TUJUAN HIDUP

Pernahkah kita merasa heran ketika melihat atau mendengar seseorang merespon berbeda dengan kita pada saat mengalami peristiwa yang sama? Misalnya ketika atasan kita di tempat kerja kesal dan menegur dengan keras karena kesalahan yang kita lakukan; kita bisa tetap tenang dan menerimanya. Tetapi ada orang lain yang mengalami hal sama merasa sakit hati dan marah karenanya.

Atau partner bisnis kita sering ingkar janji, kita bisa tetap tenang menghadapinya. Tetapi ada orang lain pada saat mengalami hal yang sama merasa kesal sehingga kemudian memutuskan tali silaturahmi dengan partnernya itu.

Kok bisa ya? Apa yang menyebabkan perbedaan respon tersebut?

Respon adalah cara kita menyikapi sesuatu. Sikap dan perilaku kita ternyata ditentukan oleh apa yang ada di hati kita. Jika hati kita dipenuhi kebaikan-kebaikan maka sikap dan perilaku kita juga penuh kebaikan. Tetapi sebaliknya, jika hati kita dipenuhi hal-hal yang buruk maka sikap dan perilaku kita juga penuh keburukan.

Begitulah potensi hati. Sangat dahsyat sehingga selalu mempengaruhi sikap dan perilaku kita. Karenanya kita tidak boleh sembarangan memasukkan semua hal ke dalam hati kita. Pilihlah hanya hal-hal kebaikan saja. Agar kita hanya bersikap dan berperilaku baik selama hidup kita yang tidak lama ini.

Lantas bagaimana caranya agar kita bisa memilih hal-hal baik saja yang masuk ke dalam hati kita? Caranya adalah dengan menentukan apa tujuan hidup kita.

Jika tujuan hidup kita untuk kebaikan tidak hanya diri kita sendiri tetapi juga orang lain maka hal-hal baiklah yang akan masuk ke dalam hati kita. Kita tidak mau mencoba memasukkan hal-hal buruk karena sadar bahwa itu akan membuat tujuan hidup kita tidak tercapai. Sementara jika tujuan hidup kita hanya untuk memuaskan ego diri sendiri tanpa mempedulikan hal lain, maka akan banyak hal-hal buruk yang masuk ke dalam hati kita.

Apakah cukup sampai di sini saja agar hati kita penuh kebaikan?

Ternyata belumlah cukup. Jika kita tidak yakin dengan tujuan hidup kita yang penuh kebaikan, maka kita tetap tidak mampu mencegah masuknya hal-hal buruk ke dalam hati kita. Kenapa demikian?

Kita yakin akan sesuatu hal artinya sesuatu itu sudah masuk dan tertanam di
hati kita. Dengan masuk dan tertanamnya sesuatu itu di hati kita, maka otomatis sesuatu itu akan mempengaruhi sikap dan perilaku kita. Misalnya ketika kita bersabar pada saat mendapatkan kendala di tempat kerja, hal itu terjadi karena kita yakin dengan bersabar kendala itu bisa lebih mudah teratasi. Selain itu dengan bersabar kemungkinan kita menyakiti orang lain jadi kecil dan kita tidak ingin menyakiti orang lain, karena kita yakin semakin jarang kita menyakiti orang lain maka akan semakin jarang orang lain itu menyakiti kita.

Jadi kita perlu untuk yakin akan tujuan hidup kita. Begitu kita yakin dengan tujuan hidup kita, artinya kita sangat menginginkan tujuan hidup kita itu tercapai, maka sikap dan perilaku kita akan selalu mendukung kepada tujuan hidup kita itu.

Pertanyaannya, sudahkah kita punya tujuan hidup? Dan apakah tujuan hidup kita itu penuh kebaikan? Sudah yakinkah kita dengan tujuan hidup kita itu?

#sarapankata
#day18
#kmoindonesia
#kmobatch12
#tujuanhidup
#kebaikan
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day46

B E R S Y U K U R

Ketika kita sudah menyadari bahwa hidup di dunia ini hanya sebentar, apa yang ingin kita lakukan? Apakah memanfaatkan waktu sebaik-baiknya? Kalau saya iya.

Namun memanfaatkan waktu sebaik-baiknya yang seperti apa? Jawabannya tergantung dari keyakinan yang dimiliki oleh masing-masing orang. Jika kita yakin akan adanya kehidupan akhirat yang kekal, maka waktu akan kita manfaatkan secara seimbang tidak melulu untuk kebaikan dunia melainkan juga untuk kebaikan akhirat kita.

Sebaliknya jika kita tidak memiliki keyakinan akan keberadaan akhirat, maka waktu hanya akan kita habiskan untuk meraih kebaikan dunia saja. Padahal belum tentu kita mendapatkan kebaikan di dunia jika kebaikan diartikan hidup yang berkualitas atau bahagia.

