MENTORING

Beberapa tahun lalu ketika masih aktif di bisnis fashion, saya pernah mengikuti beberapa kali mentoring. Saya mengikuti mentoring ini dalam rangka meningkatkan performa bisnis.

Saya beruntung diberi kesempatan mengikuti program tersebut yang diadakan oleh sebuah komunitas bisnis cukup besar kala itu, dengan biaya yang sangat terjangkau.

Saat program mentoring ini berlangsung, saya dibimbing oleh seorang mentor yang sudah memiliki pengetahuan dan pengalaman jauh lebih baik dalam berbisnis fashion. Di setiap sesi mentoring, dia mendengarkan tantangan-tantangan yang sedang saya hadapi dan kemajuan-kemajuan yang saya dapatkan setelah menerapkan hasil mentoring tersebut.

Dia kemudian memberikan ide dan saran untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Tidak lupa memberikan semangat dengan menceritakan pengalamannya atau orang lain berbisnis ketika menghadapi tantangan yang sama.

Sang mentor juga membuat semacam “kurikulum” untuk program mentoring itu lengkap dengan peer yang harus para mentee kerjakan. Program mentoring berlangsung selama 3 bulan dan setiap bulannya terdiri dari 2 sesi tatap muka.

Bagaimana dengan hasilnya? Alhamdulillah setelah program tersebut, bisnis fashion saya meningkat performanya. Sementara beberapa mentee lain ada yang merasa tidak mengalami peningkatan tapi ada juga yang meningkat dengan pesat. Banyak hal yang bisa mempengaruhi termasuk kemampunan mentor dalam membimbing dan keseriusan dari sang mentee.

Sekarangpun saya sedang mengikuti program mentoring untuk menulis. Pelaksanaannya hampir sama seperti mentoring yang saya ikuti ketika berbisnis fashion dulu. Hanya saja kali ini saya mengikutinya via online bukan tatap muka langsung.

Sebelumnya saya juga sempat mengikuti beberapa kali program mentoring menulis online. Seru juga dan buat saya sangat membantu untuk meningkatkan kemampuan menulis serta mempercepat selesainya naskah buku. Semoga untuk program mentoring menulis yang sedang diikuti sekarang bisa memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan program-program mentoring sebelumnya.

#kandelainstitute
#coachlife
#mentoring
#bisnis
#menulis
#peningkatanperforma

KETIKA KITA BERSEDEKAH

Siapa yang tidak tahu sedekah itu sangat disukai Allah. Salah satu ayat yang menjadi pilihan #insightQuran kali ini, surat Al-Baqarah ayat 261, menyiratkan hal tersebut. Jika ingin menambah perbekalan untuk di kehidupan selanjutnya, kita bisa menggunakan cara ini.

Atau barangkali kita sudah sering melakukan karena menyadari itu bisa menyelamatkan kita nanti. Alhamdulillah jika iya.

Tapi pernahkan mengalami hal seperti ini? Kita merasa kesal karena berulang kali ada seseorang yang datang meminta bantuan kepada kita, saat dia sedang kesulitan. Di awal kita dengan ikhlas membantunya dengan meniatkan sedekah. Tapi ketika hal itu terus rutin berlangsung, kita jadi curiga dan bersuudzon dia keenakan dan tidak mau berusaha untuk menyelesaikan masalahnya secara mandiri. Dia jadi tergantung kepada kita.

Kita tetap memberinya sedekah seperti biasa ketika dia datang lagi menemui. Tapi kali ini dia juga mendapatkan “nasihat” yang cukup keras dari kita. Dia pun berterima kasih dan pergi seperti biasanya.

Tapi sadarkah kita, sedekah yang kita berikan menjadi sia-sia ketika dia merasa tersakiti karena “nasihat” kita. Seperti yang tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat 264. Lebih baik kita tidak memberinya sedekah dengan meminta maaf dan perkataan yang baik. Seperti yang tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat 263.

Betapa baiknya Allah selalu memberikan pilihan bagi kita. Sekarang tinggal memilih mana yang membuat Allah suka dan kitapun tidak merugi.

