SHINE ON PRODUKTIF MENULIS BATCH 2

Sejak awal memutuskan untuk merambah dunia tulis-menulis, saya ingin berbagi kebaikan. Saya ikhtiar mewujudkannya sendirian. Tadinya saya tidak perduli jika kebaikan itu hanya dibaca oleh sedikit orang. Tapi lama kelamaan saya ingin hal itu terbagi ke lebih banyak orang. Saya menyadari tak mungkin sendirian lagi. Waktu yang saya miliki terbatas dengan berbagai aktivitas lainnya.

Ketika @kandelainstitute memutuskan untuk membekukan sementara progran Shine On berbagi kebaikan di bulan Ramadan; saya tiba-tiba terpikirkan untuk melanjutkan program tersebut. Hanya saja kali ini dikhususkan untuk berbagi kebaikan melalui tulisan. Kemudian terlaksanalah program Shine On Ramadan Produktif dengan enam orang penulis Bandung menjadi partisipannya, tujuh dengan saya sendiri.

Alhamdulillah, Shine On Ramadan Produktif berjalan cukup lancar walaupun masih bolong sana sini. Tapi paling tidak menghasilkan satu pemenang yang ternyata mampu mencapai target 100%. Masyaa Allah. Barakallah Teh @alavyashofa.

Setelah terjadi pembicaraan dengan beberapa partisipan, akhirnya saya dengan dukungan mereka memutuskan untuk melanjutkan program Shine On. Karena bukan di bulan Ramadan maka taglinenya pun berganti menjadi Shine On Produktif Menulis batch 2.

Dan… senang sekali kemarin pertemuan tatap muka pertama sudah berlangsung dengan lancar, rame, walaupun masih belum yakin apakan target akan tercapai atau tidak. Tenang Teteh-teteh salihah, setiap bunga akan berkembang pada waktunya 😄.

Lupakan target, fokuslah pada ikhtiar melaksanakan RA-nya. Karena yang menentukan tercapai atau tidaknya target hanya Allah. Tugas kita hanyalah ikhtiar mencapainya. Saat itulah Allah menilai kita, apakah kita lulus ujian kehidupan atau tidak.

Siap Teteh-teteh salihah?

Terima kasih untuk dukungan penuh Teteh-teteh mentor @rina.ratnaningsih @ihsaniawati_rosadi @alavyashofa @nidathifah

Dan selamat bergabung buat Teteh-teteh partisipan baru di batch 2 @dianyunipratiwi @fatimah_razianarazak @hajahsofya Teh Mega Teh Wida Mbak @sukmadewimega Mbak Danik

Kita berjuang bersama yaaa… Mudah-mudahan Allah rida dan berkah. Aamiin 🙏

Semangaaaattt 💪🔥😘

Bismillah… ❤

Terima kasih untuk @coffeetoffeebdg yang sudah memfasikitasi.

#shineonbatch2
#produktifmenulis
#kandelainstitute
#berbagikebaikan
#enlightenedheart

MERASAKAN KASIH SAYANG-NYA

Beberapa waktu lalu saya melakukan mom and daughter time. Kami membahas banyak hal. Ada satu yang tak sengaja dibahas dan membuat saya merenung.

Waktu itu saya melontarkan pertanyaan. “Kenapa ya seorang ibu bisa memaafkan ketika si anak berjanji untuk tidak menyakiti lagi hati sang ibu. Padahal sebelumnya si anak sudah melakukan banyak hal yang menyakitkan hatinya. Atau ada seorang suami/istri yang bisa memaafkan dan menerima kembali ketika pasangan hidupnya berjanji untuk setia. Padahal sebelumnya sudah beberapa kali berselingkuh.”

Dan anak gadis saya menjawab. “Mungkin kalau sudah sangat sayang kepada seseorang, satu kebaikan bisa mengalahkan banyak keburukan orang yang kita sayangi itu, Bun.”

