SHINE ON PRODUKTIF MENULIS BATCH 2

Sejak awal memutuskan untuk merambah dunia tulis-menulis, saya ingin berbagi kebaikan. Saya ikhtiar mewujudkannya sendirian. Tadinya saya tidak perduli jika kebaikan itu hanya dibaca oleh sedikit orang. Tapi lama kelamaan saya ingin hal itu terbagi ke lebih banyak orang. Saya menyadari tak mungkin sendirian lagi. Waktu yang saya miliki terbatas dengan berbagai aktivitas lainnya.

Ketika @kandelainstitute memutuskan untuk membekukan sementara progran Shine On berbagi kebaikan di bulan Ramadan; saya tiba-tiba terpikirkan untuk melanjutkan program tersebut. Hanya saja kali ini dikhususkan untuk berbagi kebaikan melalui tulisan. Kemudian terlaksanalah program Shine On Ramadan Produktif dengan enam orang penulis Bandung menjadi partisipannya, tujuh dengan saya sendiri.

Alhamdulillah, Shine On Ramadan Produktif berjalan cukup lancar walaupun masih bolong sana sini. Tapi paling tidak menghasilkan satu pemenang yang ternyata mampu mencapai target 100%. Masyaa Allah. Barakallah Teh @alavyashofa.

Setelah terjadi pembicaraan dengan beberapa partisipan, akhirnya saya dengan dukungan mereka memutuskan untuk melanjutkan program Shine On. Karena bukan di bulan Ramadan maka taglinenya pun berganti menjadi Shine On Produktif Menulis batch 2.

Dan… senang sekali kemarin pertemuan tatap muka pertama sudah berlangsung dengan lancar, rame, walaupun masih belum yakin apakan target akan tercapai atau tidak. Tenang Teteh-teteh salihah, setiap bunga akan berkembang pada waktunya 😄.

Lupakan target, fokuslah pada ikhtiar melaksanakan RA-nya. Karena yang menentukan tercapai atau tidaknya target hanya Allah. Tugas kita hanyalah ikhtiar mencapainya. Saat itulah Allah menilai kita, apakah kita lulus ujian kehidupan atau tidak.

Siap Teteh-teteh salihah?

Terima kasih untuk dukungan penuh Teteh-teteh mentor @rina.ratnaningsih @ihsaniawati_rosadi @alavyashofa @nidathifah

Dan selamat bergabung buat Teteh-teteh partisipan baru di batch 2 @dianyunipratiwi @fatimah_razianarazak @hajahsofya Teh Mega Teh Wida Mbak @sukmadewimega Mbak Danik

Kita berjuang bersama yaaa… Mudah-mudahan Allah rida dan berkah. Aamiin 🙏

Semangaaaattt 💪🔥😘

Bismillah… ❤

Terima kasih untuk @coffeetoffeebdg yang sudah memfasikitasi.

#shineonbatch2
#produktifmenulis
#kandelainstitute
#berbagikebaikan
#enlightenedheart

SHINE ON: Ungkapan Syukur Di Bulan Ramadan

Di saat Ramadan datang, rasa syukur begitu membludak memunculkan keharuan di hati. Namun syukur tidak cukup hanya diucap dan dirasakan saja. Kita sudah benar-benar bersyukur jika mampu memanfaatkan Ramadan sebaik-baiknya.

Kenapa begitu? Karena Ramadan adalah bulan istimewa. Seperti yang tercantum dalam beberapa hadis di bawah ini:

“Jika tiba bulan Ramadhan, maka dibuka pintu-pintu syurga dan ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu semua syaitan.”HR. Bukhari dan Muslim)

“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (ridha Allah), maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhari)

“Sesungguhnya di surga ada pintu yang dinamakan Ar Rayyan, yang akan dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat nanti, dan tidak ada yang memasuki melaluinya kecuali mereka. Dikatakan: “Mana orang-orang yang berpuasa? Maka mereka berdiri, dan tidak ada yang memasukinya seorang pun kecuali mereka. Jika mereka sudah masuk, maka pintu itu ditutup, dan tidak ada lagi seorang pun yang masuk melaluinya.” (HR. Bukhari, Muslim, At Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Berpuasa menjadi ibadah utama di bulan Ramadan. Sebagaimana yang tercantum dalam ayat pilihan #insightQuran kali ini surat Al-Baqarah ayat 183. Dan saya percaya kita sudah mengikhtiarkan itu sebaik-baiknya sebagai ungkapan rasa syukur.

