MERASAKAN KASIH SAYANG-NYA

Beberapa waktu lalu saya melakukan mom and daughter time. Kami membahas banyak hal. Ada satu yang tak sengaja dibahas dan membuat saya merenung.

Waktu itu saya melontarkan pertanyaan. “Kenapa ya seorang ibu bisa memaafkan ketika si anak berjanji untuk tidak menyakiti lagi hati sang ibu. Padahal sebelumnya si anak sudah melakukan banyak hal yang menyakitkan hatinya. Atau ada seorang suami/istri yang bisa memaafkan dan menerima kembali ketika pasangan hidupnya berjanji untuk setia. Padahal sebelumnya sudah beberapa kali berselingkuh.”

Dan anak gadis saya menjawab. “Mungkin kalau sudah sangat sayang kepada seseorang, satu kebaikan bisa mengalahkan banyak keburukan orang yang kita sayangi itu, Bun.”

Saya setuju. Rasa sayang mendalam dan sudah tertanam di hatilah penyebabnya. Hati memang sangat dahsyat, dialah yang membuat kita berperilaku dan bersikap. Bahkan secara otomatis. Dan belum tentu sesuai dengan apa yang kita pikirkan atau katakan. Karena apa yang kita pikir dan katakan belum tentu sama dengan yang tertanam di hati.

Misalnya ketika kta memikirkan dan mengatakan: saya mau sabar kok menghadapi sakit. Tapi ternyata kemudia kita berkeluh kesah atas sakit itu, artinya sabar belum tertanam di hati.

Entah kenapa, tiba-tiba saya teringat akan Allah dengan kasih sayang-Nya yang katanya sangat mendalam untuk kita, manusia. Kita saja sebagai makhluk jika memiliki rasa kasih sayang mendalam mampu memaafkan dan menerima kembali orang yang sudah banyak menyakiti. Apalagi Allah. Bukankah Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang?

Buktinya, Allah selalu memberi kesempatan bagi kita untuk bertobat. Bahkan dosa sirik yang tidak termaafkan, Allah tetap memberi kesempatan dengan pembayaran pahala yang kita dapatkan. Dan Allah mengganjar kebaikan yang kita lakukan berkali-kali lipat. Sementara keburukan dinilai sesuai dengan keburukan yang kita lakukan. Seperti yang tercantum dalam surat Al An’am ayat 160.

Masyaa Allah … Betapa Maha Baik Allah. Ah… semestinya sudah tak ada lagi kekhawatiran di hati. Tak mungkin Dia menyengsarakan kita.

Terima kasih Kakak Salsabilz sayang telah mengajak Bunda mengisi hati dengan kebaikan 😘❤️. I love you so much 😍❤️

#selfreminder

#insightQuran

#kasihsayangAllah

#enlightenedheart

#IndonesiaMenulis

BERKATA-KATA BAIK ATAU DIAM

Pagi ini saya membaca reminder yang jleb banget dari seorang teman di FB. Dia mengutip perkataan salah satu Imam di Islam:

“Barangsiapa yang ingin hatinya terbuka dan disinari oleh Allah maka hendaklah ia meninggalkan perkataan yang tidak bermanfaat…” (Imam Syafi’i)

Saya jadi teringat, beberapa waktu lalu, saya membaca postingan seorang teman yang lewat di timeline medsos. Dia menuliskan permintaan maaf kepada siapa saja yang sudah merasa tidak nyaman dengan berbagai postingan dan komennya. Tulisan yang bagus bukan? Meminta maaf.

Namun itu baru di awal, postingan dilanjutkan dengan cerita bahwa dia merasa heran dan kesal ada orang yang tersinggung dan protes atas postingan dan komen yang dia buat. Padahal dia merasa isi postingan dan komen itu baik-baik saja dan tidak bermaksud menyinggung siapa pun. Dan kemudian berdatanganlah komen-komen yang isinya mendukung apa yang dia tuliskan si akhir tulisannya itu. Membuat tulisan itu terasa “tidak bagus” lagi karena menyiratkan perasaan negatif; sebal, kesal, dan gelisah.

Saya segera teringat dengan apa yang sudah saya tuliskan di medsos selama ini. Dan… ternyata saya juga terkadang masih melakukan hal sama. Memang saya sudah berusaha untuk tidak melakukannya di postingan-postingan medsos. Mudah-mudahan saja memang sudah tidak. Tapi komen? Ternyata masih 😔.