Saya setuju. Rasa sayang mendalam dan sudah tertanam di hatilah penyebabnya. Hati memang sangat dahsyat, dialah yang membuat kita berperilaku dan bersikap. Bahkan secara otomatis. Dan belum tentu sesuai dengan apa yang kita pikirkan atau katakan. Karena apa yang kita pikir dan katakan belum tentu sama dengan yang tertanam di hati.

Misalnya ketika kta memikirkan dan mengatakan: saya mau sabar kok menghadapi sakit. Tapi ternyata kemudia kita berkeluh kesah atas sakit itu, artinya sabar belum tertanam di hati.

Entah kenapa, tiba-tiba saya teringat akan Allah dengan kasih sayang-Nya yang katanya sangat mendalam untuk kita, manusia. Kita saja sebagai makhluk jika memiliki rasa kasih sayang mendalam mampu memaafkan dan menerima kembali orang yang sudah banyak menyakiti. Apalagi Allah. Bukankah Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang?

Buktinya, Allah selalu memberi kesempatan bagi kita untuk bertobat. Bahkan dosa sirik yang tidak termaafkan, Allah tetap memberi kesempatan dengan pembayaran pahala yang kita dapatkan. Dan Allah mengganjar kebaikan yang kita lakukan berkali-kali lipat. Sementara keburukan dinilai sesuai dengan keburukan yang kita lakukan. Seperti yang tercantum dalam surat Al An’am ayat 160.

Masyaa Allah … Betapa Maha Baik Allah. Ah… semestinya sudah tak ada lagi kekhawatiran di hati. Tak mungkin Dia menyengsarakan kita.

Terima kasih Kakak Salsabilz sayang telah mengajak Bunda mengisi hati dengan kebaikan 😘❤️. I love you so much 😍❤️

#selfreminder

#insightQuran

#kasihsayangAllah

#enlightenedheart

#IndonesiaMenulis

MENULIS ATAU YANG LAIN?

Salah satu curhatan yang sering saya dengar dari teman-teman penulis adalah sulitnya mencari waktu untuk menulis. Alasannya beragam. Dari mulai disibukkan kegiatan kampus, kerjaan kantor, sampai mengurus anak dan rumah tangga. Kemudian cerita mereka berakhir dengan pertanyaan: “Gimana sih Bunda/Teteh/Kakak (senangnya berada di komunitas online menulis adalah selalu berasa muda, dipanggil “Kakak” 😄) bisa membagi waktu supaya bisa tetap konsisten menulis?”
 

Ketika pertama kali pertanyaan itu dilontarkan, saya tidak langsung menjawab; melainkan merenung dulu dengan mengingat-ingat kembali kenapa kok saya selalu punya waktu untuk menulis. Saya jadi teringat ketika saya menulis sering “mengorbankan” berbagai hal yang dulu saya senang melakukannya. Saya tidak hang out bersama teman, menonton film atau acara TV yang (menurut saya dulu) rame, memanjakan diri ke salon, berbisnis, sering mengajak main kucing-kucing peliharaan, dan sebagainya. Tidak dipungkiri menulis memang membutuhkan cukup banyak waktu. Satu sampai dua jam untuk menyelesaikan satu tulisan sebanyak caption di IG dan mempostingnya. Apalagi kalau dibarengi dengan menyelesaikan naskah buku.

Lantas kenapa kok saya memilih untuk “mengorbankan” hal-hal tersebut? Kenapa saya kok begitu bersemangat untuk menulis?

Ternyata karena dengan menulis apa yang sangat saya inginkan dalam hidup ini terasa mendekat. Menulis membuat saya bisa berbagi kebaikan kepada lebih banyak orang. Melalui menulis saya berproses mengisi hati dengan kebaikan-kebaikan. Sering tulisan yang saya buat adalah self reminder yang jleb.

Sehingga menulis menjadi salah satu aktivitas yang saya pilih dalam memanfaatkan waktu terbatas yang dianugerahkan Allah. Pada saat itu saya sudah menentukan prioritas.

