadi, manfaatkanlah sebaik-baiknya Ramadan kali ini. Kita tak pernah tahu apakah Ramadan kali ini adalah Ramadan terakhir kita atau bukan.

MasyaAllah. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Terima kasih Papap sayang. Bahkan dalam ketiadaanmu, masih mampu memberikan pelajaran yang sangat berharga buat saya. Doa saya selalu untuk Papap. Semoga menjadi pahala yang terus mengalir ya, Pap, buat Papap. InsyaAllah… Aamiin yaa robbal aalamiin 🙏❤️.

Allahumaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu. Aamiin yaa mujibassaailliin 🙏❤.

#selfreminder
#IloveyouPapap
#kenanganramadan
#ramadanberbagi
#enlightenedheart

SALING MEMAAFKAN DI PINTU RAMADAN

Kemarin ketika diberi kesempatan meminta maaf secara langsung kepada kerabat, seorang kerabat bilang: “Minta maaf itu kan gak harus karena mau puasa di Bulan Ramadan. Kapan saja bisa.”

Ya, setuju banget. Sayangnya kita lebih sering lupa untuk meminta maaf di waktu lain. Kenapa ya?

Karena ternyata meminta maaf (dan memaafkan) adalah kemampuan hati. Pantas saja sering lupa melakukannya karena di hati kita masih sedikit kebenaran-kebenaran Al Quran dan Hadis (islami) yang terpatri. Moment ini menjadi pengingat diri untuk terus berproses, bertafakur agar hati semakin cemerlang. Sehingga meminta maaf serta memaafkan tak pernah terlupakan lagi.

Beruntunglah banyak yang mengingatkan kita untuk meminta maaf sebelum berpuasa di Bulan Ramadan. Paling tidak pada saat inilah waktu saling memaafkan itu terlaksana.

Karena si diri ini hatinya masih miskin kebenaran-kebenaran islami, maka melalui tulisan ini MEMOHON MAAF LAHIR BATIN untuk semua sahabat yang telah setia membaca tulisan-tulisan di sini. Walaupun mungkin kita belum pernah jumpa, tapi tulisanpun bisa salah dan tak berkenan di hati. Manusia memang tempatnya salah. Astaghfirullah wa atubu ilaih…

Selamat menunaikan ibadah puasa sahabat semua. Semoga Allah ridho dengan semua yang kita lakukan di Bulan Suci ini. Aamiin ya mujibassailliin ❤️.

#marhabanyaramadan

#maaflahirbatin

#enlightenedheart

#oneweekonepost

#wifiregionbandung

IKHTIAR SUNGGUH-SUNGGUH

Ketika kita sudah tahu bahwa keinginan Allahlah yang pasti terjadi, apakah kita tetap semangat untuk berikhtiar? Kalau keinginan kita tidak sama dengan keinginan-Nya jadi sia-sia dong. Kan sudah pasti keinginan kita tak akan terwujud.

Sudah lupa ya kalau Allah itu Maha Tahu? Maha Pengasih dan Penyayang? Tak mungkinlah Dia memberikan keburukan untuk kita. Pasti Dia berikan kebaikan selalu untuk kita bahkan yang terbaik. Betapa baiknya Allah.

Dan ikhtiar juga adalah salah satu tugas kita di dunia sebagai bentuk perwujudan dari alasan penciptaan kita. Yaitu sebagai khalifah.

Bayangkan, ketika kita punya bos yang sangat baik kepada kita; pasti kita akan melakukan tugas yang diberikan kepada kita sebaik-baiknya. Nah, ini Allah lho, Sang Maha Kuasa; Bos dari segala bos. Masa kesangat-baikkan-Nya dibalas dengan seadanya oleh kita.

So, berikhtiarlah dengan sungguh-sungguh karenanya.

#selfreminder
#marhabanyaramadan
#ikhtiarsungguhsungguh
#enlightenedheart

MASYAALLAH 😍

MasyaAllah 😍.

Bener ya. Bahwa kita itu tak banyak tahu. Bahkan sedetik dari sekarangpun. Apa yang terjadi esok hari, apa yang ada di dalam rahim seorang ibu, kapan dan dimana kematian menghampiri, apalagi tentang hari kiamat. Hanya Allah yang tahu. Segala hal , bahkan hal terkecil sekalipun Dia mengetahuinya.

Termasuk apa yang terbaik untuk aku, sang jiwa. Dan karena Allah sangat sayang kepada manusia, maka yang Dia berikan pasti yang terbaik untuk jiwa.

Jadi kenapa masih mengeluh dengan ketidaknyamanan yang datang kepada kita?

MasyaAllah 😍. Memang Allah Maha Luar Biasa ❤️.

“Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)

#selfreminder

#pencerahanpagi

#AllahMahaTahu

#enlightenedheart

#untukbahagia

MENERIMA

Beberapa waktu lalu, ada seorang teman yang bertanya. Gimana sih caranya supaya kita gak galau ketika sakit datang? Gimana sih supaya bisa tetap bahagia ketika sakit menghampiri?

Dulu, saya juga begitu. Ketika sakit datang, langsung Sang Galau menghampiri. Rasanya sedih dan kecewa karena harus grounded di rumah. Banyak hal yang terpaksa batal dilakukan. Kalaupun bisa, semua dilakukan tidak maksimal. Dan tentu saja badan rasanya gak karuan. Segera saja, saya mulai mengeluh  akan sakit itu.

