MENJADI PEKERJA TELADAN DAN PEBISNIS HANDAL

Radyan tersenyum lega ketika keluar dari ruangan itu. Baru saja atasannya menyetujui ajuan materi untuk proyek pelatihan yang menjadi tanggung jawabnya dan harus segera dimulai 2 hari lagi. Rasa syukur pun hadir di hatinya.

Itu adalah kali ke 5 setelah 4 ajuan sebelumnya ditolak oleh atasannya. Selama itu pula Radyan terus dengan semangat berusaha memperbaiki ajuannya. Dia ingat untuk tetap tersenyum, bersyukur, dan merasa-rasakan tujuan hidup ketika rasa kecewa dan kesal mulai mengintip ke dalam hatinya.

Dulu sebelum Radyan melakukan ikhtiar untuk bisa tetap merasa tenang dan beruntung, hari-hari dilaluinya dengan ditemani kemurungan dan kelelahan. Khawatir dan gelisah menjadi hal yang biasa dirasakannya.

Hubungan dengan atasan dan teman-teman di kantor terasa tidak nyaman. Bahkan suasana di rumah pun ikut tegang. Mengomel kepada istri dan anak menjadi kebiasaan. Dan badan pun jadi terasa tidak fit. Semua berdampak kepada hasil pekerjaannya yang semakin jauh dari harapan.

Tapi bahkan jika berhasil pun, jiwanya tetap tidak tenang. Tentunya bukan hidup yang seperti itu yang dia dan kebanyakan dari kita inginkan. Kita ingin hidup yang berkualitas. Tidak hanya berhasil dalam kerja dan bisnis melainkan juga ketenangan jiwa.

Apa yang kemudian dialami sekarang membuat Radyan takjub. Semenjak dia berusaha untuk selalu menghadirkan rasa syukur, memaafkan, tersenyum, dan memegang erat tujuan hidupnya; hari-hari dilalui dengan lebih tenang dan santai. Hubungan dengan atasan dan teman kerjanya menjadi selalu terasa nyaman. Rumahnya terasa sangat menyenangkan. Menikmati kebersamaan penuh canda tawa bersama dengan istri dan anak menjadi kebiasaan. Dan badan pun terasa jauh lebih fit. Pekerjaan di kantor terasa lebih mudah diselesaikan dan hasilnya cukup memuaskan.

Hal yang sama dialami Finda. Walaupun bisnisnya masih belum berjalan sesuai yang diharapkan, tapi semenjak dia berikhtar untuk selalu menghadirkan rasa syukur dan senang; ketenangan dan kelegaan lebih sering menemani hari-harinya dalam berbisnis.

Ide dan rencana-rencana aksi lebih mudah mengalir keluar ketika dibutuhkan untuk mengatasi berbagai permasalahan bisnisnya yang sedang turun. Sebagian rencana sudah mulai dijalankan dan hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Ada juga rencana yang tidak berjalan sesuai harapan, namun Finda menyikapinya dengan tenang dan santai. Sehingga tidak terlalu mengganggu berjalannya rencana lainnya.

Hubungan dengan karyawan dan partner juga semakin nyaman. Dan kesehatannya yang sempat terganggu karena stres memikirkan bisnisnya, sekarang sudah jauh lebih baik. Semua karena rasa positif lebih sering menguasai hati Finda.

Bagi saya Radyan adalah pekerja teladan dan Finda adalah pebisnis handal. Saya percaya mereka bisa terus mengalami kehidupan yang berkualitas selama ikhtiar untuk memupuk perasaan-perasaan positif itu tetap dilakukan.

Apakah kita tidak ingin seperti Radyan dan Finda? Jika ya, anda sudah tahu apa yang harus dilakukan.

#sarapankata
#day30
#kmoindonesia
#kmobatch12
#pekerjateladan
#pebisnishandal
#memupukperasaanpositif
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day58

 

CARA KERJA KE 5 SOLUSI

5 hari terakhir kita sudah membahas tentang cara-cara untuk memupuk perasaan-perasaan positif dan menghilangkan perasaan-perasaan negatif dari dalam hati. Perasaan-perasaan positif yang sangat kita butuhkan untuk meraih hidup yang berkualitas yaitu hidup yang selalu bahagia. Hidup yang hanya merasakan ketenangan dan ketenteraman tanpa ada rasa sedih, kecewa, khawatir, gelisah, kesal, dan marah.

Ke 5 cara atau solusi tersebut adalah:
1. Tersenyum
2. Memaafkan
3. Selalu merasa beruntung
4. Alasan emosional, dan
5. Memegang erat tujuan hidup

Urutan penyajian dituliskan berdasarkan tingkat kesulitan dalam melakukannya. Semakin besar nomornya semakin sulit kita melakukannya, namun cara itu semakin mampu mengatasi persoalan yang semakin berat. Dan jika kita sudah mampu melakukan cara ke 5 dengan baik, maka tanpa harus berusaha keras ke 4 cara sebelumnya bisa kita lakukan. Jika kita sudah mampu melakukan cara ke 4 maka 3 cara sebelumnya bisa dilakukan tanpa usaha yang berarti. Begitu seterusnya.