Namun tidak hanya berpuasa; salah satu ungkapan syukur lain adalah lebih banyak bersedekah. Hal ini juga dicontohkan oleh Rasulullah SAW melalui hadisnya di bawah ini:

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu nahuma, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan dalam kebaikan. Dan beliau lebih dermawan lagi ketika di bulan Ramadhan pada saat Jibril menemuinya. Maka pada saat Jibril menemuinya, ketika itulah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan dalam kebaikan dari pada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ternyata sedekah tidak hanya berbentuk materi, seperti yang tercantum dalam 2 hadis di bawah ini:

Rasulullah SAW bersabda: “Setiap anggota badan manusia diwajibkan bersedekah setiap harinya selama matahari masih terbit; kamu mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah; kamu menolong seseorang naik ke atas kendaraannya adalah sedekah atau mengangkat barang bawaannya ke atas kendaraannya adalah sedekah; setiap langkah kakimu ke tempat salat juga dihitung sedekah; dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Setiap muslim harus bersedekah.” Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana pendapatmu wahai Rasulullah, jika ia tidak mendapatkan (harta yang dapat disedekahkan)?” Rasulullah SAW bersabda, “Bekerja dengan tangannya sendiri kemudian ia memanfaatkannya untuk dirinya dan bersedekah.” Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana jika ia tidak mampu, wahai Rasulullah SAW?” Beliau bersabda, “Menolong orang yang membutuhkan lagi teraniaya.” Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana jika ia tidak mampu, wahai Rasulullah SAW?” Beliau menjawab, “ Mengajak kepada yang ma’ruf atau kebaikan.” Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana jika ia tidak mampu, wahai Rasulullah SAW?” Beliau menjawab, “Menahan diri dari perbuatan buruk, itu merupakan sedekah.” (HR. Muslim)

Untuk itulah di bulan Ramadan ini saya mengajak beberapa teman bersedekah melalui tulisan di Proyek SHINE ON Ramadan Produktif.

Dimulai dari menemukan VALUES yang gue banget, menentukan STRONG WHY menulis, menetapkan GOALS menulis di Bulan Ramadan, mencari CARA mencapai dan penjaminnya, membuat RENCANA AKSI, PEMANTAUAN pelaksanaan, sampai EVALUASI hasilnya setelah lebaran nanti. Melalui tehnik COACHING, saya bantu teman-teman melakukan itu semua.

Semangat ya Teteh-teteh salihah Syarah Khaerunnisa Rina Ratnaningsih Ihsaniawati Rosadi Shofa Nida Isny dan Mas Adit.    Semoga apa yang kita lakukan di Proyek SHINE ON ini diridainya dan berkah. Aamiin 🙏.

#shineonramadanproduktif

#sedekahramadan

#berbagikebaikan

#enlightenedheart

#kandelainstitute

SALAH SATU HASIL MENULIS BUKU

MasyaAllah 😍. Alhamdulillah 🙏.

Nikmat, haru, dan syukur bersatu ketika membaca tulisan ini. Begini rupanya ketika salah satu tujuan menulis tercapai, lebih indah daripada ketika membayangkan ya dulu. Ketika hati butuh tambahan semangat untuk mendapatkan STRONG WHYnya.

Terima kasih Mbak Triana 🙏😘. Menambah semangat untuk terus berkarya melalui buku, yang memang sekarang ini sedang dibutuhkan. Yaitu menyelesaikan naskah buku solo ke 4. Pengalaman pertama menulis naskah novel memang sesuatu. Sangat menggebu namun kadang masih sering termangu untuk mulai menuangkan ide di Bab yang baru. But I love the process ❤.


