HANYA MENYAMPAIKAN

Masihkah kita memaksakan kehendak kita kepada anak-anak kita? Atau pasangan kita? Atau mereka yang secara hierarkis ada di bawah kita?

Apakah kalau anak-anak susah disuruh salat, kita masih ngomel sambil mengancam mereka? Apakah kalau pasangan masih malas bersedekah, kita masih menegur dengan keras. Apakah kalau bawahan kita masih suka bergunjing, kita menyindir yang menyakitkan hatinya?

Padahal Allah saja tidak pernah memaksa kita untuk mentaati-Nya. Siapa yang mau beriman silakan beriman, siapa yang mau kafir silakan kafir. Itu tercermin dalam ayat yang menjadi pilihan untuk #insightQuran kali ini, surat Al-Kahfi ayat 29.

Lantas apakah kita diam saja kalau ada ketidakbenaran di depan kita? Tentu saja tidak. Kita diminta untuk mengingatkan mereka, kita diminta untuk menyampaikan kebenaran walaupun hanya satu ayat saja yang kita ketahui. Seperti menurut hadis ini.

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari).

Namun sebelumnya kita ber-tabayyun dulu. Tanyakan kenapa mereka melakukan itu. Karena siapa tahu mereka punya dasar yang kuat juga yaitu Al-Quran atau hadis, yang kita tidak mengetahuinya.

Ketika itu terjadi, maka apa yang mereka lakukan benar adanya. Tidak perlu diperdebatkan lagi. Yang penting apa yang mereka lakukan tidak melanggar Al-Quran dan Hadis.

Jika apa yang mereka lakukan tidak sesuai Al-Quran dan hadis barulah kita peringatkan baik-baik. Kita sampaikan kebenaran sesuai Al-Quran dan hadis. Kalau mereka masih tidak mengubah prilakunya, ya sudah biarkan saja. Karena semua ada pertanggungjawaban kelak. Apa yang mereka lakukan akan mereka pertanggungjawabkan kelak oleh mereka sendiri.

Tapi kan mereka anak-anak dan pasangan saya, yang saya sayangi. Saya tidak mau nanti mereka menderita di akhirat kelak. Gimana dong?

Ajaklah mereka untuk belajar hati, yaitu mengisi hati mereka dengan kebaikan-kebaikan atau kebenaran-kebenaran Al-Quran dan hadis. Begitu hati mereka dipenuhi itu, tanpa kita suruh, tanpa diingatkan, dengan sendirinya mereka akan melakukan apa yang Allah inginkan itu.

#enlightenedheart
#berbagikebaikan
#hanyamenyampaikan
#alkahfi29
#oneweekonepost
#wifiregionbandung

PENTINGKAH MEMILIKI TUJUAN HIDUP?

Suatu pagi kita pergi ke pasar tanpa tahu apa yang akan dimasak hari itu. Apa yang kemudian biasanya kita lakukan? Kalau saya biasanya kemudian kebingungan akan membeli apa, sehingga membutuhkan waktu cukup lama. Tak jarang badan jadi terasa capek karena keliling-keliling di sana.

Begitu sampai di rumah kadang saya baru menyadari ada bahan atau bumbu yang diperlukan tidak terbeli. Tapi lebih sering lagi menemukan bahan atau bumbu yang tidak dibutuhkan ada di dalam plastik belanjaan yang saya bawa.

Tapi berbeda ketika saya berbelanja di pasar dan sudah tahu akan memasak apa hari itu. Saya bisa segera menuju los yang biasa menjual bahan dan bumbu yang dibutuhkan. Waktu yang dibutuhkan jadi jauh lebih singkat. Saya juga merasa tidak capek karena tenaga yang digunakan lebih sedikit.

Sesampainya di rumah tak lagi kebingungan karena semua bahan dan bumbu lengkap tersedia. Dan tentunya juga lebih hemat karena tidak membeli bahan atau bumbu yang tidak dibutuhkan.