Jika ingin lebih cepat meraih hidup yang berkualitas, bisa saja kita langsung melakukan cara ke 5. Memang perjuangan melakukan cara ke 5 ini cukup berat karena membutuhkan proses yang lebih lama, selain tentu saja kita harus memiliki tujuan hidup yang sudah ditentukan sebelumnya.

Namun saya tetap menyarankan dimulai dari cara pertama karena cara ini paling mudah dilakukan. Rasa yang ingin kita peroleh yaitu perasan-perasaan positif segera bisa dirasakan setelah tersenyum dilakukan. Membuat kita jadi punya harapan dan semangat untuk terus berikhtiar memupuk perasaan-perasaan tersebut.

Yang perlu diperhatikan adalah ketika kita sudah mampu melakukan cara pertama, cobalah naik kelas ke cara kedua. Begitu seterusnya. Memang bisa jadi kita kemudian terdorong untuk melakukan cara selanjutnya karena cara yang sudah bisa kita lakukan ternyata tidak mampu lagi menghalau perasaan-perasaan negatif dari hati. Namun kadang kita merasa nyaman hanya di satu cara saja, misalnya di cara pertama. Karena hanya dengan tersenyum kita sudah merasa bisa lebih sering merasakan perasaan-perasaan positif di hati.

Jangan lupa bukan hanya sebatas lebih sering kan keinginan kita? Melainkan selalu merasakan perasaan-perasaan positif tersebut. Dan cara tersenyum terbatas dalam menghalau perasaan-perasaan negatif yang ada ketika peristiwa tidak nyaman datang. Semakin berat peristiwanya maka akan semakin sulit cara tersenyum mengatasinya.

Jadi yuk usahakan naik kelas dengan melakukan cara-cara selanjutnya agar perasaan-perasaan positif selalu kita rasakan.

#sarapankata
#day29
#kmoindonesia
#kmobatch12
#carakerja5solusi
#memupukperasaanpositif
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day57

MEMEGANG ERAT TUJUAN HIDUP

Tujuan hidup itu penting, bahkan sangat penting. Tidak jarang saya mendengar kata-kata itu dari seseorang yang hasil olah hatinya mempengaruhi hidup saya. Dulu ketika di awal-awal beliau mengatakannya, saya mengangguk-angguk seolah setuju dengannya. Tetapi sesungguhnya hati saya bertanya-tanya, apa iya ya? Kenapa kok sangat penting?

Kita sudah pernah membahas masalah ini sebelumnya. Bahwa jika tujuan hidup kita untuk kebaikan tidak hanya diri kita sendiri tetapi juga orang lain maka hal-hal baiklah yang akan masuk ke dalam hati kita. Kita tidak mau mencoba memasukkan hal-hal buruk karena sadar bahwa itu akan membuat tujuan hidup kita tidak tercapai. Sementara jika tujuan hidup kita hanya untuk memuaskan ego diri sendiri tanpa mempedulikan hal lain, maka akan banyak hal-hal buruk yang masuk ke dalam hati kita.

Jadi sangat penting memiliki tujuan hidup ketika kita ingin memupuk perasaan-perasaan positif dan menghilangkan perasaan-perasaan negatif yang ada di hati kita. Dan tujuan hidup itu bisa membuat kita tidak putus asa melainkan terus bersemangat untuk selalu menghadirkan perasaan-perasaan positif dan meninggalkan perasaan-perasaan negatif tersebut. Sehingga semua sikap dan perilaku kita mengarah ke sana.

Ah, tapi saya kok masih sering merasakan perasaan-perasaan negatif itu walaupun sudah memiliki tujuan hidup yang disarankan. Kenapa ya?

Well, seperti yang sudah pernah kita bahas juga di sini, bahwa hanya memiliki tujuan hidup yang sesuai itu belum cukup. Jika kita tidak yakin dengan atau memegang erat tujuan hidup kita yang penuh kebaikan, maka kita tetap tidak mampu mencegah masuknya hal-hal buruk ke dalam hati kita. Jadi hanya dengan memegang erat tujuan hidup itulah maka perasaan-perasaan negatif bisa kita halau dari hati dan perasaan-perasaan positif semakin menguasai hati kita.

Lantas bagaimana caranya supaya kita bisa memegang erat tujuan hidup kita? Mudah. Setiap kali perasaan-perasaan negatif itu mulai muncul, coba segera rasakan ketika tujuan hidup kita sudah tercapai. Rasakan sepenuh hati semua perasaan yang muncul pada saat itu. Jika memang yang terasa adalah kesenangan dan kepuasan yang menggebu, rasakan sepenuh hati. Atau rasa lega dan nikmat yang sangat menenangkan, rasakan sepenuh hati. Sehingga perasaan-perasaan itu menguasai hati kita dan kita hanya inginkan rasa itu saja yang ada di hati. Terhalaulah sudah perasaan-perasan negatif dari hati kita.

