YANG SANGAT BERHARGA

Berapa banyak kita sudah membaca surat Al-Ashr di rakaat-rakaat salat? Tidak terhitung kalau buat saya. Tapi pernahkah pada saat kita membacanya sadar bahwa surat itu mengingatkan kepada anugerah Allah yang sangat berharga?

Memang tentang apa ya? Kok sangat berharga?

Ya betul. Tentang waktu. Kesempatan kita di hidup di dunia ini. Hidup di dunia ini bukan hanya untuk bersenang-senang belaka. Melainkan menjadi ajang perjuangan untuk menentukan tempat kita di akhirat kelak. Yang menentukan apakah kita akan merasa sangat bahagia atau sebaliknya, sangat sengsara.

Coba rasakan sepenuh hati ketika membacanya. Rasakan betapa sedikit waktu yang kita miliki. Betapa kita bisa sangat merugi. Ketika kita mengabaikan keinginan Allah.

Mau merugi? Mau sangat sengsara? Mau ke neraka-Nya? Kalau saya gak mau.

Untunglah melalui surat yang sama Allah menyampaikan juga kesempatan bagi kita untuk meraih surga-Nya. Yaitu jika kita taat kepada-Nya.

Betapa baiknya Allah. Dia mengingatkan kita sekaligus memberikan solusinya.

Dan bagaimana dengan kita? Sudahkan kita berikhtiar menuju taat kepada-Nya? Atau hanya sekadar keinginan saja?

Semoga untuk selanjutnya, kita tidak hanya sekadar membaca surat Al-Ikhlas (dan surat-surat lainnya) dalam salat kita. Melainkan kita resapi benar sehingga membawa kita semakin taat kepada-Nya.

#insightQuran

#waktu

#yangsangatberharga

#selfreminder

#enlightenedheart

KOREKSI DIRI

Pagi tadi saya disuguhi peristiwa yang membekas di hati. Waktu itu pengemudi mobil yang saya tumpangi mengklakson angkot di depan kami. Angkot itu berhenti terlalu tengah dan menghalangi mobil kami.

Ketika kami melewati angkot itu, sopirnya berteriak dengan nada kurang enak didengar, “Mangga… mangga, Paaak! Ieu teh Romadhon, puasa Paaak!” (Silakan… silakan, Pak. Ini Bulan Ramadan, puasa Pak!)

Saya tahu maksudnya meminta kami bersabar. Apalagi sekarang sedang puasa Ramadan. Dia menganggap klakson yang kami bunyikan adalah tanda ketidaksabaran. Mungkin juga karena melihat pandangan kami yang tanpa senyum. Sehingga dia beranggapan kami kesal karena terhalangi.

Mungkin betul ada rasa kesal dari pengemudi mobil kami karena jalannya terhalangi, sehingga dia membunyikan klakson tanpa senyum di wajahnya. Dan nasihat sopir angkot itu baik kan? Mengingatkan kami untuk bersabar.

Tapi coba rasakan. Dia meminta kami bersabar, sementara apa yang dia lakukan belum mencerminkan hal yang sama. Seorang yang sabar tentunya tidak akan mengingatkan seseorang dengan cara  berteriak dan dengan nada kurang enak didengar.

Itulah, kadang-kadang kita tidak menyadari untuk koreksi diri. Malah mengingatkan orang lain untuk  berperilaku baik tapi kita sendiri lupa caranya bukan seperti orang berperilaku baik yang kita nasihatkan.

Jika saja saya ada di posisi sopir angkot itu, seperti apa semestinya berperilaku? Koreksi diri, apa sih yang membuat orang itu membunyikan klakson. O, ternyata  mobil yang saya kemudikan menghalangi jalan mobil lain. Jadi segera pindahkan posisi mobil ke tempat lain yang tidak menghalanginya sambil meminta maaf.

Hanya saja jangan lupa. Pada saat berada di posisi yang terhalangi pun perlu berhati-hati. Apakah dengan membunyikan klakson akan membuat orang lain terganggu? Toh kita juga bisa menunggu sesaat sampai angkot itu berjalan kembali. Kecuali jika menunggu terlalu lama, baru kita bunyikan klakson sekali saja dan wajah kita dihiasi senyum sopan ketika berpapasan pandangan dengan  sopir angkot tersebut.

Ah, kalau cuma nulis kan gampang. Pas ngalaminnya, emang bisa sabar?