Begitulah jika sudah tahu TUJUAN ke pasar, kita jadi EFISIEN. Semua aktivitas di pasar kita lakukan tanpa banyak membuang waktu, tenaga, dan dana.

Ternyata hal ini tidak hanya berlaku untuk kegiatan kita ke pasar saja. Kegiatan apapun itu jika dimulai dengan TUJUAN maka kegiatan itu akan kita lakukan lebih baik. Bahkan makan, tidur, dan berolahraga pun misalnya, akan terlaksana lebih baik jika di awal kita sudah tahu apa TUJUAN-nya.

Apa tujuan kita makan, tidur, dan berolahraga? Jika tujuannya adalah untuk sehat, maka saya akan melakukan kegiatan-kegiatan tersebut langsung dengan memilih makanan sehat, jam tidur yang disarankan, dan serius dalam berolahraga. Saya tidak bingung memilih makanan yang akan dimakan, tidak bingung menentukan jam tidur, tidak main-main dalam berolahraga.

Jadi memang betul ya, setiap kegiatan itu ternyata paling baik jika dimulai dengan TUJUAN. Sekarang kita jadi tahu bahwa setiap akan melakukan sesuatu tanya dulu ke dalam diri kita apa TUJUAN-nya. Ketika kita sudah menemukannya, InsyaAllah kita akan lebih baik atau EFISIEN dalam melakukannya.

Referensi:
Materi ke 1 Tafakur Mutiara Tauhid (Bandung).

#selfreminder
#tujuanhidup
#tafakurmutiaratauhid
#dbas
#enlightenedheart

“BERBISNIS” DENGAN-NYA

Beberapa waktu lalu saya terpaku dengan postingan salah seorang sahabat jiwa yang mampir di timeline FB saya yang isinya kira-kira seperti ini: Sudah pernah menemukan belum promo big sale buy one get 10, atau super-super big sale buy one get 700? Berbisnis dengan siapa bisa begini? Kalau ada, mau gak?

MasyaAllah! Seperti ada yang menampar pipi ini. Apalagi ketika komen saya dibalasnya kira-kira seperti ini: Padahal kalau ada promo buy one get one free aja di mal-mal atau supermarket, yang artinya cuma dapat 2, dikejar-kejar. Semakin keras tamparannya terasa. Begitu tertamparnya saya sehingga saya memutuskan untuk memilih surat Al-An’am ayat 160 untuk #insightQuran di Jumat ini.

Dan ayat terpilih ini diperkuat juga oleh satu hadis di bawah ini:

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Jika hamba-Ku bertekad melakukan kejelekan, janganlah dicatat hingga ia melakukannya. Jika ia melakukan kejelekan tersebut, maka catatlah satu kejelekan yang semisal. Jika ia meninggalkan kejelekan tersebut karena-Ku, maka catatlah satu kebaikan untuknya. Jika ia bertekad melakukan satu kebaikan, maka catatlah untuknya satu kebaikan. Jika ia melakukan kebaikan tersebut, maka catatlah baginya sepuluh kebaikan yang semisal hingga 700 kali lipat.” (HR. Bukhari no. 7062 dan Muslim no. 129).

Kita (atau saya mungkin ya, yang lain mah enggak 😔) sering lupa atau mungkin hati ini belum mampu untuk “melihat dengan jelas” promo spektakuler itu. Saya pun sering membiarkan kesempatan berharga itu berlalu begitu saja. Duh! Bangun Leny! Katanya ingin DBAS (Dunia Bahagia Akhirat Surga), tapi ada promo besar-besaran super duper keren gini, dicuekin.

Padahal promo but one get one free itu hanya sedikit dan bermanfaat buat kita hanya di dunia. Sementara promo besar-besaran dari Allah itu selain jauh lebih banyak jumlahnya, tidak hanya di dunia manfaatnya terasa tapi juga sampai di akhirat kelak. MasyaAllah!