Apa betul? Silakan dicoba. Karena hanya dengan mencobanya kita tahu jawabannya.

#sarapankata
#day28
#kmoindonesia
#kmobatch12
#memegangerattujuanhidup
#memupukperasaanpositif
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day56

ALASAN EMOSIONAL

Cara lain untuk memupuk perasaan-perasaan positif adalah dengan menemukan alasan emosional. Seperti apakah itu? Yuk kita simak cerita di bawah ini.

Pada saat melihat ibu atau ayah kita, atau keduanya, yang sekarang tampak semakin tua dan lemah, atau bahkan mungkin sedang berjuang untuk kesembuhan sakitnya yang cukup parah; apa yang terasa? Apakah rasa sedih karena belum mampu membalas jasa-jasa mereka terhadap kita? Ataukah merasa menyesal karena selama ini terlalu disibukkan oleh pekerjaan atau bisnis dan keluarga kecil kita sehingga mereka terbengkalai tidak mendapatkan perhatian yang cukup?

Kemudian kita teringat akan perjuangan mereka melahirkan dan membesarkan kita dengan penuh kasih sayang. Terasa begitu besar kasih sayang mereka kepada kita. Apalagi ketika kita sudah mempunyai anak. Bagaimana perasaan kita terhadap anak kita, maka seperti itu jugalah perasaan mereka terhadap kita.

Saya teringat perjuangan ketika hamil terutama di 3 bulan pertama dengan morning sicknya. Juga 2 bulan terakhir ketika kehamilan sudah membesar. Membawa beban perut yang semakin berat, bukan hanya cepat lelah ketika berjalan lama dan sering sakit pinggang bagian belakang, tetapi juga ketidaknyaman ketika tidur. Serba salah menentukan tidur dalam posisi apa. Telentang terasa agak sesak nafas. Miring ke kiri atau kanan, jika terlalu lama juga terasa pegal. Apalagi ketika kontraksi mulai terasa sering datang.

Tetapi saya juga ingat, semua itu tidak terasa berat karena menyadari bahwa ada sesuatu yang kehadirannya sangat diharapkan di perut saya. Seorang anak.

Rasa sakit dan tidak nyaman ketika melahirkan menambah daftar perjuangan itu. Bagaimana sakitnya perut yang semakin lama semakin menjadi ketika persalinan semakin dekat. Dan tenaga yang dikeluarkan pada saat persalinan juga tidak sedikit. Tetapi semua itu hilang ketika terpandang anak yang didamba ada di pelukan.

Selesaikah perjuangan seorang ibu? Belum. Hari-hari selanjutnya direpotkan oleh tingkah sang bayi yang memang sedang membutuhkan banyak perhatian. Kurang tidur, telat makan, badan tidak terperhatikan adalah beberapa hal yang menemani hari-hari kita dengan bayi sampai usia 2 tahun ketika waktunya disapih.

Setelah itu, perjuangan dan kasih sayang ibu terus berlanjut seperti iuga kasih sayang dan perjuangan ayah. Bagaimana ayah berjuang untuk memberikan segala sesuatunya yang terbaik untuk kita. Makanan, baju, rumah, sekolah, hiburan terbaik untuk kita. Selalu berusaha menyenangkan dan mengabulkan keinginan kita.

Kasih sayang mereka tidak berhenti hingga kita dewasa dan berumah tangga. Saya ingat bagaimana khawatirnya mereka ketika saya sakit. Mereka sering berkunjung sambil membawakan makanan kesukaan saya. Dan yang pasti doa mereka tidak pernah putus setiap harinya untuk kita, seperti juga doa kita kepada anak-anak kita.

Ah, ternyata saya sangat menyayangi mereka. Saya ingin membuat mereka bahagia tidak hanya ketika mereka masih ada tetapi juga setelah meninggal dunia. Saya ingin mengajak mereka untuk semakin taat pada-Nya agar apa yang kuinginkan itu tercapai. Tapi itu sulit karena kemampuan saya hanya sebatas mengajak sementara menjadi taat ditentukan oleh diri mereka sendiri. Saya tidak bisa mengendalikan mereka untuk mau taat.

Ada satu cara lagi yang bisa saya lakukan yang bisa saya kendalikan. Yaitu menjadi anak perempuannya yang salihah. Dengan menjadi salihah saya bisa membantu mereka untuk mendapatkan amal saleh ketika nanti mereka sudah tiada. Pahala tetap mengalir untuk mereka atas doa yang saya panjatkan kepada Allah bagi mereka.

Untuk menjadi anak salihah artinya saya butuh untuk selalu taat kepada Allah. Taat kepada Allah tidak hanya menjalankan amalan fisik seperti salat, puasa, zakat, baca alquran, sedekah. Melainkan juga amalan hati seperti sabar, ikhlas, khusu’, dan berserahdiri atau disebut juga perasaan-perasaan positif.