Sebetulnya saya juga seperti teman-teman, punya banyak keinginan dan “keharusan” beraktivitas. Namun keterbatasan waktu membuat kita tidak bisa melakukan semuanya. Karena itu kita perlu menentukan mana-mana saja yang dilakukan dan yang tidak.

Dan saya menentukan pilihan berdasarkan: untuk apa sih saya hidup di dunia ini? Apakah hanya sekedar memuaskan ego/nafsu atau ada hal lain yang lebih penting? Apakah hanya inginkan kesenangan dunia atau kebahagian tidak hanya di dunia melainkan di kehidupan selanjutnya?

Ketika saya memilih yang kedua, maka menulis menjadi salah satu prioritas dalam hidup ini. Dengan berbagi kebaikan kepada lebih banyak orang dan hati semakin kaya akan kebaikan, insyaa Allah kebahagiaan dunia akhirat semakin mendekat.

Jadi kalau sekarang ini ada yang melontarkan pertanyaan seperti di awal tulisan, maka jawaban saya adalah buat prioritas yang disesuaikan dengan tujuan hidup. Silakan renungkan apakah menulis akan membuat kita semakin dekat dengan tujuan hidup itu atau tidak. Kalau ya, jadikan menulis prioritas dan “korbankan” beberapa hal lain yang tidak atau kurang mendekatkan kepada tujuan hidup kita.

#IndonesiaMenulis

#NarasiLiterasiNegeri

#KMOIndonesia

#selfreminder

#memilihsesuaitujuanhidup

#tafakur

#enlightenedheart

BERKATA-KATA BAIK ATAU DIAM

Pagi ini saya membaca reminder yang jleb banget dari seorang teman di FB. Dia mengutip perkataan salah satu Imam di Islam:

“Barangsiapa yang ingin hatinya terbuka dan disinari oleh Allah maka hendaklah ia meninggalkan perkataan yang tidak bermanfaat…” (Imam Syafi’i)

Saya jadi teringat, beberapa waktu lalu, saya membaca postingan seorang teman yang lewat di timeline medsos. Dia menuliskan permintaan maaf kepada siapa saja yang sudah merasa tidak nyaman dengan berbagai postingan dan komennya. Tulisan yang bagus bukan? Meminta maaf.

Namun itu baru di awal, postingan dilanjutkan dengan cerita bahwa dia merasa heran dan kesal ada orang yang tersinggung dan protes atas postingan dan komen yang dia buat. Padahal dia merasa isi postingan dan komen itu baik-baik saja dan tidak bermaksud menyinggung siapa pun. Dan kemudian berdatanganlah komen-komen yang isinya mendukung apa yang dia tuliskan si akhir tulisannya itu. Membuat tulisan itu terasa “tidak bagus” lagi karena menyiratkan perasaan negatif; sebal, kesal, dan gelisah.

Saya segera teringat dengan apa yang sudah saya tuliskan di medsos selama ini. Dan… ternyata saya juga terkadang masih melakukan hal sama. Memang saya sudah berusaha untuk tidak melakukannya di postingan-postingan medsos. Mudah-mudahan saja memang sudah tidak. Tapi komen? Ternyata masih 😔.

Memang saya tetap berusaha untuk menuliskan komen yang tidak membuat orang lain tersinggung. Tapi itu kan menurut saya. Bagaimana dengan menurut orang lain yang membacanya? Itu yang terjadi dengan teman saya kan? Dan bisa saja terjadi pada saya. Sebal, kesal, dan gelisah bisa saya alami. Bagaimana bisa bahagia?

Padahal Allah sudah mengingatkan di surat Al-Isra’ ayat 53.

Pantas saja Rasulullah meminta kita untuk diam jika tak mampu berkata-kata yang baik.

“Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Astaghfirullah… ampuni saya yang sedang khilaf ini ya, Allah 🙏😔.