Untunglah promo itu masih terus berlangsung sampai akhir zaman. So, jangan tunda-tunda lagi, yuk berbuat baik untuk siapa saja! Karena semua itu akan kembali kepada kita. Ternyata berbuat baik tidak hanya menguntungkan orang lain yang kita beri kebaikan, melainkan untuk diri kita sendiri dan bahkan berlipat ganda jumlahnya.

Thanks to sahabat jiwa Teh Tia Soenardi untuk remindernya yang jleb banget ini 🙏.

 

#oneweekonepost
#wifiregionbandung
#berbagikebaikan
#enlightenedheart

POSITIVE QUESTIONS

Ketika ada seseorang yang curhat atau melihat seseorang yang dekat dengan kita tidak segera menyelesaikan pekerjaannya, maka biasanya otomatis kita akan bertanya “apa sih kesulitan/kendalanya?” Tentu saja kita bermaksud baik karena siapa tahu bisa membantunya setelah menjawab pertanyaan itu.

Sayangnya kita tidak menyadari pada saat kita memilih kata “kesulitan” atau “kendala” untuk diucapkan maka perasaannya, dan juga kita, cenderung menjadi negatif. Dan mungkin dengan rasa lelah, sedih, nyaris putus asa, jengkel, dan kesal; dia pun kemudian menceritakan “kesulitan-kesulitan”nya itu.

Terbayang pada saat dia bercerita perasaan-perasaan negatif itu semakin kuat menguasai hati. Dan biasanya kemudian dia dan kita jadi terfokus pada “kesulitan-kesulitan itu” bukan kepada solusi.

Saya jadi mengerti kenapa di pelatihan privat coaching dari Kandela Institute yang saya ikuti beberapa hari lalu, pemateri Coach Fauzi Rachmanto mensyaratkan untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan positif kepada coachee. Bagaimana bisa sang coachee menemukan solusinya kalau karena pertanyaan kita, sang coach, dia jadi hanya terfokus pada “kesulitan-kesulitan” yang dihadapi. Padahal seorang coach hanya bertugas membantu sang coachee untuk menemukan dan kemudian menerapkan sendiri solusi dari tantangan-tantangan yang sedang dihadapinya. Bukan memberitahukannya.

Jadi pertanyaan apa dong yang bisa kita lontarkan? Coba kita ajak dia untuk menemukan sebetulnya apa sih yang saat itu ingin dia raih dengan bertanya misalnya “apa sih yang ingin dicapai dalam satu tahun ini?” Maka dia akan terfokus kepada tujuan yang akan diraih tersebut bukan kesulitan-kesulitannya. Suasana hati lebih nyaman karena perasaan-perasaan positiflah yang cenderung muncul di hati.

Lantas selanjutnya apa? Kita bisa melontarkan pertanyaan dengan menggunakan cara scalling: “Jika dilihat dari skala satu sampai sepuluh, dimana sepuluh adalah tujuan tersebut sudah tercapai; maka saat ini anda sudah berada di angka berapa?” Dan dia akan menjawab berdasarkan ukuran tersebut. Sehingga kita tahu bahwa dia sedang menghadapi sesuatu yang cukup menantang ketika dia menyebutkan angka berada di sekitar angka 5 misalnya.

Gimana? Lebih enak kan rasanya? Kenapa coba? Ya betul, karena perasaan-perasaan positiflah yang hadir pada saat itu.

Hal itu juga yang sedang saya ikhtiarkan sekarang ini setiap kali berkomunikasi dengan orang lain. Memang perlu dibiasakan dengan banyak-banyak berlatih. Salah satunya adalah ketika saya diberi kesempatan sharing pengalaman menulis di salah satu kampus di Bandung kemarin.

