KENALI DIRI (4)

Sesuai janji kemarin, tulisan saya hari ini akan membahas tentang apakah perlu berganti bidang karir, pekerjaan, atau bisnis ketika diketahui karier atau pekerjaan kita ternyata tidak cocok dengan profil keseharian kita? Bagusnya memang berganti, namun kadang kita tidak bisa begitu saja meninggalkan karier, pekerjaan, atau bidang bisnis kita dan mencari yang baru. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan apalagi jika kita sudah berkeluarga atau menjadi tulang punggung keluarga.

Karena itu mari kita coba cara yang keempat untuk mengenali diri.

Saya menyebut cara ini sebagai The Wheel of (Work) Life Balance. Kenapa kata “work” ditempatkan di dalam tanda kurung? Karena sebetulnya cara ini tidak hanya bisa digunakan ketika kita berurusan dengan pekerjaan atau bisnis kita, melainkan juga bisa dipergunakan untuk semua hal dalam kehidupan kita.

Cara ini merupakan adaptasi dari cara yang dikemukakan oleh Seph Fontane Pennock dan Hugo Alberts dalam artikelnya yang berjudul “The Wheel of Life”. Di artikelnya itu mereka menawarkan cara bagaimana seseorang bisa mengetahui kepuasan atau ketidakpuasan dalam beberapa hal penting di hidupnya. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan rasa kepuasan hidup orang tersebut.

The Wheel of (Work) Life Balance merupakan lingkaran yang terbagi ke dalam 14 bagian. 7 bagian di kiri lingkaran adalah perasaan-perasaan negatif yang bisa kita rasakan pada saat bekerja, berkarya, dan berbisnis. Sementara 7 bagian di kanan lingkaran adalah perasaan-perasaan positifnya.

Positif di sini artinya bahwa semakin sering kita merasakan perasaan-perasaan ini, maka semakin tenang dan tenteram hati kita atau semakin bahagia. Negatif artinya bahwa semakin sering kita merasakannya, maka semakin sering ketidakbahagiaan akan kita rasakan.

7 bagian di kiri lingkaran adalah:
1. Kekhawatiran
2. Kegelisahan
3. Kekecewaan
4. Kesedihan
5. Ketidakperdulian
6. Kemarahan
7. Keputusasaan

7 bagian di kanan lingkaran adalah:
1. Kesabaran
2. Keikhlasan
3. Kepasrahan/keberserahdirian
4. Keperdulian
5. Kepuasan
6. Keyakinan
7. Ketenangan

Angka 1 sampai dengan 10 yang ada di setiap bagian merupakan hasil penilaian diri seberapa sering perasaan-perasaan itu dirasakan pada saat bekerja, berkarya, dan berbisnis. 1 artinya tidak pernah merasakan dan 10 artinya selalu merasakan hal tersebut.

Caranya sangat mudah, kita tinggal melakukan penilaian seberapa sering perasaan-perasaan di setiap bagian dirasakan pada saat bekerja, berkarya, atau berbisnis. Kemudian tandai angka di bagian tersebut sesuai hasil penilaian itu.

Hasilnya akan memperlihatkan perasaan-perasaan apa saja yang dominan dirasakan pada saat kita bekerja, berkarya, atau berbisnis. Biasanya jika bagian kanan hasil penilaiannya tinggi maka bagian kiri rendah, dan sebaliknya. Dari hasil itu kita akan tahu perasaan-perasaan mana saja yang perlu dimunculkan dan perasaan-perasaan mana saja yang perlu dihilangkan.

Nah, setelah kita mengetahui perasaan-perasaan mana saja yang perlu kita pupuk dan perasaan-perasaan mana saja yang perlu kita hilangkan, maka sekarang tinggal mencari tahu dan menerapkan bagaimana cara memupuk dan menghilangkannya. Mau tahu?

Cek postingan saya besok ya, insyaAllah …

#sarapankata
#day22
#kmoindonesia
#kmobatch12
#kenalidiri
#teskepribadian
#wheelofworklifebalance
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day50

KEHIDUPAN DUNIA

Saat ini kita sedang melalui salah satu tahap kehidupan manusia. Yaitu menjalani kehidupan di alam dunia. Di alam dunia ini kita berikhtiar untuk memenuhi kebutuhan hidup agar bisa menjalani kehidupan ini sebaik-baiknya.

