INSIGHT QURAN DAY 4

Saat long weekend seperti ini, banyak dari kita yang mempergunakannya dengan berlibur menghabiskan waktu bersama keluarga. Untuk apa?

“Agar kedekatan dengan keluarga tetap terjaga dan menyegarkan kembali pikiran dari kejenuhan dan kesibukan sehari-hari di tempat kerja.”

Bagaimana ketika kita bekerja atau berbisnis? Untuk apa kita melakukan itu?

“Tentu saja untuk memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarga.”

Dalam hidup yang sebentar ini, apa sih yang sebetulnya ingin kita capai? Kalau kita inginkan tidak hanya dunia tetapi juga akhirat, apakah jawaban-jawaban di atas sudah mencerminkan ke sana?

Ternyata belum. Padahal alasan atau niat kita melakukan berbagai aktivitas menjadi penentu untuk itu. Hal yang sederhana tapi sering tidak kita sadari. Dan Allah sudah mengingatkan kita melalui dua ayat yang saya pilih untuk #insightQuran day 4 ini.

Kalau kemudian ada yang bertanya untuk apa kita makan makanan sehat dan bergizi, atau untuk apa berolahraga, sekarang kita sudah tahu jawabannya. Jawaban yang mengantarkan kita tidak hanya mendapatkan dunia saja melainkan akhirat juga.

Jadi … apa ya jawabannya?

#berbagikebaikan
#backtoquran
#huud15
#huud16

INSIGHT QURAN DAY 3

Pagi tadi ketika saya akan memulai suatu aktivitas yang sudah direncanakan sebelumnya karena DL-nya sudah dekat, tiba-tiba suami mengajak untuk membereskan ruang keluarga karena sudah mulai berantakan. Saya sempat ingin protes keberatan karena sudah punya rencana tadi. Tapi tiba-tiba saya teringat dengan 2 ayat Alquran yang kemudian saya jadikan untuk #insightQuran day 3 ini.

Tentunya ini adalah ujian ketidaknyamanan untuk saya. Dan Allah tidak ingin saya merespon ujian tersebut dengan memprotes kepada suami. Allah inginkan saya sabar memghadapinya. Akhirnya saya segera membereskan kembali perlengkapan untuk beraktivitas tadi. Dan saya memasang senyum sebelum kemudian menyusul suami untuk membantunya membereskan ruang tengah.

Rasanya? Jangan ditanya, luar biasa indahnya. Saya dan suami melakukan aktivitas bersama diselingi canda tawa. Pekerjaan terasa ringan dan menyenangkan, dan tak terasa segera selesai. Ruang keluarga rapih kembali dan suasana rumah tetap menyenangkan untuk semua. MasyaAllah 😍.

Lantas bagaimana dengan rencana aktivitas saya tadi yang DL-nya sudah dekat? Ketika saya memutuskan untuk mengikuti keinginan suami, saya hanya berpikir seperti ini. Kalau saya melewatkan DL memangnya saya kemudian jadi masuk neraka? Kan tidak. Justru ketika saya memprotes suami dan suami kesal, kemudian terjadi cekcok misalnya; itu bisa menyebabkan saya masuk neraka karena tidak lulus ujian Allah.

Jadi DL-nya terlewati? Ternyata tidak juga. Ketika aktivitas beres-beres itu hampis selesai, saya meminta izin sebentar untuk melakukan aktivitas tersebut. Alhamdulillah suami mengizinkan. Dan saya masih bisa mengejar untuk tidak melewati DL. MasyaAllah, semua terselesaikan tanpa harus membuat suasana menjadi panas dan tidak menyenangkan. Indah kah?

Percaya deh. Alquran tidak mungkin membuat kita sengsara. Bahkan membuat hidup ini semakin indah.

#oneweekonepost
#wifiregionbandung
#alanbiya35
#aliimran186

INSIGHT QURAN DAY 2

 

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman curhat tentang hal yang sedang membuatnya khawatir akhir-akhir ini. Dia khawatir dengan biaya sekolah yang semakin mahal. Sementara 3 anaknya masih kecil-kecil yang dalam waktu dekat mulai membutuhkan biaya untuk memenuhi pendidikannya.