#insightQuran
#enlightenedheart
#bersedekah
#backtoQuran
#jumatbarokah

 

DIBALIK KEINDAHAN SILATURAHMI

Siapa yang tidak suka bertemu dan melepaskan kangen dengan kerabat atau teman lama yang sudah lama tidak bertemu? Sebagian besar dari kita pasti menyukainya. Saya juga. Selain karena pasti seru bertemu lagi dengan mereka, Allah juga sangat suka jika kita menjaga tali silaturahmi dengan siapa saja.

Hal ini tertulis dalam salah satu yang menjadi pilihan di #insightQuran Jumat ini, yaitu surat An-Nisa’ ayat 1. Dan betapa Allah terlihat sangat tidak suka kepada siapa saja yang memutuskan tali silaturahmi yang tertulis dalam ayat pilihan lain yaitu Al-Baqarah ayat 27.

Jadi ketika ada kesempatan untuk bersilaturahmi apakah itu reuni, kumpul keluarga, arisan, atau janjian bertemu; manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya.

Namun jangan sampai apa yang Allah sangat sukai itu menjadi sebaliknya. Dan kemungkinan itu terbuka lebar ketika godaan bergunjing menghampiri kita.

Bergunjing adalah salah satu perilaku yang tidak disukai Allah. Hal ini tertulis dalam surat terakhir Jumat ini yaitu surat Al-Hujurat ayat 12.

“Iya ya, saya sering tergoda dan akhirnya bergunjing juga. Padahal saya sudah tahu dan sudah mempersiapkan juga untuk tidak bergunjing. Gimana dong?”

Memang kadang tanpa sadar kita terbawa untuk bergunjing. Yang artinya kita masih belum meyakini tentang ketidakbaikan bergunjing ini. Sehingga masih dikalahkan oleh ego atau nafsu buruk kita yang ingin merasakan senang dan nikmatnya bergunjing.

Kita masih perlu banyak mengajak hati belajar, merenung, dan merasa-rasakan. Sehingga kita yakin tentang buruknya bergunjing dan otomatis kita tidak terbawa ketika ada godaan bergunjing.

#enlightenedheart
#backtoquran
#oneweekonepost
#wifiregionbandung

DIARY JIWA (Review Buku)

Kehidupan dunia yang penuh dengan ujian, sering disikapi tidak semestinya. Ini menyebabkan banyak dari kita merasa memiliki banyak masalah, sehingga stres melanda, yang berujung kepada ketidaktenangan jiwa atau tidak bahagia. Padahal saya percaya semua inginkan sebaliknya, yaitu jiwa yang tenang atau bahagia.

Buku ini bisa membantu kita untuk mewujudkannya. Diawali dengan ajakan mengenali diri. Siapakah sesungguhnya diri ini? Apakah dia yang kita lihat pada saat kita bercermin ataukah yang lain? Dan jawabannya sangat penting karena dialah nanti yang menentukan perilaku kita, menentukan bahagia atau tidaknya kita tidak hanya sekarang tetapi juga kelak di alam selanjutnya.

Dengan cara yang mengasyikkan, sang penulis membawa kita untuk mengungkap cara selanjutnya. Maka dikenalkanlah kita dengan memaafkan dan bersyukur. Diingatkanlah bahwa kita butuh memiliki jiwa yang sabar dan kuat. Disadarkanlah kita bahwa semua itu merupakan jalan untuk merasakan ketenangan atau bahagia.

Membacanya memang mengasyikkan. Dengan gaya bercerita yang sering diakhiri kalimat tanya, serasa mengajak berdialog dan dengan mudah kita terhanyut di dalamnya. Didukung dengan quote-quote yang pas terutama quote ini, jleb rasanya: “Lihatlah langit, luaaasss nan indah, seperti kasih sayang Allah. Tidak berujung dan tidak akan pernah habis. Masihkah kita mengabaikannya?”