So, teman-teman salihah dan saleh Syarah, Shofa, Ihsan, Nida, Isny, Rina, dan Mas Adit di Proyek SHINE-ON Ramadan Produktif, ayo semangat menulis untuk selesaikan naskah bukunya yaaa… 💪🔥😍


#bersyukur
#testimonibukuLeny
#thejourneyofempoweredmoms
#shineonramadanproduktif
#enlightenedheart
#kandelainstitute

COACHING

Dulu saya pikir antara coaching dan mentoring itu sama saja. Ternyata tidak. Coaching dan mentoring adalah proses yang berbeda. Ini saya sadari ketika saya diberi kesempatan pertama kali untuk menjadi notulis dalam satu sesi coaching.

Coaching kali itu dilaksanakan di sebuah cafe yang tidak terlalu ramai jadi cukup nyaman untuk melakukan aktivitas coaching. Ketika coachee datang, kami, terutama sang coach menyambutnya dengan ramah. Kemudian terjadi percakapan informal antara coach dengan coachee yang membuat suasana nyaman bagi keduanya untuk bercakap-cakap.

Ternyata saat itu proses coaching sudah dimulai, dimana sang coach membangun kedekatan dengan coachee agar coachee nyaman dan percaya kepada sang coach. Hal ini membuat proses selanjutnya menjadi lebih mudah dan lancar. Coachee menjadi terbuka dan mau diajak berkomunikasi oleh sang coach.

Yang menarik adalah selama proses coaching, sang coach hanya memberikan pertanyaan-pertanyaan dan menkonfirmasikan kembali jawaban-jawaban dari coachee. Tidak pernah sekalipun coach memberikan ide, saran, ataupun bercerita tentang pengalamannya. Rupanya itulah cara coach menggali pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan terbaik dari coachee.

Dengan cara tersebut ternyata coachee mampu mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang apa yang ingin di capai, kenapa hal itu penting, dan bagaimana cara mencapainya. Lho kok tentang apa yang ingin dicapai? Bukannya seseorang ingin di-coaching dalam rangka menemukan solusi untuk permasalah yang dihadapinya?

Itu pula hal baru yang saya temui saat itu. Ternyata untuk mendapatkan solusi tidak selalu dimulai dari membicarakan permasalahan yang dihadapi. Kita bisa memulainya dengan menemukan apa yang ingin dicapai.

Dan saya lihat cara ini jauh lebih efektif, karena keduanya tidak akan terjebak dalam membicarakan permasalahan yang berlarut-larut dan membuat hati menciut. Dengan membicarakan hal yang ingin dicapai hati menjadi terbuka lebar dan bersemangat. Percakapanpun cepat bergulir karena coachee bersemangat untuk mendapatkan cara mencapainya.

Di akhir sesi coaching, ketika coachee ditanya apa saja yang didapat selama proses coaching selama 1,5 jam itu; dia menjawab dengan antusias dan terlihat puas. Bahwa dia mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan dia bersemangat untuk melakukan berbagai hal yang bisa membuatnya meraih apa yang ingin dicapai, yang dia temukan pada saat sesi coaching.

Dia merasa takjub dan semakin bersemangat ketika kita bilang bahwa semua itu ditemukan sendiri olehnya. Coach hanya membantu dengan cara bertanya saja.

Mau merasakan hal yang sama dengan coachee itu? Kebetulan saat ini saya sedang menawarkan 1 sesi free coaching (30 menit) untuk 3 orang saja. Anda boleh memilih tema tentang menulis atau bekerja untuk sesi coaching kali ini.

Tapi sayangnya sesi free coaching ini hanya bisa dilakukan di Kota Bandung, itupun terbatas di Bandung bagian Utara atau Barat. Untuk Anda yang berdomisili di luar Bandung, boleh-boleh saja mengajukan diri. Namun jika terpilih, pada saat sesi coaching nanti silakan luangkan waktu untuk berkunjung ke Bandung.