Saya coba untuk menerapkannya dengan melontarkan positive questions setiap kali bertanya kepada audience. Saya perhatikan wajah-wajah audience terlihat cerah dan cukup bersemangat ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Terima kasih Kak Jee Luvina dan NulisYuk yang sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk berlatih menerapkan positive questions ini. Senang sekali bisa berbagi pengalaman menulis dan bertemu dengan calon-calon penulis hebat yang penuh semangat.
.
.
#coachlife
#positivequestions
#sharingkepenulisan
#STBABandung
#kandelainstitute
#nulisyuk

BAHASA DAN RASA

BAHASA DAN RASA

Dua hari lalu adalah hari yang menyenangkan. Banyak hal yang sebetulnya tidak baru, tapi ternyata ketika mempelajari lebih dalam salah satunya, bisa membuat saya merasa lebih baik. Ya, rasa. Ini memang tentang rasa.

Rasa apa yang ingin selalu kita miliki sebenarnya di dalam hidup ini? Kalau saya rasa tenang, damai, dan tenteram. Nikmat banget jika itu bisa diraih. Tapi apa bisa, sementara di dunia tidak hanya kenyamanan yang menghampiri kita tetapi juga ketidaknyaman?

Konon ada satu hormon yang akan muncul pada saat kita merasa terancam. Karena merasa terancam tubuh kita jadi merasa tertekan. Dan hormon ini memiliki fungsi untuk mengedalikan rasa tertekan atau stres tersebut. Selama kita tidak merasakan stres berlebihan, hormon itu hadir dalam jumlah yang bisa kita terima. Namun di saat stres yang kita rasa meningkat maka hormon ini akan banyak diproduksi tubuh dan bisa mengganggu tubuh kita karena hadir berlebihan. Segala sesuatu yang berlebihan itu memang tidak baik kan? Hormon itu bernama kortisol.

Sementara ada satu hormon lagi yang muncul ketika kita merasakan kasih sayang atau cinta. Pada saat seperti itu biasanya sikap dan perilaku kita kemudian menjadi menyenangkan, penuh perhatian, dan gembira. Hormon inilah yang membantu perasaan-perasaan positif hadir di diri kita. Semakin kita merasakan cinta maka semakin banyak hormon ini dikeluarkan oleh kelenjar pituary kita; dan semakin sering kita bersikap dan berperilaku positif. Hal ini membuat kita semakin sering merasa bahagia atau merasa tenang, damai, dan tentram seperti yang saya inginkan. Hormon ini bernama oksitosin.

Dua hormon itu menjadi pilihan buat kita pada saat kita menjalani hidup. Mau banyak mengeluarkan kortisol atau oksitosin? Kalau saya, sesuai keinginan di awal, tentunya oksitosin. So, saya perlu mencari tahu hal-hal apa saja yang bisa saya lakukan agar hormon ini selalu bahkan semakin banyak hadir di tubuh saya.

Ternyata mudah. Tidak perlu mencari-cari dengan biaya, waktu, dan tenaga yang banyak. Melalui bahasa yang kita ucapkan, kita bisa menghadirkan banyak oksitosin di tubuh kita. Maksudnya?

Begini. Ternyata kata-kata yang kita ucapkan bisa menentukan yang muncul di tubuh kita itu kortisol atau oksitosin. Setiap kali kita mengalami, melihat, atau mendengar sesuatu; ucapkanlah kata-kata positif atau paling tidak netral sesuai dengan kenyataan yang ada.

Misalnya ketika kita menghadapi macet. Apa saja hal positif atau netral yang bisa kita ucapkan? Wah, banyak mobil ya … Atau … Wih, makmur ya orang-orang Indonesia (banyak yang bisa beli mobil dan bensin kan?) …

Coba rasakan bedanya ketika kita mengalami macet dan kata-kata ini yang terucap. Ya macet, bakalan lama nih … Ya udah stuck aja, kapan nyampenya …

Terasa kan? Hati ini mengkerut, murung, dan khawatir ketika mengucapkan kata-kata di alinea kedua? Kortisollah yang diproduksi pada saat itu. Berbeda dengan rasa ketika mengucapkan kata-kata di alinea sebelumnya. Hati tetap terbuka, lebih tenang dan segera menerima kondisi itu dengan santai. Oksitosinlah yang hadir.