Kita juga diajak mempraktekkan langsung berbagai cara itu dengan diberikan ruang khusus untuk menuliskan apa yang dirasa. Dengan terapi menulis ini, kita diberi kesempatan untuk segera merasakan ketenangan jiwa berbarengan dengan selesainya buku ini dibaca.

Dan yang terpenting, begitu terasa dilibatkannya Sang Pemilik Jiwa, dalam setiap ajakannya. Membuat kita semakin merasa bahwa hidup ini ternyata tidak seburuk dan seberat yang kita sangka, karena ada Dia yang selalu siap membantu kita.

Terima kasih Kak Jee, sudah mengajak saya mengarungi kedalaman jiwa yang membuat semakin yakin bahwa betapa pentingnya kemampuan jiwa agar ketenangan atau kebahagian hakiki dapat tercapai.

@penerbitmizan
@pastelbooks.id
@nulisyuk
#reviewbuku
#diaryjiwa
#ceritabuku
#nulisyuk

HANYA MENYAMPAIKAN

Masihkah kita memaksakan kehendak kita kepada anak-anak kita? Atau pasangan kita? Atau mereka yang secara hierarkis ada di bawah kita?

Apakah kalau anak-anak susah disuruh salat, kita masih ngomel sambil mengancam mereka? Apakah kalau pasangan masih malas bersedekah, kita masih menegur dengan keras. Apakah kalau bawahan kita masih suka bergunjing, kita menyindir yang menyakitkan hatinya?

Padahal Allah saja tidak pernah memaksa kita untuk mentaati-Nya. Siapa yang mau beriman silakan beriman, siapa yang mau kafir silakan kafir. Itu tercermin dalam ayat yang menjadi pilihan untuk #insightQuran kali ini, surat Al-Kahfi ayat 29.

Lantas apakah kita diam saja kalau ada ketidakbenaran di depan kita? Tentu saja tidak. Kita diminta untuk mengingatkan mereka, kita diminta untuk menyampaikan kebenaran walaupun hanya satu ayat saja yang kita ketahui. Seperti menurut hadis ini.

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari).

Namun sebelumnya kita ber-tabayyun dulu. Tanyakan kenapa mereka melakukan itu. Karena siapa tahu mereka punya dasar yang kuat juga yaitu Al-Quran atau hadis, yang kita tidak mengetahuinya.

Ketika itu terjadi, maka apa yang mereka lakukan benar adanya. Tidak perlu diperdebatkan lagi. Yang penting apa yang mereka lakukan tidak melanggar Al-Quran dan Hadis.

Jika apa yang mereka lakukan tidak sesuai Al-Quran dan hadis barulah kita peringatkan baik-baik. Kita sampaikan kebenaran sesuai Al-Quran dan hadis. Kalau mereka masih tidak mengubah prilakunya, ya sudah biarkan saja. Karena semua ada pertanggungjawaban kelak. Apa yang mereka lakukan akan mereka pertanggungjawabkan kelak oleh mereka sendiri.

Tapi kan mereka anak-anak dan pasangan saya, yang saya sayangi. Saya tidak mau nanti mereka menderita di akhirat kelak. Gimana dong?

Ajaklah mereka untuk belajar hati, yaitu mengisi hati mereka dengan kebaikan-kebaikan atau kebenaran-kebenaran Al-Quran dan hadis. Begitu hati mereka dipenuhi itu, tanpa kita suruh, tanpa diingatkan, dengan sendirinya mereka akan melakukan apa yang Allah inginkan itu.

#enlightenedheart
#berbagikebaikan
#hanyamenyampaikan
#alkahfi29
#oneweekonepost
#wifiregionbandung

PENTINGKAH MEMILIKI TUJUAN HIDUP?

Suatu pagi kita pergi ke pasar tanpa tahu apa yang akan dimasak hari itu. Apa yang kemudian biasanya kita lakukan? Kalau saya biasanya kemudian kebingungan akan membeli apa, sehingga membutuhkan waktu cukup lama. Tak jarang badan jadi terasa capek karena keliling-keliling di sana.