Memang salah satu hal yang sering kita khawatir adalah rezeki. Kita khawatir sengsara karena kekurangan harta, tidak bisa membiayai pendidikan terbaik untuk anak-anak, tidak bisa memberikan tempat berlindung yang layak untuk keluarga, tidak mampu membiayai anak istri ketika sakit, tidak bisa hidup layak setelah pensiun, dan sebagainya.

Dengan berbagai kekhawatiran itu, justru membuat hidup kita jadi tidak bahagia. Kita merasa gelisah dan mudah curiga karena khawatir kehilangan harta kita. Mau seumur hidup seperti itu?

“Ya, enggak mau lah. Tapi apa bisa hidup tanpa rasa khawatir dan gelisah memikirkan rezeki kita?”

Sangat bisa. Yuk coba kita renungkan dua ayat yang saya pilih untuk day 2 #insightQuran ini. Ternyata Allah sudah menentukan rezeki kita, berapa jumlahnya dan dalam bentuk apa.

Dan karena Allah Maha Tahu, Dia tidak akan memberikan rezeki yang tidak kita butuhkan. Rezeki yang Dia berikan selalu sesuai dengan yang kita butuhkan baik jumlah maupun bentuknya. Jadi untuk apa lagi kita khawatirkan itu?

Yang terpenting bagi kita adalah tetap melakukan ikhtiar sungguh-sungguh di jalan Allah. Karena pada saat itulah kita dinilai oleh-Nya. Dan hasil penilaian-Nya itu akan ikut menentukan bagaimana kehidupan kita di akhirat kelak.

 

#sebarkebaikan
#day2
#alankabut62
#asysyura27

INSIGHT QURAN DAY 1

Ini adalah postingan saya di IG tadi malam. Tadinya tidak akan saya posting di sini. Tapi setelah saya baca lagi, karena tujuannya adalah untuk berbagi kebaikan, kenapa tidak? Siapa tahu ada yang berminat untuk melakukan hal sama. Yuk sama-sama kita berbagi kebaikan.

***

Hari pertama niat untuk posting #insightQuran baru bisa terlaksana mendekati tengah malam. Mata sudah 5 watt tapi tiba-tiba ada notifikasi IG dari Mas Rezky yang memposting day 2 #insightQuran nya. Jadi teringat janji saya di komen postingan day 1 dia untuk posting day 1 hari ini. So, let me try …

Hari ini Bandung diguyur hujan dua kali. Sekali di sore hari kemudian berhenti. Dan yang kedua di malam hari. Udara menjadi lebih sejuk dan suasana menjadi lebih rileks dan menenangkan. Siapa yang tidak suka dengan ketenangan? Rasanya jarang.

Hujan juga membuat kita terselamatkan dari kekeringan. Air untuk minum, mandi, dan mencuci berlimpah lagi. Tanaman sayur dan buah-buahan tumbuh subur. Lapangan rumput menghijau kembali menyediakan makanan bagi ternak untuk dimanfaatkan daging, susu, dan kotorannya. Dan salah satu waktu mustajab untuk berdoa. Pantas saja ada yang bilang hujan adalah rahmat.

Tapi kenapa sering kita mendengar orang mengeluh jika hujan turun? Jemuran jadi tidak kering. Perjalanan terganggu karena harus berteduh atau macet karena banjir. Badan meriang karena kehujanan. Rumah kebanjiran. Jadwal jd berantakan. Dsb.

Ternyata karena hanya orang yang “berpikir” sajalah yang mampu melihat besarnya rahmat Allah dari turunnya hujan. Sesuai yg tertulis di surat An-Nahl ayat 10 dan 11.

Kenapa saya sematkan tanda petik dlm kata “berpikir”? Karena aktivitas berpikir di sini bukanlah akal melainkan hati. Hanya hatilah yg mampu mencapai keberadaan rahmat Allah di kala turunnya hujan. Sehingga mereka yang menggunakan hatinya untuk berpikir itu tidak mengeluh ataupun mengomel melainkan bersyukur.