Dan itu juga yang terjadi ketika saya mengucapkan “Terus terang saya mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan materi-materi yang diberikan. Tiba-tiba blank ketika harus berhadapan dengan orang yang di coach. Dan saya sulit melakukan aktivitas menulis berbarengan dengan menjadi active listener.” Wajah saya jadi tak bersemangat, pandangan sedih, hati mengkerut, dan tubuh mulai terasa lelah.

Tetapi ketika di akhir sesi saya mengucapkan “Semua menarik dan menantang. Saya ingin bisa seperti yang lain juga yang sudah mampu melakukannya. Jadi saya akan terus rajin berlatih karenanya.” Saya merasakan semangat yang menggelora, hati yang terbuka, dan lelah itu tiba-tiba menghilang. MasyaAllah … Amazing ya …

Alhamdulillah … Thanks to Mba Damayanti AHa dan Kaka Salsabila Athaya Zahra yang sudah menemani dan memacu saya untuk terus maju. Special thanks to my best coach Fauzi Rachmanto untuk ilmu, ajakan, dan idenya. You’re still my love, my best, my pride, always (lebay? Ga apa2. Yang penting oksitosin yg muncul kan? 😄).

#coachlife
#coachingchangeslife
#kandelacoachingtraining
#kandelainstitute
#WiFIregionBandung
#oneweekonepost

 

POHON SIKAP/PERILAKU Part 2

Ketika kita ingin bisa memanen buah sabar, ikhlas, ringan tangan, memaafkan, dan sebagainya; hal pertama yang perlu dilakukan adalah menanam pohon sikap/perilaku itu. Bagaimana cara menanamnya?

Apa yang kita butuhkan ketika kita akan menanam pohon buah-buahan? Tentunya berbagai benih dari pohon tersebut. Benih dari pohon sikap/perilaku adalah berbagai kebenaran dari Alquran yang sudah kita tahu yang bisa memunculkan sikap/perilaku tersebut. Artinya akal kita sudah mau menerima berbagai kebenaran tersebut.

Misalnya, sikap sabar dihasilkan dari kebenaran-kebenaran: (1) ada transfer pahala ketika dizalimi, (2) Allah beserta orang sabar, dan (3) Allah hanya memberi yang kita butuhkan. No 1 sampai 3 adalah benih-benih yang perlu kita tanam agar sikap sabar bisa kita panen (muncul pada saat dibutuhkan).

Cara menanamnya adalah dengan menurunkan kebenaran-kebenaran tersebut dari akal ke hati. Atau saya menyebutnya berproses, melalui perenungan dan merasa-rasakan berbagai peristiwa yang Allah inginkan kita meresponnya dengan sabar, dilihat dari pandangan 3 kebenaran Alquran di atas.

Misalnya ketika dizalimi, segera renungkan melalui 3 kebenaran tersebut. O, saat itu sedang ada transfer pahala untuk kita. O, saat itu Allah sedang memberikan yang kita butuhkan. Dan, ingatlah bahwa Allah akan selalu beserta orang-orang sabar.

Agar pohon yang kita tanam benihnya itu tumbuh dengan subur, kita perlu memupuknya. Sehingga kita bisa memanen buah dengan kualitas yang kita inginkan. Cara memupuknya adalah dengan sering berproses. Karena semakin sering kita melakukan perenungan-perenungan, maka benih-benih itu semakin dalam tertanam di hati kita. Jika benih-benih itu sudah tertanam dengan mendalam di hati, maka buah sabar yang kita inginkan itu akan selalu muncul di saat kita butuhkan.

Masih bingung? Enggak apa-apa. Coba ulangi membacanya beberapa kali atau dm saya kalau ingin mendiskusikannya lebih jauh.

#tafakur
#kemampuankalbu
#dbas
#enlightenedheart
#MTBandung

 

POHON SIKAP/PERILAKU Part 1

Allah menciptakan alam ini tidak sekadar agar alam ini berputar dan berjalan dengan baik dan seimbang. Tetapi ternyata Dia menciptakan berbagai tumbuhan dan binatang juga untuk kita ambil pelajaran darinya.

