BERSERAH DIRI

Kalau dua hari lalu sajian sarapan saya adalah tentang salah satu kata yang mudah untuk diucapkan tetapi sulit untuk dilakukan, yaitu ikhlas; maka hari ini sajiannya adalah kata lain dengan ciri yang sama yaitu berserah diri atau pasrah.

Siapa tidak tahu dengan kata itu, saya kira hampir semua orang tahu. Bahkan mungkin hampir semuanya pernah mengucapkannya.

“Pasrah saja, kawan, mau apa lagi?”

“Kalau sudah begini, saya hanya bisa pasrah.”

“Akhirnya saya pasrah, mau gimana lagi coba?”

Begitu kata “pasrah” sering saya dengar atau baca. Dari nada dan kata-kata lain yang “menemani” kata “pasrah” itu terkesan bahwa pasrah adalah jalan terakhir yang ditempuh ketika berbagai ikhtiar sudah dilakukan dan tidak ada hasilnya.

Misalnya ada seorang teman yang berpasrah ketika dia tidak berhasil menagih hutang yang dipinjam partnernya dalam jumlah yang cukup besar. Padahal hutangnya itu diambil dari sebagian uang bisnisnya yang katanya sedang sangat dibutuhkan saat itu. Berbagai cara sudah dilakukan, dari cara halus sampai dengan ancaman dilaporkan kepada yang berwajib dan diperkarakan ke pengadilan. Tapi tidak ada hasilnya. Partnernya menantang “silakan diperkarakan,” katanya.

Bagaimana respon teman saya atas hal itu? Dia tahu memperkarakan bukan hal yang mudah. Berbelit prosedurnya dan ongkosnya mahal. Dia sadar itu bisa berlarut-larut dan bisa membuat dia menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan dana yang tidak sedikit. Akhirnya dia bilang dengan wajah kuyu,” Ya sudah, saya pasrah saja. Mau gimana lagi coba?”

Atau saya pernah mendengar ada seorang karyawan di-phk. Sejak setahun sebelumnya dia sudah mendengar desas-desus bahwa perusahaan tempatnya bekerja itu akan melakukan pengurangan karyawan karena kondisi keuangan perusahaan yang semakin buruk. Dia berikhtiar dengan melakukan berbagai tugasnya sebaik-baiknya agar dia dinilai berharga oleh perusahaan sehingga dipertahankan tidak ikut di-phk.

Dia semakin rajin datang ke kantor, tidak pernah terlambat. Dan pulang lewat dari jam yang ditentukan kadang sampai malam sekali masih di kantor menyelesaikan tugasnya. Dia pun memberi perhatian lebih kepada atasan langsungnya. Dia mengirimkan bunga dan kartu ucapan ketika atasannya itu berulang tahun dan mendapat suatu penghargaan. Dia menjenguk ketika anak atasannya itu sakit dan dirawat di rumah sakit. Dia menawarkan bantuan ketika atasannya itu melangsungkan syukuran ketika akan berangkat haji.

Namun ketika phk diberlakukan, dia termasuk yang ikut di-phk. Dia pun dengan sangat kecewa berkata,” kalau sudah begini, saya hanya bisa pasrah.”

Berpasrah atau berserahdiri adalah salah satu sikap yang dibutuhkan agar kita tetap mampu menjalani kehidupan di dunia ini dengan baik atau dengan kata lain bahagia. Termasuk ketika memanfaatkan waktu kita di bisnis dan tempat kerja. Rasa bahagia membuat kita selalu bersemangat untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Rasa bahagia membuat kita selalu memandang segala sesuatu itu positif. Rasa bahagia juga membuat kita selalu bersikap baik kepada siapapun. Semua itu membuat kita mampu menjadi pekerja teladan dan pebinis handal. Siapa yang tidak mau? Sebagian besar orang pasti menginginkan itu.

Masih belum yakin? Inilah janji Allah kepada mereka yang berserah diri:

“… Dan barangsiapa yang bertawakkal (berserah diri) kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath-Thalaq: 3)

Semestinya kita menjadi bahagia karena Allah berjanji untukmencukupi segala keperluan kita jika kita berserah diri. Dan janji Allah adalah pasti. Dia Maha Suci tak mungkin ingkar janji.

Tapi apakah kita bisa merasa selalu bahagia dengan cara berserah diri seperti dua contoh di atas? Wajah kuyu dan rasa kecewa ketika mengatakan keberserahan dirinya itu memperlihatkan mereka tidak bahagia, jika bahagia diartikan sebagai rasa tenang dan tenteram tanpa ada rasa sedih, kecewa, gelisah, dan khawatir.

Mereka sudah berserah diri tapi masih belum merasa bahagia. Kenapa ya?

#sarapankata
#day10
#kmoindonesia
#kmobatch12
#berserahdiri
#pasrah
#tawakal
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day37

VICTIM OR VICTOR? (2)

Siapa sih yang tidak ingin menjadi pemenang? Saya percaya hampir semua orang ingin menjadi pemenang. Tapi ternyata tidak mudah menjadi seorang pemenang. Karena ada hal-hal yang kita lakukan tanpa kita sadari membuat kita tidak bisa menjadi pemenang melainkan menjadi korban. Salah satunya adalah penolakan kita terhadap ketidaknyamanan yang kita alami.