Saya mengajak teman-teman untuk berbagi kebaikan dengan posting tulisan seperti yang saya posting ini. Caranya pilih satu atau beberapa ayat dan maknai melalui tulisan. Jangan lupa pakai hashtag #insightQuran, kemudian mention. Lakukan selama 7 hari berturut-turut dan ajak teman-teman anda melakukan hal sama. Semoga kebaikan menjadi lebih menyebar dan kita terlibat di dalamnya. Dan semoga Allah ridho dengan apa yang kita lakukan ini. Aamiin …

#berbagikebaikan
#day1
#backtoquran
#annahl10
#annahl11

ALASAN EMOSIONAL

Cara lain untuk memupuk perasaan-perasaan positif adalah dengan menemukan alasan emosional. Seperti apakah itu? Yuk kita simak cerita di bawah ini.

Pada saat melihat ibu atau ayah kita, atau keduanya, yang sekarang tampak semakin tua dan lemah, atau bahkan mungkin sedang berjuang untuk kesembuhan sakitnya yang cukup parah; apa yang terasa? Apakah rasa sedih karena belum mampu membalas jasa-jasa mereka terhadap kita? Ataukah merasa menyesal karena selama ini terlalu disibukkan oleh pekerjaan atau bisnis dan keluarga kecil kita sehingga mereka terbengkalai tidak mendapatkan perhatian yang cukup?

Kemudian kita teringat akan perjuangan mereka melahirkan dan membesarkan kita dengan penuh kasih sayang. Terasa begitu besar kasih sayang mereka kepada kita. Apalagi ketika kita sudah mempunyai anak. Bagaimana perasaan kita terhadap anak kita, maka seperti itu jugalah perasaan mereka terhadap kita.

Saya teringat perjuangan ketika hamil terutama di 3 bulan pertama dengan morning sicknya. Juga 2 bulan terakhir ketika kehamilan sudah membesar. Membawa beban perut yang semakin berat, bukan hanya cepat lelah ketika berjalan lama dan sering sakit pinggang bagian belakang, tetapi juga ketidaknyaman ketika tidur. Serba salah menentukan tidur dalam posisi apa. Telentang terasa agak sesak nafas. Miring ke kiri atau kanan, jika terlalu lama juga terasa pegal. Apalagi ketika kontraksi mulai terasa sering datang.

Tetapi saya juga ingat, semua itu tidak terasa berat karena menyadari bahwa ada sesuatu yang kehadirannya sangat diharapkan di perut saya. Seorang anak.

Rasa sakit dan tidak nyaman ketika melahirkan menambah daftar perjuangan itu. Bagaimana sakitnya perut yang semakin lama semakin menjadi ketika persalinan semakin dekat. Dan tenaga yang dikeluarkan pada saat persalinan juga tidak sedikit. Tetapi semua itu hilang ketika terpandang anak yang didamba ada di pelukan.

Selesaikah perjuangan seorang ibu? Belum. Hari-hari selanjutnya direpotkan oleh tingkah sang bayi yang memang sedang membutuhkan banyak perhatian. Kurang tidur, telat makan, badan tidak terperhatikan adalah beberapa hal yang menemani hari-hari kita dengan bayi sampai usia 2 tahun ketika waktunya disapih.

Setelah itu, perjuangan dan kasih sayang ibu terus berlanjut seperti iuga kasih sayang dan perjuangan ayah. Bagaimana ayah berjuang untuk memberikan segala sesuatunya yang terbaik untuk kita. Makanan, baju, rumah, sekolah, hiburan terbaik untuk kita. Selalu berusaha menyenangkan dan mengabulkan keinginan kita.

Kasih sayang mereka tidak berhenti hingga kita dewasa dan berumah tangga. Saya ingat bagaimana khawatirnya mereka ketika saya sakit. Mereka sering berkunjung sambil membawakan makanan kesukaan saya. Dan yang pasti doa mereka tidak pernah putus setiap harinya untuk kita, seperti juga doa kita kepada anak-anak kita.

Ah, ternyata saya sangat menyayangi mereka. Saya ingin membuat mereka bahagia tidak hanya ketika mereka masih ada tetapi juga setelah meninggal dunia. Saya ingin mengajak mereka untuk semakin taat pada-Nya agar apa yang kuinginkan itu tercapai. Tapi itu sulit karena kemampuan saya hanya sebatas mengajak sementara menjadi taat ditentukan oleh diri mereka sendiri. Saya tidak bisa mengendalikan mereka untuk mau taat.