Bagaimana dengan para pekerja dan pebisnis yang sebagian waktunya dihabiskan untuk bekerja dan berbisnis? Sementara aktivitas dalam bekerja dan berbisnis sering dimaknai hanya untuk urusan dunia.

Itu karena kita tidak menyadari bahwa sesungguhnya dalam berbagai aktivitas bekerja dan berbisnis, kita tetap dihampiri oleh urusan akhirat kita. Dan itu sudah ada dimulai dari niat kita bekerja dan berbisnis itu. Akan berbeda hasilnya jika bekerja dan berbisnis hanya diniatkan untuk meraih harta, jabatan, dan popularitas semata dengan diniatkan karena Allah.

Selain itu pada saat beraktivitaspun urusan akhirat mendatangi kita. Ketika kita berhadapan dengan berbagai kendala atau kesulitan, di sanalah urusan akhirat berada. Jika kita mampu menghadapinya dengan bersabar, ikhlas, dan berserahdiri; maka kebaikan akhirat akan kita dapatkan. Sementara jika kita menghadapinya dengan mengeluh, kecewa, kesal, dan marah; maka kebaikan akhirat tidak akan kita dapatkan.

Bahkan ternyata ketika kita memilih untuk berniat dan menghadapi berbagai kendala itu tanpa keinginan mendapatkan kebaikan akhirat, biasanya kebaikan di duniapun tidak kita dapatkan. Jika kebaikan di dunia diartikan sebagai hidup yang berkualitas atau bahagia.

Lantas apa yang bisa kita lakukan agar bisa seimbang mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat? Selalu gunakan hati untuk kebaikan dalam setiap aktivitas kita. Sulit?

Ada satu cara sederhana yang bisa membantu kita agar bisa selalu menggunakan hati untuk kebaikan. Yaitu dengan bersyukur. Seberapa seringkah kita bersyukur setiap hari? Jangan-jangan sangat jarang. Kenapa ya? Biasanya karena kita jarang merasa beruntung. Jarang merasakan kebaikan-kebaikan dari Allah. Padahal Allah memberikan kenikmatan dan anugerah-Nya kepada kita setiap saat. Tidak percaya?

Yuk, coba kita renungkan bersama. Apakah yang kita hirup setiap kali bernafas? Ya, betul oksigen. Darimana kita mendapatkannya? Dari udara di sekitar kita secara GRATIS. Coba bayangkan jika saja Allah mengubah aturannya: “Mulai sekarang setiap makhluk hidup di dunia harus membayar sejumlah uang untuk mendapatkan oksigen”. Bagaimana nasib kita? Bisa hancur tentu saja. Bukan hanya kita yang kesulitan mendapatkan oksigen karena mahal harganya. Tetapi juga binatang dan tumbuhan kemungkinan tidak
bisa bertahan. Keseimbangan alam terganggu dan bisa menyebabkan kehancuran dunia.

Itu adalah hal yang kita anggap kecil sehingga kita tidak menyadarinya. Ketika kita sekarang sudah menyadarinya, semestinya kita bersyukur setiap saat.

Di awal tahun ini, saya membaca postingan ajakan seorang mentor menulis untuk membuat 17 jurnal syukur. Dan karena menurut saya sangat menarik bisa membantu saya semakin sering bersyukur, langsung sesaat setelah sang mentor memposting ajakan itu, sayapun membuatnya. Dan inilah 17 jurnal syukur saya:

1. Masih diberi kesempatan untuk beribadah.
2. Dipertemukan dengan Majelis Tafakur Mutiara Tauhid.
3. Dipertemukan dengan sahabat-sahabat jiwa.
4. Suami dan anak bersedia bergabung dengan Majelis di atas.
5. Semakin hari hati terasa semakin pintar dan dunia terasa semakin indah.
6. Dipertemukan dengan pola makan sehat.
7. Diberi kesehatan yang semakin baik.
8. Diberi kesempatan berhaji dengan hati (MasyaAllah …).
9. Kakak Sasha lulus S-1 dengan predikat cumlaude.
10. Disetujui resain dari kampus oleh suami dan atasan-atasan di kampus dan sekarang sedang diproses.
11. Dipertemukan dengan aktivitas menyenangkan (atau mungkin passion, semoga) baru yaitu menulis.
12. Dipertemukan dengan kelas-kelas online menulis yang sangat membantu.
13. Dipertemukan dengan mentor-mentor menulis yang keren.
14. Dipertemukan dengan sahabat-sahabat menulis yang baik.
15. Selesai 2 naskah buku solo dalam waktu 2 bulan, 1 sudah launching yang satu insyaAllah sebentar lagi.
16. Launching 2 buku dan selesai 1 naskah buku antologi bersama.
17. Terbentuknya Kandela Institute, membuat kebersamaan keluarga kecil kami semakin erat.

Bagaimana dengan jurnal syukur anda?