Barakallah… Terima kasih Bu Pepi Mudiana untuk remindernya 🙏.

#selfreminder

#insightQuran

#berkatakatabaikataudiam

#tafakur

#enlightenedheart

ISI HATI ANAK DENGAN HATI-HATI

ISI HATI ANAK DENGAN HATI-HATI

Seorang anak biasanya sangat kritis. Semua hal dikomentari. Tanpa rasa segan dan gengsi. Kadang malah membuat kita jengah dan malu.

Misalnya ketika kita dan anak balita gak sengaja bertemu dengan seorang perempuan bermake up tebal. Tiba-tiba si anak berteriak di dekat perempuan itu: “Ma! Ada ondel-ondel!” sambil menunjuk perempuan tersebut.

Si perempuan dan beberapa orang sekitar langsung melihat ke arah anak dan kita. Wajah perempuan itu terlihat kesal. Sementara orang lain menahan tawa. Kita pun terjebak dalam suasana gak enak. Mungkin kita segera minta maaf kepada si perempuan dan menyeret sang anak meninggalkan tempat itu.

Atau ketika si anak SD melihat perempuan berjilbab dengan baju ketat. Dia bilang: “Pake jilbab kok ketat sih? Nenennya masih keliatan tuh. Gak malu apa?”. Walaupun gak terlalu keras tapi karena berdekatan, perempuan itu mendengar. Dia segera melirik jutek ke arah anak dan kita. Kita jadi salah tingkah.

Kok bisa ya?

Mungkin kita pernah berkata kepada teman atau pasangan di depan anak balita: “Eh, lihat cewek itu. Pengen cakep, malah kayak ondel-ondel”.

Atau berbicara langsung kepada anak SD kita bahwa perempuan itu diwajibkan untuk menggunakan jilbab agar aurat gak terlihat. Gak boleh ketat, karena akan tetap terlihat auratnya. Kan malu kalau aurat terlihat. Dan kita katakan juga payudara adalah salah satu aurat itu. Tentu saja maksud kita baik supaya anak mengerti kenapa perempuan diharuskan berjilbab.

Kita kadang lupa bahwa anak hanya akan bereaksi atas suatu peristiwa berdasarkan apa yang dia lihat dengar, dan rasakan. Terutama dari orang yang sering bersama. Siapa lagi kalau bukan kita, ibu dan bapaknya. Atau… jangan-jangan pengasuhnya? 😊

Kita sering tanpa sadar menanamkan hal yang belum dimengerti dengan benar oleh anak. Belum tentu anak kita mengerti, apa itu ondel-ondel. Belum ngerti juga kalau bilang seseorang itu ondel-ondel artinya tidak sopan. Walaupun mungkin betul orang itu seperti ondel-ondel menurut pandangan kita 😆.

Mungkin kita juga lupa untuk lebih sering bercerita kepada anak tentang etika ketika bertemu dengan orang yang menurut kita aneh atau salah. Jadi dia merasa baik-baik saja ketika melakukan hal yang tak menyenangkan di depan orangnya.

Tau gak? Sebetulnya ini masalah HATI.

Emmm… maksudnya?

Ya. Hati anak masih banyak kosongnya. Belum banyak terisi. Jadi sebetulnya lebih mudah menanamkan sesuatu di hati anak daripada kita, orang dewasa. Saking mudah, hal yang sekali dia lihat, dengar, dan rasakan bisa langsung masuk ke dalam hati. Apalagi yang berulang.

Terus apa hubungannya dengan tingkah laku anak?

Ternyata yang menentukan tingkah laku atau perilaku adalah isi hati. Bukan hanya anak tetapi tetapi perilaku kita juga.

Jadi kalau ingin anak kita berperilaku yang baik. Isilah hatinya dengan kebaikan. Kasih tau dan perlihatkan hanya hal yang baik-baik saja.

Kalau ingin anak kita jauh dari gadget misalnya. Beri contoh kalau kita juga tidak banyak dekat dengan gadget.