Bisa. Asalkan hati kita sudah terbuka karena dipenuhi kebenaran-kebenaran Alquran dan Hadis. Tau kan sabar itu pembuka pintu surga? Tau kan Allah akan bersama dengan orang-orang sabar? Tau kan Allah suka banget kalau kita bersabar? Itu semua adalah kebenaran-kebenaran dari Alquran dan Hadis.

Jadi teruslah berproses, bertafakur agar kebenaran-kebenaran itu tertanam dan memenuhi hati.

#selfreminder

#berbagikebaikan

#tafakur

#enlightenedheart

#oneweekonepost

#wifiregionbandung

KENANGAN RAMADAN

Ada rasa rindu ketika mengenang Ramadan sebelumnya. Karena Ramadan kali ini terasa ada yang kurang di hati. Ini adalah Ramadan pertama tanpa kehadiran salah seorang terdekat. Papap tercinta.

Salah satu kenangan yang sangat melekat adalah ajakannya untuk salat tarawih berjamaah. Dulu sewaktu rumah jauh dari mesjid, kami melakukannya di rumah. Beliau menjadi imamnya. Bacaannya sangat baik dan merdu. Walaupun kadang saya merasa terpaksa kala itu. Namun ternyata kebiasaan menjadi makmumnya membuat saya mampu menghafal banyak surat pendek dengan bacaan yang baik.

Apa pelajaran yang didapat? Hafalkanlah surat-surat pendek itu dengan bacaan yang baik. Karena jika bacaan kita salah, ketika kita menjadi imam untuk anak-anak kita, mereka bisa jadi menghafalnya dengan bacaan salah. Bukankah salah melafalkan bisa salah juga artinya?

Kenangan yang lain adalah kebaikan hatinya. Beliau sering memberi atau bersedekah untuk siapa saja, khususnya di Bulan Ramadan. Semakin giat beliau lakukan. Hatinya mudah terenyuh yang kadang membuatnya mudah tertipu orang. Tapi itu tidak menghalanginya untuk terus memberi. Entah karena sedekahnya yang kuat, saya menyaksikan tak pernah beliau kesulitan dalam hal materi. Kehidupannya pun terlihat tenang dan damai.

Pelajaran yang didapat adalah untuk hidup yang lebih tenang dan damai, raihlah salah satunya dengan banyak-banyak bersedekah.

Namun ada satu pelajaran yang sangat berharga dari kerinduan kepada beliau. Ramadan tahun lalu, mungkin beliau tidak menyadari adalah ramadan terakhirnya. Dan Ramadan kali ini beliau sudah tak mengalaminya. Ini sangat mungkin terjadi pada kita.

Jadi, manfaatkanlah sebaik-baiknya Ramadan kali ini. Kita tak pernah tahu apakah Ramadan kali ini adalah Ramadan terakhir kita atau bukan.

MasyaAllah. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Terima kasih Papap sayang. Bahkan dalam ketiadaanmu, masih mampu memberikan pelajaran yang sangat berharga buat saya. Doa saya selalu untuk Papap. Semoga menjadi pahala yang terus mengalir ya, Pap, buat Papap. InsyaAllah… Aamiin yaa robbal aalamiin 🙏❤️.

Allahumaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu. Aamiin yaa mujibassaailliin 🙏❤.

#selfreminder
#IloveyouPapap
#kenanganramadan
#ramadanberbagi
#enlightenedheart

SALING MEMAAFKAN DI PINTU RAMADAN

Kemarin ketika diberi kesempatan meminta maaf secara langsung kepada kerabat, seorang kerabat bilang: “Minta maaf itu kan gak harus karena mau puasa di Bulan Ramadan. Kapan saja bisa.”

Ya, setuju banget. Sayangnya kita lebih sering lupa untuk meminta maaf di waktu lain. Kenapa ya?

Karena ternyata meminta maaf (dan memaafkan) adalah kemampuan hati. Pantas saja sering lupa melakukannya karena di hati kita masih sedikit kebenaran-kebenaran Al Quran dan Hadis (islami) yang terpatri. Moment ini menjadi pengingat diri untuk terus berproses, bertafakur agar hati semakin cemerlang. Sehingga meminta maaf serta memaafkan tak pernah terlupakan lagi.

Beruntunglah banyak yang mengingatkan kita untuk meminta maaf sebelum berpuasa di Bulan Ramadan. Paling tidak pada saat inilah waktu saling memaafkan itu terlaksana.