#sarapankata
#day17
#kmoindonesia
#kmobatch12
#bersyukur
#17jurnalsyukur
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day45

W A K T U

W A K T U

Ada satu perumpamaan yang bagi saya sangat mewakili seberapa banyak waktu yang diberikan untuk kita, manusia, di dunia ini. Jika seluruh waktu dalam kehidupan manusia diibaratkan sebagai berikut: pada saat kita melempar bola ke dinding, maka hidup di dunia itu sama dengan pada saat bola tersebut menyentuh dinding; maka terbayang begitu sebentarnya waku yang kita miliki di dunia ini.

Lantas, apa yang semestinya kita lakukan dengan waktu yang sebentar itu? Jawabannya akan mencerminkan bagaimana kita memaknai waktu tersebut.

Waktu di dunia ini tidak hanya sebentar, melainkan juga tidak bisa diputar ulang. Apa yang sudah terjadi tidak mungkin kita alami lagi. Kalaupun kita mengalami hal yang sama di kemudian hari, pasti akan ada perbedaannya. Paling tidak perbedaannya adalah ada di usia kita.

Bagaimanakah selama ini kita memanfaatkan waktu? Untuk
apa saja waktu kita habiskan? Bagi para pekerja dan pebisnis, mungkin sebagian besar waktu dihabiskannya untuk beraktivitas di tempat kerja dan bisnisnya. Atau di tempat lain tetapi tetap dalam rangka melakukan tugas dari perusahaan tempatnya bekerja dan berbisnis.

Apakah salah menghabiskan sebagian besar waktu untuk itu? Tentu tidak salah, karena setiap orang boleh memilih apapun aktivitasnya untuk menghabiskan waktunya. Namun, setiap orang pastinya ingin meraih kualitas hidup yang baik. Dan hidup yang berkualitas tidak hanya semata-mata rasa puas dan senang karena mendapatkan harta, jabatan, atau popularitas. Tetapi juga rasa tenang dan tenteram di hati. Selama kita masih merasakan kecewa, gelisah, khawatir, kesal, dan marah; maka kualitas hidup kita menjadi rendah.

Ingat perumpamaan di awal tulisan ini? Waktu di dunia yang diibaratkan oada saat bola menyentuh dinding, sangat terasa bedanya dengan saat bola berads di tangan kita setelah dia menyentuh dinding, jauh lebih lama. Itu mengibaratkan waktu kita setelah kehidupan di dunia ini, yaitu akhirat, yang bahkan lamanya tidak terbatas.

Yang perlu disadari ternyata waktu yang panjang dia akhirat kelak itu ditentukan oleh perilaku kita di dunia yang hanya sebentar saja. Jika kita melakukan hal-hal yang disukai Pencipta Kita, maka kita akan berbahagia di sana. Tetapi jika sebaliknya, kita akan mendapatkan kesengsaraan di sana. Mau pilih yang mana?

Kalau inginkan yang pertama, maka kita perlu memenuhi kebutuhan-kebutuhan jiwa kita. Karena untuk melakukan semua hal yang disukai Allah hanya bisa dilakukan jika jiwa terlibat di sana. Dan hanya jiwa yang sehat saja, yang terpenuhi kebutuhannya, yang mampu membuat kita melakukan itu semua.

Tapi apa memang ini masalah waktu? Ya, karena waktu hidup di dunia yang sebentar dan tak bisa diulang, membuat kita perlu dengan segera memenuhi kebutuhan jiwa kita. Waktu di dunia bagi saya sangatlah berharga.

Bagaimana menurut anda?

#sarapankata
#day16
#kmoindonesia
#kmobatch12
#waktu
#hidupdiduniahanyasebentar
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day43

KEHIDUPAN DUNIA

Saat ini kita sedang melalui salah satu tahap kehidupan manusia. Yaitu menjalani kehidupan di alam dunia. Di alam dunia ini kita berikhtiar untuk memenuhi kebutuhan hidup agar bisa menjalani kehidupan ini sebaik-baiknya.

Kita bekerja atau berkarya di tempat masing-masing. Apakah menjadi seorang karyawan, pebisnis, bahkan istri dan ibu rumah tangga. Saya percaya hampir tidak ada yang ingin hidupnya sengsara. Kita ingin hidup di dunia ini selalu bahagia.

Namun kenyataannya tidak begitu. Tidak sedikit orang yang sering mengalami kekecewaan, kegelisahan, kekhawatiran, kekesalan, dan kemarahan di sepanjang hidupnya. Apalagi jika kita berada di kota besar yang suasananya dipenuhi kesempatan berkarir dan fasilitas yang menggiurkan.

Kota besar itu menjadi magnet bagi banyak orang untuk datang mengadu nasibnya di sana. Maka berbondong-bondonglah mereka menjadi karyawan di berbagai perusahaan atau membangun bisnisnya di sana.

