PIALA KEHIDUPAN

Walaupun hari ini adalah Hari Raya Idul Adha, saya ingin berbagi yang mungkin kelihatannya kurang relevan dengan itu. Tapi buat saya ada hubungannya. Yaitu pengobanan dari perempuan-perempuan hebat yang saya temui beberapa waktu. Karena berkorban tidak hanya di wilayah harta kan? Bisa di hal lain.

Beberapa waktu lalu, saya bertemu dua moms yang cantik dan keren. Selain menjadi ratu rumah tangga, mereka juga pebisnis handal. Saya sangat antusias bertemu mereka. Karena sudah lama tak berjumpa. Jarak dan kesibukan yang menyebabkannya.

Kami bertemu di gerai kopi yang dimiliki oleh salah satu dari mereka. Gerai kopi yang baru saja beroperasi, baru soft launching. Tempatnya cozy serta nyaman untuk kongkow dan mengerjakan tugas atau pekerjaan.

Kopi, teh, minuman lain, dan makanan yang ditawarkan mampu membuat lidah bergoyang. Tapi tidak membuat kocek terkuras. Benar-benar ideal bahkan untuk para mahasiswa sekalipun. Itu terlihat dari ramainya pengunjung dengan wajah muda dan gaya busana masa kini. Anak gadis saya yang menemani pun mengakuinya. Dia bilang sangat betah di sana.

Wah kalau ramai, bakalan gak kebagian parkir dong…

Jangan khawatir. Sudah disediakan solusinya. Si akang-akang valet parking dengan ramah akan membantu kita untuk mendapatkan parkir. Kita tidak perlu repot-repot lagi. Begitu sampai, tinggal melenggang santai masuk ke dalam cafe.

Tentu saja kami ramai bercerita tentang apa yang dialami ketika tidak sempat saling sapa. Tidak hanya kesenangan dan kesuksesan tapi juga tantangan yang dihadapi. Lengkap dengan tips meraih dan melewatinya.

Tapi tidak berarti pertemuan kami diwarnai kesedihan dan ketegangan. Canda tawa tetap mengiringi membuat suasana akrab dan menyenangkan selalu menemani. Kami menganggap semua adalah bumbu kehidupan yang membuat kebosanan jarang menghampiri.

Kami juga menyempatkan untuk berkunjung ke gerai oleh-oleh milik moms yang lain. Gerai yang juga baru beroperasi. Tempatnya luas dan banyak pilihan. Beberapa makanan yang saya pilih dan dibawa pulang, mendapat pujian dari suami akan rasa dan pengemasannya. Termasuk produk keripik kekinian yang menjadi andalan.

Sayangnya bisnis yang sedang saya geluti, tidak ada wujud fisiknya. Sehingga tidak bisa dikunjungi. Dan memang tidak perlu. Tapi tetap jejak saya tinggalkan bersama mereka melalui buku, kartu nama, dan cerita tentang berbagai aktivitasnya.

Saya selalu terkesan setiap bertemu dengan para moms yang mampu membawa hati menjadi lebih baik. Baik menurut Sang Pencipta bukan manusia. Walaupun sempat terpuruk dan meredup, mereka mampu kembali bangkit dan bersinar. Ketika mereka menyadari bahwa hidup bukan sekedar perlombaan bagi raga yang berwujud kekayaan, jabatan, dan popularitas. Melainkan juga bagi jiwa yang kelak akan melanjutkan ke alam terakhir dari kehidupan manusia. Dan justru inilah yang lebih utama.

Hati mereka belajar dari kehidupan tentang kemampuan sabar, ikhlas, dan pasrah. Bahwa apapun yang terjadi adalah kasih sayang-Nya. Tak perlu merasa sengsara jika datang yang tak diharapkan. Fokus saja pada ikhtiar bukan hasilnya. Karena Allah sudah menentukan hasil yang terbaik.

Walaupun masih menuju kepada kemampuan-kemampuan itu, syukur tercermin dalam sikap dan kata-kata mereka. Dan tak ada kata terlambat bagi mereka. Bahkan ketika tercerahkan dalam silaturahmi itu, mereka antusias untuk berikhtiar mewujudkannya.

Saya membayangkan saat itu mereka sedang mendekat kepada piala-piala kehidupan yang sudah disediakan oleh-Nya. Betapa saya bersyukur diberi kesempatan mengenal dan dipertemukan kembali dengan mereka. Insight bagi jiwa mengalir dengan derasnya.