Ada satu cara lagi yang bisa saya lakukan yang bisa saya kendalikan. Yaitu menjadi anak perempuannya yang salihah. Dengan menjadi salihah saya bisa membantu mereka untuk mendapatkan amal saleh ketika nanti mereka sudah tiada. Pahala tetap mengalir untuk mereka atas doa yang saya panjatkan kepada Allah bagi mereka.

Untuk menjadi anak salihah artinya saya butuh untuk selalu taat kepada Allah. Taat kepada Allah tidak hanya menjalankan amalan fisik seperti salat, puasa, zakat, baca alquran, sedekah. Melainkan juga amalan hati seperti sabar, ikhlas, khusu’, dan berserahdiri atau disebut juga perasaan-perasaan positif.

Kalau amalan fisik, sebagian besar dari kita sudah terbiasa melakukannya sejak kecil dulu. Sayangnya tidak untuk amalan hati. Sepertinya masih perlu perjuangan untuk bisa melakukan amalan ini.

Tetapi karena saya merasakan keinginan yang demikian kuat untuk membahagiakan kedua orangtua, maka sayapun berikhtiar terus untuk mampu merasakan perasaan-perasaan positif tersebut. Itulah yang disebut sebagai alasan emosional dalam memupuk perasaan-perasaan positif kita.

Cerita di atas adalah alasan emosional saya. Apakah alasan emosional anda?

#sarapankata
#day27
#kmoindonesia
#kmobatch12
#alasanemosional
#memupukperasaanpositif
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day55

KENALI DIRI 5

Ketika sudah mengetahui hasil dari The Wheel of Work Life Balance, kita perlu melakukan satu langkah lagi sebelum mencari tahu dan menerapkan bagaimana cara memupuk perasaan-perasaan positif dan meminimalkan perasaan-perasaan negatif. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui kapan perasaan-perasaan itu muncul dan kenapa perasaan itu yang kita rasakan pada saat itu .

Caranya dengan membuat tabel yang terdiri dari 3 kolom dan 15 baris. Kolom pertama dengan judul “Perasaan-perasaan” untuk 7 perasaan positif dan 7 perasaan negatif dituliskan per barisnya ke bawah. Kolom kedua diberi judul “Peristiwa” dan kolom ketiga diberi judul “Alasan”.

Di setiap baris dalam kolom “Peristiwa” diisi oleh peristiwa-peristiwa apa saja yang membuat kita merasa ke 14 perasaan itu. Isilah masing-masing kotak sebanyak yang diingat. Kemudian di setiap baris dalam kolom “Alasan” diisi oleh apa yang menyebabkan perasaan-perasaan itu ada di setiap peristiwa yang kita alami.

Contohnya untuk kotak pertemuan antara “Kekhawatiran” dengan “Peristiwa” diisi dengan kapan sih kita merasakan kekhawatiran pada saat bekerja, berkarya, dan berbisnis itu? Misalnya (1) ketika sedang melakukan suatu program atau proyek dengan tim, (2) ketika menyerahkan laporan hasil kerja kepada atasan, (3) ketika keberhasilan diperoleh, dsb.

Kemudian di kotak sebelah kanannya diisi dengan kenapa kekhawatiran itu kita rasakan. Misalnya (1) khawatir proyek atau programnya gagal karena kemampuan tim yang kurang memadai, (2) khawatir atasan kecewa, kesal, atau marah karena laporan hasil kerja tidak sesuai harapannya, (3) khawatir keberhasilan tersebut “direbut” oleh pihak lain di masa mendatang, dsb.

Atau untuk kotak pertemuan antara “Kekecewaan” dengan “Peristiwa” diisi dengan misalnya (1) ketika partner tidak menepati janji, (2) ketika penjualan tidak mencapai target, (3) ketika pelanggan melayangkan komplain, dsb. Dan di kotak sebelah kanannya diisi dengan (1) berharap partner selalu menepati janji, (2) berharap penjualan selalu mencapai target, (3) berharap pelanggan selalu puas dengan produk dan layanan kita, dsb.