Kota itu tumbuh menjadi kota yang semakin padat dengan kompetisi yang semakin ketat dan kemacetan yang semakin parah. Sehingga tekanan pekerjaan bagi para karyawan dan pebisnis semakin tinggi. Mereka harus berangkat ke tempat bekerja atau berbisnis lebih pagi dan pulang lebih malam. Hal itu dilakukan agar bisa memenangkan kompetisi dalam dunia kerja dan bisnisnya serta menghindari jam-jam macet yang parah.

Ketika seseorang hanya memikirkan keinginan memenuhi kebutuhan hidup lahiriyahnya semata, maka semua yang dialaminya akan terasa berat dan membebani. Tekanan pekerjaan yang semakin kuat dan kemacetan yang semakin parah bisa membuat mereka merasakan stres berkepanjangan.

Semua itu disikapi oleh mereka dengan beragam cara. Ada yang memilih jalan pendek agar kebutuhan-kebutuhan lahiriyahnya segera terpenuhi. Jalan yang tidak semestinya mereka lakukan. Menyogok, korupsi, dan menjegal orang lain yang dianggap pesaingnya adalah beberapa cara yang biasanya mereka lakukan.

Ada juga yang berusaha tetap berada di jalan yang dibenarkan, tetapi perilakunya dalam berhubungan dengan orang lain menjadi buruk. Cepat marah atau tersinggung, sering tidak menepati janji, dan menyalahkan orang atau pihak lain adalah beberapa perilaku diantaranya.

Kedua cara itu bisa membuat mereka stres berkepanjangan dan menderita penyakit raga seperti sakit pencernaan dan tekanan darah tinggi. Jika tidak dicari penyebabnya, penyakit-penyakit itu tidak akan membaik malah bisa menjadi lebih parah dengan munculnya penyakit lain seperti jantung dan stroke.

“Saya sudah ikhtiar mengobati penyakit-penyakit itu kok dan gaya hidup juga sudah berubah. Pola makan dan pola tidur sudah diperbaiki. Olahraga sudah rutin dilakukan. Tapi kenapa masih kambuhan terus ya?”

Semua yang disebutkan hanyalah untuk mengobati raga. Bagaimana dengan jiwa atau hati kita? Karena kita sebagai manusia tidak hanya diciptakan dalam
bentuk raga saja melainkan juga jiwa. Jiwa diciptakan menemani raga tentu ada maksudnya, ada fungsinya bagi kita dalam menjalani kehidupan ini. Pantas saja kita sulit untuk bahagia karena ternyata ada satu bagian dari diri kita yang terlupakan, yaitu jiwa kita.

Jadi jika ingin bisa menjalani kehidupan dunia ini dengan bahagia, jangan lupakan jiwa kita. Penuhi juga kebutuhan-kebutuhannya.

#sarapankata
#day15
#kmoindonesia
#kmobatch12
#kehidupandunia
#kebutuhanjiwadanraga
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#oneweekonepost
#wifiregionbandung
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day42

B A H A G I A

Kita sudah sering mendengar atau membaca orang menyarankan,” hadirkan bahagia, ciptakan bahagia.” Atau kata-kata dalam Bahasa Inggris,” Don’t worry, be happy”, yang pernah merebak karena merupakan sya’ir lagu terkenal di masanya. Yang artinya kira-kira seperti ini: “Jangan khawatir, berbahagialah”.

Khawatir memang salah satu sifat atau keadaan yang membuat diri kita tidak bahagia. Karena bahagia sejatinya adalah keadaan tenang dan tenteram yang kita rasakan tanpa ada sedikitpun rasa kecewa, khawatir, gelisah, atau marah.

Pertanyaannya adalah bagaimana membuat agar kita bahagia? Terutama pada saat kita bekerja atau berkarya di tempat kerja atau bisnis kita. Tentu saja jawabannya adalah dengan mengetahui hal apa saja yang bisa membuat kita bahagia.

Sering saya mendengar atau membaca bahwa bahagia itu sederhana.

“Bahagia itu sederhana, ketika saya bisa melakukan me time di sela-sela kesibukan bekerja.”

“Bahagia itu sederhana saat saya bisa melihat bos tersenyum.”

“Bahagia itu sederhana, di saat saya mendapatkan bonus.”

“Bahagia itu sederhana, di hari kerja bisa menikmati makan siang tepat waktu dan tanpa gangguan.”

“Bahagia itu sederhana, di hari kerja masih bisa melihat matahari ketika sampai di rumah.”

Betulkah semua itu? Coba yuk kita rasa-rasakan. Kalau kemudian kita tidak bisa melakukan atau mendapatkan semua itu; berarti kita tidak bahagia. Atau memang yang diinginkan adalah bahagia sewaktu-waktu saja? Kadang kita merasa bahagia, kadang tidak?

Kalau saya sih inginnya selalu bahagia. Dan rasanya hampir semua orang menginginkan hal yang sama. Jadi penyebab kita bahagia bukanlah seperti hal-hal di atas. Kenapa ya?