Saat itu mereka sedang berproses menjadi Empowered Moms. Ibu dengan berbagai peran yang perlu dilakukan dan tetap mampu bahagia. Bahagia yang sangat diinginkan jiwa. Berupa rasa tenang, tenteram, dan damai; tiada gelisah dan khawatir yang melanda. Bahagia tidak hanya di dunia namun juga di kehidupan abadi kelak. Bagi saya, mereka adalah juara-juara kehidupan.

Terima kasih moms sayang @sinseria dan @iniriezka untuk silaturahmi yang luar biasa. Terima kasih juga untuk @coffeetoffeebdg dan @keripikjamanniwofficial yang sudah melayani dengan baik.

#EmpoweredMoms

#silaturahmi

#belajarhati

#enlightenedheart

KECEWA? SEDIH? SALAH SIAPA?

Kemarin saya sempat ngobrol dengan seorang teman via chat WA. Anaknya tidak lolos SBMPTN. Awalnya dia merasa ikhlas dengan kondisi itu. Dia bilang itu pasti yang terbaik untuk anaknya dan semua orang yang terlibat termasuk dirinya.

Tapi ketika dia melihat banyak postingan di timeline FBnya tentang rasa syukur mereka karena sang anak lolos SBMPTN, muncul juga sedikit rasa sedih dan kecewa. Dia jadi merasa sedikit terganggu. Walaupun kemudian dia mengakhir chatnya dengan emoticon tertawa dan kata-kata: ah dasar ya hati manusia yang belum pintar, begini nih jadinya…

Apa maksudnya?

Apa sih sesungguhnya yang menyebabkan kita merasa kecewa dan sedih? Ternyata kehadiran rasa rugi. Untuk kasus ini bisa jadi rugi karena perlu mengeluarkan uang lebih banyak untuk menyekolahkan anak dengan kualitas diharapkan. Atau bahkan karena tidak mampu menyekolahkan anak di tempat itu. Tempat kuliah swasta memang banyak. Namun untuk masuk ke tempat dengan kualitas negeri membutuhkan biaya yang jauh lebih besar.

Atau jangan-jangan merasa rugi karena kehilangan rasa bangga atas keberhasilan anak kita. Kita jadi tidak bisa memperlihatkannya kepada dunia.

Kenapa ya rasa rugi itu mendatangi kita? Karena kita belum sepenuhnya yakin akan kebaikan Allah. Belum yakin kalau Allah itu tak mungkin menyengsarakan kita, manusia, yang sangat disayanginya. Apa yang Dia berikan pastilah terbaik untuk kita, untuk masa depan kita.

Jika sedih dan kecewa itu masih saja hadir, siapakah yang patut disalahkan? Apakah mereka yang memposting kegembiraan dan rasa syukurnya?

Bukan. Melainkan kita sendiri. Hati kita. Yang masih belum peka, belum pintar melihat kebaikan Allah dalam setiap pemberian-Nya.

Ah, yang bener? Kata siapa itu?

Tentu saja kata Allah melalui Alquran dan Hadis. Dua hal yang jika kita pegang erat akan membuat kita senantiasa bahagia. Gak ada lagi sedih dan kecewa.

Jadi, janganlah berhenti untuk membuat hati ini pintar. Teruslah berproses, bertafakur menanamkan berbagai kebenaran dari Alquran dan Hadis di hati kita.

#selfreminder
#kemampuanhati
#tafakur
#bahagia
#enlightenedheart

KOREKSI DIRI

Pagi tadi saya disuguhi peristiwa yang membekas di hati. Waktu itu pengemudi mobil yang saya tumpangi mengklakson angkot di depan kami. Angkot itu berhenti terlalu tengah dan menghalangi mobil kami.

Ketika kami melewati angkot itu, sopirnya berteriak dengan nada kurang enak didengar, “Mangga… mangga, Paaak! Ieu teh Romadhon, puasa Paaak!” (Silakan… silakan, Pak. Ini Bulan Ramadan, puasa Pak!)

Saya tahu maksudnya meminta kami bersabar. Apalagi sekarang sedang puasa Ramadan. Dia menganggap klakson yang kami bunyikan adalah tanda ketidaksabaran. Mungkin juga karena melihat pandangan kami yang tanpa senyum. Sehingga dia beranggapan kami kesal karena terhalangi.