Kalau amalan fisik, sebagian besar dari kita sudah terbiasa melakukannya sejak kecil dulu. Sayangnya tidak untuk amalan hati. Sepertinya masih perlu perjuangan untuk bisa melakukan amalan ini.

Tetapi karena saya merasakan keinginan yang demikian kuat untuk membahagiakan kedua orangtua, maka sayapun berikhtiar terus untuk mampu merasakan perasaan-perasaan positif tersebut. Itulah yang disebut sebagai alasan emosional dalam memupuk perasaan-perasaan positif kita.

Cerita di atas adalah alasan emosional saya. Apakah alasan emosional anda?

#sarapankata
#day27
#kmoindonesia
#kmobatch12
#alasanemosional
#memupukperasaanpositif
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day55

SELALU MERASA BERUNTUNG

Alkisah ada sepasang suami istri. Sang istri dilahirkan tidak sempurna, dia tidak mempunyai kaki. Pekerjaan mereka sehari-hari adalah berjualan makanan ringan yang biasa dijajakan di lapak sekitar pasar swalayan menengah. Pasar swalayan itu tidak terlalu dekat dari kamar kontrakan mereka, karena mereka harus mencari kontrakan yang murah. Di sekitar sana harga kamar kontrakan cukup tinggi tidak terbayar oleh penghasilan mereka sebagai penjual makanan ringan lapakan.

Setiap pagi sang suami menggendong sang istri sambil membawa sekarung besar makanan ringan yang sudah dibungkus plastik kecil ke sekitar pasar swalayan itu. Ketika memiliki cukup uang, mereka menggunakan jasa tukang becak menuju ke sana. Tetapi tidak jarang sang suami harus menggendongnya berjalan kaki dengan lama perjalanan tidak kurang dari setengah jam, karena kondisi keuangan mereka tidak memungkinkan untuk membayar ongkos becak.

Jika sedang beruntung, makanan ringannya terjual habis dan mereka bisa mengantungi cukup uang untuk makan, sedikit simpanan pembayaran kontrakan, dan ongkos becak. Tetapi jika hujan deras tiba-tiba turun setiba mereka di pasar swalayan atau salah seorang dari mereka sakit misalnya, maka kadang jualannya hanya sedikit bahkan tak satupun yang terjual.

Ketika ditanya apakah mereka tidak khawatir pada saat itu? Dengan menyungging senyum salah satu dari mereka menjawab,” Alhamdulillah, Allah sedang memberikan kesempatan badan untuk beristirahat sambil beribadah lain. Kalau tidak begini tidak ada waktu bagi kami untuk itu.”

Rupanya mereka biasanya menunggu hujan berhenti atau menghabiskan waktu ketika sakit dengan membaca Quran atau berdzikir. Lantas bagaimana dengan makan dan kebutuhan lain jika jualannya tidak laku?

“Alhamdulillah, selalu ada yang bisa dimakan atau diminum walau hanya sedikit,”jawabnya lagi. “Bahkan jika tidak ada sekalipun, tetap kami syukuri karena kami masih diberi kesempatan untuk beribadah dan memohon ampunan-Nya.”

MasyaAllah! Dan memang selama ini ada saja rezeki yang mereka terima ketika membutuhkan sesuatu. Entah dari pemberian tetangga, atau pembeli setianya, bahkan orang yang tak dikenal.

Itu mereka. Dengan kondisi minim tetap selalu merasa beruntung. Bagaimana dengan kita?

Kita memiliki pekerjaan atau bisnis yang jauh lebih baik dari mereka. Kita memiliki tempat tinggal yang lebih layak. Kita atau pasangan kita memiliki tubuh yang lebih sempurna. Tapi diberi sedikit saja ketidaknyaman, seperti ditegur atasan, omset turun, tim agak berulah, partner/pelanggan yang tidak sesuai harapan; maka kecewa, khawatir, gelisah, kesal, bahkan marah kita rasakan.

Ternyata hidup berkualitas bukan ditentukan oleh siapa atau apapun itu di luar kita. Melainkan pilihan. Diri kitalah yang memilih untuk selalu merasa beruntung atau tidak. Seminim apapun kondisi kita, jika kita memilih untuk selalu merasa beruntung maka perasaan-perasaan positif akan lebih sering bahkan selalu hadir dibandingkan perasaan-perasaan negatif. Maka hidup berkualitas dapat kita raih.

Jadi mau memilih yang mana? Selalu merasa beruntung atau sebaliknya? Jika inginkan hidup yang berkualitas, kita sudah tahu apa yang harus dipilih.

#sarapankata
#day26
#kmoindonesia
#kmobatch12
#selalumerasaberuntung
#memupukperasaanpositif
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day54

M E M A A F K A N

Pernahkah kita melakukan kesalahan? Kemudian ketika menyadarinya kita merasa menyesal? Misalnya ketika kita mengirimkan proposal tidak sesuai dengan yang diinginkan calon partner sehingga dia membatalkan keinginan kerjasamanya. Kita tidak teliti pada saat itu.