Ketika merasakan kegalauan, kemudian tercermin dalam keluhan-keluhan; artinya kita belum menerima dengan sepenuh hati apa yang sedang terjadi. Termasuk pada saat sakit.

Kalau saja kita mau menerima dengan sepenuh hati, tentunya kegalauan tak kan datang. Dan bahagia tetap kita rasakan.

“Kalau sakitnya ringan dan hanya sebentar saja sih, bisa lah menerima. Tapi kalau sakitnya parah dan lama. Atau membaik tapi tidak tuntas, jadi kambuuuhh melulu. Padahal ikhtiar untuk sembuh sudah dilakukan, sampai bosan. Lama-lama kesal juga deh…”

So, intinya kita perlu “belajar” untuk menerima. Siapa yang belajar? Hati. Karena yang merasakan sedih, kecewa, kesal, dan galau kan hati.

“Okayyy, tapi… gimana caranya?”

Coba deh, pada saat kita mendapatkan apa yang kita sangat kita inginkan, seperti apa rasanya? Lega, tenang, senang dan gembira kan?

Apakah kita sangat menginginkan surga? Apakah kita sangat menginginkan bahagia tidak hanya di dunia tapi di akhirat kelak?

Kalau iya, rasakan sepenuh hati bagaimana saat kita sudah berada di sana. Hirup dan nikmati udara kebahagiaan di dalamnya. Tak ada sama sekali kegalauan dan kesengsaraan yang menimpa.

Sudah? Nah, maukah hal itu kita rasakan selalu?

“Memang bisa?”

Bisa. Taati Allah. Karena hanya Allah yang tahu bagaimana semua rasa itu bisa kita dapatkan. Dan Allah hanya inginkan kita merasakan itu saja, saking sayangnya Dia kepada kita. Tak mungkin Allah memberikan sesuatu yang membuat kita sengsara. Pasti ada “keuntungan” bagi kita di belakangnya. Termasuk sakit.

Salah satu taat itu adalah menerima dengan sepenuh hati (ikhlas) pada saat kita sakit. Dan bukankah Allah juga sudah berjanji, bahwa sakit itu adalah penggugur dosa? Inilah “keuntungan” di belakang peristiwa sakit. Siapa yang tak mau dosa-dosanya diampuni? Gak ada deh kayaknya. Bukankah kita sering berdoa agar dosa-dosa diampuni? Allah juga Maha Suci, tak mungkin ingkar janji. Semua itu pasti akan terjadi.

Lantas apakah ganjarannya kalau kita taat atau dengan kata lain bertakwa? Ya surga-Nya seperti yang tertulis dalam surat pilihan #insightQuran kali ini, surat Maryam ayat 63.

Jadi ketika sakit, biasanya saya bilang: “Silakan Allah, saya terima sakit ini sepenuh hati. Yang penting saya bisa selalu taat pada-Mu.” Dan… nyeeessss… hati ini jadi tenang rasanya.

Gak percaya? Coba aja!

#selfreminder

#sakit

#taat

#enlightenedheart

SURGA

SURGA

Siapa sih yang tak inginkan surga? Sepertinya hampir semua orang inginkan itu. Hal ini tercermin dari seringnya kita berdoa “robbanaa aatinaa fii dunya hasanah, wa fil aakhiroti hasanah waqinaa adzaabannaar”.

Tapi sadarkah kita bahwa surga itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang beriman dan beramal saleh saja? Atau dengan kata lain mereka yang taat kepada Allah saja. Termasuk pada saat kita mengalami ketidaknyamanan. Ini sudah menjadi janji Allah yang tercantum di ayat terpilih #insightQuran Jumat ini, surat An-Nisaa’ ayat 122.

Beberapa waktu lalu ada teman yang curhat. Dia merasa berat dalam menjalani hidup ini. Berbagai ketidaknyamanan tak henti mendatanginya.

Rupanya dia lupa bahwa saat ini sedang berada di dunia. Dunia tempatnya kita diuji melalui berbagai ketidaknyamanan.

Tapi sesungguhnya, ketidaknyamanan itu untuk kebaikan kita. Melalui ketidaknyamanan itulah kita jadi tidak terlena.

Coba saja perhatikan, pada saat kapan kita banyak berdoa dan mengingat Allah. Apakah ketika sedang mengalami ketidaknyamanan atau kenyamanan? Bahkanpada saat kita mengeluh kepada Allah, itu artinya kita sedang mengingat-Nya

Dengan banyak berdoa dan mengingat Allah memperbesar jalan kita untuk taat. Yang artinya memperbesar kita untuk mencapai surga-Nya.

Kalau begitu semestinya kita bersyukur dengan ketidaknyamanan yang dialami. Karena saat itu Allah sedang membuka jalan kita untuk taat.

Tinggal kitanya saja yang memilih menjadi taat dengan bersabar, ikhlas, dan berserah diri; atau sebaliknya. Semua ada di tangan kita. Jika memilih untuk taat maka surga yang diinginkan akan dapat kita raih, sesuai dengan janji Allah.

#surga

#taat

#janjiAllah

#enlightenedheart