“BERBISNIS” DENGAN-NYA

Beberapa waktu lalu saya terpaku dengan postingan salah seorang sahabat jiwa yang mampir di timeline FB saya yang isinya kira-kira seperti ini: Sudah pernah menemukan belum promo big sale buy one get 10, atau super-super big sale buy one get 700? Berbisnis dengan siapa bisa begini? Kalau ada, mau gak?

MasyaAllah! Seperti ada yang menampar pipi ini. Apalagi ketika komen saya dibalasnya kira-kira seperti ini: Padahal kalau ada promo buy one get one free aja di mal-mal atau supermarket, yang artinya cuma dapat 2, dikejar-kejar. Semakin keras tamparannya terasa. Begitu tertamparnya saya sehingga saya memutuskan untuk memilih surat Al-An’am ayat 160 untuk #insightQuran di Jumat ini.

Dan ayat terpilih ini diperkuat juga oleh satu hadis di bawah ini:

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Jika hamba-Ku bertekad melakukan kejelekan, janganlah dicatat hingga ia melakukannya. Jika ia melakukan kejelekan tersebut, maka catatlah satu kejelekan yang semisal. Jika ia meninggalkan kejelekan tersebut karena-Ku, maka catatlah satu kebaikan untuknya. Jika ia bertekad melakukan satu kebaikan, maka catatlah untuknya satu kebaikan. Jika ia melakukan kebaikan tersebut, maka catatlah baginya sepuluh kebaikan yang semisal hingga 700 kali lipat.” (HR. Bukhari no. 7062 dan Muslim no. 129).

Kita (atau saya mungkin ya, yang lain mah enggak 😔) sering lupa atau mungkin hati ini belum mampu untuk “melihat dengan jelas” promo spektakuler itu. Saya pun sering membiarkan kesempatan berharga itu berlalu begitu saja. Duh! Bangun Leny! Katanya ingin DBAS (Dunia Bahagia Akhirat Surga), tapi ada promo besar-besaran super duper keren gini, dicuekin.

Padahal promo but one get one free itu hanya sedikit dan bermanfaat buat kita hanya di dunia. Sementara promo besar-besaran dari Allah itu selain jauh lebih banyak jumlahnya, tidak hanya di dunia manfaatnya terasa tapi juga sampai di akhirat kelak. MasyaAllah!

Untunglah promo itu masih terus berlangsung sampai akhir zaman. So, jangan tunda-tunda lagi, yuk berbuat baik untuk siapa saja! Karena semua itu akan kembali kepada kita. Ternyata berbuat baik tidak hanya menguntungkan orang lain yang kita beri kebaikan, melainkan untuk diri kita sendiri dan bahkan berlipat ganda jumlahnya.

Thanks to sahabat jiwa Teh Tia Soenardi untuk remindernya yang jleb banget ini 🙏.

 

#oneweekonepost
#wifiregionbandung
#berbagikebaikan
#enlightenedheart

POSITIVE QUESTIONS

Ketika ada seseorang yang curhat atau melihat seseorang yang dekat dengan kita tidak segera menyelesaikan pekerjaannya, maka biasanya otomatis kita akan bertanya “apa sih kesulitan/kendalanya?” Tentu saja kita bermaksud baik karena siapa tahu bisa membantunya setelah menjawab pertanyaan itu.

Sayangnya kita tidak menyadari pada saat kita memilih kata “kesulitan” atau “kendala” untuk diucapkan maka perasaannya, dan juga kita, cenderung menjadi negatif. Dan mungkin dengan rasa lelah, sedih, nyaris putus asa, jengkel, dan kesal; dia pun kemudian menceritakan “kesulitan-kesulitan”nya itu.

Terbayang pada saat dia bercerita perasaan-perasaan negatif itu semakin kuat menguasai hati. Dan biasanya kemudian dia dan kita jadi terfokus pada “kesulitan-kesulitan itu” bukan kepada solusi.

Saya jadi mengerti kenapa di pelatihan privat coaching dari Kandela Institute yang saya ikuti beberapa hari lalu, pemateri Coach Fauzi Rachmanto mensyaratkan untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan positif kepada coachee. Bagaimana bisa sang coachee menemukan solusinya kalau karena pertanyaan kita, sang coach, dia jadi hanya terfokus pada “kesulitan-kesulitan” yang dihadapi. Padahal seorang coach hanya bertugas membantu sang coachee untuk menemukan dan kemudian menerapkan sendiri solusi dari tantangan-tantangan yang sedang dihadapinya. Bukan memberitahukannya.