Karena kita tidak bisa memastikan hal-hal di atas selalu kita dapatkan. Semua itu adalah hal-hal di luar diri kita yang tidak mampu kita kendalikan. Apa kita bisa selalu melakukan me time setiap kita inginkan? Apakah kita bisa selalu membuat bos tersenyum? Apakah kita bisa selalu memastikan mendapatkan bonus? Apakah kita bisa selalu makan siang tepat waktu dan tanpa gangguan? Apakah kita bisa selalu melihat matahari setiap pulang kerja? Ya betul, tidak bisa.

Sehingga semua itu tidak bisa membuat kita selalu bahagia. Lantas apa dong yang bisa?

Ternyata hanya diri kita sendirilah yang bisa membuat bahagia. Hanya hal-hal di dalam diri kita yang bisa mengantarkan diri kita untuk selalu bahagia. Karena bahagia adalah salah satu rasa yang bisa kita miliki, yang artinya sangat melibatkan hati; maka hanya hati kitalah yang bisa membuat kita bahagia. Hati yang bagaimana?

Hati yang sudah memiliki kemampuan untuk menghadapi kehidupan di dunia ini, termasuk kehidupan kita di dunia kerja atau bisnis. Kemampuan apa? Kemampuan seperti sabar, ikhlas, dan berserah diri. Jika hati sudah memiliki berbagai kemampuan itu maka apapun yang terjadi kepada kita, tidak akan membuat kita kecewa, khawatir, gelisah, atau marah. Melainkan kita akan selalu dalam keadaan tenang tenteram atau dengan kata lain kita selalu bahagia.

Begitu juga di saat kita bekerja, berkarya, ataupun berbisnis. Kita bisa me time atau tidak, tidak masalah, hati kita tetap tenang. Bos tersenyum, cemberut, atau marah; hati kita tetap tenteram. Kita mendapatkan bonus atau tidak, kita tidak kecewa. Makan siang kita telat dan penuh gangguan, kita tidak kesal. Setelah bekerja atau berbisnis kita sampai di rumah matahari masih terlihat atau tidak, kita tidak tidak gelisah. Kita jadi selalu bahagia.

Betapa nikmatnya!

#sarapankata
#day14
#kmoindonesia
#kmobatch12
#bahagia
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day41

S T R E S

Pernahkah anda merasa sangat tertekan dan penuh beban pada saat menghadapi pekerjaan di kantor atau di bisnis anda? Atau pada saat sedang berkarya dalam bidang apapun itu? Perasaan apa lagi yang anda rasakan saat itu? Lelah? Khawatir? Gelisah? Marah? Atau semua terasa?

Saya pernah mengalami saat-saat seperti itu. Yaitu setiap kali saya harus berkutat dengan berbagai proses pelaporan di kampus dan dikejar deadline. Juga setiap kali menghadapi proses produksi dan pelaporan penjualan di bisnis busana muslim saya. Semua rasa yang disebutkan di akhir alinea sebelumnya hadir menghampiri saya.

Alhasil kondisi badan saya drop. Sakit pencernaan kambuh dibarengi dengan sakit kepala yang parah. Pekerjaan dan bisnis jadi agak terbengkalai karena tidak bisa beraktivitas optimal. Setelah membaikpun pekerjaan di kantor dan bisnis semakin menumpuk. Dan kembali perasaan-perasaan di atas menghampiri. Badan drop lagi. Penyakit yang membaik memarah lagi. Dan begitulah seterusnya. Jadi semacam lingkaran kehidupan saya yang tak habis-habisnya.

Dan banyak orang yang bilang saat itu saya mengalami stres. Stres adalah penyakit yang sering dialami tidak hanya yang bekerja san berbisnis. Tetapi juga semua orang yang memang merasa sangat tertekan dan terbebani dengan hal-hal yang dihadapinya.

Jelas sekali saya tidak bahagia saat itu, jika makna bahagia adalah hanya merasakan ketenangan dan ketenteraman saja. Jika saya berbahagia, tentunya saya tidak merasa sangat tertekan dan terbebani. Saya juga tidak merasa lelah, khawatir, gelisah, dan marah.

Apakah hidup seperti itu yang ingin kita jalani sepanjang usia kita? Kalau saya tidak mau. Saya ingin hidup selalu bahagia. Karenanya saya perlu tahu apa sih yang menyebabkan saya merasa sangat tertekan dan terbebani jika menghadapi hal-hal di atas itu? Apakah memang pekerjaan atau tugasnya yang berat di luar kemampuan saya? Ataukah saya yang kurang atau bahkan tidak mengasah potensi diri menjadi kemampuan yang bisa menghadapi segala permasalahan hidup dengan tetap tenang dan tenteram?

Pada saat kita sudah tahu jawabannya, maka kita akan lebih mudah untuk memperbaiki diri agar bahagia tetap hadir meskipun pekerjaan dan tugas di kantor maupun bisnis mendatangi kita.

