MENERIMA

Beberapa waktu lalu, ada seorang teman yang bertanya. Gimana sih caranya supaya kita gak galau ketika sakit datang? Gimana sih supaya bisa tetap bahagia ketika sakit menghampiri?

Dulu, saya juga begitu. Ketika sakit datang, langsung Sang Galau menghampiri. Rasanya sedih dan kecewa karena harus grounded di rumah. Banyak hal yang terpaksa batal dilakukan. Kalaupun bisa, semua dilakukan tidak maksimal. Dan tentu saja badan rasanya gak karuan. Segera saja, saya mulai mengeluh  akan sakit itu.

Ketika merasakan kegalauan, kemudian tercermin dalam keluhan-keluhan; artinya kita belum menerima dengan sepenuh hati apa yang sedang terjadi. Termasuk pada saat sakit.

Kalau saja kita mau menerima dengan sepenuh hati, tentunya kegalauan tak kan datang. Dan bahagia tetap kita rasakan.

“Kalau sakitnya ringan dan hanya sebentar saja sih, bisa lah menerima. Tapi kalau sakitnya parah dan lama. Atau membaik tapi tidak tuntas, jadi kambuuuhh melulu. Padahal ikhtiar untuk sembuh sudah dilakukan, sampai bosan. Lama-lama kesal juga deh…”

So, intinya kita perlu “belajar” untuk menerima. Siapa yang belajar? Hati. Karena yang merasakan sedih, kecewa, kesal, dan galau kan hati.

“Okayyy, tapi… gimana caranya?”

Coba deh, pada saat kita mendapatkan apa yang kita sangat kita inginkan, seperti apa rasanya? Lega, tenang, senang dan gembira kan?

Apakah kita sangat menginginkan surga? Apakah kita sangat menginginkan bahagia tidak hanya di dunia tapi di akhirat kelak?

Kalau iya, rasakan sepenuh hati bagaimana saat kita sudah berada di sana. Hirup dan nikmati udara kebahagiaan di dalamnya. Tak ada sama sekali kegalauan dan kesengsaraan yang menimpa.

Sudah? Nah, maukah hal itu kita rasakan selalu?

“Memang bisa?”

Bisa. Taati Allah. Karena hanya Allah yang tahu bagaimana semua rasa itu bisa kita dapatkan. Dan Allah hanya inginkan kita merasakan itu saja, saking sayangnya Dia kepada kita. Tak mungkin Allah memberikan sesuatu yang membuat kita sengsara. Pasti ada “keuntungan” bagi kita di belakangnya. Termasuk sakit.

Salah satu taat itu adalah menerima dengan sepenuh hati (ikhlas) pada saat kita sakit. Dan bukankah Allah juga sudah berjanji, bahwa sakit itu adalah penggugur dosa? Inilah “keuntungan” di belakang peristiwa sakit. Siapa yang tak mau dosa-dosanya diampuni? Gak ada deh kayaknya. Bukankah kita sering berdoa agar dosa-dosa diampuni? Allah juga Maha Suci, tak mungkin ingkar janji. Semua itu pasti akan terjadi.

Lantas apakah ganjarannya kalau kita taat atau dengan kata lain bertakwa? Ya surga-Nya seperti yang tertulis dalam surat pilihan #insightQuran kali ini, surat Maryam ayat 63.

Jadi ketika sakit, biasanya saya bilang: “Silakan Allah, saya terima sakit ini sepenuh hati. Yang penting saya bisa selalu taat pada-Mu.” Dan… nyeeessss… hati ini jadi tenang rasanya.

Gak percaya? Coba aja!

#selfreminder

#sakit

#taat

#enlightenedheart

SURGA

SURGA

Siapa sih yang tak inginkan surga? Sepertinya hampir semua orang inginkan itu. Hal ini tercermin dari seringnya kita berdoa “robbanaa aatinaa fii dunya hasanah, wa fil aakhiroti hasanah waqinaa adzaabannaar”.