Jadi pertanyaan apa dong yang bisa kita lontarkan? Coba kita ajak dia untuk menemukan sebetulnya apa sih yang saat itu ingin dia raih dengan bertanya misalnya “apa sih yang ingin dicapai dalam satu tahun ini?” Maka dia akan terfokus kepada tujuan yang akan diraih tersebut bukan kesulitan-kesulitannya. Suasana hati lebih nyaman karena perasaan-perasaan positiflah yang cenderung muncul di hati.

Lantas selanjutnya apa? Kita bisa melontarkan pertanyaan dengan menggunakan cara scalling: “Jika dilihat dari skala satu sampai sepuluh, dimana sepuluh adalah tujuan tersebut sudah tercapai; maka saat ini anda sudah berada di angka berapa?” Dan dia akan menjawab berdasarkan ukuran tersebut. Sehingga kita tahu bahwa dia sedang menghadapi sesuatu yang cukup menantang ketika dia menyebutkan angka berada di sekitar angka 5 misalnya.

Gimana? Lebih enak kan rasanya? Kenapa coba? Ya betul, karena perasaan-perasaan positiflah yang hadir pada saat itu.

Hal itu juga yang sedang saya ikhtiarkan sekarang ini setiap kali berkomunikasi dengan orang lain. Memang perlu dibiasakan dengan banyak-banyak berlatih. Salah satunya adalah ketika saya diberi kesempatan sharing pengalaman menulis di salah satu kampus di Bandung kemarin.

Saya coba untuk menerapkannya dengan melontarkan positive questions setiap kali bertanya kepada audience. Saya perhatikan wajah-wajah audience terlihat cerah dan cukup bersemangat ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Terima kasih Kak Jee Luvina dan NulisYuk yang sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk berlatih menerapkan positive questions ini. Senang sekali bisa berbagi pengalaman menulis dan bertemu dengan calon-calon penulis hebat yang penuh semangat.
.
.
#coachlife
#positivequestions
#sharingkepenulisan
#STBABandung
#kandelainstitute
#nulisyuk

POHON SIKAP/PERILAKU Part 1

Allah menciptakan alam ini tidak sekadar agar alam ini berputar dan berjalan dengan baik dan seimbang. Tetapi ternyata Dia menciptakan berbagai tumbuhan dan binatang juga untuk kita ambil pelajaran darinya.

Contohnya di dalam Alquran beberapa binatang dijadikan contoh untuk diambil pelajaran dari tingkah laku binantang tersebut. Misalnya lebah, binatang ternak, unta, burung gagak, laba-laba, dan semut.

Selain binatang, dari tumbuh-tumbuhan juga kita bisa mengambil pelajaran. Salah satunya adalah dari keberadaan pohon di dunia ini.

Pada saat menanam pohon, tentunya kita mempunyai tujuan. Kalau menanam pohon buah-buahan kita ingin mendapatkan hasil buah-buah tersebut untuk dinikmati dengan cara memakannya. Sementara kalau menanam bunga-bungaan kita ingin mendapatkan hasil bunga-bunga tersebut untuk dinikmati keindahan dan keharumannya.

Tentunya kita menginginkan buah atau bunga yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik. Buahnya terasa manis dan segar, enak dan legit, serta besar-besar. Sementara kalau bunga terlihat berwarna warni, indah dipandang mata, dan harum baunya.

Untuk menghasilkan buah dan bunga seperti itu, pohon tersebut harus memiliki akar yang kuat karena akarlah tempat dimana bahan-bahan dasar penghasil buah dan bunga itu dikumpulkan. Akarlah yang mengambil bahan-bahan itu dari dalam tanah. Semakin kuat dan dalam akar menghunjam tanah, maka semakin banyak dan baik bahan yang didapatkan.

Untuk menghasilkan akar yang kuat, kita perlu memupuk pohon itu. Semakin baik dan rutin kita memberi pupuk maka semakin kuatlah tumbuhnya akar pohon itu.

Pelajaran apa yang bisa diambil dari pohon yang saya ceritakan ini?