Dengan mengisi semua kotak-kotak yang masih kosong di tabel yang saya sebut sebagai Tabel Perasaan, Peristiwa, dan Alasan itu, akan memudahkan kita untuk mengetahui dan menerapkan bagaimana cara memupuk perasaan-perasaan positif dan meminimalkan perasaan-perasaan negatif di diri kita. Seperti apa cara memupuknya? Dan bagaimana menerapkannya? Yuk, kita sama-sama cari tahu besok pagi, insyaAllah …

#sarapankata
#day23
#kmoindonesia
#kmobatch12
#kenalidiri
#tabelperasaanperistiwadanalasan
#wheelofworklifebalance
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day51

KENALI DIRI (4)

Sesuai janji kemarin, tulisan saya hari ini akan membahas tentang apakah perlu berganti bidang karir, pekerjaan, atau bisnis ketika diketahui karier atau pekerjaan kita ternyata tidak cocok dengan profil keseharian kita? Bagusnya memang berganti, namun kadang kita tidak bisa begitu saja meninggalkan karier, pekerjaan, atau bidang bisnis kita dan mencari yang baru. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan apalagi jika kita sudah berkeluarga atau menjadi tulang punggung keluarga.

Karena itu mari kita coba cara yang keempat untuk mengenali diri.

Saya menyebut cara ini sebagai The Wheel of (Work) Life Balance. Kenapa kata “work” ditempatkan di dalam tanda kurung? Karena sebetulnya cara ini tidak hanya bisa digunakan ketika kita berurusan dengan pekerjaan atau bisnis kita, melainkan juga bisa dipergunakan untuk semua hal dalam kehidupan kita.

Cara ini merupakan adaptasi dari cara yang dikemukakan oleh Seph Fontane Pennock dan Hugo Alberts dalam artikelnya yang berjudul “The Wheel of Life”. Di artikelnya itu mereka menawarkan cara bagaimana seseorang bisa mengetahui kepuasan atau ketidakpuasan dalam beberapa hal penting di hidupnya. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan rasa kepuasan hidup orang tersebut.

The Wheel of (Work) Life Balance merupakan lingkaran yang terbagi ke dalam 14 bagian. 7 bagian di kiri lingkaran adalah perasaan-perasaan negatif yang bisa kita rasakan pada saat bekerja, berkarya, dan berbisnis. Sementara 7 bagian di kanan lingkaran adalah perasaan-perasaan positifnya.

Positif di sini artinya bahwa semakin sering kita merasakan perasaan-perasaan ini, maka semakin tenang dan tenteram hati kita atau semakin bahagia. Negatif artinya bahwa semakin sering kita merasakannya, maka semakin sering ketidakbahagiaan akan kita rasakan.

7 bagian di kiri lingkaran adalah:
1. Kekhawatiran
2. Kegelisahan
3. Kekecewaan
4. Kesedihan
5. Ketidakperdulian
6. Kemarahan
7. Keputusasaan

7 bagian di kanan lingkaran adalah:
1. Kesabaran
2. Keikhlasan
3. Kepasrahan/keberserahdirian
4. Keperdulian
5. Kepuasan
6. Keyakinan
7. Ketenangan

Angka 1 sampai dengan 10 yang ada di setiap bagian merupakan hasil penilaian diri seberapa sering perasaan-perasaan itu dirasakan pada saat bekerja, berkarya, dan berbisnis. 1 artinya tidak pernah merasakan dan 10 artinya selalu merasakan hal tersebut.

Caranya sangat mudah, kita tinggal melakukan penilaian seberapa sering perasaan-perasaan di setiap bagian dirasakan pada saat bekerja, berkarya, atau berbisnis. Kemudian tandai angka di bagian tersebut sesuai hasil penilaian itu.

Hasilnya akan memperlihatkan perasaan-perasaan apa saja yang dominan dirasakan pada saat kita bekerja, berkarya, atau berbisnis. Biasanya jika bagian kanan hasil penilaiannya tinggi maka bagian kiri rendah, dan sebaliknya. Dari hasil itu kita akan tahu perasaan-perasaan mana saja yang perlu dimunculkan dan perasaan-perasaan mana saja yang perlu dihilangkan.