Tapi sadarkah kita bahwa surga itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang beriman dan beramal saleh saja? Atau dengan kata lain mereka yang taat kepada Allah saja. Termasuk pada saat kita mengalami ketidaknyamanan. Ini sudah menjadi janji Allah yang tercantum di ayat terpilih #insightQuran Jumat ini, surat An-Nisaa’ ayat 122.

Beberapa waktu lalu ada teman yang curhat. Dia merasa berat dalam menjalani hidup ini. Berbagai ketidaknyamanan tak henti mendatanginya.

Rupanya dia lupa bahwa saat ini sedang berada di dunia. Dunia tempatnya kita diuji melalui berbagai ketidaknyamanan.

Tapi sesungguhnya, ketidaknyamanan itu untuk kebaikan kita. Melalui ketidaknyamanan itulah kita jadi tidak terlena.

Coba saja perhatikan, pada saat kapan kita banyak berdoa dan mengingat Allah. Apakah ketika sedang mengalami ketidaknyamanan atau kenyamanan? Bahkanpada saat kita mengeluh kepada Allah, itu artinya kita sedang mengingat-Nya

Dengan banyak berdoa dan mengingat Allah memperbesar jalan kita untuk taat. Yang artinya memperbesar kita untuk mencapai surga-Nya.

Kalau begitu semestinya kita bersyukur dengan ketidaknyamanan yang dialami. Karena saat itu Allah sedang membuka jalan kita untuk taat.

Tinggal kitanya saja yang memilih menjadi taat dengan bersabar, ikhlas, dan berserah diri; atau sebaliknya. Semua ada di tangan kita. Jika memilih untuk taat maka surga yang diinginkan akan dapat kita raih, sesuai dengan janji Allah.

#surga

#taat

#janjiAllah

#enlightenedheart

BIG PROBLEM ATAU BIG OPPORTUNITY?

Mau pilih yang mana?

Yang ke 2 dong.

Yakin? Kalau gitu, kenapa masih berkutat pada hal-hal ini: kenapa ya saya masih sulit untuk move on? Kenapa ya orang lain bisa saya enggak? Saya masih pemula sih, jadi sulit untuk menyelesaikannya. Kalau dia kan punya segalanya, jadi mudah, saya kan gak punya itu semua, jadi gini-gini aja deh…

So, singkirkan semua itu dan mulailah fokus pada: apa sih yang kita inginkan? Apa yang kita tuju? Belum tau? Cari tau.

Setelah tau, kita cari cara untuk mencapainya. Dan gunakan semua hal yang sudah kita punya. Percaya deh, sebenarnya Allah sudah memberikan semua yang kita butuhkan. Hanya kitanya aja yang belum ngeh, belum hirau sama kebaikan Allah.

Itulah salah satu cara untuk mengubah “big problem” menjadi “big opportunity”.

Salah satu? Emang ada lagi?

Adaaa…

Kasih tau dong…

Besok-besok lagi yaaa… Ingatkan saya untuk share yang satu itu 😊

#selreminder
#bigopportunity
#fokuspadatujuan
#enlightenedheart

HP

Tadi pagi sambil beraktivitas di dapur, Emak, panggilan untuk asisten rumah tangga, bercerita. Dulu di kampung sewaktu remaja, kalau ada hari libur, dia bersama beberapa temannya bermain. Tapi bermainnya menghasilkan. Seringnya membuat suatu makanan, seperti berbagai keripik dari bahan yang tersedia.

Beda banget sama remaja sekarang, lanjutnya. Setiap libur mereka bermain juga. Tapi sering tidak menghasilkan, karena hanya main-main (dalam arti sesungguhnya) hp saja sambil foto-foto.

Saya tercenung sambil membenarkan dalam hati. Karena saya teringat diri sendiri, bahkan ketika sudah tidak remaja lagi. Pada saat teknologi hp hadir dengan dilengkapi game canggih dan kamera, saya sudah berkeluarga. Tapi saya tetap tertarik menghabiskan waktu untuk memainkan game-game tersebut dan juga berfoto ria.

Kemudian foto-foto itu saya upload di medsos dengan caption tanpa kebaikan. Dan saya lanjutkan dengan menlusuri postingan teman-teman yang sering tidak banyak manfaatnya. Pada saat itu saya tidak menyadari terbuangnya waktu yang berharga.