Ternyata sikap atau perilaku kita itu sama dengan buah atau bunga yang kita harapkan tumbuh ketika kita menanam pohon tersebut. Sikap atau perilaku apa saja yang ingin kita miliki selama ini? Banyak. Sabar, ikhlas, ringan tangan, selalu tersenyum, memaafkan, berkata-kata yang baik, tidak bergunjing, dan lain-lain.

Nah apa langkah pertama yang harus dilakukan? Yaitu menanam pohonnya. Menanam? Seperti apa menanam pohon sabar, ikhlas, ringan tangan, dan sebagainya itu?

InsyaAllah dilanjut di postingan berikutnya ya 😊

#tafakur
#kemampuankalbu
#dbas
#enlightenedheart
#MTBandung

INSIGHT QURAN DAY 1

Ini adalah postingan saya di IG tadi malam. Tadinya tidak akan saya posting di sini. Tapi setelah saya baca lagi, karena tujuannya adalah untuk berbagi kebaikan, kenapa tidak? Siapa tahu ada yang berminat untuk melakukan hal sama. Yuk sama-sama kita berbagi kebaikan.

***

Hari pertama niat untuk posting #insightQuran baru bisa terlaksana mendekati tengah malam. Mata sudah 5 watt tapi tiba-tiba ada notifikasi IG dari Mas Rezky yang memposting day 2 #insightQuran nya. Jadi teringat janji saya di komen postingan day 1 dia untuk posting day 1 hari ini. So, let me try …

Hari ini Bandung diguyur hujan dua kali. Sekali di sore hari kemudian berhenti. Dan yang kedua di malam hari. Udara menjadi lebih sejuk dan suasana menjadi lebih rileks dan menenangkan. Siapa yang tidak suka dengan ketenangan? Rasanya jarang.

Hujan juga membuat kita terselamatkan dari kekeringan. Air untuk minum, mandi, dan mencuci berlimpah lagi. Tanaman sayur dan buah-buahan tumbuh subur. Lapangan rumput menghijau kembali menyediakan makanan bagi ternak untuk dimanfaatkan daging, susu, dan kotorannya. Dan salah satu waktu mustajab untuk berdoa. Pantas saja ada yang bilang hujan adalah rahmat.

Tapi kenapa sering kita mendengar orang mengeluh jika hujan turun? Jemuran jadi tidak kering. Perjalanan terganggu karena harus berteduh atau macet karena banjir. Badan meriang karena kehujanan. Rumah kebanjiran. Jadwal jd berantakan. Dsb.

Ternyata karena hanya orang yang “berpikir” sajalah yang mampu melihat besarnya rahmat Allah dari turunnya hujan. Sesuai yg tertulis di surat An-Nahl ayat 10 dan 11.

Kenapa saya sematkan tanda petik dlm kata “berpikir”? Karena aktivitas berpikir di sini bukanlah akal melainkan hati. Hanya hatilah yg mampu mencapai keberadaan rahmat Allah di kala turunnya hujan. Sehingga mereka yang menggunakan hatinya untuk berpikir itu tidak mengeluh ataupun mengomel melainkan bersyukur.

Saya mengajak teman-teman untuk berbagi kebaikan dengan posting tulisan seperti yang saya posting ini. Caranya pilih satu atau beberapa ayat dan maknai melalui tulisan. Jangan lupa pakai hashtag #insightQuran, kemudian mention. Lakukan selama 7 hari berturut-turut dan ajak teman-teman anda melakukan hal sama. Semoga kebaikan menjadi lebih menyebar dan kita terlibat di dalamnya. Dan semoga Allah ridho dengan apa yang kita lakukan ini. Aamiin …

#berbagikebaikan
#day1
#backtoquran
#annahl10
#annahl11

BERBAGI PERCIKAN KEBAIKAN

Saya percaya sebagian besar dari kita mempunyai mimpi-mimpi yang ingin dicapai. Dan awal tahun adalah waktu yang dianggap paling tepat untuk menentukan kembali apa mimpi-mimpi yang ingin dicapai itu.

(1) Sudahkah teman-teman menentukan kembali mimpinya untuk tahun ini? Apakah itu? (2) Sudah tahukah cara teman-teman untuk mencapainya? Bagaimanakah itu? (3) Bagaimana cara teman-teman untuk memastikan ikhtiar yang direncanakan untuk mencapai mimpi-mimpi itu bisa terlaksana dengan baik?