Apakah anda pernah merasa kecewa, gelisah, khawatir, kesal yang berujung pada marah dan stres? Atau bahkan mungkin sering? Biasanya disebabkan oleh apa? Kalau saya, salah satunya adalah tidak mau menerima kenyataan bahwa apa yang saya harapkan tidak tercapai. Dan itu kadang tanpa disadari.

Misalnya tanpa sadar ternyata saya pernah menolak kegagalan dalam berbisnis. Ketika itu bisnis baju muslim saya semakin hari semakin menurun performanya. Cirinya apa bahwa saya menolak? Saat itu terjadi saya mengeluh dengan bertanya-tanya tidak hanya kepada diri sendiri dan orang-orang terdekat, tapi juga kepada Allah.

Kenapa kok bisnis saya semakin terpuruk? Padahal sudah mengikuti banyak seminar dan pelatihan bisnis dan menerapkan apa yang didapat. Padahal sudah aktif di komunitas bisnis. Padahal beberapa kali ikut program mentoring. Padahal orang lain yang melakukan hal sama bisa maju bisnisnya. Apa salah saya?

Ketika kemudian kita mendapatkan jawaban yang mengarah kepada menyalahkan hal lain di luar diri kita, maka pada saat itulah kita menjadi korban atau victim. Pada saat kita diposisi ini, maka kita akan sulit menjadi
pemenang atau victor.

Apakah salah mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu? Sebetulnya jika pertanyaan itu ditujukan benar-benar hanya untuk mencari solusi agar ketidaknyamanan/kegagalan yang kita terima itu segera teratasi, bisa jadi tidak masalah. Dan tanpa kecenderungan menyalahkan hal lain di luar diri kita. Bahkan hal itu bisa membantu kita untuk segera mendapatkan solusi dan membuat keadaan membaik lagi.

Sayangnya itu bukanlah tahap pertama bagi kita untuk sampai kepada ciri menerima. Ada langkah lain yang justru paling penting yang sering kita lupakan untuk sampai ke tahap tersebut. Sebelum pertanyaan-pertanyaan itu diajukan kita perlu menyadari bahwa kita memang pantas menerima ketidaknyamanan/kegagalan tersebut.

Jadi tidak mengherankan ketika ketidaknyamanan/kegagalan itu datang, kita bertanya-tanya terus-menerus karena kecewa dan iri dengan apa yang dicapai orang lain, tanpa berusaha dengan sungguh-sungguh mencari solusinya. itulah yang akhirnya bisa membuat kita marah dan stres.

Dan bahkan sebaiknya kita menyadari bahwa kita pantas menerima ketidaknyamanan/kegagalan itu sebelum hal itu terjadi. Ini membantu kita semakin siap menerima pada saat hal itu terjadi. Sehingga kita tidak akan merasa kecewa, gelisah, khawatir, marah, dan stres pada saat ketidaknyamanan itu datang.

Ternyata tidak sulit, ya menjadi victor? Atau … sulit?

#sarapankata
#day9
#kmoindonesia
#kmobatch12
#oneweekonepost
#wifibandung
#wifiregionbandung
#menolak
#victimorvictor?
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day36

I K H L A S

I H K L A S

Setiap kali saya bertemu dengan atau mendengar ada orang yang mau menerima berbagai ketidaknyamanan yang datang kepadanya tetapi dia tetap bisa tenang, tersenyum, tidak mengeluh malah bersyukur; saya kagum sekaligus bertanya-tanya. Keren banget ya dia. Tapi kok bisa?

Keren banget karena saya jarang menemukan orang yang mampu seperti itu. Saya lebih sering bertemu atau mendengar orang merasakan gelisah, khawatir, kesal, bahkan marah ketika mengalami ketidaknyamanan. Saya sendiripun masih mengalami hal yang sama jika mengalami hal itu. Paling tidak pada pukulan pertama, yaitu ketika di awal saya merasakan ketidaknyamanan itu.

Misalnya, saya pernah mendengar ada seseorang yang ditipu oleh sahabatnya pada saat berbisnis. Dia menjadi bankrut dan kehidupan keluarganya berantakan karena istrinya tidak bisa menerima kenyataan jika harus mengalami kesulitan ekonomi. Tapi dia bisa tetap tenang dan mungkin karena ketenangannya tersebut membuat dia mampu untuk bangkit kembali dari kejatuhannya itu. Dia akhirnya berhasil membangun kembli
bisnisnya dan bertemu dengan jodohnya lagi yang lebih baik dan mau mengerti serta mendukungnya di setiap keadaan.

Atau saya juga pernah mendengar ada seseorang yang difitnah dan dijatuhkan di lingkungan bekerjanya. Bahkan tidak hanya sekali dia mengalaminya, melainkan beberapa kali. Tapi entah kenapa, dia selalu mampu bersikap tenang dan tidak banyak mengeluh dengan bercerita ke sana ke mari. Dia tetap mampu hadir di tempat kerjanya dan mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik.

Atau seseorang yang akhir-akhir ini saya kenal dan lihat sendiri. Bagaimana tenangnya, bagaimana dia tetap tersenyum ketika berkata-kata, tidak ada keluhan sedikitpun bahkan syukur sering terucap dari mulutnya. Padahal saat ini dia berada dibawah vonis dokter bahwa hidupnya tidak lebih dari satu bulan lagi karena penyakit yang menggerogotinya. Dia tetap bersemangat berbagi ilmu dan menularkan kebaikan walaupun kondisi tubuh sudah melemah. Katanya,” Selama saya masih mampu untuk melakukan itu semua, saya tidak akan berhenti walaupun misalnya hanya mampu berkata-kata saja karena badan sudah tak bisa digerakkan sama sekali”.