Ternyata kemajuan teknologi tidak hanya membantu kita semakin mudah menjalani hidup, tetapi melenakan juga. Kita terlena karena kemudahan itu. Tanpa menyadari bahwa hal itu bisa membuat kita tidak bahagia.

Ketika nilai-nilai ujian jelek, bisnis merugi, nulis gak kelar-kelar; galau kan? Kitapun berkeluh kesah. Padahal semua itu karena kita terlena oleh canggihnya hp.

Untunglah saat saya terlena, Allah mengingatkan melalui berbagai ketidaknyamanan. Setelah itu, saya menggunakan hp yang dimanfaatkan untuk berbisnis dan menulis.

Ya, berkomunikasi dengan tim atau klien, saya lakukan via hp. Menuliskan berbagai ide, mapping, ouline, bahkan menuangkannya menjadi tulisan juga saya lakukan dengan hp.

Tentu saja semua aktivitas itu saya pilih karena saya yakin bisa mendekatkan kepada tujuan hidup saya. InsyaAllah…

Kalau kamu gimana?

#memanfaakanhp

#untukberbisnis

#untukmenulis

#enlightenedheart

#oneweekonepost

#wifiregionbandung

PENTINGKAH MEMILIKI TUJUAN HIDUP? Part 2

Beberapa kali saya bertemu dengan teman yang curhat dengan ketidakpuasan hidupnya. Terutama dengan perasaannya ketika berada di tempat kerja atau bisnis.

Ketika saya bertanya kenapa tetap bertahan bekerja di tempat itu atau berbisnis di bidang itu? Banyak alasan dikemukakan. Butuh dan kalau berhenti gak tau dapat kerja lagi atau bisa berbisnis lagi. Tidak diijinkan berhenti oleh atasan atau pasangan. Sayang, masuknya atau mengawalinya penuh perjuangan. Dan sebagainya.

Well, hidup adalah pilihan untuk melakukan berbagai aktivitas. Seperti yang sudah dibahas di part 1, ketika kita akan melakukan sesuatu semestinya kita sudah yakin bahwa pilihan itu sesuai atau bisa mendekatkan kita kepada tujuan hidup.

Ketika kita menyadari bahwa aktivitas itu mendekatkan kepada tujuan hidup, maka kita tidak akan mengeluh. Kita malah akan semakin semangat. Apapun yang orang lain lakukan kepada kita tidak menjadi masalah.

Kalau masih merasa kecewa, kesal, dan marah; bisa jadi apa yang kita lakukan tidak mendukung kepada pencapaian tujuan hidup. Atau barangkali tujuan hidup yang dipilih tidak sejalan dengan tujuan penciptaan kita.

Kalau begitu tujuan hidup mana yang sejalan dengan itu?

Jawabannya sudah tersedia dengan jelas dan sering kita ucapkan dalam doa yang tertulis di surat pilihan untuk #insightQuran kali ini. Yaitu surat Al-Baqarah ayat 201.

Begitu kita yakin dengan tujuan hidup itu, semua pilihan akan jatuh kepada hal yang mendukung terwujudnya hal tersebut. Dan kita tak akan mengeluh dengan apapun yang terjadi. Karena yakin tujuan hidup akan tercapai dengan pilihan tersebut.

#tujuanhidup

#dbas

#hidupadalahpilihan

#enlightenedheart

MAKNA KEHILANGAN

Pernahkah merasa kehilangan? sepertinya semua orang pernah. Mulai dari kehilangan benda atau hal yang tidak terlalu berarti sampai yang begitu penting dalam hidup kita. Mulai dari kehilangan ballpoin, buku, ikat rambut, peniti; sampai kehilangan kendaraan, uang dalam jumlah besar, dan orang terdekat yang kita sayangi.