Well, saya sudah. Pertanyaan-pertanyaan itu sudah ada jawabannya. Dan itu saya temukan salah satunya ketika berproses untuk bergabung dalam program #25persons25dreams yang dicetuskan oleh mentor menulis keren saya Mas Rezky.

Saya kemudin diizinkan bergabung dalam program kebaikannya itu. Saya sekarang berada dalam #lingkaran kebaikan bersama orang-orang baik. Yang artinya saya akan (dan sekarang sudah mulai) dibantu untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya tahun ini. Tetapi dengan syarat saya harus membantu minimal 7 orang mewujudkan mimpi-mimpi mereka tahun ini. Saya sebut program saya ini dengan #percikankebaikan.

Jadi, jika diantara teman-teman ada yang sudah mulai menemukan jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas, dan ingin dibantu untuk mewujudkannya; silakan bergabung dalam program #percikankebaikan. Dm saya jawaban-jawaban dari 3 pertanyaan di atas. Saya akan lihat apakah saya mampu untuk membantu teman-teman mewujudkan itu.

Tapi saya hanya bisa membantu mereka yang mau dibantu. Dan saya tidak menjamin teman-teman yang lolos nanti pasti terwujud impiannya. Semua kembali kepada diri masing-masing dan pengaturan Dia Yang Maha Tahu tentunya.

Namun ikhtiar tetap harus dilakukan. Dan ikhtiar lebih enak dilakukan jika tidak sendirian. So, saya tunggu dm nya untuk kita ikhtiarkan bersama.

#percikankebaikan
#lingkarankebaikan
#membantuwujudkanimpian
#7orangterpilih
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#100dayswritingchallenge2
#day31

MENULIS UNTUK BAHAGIA

MENULIS UNTUK BAHAGIA

Menulis adalah aktivitas yang sekarang ini sedang saya sukai, bahkan saya nikmati. Apakah karena saya selalu mudah menemukan ide dan menuangkannya menjadi tulisan yang enak dibaca? Ternyata bukan itu alasannya. Saya kadang masih merasa kesulitan menemukan ide yang menarik untuk ditulis dan lebih sering lagi merasa kesulitan menuangkan ide tersebut menjadi tulisan.

Rasa suka dan nikmat saya terhadap menulis ini belumlah lama. Baru terjadi sekitar 6 bulan belakangan ini. Saat itu saya sedang mulai mengalami perubahan rasa dalam memandang kehidupan ini. Kehidupan yang tadinya terasa sering membebani menjadi terasa lebih ringan. Hati terasa lebih tenang dan tenteram. Rasa sedih, khawatir, dan gelisah semakin jarang menghampiri.

Saya menyebutnya sebagai rasa bahagia. Dan ternyata rasa itu adalah rasa yang selalu saya ingin rasakan selama hidup di dunia ini bahkan juga ketika saya berada di kehidupan selanjutnya kelak. Atau dengan kata lain, dia adalah tujuan hidup hakiki saya yaitu bahagia di dunia dan akhirat.

Tentu saja hal itu tidak terjadi begitu saja. Ada sesuatu yang harus saya lakukan agar tujuan tersebut tercapai. Apa itu? Yaitu selalu taat kepada Sang Pencipta. Kenapa? Karena Sang Pencipta yang sedemikian sayang kepada kita, manusia, tidak membiarkan kita begitu saja hidup di dunia yang penuh godaan ini. Dia memberikan panduan agar kita selamat dari godaan-godaan tersebut. Jika kita taat kepada panduan tersebut maka bahagia di dunia akhirat akan tercapai.

Saya tidak ingin menghabiskan waktu sia-sia. Karena waktu yang saya miliki untuk hidup di dunia ini sangat terbatas. Jika mungkin seluruh waktu saya diisi dengan ketaatan kepada-Nya. Termasuk ketika saya sedang bermedia sosial. Sehingga saya memutuskan untuk menjadikan media sosial itu tempat saya menyampaikan kebaikan dan mengajak berbuat baik melalui tulisan. Itulah awal saya mulai suka dan menikmati menulis.

Saya ingin kebaikan yang saya sampaikan itu bisa tersampaikan kepada lebih banyak orang. Karena saya ingin semakin banyak orang yang bisa merasakan bahagia yang seperti saya rasakan sekarang ini. Untuk itulah saya kemudian mulai mengikuti kelas-kelas menulis online. Dengan harapan saya bisa semakin mudah membuat tulisan yang bagus dan enak dibaca, sehingga lebih banyak orang yang mau membaca tulisan saya.