Masih belum tuned?

Kita pasti sudah tau ya kalau marah itu tidak baik. Bahkan Allah tidak menyukainya. Tapi kenapa kita masih suka marah? Karena hati kita belum terisi oleh keyakinan bahwa marah itu tidak baik.

🌷🌷🌷🌷🌷

Tulisan ini sangat terinspirasi oleh Teh Kathy Saelan-Ekopurnomo dan Noninya yang lucu serta Kang Asep. Nuhun pisan 🙏🙏.

#selfreminder
#isihatimenentukanperilaku
#perilakuanak
#tafakur

#enlightenedheart

LIFE IS SHORT, STAY AWAKE FOR IT…

Sore yang sejuk dan basah setelah hujan reda. Saya sedang ngopi dengan suami dan anak ketika melihat tulisan yang saya jadikan judul di atas.

Tulisan keren. Begitu pikir saya saat itu. Dan ternyata suami berpendapat sama. Terlihat dari perilakunya yang meminta difoto oleh anak gadis kami dengan latar tulisan itu.

Siapa yang menolak pernyataan di tulisan itu? Kalaupun ada sepertinya sangat sedikit. Bagi saya, hidup yang sebentar itu memang sudah terasa. Masih terkenang ketika anak-anak masih balita. Dengan semua tingkah laku yang lucu, sangat indah untuk dikenang. Kami akan tertawa bersama jika mengingat-ingat hal itu.

Tapi… MasyaAllah! Mereka sekarang sudah besar-besar. Waktu lebih dari 10 tahun begitu cepat berlalu. Perhatian kami yang dulu kepada tingkah laku mereka yang lucu menggemaskan sekarang kadang masih membuat khawatir walaupun lebih sering menyenangkan.

Sebentarnya kesempatan hidup berarti juga hidupnya ini hanyalah sementara. Ada kehidupan lain setelahnya yang kekal sehingga jauh lebih penting bagi kita. Tentunya kita inginkan bahagia di kehidupan yang kekal itu.

Membuat hati segera mengiyakan pernyataan selanjutnya. Bahwa jangan sampai terlena oleh mimpi gemerlapnya dunia. Sehingga kita  semakin tertidur pulas tanpa sadar ketika terbangun nanti waktu untuk ikhtiar mencapai bahagia hakiki sudah tak ada.

Padahal Allah sudah memberitahukan kita salah satunya dalam surat Al-An’am ayat 32 sebagai surat terpilih dalam #insightQuran minggu ini. Bahwa dunia ini hanyalah senda gurau dan main-main belaka. Kehidupan sesungguhnya adalah di akhirat kelak yang ditentukan oleh perilaku kita di dunia saat ini. 

Jadi benarlah adanya tulisan di atas. Selama hidupnya di dunia yang sementara dan sebentar ini, kita harus tetap terjaga, menjauh dari tidur lelap dengan mimpi gemerlap. Beriktiarlah terus untuk menjadi orang bertakwa, yang selalu selaras dengan-Nya.

MasyaAllah… Tulisan itu jadi terlihat semakin keren…

#duniasementaraakhiratselamanya

#enlightenedheart

#oneweekonepost

#wifiregionbandung

KECEWA? SEDIH? SALAH SIAPA?

Kemarin saya sempat ngobrol dengan seorang teman via chat WA. Anaknya tidak lolos SBMPTN. Awalnya dia merasa ikhlas dengan kondisi itu. Dia bilang itu pasti yang terbaik untuk anaknya dan semua orang yang terlibat termasuk dirinya.

Tapi ketika dia melihat banyak postingan di timeline FBnya tentang rasa syukur mereka karena sang anak lolos SBMPTN, muncul juga sedikit rasa sedih dan kecewa. Dia jadi merasa sedikit terganggu. Walaupun kemudian dia mengakhir chatnya dengan emoticon tertawa dan kata-kata: ah dasar ya hati manusia yang belum pintar, begini nih jadinya…

Apa maksudnya?