Kemudian atasan menegur kita bahkan pandangan teman satu timpun seolah menyalahkan kita. Kita merasa bersalah dan menyesal. Rasa sedih dan mungkin kesalpun terasa. Hati kita mengkerut jadinya.

Apa yang kita harapkan setelah itu? Kita ingin dimaafkan karena telah melakukan kesalahan itu. Betul? Dan ketika kita sudah dimaafkan, bagaimana rasanya? Ya, lega dan senang. Hati kita mengembang segera. Pada saat itu kita juga hanya ingin melakukan hal-hal yang baik. Karena perasaan positif sedang melingkupi kita.

Sebaliknya, ketika orang lain melakukan kesalahan yang membuat kita merasa kecewa, kesal, bahkan marah. Pada saat itu hati kita mengkerut. Perasaan negatiflah yang menguasai. Rasa tidak enakpun merebak.

Tentu saja kita ingin rasa tidak enak itu berganti menjadi rasa nikmat. Bagaimana caranya? Apakah dengan mengomel dan memarahi si pembuat kesalahan? Tidak. Justru kita semakin merasa tidak enak, apalagi ketika dia memperlihatkan seolah-olah tidak menyesal.

Jadi, apa yang bisa kita lakukan untuk menghilangkan rasa tidak enak itu? Coba lakukan sebaliknya. Maafkanlah dia. Pada saat memaafkan kita menerima kesalahannya yang sudah terjadi. Coba rasakan bagaimana hati kita saat itu. Hati kita menjadi lega dan tenang.

Tidak hanya itu. Solusi untuk permasalahan yang hadir karena kesalahan itupun segera terpikirkan. Tak perlu diungkit-ungkit lagi peristiwa kesalahannya. Melainkan lakukanlah langkah selanjutnya. Apakah dengan memperbaiki sistem internal yaitu proses mengajukan proposal. Atau juga menerapkan sanksi tertentu jika hal tersebut terjadi lagi.

Semua merasa lega dan senang. Suasana kerja menjadi menyenangkan. Pekerjaan bisa dilakukan dengan lebih baik. Karena perasaan positif tetap terjaga.

Ada satu lagi aktivitas memaafkan yang perlu dilakukan untuk memupuk perasaan positif. Kalau tadi memaafkan orang lain, yang satu ini adalah memaafkan diri sendiri.

Memang tidak cukup ya dengan dimaafkan oleh orang lain ketika kita melakukan kesalahan? Ternyata ketika kita berbuat salah, justru seringkali diri kita sulit untuk menerima dan memaafkan kesalahan kita itu. Padahal orang lain sudah memaafkan kita. Tapi hati ini masih mengkerut, masih merasa kecewa dan kesal.

Kenapa saya sebodoh itu? Coba kalau kemarin saya lebih teliti, tentu ini tidak terjadi. Tentu kerjasama yang menguntungkan itu terlaksana. Begitu mungkin hati kita berkeluh kesah ketika belum memaafkan diri kita sendiri.

Bagaimana kita bisa meningkatkan kualitas hidup kita, jika sering seperti itu? Ayolah bergerak maju. Jangan terpaku di masa lalu. Maafkanlah diri kita sambil berjanji untuk memperbaikinya. Begitu hal itu kita lakukan, hati segera mengembang. Karena rasa lega dan tenang yang datang menggantikan kecewa dan kesal.

Lagipula apa kita lupa, segala sesuatu yang terjadi pada kita walaupun hal yang tak diinginkan, pasti ada hikmah di baliknya. Apakah itu membuat kita menyadari kelemahan kita, atau membuat kita semakin kuat dalam menghadapi berbagai hal yang tak diinginkan di masa mendatang. Kalau kejadian itu tidak kita alami bagaimana kita bisa tahu kelemahan kita dan memiliki kesempatan untuk memperbaikinya? Bagaimana kita bisa kuat jika tidak pernah merasakan atau terbiasa dengan ketidaknyamanan?

Maka cobalah menerima dengan memaafkan diri kita dan orang lain.

#sarapankata
#day25
#kmoindonesia
#kmobatch12
#oneweekonepos
#wifiregionbandung
#memaafkan
#memupukperasaanpositif
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day53

T E R S E N Y U M

Untuk meningkatkan kualitas hidup yang sebagian besar dihabiskan di tempat kerja dan bisnis, kita perlu berikhtiar. Ikhtiar itu berupa memupuk perasaan-perasaan positif yang kita butuhkan dan menghilangkan atau paling tidak meminimalkan perasaan-perasaan negatif. Kemarin kita sudah mengetahui dan mungkin sudah mencoba juga cara untuk mengetahui perasaan-perasaan apa saja, kapan terjadinya, dan kenapa perasaan itu muncul.

Jika kita bicara perasaan, maka hatilah yang terlibat. Karena hanya hati yang mampu merasakan. Kerja hatilah yang membuat perasaan-perasaan itu muncul. Dengan demikian hatilah yang perlu kita olah agar perasaan-perasaan positif itu selalu muncul pada saat kita butuhkan.