Mau? Yuk kita sama-sama cari tahu penyebabnya 😊

#sarapankata
#day13
#kmoindonesia
#kmobatch12
#stres
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day40

C I N T A

Cinta adalah salah satu rasa yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. Karena dia adalah rasa maka hatilah yang bermain ketika kita menggunakannya. Karena berhubungan dengan hati maka pada saat merasakannya bisa mendorong seseorang berbuat di luar batas kemampuan yang disadarinya. Karena begitulah hati, memiliki potensi yang sangat dahsyat.

Mendengar kata cinta, sering kita menganggap bahwa dia selalu menghasilkan hal yang positif. Seseorang anak yang dicintai misalnya, dia akan tumbuh menjadi anak yang baik, bersemangat, dan bahagia. Seseorang yang mencintai pekerjaannya akan melakukan segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaannya sebaik-baiknya. Dia jadi selalu bersemangat dan serius dalam bekerja atau berkarya.

Sayangnya tidak selalu begitu. Cinta juga bisa menghasilkan hal yang negatif yang membuat kita tidak bahagia. Tidak hanya putus cinta atau kehilangan seseorang atau sesuatu yang dicintai, seseorang bisa merasakan tidak bahagia ketika dia menerapkan cintanya kepada yang bukan semestinya.

Seseorang yang bekerja atau berbisnis, sering merasa kecewa, khawatir, kesal, gelisah, dan marah jika kecintaannya ditujukan kepada dunia semata. Dia begitu cinta akan harta atau tahta, sehingga ketika harta atau tahta yang diinginkannya tidak tercapai atau hilang maka dia jadi kecewa, kesal, bahkan bisa jadi marah. Dia begitu cinta dan berharap kepada anak dan pasangan hidupnya, sehingga ketika anak atau pasangan hidupnya itu meninggalkannya atau bertingkah tidak sesuai harapannya, maka dia juga merasakan hal yang sama.

Walaupun kadang yang diharapkannya tercapai sehingga dia sewaktu-waktu merasakan senang dan gembira juga; namun bukan bahagia namanya jika masih merasakan kecewa, khawatir, kesal, gelisah, atau marah. Bahkan jika rasa terakhir itu sangat sering menghampirinya dan dalam tingkatan yang cukup tinggi; bisa jadi dia mengalami stres yang berkepanjangan.

Selanjutnya bisa ditebak, bisa jadi kesehatannya menurun baik fisik maupun jiwa. Kasus dideritanya berbagai penyakit fisik berat seperti jantung, stroke, dan kanker dipercaya salah satunya disebabkan oleh stres berkepanjangan. Kasus bunuh diri atau bunuh diri bersama anak misalnya memperlihatkan penurunan kesehatan jiwa seseorang yang sangat parah.

Ternyata cinta itu tidak sesederhana dan seindah yang kita kira. Tapi tentu saja kesempatan merasakan keindahan cinta itu tetap ada. Allah selalu memberikan pilihan kepada kita dalam hidup kita ini. Pilihlah yang mengantarkan kita kepada rasa bahagia. Dan saya percaya sebagian besar dari kita sudah mengetahuinya, kepada siapa/apa cinta kita tujukan agar hal itu tercapai.

#sarapankata
#day12
#kmoindonesia
#kmobatch12
#cinta
#hati
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day39

VICTIM OR VICTOR? (3)

Menjadi seorang pemenang (victor) adalah keinginan banyak orang. Namun ternyata sedikit yang tahu apalagi yang menyadari bahwa ada kebiasaan-kebiasaan kita yang membuat kita selalu selalu berada dalam kondisi sebaliknya, yaitu menjadi korban (victim). Salah satunya adalah berdalih atau excusing.

Bagaimana kita mengetahui kalau kita atau seseorang itu sedang berdalih? Mudah saja. Dia selalu memiliki banyak alasan untuk setiap kesalahan yang dia lakukan agar orang tidak menganggap kesalahan itu adalah kesalahan dirinya sendiri semata.

“Waktunya kurang pas, lagi banyak deadline,” begitu kata seseorang ketika pekerjaannya tidak selesai pada waktunya. Padahal mungkin dia yang kurang mampu mengatur waktu sehingga semua pekerjaan yang sudah mendekati masa tenggatnya menumpuk di satu waktu.

“Semuanya juga mengalami penurunan penjualan, karena katanya daya beli masyarakat menurun,” ketika ditanya kenapa omset bisnisnya menurun. Padahal mungkin dia belum bersungguh-sungguh dalam melatih timnya untuk meningkatkan pelayanan bagi para calon pelanggan.

“Saya sih tidak berburuk sangka, saya pikir dia orang yang dapat dipercaya,” begitu katanya ketika proyeknya gagal. Padahal mungkin dia yang kurang hati-hati ketika merekrut tim.

“Saya kan masih awam dalam menulis,” ketika ditanya kenapa naskah bukunya tidak selesai juga. Jawabannya seolah-olah tidak mencerminkan berdalih karena menunjuk dirinya sendiri. Tapi dia tetap berdalih jika dia tidak melakukan apa-apa untuk menghilangkan keawaman menulisnya itu.