Nah, setelah kita mengetahui perasaan-perasaan mana saja yang perlu kita pupuk dan perasaan-perasaan mana saja yang perlu kita hilangkan, maka sekarang tinggal mencari tahu dan menerapkan bagaimana cara memupuk dan menghilangkannya. Mau tahu?

Cek postingan saya besok ya, insyaAllah …

#sarapankata
#day22
#kmoindonesia
#kmobatch12
#kenalidiri
#teskepribadian
#wheelofworklifebalance
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day50

KENALI DIRI (3)

Kalau kita merasa belum juga mengenali diri karena belum yakin dengan hasil dari dua cara pertama, maka ada cara ketiga. Cara ketiga ini memang terasa lebih meyakinkan karena kita nanti didampingi oleh seseorang atau beberapa orang yang ahli di bidangnya. Yaitu tes kepribadian berbayar dimana kita harus bertemu langsung dengan ahli yang menyelenggarakannya untuk melakukan (berbagai) aktivitas sebagai bentuk tesnya.

Tidak sedikit penyelenggara yang menawarkan tes kepribadian berbayar ini. Mahal? Tergantung test apa yang kita pilih. Semakin rumit dan banyak melibatkan ahli di dalamnya maka semakin mahal harganya. Boleh juga kita cari yang nyaman di kantong. Salah satu yang pernah saya ikuti adalah Tes Stifin.

Menurut Farid Poniman dalam buku yang berjudul “Stifin Personality: Mengenali Mesin Kecerdasan Anda”, Tes Stifin adalah tes yang dilakukan dengan cara men-scan kesepuluh ujung jari. Tujuannya adalah untuk mengenali jati diri seperti apa sih kita ini. Hal-hal apa saja yang kita yakini, kemampuan apa yang kita miliki, pekerjaan apa yang cocok untuk kita, dan yang terpenting dalam kondisi apa kira merasa nyaman.

Kenapa menggunakan sidik jari? Sidik jari kita ternyata mampu memberikan informasi tentang komposisi susunan syaraf sehingga bisa diketahui ciri-ciri dominan yang kita miliki. Dari ciri-ciri dominan inilah bisa membuat kita mengetahui jati diri atau kepribadian kita.

Ada 5 tipe kepribadian dari Tes Stifin ini yaitu Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, dan Insting. Ke 5 tipe kepribadian ini memiliki chemistry atau ketertarikan yang berbeda yaitu Sensing kepada “harta”, Thinking kepada “tahta”, Intuiting kepada “kata”, Feeling kepada “cinta”, dan Insting kepada “bahagia”.

Karakter atau profil keseharian masing-masing tipe kepribadianpun berbeda. Jika ingin mengetahui secara rinci silakan dibaca saja bukunya. Saya akan memberikan contoh salah satunya saja yaitu tipe Feeling.

Profil keseharian tipe Feeling adalah sebagai berikut:
1. Lebih menggunakan perasaan.
2. Ingin menyenangkan orang lain.
3. Mencari keharmonisan.
4. Ingin selalu mempimpin.
5. Pertimbangannya berdasarkan kasih sayang.
6. Menghargai perasaan orang lain.
7. Mengambil keputusan dengan mempertimbangkan akibatnya terhadap orang lain.
8. Hangat dan ramah kepada orang lain.
9. Pandai berempati.
10. Bekerjasama di komunitas sosial yang baik.
11. Menghindari argumen, konflik dan konfrontasi.
12. Perasaan mereka mudah sakit dan dendam.
13. Memulai dengan pembicaraan kecil.
14. Bertanya jika memungkinkan.
15. Mampu menunjukkan kekaguman dan emosional.
16. Kurang memiliki ketegasan menuntut hak.
17. Menggunakan banyak kata-kata berharga.
18. Sering menggunakan nama orang lain.
19. Lebih seperti sikap wanita (peluangnya 65%).

Karir atau pekerjaan yang cocok bagi tipe Feeling adalah: politisi, trainer/inspirator, motivator, psikolog, psikiater, counselor, ideolog, negarawan, personalia, lawyer, budayawan, diplomat, humas, salesman, seniman, dll.