Kita bekerja atau berkarya di tempat masing-masing. Apakah menjadi seorang karyawan, pebisnis, bahkan istri dan ibu rumah tangga. Saya percaya hampir tidak ada yang ingin hidupnya sengsara. Kita ingin hidup di dunia ini selalu bahagia.

Namun kenyataannya tidak begitu. Tidak sedikit orang yang sering mengalami kekecewaan, kegelisahan, kekhawatiran, kekesalan, dan kemarahan di sepanjang hidupnya. Apalagi jika kita berada di kota besar yang suasananya dipenuhi kesempatan berkarir dan fasilitas yang menggiurkan.

Kota besar itu menjadi magnet bagi banyak orang untuk datang mengadu nasibnya di sana. Maka berbondong-bondonglah mereka menjadi karyawan di berbagai perusahaan atau membangun bisnisnya di sana.

Kota itu tumbuh menjadi kota yang semakin padat dengan kompetisi yang semakin ketat dan kemacetan yang semakin parah. Sehingga tekanan pekerjaan bagi para karyawan dan pebisnis semakin tinggi. Mereka harus berangkat ke tempat bekerja atau berbisnis lebih pagi dan pulang lebih malam. Hal itu dilakukan agar bisa memenangkan kompetisi dalam dunia kerja dan bisnisnya serta menghindari jam-jam macet yang parah.

Ketika seseorang hanya memikirkan keinginan memenuhi kebutuhan hidup lahiriyahnya semata, maka semua yang dialaminya akan terasa berat dan membebani. Tekanan pekerjaan yang semakin kuat dan kemacetan yang semakin parah bisa membuat mereka merasakan stres berkepanjangan.

Semua itu disikapi oleh mereka dengan beragam cara. Ada yang memilih jalan pendek agar kebutuhan-kebutuhan lahiriyahnya segera terpenuhi. Jalan yang tidak semestinya mereka lakukan. Menyogok, korupsi, dan menjegal orang lain yang dianggap pesaingnya adalah beberapa cara yang biasanya mereka lakukan.

Ada juga yang berusaha tetap berada di jalan yang dibenarkan, tetapi perilakunya dalam berhubungan dengan orang lain menjadi buruk. Cepat marah atau tersinggung, sering tidak menepati janji, dan menyalahkan orang atau pihak lain adalah beberapa perilaku diantaranya.

Kedua cara itu bisa membuat mereka stres berkepanjangan dan menderita penyakit raga seperti sakit pencernaan dan tekanan darah tinggi. Jika tidak dicari penyebabnya, penyakit-penyakit itu tidak akan membaik malah bisa menjadi lebih parah dengan munculnya penyakit lain seperti jantung dan stroke.

“Saya sudah ikhtiar mengobati penyakit-penyakit itu kok dan gaya hidup juga sudah berubah. Pola makan dan pola tidur sudah diperbaiki. Olahraga sudah rutin dilakukan. Tapi kenapa masih kambuhan terus ya?”

Semua yang disebutkan hanyalah untuk mengobati raga. Bagaimana dengan jiwa atau hati kita? Karena kita sebagai manusia tidak hanya diciptakan dalam
bentuk raga saja melainkan juga jiwa. Jiwa diciptakan menemani raga tentu ada maksudnya, ada fungsinya bagi kita dalam menjalani kehidupan ini. Pantas saja kita sulit untuk bahagia karena ternyata ada satu bagian dari diri kita yang terlupakan, yaitu jiwa kita.

Jadi jika ingin bisa menjalani kehidupan dunia ini dengan bahagia, jangan lupakan jiwa kita. Penuhi juga kebutuhan-kebutuhannya.

#sarapankata
#day15
#kmoindonesia
#kmobatch12
#kehidupandunia
#kebutuhanjiwadanraga
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#oneweekonepost
#wifiregionbandung
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day42

B A H A G I A

Kita sudah sering mendengar atau membaca orang menyarankan,” hadirkan bahagia, ciptakan bahagia.” Atau kata-kata dalam Bahasa Inggris,” Don’t worry, be happy”, yang pernah merebak karena merupakan sya’ir lagu terkenal di masanya. Yang artinya kira-kira seperti ini: “Jangan khawatir, berbahagialah”.