Bagaimana kita bisa maju dan sukses jika kita sering berdalih untuk berbagai kesalahan yang kita lakukan. Ketika evaluasi dilakukan maka hasilnya tidak akurat. Semestinya yang diperbaiki adalah diri kita sendiri, karena berdalih maka yang diperbaiki adalah hal lain yang tidak akan membantu kita untuk menjadi lebih baik karena sumber masalah yaitu yang ada dalam diri kita sendiri dibiarkan tetap ada.

Masih sulit untuk mengakui bahwa penyebab kegagalan itu dari diri sendiri? Coba kembalikan kepada tujuan kita, bekerja atau berbisnis itu untuk apa? Dan bayangkan bagaimana perasaan kita ketika kita sudah mencapai tujuan itu. Senang? Gembira? Puas? Rasakan sepenuh hati sehingga kemudian kita akan bersedia dengan tulus melakukan apapun untuk mencapainya. Termasuk mengakui bahwa diri sendirilahyang menyebabkan kegagalan itu.

Enggak percaya? Bagaimana bisa percaya hal itu benar atau tidak kalau kita tidak mencobanya. Ya kan?

#sarapankata
#day11
#kmoindonesia
#kmobatch12
#berdalih
#excusing
#victimorvictor?
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day38

BERSERAH DIRI

Kalau dua hari lalu sajian sarapan saya adalah tentang salah satu kata yang mudah untuk diucapkan tetapi sulit untuk dilakukan, yaitu ikhlas; maka hari ini sajiannya adalah kata lain dengan ciri yang sama yaitu berserah diri atau pasrah.

Siapa tidak tahu dengan kata itu, saya kira hampir semua orang tahu. Bahkan mungkin hampir semuanya pernah mengucapkannya.

“Pasrah saja, kawan, mau apa lagi?”

“Kalau sudah begini, saya hanya bisa pasrah.”

“Akhirnya saya pasrah, mau gimana lagi coba?”

Begitu kata “pasrah” sering saya dengar atau baca. Dari nada dan kata-kata lain yang “menemani” kata “pasrah” itu terkesan bahwa pasrah adalah jalan terakhir yang ditempuh ketika berbagai ikhtiar sudah dilakukan dan tidak ada hasilnya.

Misalnya ada seorang teman yang berpasrah ketika dia tidak berhasil menagih hutang yang dipinjam partnernya dalam jumlah yang cukup besar. Padahal hutangnya itu diambil dari sebagian uang bisnisnya yang katanya sedang sangat dibutuhkan saat itu. Berbagai cara sudah dilakukan, dari cara halus sampai dengan ancaman dilaporkan kepada yang berwajib dan diperkarakan ke pengadilan. Tapi tidak ada hasilnya. Partnernya menantang “silakan diperkarakan,” katanya.

Bagaimana respon teman saya atas hal itu? Dia tahu memperkarakan bukan hal yang mudah. Berbelit prosedurnya dan ongkosnya mahal. Dia sadar itu bisa berlarut-larut dan bisa membuat dia menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan dana yang tidak sedikit. Akhirnya dia bilang dengan wajah kuyu,” Ya sudah, saya pasrah saja. Mau gimana lagi coba?”

Atau saya pernah mendengar ada seorang karyawan di-phk. Sejak setahun sebelumnya dia sudah mendengar desas-desus bahwa perusahaan tempatnya bekerja itu akan melakukan pengurangan karyawan karena kondisi keuangan perusahaan yang semakin buruk. Dia berikhtiar dengan melakukan berbagai tugasnya sebaik-baiknya agar dia dinilai berharga oleh perusahaan sehingga dipertahankan tidak ikut di-phk.

Dia semakin rajin datang ke kantor, tidak pernah terlambat. Dan pulang lewat dari jam yang ditentukan kadang sampai malam sekali masih di kantor menyelesaikan tugasnya. Dia pun memberi perhatian lebih kepada atasan langsungnya. Dia mengirimkan bunga dan kartu ucapan ketika atasannya itu berulang tahun dan mendapat suatu penghargaan. Dia menjenguk ketika anak atasannya itu sakit dan dirawat di rumah sakit. Dia menawarkan bantuan ketika atasannya itu melangsungkan syukuran ketika akan berangkat haji.

Namun ketika phk diberlakukan, dia termasuk yang ikut di-phk. Dia pun dengan sangat kecewa berkata,” kalau sudah begini, saya hanya bisa pasrah.”

Berpasrah atau berserahdiri adalah salah satu sikap yang dibutuhkan agar kita tetap mampu menjalani kehidupan di dunia ini dengan baik atau dengan kata lain bahagia. Termasuk ketika memanfaatkan waktu kita di bisnis dan tempat kerja. Rasa bahagia membuat kita selalu bersemangat untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Rasa bahagia membuat kita selalu memandang segala sesuatu itu positif. Rasa bahagia juga membuat kita selalu bersikap baik kepada siapapun. Semua itu membuat kita mampu menjadi pekerja teladan dan pebinis handal. Siapa yang tidak mau? Sebagian besar orang pasti menginginkan itu.