Pada saat kapan sih perasaan-perasaan positif itu biasanya muncul? Coba cek lagi hasil dari pengisian tabel kemarin. Kalau ditelusuri adalah ketika hati sedang terbuka atau mengembang karena ada sesuatu yang kita sukai atau inginkan terjadi. Pada saat itu hati tersenyum dan bahkan mulut kitapun terpengaruh dengan menyunggingkan senyum juga. Coba deh ingat-ingat, pada saat sesuatu yang kita sukai atau inginkan terjadi, biasanya kita secara tidak sadar berjalan atau mengerjakan pekerjaanpun sambil senyum-senyum sendiri. Iya kan?

Nah, ternyata sebaliknya, pada saat mulut kita tersenyumpun bisa mempengaruhi hati kita. Tentu saja rasa senang harus hadir juga. Sehingga ketika mulut menyungging senyum, hati ikut tersenyum.

Caranya sangat mudah. Ketika sedang merasa kecewa, khawatir, gelisah, sedih, kesal misalnya; alihkan perhatian kita kepada hal-hal yang membuat kita senang atau yang kita sukai. Apakah dengan mengingat tingkah laku anak kita, mengobrol santai dengan sahabat kita, mengajak peliharaan kita bermain, memasak, membaca buku ringan dan menghibur, dan sebagainya.

Kita jadi tersenyum karenanya. Dan hal itu bisa memupuk perasaan-perasaan positif kita semakin sering terasa. Sementara perasaan-perasaan negatif kita semakin jarang terasa.

Tapi apa kita harus melakukan pengalihan perhatian terus-menerus supaya semakin berkualitas hidup ini? Bagaimana permasalahan yang sudah membuat kita berperasaan negatif? Tidak mungkin kita biarkan begitu saja tanpa ikhtiar untuk menyelesaikannya. Dan ketika hati kita kembali ke permasalahan itu untuk berikhtiar menyelesaikannya, perasaan-perasaan negatif menguasai lagi. Bukan hanya membuat hati kita mengkerut dan terasa tidak enak, perasaan-perasaan itu juga menghambat kita menyelesaikan lebih cepat permasalahan tersebut.

Jadi apa yang harus kita lakukan?

Tersenyum baru satu cara paling sederhana yang bisa kita lakukan untuk memupuk perasaan-perasaan positif itu. Semakin berat permasalahannya maka
bisa jadi semakin sulit bahkan tidak bisa lagi kita menggunakan cara ini.

Tapi tenang. Masih ada beberapa cara lagi yang bisa kita lakukan untuk itu. Cara apa saja?

Kalau mau tahu, baca tulisan saya lagi di sini besok ya. InsyaAllah …

#sarapankata
#day24
#kmoindonesia
#kmobatch12
#tersenyum
#memupukperasaanpositif
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day52

KENALI DIRI 5

Ketika sudah mengetahui hasil dari The Wheel of Work Life Balance, kita perlu melakukan satu langkah lagi sebelum mencari tahu dan menerapkan bagaimana cara memupuk perasaan-perasaan positif dan meminimalkan perasaan-perasaan negatif. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui kapan perasaan-perasaan itu muncul dan kenapa perasaan itu yang kita rasakan pada saat itu .

Caranya dengan membuat tabel yang terdiri dari 3 kolom dan 15 baris. Kolom pertama dengan judul “Perasaan-perasaan” untuk 7 perasaan positif dan 7 perasaan negatif dituliskan per barisnya ke bawah. Kolom kedua diberi judul “Peristiwa” dan kolom ketiga diberi judul “Alasan”.

Di setiap baris dalam kolom “Peristiwa” diisi oleh peristiwa-peristiwa apa saja yang membuat kita merasa ke 14 perasaan itu. Isilah masing-masing kotak sebanyak yang diingat. Kemudian di setiap baris dalam kolom “Alasan” diisi oleh apa yang menyebabkan perasaan-perasaan itu ada di setiap peristiwa yang kita alami.

Contohnya untuk kotak pertemuan antara “Kekhawatiran” dengan “Peristiwa” diisi dengan kapan sih kita merasakan kekhawatiran pada saat bekerja, berkarya, dan berbisnis itu? Misalnya (1) ketika sedang melakukan suatu program atau proyek dengan tim, (2) ketika menyerahkan laporan hasil kerja kepada atasan, (3) ketika keberhasilan diperoleh, dsb.

Kemudian di kotak sebelah kanannya diisi dengan kenapa kekhawatiran itu kita rasakan. Misalnya (1) khawatir proyek atau programnya gagal karena kemampuan tim yang kurang memadai, (2) khawatir atasan kecewa, kesal, atau marah karena laporan hasil kerja tidak sesuai harapannya, (3) khawatir keberhasilan tersebut “direbut” oleh pihak lain di masa mendatang, dsb.