Contohnya di dalam Alquran beberapa binatang dijadikan contoh untuk diambil pelajaran dari tingkah laku binantang tersebut. Misalnya lebah, binatang ternak, unta, burung gagak, laba-laba, dan semut.

Selain binatang, dari tumbuh-tumbuhan juga kita bisa mengambil pelajaran. Salah satunya adalah dari keberadaan pohon di dunia ini.

Pada saat menanam pohon, tentunya kita mempunyai tujuan. Kalau menanam pohon buah-buahan kita ingin mendapatkan hasil buah-buah tersebut untuk dinikmati dengan cara memakannya. Sementara kalau menanam bunga-bungaan kita ingin mendapatkan hasil bunga-bunga tersebut untuk dinikmati keindahan dan keharumannya.

Tentunya kita menginginkan buah atau bunga yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik. Buahnya terasa manis dan segar, enak dan legit, serta besar-besar. Sementara kalau bunga terlihat berwarna warni, indah dipandang mata, dan harum baunya.

Untuk menghasilkan buah dan bunga seperti itu, pohon tersebut harus memiliki akar yang kuat karena akarlah tempat dimana bahan-bahan dasar penghasil buah dan bunga itu dikumpulkan. Akarlah yang mengambil bahan-bahan itu dari dalam tanah. Semakin kuat dan dalam akar menghunjam tanah, maka semakin banyak dan baik bahan yang didapatkan.

Untuk menghasilkan akar yang kuat, kita perlu memupuk pohon itu. Semakin baik dan rutin kita memberi pupuk maka semakin kuatlah tumbuhnya akar pohon itu.

Pelajaran apa yang bisa diambil dari pohon yang saya ceritakan ini?

Ternyata sikap atau perilaku kita itu sama dengan buah atau bunga yang kita harapkan tumbuh ketika kita menanam pohon tersebut. Sikap atau perilaku apa saja yang ingin kita miliki selama ini? Banyak. Sabar, ikhlas, ringan tangan, selalu tersenyum, memaafkan, berkata-kata yang baik, tidak bergunjing, dan lain-lain.

Nah apa langkah pertama yang harus dilakukan? Yaitu menanam pohonnya. Menanam? Seperti apa menanam pohon sabar, ikhlas, ringan tangan, dan sebagainya itu?

InsyaAllah dilanjut di postingan berikutnya ya 😊

#tafakur
#kemampuankalbu
#dbas
#enlightenedheart
#MTBandung

INSIGHT QURAN DAY 7

PENCERAHAN DARI SI SAKIT

Setiap kali menjenguk mereka yang sakit, kita sering merasa sedih dan khawatir atas sakit yang mereka derita. Apalagi jika yang sakit adalah salah seorang terdekat kita dan sakitnya cukup parah. Ditambah lagi ketika melihat begitu berat dia menerima sakitnya itu.

Saya sedang mengalami hal itu sekarang. Bahkan ketika masih di rumah sedang bersiap-siap untuk menjenguknya, kesedihan itu sudah mulai terasa. Rasa kasihan akan sakit yang diderita seseorang tersayang di sana terbayang-bayang. Hati mulai khawatir dan gelisah dan jika terus diikuti air mata pun ikut turun membanjiri kedua pipi. Hati ini ini mengkerut jadinya. Bahagia menghilang dari sana.

Tiba-tiba saya seperti mendengar suara yang mengingatkan. Hei, bukan itu yang Allah mau. Bukan itu maksud Allah memberikan sajiannya kali ini untukmu. Tapi Dia sedang mengingatkanmu, kalau kamu suatu saat berada dalam posisi si sakit, apa yang akan kamu lakukan? Mengeluh, mengaduh, memprotes, bahkan menjadi sensitif gampang tersinggung dan marah-marah? Atau menerima dengan ikhlas dan sabar menghadapi sakitmu sambil terus berikhtiar dan berdoa serta tetap tenang dan tersenyum kepada siapapun?