Masih belum yakin? Inilah janji Allah kepada mereka yang berserah diri:

“… Dan barangsiapa yang bertawakkal (berserah diri) kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath-Thalaq: 3)

Semestinya kita menjadi bahagia karena Allah berjanji untukmencukupi segala keperluan kita jika kita berserah diri. Dan janji Allah adalah pasti. Dia Maha Suci tak mungkin ingkar janji.

Tapi apakah kita bisa merasa selalu bahagia dengan cara berserah diri seperti dua contoh di atas? Wajah kuyu dan rasa kecewa ketika mengatakan keberserahan dirinya itu memperlihatkan mereka tidak bahagia, jika bahagia diartikan sebagai rasa tenang dan tenteram tanpa ada rasa sedih, kecewa, gelisah, dan khawatir.

Mereka sudah berserah diri tapi masih belum merasa bahagia. Kenapa ya?

#sarapankata
#day10
#kmoindonesia
#kmobatch12
#berserahdiri
#pasrah
#tawakal
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day37

VICTIM OR VICTOR? (2)

Siapa sih yang tidak ingin menjadi pemenang? Saya percaya hampir semua orang ingin menjadi pemenang. Tapi ternyata tidak mudah menjadi seorang pemenang. Karena ada hal-hal yang kita lakukan tanpa kita sadari membuat kita tidak bisa menjadi pemenang melainkan menjadi korban. Salah satunya adalah penolakan kita terhadap ketidaknyamanan yang kita alami.

Apakah anda pernah merasa kecewa, gelisah, khawatir, kesal yang berujung pada marah dan stres? Atau bahkan mungkin sering? Biasanya disebabkan oleh apa? Kalau saya, salah satunya adalah tidak mau menerima kenyataan bahwa apa yang saya harapkan tidak tercapai. Dan itu kadang tanpa disadari.

Misalnya tanpa sadar ternyata saya pernah menolak kegagalan dalam berbisnis. Ketika itu bisnis baju muslim saya semakin hari semakin menurun performanya. Cirinya apa bahwa saya menolak? Saat itu terjadi saya mengeluh dengan bertanya-tanya tidak hanya kepada diri sendiri dan orang-orang terdekat, tapi juga kepada Allah.

Kenapa kok bisnis saya semakin terpuruk? Padahal sudah mengikuti banyak seminar dan pelatihan bisnis dan menerapkan apa yang didapat. Padahal sudah aktif di komunitas bisnis. Padahal beberapa kali ikut program mentoring. Padahal orang lain yang melakukan hal sama bisa maju bisnisnya. Apa salah saya?

Ketika kemudian kita mendapatkan jawaban yang mengarah kepada menyalahkan hal lain di luar diri kita, maka pada saat itulah kita menjadi korban atau victim. Pada saat kita diposisi ini, maka kita akan sulit menjadi
pemenang atau victor.

Apakah salah mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu? Sebetulnya jika pertanyaan itu ditujukan benar-benar hanya untuk mencari solusi agar ketidaknyamanan/kegagalan yang kita terima itu segera teratasi, bisa jadi tidak masalah. Dan tanpa kecenderungan menyalahkan hal lain di luar diri kita. Bahkan hal itu bisa membantu kita untuk segera mendapatkan solusi dan membuat keadaan membaik lagi.

Sayangnya itu bukanlah tahap pertama bagi kita untuk sampai kepada ciri menerima. Ada langkah lain yang justru paling penting yang sering kita lupakan untuk sampai ke tahap tersebut. Sebelum pertanyaan-pertanyaan itu diajukan kita perlu menyadari bahwa kita memang pantas menerima ketidaknyamanan/kegagalan tersebut.

Jadi tidak mengherankan ketika ketidaknyamanan/kegagalan itu datang, kita bertanya-tanya terus-menerus karena kecewa dan iri dengan apa yang dicapai orang lain, tanpa berusaha dengan sungguh-sungguh mencari solusinya. itulah yang akhirnya bisa membuat kita marah dan stres.

Dan bahkan sebaiknya kita menyadari bahwa kita pantas menerima ketidaknyamanan/kegagalan itu sebelum hal itu terjadi. Ini membantu kita semakin siap menerima pada saat hal itu terjadi. Sehingga kita tidak akan merasa kecewa, gelisah, khawatir, marah, dan stres pada saat ketidaknyamanan itu datang.

Ternyata tidak sulit, ya menjadi victor? Atau … sulit?

#sarapankata
#day9
#kmoindonesia
#kmobatch12
#oneweekonepost
#wifibandung
#wifiregionbandung
#menolak
#victimorvictor?
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day36