Apa sih sesungguhnya yang menyebabkan kita merasa kecewa dan sedih? Ternyata kehadiran rasa rugi. Untuk kasus ini bisa jadi rugi karena perlu mengeluarkan uang lebih banyak untuk menyekolahkan anak dengan kualitas diharapkan. Atau bahkan karena tidak mampu menyekolahkan anak di tempat itu. Tempat kuliah swasta memang banyak. Namun untuk masuk ke tempat dengan kualitas negeri membutuhkan biaya yang jauh lebih besar.

Atau jangan-jangan merasa rugi karena kehilangan rasa bangga atas keberhasilan anak kita. Kita jadi tidak bisa memperlihatkannya kepada dunia.

Kenapa ya rasa rugi itu mendatangi kita? Karena kita belum sepenuhnya yakin akan kebaikan Allah. Belum yakin kalau Allah itu tak mungkin menyengsarakan kita, manusia, yang sangat disayanginya. Apa yang Dia berikan pastilah terbaik untuk kita, untuk masa depan kita.

Jika sedih dan kecewa itu masih saja hadir, siapakah yang patut disalahkan? Apakah mereka yang memposting kegembiraan dan rasa syukurnya?

Bukan. Melainkan kita sendiri. Hati kita. Yang masih belum peka, belum pintar melihat kebaikan Allah dalam setiap pemberian-Nya.

Ah, yang bener? Kata siapa itu?

Tentu saja kata Allah melalui Alquran dan Hadis. Dua hal yang jika kita pegang erat akan membuat kita senantiasa bahagia. Gak ada lagi sedih dan kecewa.

Jadi, janganlah berhenti untuk membuat hati ini pintar. Teruslah berproses, bertafakur menanamkan berbagai kebenaran dari Alquran dan Hadis di hati kita.

#selfreminder
#kemampuanhati
#tafakur
#bahagia
#enlightenedheart

K O P I

Saya bukanlah penggemar kopi. Bahkan sudah lama tidak meneguk jenis minuman ini. Entah karena sejak kecil di keluarga saya tidak ada kebiasaan meminumnya atau mungkin juga karena pencernaan yang kurang bersahabat dengannya, yang pasti saya tidak tergoda untuk mencicipi.

Tapi keseharian saya sering bersinggungan dengan kopi. Di pagi dan malam hari, rumah sering dipenuhi aroma menyegarkan yang juga saya sukai. Kalaupun sang punya kegemaran sedang tak di rumah, kantung-kantung kopi berbentuk khas, peralatan untuk mengolah, dan kadang kiriman-kiriman bubuk serta alat baru untuk mengolahnya; tetap hadir setiap hari.

Bahkan salah satu obrolan pada saat mudik adalah tentang kopi. Apalagi ketika ada seorang ponakan yang sedang bersemangat untuk menikmati kopi dengan jenis dan mengolahnya seperti yang kerap dilakukan di rumah. Kemudian mengalirlah berbagai cerita tentang kopi di obrolan kami. Dan kopipun terus menemani walaupun obrolan sudah berganti.

Ketika saya dan suami bertemu dengan teman yang sama-sama pulkam, salah satu topik yang dibicarakan adalah kopi. Minuman yang dipesan kopi. Dan buah tangan yang kami terima juga kopi.

Ternyata kopi menjadi salah satu yang membuat silaturahmi semakin mengasyikan. Selain menjadi topik pembicaraan dan buat tangan, kopi juga memperpanjang waktu bersilaturahmi. Dengan mengkonsumsi kopi rasa kantuk enggan mendekat. Tubuh terasa lebih fresh dan bersemangat. Siapa yang mau segera beranjak pergi kalau seperti itu. Yang ada obrolan semakin malam semakin seru rasanya.