Mungkin betul ada rasa kesal dari pengemudi mobil kami karena jalannya terhalangi, sehingga dia membunyikan klakson tanpa senyum di wajahnya. Dan nasihat sopir angkot itu baik kan? Mengingatkan kami untuk bersabar.

Tapi coba rasakan. Dia meminta kami bersabar, sementara apa yang dia lakukan belum mencerminkan hal yang sama. Seorang yang sabar tentunya tidak akan mengingatkan seseorang dengan cara  berteriak dan dengan nada kurang enak didengar.

Itulah, kadang-kadang kita tidak menyadari untuk koreksi diri. Malah mengingatkan orang lain untuk  berperilaku baik tapi kita sendiri lupa caranya bukan seperti orang berperilaku baik yang kita nasihatkan.

Jika saja saya ada di posisi sopir angkot itu, seperti apa semestinya berperilaku? Koreksi diri, apa sih yang membuat orang itu membunyikan klakson. O, ternyata  mobil yang saya kemudikan menghalangi jalan mobil lain. Jadi segera pindahkan posisi mobil ke tempat lain yang tidak menghalanginya sambil meminta maaf.

Hanya saja jangan lupa. Pada saat berada di posisi yang terhalangi pun perlu berhati-hati. Apakah dengan membunyikan klakson akan membuat orang lain terganggu? Toh kita juga bisa menunggu sesaat sampai angkot itu berjalan kembali. Kecuali jika menunggu terlalu lama, baru kita bunyikan klakson sekali saja dan wajah kita dihiasi senyum sopan ketika berpapasan pandangan dengan  sopir angkot tersebut.

Ah, kalau cuma nulis kan gampang. Pas ngalaminnya, emang bisa sabar?

Bisa. Asalkan hati kita sudah terbuka karena dipenuhi kebenaran-kebenaran Alquran dan Hadis. Tau kan sabar itu pembuka pintu surga? Tau kan Allah akan bersama dengan orang-orang sabar? Tau kan Allah suka banget kalau kita bersabar? Itu semua adalah kebenaran-kebenaran dari Alquran dan Hadis.

Jadi teruslah berproses, bertafakur agar kebenaran-kebenaran itu tertanam dan memenuhi hati.

#selfreminder

#berbagikebaikan

#tafakur

#enlightenedheart

#oneweekonepost

#wifiregionbandung

SALING MEMAAFKAN DI PINTU RAMADAN

Kemarin ketika diberi kesempatan meminta maaf secara langsung kepada kerabat, seorang kerabat bilang: “Minta maaf itu kan gak harus karena mau puasa di Bulan Ramadan. Kapan saja bisa.”

Ya, setuju banget. Sayangnya kita lebih sering lupa untuk meminta maaf di waktu lain. Kenapa ya?

Karena ternyata meminta maaf (dan memaafkan) adalah kemampuan hati. Pantas saja sering lupa melakukannya karena di hati kita masih sedikit kebenaran-kebenaran Al Quran dan Hadis (islami) yang terpatri. Moment ini menjadi pengingat diri untuk terus berproses, bertafakur agar hati semakin cemerlang. Sehingga meminta maaf serta memaafkan tak pernah terlupakan lagi.

Beruntunglah banyak yang mengingatkan kita untuk meminta maaf sebelum berpuasa di Bulan Ramadan. Paling tidak pada saat inilah waktu saling memaafkan itu terlaksana.

Karena si diri ini hatinya masih miskin kebenaran-kebenaran islami, maka melalui tulisan ini MEMOHON MAAF LAHIR BATIN untuk semua sahabat yang telah setia membaca tulisan-tulisan di sini. Walaupun mungkin kita belum pernah jumpa, tapi tulisanpun bisa salah dan tak berkenan di hati. Manusia memang tempatnya salah. Astaghfirullah wa atubu ilaih…

Selamat menunaikan ibadah puasa sahabat semua. Semoga Allah ridho dengan semua yang kita lakukan di Bulan Suci ini. Aamiin ya mujibassailliin ❤️.