Begitu sampai di rumah kadang saya baru menyadari ada bahan atau bumbu yang diperlukan tidak terbeli. Tapi lebih sering lagi menemukan bahan atau bumbu yang tidak dibutuhkan ada di dalam plastik belanjaan yang saya bawa.

Tapi berbeda ketika saya berbelanja di pasar dan sudah tahu akan memasak apa hari itu. Saya bisa segera menuju los yang biasa menjual bahan dan bumbu yang dibutuhkan. Waktu yang dibutuhkan jadi jauh lebih singkat. Saya juga merasa tidak capek karena tenaga yang digunakan lebih sedikit.

Sesampainya di rumah tak lagi kebingungan karena semua bahan dan bumbu lengkap tersedia. Dan tentunya juga lebih hemat karena tidak membeli bahan atau bumbu yang tidak dibutuhkan.

Begitulah jika sudah tahu TUJUAN ke pasar, kita jadi EFISIEN. Semua aktivitas di pasar kita lakukan tanpa banyak membuang waktu, tenaga, dan dana.

Ternyata hal ini tidak hanya berlaku untuk kegiatan kita ke pasar saja. Kegiatan apapun itu jika dimulai dengan TUJUAN maka kegiatan itu akan kita lakukan lebih baik. Bahkan makan, tidur, dan berolahraga pun misalnya, akan terlaksana lebih baik jika di awal kita sudah tahu apa TUJUAN-nya.

Apa tujuan kita makan, tidur, dan berolahraga? Jika tujuannya adalah untuk sehat, maka saya akan melakukan kegiatan-kegiatan tersebut langsung dengan memilih makanan sehat, jam tidur yang disarankan, dan serius dalam berolahraga. Saya tidak bingung memilih makanan yang akan dimakan, tidak bingung menentukan jam tidur, tidak main-main dalam berolahraga.

Jadi memang betul ya, setiap kegiatan itu ternyata paling baik jika dimulai dengan TUJUAN. Sekarang kita jadi tahu bahwa setiap akan melakukan sesuatu tanya dulu ke dalam diri kita apa TUJUAN-nya. Ketika kita sudah menemukannya, InsyaAllah kita akan lebih baik atau EFISIEN dalam melakukannya.

Referensi:
Materi ke 1 Tafakur Mutiara Tauhid (Bandung).

#selfreminder
#tujuanhidup
#tafakurmutiaratauhid
#dbas
#enlightenedheart

STEP BY STEP

Siapa yang suka membuat kue atau camilan? Dulu, saya kurang suka memasak termasuk membuat kue atau camilan. Lebih suka beli jadi. Lebih praktis, enggak capek, dan kemungkinan rasa enaknya lebih besar dibandingkan buatan sendiri 😁.

Tapi sejak menerapkan pola makan tertentu, saya tidak bisa lagi membeli makanan terutama kue dan camilan sembarangan. Memang sih, sudah mulai ada yang menjual makanan sesuai pola makan saya, tapi lokasinya jauh di luar kota.

Suatu saat pernah saya mencoba memesan setelah memastikan makanan yang dipesan sampai di rumah masih aman dimakan dan tidak hancur. Tapi karena salah memberikan instruksi kepada bedinde, paket makanan itu datang ketika rumah kosong. Bagus sih kurir jasa pengiriman berinisiatif menitipkan paket tersebut kepada satpam. Sayangnya satpam lupa menyampaikan ke rumah di hari yang sama. Alhasil makanan diterima keesokan harinya dalam kondisi yang sudah tidak layak makan.

Jadilah saya mencoba membuat camilan sendiri. Bukan yang rumit, melainkan sederhana saja cara membuatnya dengan bahan-bahan yang cukup mudah didapatkan juga. Tapi dalam membuatnya tetap saja harus step by step, sesuai yang tercantum di resepnya. Pernah tidak sengaja ada satu langkah semestinya dilakukan di awal, karena lupa akhirnya dilakukan di akhir menjelang adonan dibakar. Kue yang dihasilkan ternyata kurang memuaskan. Bentuknya kurang oke dan rasanya agak berbeda dari kue dengan cara buat sesuai resepnya.