Dan saat ini, setiap hari pintu rumahnya selalu terbuka di jam-jam tertentu untuk memberi kesempatan kepada siapapun yang ingin mendapatkan ilmu dan kebaikannya. Padahal untuk makan saja dia harus disuapi karena kedua tangannya sudah terlalu lemah untuk digunakan beraktivitas. MasyaAllah …

Ternyata ada ya orang-orang istimewa seperti itu. Apa sih yang membuat mereka bisa bersikap seperti itu? Tetap tenang, tersenyum, tidak mengeluh, bahkan bersyukur dengan keadaan tidak nyaman yang dialaminya. Ikhlas bahkan dalam kondisi sangat tidak nyaman sekalipun. Kenapa mereka bisa berbeda dari kebanyakan orang?

Ah, pertanyaan-pertanyaan yang masih membuat saya penasaran. Bagaimana dengan anda?

#sarapankata
#day8
#kmoindonesia
#kmobatch12
#ikhlas
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day35

VICTIM OR VICTOR? (1)

“Jalanan macet.”

“Hujan deras banget.”

“Ban motor bocor.”

Pernahkah mendengar seseorang yang menjawab seperti itu ketika dia datang terlambat pada saat meeting atau masuk kerja/kuliah misalnya? Sering, ya?

“Terlalu banyak tugas/pekerjaan dalam satu waktu.”

“Printernya rusak.”

“Anak rewel.”

“Waktunya mepet banget.”

Atau pernahkah mendengar seseorang menjawab seperti di atas ketika dia tidak bisa mengerjakan tugasnya di tempat kerja/kampus misalnya? Ternyata sering juga, ya.

Apakah salah jika seseorang memberikan alasan-alasan seperti itu? Belum tentu. Bisa jadi apa yang dikatakannya itu memang benar adanya. Jalanan memang macet, hujannya memang deras banget, printernya memang rusak, atau waktunya memang mepet banget.

Tetapi bukan masalah salah atau benar, terjadi atau tidak, apa yang dikatakannya itu. jika itu menjadi kebiasaan maka kita menjadi sering dan dengan mudah membiarkan janji atau tugas/perkerjaan kita terbengkalai. Pada saat seperti itu beribu alasan bisa dengan mudah kita temukan. Sehingga kita mungkin jadi tidak merasa bersalah dan mungkin juga tidak ada keinginan untuk mengerjakan tugas/pekerjaan kita dengan baik. Kita jadi lalai akan tanggungjawab/janji kita.

Bagaimana mungkin kita bisa menjadi pemenang jika hal itu sering kita lakukan? Bagaimana mungkin kita bisa mencapai keinginan-keinginan/mimpi-mimpi kita jika sering dan dengan mudah memberi alasan seperti itu? Katanya ingin berprestasi di tempat kerja. Katanya ingin bisnisnya sukses. Katanya ingin bisa lulus kuliah tepat waktu dan dengan nilai yang baik. Katanya ingin jadi penulis buku yang hebat dan terkenal.

Apakah semua itu bisa kita capai hanya dengan “ingin”? Tapi kita tidak memperbaiki kebiasaan-kebiasaan kita yang tidak baik seperti di atas? Yaitu dengan mudah kita memberikan banyak alasan untuk ketidakdisiplinan kita?

Selama kita merasa selalu menjadi korban (victim) kita akan sulit untuk menjadi pemenang (victor). Itulah kemudian yang membuat kita menjadi sering mengeluh saja tanpa mencari solusi dari apa yang kita keluhkan itu. Kita menjadi merasa nyaman dalam keluhan-keluhan itu. Kita tidak merasa bersalah ketika keluhan itu disampaikan.

Tapi memang semua kembali kepada diri masing-masing. Menjadi victim atau victor adalah pilihan. Tidak ada yang bisa menentukannya kecuali diri kita sendiri.

Jadi mau tetap menjadi victim atau berubah menjadi victor?

#sarapankata
#day7
#kmoindonesia
#kmobatch12
#victimorvictor?
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day34

S A B A R

“Jadi gimana cara kamu menemukan solusi itu, Zan?” Tanya saya penasaran.

Azantya, adik kelas di SMA yang sekarang memiliki bisnis fashion yang sedang menanjak naik itu, tampak sudah siap menjawab ketika telepon genggamnya berbunyi. Diliriknya layar telepon genggam yang ada di meja kafe tempat kami bertemu ini, kemudian menjawab,” Maaf ya, Teh. Saya terima telepon dulu sebentar. Dari tim saya.”

Dan Azantyapun beberapa saat menjawab telepon tersebut. Terdengar suara perempuan namun tidak jelas apa yang dikatakannya dari telepon genggamnya itu. Hanya saja dari nada bicaranya terdengar kepanikan. Tapi Azantya terlihat tenang dengan senyum tampak membayang di bibirnya. Kemudian diapun berkata-kata dengan ketenangan yang sama walaupun terasa nada ketegasannya.

“Ada apa kalau boleh tahu, Zan?” Setelah Azantya menutup telepon genggamnya.

“O, itu. Biasalah. Ada kesalahan pengiriman, beberapa paket barang tertukar dikirimkan ke alamat yang bukan semestinya,” jawab Azantya sambil tersenyum.

“Sering hal seperti itu terjadi?”

“Sebetulnya hanya satu orang yang sering melakukan itu, yang barusan telepon itu. Memang agak teledor orangnya.”