#marhabanyaramadan

#maaflahirbatin

#enlightenedheart

#oneweekonepost

#wifiregionbandung

IKHTIAR SUNGGUH-SUNGGUH

Ketika kita sudah tahu bahwa keinginan Allahlah yang pasti terjadi, apakah kita tetap semangat untuk berikhtiar? Kalau keinginan kita tidak sama dengan keinginan-Nya jadi sia-sia dong. Kan sudah pasti keinginan kita tak akan terwujud.

Sudah lupa ya kalau Allah itu Maha Tahu? Maha Pengasih dan Penyayang? Tak mungkinlah Dia memberikan keburukan untuk kita. Pasti Dia berikan kebaikan selalu untuk kita bahkan yang terbaik. Betapa baiknya Allah.

Dan ikhtiar juga adalah salah satu tugas kita di dunia sebagai bentuk perwujudan dari alasan penciptaan kita. Yaitu sebagai khalifah.

Bayangkan, ketika kita punya bos yang sangat baik kepada kita; pasti kita akan melakukan tugas yang diberikan kepada kita sebaik-baiknya. Nah, ini Allah lho, Sang Maha Kuasa; Bos dari segala bos. Masa kesangat-baikkan-Nya dibalas dengan seadanya oleh kita.

So, berikhtiarlah dengan sungguh-sungguh karenanya.

#selfreminder
#marhabanyaramadan
#ikhtiarsungguhsungguh
#enlightenedheart

MASYAALLAH 😍

MasyaAllah 😍.

Bener ya. Bahwa kita itu tak banyak tahu. Bahkan sedetik dari sekarangpun. Apa yang terjadi esok hari, apa yang ada di dalam rahim seorang ibu, kapan dan dimana kematian menghampiri, apalagi tentang hari kiamat. Hanya Allah yang tahu. Segala hal , bahkan hal terkecil sekalipun Dia mengetahuinya.

Termasuk apa yang terbaik untuk aku, sang jiwa. Dan karena Allah sangat sayang kepada manusia, maka yang Dia berikan pasti yang terbaik untuk jiwa.

Jadi kenapa masih mengeluh dengan ketidaknyamanan yang datang kepada kita?

MasyaAllah 😍. Memang Allah Maha Luar Biasa ❤️.

“Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)

#selfreminder

#pencerahanpagi

#AllahMahaTahu

#enlightenedheart

#untukbahagia

MENERIMA

Beberapa waktu lalu, ada seorang teman yang bertanya. Gimana sih caranya supaya kita gak galau ketika sakit datang? Gimana sih supaya bisa tetap bahagia ketika sakit menghampiri?

Dulu, saya juga begitu. Ketika sakit datang, langsung Sang Galau menghampiri. Rasanya sedih dan kecewa karena harus grounded di rumah. Banyak hal yang terpaksa batal dilakukan. Kalaupun bisa, semua dilakukan tidak maksimal. Dan tentu saja badan rasanya gak karuan. Segera saja, saya mulai mengeluh  akan sakit itu.

Ketika merasakan kegalauan, kemudian tercermin dalam keluhan-keluhan; artinya kita belum menerima dengan sepenuh hati apa yang sedang terjadi. Termasuk pada saat sakit.

Kalau saja kita mau menerima dengan sepenuh hati, tentunya kegalauan tak kan datang. Dan bahagia tetap kita rasakan.

“Kalau sakitnya ringan dan hanya sebentar saja sih, bisa lah menerima. Tapi kalau sakitnya parah dan lama. Atau membaik tapi tidak tuntas, jadi kambuuuhh melulu. Padahal ikhtiar untuk sembuh sudah dilakukan, sampai bosan. Lama-lama kesal juga deh…”

So, intinya kita perlu “belajar” untuk menerima. Siapa yang belajar? Hati. Karena yang merasakan sedih, kecewa, kesal, dan galau kan hati.

“Okayyy, tapi… gimana caranya?”

Coba deh, pada saat kita mendapatkan apa yang kita sangat kita inginkan, seperti apa rasanya? Lega, tenang, senang dan gembira kan?

Apakah kita sangat menginginkan surga? Apakah kita sangat menginginkan bahagia tidak hanya di dunia tapi di akhirat kelak?

Kalau iya, rasakan sepenuh hati bagaimana saat kita sudah berada di sana. Hirup dan nikmati udara kebahagiaan di dalamnya. Tak ada sama sekali kegalauan dan kesengsaraan yang menimpa.

