SALAH SATU HASIL MENULIS BUKU

MasyaAllah 😍. Alhamdulillah 🙏.

Nikmat, haru, dan syukur bersatu ketika membaca tulisan ini. Begini rupanya ketika salah satu tujuan menulis tercapai, lebih indah daripada ketika membayangkan ya dulu. Ketika hati butuh tambahan semangat untuk mendapatkan STRONG WHYnya.

Terima kasih Mbak Triana 🙏😘. Menambah semangat untuk terus berkarya melalui buku, yang memang sekarang ini sedang dibutuhkan. Yaitu menyelesaikan naskah buku solo ke 4. Pengalaman pertama menulis naskah novel memang sesuatu. Sangat menggebu namun kadang masih sering termangu untuk mulai menuangkan ide di Bab yang baru. But I love the process ❤.


So, teman-teman salihah dan saleh Syarah, Shofa, Ihsan, Nida, Isny, Rina, dan Mas Adit di Proyek SHINE-ON Ramadan Produktif, ayo semangat menulis untuk selesaikan naskah bukunya yaaa… 💪🔥😍


#bersyukur
#testimonibukuLeny
#thejourneyofempoweredmoms
#shineonramadanproduktif
#enlightenedheart
#kandelainstitute

B E R S Y U K U R

Ketika kita sudah menyadari bahwa hidup di dunia ini hanya sebentar, apa yang ingin kita lakukan? Apakah memanfaatkan waktu sebaik-baiknya? Kalau saya iya.

Namun memanfaatkan waktu sebaik-baiknya yang seperti apa? Jawabannya tergantung dari keyakinan yang dimiliki oleh masing-masing orang. Jika kita yakin akan adanya kehidupan akhirat yang kekal, maka waktu akan kita manfaatkan secara seimbang tidak melulu untuk kebaikan dunia melainkan juga untuk kebaikan akhirat kita.

Sebaliknya jika kita tidak memiliki keyakinan akan keberadaan akhirat, maka waktu hanya akan kita habiskan untuk meraih kebaikan dunia saja. Padahal belum tentu kita mendapatkan kebaikan di dunia jika kebaikan diartikan hidup yang berkualitas atau bahagia.

Bagaimana dengan para pekerja dan pebisnis yang sebagian waktunya dihabiskan untuk bekerja dan berbisnis? Sementara aktivitas dalam bekerja dan berbisnis sering dimaknai hanya untuk urusan dunia.

Itu karena kita tidak menyadari bahwa sesungguhnya dalam berbagai aktivitas bekerja dan berbisnis, kita tetap dihampiri oleh urusan akhirat kita. Dan itu sudah ada dimulai dari niat kita bekerja dan berbisnis itu. Akan berbeda hasilnya jika bekerja dan berbisnis hanya diniatkan untuk meraih harta, jabatan, dan popularitas semata dengan diniatkan karena Allah.

Selain itu pada saat beraktivitaspun urusan akhirat mendatangi kita. Ketika kita berhadapan dengan berbagai kendala atau kesulitan, di sanalah urusan akhirat berada. Jika kita mampu menghadapinya dengan bersabar, ikhlas, dan berserahdiri; maka kebaikan akhirat akan kita dapatkan. Sementara jika kita menghadapinya dengan mengeluh, kecewa, kesal, dan marah; maka kebaikan akhirat tidak akan kita dapatkan.

Bahkan ternyata ketika kita memilih untuk berniat dan menghadapi berbagai kendala itu tanpa keinginan mendapatkan kebaikan akhirat, biasanya kebaikan di duniapun tidak kita dapatkan. Jika kebaikan di dunia diartikan sebagai hidup yang berkualitas atau bahagia.

Lantas apa yang bisa kita lakukan agar bisa seimbang mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat? Selalu gunakan hati untuk kebaikan dalam setiap aktivitas kita. Sulit?

Ada satu cara sederhana yang bisa membantu kita agar bisa selalu menggunakan hati untuk kebaikan. Yaitu dengan bersyukur. Seberapa seringkah kita bersyukur setiap hari? Jangan-jangan sangat jarang. Kenapa ya? Biasanya karena kita jarang merasa beruntung. Jarang merasakan kebaikan-kebaikan dari Allah. Padahal Allah memberikan kenikmatan dan anugerah-Nya kepada kita setiap saat. Tidak percaya?

Yuk, coba kita renungkan bersama. Apakah yang kita hirup setiap kali bernafas? Ya, betul oksigen. Darimana kita mendapatkannya? Dari udara di sekitar kita secara GRATIS. Coba bayangkan jika saja Allah mengubah aturannya: “Mulai sekarang setiap makhluk hidup di dunia harus membayar sejumlah uang untuk mendapatkan oksigen”. Bagaimana nasib kita? Bisa hancur tentu saja. Bukan hanya kita yang kesulitan mendapatkan oksigen karena mahal harganya. Tetapi juga binatang dan tumbuhan kemungkinan tidak
bisa bertahan. Keseimbangan alam terganggu dan bisa menyebabkan kehancuran dunia.

Itu adalah hal yang kita anggap kecil sehingga kita tidak menyadarinya. Ketika kita sekarang sudah menyadarinya, semestinya kita bersyukur setiap saat.

Di awal tahun ini, saya membaca postingan ajakan seorang mentor menulis untuk membuat 17 jurnal syukur. Dan karena menurut saya sangat menarik bisa membantu saya semakin sering bersyukur, langsung sesaat setelah sang mentor memposting ajakan itu, sayapun membuatnya. Dan inilah 17 jurnal syukur saya:

1. Masih diberi kesempatan untuk beribadah.
2. Dipertemukan dengan Majelis Tafakur Mutiara Tauhid.
3. Dipertemukan dengan sahabat-sahabat jiwa.
4. Suami dan anak bersedia bergabung dengan Majelis di atas.
5. Semakin hari hati terasa semakin pintar dan dunia terasa semakin indah.
6. Dipertemukan dengan pola makan sehat.
7. Diberi kesehatan yang semakin baik.
8. Diberi kesempatan berhaji dengan hati (MasyaAllah …).
9. Kakak Sasha lulus S-1 dengan predikat cumlaude.
10. Disetujui resain dari kampus oleh suami dan atasan-atasan di kampus dan sekarang sedang diproses.
11. Dipertemukan dengan aktivitas menyenangkan (atau mungkin passion, semoga) baru yaitu menulis.
12. Dipertemukan dengan kelas-kelas online menulis yang sangat membantu.
13. Dipertemukan dengan mentor-mentor menulis yang keren.
14. Dipertemukan dengan sahabat-sahabat menulis yang baik.
15. Selesai 2 naskah buku solo dalam waktu 2 bulan, 1 sudah launching yang satu insyaAllah sebentar lagi.
16. Launching 2 buku dan selesai 1 naskah buku antologi bersama.
17. Terbentuknya Kandela Institute, membuat kebersamaan keluarga kecil kami semakin erat.

Bagaimana dengan jurnal syukur anda?

#sarapankata
#day17
#kmoindonesia
#kmobatch12
#bersyukur
#17jurnalsyukur
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day45