“Sering? Memang enggak pernah dikasih tahu atau sanksi kalau dia melakukan itu lagi?” Tanyaku heran.

Azantya tertawa kecil,” Sudah. Tapi terulang lagi dan lagi.”

“Terus kenapa dia masih dipertahankan menjadi tim kamu?”

Azantya terdiam sebentar sambil memandang saya. Bibirnya tetap menyunggingkan sedikit senyum,” Dia memang tidak sepintar dan secekatan tim yang lain. Tidak jarang melakukan kesalahan bahkan untuk hal-hal kecil seperti lupa menyimpan peralatan. Tapi dia single parents, anaknya 3 masih perlu biaya banyak. Niat saya berbisnis bukan semata-mata untuk profit pribadi saja, tetapi juga ingin membantu orang lain yang membutuhkan.”

MasyaAllah, rasa kagum mulai saya rasakan. Kemudian kamipun melanjutkan percakapan yang terpotong tadi. Namun tidak lama terdengar telepon genggam Azantya berbunyi lagi. Diliriknya layar telepon genggam itu dan kali ini lebih cepat dia menjawab panggilan telepon tersebut.

“Maaf, sebentar ya, Teh. Dari suami,” katanya sambil berdiri dan menjauh dari tempat kami duduk. Beberapa saat kemudian Azantya berjalan kembali mendekati meja kami sambil berkata,” Ya udah, Pa, bawa ke sini aja Dik Rasya nya.”

“Rasya lagi agak rewel, mungkin karena sedang kurang enak badan, sedang agak pilek dia. Risya masih betah di toko buku. Jadi enggak sinkron deh,” katanya menjelaskan sambil tertawa kecil. Rasya adalah anak bungsu laki-laki Azantya yang baru bersekolah di TK. Sementara Risya adalah anak sulung perempuannya yang sudah di SMA.

Tidak lama kemudian suami dan anak bungsu Azantya datang. Rasya langsung merangkul ibunya dengan manja. Kata-kata bernada manja berhamburan keluar dari mulut kecilnya.

Yang membuat saya kagum adalah kesabaran Azantya menghadapi kemanjaan Rasya ketika kami kemudian melanjutkan percakapan yang tertunda setelah suaminya kembali ke toko buku untuk menemani anak sulung mereka. Tidak jarang percakapan kami harus berhenti sesaat karena Rasya meminta perhatian ibunya. Dari mulai ingin memesan makanan dan minuman tertentu, membujuk Rasya untuk tidak memesan minuman dingin, ke toilet, minta dipijit kakinya, minta dicium kedua pipinya, sampai minta disuapi.

Namun tidak ada sekalipun Azantya menghadapinya dengan kesal dan keras. Hanya ketenangan dan kelembutan yang tercermin dalam setiap tindakannya. MasyaAllah …

Kemudian terdengar lagi telepon genggam Azantya berbunyi. Dari timnya lagi. Sepertinya kali ini masalahnya cukup pelik sehingga membutuhkan kehadirannya di sana. Dan lagi-lagi sikap dia tetap tenang dalam menghadapi permasalahannya itu. Tidak terlihat kegelisahan dan kekhawatiran di dalamnya.

“Maaf sekali lagi ya, Teh. Kita enggak bisa lebih lama lagi ngobrolnya. Padahal saya masih kangen. Padahal saya yang semangat mengajak Teteh bertemu,” katanya ketika kami bersalaman pipi berpamitan. Kemudian dia mengajak Rasya berjalan meninggalkan kafe itu menuju toko buku untuk menyusul suami dan anak sulungnya.

Dan rasa kagum itu masih terus ada di hati ketika sosoknya menghilang ditelan dinding pembatas kafe dengan bagian lain di mal besar itu. Apa ya, yang ada di hatinya sehingga kesabarannya tetap ada walaupun berbagai ketidaknyamanan sedang menghampirinya?

#sarapankata
#day6
#kmoindonesia
#kmobatch12
#sabar
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day33

T E R G O D A

Daffa terdiam. Dia bingung. Lembar tanda tangan di mejanya masih belum dia sentuh. Tanda tangan enggak, ya? Begitu bisik hatinya. Ragu untuk memilih. Ah tapi semua juga pernah mengalami ini dan ga masalah kok, tanda tangan aja deh sepertinya, lanjut hatinya lagi.

Akhirnya tangannya meraih balpoin di saku kemejanya dan menggoreskan tanda tangan di lembaran di atas meja itu. Kemudian Daffa memasukkan lembaran tanda tangan itu ke sebuah map berisi dokumen selengkapnya. Diapun berdiri dan berjalan ke luar ruangan kerjanya sambil membawa dokumen itu. Dokumen itu akan dia serahkan kepada atasannya di ruang sebelah.

Dokumen itu berisi laporan keuangan dari proyek yang menjadi tanggung jawabnya bulan lalu. Kebingungan yang tadi dirasakannya itu karena dia tahu laporan itu tidak real, ada unsur mark up dan fiktifnya. Tapi itu dilakukan agar dana yang sudah dipotong di sana dan di sini sebelum sampai kepada bendahara proyek itu bisa dipertanggungjawabkan. Termasuk untuk biaya potong sana sini tersebut.