Tentunya saya ingin melakukan apa yang Allah mau dan itu adalah pilihan yang kedua. Bukankah sakit adalah salah satu ujian Allah? Dan Allah, saking sayangnya kepada kita, Dia tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan kita, manusia sebagaimana tertulis dalam ayat yang terpilih untuk #insightQuran di Jumat pertama ini, Al-Baqarah ayat 286.

Dan Allah itu Maha Suci, tak mungkin ingkar janji. Jadi setiap Allah memberikan musibah kepada kita, pasti kita mampu menghadapinya.

Tapi … kok ada yang kelihatannya kepayahan dengan cara mengeluh, protes, putus asa, marah, bahkan bunuh diri? Artinya dia tidak mampu kan? Kalau begitu kenapa Allah masih juga memberikan ujian itu kepadanya?

Bukan Allah yang ingkar janji, melainkan dia belum mampu untuk menghadapinya. Karena dia belum atau sangat sedikit mengasah hatinya dimana seharusnya kemampuan itu berada.

Allah memberikan potensi yang sama lho untuk kita, manusia, akal dan hati. Potensi hati inilah kemudian jarang kita sadari yang justru sangat dibutuhkan pada saat ujian-ujian Allah menghampiri kita.

Jadi, jangan lupa untuk mengolah hati, mengisi hati kita dengan Alquran. Agar kita mampu menghadapi semua ujian yang disajikan Allah untuk kita.

#berbagikebaikan
#backtoquran
#albaqarah286
#enlightenedheart

INSIGHT QURAN DAY 6

Sudah berapa kali di hari kemarin kesabaran kita terusik dari sejak kita bangun tidur sebelum subuh?

Di saat membangunkan anak yang sulit dibangunkan. Ketika suami menegur kita dengan suara agak ketus. Sewaktu melihat hasil pekerjaan asisten rumah tangga yang tidak sesuai harapan. Pada saat mendengar kabar bahwa salah seorang tetangga menggunjingkan kita.

Ketika dalam perjalanan kita terjebak macet. Saat sebuah motor menyalip tiba-tiba kendaraan kita. Sewaktu atasan tidak menerima pekerjaan kita. Saat tim kita tidak mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik. Dan … masih banyak lagi.

Apakah semua itu mengusik kesabaran kita? Mungkin ada yang sudah mampu merasa tidak terusik ketika mengalami sebagian dari peristiwa-peristiwa di atas. Atau bisa jadi masih selalu terusik ketika mengalami semua itu.

Padahal kita ingin selalu bahagia. Bagaimana bisa keinginan itu tercapai jika berbagai peristiwa seperti di atas yang mungkin saja setiap harinya kita alami, selalu membuat kesabaran kita terusik? Kita jadi merasa sedih, kecewa, kesal, dan mungkin marah.

Padahal Allah memang akan selalu menguji kita untuk mengetahui kita ini baik atau tidak menurut-Nya, salah satunya melalui ujian kesabaran ini. Tapi Allah juga menjanjikan kebaikan/pahala yang lebih besar dari apa yang sudah diikhtiarkan bagi mereka yang bersabar. Dan yang lebih keren lagi, Allah akan selalu bersama kita jika kita bersabar seperti yang tertulis dalam 3 ayat yang terpilih untuk #insightQuran day 6 ini.

Betapa beruntungnya menjadi orang yang sabar. Siapa yang tidak mau dibersamai Sang Maha Segalanya setiap saat? Saya mau banget.

Sayangnya sabar tidak otomatis kita dapatkan begitu saja. Melainkan melalui proses perenungan yang terus-menerus. Dimana berbagai peristiwa tersebut kita pandang dalam sudut pandang Alquran yaitu sudut pandang yang baik menurut Allah. Atau kalau saya akan bertanya apa sih yang Allah ingin kita lakukan pada saat peristiwa-peristiwa itu terjadi.

