STEP BY STEP

Siapa yang suka membuat kue atau camilan? Dulu, saya kurang suka memasak termasuk membuat kue atau camilan. Lebih suka beli jadi. Lebih praktis, enggak capek, dan kemungkinan rasa enaknya lebih besar dibandingkan buatan sendiri 😁.

Tapi sejak menerapkan pola makan tertentu, saya tidak bisa lagi membeli makanan terutama kue dan camilan sembarangan. Memang sih, sudah mulai ada yang menjual makanan sesuai pola makan saya, tapi lokasinya jauh di luar kota.

Suatu saat pernah saya mencoba memesan setelah memastikan makanan yang dipesan sampai di rumah masih aman dimakan dan tidak hancur. Tapi karena salah memberikan instruksi kepada bedinde, paket makanan itu datang ketika rumah kosong. Bagus sih kurir jasa pengiriman berinisiatif menitipkan paket tersebut kepada satpam. Sayangnya satpam lupa menyampaikan ke rumah di hari yang sama. Alhasil makanan diterima keesokan harinya dalam kondisi yang sudah tidak layak makan.

Jadilah saya mencoba membuat camilan sendiri. Bukan yang rumit, melainkan sederhana saja cara membuatnya dengan bahan-bahan yang cukup mudah didapatkan juga. Tapi dalam membuatnya tetap saja harus step by step, sesuai yang tercantum di resepnya. Pernah tidak sengaja ada satu langkah semestinya dilakukan di awal, karena lupa akhirnya dilakukan di akhir menjelang adonan dibakar. Kue yang dihasilkan ternyata kurang memuaskan. Bentuknya kurang oke dan rasanya agak berbeda dari kue dengan cara buat sesuai resepnya.

Hal yang sama terjadi dalam coaching. Coaching juga memiliki “resep” agar hasilnya sesuai yang diharapkan. Dalam resep tentunya ada cara membuat makanan/minuman tersebut. Nah “cara membuat” untuk coaching terdiri dari 3 fase yang perlu dilakukan secara berurutan.

Fase pertama adalah opening. Aktivitas di fase ini adalah membangun rapport atau kedekatan dengan coachee. Masih ingat kan postingan saya beberapa hari lalu tentang hal ini? Ternyata penting ya membangun kedekatan dengan coachee. Kenapa? Silakan cek lagi di postingan sebelumnya yang berjudul “Membangun Rapport”. Atau boleh juga klik link ini: http://lenypuspadewi.com/2018/03/06/membangun-rapport/.

Fase selanjutnya adalah “Sampaikan dan Dengarkan” yang merupakan fase inti dari caching. Di fase ini kita menggali coachee dengan mengajukan powerful questions. Wah, apalagi nih? Apa bedanya dengan Positive Questions yang kemarin sempat diposting? Tenang … insyaAllah saya jelaskan di postingan berikutnya ya. So tetap intip sekali-sekali ke sini.

Di fase inti ini juga kita menjadi pendengar yang aktif atau active listener. Seperti apa aktivitas active listening ini, juga insyaAllah akan saya sampaikan di postingan selanjutnya. Jadi emang perlu ya, intip-intip ke sini lagi. Hehe …

Fase terakhir adalah closing. Di fase ini kita sebagai coach meminta coachee menyimpulkan apa yang didapatkan dan dirasakan selama proses coaching berlangsung. Dan jangan lupa diakhiri dengan ucapan terima kasih dan bagaimana keberlanjutan coaching sebagai salam perpisahan untuk sesi coaching tersebut.

Fase-fase coaching di atas seperti juga cara membuat suatu masakan, dilakukan step by step dan berurutan. Itu kalau kita ingin proses coaching berjalan baik dan hasilnya sesuai yang diharapkan.

Ya … tapi kan belum tahu apa itu powerful questions dan active listening …

Makanya intip terus di sini ya untuk dua hal itu, insyaAllah segera tayang 😄.

#coachlife
#kandelaprivatecoachestraining
#kandelainstitute
#coachchangeslife
#fasefasecoaching