Di lain waktu, Daffa kembali terdiam dan bingung ketika seseorang menyerahkan amplop cukup tebal ke hadapannya. Pembagian dari Pak Anu kata orang tersebut sambil menyebut nama atasannya. Kata pembagian segera difahami Rio berasal dari uang yang tak semestinya. Uang panas, begitu teman-teman Daffa menyebutnya. Tapi walaupun disebut “panas” tetap saja teman-temannya mau menerima amplop tersebut. Dan sepertinya kemudian mereka juga tidak sungkan membelanjakannya.

Ah, kan semua juga kebagian. Dan semua juga mau menerimanya, bisik hati Daffa. Dipandangnya lagi amplop tebal itu. Terbayang jumlah nominal di dalamnya. Terbayang pula berbagai hal yang bisa dia lakukan dengan uang sebanyak itu. Banyak hal bisa terselesaikan. Uang sekolah anak-anaknya, tagihan kartu kreditnya, dan biaya renovasi rumahnya. Akhirnya tangan Daffapun meraih amplop itu dan memasukkannya ke dalam tas kerja di samping kursinya.

Kenapa seseorang bisa tergoda oleh hal-hal yang bukan haknya di tempat kerja atau bisnisnya? Apakah sedemikian kuat godaan itu sehingga sulit untuk ditepis? Adakah hal yang bisa membuat seseorang tahan akan godaan seperti itu?

Pertanyaan-pertanyaan menarik. Adakah yang bisa menjawabnya?

#sarapankata
#day5
#kmoindonesia
#kmobatch12
#tergoda
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day31

MENJADI LUAR BIASA

Dunia ini memang sangat menarik untuk dikaji. Banyak peristiwa yang bisa kita jadikan pelajaran berharga. Salah satunya adalah peristiwa-peristiwa yang dialami oleh teman saya, sebut saja Rangga.

Rangga seorang laki-laki biasa saja sebetulnya. Seperti kebanyakan orang, dia berasal dari keluarga biasa-biasa secara ekonomi dan kedudukan di masyarakat. Ayahnya seorang karyawan swasta dengan penghasilan yang cukup
untuk menghidupi keluarga biasanya itu. Ibunya seorang ibu rumah tangga biasa dengan sambilan berjualan baju-baju muslim dan kerudung kecil-kecilan di sela-sela waktu luangnya.

Rangga mempunyai seorang kakak perempuan dan seorang adik laki-laki dengan perbedaan usia antarketiganya tidak terlalu jauh. Dua tahun saja. Hubungan antarketiganyapun biasa-biasa saja layaknya kebanyakan tiga bersaudara. Kadang kompak dan kadang terjadi sedikit persilihan antarmereka.

Masa kecil, masa remaja, hingga lulus kuliah juga dialami Rangga biasa-biasa saja. Prestasi sekolah dan aktivitas di luar sekolahnya pun biasa-biasa saja. Semua berjalan biasa-biasa saja, nyaris lancar, tanpa hambatan yang berarti.

Tapi kehidupan Rangga yang biasa-biasa itu kemudian mulai berubah ketika dia memasuki usia dewasa. Tidak lama setelah lulus kuliah, dia diterima si suatu bank dan menemukan jodohnya di sana. Ketika perekonomian dunia bergejolak yang juga menular ke perekonomian di Indonesia, Rangga ikut merasakan akibatnya. Dia menjadi salah seorang karyawan yang terkena PHK. Padahal saat itu dia sedang membutuhkan biaya yang cukup besar untuk keperluan persalinan istrinya melalui operasi dan perawatan anaknya yang mengalami komplikasi setelah lahir.

Sebagai seorang kepala keluarga, Rangga berusaha untuk mengatasi permasalahan keluarga kecilnya itu. Dia terus berikhtiar, berusaha bangkit dari keterpurukannya. Dalam kondisi kebingungan yang sangat akhirnya dia menerima tawaran seorang teman lamanya yang tidak sengaja bertemu kembali. Temannya itu mengajak Rangga untuk bergabung dalam bisnis yang sedang dirintisnya. Rangga setuju terutama karena teman lamanya itu bersedia meminjamkan sejumlah uang yang bisa menutup seluruh biaya yang sedang Rangga butuhkan.

Sayangnya teman lamanya itu ternyata tidak amanah dengan membawa lari hampir seluruh dana dalam bisnis yang sedang dirintisnya itu. Dan dana yang tidak sedikit itu berasal dari beberapa investor yang tidak terima uangnya dilarikan. Akhirnya masalah ini diperkarakan, masuk pengadilan, dan menyebabkan Rangga harus ikut merasakan hidup di penjara selama setahun bersama teman lamanya itu.

Hanya itu saja? Ternyata tidak. Ketika Rangga sedang dipenjara, sang istri tidak tahan dengan apa yang menimpanya. Dia meninggalkan Rangga dengan membawa surat perpisahan yang sah dari Pengadilan Agama. Istilah “sudah jatuh, tertimpa tangga pula” sepertinya sangat tepat disandang oleh Rangga saat itu.

Seperti apa kira-kira yang akan teman-teman lakukan kalau saja teman-teman yang mengalaminya? Apakah teman-teman akan menghabiskan waktu di penjara dengan menangisi nasib dan menutup diri? Ataukah teman-teman memupuk rasa marah sambil menyalahkan orang lain atas kejadian yang menimpa? Atau diam saja tanpa melakukan apa-apa karena menyerah dan putus asa? Semua itu akan membuat teman-teman semakin jatuh dalam keterpurukan. Padahal itu hanyalah sebagian dari pilihan yang bisa teman-teman pilih.