Sudah? Nah, maukah hal itu kita rasakan selalu?

“Memang bisa?”

Bisa. Taati Allah. Karena hanya Allah yang tahu bagaimana semua rasa itu bisa kita dapatkan. Dan Allah hanya inginkan kita merasakan itu saja, saking sayangnya Dia kepada kita. Tak mungkin Allah memberikan sesuatu yang membuat kita sengsara. Pasti ada “keuntungan” bagi kita di belakangnya. Termasuk sakit.

Salah satu taat itu adalah menerima dengan sepenuh hati (ikhlas) pada saat kita sakit. Dan bukankah Allah juga sudah berjanji, bahwa sakit itu adalah penggugur dosa? Inilah “keuntungan” di belakang peristiwa sakit. Siapa yang tak mau dosa-dosanya diampuni? Gak ada deh kayaknya. Bukankah kita sering berdoa agar dosa-dosa diampuni? Allah juga Maha Suci, tak mungkin ingkar janji. Semua itu pasti akan terjadi.

Lantas apakah ganjarannya kalau kita taat atau dengan kata lain bertakwa? Ya surga-Nya seperti yang tertulis dalam surat pilihan #insightQuran kali ini, surat Maryam ayat 63.

Jadi ketika sakit, biasanya saya bilang: “Silakan Allah, saya terima sakit ini sepenuh hati. Yang penting saya bisa selalu taat pada-Mu.” Dan… nyeeessss… hati ini jadi tenang rasanya.

Gak percaya? Coba aja!

#selfreminder

#sakit

#taat

#enlightenedheart

SURGA

SURGA

Siapa sih yang tak inginkan surga? Sepertinya hampir semua orang inginkan itu. Hal ini tercermin dari seringnya kita berdoa “robbanaa aatinaa fii dunya hasanah, wa fil aakhiroti hasanah waqinaa adzaabannaar”.

Tapi sadarkah kita bahwa surga itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang beriman dan beramal saleh saja? Atau dengan kata lain mereka yang taat kepada Allah saja. Termasuk pada saat kita mengalami ketidaknyamanan. Ini sudah menjadi janji Allah yang tercantum di ayat terpilih #insightQuran Jumat ini, surat An-Nisaa’ ayat 122.

Beberapa waktu lalu ada teman yang curhat. Dia merasa berat dalam menjalani hidup ini. Berbagai ketidaknyamanan tak henti mendatanginya.

Rupanya dia lupa bahwa saat ini sedang berada di dunia. Dunia tempatnya kita diuji melalui berbagai ketidaknyamanan.

Tapi sesungguhnya, ketidaknyamanan itu untuk kebaikan kita. Melalui ketidaknyamanan itulah kita jadi tidak terlena.

Coba saja perhatikan, pada saat kapan kita banyak berdoa dan mengingat Allah. Apakah ketika sedang mengalami ketidaknyamanan atau kenyamanan? Bahkanpada saat kita mengeluh kepada Allah, itu artinya kita sedang mengingat-Nya

Dengan banyak berdoa dan mengingat Allah memperbesar jalan kita untuk taat. Yang artinya memperbesar kita untuk mencapai surga-Nya.

Kalau begitu semestinya kita bersyukur dengan ketidaknyamanan yang dialami. Karena saat itu Allah sedang membuka jalan kita untuk taat.

Tinggal kitanya saja yang memilih menjadi taat dengan bersabar, ikhlas, dan berserah diri; atau sebaliknya. Semua ada di tangan kita. Jika memilih untuk taat maka surga yang diinginkan akan dapat kita raih, sesuai dengan janji Allah.

#surga

#taat

#janjiAllah

#enlightenedheart

PENTINGKAH MEMILIKI TUJUAN HIDUP? Part 2

Beberapa kali saya bertemu dengan teman yang curhat dengan ketidakpuasan hidupnya. Terutama dengan perasaannya ketika berada di tempat kerja atau bisnis.

Ketika saya bertanya kenapa tetap bertahan bekerja di tempat itu atau berbisnis di bidang itu? Banyak alasan dikemukakan. Butuh dan kalau berhenti gak tau dapat kerja lagi atau bisa berbisnis lagi. Tidak diijinkan berhenti oleh atasan atau pasangan. Sayang, masuknya atau mengawalinya penuh perjuangan. Dan sebagainya.