Hal yang sama terjadi dalam coaching. Coaching juga memiliki “resep” agar hasilnya sesuai yang diharapkan. Dalam resep tentunya ada cara membuat makanan/minuman tersebut. Nah “cara membuat” untuk coaching terdiri dari 3 fase yang perlu dilakukan secara berurutan.

Fase pertama adalah opening. Aktivitas di fase ini adalah membangun rapport atau kedekatan dengan coachee. Masih ingat kan postingan saya beberapa hari lalu tentang hal ini? Ternyata penting ya membangun kedekatan dengan coachee. Kenapa? Silakan cek lagi di postingan sebelumnya yang berjudul “Membangun Rapport”. Atau boleh juga klik link ini: http://lenypuspadewi.com/2018/03/06/membangun-rapport/.

Fase selanjutnya adalah “Sampaikan dan Dengarkan” yang merupakan fase inti dari caching. Di fase ini kita menggali coachee dengan mengajukan powerful questions. Wah, apalagi nih? Apa bedanya dengan Positive Questions yang kemarin sempat diposting? Tenang … insyaAllah saya jelaskan di postingan berikutnya ya. So tetap intip sekali-sekali ke sini.

Di fase inti ini juga kita menjadi pendengar yang aktif atau active listener. Seperti apa aktivitas active listening ini, juga insyaAllah akan saya sampaikan di postingan selanjutnya. Jadi emang perlu ya, intip-intip ke sini lagi. Hehe …

Fase terakhir adalah closing. Di fase ini kita sebagai coach meminta coachee menyimpulkan apa yang didapatkan dan dirasakan selama proses coaching berlangsung. Dan jangan lupa diakhiri dengan ucapan terima kasih dan bagaimana keberlanjutan coaching sebagai salam perpisahan untuk sesi coaching tersebut.

Fase-fase coaching di atas seperti juga cara membuat suatu masakan, dilakukan step by step dan berurutan. Itu kalau kita ingin proses coaching berjalan baik dan hasilnya sesuai yang diharapkan.

Ya … tapi kan belum tahu apa itu powerful questions dan active listening …

Makanya intip terus di sini ya untuk dua hal itu, insyaAllah segera tayang 😄.

#coachlife
#kandelaprivatecoachestraining
#kandelainstitute
#coachchangeslife
#fasefasecoaching

“BERBISNIS” DENGAN-NYA

Beberapa waktu lalu saya terpaku dengan postingan salah seorang sahabat jiwa yang mampir di timeline FB saya yang isinya kira-kira seperti ini: Sudah pernah menemukan belum promo big sale buy one get 10, atau super-super big sale buy one get 700? Berbisnis dengan siapa bisa begini? Kalau ada, mau gak?

MasyaAllah! Seperti ada yang menampar pipi ini. Apalagi ketika komen saya dibalasnya kira-kira seperti ini: Padahal kalau ada promo buy one get one free aja di mal-mal atau supermarket, yang artinya cuma dapat 2, dikejar-kejar. Semakin keras tamparannya terasa. Begitu tertamparnya saya sehingga saya memutuskan untuk memilih surat Al-An’am ayat 160 untuk #insightQuran di Jumat ini.

Dan ayat terpilih ini diperkuat juga oleh satu hadis di bawah ini:

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Jika hamba-Ku bertekad melakukan kejelekan, janganlah dicatat hingga ia melakukannya. Jika ia melakukan kejelekan tersebut, maka catatlah satu kejelekan yang semisal. Jika ia meninggalkan kejelekan tersebut karena-Ku, maka catatlah satu kebaikan untuknya. Jika ia bertekad melakukan satu kebaikan, maka catatlah untuknya satu kebaikan. Jika ia melakukan kebaikan tersebut, maka catatlah baginya sepuluh kebaikan yang semisal hingga 700 kali lipat.” (HR. Bukhari no. 7062 dan Muslim no. 129).