Memang saya tetap berusaha untuk menuliskan komen yang tidak membuat orang lain tersinggung. Tapi itu kan menurut saya. Bagaimana dengan menurut orang lain yang membacanya? Itu yang terjadi dengan teman saya kan? Dan bisa saja terjadi pada saya. Sebal, kesal, dan gelisah bisa saya alami. Bagaimana bisa bahagia?

Padahal Allah sudah mengingatkan di surat Al-Isra’ ayat 53.

Pantas saja Rasulullah meminta kita untuk diam jika tak mampu berkata-kata yang baik.

“Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Astaghfirullah… ampuni saya yang sedang khilaf ini ya, Allah 🙏😔.

Barakallah… Terima kasih Bu Pepi Mudiana untuk remindernya 🙏.

#selfreminder

#insightQuran

#berkatakatabaikataudiam

#tafakur

#enlightenedheart

LIFE IS SHORT, STAY AWAKE FOR IT…

Sore yang sejuk dan basah setelah hujan reda. Saya sedang ngopi dengan suami dan anak ketika melihat tulisan yang saya jadikan judul di atas.

Tulisan keren. Begitu pikir saya saat itu. Dan ternyata suami berpendapat sama. Terlihat dari perilakunya yang meminta difoto oleh anak gadis kami dengan latar tulisan itu.

Siapa yang menolak pernyataan di tulisan itu? Kalaupun ada sepertinya sangat sedikit. Bagi saya, hidup yang sebentar itu memang sudah terasa. Masih terkenang ketika anak-anak masih balita. Dengan semua tingkah laku yang lucu, sangat indah untuk dikenang. Kami akan tertawa bersama jika mengingat-ingat hal itu.

Tapi… MasyaAllah! Mereka sekarang sudah besar-besar. Waktu lebih dari 10 tahun begitu cepat berlalu. Perhatian kami yang dulu kepada tingkah laku mereka yang lucu menggemaskan sekarang kadang masih membuat khawatir walaupun lebih sering menyenangkan.

Sebentarnya kesempatan hidup berarti juga hidupnya ini hanyalah sementara. Ada kehidupan lain setelahnya yang kekal sehingga jauh lebih penting bagi kita. Tentunya kita inginkan bahagia di kehidupan yang kekal itu.

Membuat hati segera mengiyakan pernyataan selanjutnya. Bahwa jangan sampai terlena oleh mimpi gemerlapnya dunia. Sehingga kita  semakin tertidur pulas tanpa sadar ketika terbangun nanti waktu untuk ikhtiar mencapai bahagia hakiki sudah tak ada.

Padahal Allah sudah memberitahukan kita salah satunya dalam surat Al-An’am ayat 32 sebagai surat terpilih dalam #insightQuran minggu ini. Bahwa dunia ini hanyalah senda gurau dan main-main belaka. Kehidupan sesungguhnya adalah di akhirat kelak yang ditentukan oleh perilaku kita di dunia saat ini. 

Jadi benarlah adanya tulisan di atas. Selama hidupnya di dunia yang sementara dan sebentar ini, kita harus tetap terjaga, menjauh dari tidur lelap dengan mimpi gemerlap. Beriktiarlah terus untuk menjadi orang bertakwa, yang selalu selaras dengan-Nya.

MasyaAllah… Tulisan itu jadi terlihat semakin keren…

#duniasementaraakhiratselamanya

#enlightenedheart

#oneweekonepost

#wifiregionbandung

KETIKA ALLAH MEMBERIKAN KESEMPATAN

Beberapa waktu lalu, sesama teman yang tinggal di Bandung, bercerita. Dia rutin dikunjungi kerabat jauh dari Kota Tasikmalaya. Seorang perempuan berumur sekitar 60 tahunan. Beliau datang dengan salah seorang cucunya menggunakan transportasi umum.

Kalau saja beliau sehat, tentu tidak menjadi masalah melakukan perjalanan cukup jauh dengan kendaraan umum dan hanya ditemani seorang cucu berusia 12 tahunan. Namun beliau pernah menderita stroke. Jalannya tidak normal lagi dan jari-jari tangannya yang sebelah kiri kaku sulit digerakkan.

Biasanya beliau datang di pertengahan bulan. Beliau mengunjungi rumah orangtua teman saya terlebih dahulu. Baru setelah itu mengunjungi rumah teman saya tersebut sambil berlanjut pulang kembali ke Kota Tasik.