Bagaimana dengan Rangga. Ternyata Rangga memilih untuk bangkit segera dari keterpurukan. Pengalamannya selama satu tahun di penjara justru membuatnya menjadi kuat dan bertekad untuk memperbaiki secepatnya kehidupannya yang terpuruk itu.

Ketika Rangga terbebas dari penjara, diapun berikhtiar untuk keinginannya itu. Setelah berjuang beberapa waktu akhirnya Ranggapun bisa mengembalikan kehidupannya menjadi baik, bahkan lebih baik dari sebelumnya. Karena Rangga memilih untuk menjadi sebagian kecil yang tidak biasa-biasa saja. Rangga memilih untuk menjadi luar biasa.

Hmmm … Ada apa dengan Rangga ya? Kok bisa dia begitu ya?

#sarapankata
#day4
#kmoindonesia
#kmobatch12
#menjadiluarbiasa
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day30

M A L A S

Gladys masih terdiam di depan pintu ruangan atasan barunya. Keraguan memenuhi relung kalbunya. Rasanya enggan sekali masuk ke ruangan itu dan bertemu dengan atasan barunya itu. Ini sudah ke 3 kalinya dia menghadap atasannya untuk menanyakan penilaian dirinya oleh atasannya itu.

Tapi dua kali menghadap tidak ada hasilnya. Dia merasa ada saja alasan atasannya itu untuk tidak segera mengeluarkan penilaian dirinya. Dia juga merasa alasannya hanya dibuat-buat saja. Padahal penilaian atasannya itu diperlukan untuk laporan kemajuan dirinya kalau ingin nilainya bagus. Dan batas akhir penyerahan dokumen-dokumen untuk laporan kemajuan dirinya itu sudah sangat dekat.

Ini bukan yang pertama dia merasa dipersulit oleh atasannya itu. Sekitar sebulan lalu dia juga sulit mendapatkan tanda tangan atasannya itu untuk laporan hasil pengukuran perusahaan yang dia kerjakan. Sehingga penyerahan laporan tersebut kepada perusahaan yang diukur terlambat dari waktu yang dia janjikan. Membuat dia merasa malu kepada perusahaan tersebut dan kesal kepada atasannya.

Selama ini Gladys selalu bekerja penuh semangat. Selain karena memang dia menyukai aktivitas-aktivitas yang menjadi tugasnya, juga karena ada iming-iming penambahan insentif yang lumayan bagi mereka yang mampu melaksanakan berbagai tugasnya dengan baik. Belum lagi kalau menjadi staf terbaik ada ganjaran yang menggiurkan yaitu melakukan perjalanan umroh gratis untuk dia dan pasangannya.

Tapi kemudian Gladys keluar dari ruangan atasan barunya itu dengan wajah suram dan tubuh lunglai. Lagi-lagi dia gagal untuk mendapatkan penilailan dari atasannya itu. Dan alasan yang dikemukakan oleh atasannya menambah rasa kesalnya, lembar penilaiannya tertinggal di tempat klien kemarin katanya. Sehingga Gladys harus memintanya kembali ke Bagian SDM. Terbayang proses mengajukan lagi penilaian itu kepada atasannya yang membuatnya patah semangat. Diapun merasa atasannya itu tidak menyukainya sehingga dia dipersulit seperti ini.

Membayangkan semester ini laporan kemajuan dirinya kurang baik, sehingga insentif yang semestinya bisa dia dapatkan jadi batal; juga kesempatan menjadi staf terbaik jadi hilang karena kasus-kasus di atas; dia jadi malas untuk memperlihatkan kemampuan terbaiknya. Ah, sebaik apapun saya melakukan berbagai tugas saya, tidak akan mungkin mendapatkan hasil yang baik apalagi terbaik karena terhambat di tanda tangan dia (atasan barunya). Jadi untuk apa berusaha mengerjakan dengan sebaik-baiknya. Begitu yang ada di pikiran Gladys saat itu.

Akhirnya Gladyspun melakukan berbagai tugasnya asal-asalan saja. Tidak pernah lagi ada semangat untuk melakukan yang terbaik dalam pekerjaannya itu. Kemalasannya terpicu karena rasa kesal atas perlakukan atasannya terhadap dirinya. Bahkan untuk masuk kerjapun dia tidak bersemangat lagi. Yang ada rasa berat setiap kali memasuki kantor tempatnya bekerja.

Apakah ada yang sedang merasakan hal yang sama dengan Gladys? Atau bahkan mungkin ada yang mengalami hal yang sama dengan yang dialami Gladys? Kenapa ya perasaan malas, tidak bersemangat, berat dalam bekerja itu muncul? Apakah karena pihak lain, kalau dalam kasus Gladys adalah atasan barunya itu? Atau jangan-jangan penyebabnya ada dalam diri kita? Silakan telusuri dulu hati masing-masing untuk menjawabnya.

#sarapankata
#day3
#kmoindonesia
#kmobatch12
#semangat
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day29

S E M A N G A T

Saya sudah menunggu-nunggu sesi ke 3 ini sejak pagi. Sejak pelatihan ini dimulai. Terbayang sosok yang fresh dan penuh percaya diri akan tampil di depan sana. Dengan membawakan materi yang tidak jarang membuat lidah ini berdecak kagum. Materi yang jarang bisa dibawakan sesempurna ini oleh trainer manapun.