Atau untuk kotak pertemuan antara “Kekecewaan” dengan “Peristiwa” diisi dengan misalnya (1) ketika partner tidak menepati janji, (2) ketika penjualan tidak mencapai target, (3) ketika pelanggan melayangkan komplain, dsb. Dan di kotak sebelah kanannya diisi dengan (1) berharap partner selalu menepati janji, (2) berharap penjualan selalu mencapai target, (3) berharap pelanggan selalu puas dengan produk dan layanan kita, dsb.

Dengan mengisi semua kotak-kotak yang masih kosong di tabel yang saya sebut sebagai Tabel Perasaan, Peristiwa, dan Alasan itu, akan memudahkan kita untuk mengetahui dan menerapkan bagaimana cara memupuk perasaan-perasaan positif dan meminimalkan perasaan-perasaan negatif di diri kita. Seperti apa cara memupuknya? Dan bagaimana menerapkannya? Yuk, kita sama-sama cari tahu besok pagi, insyaAllah …

#sarapankata
#day23
#kmoindonesia
#kmobatch12
#kenalidiri
#tabelperasaanperistiwadanalasan
#wheelofworklifebalance
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day51

KENALI DIRI (4)

Sesuai janji kemarin, tulisan saya hari ini akan membahas tentang apakah perlu berganti bidang karir, pekerjaan, atau bisnis ketika diketahui karier atau pekerjaan kita ternyata tidak cocok dengan profil keseharian kita? Bagusnya memang berganti, namun kadang kita tidak bisa begitu saja meninggalkan karier, pekerjaan, atau bidang bisnis kita dan mencari yang baru. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan apalagi jika kita sudah berkeluarga atau menjadi tulang punggung keluarga.

Karena itu mari kita coba cara yang keempat untuk mengenali diri.

Saya menyebut cara ini sebagai The Wheel of (Work) Life Balance. Kenapa kata “work” ditempatkan di dalam tanda kurung? Karena sebetulnya cara ini tidak hanya bisa digunakan ketika kita berurusan dengan pekerjaan atau bisnis kita, melainkan juga bisa dipergunakan untuk semua hal dalam kehidupan kita.

Cara ini merupakan adaptasi dari cara yang dikemukakan oleh Seph Fontane Pennock dan Hugo Alberts dalam artikelnya yang berjudul “The Wheel of Life”. Di artikelnya itu mereka menawarkan cara bagaimana seseorang bisa mengetahui kepuasan atau ketidakpuasan dalam beberapa hal penting di hidupnya. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan rasa kepuasan hidup orang tersebut.

The Wheel of (Work) Life Balance merupakan lingkaran yang terbagi ke dalam 14 bagian. 7 bagian di kiri lingkaran adalah perasaan-perasaan negatif yang bisa kita rasakan pada saat bekerja, berkarya, dan berbisnis. Sementara 7 bagian di kanan lingkaran adalah perasaan-perasaan positifnya.

Positif di sini artinya bahwa semakin sering kita merasakan perasaan-perasaan ini, maka semakin tenang dan tenteram hati kita atau semakin bahagia. Negatif artinya bahwa semakin sering kita merasakannya, maka semakin sering ketidakbahagiaan akan kita rasakan.

7 bagian di kiri lingkaran adalah:
1. Kekhawatiran
2. Kegelisahan
3. Kekecewaan
4. Kesedihan
5. Ketidakperdulian
6. Kemarahan
7. Keputusasaan

7 bagian di kanan lingkaran adalah:
1. Kesabaran
2. Keikhlasan
3. Kepasrahan/keberserahdirian
4. Keperdulian
5. Kepuasan
6. Keyakinan
7. Ketenangan

Angka 1 sampai dengan 10 yang ada di setiap bagian merupakan hasil penilaian diri seberapa sering perasaan-perasaan itu dirasakan pada saat bekerja, berkarya, dan berbisnis. 1 artinya tidak pernah merasakan dan 10 artinya selalu merasakan hal tersebut.

Caranya sangat mudah, kita tinggal melakukan penilaian seberapa sering perasaan-perasaan di setiap bagian dirasakan pada saat bekerja, berkarya, atau berbisnis. Kemudian tandai angka di bagian tersebut sesuai hasil penilaian itu.

Hasilnya akan memperlihatkan perasaan-perasaan apa saja yang dominan dirasakan pada saat kita bekerja, berkarya, atau berbisnis. Biasanya jika bagian kanan hasil penilaiannya tinggi maka bagian kiri rendah, dan sebaliknya. Dari hasil itu kita akan tahu perasaan-perasaan mana saja yang perlu dimunculkan dan perasaan-perasaan mana saja yang perlu dihilangkan.

Nah, setelah kita mengetahui perasaan-perasaan mana saja yang perlu kita pupuk dan perasaan-perasaan mana saja yang perlu kita hilangkan, maka sekarang tinggal mencari tahu dan menerapkan bagaimana cara memupuk dan menghilangkannya. Mau tahu?