Teman saya tidak bisa melarang beliau untuk datang. Keinginan beliau yang tinggi membuatnya selalu mampu untuk melakukan perjalanan Tasik-Bandung bolak-balik dalam satu hari.

Teman saya bilang, dulu setiap kali beliau datang, selalu merasa terganggu. Dia  merasa kerabatnya itu membebani keluarganya. Memang kebiasaan ini sudah terjadi berpuluh tahun lamanya. Sejak beliau masih relatif muda, masih sehat. Beliau sering berkeluh-kesah dengan segala permasalahan hidupnya. Termasuk masalah ekonomi.

Sudah sering orangtua teman saya membantu beliau terutama dalam masalah ekonomi tersebut. Termasuk memberi beberapa kali modal untuk berbisnis kecil-kecilan, namun tidak pernah berhasil. Selalu saja modal itu habis karena kebutuhan lain yang lebih mendesak.

Sang suami dari kerabat teman saya itu sudah lama tidak mau bekerja lagi setelah mengalami kebangkrutan karena ditipu orang. Dengan 4 orang anak, tentu saja hidupnya semakin sulit secara ekonomi karena tidak ada penopang keluarga. Dialah yang kemudian turun tangan. Hingga sekarang, dalam kondisi kesehatan yang kurang baik pun beliau meminta bantuan kepada keluarga teman saya itu hampir setiap bulannya.

Namun sekarang, teman saya itu merasakan hal yang berbeda. Dia bersyukur Allah sudah mengirimkan beliau kepadanya. Bahkan kadang jika telat datang, teman saya selalu menunggu-nunggu. Serasa ada yang kurang, katanya, dan merasa rugi.

Kenapa begitu ya?

Karena teman saya sekarang sudah menyadari. Kedatangan beliau adalah kesempatan yang Allah berikan untuk menambah bekal di akhirat kelak yang nilainya berlipat ganda. Yaitu kesempatan untuk bersedekah. Seperti yang tercantum di surat Al-Baqarah ayat 261 yang menjadi pilihan untuk #insightQuran kali ini.

Apalagi di bulan Ramadan seperti saat ini. Pemberian kepada beliau menjadi sangat berharga. Karena Rasulullah SAW lebih bersemangat dan rajin bersedekah di bulan Ramadan.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar bersedekah. Semangat beliau dalam bersedekah lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307)

Kadang kita lupa bahwa ketidaknyamanan yang datang kepada kita adalah kesempatan dari Allah untuk mendapatkan keuntungan. Hati kita masih sering tertutup untuk melihat hal seperti ini. Karenanya kita perlu terus berikhtiar. Berproses agar hati kita terbuka dan mampu dengan mudah mengenali kebaikan-kebaikan Allah yang terbungkus ketidaknyamanan.

#enlightenedheart

#ketikaAllahmemberikesempatan

#oneweekonepost

#wifiregionbandung

KETIKA ALLAH MENGGERAKKAN HATI

Hari ini saya terbangun kurang bersemangat. Sejak kemarin saya diberikan kesempatan tidak berpuasa karena pencernaan kurang mendukung.

Saya semakin tak bersemangat ketika teringat hari ini ada jadwal silaturahmi dengan teman-teman komunitas yang sudah ditunggu-tunggu. Tetapi saya ragu bisa hadir atau tidak di silaturahmi itu. Badan terasa belum fit.

Saat hati sedang tak bersahabat itu, tiba-tiba terbaca postingan teman di salah satu grup WA. Hanya karena dia menggunakan kata “assalamu’alaikum” dan saya merasa berkewajiban untuk membalas salamnya. Dia membutuhkan bantuan berupa buku-buku untuk aktivitas sosial KKN anaknya di pelosok Kalimantan.

Tiba-tiba saya juga teringat satu keinginan yang belum terlaksana. Menyumbangkan majalah-majalah yang sekarang menumpuk tak termanfaatkan di atas rak. Ada seorang teman yang bersedia dan dengan senang hati mau menerima untuk aktivitas sosialnya.

Entah kenapa hati yang murung jadi bersemangat lagi. Jadilah pagi ini saya, dibantu asisten RT, menyiapkan beberapa buku dan banyak majalah untuk kemudian kami packing. Dan betapa leganya hati ketika adzan dzuhur berkumandang, semua sudah rapih siap dikirimkan besok atau lusa karena hari ini libur.