Pada saat mengikuti kelas menulis online itulah saya mulai memiliki keinginan untuk menyampaikan kebaikan dan mengajak kebaikan dengan menulis buku. Terinspirasi juga oleh mereka yang sudah mampu menghasilkan buku yang berpengaruh terhadap pembacanya. Saya membayangkan melalui buku akan lebih banyak orang yang bisa menikmati dan mudah-mudahan tersentuh hatinya untuk berbuat baik, sehingga lebih banyak lagi orang yang bisa merasakan bahagia seperti yang saya rasakan. InsyaAllah …

  1. #KMOIndonesia
    #KMObatch12
    #KMOgroup09
    #lenypuspadewi
    #lenymenulis
    #menulisuntukbahagia
    #inginmenjadibaik
    #enlightenedheart

TAK CUKUP HANYA BERTEKAD

Seberapa sering kita bertekad untuk melakukan sesuatu? Dan seberapa sering juga apa yang kita tekadkan itu tidak tercapai?

Tiga bulan yang lalu mungkin ada yang bertekad seperti ini: 👇

Saya bertekad untuk berpakaikan lebih syar’i dengan selalu menggunakan kaos kaki …

Saya bertekad untuk melakukan sholat 5 waktu lebih awal (tidak di akhir waktu) …

Saya bertekad untuk bersabar dengan tidak mengomeli anak ketika mereka berulah …

Saya bertekad untuk bersabar dan ikhlas ketika sakit dengan tidak mengeluh …

Saya bertekad untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan ikhlas tanpa mengeluh dan kesal jika bertumpuk dan tidak ada yang membantu …

Saya bertekad untuk mencari nafkah yang halal bagi keluarga …

Saya bertekad untuk meninggalkan riba …

Saya bertekad untuk hanya membagikan kebaikan di postingan medsos saya …

Saya bertekad untuk mengubah pola makan menjadi lebih sehat …

Saya bertekad untuk menyelesaikan skripisi/tesis/disertasi saya dalam 3 bulan ini …

Saya bertekad untuk menyelesaikan naskah buku saya dalam waktu 1 bulan …

Yuk, cek apakah tekad kita itu berhasil?

Apakah ada tapi hanya sedikit, banyak tidak berhasilnya? Atau bahkan tidak ada yang tercapai sama sekali? Kenapa ya? Padahal kita sudah bertekad, lho.

Ternyata itu artinya kita belum yakin dengan tujuan dari apa yang kita tekadkan itu. Kita belum yakin kenapa kita perlu berpakaian lebih syar’i. Kita belum yakin kenapa kita perlu bersabar dalam menghadapi anak. Kita belum yakin kepada kita perlu meninggalkan riba. Kita belum yakin kenapa kita perlu menyelesaikan naskah buku kita.

Bahkan mungkin kita belum tahu kenapa kita perlu melakukan itu semua. Sehingga tidak ada pendorong yang kuat untuk mencapai itu semua.

“Tapi kenapa perlu yakin? Saya sudah tahu kok kenapa saya perlu melakukan itu semua.”

Yakin artinya apa yang kita tahu itu sudah tertanam di hati. Dan hanya hatilah yang mampu membuat kita bergerak melakukan sesuatu sesuai dengan keyakinan yang ada di hati kita itu. Setelah yakin, apapun akan kita lakukan untuk meraih tekad itu.

Mau semua tekad itu tercapai? Yuk temukan untuk apa kita perlu melakukan tekad kita itu. setelah ketemu, jadikan keyakinan di hati dengan cara merenung dan merasa-rasakannya.

Catatan: Tulisan ini terinspirasi oleh postingan Mba Inca Restu kemarin berdasarkan tulisan PakPermadi Alibasyahh di permadialibasyah.com. Terima kasih sahabat-sahabat jiwa ❤️.

#selfreminder
#tidakcukuphanyabertekad
#tujuan
#keyakinan
#hati
#merenung
#merasarasakan
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#berbagikebaikan
#enlightenedheart
#100dayswritingchallenge2
#day18

PERCIKAN KEBAIKAN

Kadang-kadang kita merasa kurang baik, kurang pintar, atau kurang mampu dibandingkan orang lain dalam banyak hal. Dan hal itu membuat kita jadi sungkan untuk berbuat baik kepada orang lain. Minder kata lainnya. Kita jadi terdiam, tidak melakukan apa-apa.