Mau mampu bersabar? Sudahkah kita berproses untuk itu?

#tebarkebaikan
#muhammad31
#annahl96
#albaqarah153

INSIGHT QURAN DAY 5

Hari ini seharian saya ga kemana-mana. Allah sedang memberi kesempatan untuk mengistirahatkan raga dan peluruhan dosa, insyaAllah. Betapa baik-Nya! Terima kasih, ya Allah!

Dulu setiap kali kesempatan seperti ini datang, saya banyak ditemani oleh berhamburannya petanyaan-pertanyaan yang mencerminkan keluhan dan protes.

Kenapa kambuh terus? Kok enggak sembuh-sembuh? Padahal sudah menjaga makan, berobat ke dokter dan terapis, minum berbagai macam obat dan suplemen, berolahraga, dan tak lupa berdoa. Tapi masih kambuhan juga. Apa salah saya?

Sehingga saat itu saya merasakan sedih, kecewa, dan kesal. Perasaan yang sama sekali tidak nikmat. Saya dalam kondisi tidak bahagia.

Tetapi ketika saya mampu melihat kebaikan dan keberuntungan di balik sakit yang diderita, maka saya merasakan hal yang sama sekali berbeda. Saya merasa tenang dan tenteram. Saya merasa nikmat karenanya. Saya merasa bahagia.

Ahhh … Bahkan janji Allah di surat pertama yang terpilih untuk #insightQuran day 5 ini, segera saya terima setelah saya melakukan apa yang Allah inginkan. Dan saya rasa-rasakan, semakin banyak hal yang saya syukuri maka rasa nikmat yang dirasakan pun semakin banyak. MasyaAllah …

Ini baru kenikmatan di dunia, bagaimana kenikmatan di akhirat? Tidak ada yang tahu tapi yang pasti jauh lebih nikmat lagi. Seperti yang tertulis di surat pilihan ke dua hari ini.

Mau ditambah kenikmatan oleh Allah? Bersyukurlah terus untuk apapun yang datang kepada kita.

 

#sebarkebaikan
#janjiAllah
#ibrahim7
#assajdah17

Hari ini seharian saya ga kemana-mana. Allah sedang memberi kesempatan untuk mengistirahatkan raga dan peluruhan dosa, insyaAllah. Betapa baik-Nya! Terima kasih, ya Allah!

Dulu setiap kali kesempatan seperti ini datang, saya banyak ditemani oleh berhamburannya petanyaan-pertanyaan yang mencerminkan keluhan dan protes.

Kenapa kambuh terus? Kok enggak sembuh-sembuh? Padahal sudah menjaga makan, berobat ke dokter dan terapis, minum berbagai macam obat dan suplemen, berolahraga, dan tak lupa berdoa. Tapi masih kambuhan juga. Apa salah saya?

Sehingga saat itu saya merasakan sedih, kecewa, dan kesal. Perasaan yang sama sekali tidak nikmat. Saya dalam kondisi tidak bahagia.

Tetapi ketika saya mampu melihat kebaikan dan keberuntungan di balik sakit yang diderita, maka saya merasakan hal yang sama sekali berbeda. Saya merasa tenang dan tenteram. Saya merasa nikmat karenanya. Saya merasa bahagia.

Ahhh … Bahkan janji Allah di surat pertama yang terpilih untuk #insightQuran day 5 ini, segera saya terima setelah saya melakukan apa yang Allah inginkan. Dan saya rasa-rasakan, semakin banyak hal yang saya syukuri maka rasa nikmat yang dirasakan pun semakin banyak. MasyaAllah …

Ini baru kenikmatan di dunia, bagaimana kenikmatan di akhirat? Tidak ada yang tahu tapi yang pasti jauh lebih nikmat lagi. Seperti yang tertulis di surat pilihan ke dua hari ini.

Mau ditambah kenikmatan oleh Allah? Bersyukurlah terus untuk apapun yang datang kepada kita.

#sebarkebaikan
#janjiAllah
#ibrahim7
#assajdah17