Sambil memandang tumpukan dus yang tertumpuk rapih, rasa syukur menyelinap di hati. Sakit yang Allah berikan telah menggerakkan saya kepada aktivitas berbagi yang insyaAllah disukai-Nya. Jika saya sehat tentu aktivitas ini tidak terlaksana. Saya akan asyik dengan silaturahmi.

Bukan berarti silaturahmi lebih jelek. Allah sangat suka jika kita bersilaturahmi. Tapi, apakah kita mampu menghalau godaan bergunjing, riya’, dengki yang mungkin saja datang pada saat bersilaturahmi? Mungkin Allah sedang menyelamatkan saya dari godaan-godaan itu. MasyaAllah…

Jadi benar adanya apa yang Allah ucapkan dalam surat Al-Baqarah ayat 216. Apapun yang Dia berikan adalah yang terbaik untuk kita.

Alhamdulillah… ❤

#insightQuran
#AllahMahaBaik
#oneweekonepost
#wifiregionbandung
#enlightenedheart

YANG SANGAT BERHARGA

Berapa banyak kita sudah membaca surat Al-Ashr di rakaat-rakaat salat? Tidak terhitung kalau buat saya. Tapi pernahkah pada saat kita membacanya sadar bahwa surat itu mengingatkan kepada anugerah Allah yang sangat berharga?

Memang tentang apa ya? Kok sangat berharga?

Ya betul. Tentang waktu. Kesempatan kita di hidup di dunia ini. Hidup di dunia ini bukan hanya untuk bersenang-senang belaka. Melainkan menjadi ajang perjuangan untuk menentukan tempat kita di akhirat kelak. Yang menentukan apakah kita akan merasa sangat bahagia atau sebaliknya, sangat sengsara.

Coba rasakan sepenuh hati ketika membacanya. Rasakan betapa sedikit waktu yang kita miliki. Betapa kita bisa sangat merugi. Ketika kita mengabaikan keinginan Allah.

Mau merugi? Mau sangat sengsara? Mau ke neraka-Nya? Kalau saya gak mau.

Untunglah melalui surat yang sama Allah menyampaikan juga kesempatan bagi kita untuk meraih surga-Nya. Yaitu jika kita taat kepada-Nya.

Betapa baiknya Allah. Dia mengingatkan kita sekaligus memberikan solusinya.

Dan bagaimana dengan kita? Sudahkan kita berikhtiar menuju taat kepada-Nya? Atau hanya sekadar keinginan saja?

Semoga untuk selanjutnya, kita tidak hanya sekadar membaca surat Al-Ikhlas (dan surat-surat lainnya) dalam salat kita. Melainkan kita resapi benar sehingga membawa kita semakin taat kepada-Nya.

#insightQuran

#waktu

#yangsangatberharga

#selfreminder

#enlightenedheart

MENERIMA

Beberapa waktu lalu, ada seorang teman yang bertanya. Gimana sih caranya supaya kita gak galau ketika sakit datang? Gimana sih supaya bisa tetap bahagia ketika sakit menghampiri?

Dulu, saya juga begitu. Ketika sakit datang, langsung Sang Galau menghampiri. Rasanya sedih dan kecewa karena harus grounded di rumah. Banyak hal yang terpaksa batal dilakukan. Kalaupun bisa, semua dilakukan tidak maksimal. Dan tentu saja badan rasanya gak karuan. Segera saja, saya mulai mengeluh  akan sakit itu.

Ketika merasakan kegalauan, kemudian tercermin dalam keluhan-keluhan; artinya kita belum menerima dengan sepenuh hati apa yang sedang terjadi. Termasuk pada saat sakit.

Kalau saja kita mau menerima dengan sepenuh hati, tentunya kegalauan tak kan datang. Dan bahagia tetap kita rasakan.

“Kalau sakitnya ringan dan hanya sebentar saja sih, bisa lah menerima. Tapi kalau sakitnya parah dan lama. Atau membaik tapi tidak tuntas, jadi kambuuuhh melulu. Padahal ikhtiar untuk sembuh sudah dilakukan, sampai bosan. Lama-lama kesal juga deh…”

So, intinya kita perlu “belajar” untuk menerima. Siapa yang belajar? Hati. Karena yang merasakan sedih, kecewa, kesal, dan galau kan hati.

“Okayyy, tapi… gimana caranya?”

Coba deh, pada saat kita mendapatkan apa yang kita sangat kita inginkan, seperti apa rasanya? Lega, tenang, senang dan gembira kan?

Apakah kita sangat menginginkan surga? Apakah kita sangat menginginkan bahagia tidak hanya di dunia tapi di akhirat kelak?