Perasaan yang kita alami biasanya tergantung dari seberapa banyak dan pentingnya hal atau benda yang hilang tersebut. Jika hal atau benda yang hilang tidak terlalu berarti, maka hanya merasakan sedikit sedih yang tidak lama. Tetapi jika yang hilang adalah hal atau benda yang cukup penting, kita pun merasakan kesedihan mendalam dan lama. Termasuk ketika mengalami kehilangan orang terdekat yang kita sayangi karena kematian misalnya.

Tapi apakah itu yang Allah inginkan ketika kita kehilangan orang terdekat karena kematian? Apakah itu yang jiwa inginkan? Tidak. Karena jiwa dan juga Allah inginkan kita selalu bahagia. Bukan bahagia namanya jika mengalami kesedihan mendalam dan lama.

Tapi kenapa ya, perasaan itu tetap ada? Bagaimana cara menghalaunya? Bagaimana supaya bisa selalu bahagia?

Kita perlu hati yang mampu untuk menghalaunya. Hati yang mampu melihat makna dibalik peristiwa kehilangan itu. Hati yang tidak terjebak dalam fakta. Karena fakta sering menipu. Justru sesungguhnya yang tidak terlihat dibalik fakta itulah yang lebih penting. Yang bisa membuat kita selalu bahagia.

Sadarilah bahwa kehilangan orang terdekat karena kematian adalah cara Allah menyayangi kita. Itu adalah salah satu kebaikan yang Allah berikan. Saat itu Allah sedang mengingatkan, bahwa suatu saat giliran kitalah yang menghadapi kematian. Mengingatkan sudah sejauhmana persiapan kita menghadapinya.

Bukankah kematian pasti akan mendatangi kita? Seperti yang tertulis dalam dua surat terpilih untuk #insightQuran  kali ini, Al-Baqarah: 185 dan Al-Anbiya: 27.

Pasti kita semua inginkan husnul khotimah. Dan husnul khotimah hanya bisa diraih jika hati telah memiliki kemampuan untuk terus mengingat Allah di saat kematian itu tiba.

Jika pada saat sakit biasa saja kita sulit untuk khusyu mengingat Allah, bagaimana bisa mengingat-Nya pada saat kematian datang yang sakitnya luar biasa. Jadi mampukanlah hati  untuk itu. Teruslah berproses untuk mendapatkan kemampuan tersebut.

#backtoquran

#oneweekonepost

#wifiregionbandung

#enlightenedheart

MASIH TENTANG SEDEKAH

Akhir-akhir ini saya sering menggunakan jasa taksi online. Lebih praktis, mengurangi konsumsi energi tubuh, dan stres.

Praktis karena saya gak perlu repot mencari lahan parkir, membeli bensin, membersihkan mobil jika kotor. Waktu yang dikeluarkan untuk bepergian menjadi lebih pendek.

Hal ini juga mengurangi konsumsi energi tubuh, selain saya tidak perlu menyetir. Dan mengurangi stres karena tidak mengalami kejengkelan pada saat disalip misalnya, atau berlama-lama mencari lahan parkir.

Memang semakin hari kecanggihan teknologi membuat hidup kita semakin mudah. Bahkan untuk membayar taksi online pun saya tidak perlu menggunakan uang tunai. Saya bisa menggunakan fasilitas e-money.

Tapi untuk hal bayar-membayar ini, ternyata saya lebih suka cara konvensional, bayar tunai saja. Kenapa? Karena dengan membayar tunai saya berkesempatan untuk memberi berbagi kebaikan lebih banyak, yaitu memberi pembayaran lebih kepada mereka.

Memang kebaikan tidak hanya memberi pembayaran lebih. Kita juga bisa memberikan kebaikan dengan sapaan dan ucapan terima kasih yang ramah disertai senyum yang tulus.

Namun pemberian pembayaran lebih bisa menjadi ibadah yang sangat menyenangkan Allah. Jika kita niatkan ini untuk bersedekah.

Bukankah Allah sangat suka dengan sedekah? Seperti yang tercantum dalam 2 ayat yang terpilih untuk #insightQuran Jumat ini, surat Al-Hadid ayat 18 dan Al-Baqarah ayat 261.