Kita (atau saya mungkin ya, yang lain mah enggak 😔) sering lupa atau mungkin hati ini belum mampu untuk “melihat dengan jelas” promo spektakuler itu. Saya pun sering membiarkan kesempatan berharga itu berlalu begitu saja. Duh! Bangun Leny! Katanya ingin DBAS (Dunia Bahagia Akhirat Surga), tapi ada promo besar-besaran super duper keren gini, dicuekin.

Padahal promo but one get one free itu hanya sedikit dan bermanfaat buat kita hanya di dunia. Sementara promo besar-besaran dari Allah itu selain jauh lebih banyak jumlahnya, tidak hanya di dunia manfaatnya terasa tapi juga sampai di akhirat kelak. MasyaAllah!

Untunglah promo itu masih terus berlangsung sampai akhir zaman. So, jangan tunda-tunda lagi, yuk berbuat baik untuk siapa saja! Karena semua itu akan kembali kepada kita. Ternyata berbuat baik tidak hanya menguntungkan orang lain yang kita beri kebaikan, melainkan untuk diri kita sendiri dan bahkan berlipat ganda jumlahnya.

Thanks to sahabat jiwa Teh Tia Soenardi untuk remindernya yang jleb banget ini 🙏.

 

#oneweekonepost
#wifiregionbandung
#berbagikebaikan
#enlightenedheart

MEMBANGUN RAPPORT

Suatu ketika saya datang sendirian untuk menjadi peserta workshop. Sampai di sana ternyata tidak ada satu orang pesertapun yang dikenal. Namanya workshop tentu saja banyak praktek yang dilakukan peserta. Dan praktek-praktek itu dilakukan bersama-sama secara berkelompok. Karena itu saya harus bisa bekerjasama dengan beberapa orang tidak dikenal dalam satu kelompok ketika workshop itu berjalan.

Dengan kondisi tidak saling mengenal satu sama lain antar anggota kelompok, muncul rasa sungkan dan kurang nyaman di hati ini pada saat berhadapan dengan teman-teman satu kelompok. Untunglah hal pertama yang pemateri workshop berikan kepada kami, para peserta, adalah kesempatan berkenalan dengan teman-teman satu kelompok. Kemudian saya jadi tahu kenapa penting hal itu dilakukan.

Setelah berkenalan satu sama lain, rasa sungkan dan tidak nyaman itu jauh berkurang. Bahkan jika kita cukup pintar dalam berkomunikasi, maka kedekatanlah yang semakin terasa. Hilang sudah rasa sungkan dan tidak nyaman itu. Dan ternyata hal itu sangat menguntungkan kami. Praktek-praktek atau tugas-tugas bersama dalam kelompok tersebut bisa dikerjakan dengan baik, serta masing-masing peserta jadi bisa mengerti dengan baik materi yang disampaikan.

Hal yang sama saya alami juga pada saat praktek di sesi pertama Kandela Private Coaches Training minggu lalu. Bahkan saya mengalami hal yang tidak disangka-sangka sebelumnya. Walaupun saya sudah mengenal dengan baik sang coachee, ternyata tidak menjamin bisa dengan mudah mendapatkan kedekatan sesungguhnya.

Hal itu terlihat langsung ketika dia menolak untuk menjawab pertanyaan pertama yang ditugaskan pada sesi praktek coaching tersebut. Saya sempat kebingungan ketika itu terjadi. Untunglah pemateri mengarahkan saya untuk menerima penolakan itu dan mengajukan pertanyaan yang lebih sederhana dan dirasakan lebih mudah diterima oleh coachee.

Menarik ya? Saya perlu cari tahu agar mampu membangun rapport atau kedekatan dengan coachee sehingga hal di atas tidak terjadi lagi. Alhamdulillah tidak perlu menunggu lama untuk itu, di akhir sesi ketika melakukan evaluasi, saya mendapatkan jawabannya.

Sedikitnya ada 3 hal yang perlu saya perhatikan dan perbaiki agar kedekatan dengan coachee terbangun baik. Pertama, menghilangkan rasa superior jika coachee adalah orang yang secara hirarkis di bawah kita, seperti yang dialami saya kemarin ketika praktek dan dipertemukan dengan anak sulungku. Atau sebaliknya menghilangkan rasa inferior jika coachee adalah orang yang secara hirarkis di atas kita.