Kemudian masing-masing tipe kepribadian bisa dibagi menjadi 2 tipe berdasarkan hal apa yang mendorong dia untuk melakukan sesuatu, kecuali untuk tipe Insting. Jika dorongan itu datangnya dari dalam dirinya maka dia bertipe Introvert, tetapi jika dorongan itu datangnya dari luar dirinya maka dia bertipe Ekstrovert. Sehingga jika kita mengikuti Test Stifin ini di belakang tipe hasil test itu disematkan huruf I (untuk introvert) atau E (untuk ekstrovert).

Nah, dari profil keseharian dan karier atau pekerjaan yang cocok, barangkali bisa menjadi pertimbangan kenapa kok selama ini kita sering merasa kecewa, gelisah, khawatir, kesal, dan marah pada saat bekerja atau berbisnis.

Jadi artinya kita perlu berganti pekerjaan ya?

Tunggu dulu. Siapa tahu bukan hal itu yang menjadi masalah melainkan hal lain lagi. Kita bahas tentang itu besok ya. InsyaAllah …

Btw, ada yang tahu kenapa tipe Feeling yang dijadikan contoh di tulisan ini?

#sarapankata
#day21
#kmoindonesia
#kmobatch12
#kenalidiri
#teskepribadian
#stifin
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day49

KENALI DIRI

Ketika kita ingin berhasil di suatu bidang apakah itu dalam bekerja maupun berbisnis, kita perlu mengenali diri sendiri. Dan ingat keberhasilan yang dimaksud tentunya tidak melulu dari pencapaikan berupa kenaikan pendapat atau omset, kenaikan jabatan atau peringkat bisnis, dan semakin populernya diri serta bisnis kita. Melainkan juga keberhasilan dalam membuat hidup ini lebih berkualitas secara jiwa dan raga.

Mengenali diri adalah mengetahui dan menyadari kelebihan dan kekurangan diri kita. Sehingga ketika kita sudah kenal akan diri kita, kita bisa mencari solusi apa yang membuat keberhasilan yang kita inginkan ini masih belum juga tercapai.

Ada beberapa cara untuk mengenali diri. Cara pertama ini menurut saya adalah cara yang paling mudah. Caranya dengan mencari nilai-nilai apa saja yang hadir pada saat kita mengalami keberhasilan tertinggi kita di masa lalu. Dan mencari nilai-nilai apa saja yang tidak ada pada saat kita mengalami keterpurukan terendah di masa lalu. Batasi masing-masing 3 nilai saja.

Nilai-nilai di sini maksudnya adalah sikap, perasaan, keyakinan yang kita miliki, seperti antusias, jujur, sabar, rajin, ikhlas, mau belajar, berserah diri, berani, penuh perhitungan, inovatif, dan sebagainya. Contoh untuk nilai-nilai yang hadir ketika keberhasilan datang adalah ketika saya mampu menyelesaikan 2 naskah buku solo dalam jangka waktu 2 bulan, saat itu saya sedang MEMEGANG (memiliki) 3 nilai utama yaitu antusias, mau belajar, dan sabar.

Sementara ketika saya mengalami sakit pencernaan yang parah untuk pertama kalinya dan berlangsung lama atau sulit sembuh, saat itu saya sedang TIDAK memegang 3 nilai utama yaitu penuh perhitungan, mau belajar, dan ikhlas. Ini adalah contoh dari nilai-nilai yang tidak ada pada saat saya mengalami
keterpurukan.

Dari dua pencarian itu saya menemukan 5 nilai yang jika saya pegang maka keberhasilan bisa saya raih. Ke 6 nilai itu adalah antusias, mau belajar, sabar, penuh perhitungan, dan ikhlas. Sehingga kemudian setiap saya berikhtiar untuk mencapai suatu keinginan, saya akan memegang ke 5 nilai ini agar kesempatan untuk mencapai kebehasilan semakin tinggi.

Apakah hal ini bisa memastikan saya berhasil mencapai berbagai keinginan saya? Tidak
juga. Masih ada beberapa cara lagi yang bisa kita lakukan yang membantu kita mendapatkan kesempatan untuk meraih keberhasilan. Selain perlu disadari tentu saja adanya ketentuan Allah juga yang ikut bermain di sini.