Kalau saya merasa ada rasa nyaman dan nikmat ketika memberikan uang itu kepada mereka. Padahal jumlahnya tidak besar, paling banyak mungkin 5 ribu. Tapi coba perhatikan ketika mereka menerimanya, penuh rasa terima kasih dan wajahnya sumringah. Hati ini jadi mengembang dan enak sekali rasanya. Coba deh rasakan.

Bahkan saya pernah disopiri oleh seseorang yang sedang bete, kelihatannya. Dia terlihat cemberut dan tidak ramah. Tapi begitu diberi pembayaran lebih, dia terlihat surprise dan senang. Wajahnya berubah menjadi berseri-seri dan kata-katanya terdengar ramah. Betapa nikmatnya terasa di hati.

Memang Allah itu selalu benar. Tidak hanya bahagia di akhirat kelak yang bisa kita raih, tetapi juga bahagia di dunia ini. Seperti yang tertuang dalam 2 hadis di bawah ini:

“Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR. Bukhari Muslim)

”Perumpamaan orang yang pelit dengan orang yang bersedekah seperti dua orang yang memiliki baju besi, yang bila dipakai menutupi dada hingga selangkangannya. Orang yang bersedekah, dikarenakan sedekahnya ia merasa bajunya lapang dan longgar di kulitnya. Sampai-sampai ujung jarinya tidak terlihat dan baju besinya tidak meninggalkan bekas pada kulitnya. Sedangkan orang yang pelit, dikarenakan pelitnya ia merasakan setiap lingkar baju besinya merekat erat di kulitnya. Ia berusaha melonggarkannya namun tidak bisa.” (HR. Bukhari)

#sedekah
#enlightenedheart
#oneweekonepost
#WiFIregionBandung

KETIKA KITA BERSEDEKAH

Siapa yang tidak tahu sedekah itu sangat disukai Allah. Salah satu ayat yang menjadi pilihan #insightQuran kali ini, surat Al-Baqarah ayat 261, menyiratkan hal tersebut. Jika ingin menambah perbekalan untuk di kehidupan selanjutnya, kita bisa menggunakan cara ini.

Atau barangkali kita sudah sering melakukan karena menyadari itu bisa menyelamatkan kita nanti. Alhamdulillah jika iya.

Tapi pernahkan mengalami hal seperti ini? Kita merasa kesal karena berulang kali ada seseorang yang datang meminta bantuan kepada kita, saat dia sedang kesulitan. Di awal kita dengan ikhlas membantunya dengan meniatkan sedekah. Tapi ketika hal itu terus rutin berlangsung, kita jadi curiga dan bersuudzon dia keenakan dan tidak mau berusaha untuk menyelesaikan masalahnya secara mandiri. Dia jadi tergantung kepada kita.

Kita tetap memberinya sedekah seperti biasa ketika dia datang lagi menemui. Tapi kali ini dia juga mendapatkan “nasihat” yang cukup keras dari kita. Dia pun berterima kasih dan pergi seperti biasanya.

Tapi sadarkah kita, sedekah yang kita berikan menjadi sia-sia ketika dia merasa tersakiti karena “nasihat” kita. Seperti yang tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat 264. Lebih baik kita tidak memberinya sedekah dengan meminta maaf dan perkataan yang baik. Seperti yang tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat 263.

Betapa baiknya Allah selalu memberikan pilihan bagi kita. Sekarang tinggal memilih mana yang membuat Allah suka dan kitapun tidak merugi.

#insightQuran
#enlightenedheart
#bersedekah
#backtoQuran
#jumatbarokah

 

DIBALIK KEINDAHAN SILATURAHMI

Siapa yang tidak suka bertemu dan melepaskan kangen dengan kerabat atau teman lama yang sudah lama tidak bertemu? Sebagian besar dari kita pasti menyukainya. Saya juga. Selain karena pasti seru bertemu lagi dengan mereka, Allah juga sangat suka jika kita menjaga tali silaturahmi dengan siapa saja.

Hal ini tertulis dalam salah satu yang menjadi pilihan di #insightQuran Jumat ini, yaitu surat An-Nisa’ ayat 1. Dan betapa Allah terlihat sangat tidak suka kepada siapa saja yang memutuskan tali silaturahmi yang tertulis dalam ayat pilihan lain yaitu Al-Baqarah ayat 27.