Well, hidup adalah pilihan untuk melakukan berbagai aktivitas. Seperti yang sudah dibahas di part 1, ketika kita akan melakukan sesuatu semestinya kita sudah yakin bahwa pilihan itu sesuai atau bisa mendekatkan kita kepada tujuan hidup.

Ketika kita menyadari bahwa aktivitas itu mendekatkan kepada tujuan hidup, maka kita tidak akan mengeluh. Kita malah akan semakin semangat. Apapun yang orang lain lakukan kepada kita tidak menjadi masalah.

Kalau masih merasa kecewa, kesal, dan marah; bisa jadi apa yang kita lakukan tidak mendukung kepada pencapaian tujuan hidup. Atau barangkali tujuan hidup yang dipilih tidak sejalan dengan tujuan penciptaan kita.

Kalau begitu tujuan hidup mana yang sejalan dengan itu?

Jawabannya sudah tersedia dengan jelas dan sering kita ucapkan dalam doa yang tertulis di surat pilihan untuk #insightQuran kali ini. Yaitu surat Al-Baqarah ayat 201.

Begitu kita yakin dengan tujuan hidup itu, semua pilihan akan jatuh kepada hal yang mendukung terwujudnya hal tersebut. Dan kita tak akan mengeluh dengan apapun yang terjadi. Karena yakin tujuan hidup akan tercapai dengan pilihan tersebut.

#tujuanhidup

#dbas

#hidupadalahpilihan

#enlightenedheart

MAKNA KEHILANGAN

Pernahkah merasa kehilangan? sepertinya semua orang pernah. Mulai dari kehilangan benda atau hal yang tidak terlalu berarti sampai yang begitu penting dalam hidup kita. Mulai dari kehilangan ballpoin, buku, ikat rambut, peniti; sampai kehilangan kendaraan, uang dalam jumlah besar, dan orang terdekat yang kita sayangi.

Perasaan yang kita alami biasanya tergantung dari seberapa banyak dan pentingnya hal atau benda yang hilang tersebut. Jika hal atau benda yang hilang tidak terlalu berarti, maka hanya merasakan sedikit sedih yang tidak lama. Tetapi jika yang hilang adalah hal atau benda yang cukup penting, kita pun merasakan kesedihan mendalam dan lama. Termasuk ketika mengalami kehilangan orang terdekat yang kita sayangi karena kematian misalnya.

Tapi apakah itu yang Allah inginkan ketika kita kehilangan orang terdekat karena kematian? Apakah itu yang jiwa inginkan? Tidak. Karena jiwa dan juga Allah inginkan kita selalu bahagia. Bukan bahagia namanya jika mengalami kesedihan mendalam dan lama.

Tapi kenapa ya, perasaan itu tetap ada? Bagaimana cara menghalaunya? Bagaimana supaya bisa selalu bahagia?

Kita perlu hati yang mampu untuk menghalaunya. Hati yang mampu melihat makna dibalik peristiwa kehilangan itu. Hati yang tidak terjebak dalam fakta. Karena fakta sering menipu. Justru sesungguhnya yang tidak terlihat dibalik fakta itulah yang lebih penting. Yang bisa membuat kita selalu bahagia.

Sadarilah bahwa kehilangan orang terdekat karena kematian adalah cara Allah menyayangi kita. Itu adalah salah satu kebaikan yang Allah berikan. Saat itu Allah sedang mengingatkan, bahwa suatu saat giliran kitalah yang menghadapi kematian. Mengingatkan sudah sejauhmana persiapan kita menghadapinya.

Bukankah kematian pasti akan mendatangi kita? Seperti yang tertulis dalam dua surat terpilih untuk #insightQuran  kali ini, Al-Baqarah: 185 dan Al-Anbiya: 27.

Pasti kita semua inginkan husnul khotimah. Dan husnul khotimah hanya bisa diraih jika hati telah memiliki kemampuan untuk terus mengingat Allah di saat kematian itu tiba.

Jika pada saat sakit biasa saja kita sulit untuk khusyu mengingat Allah, bagaimana bisa mengingat-Nya pada saat kematian datang yang sakitnya luar biasa. Jadi mampukanlah hati  untuk itu. Teruslah berproses untuk mendapatkan kemampuan tersebut.

#backtoquran

#oneweekonepost

#wifiregionbandung

#enlightenedheart