Tapi silakan coba dulu cara pertama ini sebelum kita berlanjut ke cara lainnya.

#sarapankata
#day19
#kmoindonesia
#kmobatch12
#kenalidiri
#nilai
#values
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day47

TUJUAN HIDUP

Pernahkah kita merasa heran ketika melihat atau mendengar seseorang merespon berbeda dengan kita pada saat mengalami peristiwa yang sama? Misalnya ketika atasan kita di tempat kerja kesal dan menegur dengan keras karena kesalahan yang kita lakukan; kita bisa tetap tenang dan menerimanya. Tetapi ada orang lain yang mengalami hal sama merasa sakit hati dan marah karenanya.

Atau partner bisnis kita sering ingkar janji, kita bisa tetap tenang menghadapinya. Tetapi ada orang lain pada saat mengalami hal yang sama merasa kesal sehingga kemudian memutuskan tali silaturahmi dengan partnernya itu.

Kok bisa ya? Apa yang menyebabkan perbedaan respon tersebut?

Respon adalah cara kita menyikapi sesuatu. Sikap dan perilaku kita ternyata ditentukan oleh apa yang ada di hati kita. Jika hati kita dipenuhi kebaikan-kebaikan maka sikap dan perilaku kita juga penuh kebaikan. Tetapi sebaliknya, jika hati kita dipenuhi hal-hal yang buruk maka sikap dan perilaku kita juga penuh keburukan.

Begitulah potensi hati. Sangat dahsyat sehingga selalu mempengaruhi sikap dan perilaku kita. Karenanya kita tidak boleh sembarangan memasukkan semua hal ke dalam hati kita. Pilihlah hanya hal-hal kebaikan saja. Agar kita hanya bersikap dan berperilaku baik selama hidup kita yang tidak lama ini.

Lantas bagaimana caranya agar kita bisa memilih hal-hal baik saja yang masuk ke dalam hati kita? Caranya adalah dengan menentukan apa tujuan hidup kita.

Jika tujuan hidup kita untuk kebaikan tidak hanya diri kita sendiri tetapi juga orang lain maka hal-hal baiklah yang akan masuk ke dalam hati kita. Kita tidak mau mencoba memasukkan hal-hal buruk karena sadar bahwa itu akan membuat tujuan hidup kita tidak tercapai. Sementara jika tujuan hidup kita hanya untuk memuaskan ego diri sendiri tanpa mempedulikan hal lain, maka akan banyak hal-hal buruk yang masuk ke dalam hati kita.

Apakah cukup sampai di sini saja agar hati kita penuh kebaikan?

Ternyata belumlah cukup. Jika kita tidak yakin dengan tujuan hidup kita yang penuh kebaikan, maka kita tetap tidak mampu mencegah masuknya hal-hal buruk ke dalam hati kita. Kenapa demikian?

Kita yakin akan sesuatu hal artinya sesuatu itu sudah masuk dan tertanam di
hati kita. Dengan masuk dan tertanamnya sesuatu itu di hati kita, maka otomatis sesuatu itu akan mempengaruhi sikap dan perilaku kita. Misalnya ketika kita bersabar pada saat mendapatkan kendala di tempat kerja, hal itu terjadi karena kita yakin dengan bersabar kendala itu bisa lebih mudah teratasi. Selain itu dengan bersabar kemungkinan kita menyakiti orang lain jadi kecil dan kita tidak ingin menyakiti orang lain, karena kita yakin semakin jarang kita menyakiti orang lain maka akan semakin jarang orang lain itu menyakiti kita.

Jadi kita perlu untuk yakin akan tujuan hidup kita. Begitu kita yakin dengan tujuan hidup kita, artinya kita sangat menginginkan tujuan hidup kita itu tercapai, maka sikap dan perilaku kita akan selalu mendukung kepada tujuan hidup kita itu.

Pertanyaannya, sudahkah kita punya tujuan hidup? Dan apakah tujuan hidup kita itu penuh kebaikan? Sudah yakinkah kita dengan tujuan hidup kita itu?

#sarapankata
#day18
#kmoindonesia
#kmobatch12
#tujuanhidup
#kebaikan
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day46