Trainer favorit yang satu ini memang memiliki semangat yang luar biasa. Walaupun kadang katanya dia harus berjuang untuk sampai tepat waktu ke tempat pelatihannya seperti sekarang ini karena sebelumnya dia bertugas di tempat yang agak jauh di pelosok sana, namun penampilannya tetap mempesona.

Setiap gerakan dan kata-katanya mampu menyihir saya sehingga saya terpaku dan menyerap dengan baik materi yang dia berikan. Latihan-latihan yang disampaikannyapun membuat peserta jadi lebih memahami materi yang dia sampaikan.

Kalau saya nanti menjadi seorang trainer, saya ingin bisa menjadi trainer seperti dia. Selalu memberikan pelayanan terbaik bagi kami para peserta pelatihannya. Gayanya yang khas dan energik itu selalu terbayang. Diselingi dengan candaan elegan dan tidak murahan, membuat sesinya selalu dinanti oleh banyak orang.

Kadang saya ingin bertanya langsung kepadanya, bagaimana sih bisa mempertahankan semangatnya tetap membara. Bahkan ketika dia harus memulai pelatihannya di waktu-waktu yang berbahaya, setelah makan siang misalnya. Sering peserta pelatihan menjadi kurang bersemangat setelah makan siang karena kondisi perut yang kenyang. Tapi dia selalu saja mampu mengatasinya. Mata peserta menjadi terbuka kembali ketika pelatihan dimulai lagi olehnya.

Tapi apalah daya diri ini. Siapalah saya ini. Hanya seorang peserta biasa dari pelatihan-pelatihan seperti ini yang sangat mengagumi penampilannya dalam berkarya di bidangnya ini. Bidang yang juga menjadi impian saya untuk berkarya nanti.

Apakah memang semangat seperti itu perlu dilatih atau bisa muncul dengan sendirinya? Semangat yang bisa menular kepada peserta yang ikut sesi pelatihannya. Apa sih yang ada di dalam dirinya yang mendorongnya selalu tampak bersemangat dalam memberikan tampilan terbaiknya? Pasti ada sesuatu yang sangat dipercayainya sehingga semangat itu tetap terjaga.

Betapa menyenangkannya kalau kita bekerja dalam kondisi seperti yang selalu dia alami. Selalu tampak bersemangat dan menikmati setiap tahapan pelatihan yang dia berikan. Tak pernah sekalipun saya melihatnya termangu dalam kebosanan atau terdiam terlalu lama dalam kebingungan ketika sedang memberikan materi pelatihan. Pasti segera dia akan bergerak dengan semangat mengelilingi ruangan pelatihannya itu mengawal para peserta juga pada saat latihan-latihan diberikan, kalau-kalau ada peserta yang perlu bantuannya.

Siapa yang tak ingin berkarya dalam kondisi yang dialaminya? Pasti semua inginkan seperti dia. Sepertinya seluruh jiwa tercurah untuk terselenggaranya dengan baik pelatihannya tersebut. Dan dia tampak sangat menikmati semua proses yang terjadi.

Lagi-lagi saya melontarkan pertanyaan yang masih belum terjawab sampai saat ini. Hal apa ya yang membuat dia selalu bersemangat dalam memberikan pelatihan-pelatihannya itu? Tidak ada tanda-tanda kelelahan sedikitpun terlihat darinya. Semangatnya memang luar biasa. MasyaAllah …

#sarapankata
#day2
#kmoindonesia
#kmobatch12
#semangat
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day28
#onepostoneweek
#WiFIregionbandung

C A P E K

Minggu lalu, ketika pencernaan saya sedang memberikan alarm alaminya, saya berkonsultasi dengan seorang dokter langganan yang praktek di apotik miliknya. Seperti biasa jika akan berkonsultasi dengannya, di siang harinya saya menelepon apotik tersebut untuk mendaftar. Dan sekitar menjelang magrib saya akan dikabari dokter perempuan cantik itu akan berpraktek jam berapa di hari itu. Praktek malam hari tentunya.

Saya kemudian ditelepon mendekati magrib yang isi pesannya adalah dokter cantik itu akan praktek jam 20.30 alias setengah sembilan malam. Saya pun mengiyakan dan mengisi waktu untuk menunggu waktu prakteknya itu dengan melaksanakan sholat, makan malam, dan istrirahat sejenak sambil meredakan gemuruh perut yang biasanya datang setiap kambuh setelah diisi makanan.

Sekitar lima menit sebelum setengah sembilan malam, kembali ada panggilan telepon dari apotek itu yang mengabarkan bahwa dokter cantik yang saya tunggu-tunggu sudah datang di tempat prakteknya. Maka sayapun memanggil anak sulung saya untuk menemani saya ke tempat praktek dokter tersebut yang tidak jauh jaraknya dari rumah.

Ketika saya sampai di apotek tersebut, sudah ada beberapa pasien lain yang menunggu. Dihitung-hitung ada 3 pasien yang datang sebelum saya dan pada saat saya menunggu masih datang 2 pasien lain. Cukup banyak juga pasiennya malam hari ini padahal waktu sudah menunjukkan pukul 9 kurang sepempat.

Tempat prakteknya ini tidak terlalu besar tapi cukup nyaman dan berada di satu ruko di bagian depan perumahan tempat saya tinggal. Dokter cantik itu memiliki 2 ruko di sana. Satu khusus untuk tempat prakteknya, dia sebagai ahli penyakit dalam di lantai bawah dan praktek dokter gigi di lantai 2. Satu ruko lagi khusus untuk apotek yang menurut saya cukup lengkap menyediakan obat-obatan.