Karena si diri ini hatinya masih miskin kebenaran-kebenaran islami, maka melalui tulisan ini MEMOHON MAAF LAHIR BATIN untuk semua sahabat yang telah setia membaca tulisan-tulisan di sini. Walaupun mungkin kita belum pernah jumpa, tapi tulisanpun bisa salah dan tak berkenan di hati. Manusia memang tempatnya salah. Astaghfirullah wa atubu ilaih…

Selamat menunaikan ibadah puasa sahabat semua. Semoga Allah ridho dengan semua yang kita lakukan di Bulan Suci ini. Aamiin ya mujibassailliin ❤️.

#marhabanyaramadan

#maaflahirbatin

#enlightenedheart

#oneweekonepost

#wifiregionbandung

IKHTIAR SUNGGUH-SUNGGUH

Ketika kita sudah tahu bahwa keinginan Allahlah yang pasti terjadi, apakah kita tetap semangat untuk berikhtiar? Kalau keinginan kita tidak sama dengan keinginan-Nya jadi sia-sia dong. Kan sudah pasti keinginan kita tak akan terwujud.

Sudah lupa ya kalau Allah itu Maha Tahu? Maha Pengasih dan Penyayang? Tak mungkinlah Dia memberikan keburukan untuk kita. Pasti Dia berikan kebaikan selalu untuk kita bahkan yang terbaik. Betapa baiknya Allah.

Dan ikhtiar juga adalah salah satu tugas kita di dunia sebagai bentuk perwujudan dari alasan penciptaan kita. Yaitu sebagai khalifah.

Bayangkan, ketika kita punya bos yang sangat baik kepada kita; pasti kita akan melakukan tugas yang diberikan kepada kita sebaik-baiknya. Nah, ini Allah lho, Sang Maha Kuasa; Bos dari segala bos. Masa kesangat-baikkan-Nya dibalas dengan seadanya oleh kita.

So, berikhtiarlah dengan sungguh-sungguh karenanya.

#selfreminder
#marhabanyaramadan
#ikhtiarsungguhsungguh
#enlightenedheart

MASYAALLAH 😍

MasyaAllah 😍.

Bener ya. Bahwa kita itu tak banyak tahu. Bahkan sedetik dari sekarangpun. Apa yang terjadi esok hari, apa yang ada di dalam rahim seorang ibu, kapan dan dimana kematian menghampiri, apalagi tentang hari kiamat. Hanya Allah yang tahu. Segala hal , bahkan hal terkecil sekalipun Dia mengetahuinya.

Termasuk apa yang terbaik untuk aku, sang jiwa. Dan karena Allah sangat sayang kepada manusia, maka yang Dia berikan pasti yang terbaik untuk jiwa.

Jadi kenapa masih mengeluh dengan ketidaknyamanan yang datang kepada kita?

MasyaAllah 😍. Memang Allah Maha Luar Biasa ❤️.

“Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)

#selfreminder

#pencerahanpagi

#AllahMahaTahu

#enlightenedheart

#untukbahagia

MENERIMA

Beberapa waktu lalu, ada seorang teman yang bertanya. Gimana sih caranya supaya kita gak galau ketika sakit datang? Gimana sih supaya bisa tetap bahagia ketika sakit menghampiri?

Dulu, saya juga begitu. Ketika sakit datang, langsung Sang Galau menghampiri. Rasanya sedih dan kecewa karena harus grounded di rumah. Banyak hal yang terpaksa batal dilakukan. Kalaupun bisa, semua dilakukan tidak maksimal. Dan tentu saja badan rasanya gak karuan. Segera saja, saya mulai mengeluh  akan sakit itu.

Ketika merasakan kegalauan, kemudian tercermin dalam keluhan-keluhan; artinya kita belum menerima dengan sepenuh hati apa yang sedang terjadi. Termasuk pada saat sakit.

Kalau saja kita mau menerima dengan sepenuh hati, tentunya kegalauan tak kan datang. Dan bahagia tetap kita rasakan.

“Kalau sakitnya ringan dan hanya sebentar saja sih, bisa lah menerima. Tapi kalau sakitnya parah dan lama. Atau membaik tapi tidak tuntas, jadi kambuuuhh melulu. Padahal ikhtiar untuk sembuh sudah dilakukan, sampai bosan. Lama-lama kesal juga deh…”

So, intinya kita perlu “belajar” untuk menerima. Siapa yang belajar? Hati. Karena yang merasakan sedih, kecewa, kesal, dan galau kan hati.