Tidak hanya untuk meningkatkan mood, kopi juga ternyata menurunkan resiko terjadinya penyakit kanker usus, kanker mulut, diabetes, alzheimer, demensia, dan parkinson. Dan untuk kecantikan, kopi dipercaya dapat membantu kulit menjadi lebih kencang dan bersih.

MasyaAllah… Betapa Allah Maha Pencipta dan Pengasih. Dia menciptakan biji kopi yang kecil dengan manfaat besar. Namun seperti biasa Allah selalu memberikan pilihan. Apakah pemberiannya yang hebat itu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh manusia atau sebaliknya? Apakah mengkonsumsi kopi itu membuat kita semakin taat atau tidak?

Silaturahmi itu sangat baik karena disukai Allah. Bahkan Allah sangat benci orang yang memutuskan tali silaturahmi. Tapi silaturahmi yang seperti apa yang Allah suka? Tentunya yang penuh kebaikan. Saling membantu dan menyenangkan. Bukan malah menyakiti dengan bergunjing dan membuat orang lain tidak nyaman. Bukan juga membuat tubuh rusak karena sering begadang atau minum kopi berlebihan.

Thanks to Yulia Astuti dan Mas suami yang berbaik hati memberikan buah tangan kegemaran suami Fauzi Rachmanto. Hmmm… sepertinya perlu mulai mencicipi lagi minuman satu ini kalau melihat manfaatnya…

#kopi

#mokapot

#silaturahmi

#AllahMahaPengasih

#AllahMahaPencipta

#enlightenedheart

KETIKA ALLAH MEMBERIKAN KESEMPATAN

Beberapa waktu lalu, sesama teman yang tinggal di Bandung, bercerita. Dia rutin dikunjungi kerabat jauh dari Kota Tasikmalaya. Seorang perempuan berumur sekitar 60 tahunan. Beliau datang dengan salah seorang cucunya menggunakan transportasi umum.

Kalau saja beliau sehat, tentu tidak menjadi masalah melakukan perjalanan cukup jauh dengan kendaraan umum dan hanya ditemani seorang cucu berusia 12 tahunan. Namun beliau pernah menderita stroke. Jalannya tidak normal lagi dan jari-jari tangannya yang sebelah kiri kaku sulit digerakkan.

Biasanya beliau datang di pertengahan bulan. Beliau mengunjungi rumah orangtua teman saya terlebih dahulu. Baru setelah itu mengunjungi rumah teman saya tersebut sambil berlanjut pulang kembali ke Kota Tasik.

Teman saya tidak bisa melarang beliau untuk datang. Keinginan beliau yang tinggi membuatnya selalu mampu untuk melakukan perjalanan Tasik-Bandung bolak-balik dalam satu hari.

Teman saya bilang, dulu setiap kali beliau datang, selalu merasa terganggu. Dia  merasa kerabatnya itu membebani keluarganya. Memang kebiasaan ini sudah terjadi berpuluh tahun lamanya. Sejak beliau masih relatif muda, masih sehat. Beliau sering berkeluh-kesah dengan segala permasalahan hidupnya. Termasuk masalah ekonomi.

Sudah sering orangtua teman saya membantu beliau terutama dalam masalah ekonomi tersebut. Termasuk memberi beberapa kali modal untuk berbisnis kecil-kecilan, namun tidak pernah berhasil. Selalu saja modal itu habis karena kebutuhan lain yang lebih mendesak.

Sang suami dari kerabat teman saya itu sudah lama tidak mau bekerja lagi setelah mengalami kebangkrutan karena ditipu orang. Dengan 4 orang anak, tentu saja hidupnya semakin sulit secara ekonomi karena tidak ada penopang keluarga. Dialah yang kemudian turun tangan. Hingga sekarang, dalam kondisi kesehatan yang kurang baik pun beliau meminta bantuan kepada keluarga teman saya itu hampir setiap bulannya.