Silakan email saya jika berminat ya.

#coachlife
#coaching
#berfokuskepadatujuan
#oneweekonepost
#wifiregionbandung
#freecoaching

MENTORING

Beberapa tahun lalu ketika masih aktif di bisnis fashion, saya pernah mengikuti beberapa kali mentoring. Saya mengikuti mentoring ini dalam rangka meningkatkan performa bisnis.

Saya beruntung diberi kesempatan mengikuti program tersebut yang diadakan oleh sebuah komunitas bisnis cukup besar kala itu, dengan biaya yang sangat terjangkau.

Saat program mentoring ini berlangsung, saya dibimbing oleh seorang mentor yang sudah memiliki pengetahuan dan pengalaman jauh lebih baik dalam berbisnis fashion. Di setiap sesi mentoring, dia mendengarkan tantangan-tantangan yang sedang saya hadapi dan kemajuan-kemajuan yang saya dapatkan setelah menerapkan hasil mentoring tersebut.

Dia kemudian memberikan ide dan saran untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Tidak lupa memberikan semangat dengan menceritakan pengalamannya atau orang lain berbisnis ketika menghadapi tantangan yang sama.

Sang mentor juga membuat semacam “kurikulum” untuk program mentoring itu lengkap dengan peer yang harus para mentee kerjakan. Program mentoring berlangsung selama 3 bulan dan setiap bulannya terdiri dari 2 sesi tatap muka.

Bagaimana dengan hasilnya? Alhamdulillah setelah program tersebut, bisnis fashion saya meningkat performanya. Sementara beberapa mentee lain ada yang merasa tidak mengalami peningkatan tapi ada juga yang meningkat dengan pesat. Banyak hal yang bisa mempengaruhi termasuk kemampunan mentor dalam membimbing dan keseriusan dari sang mentee.

Sekarangpun saya sedang mengikuti program mentoring untuk menulis. Pelaksanaannya hampir sama seperti mentoring yang saya ikuti ketika berbisnis fashion dulu. Hanya saja kali ini saya mengikutinya via online bukan tatap muka langsung.

Sebelumnya saya juga sempat mengikuti beberapa kali program mentoring menulis online. Seru juga dan buat saya sangat membantu untuk meningkatkan kemampuan menulis serta mempercepat selesainya naskah buku. Semoga untuk program mentoring menulis yang sedang diikuti sekarang bisa memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan program-program mentoring sebelumnya.

#kandelainstitute
#coachlife
#mentoring
#bisnis
#menulis
#peningkatanperforma

STEP BY STEP

Siapa yang suka membuat kue atau camilan? Dulu, saya kurang suka memasak termasuk membuat kue atau camilan. Lebih suka beli jadi. Lebih praktis, enggak capek, dan kemungkinan rasa enaknya lebih besar dibandingkan buatan sendiri 😁.

Tapi sejak menerapkan pola makan tertentu, saya tidak bisa lagi membeli makanan terutama kue dan camilan sembarangan. Memang sih, sudah mulai ada yang menjual makanan sesuai pola makan saya, tapi lokasinya jauh di luar kota.

Suatu saat pernah saya mencoba memesan setelah memastikan makanan yang dipesan sampai di rumah masih aman dimakan dan tidak hancur. Tapi karena salah memberikan instruksi kepada bedinde, paket makanan itu datang ketika rumah kosong. Bagus sih kurir jasa pengiriman berinisiatif menitipkan paket tersebut kepada satpam. Sayangnya satpam lupa menyampaikan ke rumah di hari yang sama. Alhasil makanan diterima keesokan harinya dalam kondisi yang sudah tidak layak makan.