Kalau iya, rasakan sepenuh hati bagaimana saat kita sudah berada di sana. Hirup dan nikmati udara kebahagiaan di dalamnya. Tak ada sama sekali kegalauan dan kesengsaraan yang menimpa.

Sudah? Nah, maukah hal itu kita rasakan selalu?

“Memang bisa?”

Bisa. Taati Allah. Karena hanya Allah yang tahu bagaimana semua rasa itu bisa kita dapatkan. Dan Allah hanya inginkan kita merasakan itu saja, saking sayangnya Dia kepada kita. Tak mungkin Allah memberikan sesuatu yang membuat kita sengsara. Pasti ada “keuntungan” bagi kita di belakangnya. Termasuk sakit.

Salah satu taat itu adalah menerima dengan sepenuh hati (ikhlas) pada saat kita sakit. Dan bukankah Allah juga sudah berjanji, bahwa sakit itu adalah penggugur dosa? Inilah “keuntungan” di belakang peristiwa sakit. Siapa yang tak mau dosa-dosanya diampuni? Gak ada deh kayaknya. Bukankah kita sering berdoa agar dosa-dosa diampuni? Allah juga Maha Suci, tak mungkin ingkar janji. Semua itu pasti akan terjadi.

Lantas apakah ganjarannya kalau kita taat atau dengan kata lain bertakwa? Ya surga-Nya seperti yang tertulis dalam surat pilihan #insightQuran kali ini, surat Maryam ayat 63.

Jadi ketika sakit, biasanya saya bilang: “Silakan Allah, saya terima sakit ini sepenuh hati. Yang penting saya bisa selalu taat pada-Mu.” Dan… nyeeessss… hati ini jadi tenang rasanya.

Gak percaya? Coba aja!

#selfreminder

#sakit

#taat

#enlightenedheart

SURGA

SURGA

Siapa sih yang tak inginkan surga? Sepertinya hampir semua orang inginkan itu. Hal ini tercermin dari seringnya kita berdoa “robbanaa aatinaa fii dunya hasanah, wa fil aakhiroti hasanah waqinaa adzaabannaar”.

Tapi sadarkah kita bahwa surga itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang beriman dan beramal saleh saja? Atau dengan kata lain mereka yang taat kepada Allah saja. Termasuk pada saat kita mengalami ketidaknyamanan. Ini sudah menjadi janji Allah yang tercantum di ayat terpilih #insightQuran Jumat ini, surat An-Nisaa’ ayat 122.

Beberapa waktu lalu ada teman yang curhat. Dia merasa berat dalam menjalani hidup ini. Berbagai ketidaknyamanan tak henti mendatanginya.

Rupanya dia lupa bahwa saat ini sedang berada di dunia. Dunia tempatnya kita diuji melalui berbagai ketidaknyamanan.

Tapi sesungguhnya, ketidaknyamanan itu untuk kebaikan kita. Melalui ketidaknyamanan itulah kita jadi tidak terlena.

Coba saja perhatikan, pada saat kapan kita banyak berdoa dan mengingat Allah. Apakah ketika sedang mengalami ketidaknyamanan atau kenyamanan? Bahkanpada saat kita mengeluh kepada Allah, itu artinya kita sedang mengingat-Nya

Dengan banyak berdoa dan mengingat Allah memperbesar jalan kita untuk taat. Yang artinya memperbesar kita untuk mencapai surga-Nya.

Kalau begitu semestinya kita bersyukur dengan ketidaknyamanan yang dialami. Karena saat itu Allah sedang membuka jalan kita untuk taat.

Tinggal kitanya saja yang memilih menjadi taat dengan bersabar, ikhlas, dan berserah diri; atau sebaliknya. Semua ada di tangan kita. Jika memilih untuk taat maka surga yang diinginkan akan dapat kita raih, sesuai dengan janji Allah.

#surga

#taat

#janjiAllah

#enlightenedheart

PENTINGKAH MEMILIKI TUJUAN HIDUP? Part 2

Beberapa kali saya bertemu dengan teman yang curhat dengan ketidakpuasan hidupnya. Terutama dengan perasaannya ketika berada di tempat kerja atau bisnis.

Ketika saya bertanya kenapa tetap bertahan bekerja di tempat itu atau berbisnis di bidang itu? Banyak alasan dikemukakan. Butuh dan kalau berhenti gak tau dapat kerja lagi atau bisa berbisnis lagi. Tidak diijinkan berhenti oleh atasan atau pasangan. Sayang, masuknya atau mengawalinya penuh perjuangan. Dan sebagainya.