Kemudian menggunakan tone suara best friend sehingga membuat coachee merasa diperlakukan ramah dan menyenangkan. Suasana kaku di awal akan terasa semakin cair jika coachee merasa nyaman bersama kita.

Dan terakhir adalah tidak terburu-buru masuk ke fase selanjutnya dalam coaching setelah fase opening ini. Ya, fase membangun kedekatan ini adalah fase pertama atau opening dalam suatu coaching. Fase yang penting untuk keberlajutan yang baik dan hasil memuaskan bagi suatu sesi coaching. Sehingga lakukan dengan sabar dan pastikan coachee kita sudah merasa nyaman dan percaya kepada kita sebelum berpindah ke fase selanjutnya.

Ah senangnya! Baiklah. Jika begitu saya akan pelajari lebih dalam lagi dan memperbaiki ketiga hal di atas pada saat praktek coaching nanti. Terima kasih my best coach Fauzi yang sudah memberikan insight-insightnya yang sangat membantu.

“Wait! Memang ada berapa fase yang perlu kita lalui dalam sebuah sesi coaching itu? Dan apa saja sih?”

Next time insyaAllah saya cerita tentang itu. Okay!

“Satu lagi! Seperti apa sih tone suara best friend itu dan ada berapa tone suara yang biasanya bermanfaat jika kita sedang melakukan coaching?”

Nah … kalau yang ini akan lebih jelas dan asyik jika mendengar langsung dari pakarnya. Dm saya kalau belum tau siapa orangnya. Okay!

#coachlife
#kandelaprivatecoachestraining
#kandelainstitute
#coachchangeslife
#membangunrapport

KALA CINTA MENYAPA (Review Buku)

Ini adalah #ceritabuku kedua hari ini. Berbeda dalam pemilihan kata, penyajian, dan target pembaca; tapi ternyata tetap memiliki persamaan. Persamaannya adalah nuansa islami yang kental terasa sejak membaca cover bukunya.

Cinta adalah kata yang segera menarik perhatian ketika muncul dalam suatu tulisan, khususnya bagi kalangan anak muda. Kata ini mengajak yang membaca melayangkan imajinasinya tentang berbagai rasa yang pernah, sedang, dan diharapkan hadir ketika kata itu datang menyapa.

Tapi berbeda ketika membaca kata itu di buku ini. Kata yang menjadi bagian judul tidak membuat imajinasi melayang tak karuan tetapi segera diarahkan kepada sesuatu yang membuat hati ini terpaku dan ingin segera membaca isinya melalui kalimat ini: “Kau selalu tanyakan cintamu padanya, lalu apa kabar cintamu kepada-Nya”. Ya, karena sebagian besar dari kita lupa akan cinta kepada Allah ketika sapaan cinta kepada manusia menghampiri.

Berbagai tulisan yang mengupas makna cinta penulis disajikan dengan apik dengan pengayaan kisah-kisah islami dari beberapa Nabi termasuk Rasulullah SAW dan para sahabat. Adem rasanya membaca semua itu.

Saya jadi teringat dengan buku solo pertama saya yang berjuduk Menjemput Jodoh Impian. Ada kesamaan dalam isi yang disampaikan. Bahwa ketika kita berniat untuk memilih pasangan hidup yang diimpikan jadikanlah diri ini baik sesuai yang Allah inginkan.

Terima kasih Mas Arika sudah mengajak saya mengarungi makna cinta yang luas dan berharga juga insight penyajian tulisan yang berbeda. Tetaplah dalam mencinta-Nya agar ridho-Nya selalu menemani dalam menjalani kehidupan ini.

Kepo ingin baca tapi belum punya bukunya? Komen aja insyaAllah sy kasih kontak penulisnya 😊.
.
.
#reviewbuku
#tentangcinta
#cintaAllah
#membacaitumenenangkan