Jadilah saya mencoba membuat camilan sendiri. Bukan yang rumit, melainkan sederhana saja cara membuatnya dengan bahan-bahan yang cukup mudah didapatkan juga. Tapi dalam membuatnya tetap saja harus step by step, sesuai yang tercantum di resepnya. Pernah tidak sengaja ada satu langkah semestinya dilakukan di awal, karena lupa akhirnya dilakukan di akhir menjelang adonan dibakar. Kue yang dihasilkan ternyata kurang memuaskan. Bentuknya kurang oke dan rasanya agak berbeda dari kue dengan cara buat sesuai resepnya.

Hal yang sama terjadi dalam coaching. Coaching juga memiliki “resep” agar hasilnya sesuai yang diharapkan. Dalam resep tentunya ada cara membuat makanan/minuman tersebut. Nah “cara membuat” untuk coaching terdiri dari 3 fase yang perlu dilakukan secara berurutan.

Fase pertama adalah opening. Aktivitas di fase ini adalah membangun rapport atau kedekatan dengan coachee. Masih ingat kan postingan saya beberapa hari lalu tentang hal ini? Ternyata penting ya membangun kedekatan dengan coachee. Kenapa? Silakan cek lagi di postingan sebelumnya yang berjudul “Membangun Rapport”. Atau boleh juga klik link ini: http://lenypuspadewi.com/2018/03/06/membangun-rapport/.

Fase selanjutnya adalah “Sampaikan dan Dengarkan” yang merupakan fase inti dari caching. Di fase ini kita menggali coachee dengan mengajukan powerful questions. Wah, apalagi nih? Apa bedanya dengan Positive Questions yang kemarin sempat diposting? Tenang … insyaAllah saya jelaskan di postingan berikutnya ya. So tetap intip sekali-sekali ke sini.

Di fase inti ini juga kita menjadi pendengar yang aktif atau active listener. Seperti apa aktivitas active listening ini, juga insyaAllah akan saya sampaikan di postingan selanjutnya. Jadi emang perlu ya, intip-intip ke sini lagi. Hehe …

Fase terakhir adalah closing. Di fase ini kita sebagai coach meminta coachee menyimpulkan apa yang didapatkan dan dirasakan selama proses coaching berlangsung. Dan jangan lupa diakhiri dengan ucapan terima kasih dan bagaimana keberlanjutan coaching sebagai salam perpisahan untuk sesi coaching tersebut.

Fase-fase coaching di atas seperti juga cara membuat suatu masakan, dilakukan step by step dan berurutan. Itu kalau kita ingin proses coaching berjalan baik dan hasilnya sesuai yang diharapkan.

Ya … tapi kan belum tahu apa itu powerful questions dan active listening …

Makanya intip terus di sini ya untuk dua hal itu, insyaAllah segera tayang 😄.

#coachlife
#kandelaprivatecoachestraining
#kandelainstitute
#coachchangeslife
#fasefasecoaching

MEMBANGUN RAPPORT

Suatu ketika saya datang sendirian untuk menjadi peserta workshop. Sampai di sana ternyata tidak ada satu orang pesertapun yang dikenal. Namanya workshop tentu saja banyak praktek yang dilakukan peserta. Dan praktek-praktek itu dilakukan bersama-sama secara berkelompok. Karena itu saya harus bisa bekerjasama dengan beberapa orang tidak dikenal dalam satu kelompok ketika workshop itu berjalan.

Dengan kondisi tidak saling mengenal satu sama lain antar anggota kelompok, muncul rasa sungkan dan kurang nyaman di hati ini pada saat berhadapan dengan teman-teman satu kelompok. Untunglah hal pertama yang pemateri workshop berikan kepada kami, para peserta, adalah kesempatan berkenalan dengan teman-teman satu kelompok. Kemudian saya jadi tahu kenapa penting hal itu dilakukan.

Setelah berkenalan satu sama lain, rasa sungkan dan tidak nyaman itu jauh berkurang. Bahkan jika kita cukup pintar dalam berkomunikasi, maka kedekatanlah yang semakin terasa. Hilang sudah rasa sungkan dan tidak nyaman itu. Dan ternyata hal itu sangat menguntungkan kami. Praktek-praktek atau tugas-tugas bersama dalam kelompok tersebut bisa dikerjakan dengan baik, serta masing-masing peserta jadi bisa mengerti dengan baik materi yang disampaikan.