Namun sekarang, teman saya itu merasakan hal yang berbeda. Dia bersyukur Allah sudah mengirimkan beliau kepadanya. Bahkan kadang jika telat datang, teman saya selalu menunggu-nunggu. Serasa ada yang kurang, katanya, dan merasa rugi.

Kenapa begitu ya?

Karena teman saya sekarang sudah menyadari. Kedatangan beliau adalah kesempatan yang Allah berikan untuk menambah bekal di akhirat kelak yang nilainya berlipat ganda. Yaitu kesempatan untuk bersedekah. Seperti yang tercantum di surat Al-Baqarah ayat 261 yang menjadi pilihan untuk #insightQuran kali ini.

Apalagi di bulan Ramadan seperti saat ini. Pemberian kepada beliau menjadi sangat berharga. Karena Rasulullah SAW lebih bersemangat dan rajin bersedekah di bulan Ramadan.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar bersedekah. Semangat beliau dalam bersedekah lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307)

Kadang kita lupa bahwa ketidaknyamanan yang datang kepada kita adalah kesempatan dari Allah untuk mendapatkan keuntungan. Hati kita masih sering tertutup untuk melihat hal seperti ini. Karenanya kita perlu terus berikhtiar. Berproses agar hati kita terbuka dan mampu dengan mudah mengenali kebaikan-kebaikan Allah yang terbungkus ketidaknyamanan.

#enlightenedheart

#ketikaAllahmemberikesempatan

#oneweekonepost

#wifiregionbandung

KETIKA ALLAH MENGGERAKKAN HATI

Hari ini saya terbangun kurang bersemangat. Sejak kemarin saya diberikan kesempatan tidak berpuasa karena pencernaan kurang mendukung.

Saya semakin tak bersemangat ketika teringat hari ini ada jadwal silaturahmi dengan teman-teman komunitas yang sudah ditunggu-tunggu. Tetapi saya ragu bisa hadir atau tidak di silaturahmi itu. Badan terasa belum fit.

Saat hati sedang tak bersahabat itu, tiba-tiba terbaca postingan teman di salah satu grup WA. Hanya karena dia menggunakan kata “assalamu’alaikum” dan saya merasa berkewajiban untuk membalas salamnya. Dia membutuhkan bantuan berupa buku-buku untuk aktivitas sosial KKN anaknya di pelosok Kalimantan.

Tiba-tiba saya juga teringat satu keinginan yang belum terlaksana. Menyumbangkan majalah-majalah yang sekarang menumpuk tak termanfaatkan di atas rak. Ada seorang teman yang bersedia dan dengan senang hati mau menerima untuk aktivitas sosialnya.

Entah kenapa hati yang murung jadi bersemangat lagi. Jadilah pagi ini saya, dibantu asisten RT, menyiapkan beberapa buku dan banyak majalah untuk kemudian kami packing. Dan betapa leganya hati ketika adzan dzuhur berkumandang, semua sudah rapih siap dikirimkan besok atau lusa karena hari ini libur.

Sambil memandang tumpukan dus yang tertumpuk rapih, rasa syukur menyelinap di hati. Sakit yang Allah berikan telah menggerakkan saya kepada aktivitas berbagi yang insyaAllah disukai-Nya. Jika saya sehat tentu aktivitas ini tidak terlaksana. Saya akan asyik dengan silaturahmi.

Bukan berarti silaturahmi lebih jelek. Allah sangat suka jika kita bersilaturahmi. Tapi, apakah kita mampu menghalau godaan bergunjing, riya’, dengki yang mungkin saja datang pada saat bersilaturahmi? Mungkin Allah sedang menyelamatkan saya dari godaan-godaan itu. MasyaAllah…

Jadi benar adanya apa yang Allah ucapkan dalam surat Al-Baqarah ayat 216. Apapun yang Dia berikan adalah yang terbaik untuk kita.

Alhamdulillah… ❤

#insightQuran
#AllahMahaBaik
#oneweekonepost
#wifiregionbandung
#enlightenedheart