Jadi ketika ada kesempatan untuk bersilaturahmi apakah itu reuni, kumpul keluarga, arisan, atau janjian bertemu; manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya.

Namun jangan sampai apa yang Allah sangat sukai itu menjadi sebaliknya. Dan kemungkinan itu terbuka lebar ketika godaan bergunjing menghampiri kita.

Bergunjing adalah salah satu perilaku yang tidak disukai Allah. Hal ini tertulis dalam surat terakhir Jumat ini yaitu surat Al-Hujurat ayat 12.

“Iya ya, saya sering tergoda dan akhirnya bergunjing juga. Padahal saya sudah tahu dan sudah mempersiapkan juga untuk tidak bergunjing. Gimana dong?”

Memang kadang tanpa sadar kita terbawa untuk bergunjing. Yang artinya kita masih belum meyakini tentang ketidakbaikan bergunjing ini. Sehingga masih dikalahkan oleh ego atau nafsu buruk kita yang ingin merasakan senang dan nikmatnya bergunjing.

Kita masih perlu banyak mengajak hati belajar, merenung, dan merasa-rasakan. Sehingga kita yakin tentang buruknya bergunjing dan otomatis kita tidak terbawa ketika ada godaan bergunjing.

#enlightenedheart
#backtoquran
#oneweekonepost
#wifiregionbandung

DIARY JIWA (Review Buku)

Kehidupan dunia yang penuh dengan ujian, sering disikapi tidak semestinya. Ini menyebabkan banyak dari kita merasa memiliki banyak masalah, sehingga stres melanda, yang berujung kepada ketidaktenangan jiwa atau tidak bahagia. Padahal saya percaya semua inginkan sebaliknya, yaitu jiwa yang tenang atau bahagia.

Buku ini bisa membantu kita untuk mewujudkannya. Diawali dengan ajakan mengenali diri. Siapakah sesungguhnya diri ini? Apakah dia yang kita lihat pada saat kita bercermin ataukah yang lain? Dan jawabannya sangat penting karena dialah nanti yang menentukan perilaku kita, menentukan bahagia atau tidaknya kita tidak hanya sekarang tetapi juga kelak di alam selanjutnya.

Dengan cara yang mengasyikkan, sang penulis membawa kita untuk mengungkap cara selanjutnya. Maka dikenalkanlah kita dengan memaafkan dan bersyukur. Diingatkanlah bahwa kita butuh memiliki jiwa yang sabar dan kuat. Disadarkanlah kita bahwa semua itu merupakan jalan untuk merasakan ketenangan atau bahagia.

Membacanya memang mengasyikkan. Dengan gaya bercerita yang sering diakhiri kalimat tanya, serasa mengajak berdialog dan dengan mudah kita terhanyut di dalamnya. Didukung dengan quote-quote yang pas terutama quote ini, jleb rasanya: “Lihatlah langit, luaaasss nan indah, seperti kasih sayang Allah. Tidak berujung dan tidak akan pernah habis. Masihkah kita mengabaikannya?”

Kita juga diajak mempraktekkan langsung berbagai cara itu dengan diberikan ruang khusus untuk menuliskan apa yang dirasa. Dengan terapi menulis ini, kita diberi kesempatan untuk segera merasakan ketenangan jiwa berbarengan dengan selesainya buku ini dibaca.

Dan yang terpenting, begitu terasa dilibatkannya Sang Pemilik Jiwa, dalam setiap ajakannya. Membuat kita semakin merasa bahwa hidup ini ternyata tidak seburuk dan seberat yang kita sangka, karena ada Dia yang selalu siap membantu kita.

Terima kasih Kak Jee, sudah mengajak saya mengarungi kedalaman jiwa yang membuat semakin yakin bahwa betapa pentingnya kemampuan jiwa agar ketenangan atau kebahagian hakiki dapat tercapai.

@penerbitmizan
@pastelbooks.id
@nulisyuk
#reviewbuku
#diaryjiwa
#ceritabuku
#nulisyuk