Cek postingan saya besok ya, insyaAllah …

#sarapankata
#day22
#kmoindonesia
#kmobatch12
#kenalidiri
#teskepribadian
#wheelofworklifebalance
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day50

KENALI DIRI (3)

Kalau kita merasa belum juga mengenali diri karena belum yakin dengan hasil dari dua cara pertama, maka ada cara ketiga. Cara ketiga ini memang terasa lebih meyakinkan karena kita nanti didampingi oleh seseorang atau beberapa orang yang ahli di bidangnya. Yaitu tes kepribadian berbayar dimana kita harus bertemu langsung dengan ahli yang menyelenggarakannya untuk melakukan (berbagai) aktivitas sebagai bentuk tesnya.

Tidak sedikit penyelenggara yang menawarkan tes kepribadian berbayar ini. Mahal? Tergantung test apa yang kita pilih. Semakin rumit dan banyak melibatkan ahli di dalamnya maka semakin mahal harganya. Boleh juga kita cari yang nyaman di kantong. Salah satu yang pernah saya ikuti adalah Tes Stifin.

Menurut Farid Poniman dalam buku yang berjudul “Stifin Personality: Mengenali Mesin Kecerdasan Anda”, Tes Stifin adalah tes yang dilakukan dengan cara men-scan kesepuluh ujung jari. Tujuannya adalah untuk mengenali jati diri seperti apa sih kita ini. Hal-hal apa saja yang kita yakini, kemampuan apa yang kita miliki, pekerjaan apa yang cocok untuk kita, dan yang terpenting dalam kondisi apa kira merasa nyaman.

Kenapa menggunakan sidik jari? Sidik jari kita ternyata mampu memberikan informasi tentang komposisi susunan syaraf sehingga bisa diketahui ciri-ciri dominan yang kita miliki. Dari ciri-ciri dominan inilah bisa membuat kita mengetahui jati diri atau kepribadian kita.

Ada 5 tipe kepribadian dari Tes Stifin ini yaitu Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, dan Insting. Ke 5 tipe kepribadian ini memiliki chemistry atau ketertarikan yang berbeda yaitu Sensing kepada “harta”, Thinking kepada “tahta”, Intuiting kepada “kata”, Feeling kepada “cinta”, dan Insting kepada “bahagia”.

Karakter atau profil keseharian masing-masing tipe kepribadianpun berbeda. Jika ingin mengetahui secara rinci silakan dibaca saja bukunya. Saya akan memberikan contoh salah satunya saja yaitu tipe Feeling.

Profil keseharian tipe Feeling adalah sebagai berikut:
1. Lebih menggunakan perasaan.
2. Ingin menyenangkan orang lain.
3. Mencari keharmonisan.
4. Ingin selalu mempimpin.
5. Pertimbangannya berdasarkan kasih sayang.
6. Menghargai perasaan orang lain.
7. Mengambil keputusan dengan mempertimbangkan akibatnya terhadap orang lain.
8. Hangat dan ramah kepada orang lain.
9. Pandai berempati.
10. Bekerjasama di komunitas sosial yang baik.
11. Menghindari argumen, konflik dan konfrontasi.
12. Perasaan mereka mudah sakit dan dendam.
13. Memulai dengan pembicaraan kecil.
14. Bertanya jika memungkinkan.
15. Mampu menunjukkan kekaguman dan emosional.
16. Kurang memiliki ketegasan menuntut hak.
17. Menggunakan banyak kata-kata berharga.
18. Sering menggunakan nama orang lain.
19. Lebih seperti sikap wanita (peluangnya 65%).

Karir atau pekerjaan yang cocok bagi tipe Feeling adalah: politisi, trainer/inspirator, motivator, psikolog, psikiater, counselor, ideolog, negarawan, personalia, lawyer, budayawan, diplomat, humas, salesman, seniman, dll.

Kemudian masing-masing tipe kepribadian bisa dibagi menjadi 2 tipe berdasarkan hal apa yang mendorong dia untuk melakukan sesuatu, kecuali untuk tipe Insting. Jika dorongan itu datangnya dari dalam dirinya maka dia bertipe Introvert, tetapi jika dorongan itu datangnya dari luar dirinya maka dia bertipe Ekstrovert. Sehingga jika kita mengikuti Test Stifin ini di belakang tipe hasil test itu disematkan huruf I (untuk introvert) atau E (untuk ekstrovert).

Nah, dari profil keseharian dan karier atau pekerjaan yang cocok, barangkali bisa menjadi pertimbangan kenapa kok selama ini kita sering merasa kecewa, gelisah, khawatir, kesal, dan marah pada saat bekerja atau berbisnis.

Jadi artinya kita perlu berganti pekerjaan ya?

Tunggu dulu. Siapa tahu bukan hal itu yang menjadi masalah melainkan hal lain lagi. Kita bahas tentang itu besok ya. InsyaAllah …

Btw, ada yang tahu kenapa tipe Feeling yang dijadikan contoh di tulisan ini?

#sarapankata
#day21
#kmoindonesia
#kmobatch12
#kenalidiri
#teskepribadian
#stifin
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day49