Saya cocok berkonsultasi dengannya karena selain dia seumuran dengan saya, tempat prakteknya sangat dekat dengan rumah, dan saya mengenal pertama kali di sekolah anak saya yang bungsu karena merupakan salah satu orangtua dari teman anak bungsu saya itu. Mungkin karena seumuran dan saya juga punya kegiatan mengajar (sebagai pekerja), jadi konsultasi yang terjadi selalu menjadi ajang saling curhat. Apalagi saat ini kedua anak berada di sekolah yang berbeda sehingga saling memberikan kabar kedua anak bungsu kami seolah menjadi hal yang penting dalam pembicaraan kami.

Selain itu dia juga sudah sangat mengenal kondisi tubuh saya karena sudah sejak lama berkonsulitasi dengannya khususnya mengenai kondisi pencernaan saya. Dia tahu saya tidak terlalu suka mengkonsumsi obat-obatan kimia sehingga dia selalu memberikan obat yang relatif aman (tidak keras dan diusahakan berbasis herbal) khususnya untuk pencernaan saya.

Karena hubungan kami sudah dekat, dulu saya mudah menghubunginya jika saya butuh konsiltasi mendadak. Tinggal menghubungi via WA dan biasanya dalam jangka waktu 1 atau 2 jam kemudian sudah memberika jawaban yang sangat membantu saya. Jadi saya tidak perlu menunggu sampai jam praktek dia di Apoteknya tersebut. Saya sudah bisa mendapatkan resep obat darinya, tinggal diambil saja di apoteknya. Sayangnya akhir-akhir ini nomor WA yang dishare ke saya jarang sekali aktif, sehingga saya harus menunggu waktu prakteknya tiba yang semakin ke sini semakin malam saja dimulainya.

Nah salah satu yang kadang-kadang membuat saya terheran-heran adalah ketika saya berada di ruang prakteknya untuk berkonsultasi dengannya bukan saya yang banyak bercerita tentang kondisi saya melainkan dia. Dia bilang, sekarang ini jadi dokter adalah kerja rodi. Semenjak adanya program BPJS, pasiennya di rumah sakit membludak mencapai seratus orang setiap harinya. Dan minimal dia harus melayani 60 orang pasien. Dia bilang, sebetulnya dia tidak kuat dengan kondisi seperti itu setiap harinya. Sehingga tidak jarang dia pun mengalami sakit di pencernaan dan tekanan darahnya naik.

Betul pemasukannya meningkat sekitar 3 kali lipat dari sebelumnya tetapi tenaga dan waktu yang harus dikeluarkannya 5 kali lipat, katanya lagi. Jadi dia sering merasa kecapekan ketika sampai di rumah di malam hari. Padahal selama di rumahpun dia harus stand by dengan hp yang selalu siap menerima kabar pasiennya yang gawat dari rumah sakit tempatnya bekerja. Dia jadi tidak memiliki waktu lagi untuk suami dan anak-anak.

Anehnya lagi bukan suaminya yang merasa kurang perhatian, malah dia yang merasa kurang diperhatikan suami. Padahal yang sibuk adalah dirinya sendiri. Kadang dia merasa kesal dengan hal tersebut tetapi bingung mengungkapkannya kepada suaminya. Belum lagi rasa menyesal karena tidak memiliki waktu untuk memperhatikan ketiga anaknya yang beranjak dewasa. Ketika anak kedua dan ketiganya mengalami masalah di sekolahnya, dia menyalahkan dirinya sendiri untuk hal tersebut.

Memang saya melihat wajah yang tampak capek sekali ketika bercerita dengan kelopak mata bawah dari matanya yang menggantung. Saya jarang sekali berkomentar untuk apa yang dia curhatkan itu. Saya biasanya hanya tersenyum ketikan mendengar ceritanya itu. Saya percaya di hanya butuh orang untuk diajak bicara dan mendengarkan curhatannya saja. Karena biasanya setelah dia menceritakan berbagai permasalahan hidupnya itu, wajahnya terlihat lebih lega. Dan binar matanya terlihat kembali membuat kecantikannya semakin terpancar.

Di perjalanan pulang dari konsultasi dokter tersebut saya merenung sambil berdiskusi kecil dengan anak saya mengenai pembicaraan saya dengan dokter cantik itu. Sebagai seorang dokter ahli penyakit dalam dengan pasien jumlah pasien banyak, tentunya kehidupan ekonominya juga sangat terjamin. Apalagi dia masih berpraktek di luar jam kerjanya di rumah sakit dan memiliki apotik. Dia mampu menyekolahkan anak-anaknya di sekolah mahal dan bergengsi, memiliki rumah bertingkat yang megah (rumahnya di dekat apoteknya itu), dan mobil keluaran terbaru tampak berjejer di cartpot dan garasi rumahnya itu. Tubuhnya sebagai seorang perempuan juga sempurna dengan kecantikan dan tinggi tubuh yang seimbang. Sangat menarik sebagai perempuan di usianya.

Tapi ternyata semua itu tidak menjamin seseorang bisa merasakan ketenangan dalam hidupnya. Yang ada adalah rasa capek melanda, rasa tidak diperhatikan oleh pasangan, dan rasa menyesal karena tidak memiliki banyak waktu untuk anak-anaknya. Hmmm … apakah ada yang salah dari hidupnya? Dan bagaimana dengan hidup saya?

#sarapankata
#day1
#kmoindonesia
#capek
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#myfourthbook
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day27