Khawatir memang salah satu sifat atau keadaan yang membuat diri kita tidak bahagia. Karena bahagia sejatinya adalah keadaan tenang dan tenteram yang kita rasakan tanpa ada sedikitpun rasa kecewa, khawatir, gelisah, atau marah.

Pertanyaannya adalah bagaimana membuat agar kita bahagia? Terutama pada saat kita bekerja atau berkarya di tempat kerja atau bisnis kita. Tentu saja jawabannya adalah dengan mengetahui hal apa saja yang bisa membuat kita bahagia.

Sering saya mendengar atau membaca bahwa bahagia itu sederhana.

“Bahagia itu sederhana, ketika saya bisa melakukan me time di sela-sela kesibukan bekerja.”

“Bahagia itu sederhana saat saya bisa melihat bos tersenyum.”

“Bahagia itu sederhana, di saat saya mendapatkan bonus.”

“Bahagia itu sederhana, di hari kerja bisa menikmati makan siang tepat waktu dan tanpa gangguan.”

“Bahagia itu sederhana, di hari kerja masih bisa melihat matahari ketika sampai di rumah.”

Betulkah semua itu? Coba yuk kita rasa-rasakan. Kalau kemudian kita tidak bisa melakukan atau mendapatkan semua itu; berarti kita tidak bahagia. Atau memang yang diinginkan adalah bahagia sewaktu-waktu saja? Kadang kita merasa bahagia, kadang tidak?

Kalau saya sih inginnya selalu bahagia. Dan rasanya hampir semua orang menginginkan hal yang sama. Jadi penyebab kita bahagia bukanlah seperti hal-hal di atas. Kenapa ya?

Karena kita tidak bisa memastikan hal-hal di atas selalu kita dapatkan. Semua itu adalah hal-hal di luar diri kita yang tidak mampu kita kendalikan. Apa kita bisa selalu melakukan me time setiap kita inginkan? Apakah kita bisa selalu membuat bos tersenyum? Apakah kita bisa selalu memastikan mendapatkan bonus? Apakah kita bisa selalu makan siang tepat waktu dan tanpa gangguan? Apakah kita bisa selalu melihat matahari setiap pulang kerja? Ya betul, tidak bisa.

Sehingga semua itu tidak bisa membuat kita selalu bahagia. Lantas apa dong yang bisa?

Ternyata hanya diri kita sendirilah yang bisa membuat bahagia. Hanya hal-hal di dalam diri kita yang bisa mengantarkan diri kita untuk selalu bahagia. Karena bahagia adalah salah satu rasa yang bisa kita miliki, yang artinya sangat melibatkan hati; maka hanya hati kitalah yang bisa membuat kita bahagia. Hati yang bagaimana?

Hati yang sudah memiliki kemampuan untuk menghadapi kehidupan di dunia ini, termasuk kehidupan kita di dunia kerja atau bisnis. Kemampuan apa? Kemampuan seperti sabar, ikhlas, dan berserah diri. Jika hati sudah memiliki berbagai kemampuan itu maka apapun yang terjadi kepada kita, tidak akan membuat kita kecewa, khawatir, gelisah, atau marah. Melainkan kita akan selalu dalam keadaan tenang tenteram atau dengan kata lain kita selalu bahagia.

Begitu juga di saat kita bekerja, berkarya, ataupun berbisnis. Kita bisa me time atau tidak, tidak masalah, hati kita tetap tenang. Bos tersenyum, cemberut, atau marah; hati kita tetap tenteram. Kita mendapatkan bonus atau tidak, kita tidak kecewa. Makan siang kita telat dan penuh gangguan, kita tidak kesal. Setelah bekerja atau berbisnis kita sampai di rumah matahari masih terlihat atau tidak, kita tidak tidak gelisah. Kita jadi selalu bahagia.

Betapa nikmatnya!

#sarapankata
#day14
#kmoindonesia
#kmobatch12
#bahagia
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day41