“Okayyy, tapi… gimana caranya?”

Coba deh, pada saat kita mendapatkan apa yang kita sangat kita inginkan, seperti apa rasanya? Lega, tenang, senang dan gembira kan?

Apakah kita sangat menginginkan surga? Apakah kita sangat menginginkan bahagia tidak hanya di dunia tapi di akhirat kelak?

Kalau iya, rasakan sepenuh hati bagaimana saat kita sudah berada di sana. Hirup dan nikmati udara kebahagiaan di dalamnya. Tak ada sama sekali kegalauan dan kesengsaraan yang menimpa.

Sudah? Nah, maukah hal itu kita rasakan selalu?

“Memang bisa?”

Bisa. Taati Allah. Karena hanya Allah yang tahu bagaimana semua rasa itu bisa kita dapatkan. Dan Allah hanya inginkan kita merasakan itu saja, saking sayangnya Dia kepada kita. Tak mungkin Allah memberikan sesuatu yang membuat kita sengsara. Pasti ada “keuntungan” bagi kita di belakangnya. Termasuk sakit.

Salah satu taat itu adalah menerima dengan sepenuh hati (ikhlas) pada saat kita sakit. Dan bukankah Allah juga sudah berjanji, bahwa sakit itu adalah penggugur dosa? Inilah “keuntungan” di belakang peristiwa sakit. Siapa yang tak mau dosa-dosanya diampuni? Gak ada deh kayaknya. Bukankah kita sering berdoa agar dosa-dosa diampuni? Allah juga Maha Suci, tak mungkin ingkar janji. Semua itu pasti akan terjadi.

Lantas apakah ganjarannya kalau kita taat atau dengan kata lain bertakwa? Ya surga-Nya seperti yang tertulis dalam surat pilihan #insightQuran kali ini, surat Maryam ayat 63.

Jadi ketika sakit, biasanya saya bilang: “Silakan Allah, saya terima sakit ini sepenuh hati. Yang penting saya bisa selalu taat pada-Mu.” Dan… nyeeessss… hati ini jadi tenang rasanya.

Gak percaya? Coba aja!

#selfreminder

#sakit

#taat

#enlightenedheart

SURGA

SURGA

Siapa sih yang tak inginkan surga? Sepertinya hampir semua orang inginkan itu. Hal ini tercermin dari seringnya kita berdoa “robbanaa aatinaa fii dunya hasanah, wa fil aakhiroti hasanah waqinaa adzaabannaar”.

Tapi sadarkah kita bahwa surga itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang beriman dan beramal saleh saja? Atau dengan kata lain mereka yang taat kepada Allah saja. Termasuk pada saat kita mengalami ketidaknyamanan. Ini sudah menjadi janji Allah yang tercantum di ayat terpilih #insightQuran Jumat ini, surat An-Nisaa’ ayat 122.

Beberapa waktu lalu ada teman yang curhat. Dia merasa berat dalam menjalani hidup ini. Berbagai ketidaknyamanan tak henti mendatanginya.

Rupanya dia lupa bahwa saat ini sedang berada di dunia. Dunia tempatnya kita diuji melalui berbagai ketidaknyamanan.

Tapi sesungguhnya, ketidaknyamanan itu untuk kebaikan kita. Melalui ketidaknyamanan itulah kita jadi tidak terlena.

Coba saja perhatikan, pada saat kapan kita banyak berdoa dan mengingat Allah. Apakah ketika sedang mengalami ketidaknyamanan atau kenyamanan? Bahkanpada saat kita mengeluh kepada Allah, itu artinya kita sedang mengingat-Nya

Dengan banyak berdoa dan mengingat Allah memperbesar jalan kita untuk taat. Yang artinya memperbesar kita untuk mencapai surga-Nya.

Kalau begitu semestinya kita bersyukur dengan ketidaknyamanan yang dialami. Karena saat itu Allah sedang membuka jalan kita untuk taat.

Tinggal kitanya saja yang memilih menjadi taat dengan bersabar, ikhlas, dan berserah diri; atau sebaliknya. Semua ada di tangan kita. Jika memilih untuk taat maka surga yang diinginkan akan dapat kita raih, sesuai dengan janji Allah.