Hal yang sama saya alami juga pada saat praktek di sesi pertama Kandela Private Coaches Training minggu lalu. Bahkan saya mengalami hal yang tidak disangka-sangka sebelumnya. Walaupun saya sudah mengenal dengan baik sang coachee, ternyata tidak menjamin bisa dengan mudah mendapatkan kedekatan sesungguhnya.

Hal itu terlihat langsung ketika dia menolak untuk menjawab pertanyaan pertama yang ditugaskan pada sesi praktek coaching tersebut. Saya sempat kebingungan ketika itu terjadi. Untunglah pemateri mengarahkan saya untuk menerima penolakan itu dan mengajukan pertanyaan yang lebih sederhana dan dirasakan lebih mudah diterima oleh coachee.

Menarik ya? Saya perlu cari tahu agar mampu membangun rapport atau kedekatan dengan coachee sehingga hal di atas tidak terjadi lagi. Alhamdulillah tidak perlu menunggu lama untuk itu, di akhir sesi ketika melakukan evaluasi, saya mendapatkan jawabannya.

Sedikitnya ada 3 hal yang perlu saya perhatikan dan perbaiki agar kedekatan dengan coachee terbangun baik. Pertama, menghilangkan rasa superior jika coachee adalah orang yang secara hirarkis di bawah kita, seperti yang dialami saya kemarin ketika praktek dan dipertemukan dengan anak sulungku. Atau sebaliknya menghilangkan rasa inferior jika coachee adalah orang yang secara hirarkis di atas kita.

Kemudian menggunakan tone suara best friend sehingga membuat coachee merasa diperlakukan ramah dan menyenangkan. Suasana kaku di awal akan terasa semakin cair jika coachee merasa nyaman bersama kita.

Dan terakhir adalah tidak terburu-buru masuk ke fase selanjutnya dalam coaching setelah fase opening ini. Ya, fase membangun kedekatan ini adalah fase pertama atau opening dalam suatu coaching. Fase yang penting untuk keberlajutan yang baik dan hasil memuaskan bagi suatu sesi coaching. Sehingga lakukan dengan sabar dan pastikan coachee kita sudah merasa nyaman dan percaya kepada kita sebelum berpindah ke fase selanjutnya.

Ah senangnya! Baiklah. Jika begitu saya akan pelajari lebih dalam lagi dan memperbaiki ketiga hal di atas pada saat praktek coaching nanti. Terima kasih my best coach Fauzi yang sudah memberikan insight-insightnya yang sangat membantu.

“Wait! Memang ada berapa fase yang perlu kita lalui dalam sebuah sesi coaching itu? Dan apa saja sih?”

Next time insyaAllah saya cerita tentang itu. Okay!

“Satu lagi! Seperti apa sih tone suara best friend itu dan ada berapa tone suara yang biasanya bermanfaat jika kita sedang melakukan coaching?”

Nah … kalau yang ini akan lebih jelas dan asyik jika mendengar langsung dari pakarnya. Dm saya kalau belum tau siapa orangnya. Okay!

#coachlife
#kandelaprivatecoachestraining
#kandelainstitute
#coachchangeslife
#membangunrapport

POSITIVE QUESTIONS

Ketika ada seseorang yang curhat atau melihat seseorang yang dekat dengan kita tidak segera menyelesaikan pekerjaannya, maka biasanya otomatis kita akan bertanya “apa sih kesulitan/kendalanya?” Tentu saja kita bermaksud baik karena siapa tahu bisa membantunya setelah menjawab pertanyaan itu.

Sayangnya kita tidak menyadari pada saat kita memilih kata “kesulitan” atau “kendala” untuk diucapkan maka perasaannya, dan juga kita, cenderung menjadi negatif. Dan mungkin dengan rasa lelah, sedih, nyaris putus asa, jengkel, dan kesal; dia pun kemudian menceritakan “kesulitan-kesulitan”nya itu.

