C A P E K

Minggu lalu, ketika pencernaan saya sedang memberikan alarm alaminya, saya berkonsultasi dengan seorang dokter langganan yang praktek di apotik miliknya. Seperti biasa jika akan berkonsultasi dengannya, di siang harinya saya menelepon apotik tersebut untuk mendaftar. Dan sekitar menjelang magrib saya akan dikabari dokter perempuan cantik itu akan berpraktek jam berapa di hari itu. Praktek malam hari tentunya.

Saya kemudian ditelepon mendekati magrib yang isi pesannya adalah dokter cantik itu akan praktek jam 20.30 alias setengah sembilan malam. Saya pun mengiyakan dan mengisi waktu untuk menunggu waktu prakteknya itu dengan melaksanakan sholat, makan malam, dan istrirahat sejenak sambil meredakan gemuruh perut yang biasanya datang setiap kambuh setelah diisi makanan.

Sekitar lima menit sebelum setengah sembilan malam, kembali ada panggilan telepon dari apotek itu yang mengabarkan bahwa dokter cantik yang saya tunggu-tunggu sudah datang di tempat prakteknya. Maka sayapun memanggil anak sulung saya untuk menemani saya ke tempat praktek dokter tersebut yang tidak jauh jaraknya dari rumah.

Ketika saya sampai di apotek tersebut, sudah ada beberapa pasien lain yang menunggu. Dihitung-hitung ada 3 pasien yang datang sebelum saya dan pada saat saya menunggu masih datang 2 pasien lain. Cukup banyak juga pasiennya malam hari ini padahal waktu sudah menunjukkan pukul 9 kurang sepempat.

Tempat prakteknya ini tidak terlalu besar tapi cukup nyaman dan berada di satu ruko di bagian depan perumahan tempat saya tinggal. Dokter cantik itu memiliki 2 ruko di sana. Satu khusus untuk tempat prakteknya, dia sebagai ahli penyakit dalam di lantai bawah dan praktek dokter gigi di lantai 2. Satu ruko lagi khusus untuk apotek yang menurut saya cukup lengkap menyediakan obat-obatan.

Saya cocok berkonsultasi dengannya karena selain dia seumuran dengan saya, tempat prakteknya sangat dekat dengan rumah, dan saya mengenal pertama kali di sekolah anak saya yang bungsu karena merupakan salah satu orangtua dari teman anak bungsu saya itu. Mungkin karena seumuran dan saya juga punya kegiatan mengajar (sebagai pekerja), jadi konsultasi yang terjadi selalu menjadi ajang saling curhat. Apalagi saat ini kedua anak berada di sekolah yang berbeda sehingga saling memberikan kabar kedua anak bungsu kami seolah menjadi hal yang penting dalam pembicaraan kami.

Selain itu dia juga sudah sangat mengenal kondisi tubuh saya karena sudah sejak lama berkonsulitasi dengannya khususnya mengenai kondisi pencernaan saya. Dia tahu saya tidak terlalu suka mengkonsumsi obat-obatan kimia sehingga dia selalu memberikan obat yang relatif aman (tidak keras dan diusahakan berbasis herbal) khususnya untuk pencernaan saya.

Karena hubungan kami sudah dekat, dulu saya mudah menghubunginya jika saya butuh konsiltasi mendadak. Tinggal menghubungi via WA dan biasanya dalam jangka waktu 1 atau 2 jam kemudian sudah memberika jawaban yang sangat membantu saya. Jadi saya tidak perlu menunggu sampai jam praktek dia di Apoteknya tersebut. Saya sudah bisa mendapatkan resep obat darinya, tinggal diambil saja di apoteknya. Sayangnya akhir-akhir ini nomor WA yang dishare ke saya jarang sekali aktif, sehingga saya harus menunggu waktu prakteknya tiba yang semakin ke sini semakin malam saja dimulainya.

Nah salah satu yang kadang-kadang membuat saya terheran-heran adalah ketika saya berada di ruang prakteknya untuk berkonsultasi dengannya bukan saya yang banyak bercerita tentang kondisi saya melainkan dia. Dia bilang, sekarang ini jadi dokter adalah kerja rodi. Semenjak adanya program BPJS, pasiennya di rumah sakit membludak mencapai seratus orang setiap harinya. Dan minimal dia harus melayani 60 orang pasien. Dia bilang, sebetulnya dia tidak kuat dengan kondisi seperti itu setiap harinya. Sehingga tidak jarang dia pun mengalami sakit di pencernaan dan tekanan darahnya naik.

Betul pemasukannya meningkat sekitar 3 kali lipat dari sebelumnya tetapi tenaga dan waktu yang harus dikeluarkannya 5 kali lipat, katanya lagi. Jadi dia sering merasa kecapekan ketika sampai di rumah di malam hari. Padahal selama di rumahpun dia harus stand by dengan hp yang selalu siap menerima kabar pasiennya yang gawat dari rumah sakit tempatnya bekerja. Dia jadi tidak memiliki waktu lagi untuk suami dan anak-anak.

Anehnya lagi bukan suaminya yang merasa kurang perhatian, malah dia yang merasa kurang diperhatikan suami. Padahal yang sibuk adalah dirinya sendiri. Kadang dia merasa kesal dengan hal tersebut tetapi bingung mengungkapkannya kepada suaminya. Belum lagi rasa menyesal karena tidak memiliki waktu untuk memperhatikan ketiga anaknya yang beranjak dewasa. Ketika anak kedua dan ketiganya mengalami masalah di sekolahnya, dia menyalahkan dirinya sendiri untuk hal tersebut.

Memang saya melihat wajah yang tampak capek sekali ketika bercerita dengan kelopak mata bawah dari matanya yang menggantung. Saya jarang sekali berkomentar untuk apa yang dia curhatkan itu. Saya biasanya hanya tersenyum ketikan mendengar ceritanya itu. Saya percaya di hanya butuh orang untuk diajak bicara dan mendengarkan curhatannya saja. Karena biasanya setelah dia menceritakan berbagai permasalahan hidupnya itu, wajahnya terlihat lebih lega. Dan binar matanya terlihat kembali membuat kecantikannya semakin terpancar.

Di perjalanan pulang dari konsultasi dokter tersebut saya merenung sambil berdiskusi kecil dengan anak saya mengenai pembicaraan saya dengan dokter cantik itu. Sebagai seorang dokter ahli penyakit dalam dengan pasien jumlah pasien banyak, tentunya kehidupan ekonominya juga sangat terjamin. Apalagi dia masih berpraktek di luar jam kerjanya di rumah sakit dan memiliki apotik. Dia mampu menyekolahkan anak-anaknya di sekolah mahal dan bergengsi, memiliki rumah bertingkat yang megah (rumahnya di dekat apoteknya itu), dan mobil keluaran terbaru tampak berjejer di cartpot dan garasi rumahnya itu. Tubuhnya sebagai seorang perempuan juga sempurna dengan kecantikan dan tinggi tubuh yang seimbang. Sangat menarik sebagai perempuan di usianya.

Tapi ternyata semua itu tidak menjamin seseorang bisa merasakan ketenangan dalam hidupnya. Yang ada adalah rasa capek melanda, rasa tidak diperhatikan oleh pasangan, dan rasa menyesal karena tidak memiliki banyak waktu untuk anak-anaknya. Hmmm … apakah ada yang salah dari hidupnya? Dan bagaimana dengan hidup saya?

#sarapankata
#day1
#kmoindonesia
#capek
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#myfourthbook
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day27