Well, hidup adalah pilihan untuk melakukan berbagai aktivitas. Seperti yang sudah dibahas di part 1, ketika kita akan melakukan sesuatu semestinya kita sudah yakin bahwa pilihan itu sesuai atau bisa mendekatkan kita kepada tujuan hidup.

Ketika kita menyadari bahwa aktivitas itu mendekatkan kepada tujuan hidup, maka kita tidak akan mengeluh. Kita malah akan semakin semangat. Apapun yang orang lain lakukan kepada kita tidak menjadi masalah.

Kalau masih merasa kecewa, kesal, dan marah; bisa jadi apa yang kita lakukan tidak mendukung kepada pencapaian tujuan hidup. Atau barangkali tujuan hidup yang dipilih tidak sejalan dengan tujuan penciptaan kita.

Kalau begitu tujuan hidup mana yang sejalan dengan itu?

Jawabannya sudah tersedia dengan jelas dan sering kita ucapkan dalam doa yang tertulis di surat pilihan untuk #insightQuran kali ini. Yaitu surat Al-Baqarah ayat 201.

Begitu kita yakin dengan tujuan hidup itu, semua pilihan akan jatuh kepada hal yang mendukung terwujudnya hal tersebut. Dan kita tak akan mengeluh dengan apapun yang terjadi. Karena yakin tujuan hidup akan tercapai dengan pilihan tersebut.

#tujuanhidup

#dbas

#hidupadalahpilihan

#enlightenedheart

MAKNA KEHILANGAN

Pernahkah merasa kehilangan? sepertinya semua orang pernah. Mulai dari kehilangan benda atau hal yang tidak terlalu berarti sampai yang begitu penting dalam hidup kita. Mulai dari kehilangan ballpoin, buku, ikat rambut, peniti; sampai kehilangan kendaraan, uang dalam jumlah besar, dan orang terdekat yang kita sayangi.

Perasaan yang kita alami biasanya tergantung dari seberapa banyak dan pentingnya hal atau benda yang hilang tersebut. Jika hal atau benda yang hilang tidak terlalu berarti, maka hanya merasakan sedikit sedih yang tidak lama. Tetapi jika yang hilang adalah hal atau benda yang cukup penting, kita pun merasakan kesedihan mendalam dan lama. Termasuk ketika mengalami kehilangan orang terdekat yang kita sayangi karena kematian misalnya.

Tapi apakah itu yang Allah inginkan ketika kita kehilangan orang terdekat karena kematian? Apakah itu yang jiwa inginkan? Tidak. Karena jiwa dan juga Allah inginkan kita selalu bahagia. Bukan bahagia namanya jika mengalami kesedihan mendalam dan lama.

Tapi kenapa ya, perasaan itu tetap ada? Bagaimana cara menghalaunya? Bagaimana supaya bisa selalu bahagia?

Kita perlu hati yang mampu untuk menghalaunya. Hati yang mampu melihat makna dibalik peristiwa kehilangan itu. Hati yang tidak terjebak dalam fakta. Karena fakta sering menipu. Justru sesungguhnya yang tidak terlihat dibalik fakta itulah yang lebih penting. Yang bisa membuat kita selalu bahagia.

Sadarilah bahwa kehilangan orang terdekat karena kematian adalah cara Allah menyayangi kita. Itu adalah salah satu kebaikan yang Allah berikan. Saat itu Allah sedang mengingatkan, bahwa suatu saat giliran kitalah yang menghadapi kematian. Mengingatkan sudah sejauhmana persiapan kita menghadapinya.

Bukankah kematian pasti akan mendatangi kita? Seperti yang tertulis dalam dua surat terpilih untuk #insightQuran  kali ini, Al-Baqarah: 185 dan Al-Anbiya: 27.

Pasti kita semua inginkan husnul khotimah. Dan husnul khotimah hanya bisa diraih jika hati telah memiliki kemampuan untuk terus mengingat Allah di saat kematian itu tiba.

Jika pada saat sakit biasa saja kita sulit untuk khusyu mengingat Allah, bagaimana bisa mengingat-Nya pada saat kematian datang yang sakitnya luar biasa. Jadi mampukanlah hati  untuk itu. Teruslah berproses untuk mendapatkan kemampuan tersebut.

#backtoquran

#oneweekonepost

#wifiregionbandung

#enlightenedheart