Terbayang pada saat dia bercerita perasaan-perasaan negatif itu semakin kuat menguasai hati. Dan biasanya kemudian dia dan kita jadi terfokus pada “kesulitan-kesulitan itu” bukan kepada solusi.

Saya jadi mengerti kenapa di pelatihan privat coaching dari Kandela Institute yang saya ikuti beberapa hari lalu, pemateri Coach Fauzi Rachmanto mensyaratkan untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan positif kepada coachee. Bagaimana bisa sang coachee menemukan solusinya kalau karena pertanyaan kita, sang coach, dia jadi hanya terfokus pada “kesulitan-kesulitan” yang dihadapi. Padahal seorang coach hanya bertugas membantu sang coachee untuk menemukan dan kemudian menerapkan sendiri solusi dari tantangan-tantangan yang sedang dihadapinya. Bukan memberitahukannya.

Jadi pertanyaan apa dong yang bisa kita lontarkan? Coba kita ajak dia untuk menemukan sebetulnya apa sih yang saat itu ingin dia raih dengan bertanya misalnya “apa sih yang ingin dicapai dalam satu tahun ini?” Maka dia akan terfokus kepada tujuan yang akan diraih tersebut bukan kesulitan-kesulitannya. Suasana hati lebih nyaman karena perasaan-perasaan positiflah yang cenderung muncul di hati.

Lantas selanjutnya apa? Kita bisa melontarkan pertanyaan dengan menggunakan cara scalling: “Jika dilihat dari skala satu sampai sepuluh, dimana sepuluh adalah tujuan tersebut sudah tercapai; maka saat ini anda sudah berada di angka berapa?” Dan dia akan menjawab berdasarkan ukuran tersebut. Sehingga kita tahu bahwa dia sedang menghadapi sesuatu yang cukup menantang ketika dia menyebutkan angka berada di sekitar angka 5 misalnya.

Gimana? Lebih enak kan rasanya? Kenapa coba? Ya betul, karena perasaan-perasaan positiflah yang hadir pada saat itu.

Hal itu juga yang sedang saya ikhtiarkan sekarang ini setiap kali berkomunikasi dengan orang lain. Memang perlu dibiasakan dengan banyak-banyak berlatih. Salah satunya adalah ketika saya diberi kesempatan sharing pengalaman menulis di salah satu kampus di Bandung kemarin.

Saya coba untuk menerapkannya dengan melontarkan positive questions setiap kali bertanya kepada audience. Saya perhatikan wajah-wajah audience terlihat cerah dan cukup bersemangat ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Terima kasih Kak Jee Luvina dan NulisYuk yang sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk berlatih menerapkan positive questions ini. Senang sekali bisa berbagi pengalaman menulis dan bertemu dengan calon-calon penulis hebat yang penuh semangat.
.
.
#coachlife
#positivequestions
#sharingkepenulisan
#STBABandung
#kandelainstitute
#nulisyuk

BAHASA DAN RASA

BAHASA DAN RASA

Dua hari lalu adalah hari yang menyenangkan. Banyak hal yang sebetulnya tidak baru, tapi ternyata ketika mempelajari lebih dalam salah satunya, bisa membuat saya merasa lebih baik. Ya, rasa. Ini memang tentang rasa.

Rasa apa yang ingin selalu kita miliki sebenarnya di dalam hidup ini? Kalau saya rasa tenang, damai, dan tenteram. Nikmat banget jika itu bisa diraih. Tapi apa bisa, sementara di dunia tidak hanya kenyamanan yang menghampiri kita tetapi juga ketidaknyaman?

Konon ada satu hormon yang akan muncul pada saat kita merasa terancam. Karena merasa terancam tubuh kita jadi merasa tertekan. Dan hormon ini memiliki fungsi untuk mengedalikan rasa tertekan atau stres tersebut. Selama kita tidak merasakan stres berlebihan, hormon itu hadir dalam jumlah yang bisa kita terima. Namun di saat stres yang kita rasa meningkat maka hormon ini akan banyak diproduksi tubuh dan bisa mengganggu tubuh kita karena hadir berlebihan. Segala sesuatu yang berlebihan itu memang tidak baik kan? Hormon itu bernama kortisol.