#surga

#taat

#janjiAllah

#enlightenedheart

HP

Tadi pagi sambil beraktivitas di dapur, Emak, panggilan untuk asisten rumah tangga, bercerita. Dulu di kampung sewaktu remaja, kalau ada hari libur, dia bersama beberapa temannya bermain. Tapi bermainnya menghasilkan. Seringnya membuat suatu makanan, seperti berbagai keripik dari bahan yang tersedia.

Beda banget sama remaja sekarang, lanjutnya. Setiap libur mereka bermain juga. Tapi sering tidak menghasilkan, karena hanya main-main (dalam arti sesungguhnya) hp saja sambil foto-foto.

Saya tercenung sambil membenarkan dalam hati. Karena saya teringat diri sendiri, bahkan ketika sudah tidak remaja lagi. Pada saat teknologi hp hadir dengan dilengkapi game canggih dan kamera, saya sudah berkeluarga. Tapi saya tetap tertarik menghabiskan waktu untuk memainkan game-game tersebut dan juga berfoto ria.

Kemudian foto-foto itu saya upload di medsos dengan caption tanpa kebaikan. Dan saya lanjutkan dengan menlusuri postingan teman-teman yang sering tidak banyak manfaatnya. Pada saat itu saya tidak menyadari terbuangnya waktu yang berharga.

Ternyata kemajuan teknologi tidak hanya membantu kita semakin mudah menjalani hidup, tetapi melenakan juga. Kita terlena karena kemudahan itu. Tanpa menyadari bahwa hal itu bisa membuat kita tidak bahagia.

Ketika nilai-nilai ujian jelek, bisnis merugi, nulis gak kelar-kelar; galau kan? Kitapun berkeluh kesah. Padahal semua itu karena kita terlena oleh canggihnya hp.

Untunglah saat saya terlena, Allah mengingatkan melalui berbagai ketidaknyamanan. Setelah itu, saya menggunakan hp yang dimanfaatkan untuk berbisnis dan menulis.

Ya, berkomunikasi dengan tim atau klien, saya lakukan via hp. Menuliskan berbagai ide, mapping, ouline, bahkan menuangkannya menjadi tulisan juga saya lakukan dengan hp.

Tentu saja semua aktivitas itu saya pilih karena saya yakin bisa mendekatkan kepada tujuan hidup saya. InsyaAllah…

Kalau kamu gimana?

#memanfaakanhp

#untukberbisnis

#untukmenulis

#enlightenedheart

#oneweekonepost

#wifiregionbandung

PENTINGKAH MEMILIKI TUJUAN HIDUP? Part 2

Beberapa kali saya bertemu dengan teman yang curhat dengan ketidakpuasan hidupnya. Terutama dengan perasaannya ketika berada di tempat kerja atau bisnis.

Ketika saya bertanya kenapa tetap bertahan bekerja di tempat itu atau berbisnis di bidang itu? Banyak alasan dikemukakan. Butuh dan kalau berhenti gak tau dapat kerja lagi atau bisa berbisnis lagi. Tidak diijinkan berhenti oleh atasan atau pasangan. Sayang, masuknya atau mengawalinya penuh perjuangan. Dan sebagainya.

Well, hidup adalah pilihan untuk melakukan berbagai aktivitas. Seperti yang sudah dibahas di part 1, ketika kita akan melakukan sesuatu semestinya kita sudah yakin bahwa pilihan itu sesuai atau bisa mendekatkan kita kepada tujuan hidup.

Ketika kita menyadari bahwa aktivitas itu mendekatkan kepada tujuan hidup, maka kita tidak akan mengeluh. Kita malah akan semakin semangat. Apapun yang orang lain lakukan kepada kita tidak menjadi masalah.

Kalau masih merasa kecewa, kesal, dan marah; bisa jadi apa yang kita lakukan tidak mendukung kepada pencapaian tujuan hidup. Atau barangkali tujuan hidup yang dipilih tidak sejalan dengan tujuan penciptaan kita.

Kalau begitu tujuan hidup mana yang sejalan dengan itu?

Jawabannya sudah tersedia dengan jelas dan sering kita ucapkan dalam doa yang tertulis di surat pilihan untuk #insightQuran kali ini. Yaitu surat Al-Baqarah ayat 201.

Begitu kita yakin dengan tujuan hidup itu, semua pilihan akan jatuh kepada hal yang mendukung terwujudnya hal tersebut. Dan kita tak akan mengeluh dengan apapun yang terjadi. Karena yakin tujuan hidup akan tercapai dengan pilihan tersebut.

#tujuanhidup

#dbas

#hidupadalahpilihan

#enlightenedheart