Tapi tau tidak, tanpa kita sadari bahkan kebaikan kecilpun ternyata bisa berefek besar. Saya pernah menonton iklan (saya lupa iklan apa itu) yang menceritakan kebaikan berantai. Ketika seseorang, sebut saja A membantu orang lain dengan kebaikan kecil (memberikan makanan kalau ga salah, lupa juga saya), sebut saja B; B kemudian terdorong untuk membantu orang yang lain lagi, sebut saja C. Berhenti di situ? Ternyata tidak. C pun kemudian terdorong untuk membantu orang lain, sebut saja D; dan begitu seterusnya. Sehingga menyebarlah kebaikan ke banyak orang yang berasal dari 1 kebaikan kecil saja.

Itu kalau kita hanya memberikan kebaikan kepada satu orang. Bagaimana kalau kita memberikan kebaikan kepada lebih banyak orang? Tentunya kebaikan akan semakin menyebar ke banyak orang.

Itu jugalah yang sekarang sedang saya ikhtiarkan, berbagi kebaikan kepada orang lain. Mungkin hanya kebaikan kecil, tapi jika menyebar ke banyak orang, maka bukan hal mustahil menghasilkan hal yang besar.

Ikhtiar seperti apa? Tunggu tanggal mainnya, insyaAllah akan saya paparkan di sini proyek #percikankebaikan.

O iya, ini bukan ide saya sebetulnya. Melainkan saya diajak untuk melakukan ini oleh seseorang yang usianya jauh lebih muda dari saya. Saya terkesan dengan ide-ide kebaikannya. Jadi ketika dia mengeluarkan proyek #25persons25dreams, saya mengajukan diri untuk bergabung.

Tertarik untuk bergabung juga? Silakan cek di IG @rezky_passionwriter dan bergabunglah dalam #lingkarankebaikan.

#percikankebaikan
#kebaikanyangmenyebar
#lingkarankebaikan
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#kandelainstitute
#100dayswritingchallenge2
#day19

MENULIS DENGAN MELIBATKAN HATI

Sering saya membaca quotes menulis dan judul tulisan yang isinya mengajak kita untuk menulis dengan melibatkan hati. Walaupun temanya sama, namun pemaparan yang diberikan berbeda-beda. Ada yang berpendapat menulis dengan melibatkan hati adalah menghadirkan Allah dalam tulisan.

Ada yang berpendapat menulislah sesuai hati nurani, sesuai yang dirasakan saat itu, dengan gaya bahasa kita sendiri. Dan ada juga yang berpendapat bahwa menulis itu harus memberikan manfaat kepada pembaca sehingga penulis perlu memposisikan dirinya sebagai pembaca tidak hanya sebagai dirinya sendiri.

Saya setuju bahwa menulis memang perlu melibatkan hati. Bahkan hati dilibatkan tidak hanya di dalam tulisan kita atau pada saat kita menulis. Tetapi juga melibatkan hati agar kita bisa tetap konsisten dan selalu on fire menulis.

Memang bisa?

Justru hanya dengan melibatkan hatilah maka semangat untuk menulis itu akan tetap menyala. Ketika saya launching buku solo pertama, banyak yang bertanya,” Kok bisa sih launching buku tepat waktu?” dan “Gimana sih caranya supaya saya bisa segera menyelesaikan buku saya?”

Saya jawab begini: “Ga sulit kok sebetulnya. Kamu tinggal merasa-rasakan bagaimana perasaan kamu ketika buku itu sudah jadi, atau ketika buku itu menjadi best seller, atau ketika banyak orang terinspirasi oleh bukumu, misalnya. Rasakan juga bagaimana respon orang-orang di sekitarmu ketika bukumu sudah jadi.”

Merasa-rasakan artinya melibatkan hati di dalamnya. Pada saat kita sudah mendapatkan perasaan yang luar biasa itu, maka apapun akan kita lakukan agar naskah buku kita segera selesai dan terbit.

Ga percaya?

Ya, kalau belum mencoba pasti tidak akan percaya. So, coba lakukan deh cara di atas yaitu melibatkan rasa atau hati agar kita selalu on fire pada saat menulis (buku).

#tentangmenulis
#gandrungmenulis
#semangatmenulis
#konsistenmenulis
#libatkanhati
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#100dayswritingchallenge2
#day23
#enlightenedheart