Sementara ada satu hormon lagi yang muncul ketika kita merasakan kasih sayang atau cinta. Pada saat seperti itu biasanya sikap dan perilaku kita kemudian menjadi menyenangkan, penuh perhatian, dan gembira. Hormon inilah yang membantu perasaan-perasaan positif hadir di diri kita. Semakin kita merasakan cinta maka semakin banyak hormon ini dikeluarkan oleh kelenjar pituary kita; dan semakin sering kita bersikap dan berperilaku positif. Hal ini membuat kita semakin sering merasa bahagia atau merasa tenang, damai, dan tentram seperti yang saya inginkan. Hormon ini bernama oksitosin.

Dua hormon itu menjadi pilihan buat kita pada saat kita menjalani hidup. Mau banyak mengeluarkan kortisol atau oksitosin? Kalau saya, sesuai keinginan di awal, tentunya oksitosin. So, saya perlu mencari tahu hal-hal apa saja yang bisa saya lakukan agar hormon ini selalu bahkan semakin banyak hadir di tubuh saya.

Ternyata mudah. Tidak perlu mencari-cari dengan biaya, waktu, dan tenaga yang banyak. Melalui bahasa yang kita ucapkan, kita bisa menghadirkan banyak oksitosin di tubuh kita. Maksudnya?

Begini. Ternyata kata-kata yang kita ucapkan bisa menentukan yang muncul di tubuh kita itu kortisol atau oksitosin. Setiap kali kita mengalami, melihat, atau mendengar sesuatu; ucapkanlah kata-kata positif atau paling tidak netral sesuai dengan kenyataan yang ada.

Misalnya ketika kita menghadapi macet. Apa saja hal positif atau netral yang bisa kita ucapkan? Wah, banyak mobil ya … Atau … Wih, makmur ya orang-orang Indonesia (banyak yang bisa beli mobil dan bensin kan?) …

Coba rasakan bedanya ketika kita mengalami macet dan kata-kata ini yang terucap. Ya macet, bakalan lama nih … Ya udah stuck aja, kapan nyampenya …

Terasa kan? Hati ini mengkerut, murung, dan khawatir ketika mengucapkan kata-kata di alinea kedua? Kortisollah yang diproduksi pada saat itu. Berbeda dengan rasa ketika mengucapkan kata-kata di alinea sebelumnya. Hati tetap terbuka, lebih tenang dan segera menerima kondisi itu dengan santai. Oksitosinlah yang hadir.

Dan itu juga yang terjadi ketika saya mengucapkan “Terus terang saya mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan materi-materi yang diberikan. Tiba-tiba blank ketika harus berhadapan dengan orang yang di coach. Dan saya sulit melakukan aktivitas menulis berbarengan dengan menjadi active listener.” Wajah saya jadi tak bersemangat, pandangan sedih, hati mengkerut, dan tubuh mulai terasa lelah.

Tetapi ketika di akhir sesi saya mengucapkan “Semua menarik dan menantang. Saya ingin bisa seperti yang lain juga yang sudah mampu melakukannya. Jadi saya akan terus rajin berlatih karenanya.” Saya merasakan semangat yang menggelora, hati yang terbuka, dan lelah itu tiba-tiba menghilang. MasyaAllah … Amazing ya …

Alhamdulillah … Thanks to Mba Damayanti AHa dan Kaka Salsabila Athaya Zahra yang sudah menemani dan memacu saya untuk terus maju. Special thanks to my best coach Fauzi Rachmanto untuk ilmu, ajakan, dan idenya. You’re still my love, my best, my pride, always (lebay? Ga apa2. Yang penting oksitosin yg muncul kan? 😄).

#coachlife
#coachingchangeslife
#kandelacoachingtraining
#kandelainstitute
#WiFIregionBandung
#oneweekonepost