POHON SIKAP/PERILAKU Part 2

Ketika kita ingin bisa memanen buah sabar, ikhlas, ringan tangan, memaafkan, dan sebagainya; hal pertama yang perlu dilakukan adalah menanam pohon sikap/perilaku itu. Bagaimana cara menanamnya?

Apa yang kita butuhkan ketika kita akan menanam pohon buah-buahan? Tentunya berbagai benih dari pohon tersebut. Benih dari pohon sikap/perilaku adalah berbagai kebenaran dari Alquran yang sudah kita tahu yang bisa memunculkan sikap/perilaku tersebut. Artinya akal kita sudah mau menerima berbagai kebenaran tersebut.

Misalnya, sikap sabar dihasilkan dari kebenaran-kebenaran: (1) ada transfer pahala ketika dizalimi, (2) Allah beserta orang sabar, dan (3) Allah hanya memberi yang kita butuhkan. No 1 sampai 3 adalah benih-benih yang perlu kita tanam agar sikap sabar bisa kita panen (muncul pada saat dibutuhkan).

Cara menanamnya adalah dengan menurunkan kebenaran-kebenaran tersebut dari akal ke hati. Atau saya menyebutnya berproses, melalui perenungan dan merasa-rasakan berbagai peristiwa yang Allah inginkan kita meresponnya dengan sabar, dilihat dari pandangan 3 kebenaran Alquran di atas.

Misalnya ketika dizalimi, segera renungkan melalui 3 kebenaran tersebut. O, saat itu sedang ada transfer pahala untuk kita. O, saat itu Allah sedang memberikan yang kita butuhkan. Dan, ingatlah bahwa Allah akan selalu beserta orang-orang sabar.

Agar pohon yang kita tanam benihnya itu tumbuh dengan subur, kita perlu memupuknya. Sehingga kita bisa memanen buah dengan kualitas yang kita inginkan. Cara memupuknya adalah dengan sering berproses. Karena semakin sering kita melakukan perenungan-perenungan, maka benih-benih itu semakin dalam tertanam di hati kita. Jika benih-benih itu sudah tertanam dengan mendalam di hati, maka buah sabar yang kita inginkan itu akan selalu muncul di saat kita butuhkan.

Masih bingung? Enggak apa-apa. Coba ulangi membacanya beberapa kali atau dm saya kalau ingin mendiskusikannya lebih jauh.

#tafakur
#kemampuankalbu
#dbas
#enlightenedheart
#MTBandung

 

POHON SIKAP/PERILAKU Part 1

Allah menciptakan alam ini tidak sekadar agar alam ini berputar dan berjalan dengan baik dan seimbang. Tetapi ternyata Dia menciptakan berbagai tumbuhan dan binatang juga untuk kita ambil pelajaran darinya.

Contohnya di dalam Alquran beberapa binatang dijadikan contoh untuk diambil pelajaran dari tingkah laku binantang tersebut. Misalnya lebah, binatang ternak, unta, burung gagak, laba-laba, dan semut.

Selain binatang, dari tumbuh-tumbuhan juga kita bisa mengambil pelajaran. Salah satunya adalah dari keberadaan pohon di dunia ini.

Pada saat menanam pohon, tentunya kita mempunyai tujuan. Kalau menanam pohon buah-buahan kita ingin mendapatkan hasil buah-buah tersebut untuk dinikmati dengan cara memakannya. Sementara kalau menanam bunga-bungaan kita ingin mendapatkan hasil bunga-bunga tersebut untuk dinikmati keindahan dan keharumannya.

Tentunya kita menginginkan buah atau bunga yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik. Buahnya terasa manis dan segar, enak dan legit, serta besar-besar. Sementara kalau bunga terlihat berwarna warni, indah dipandang mata, dan harum baunya.

Untuk menghasilkan buah dan bunga seperti itu, pohon tersebut harus memiliki akar yang kuat karena akarlah tempat dimana bahan-bahan dasar penghasil buah dan bunga itu dikumpulkan. Akarlah yang mengambil bahan-bahan itu dari dalam tanah. Semakin kuat dan dalam akar menghunjam tanah, maka semakin banyak dan baik bahan yang didapatkan.

Untuk menghasilkan akar yang kuat, kita perlu memupuk pohon itu. Semakin baik dan rutin kita memberi pupuk maka semakin kuatlah tumbuhnya akar pohon itu.

Pelajaran apa yang bisa diambil dari pohon yang saya ceritakan ini?

Ternyata sikap atau perilaku kita itu sama dengan buah atau bunga yang kita harapkan tumbuh ketika kita menanam pohon tersebut. Sikap atau perilaku apa saja yang ingin kita miliki selama ini? Banyak. Sabar, ikhlas, ringan tangan, selalu tersenyum, memaafkan, berkata-kata yang baik, tidak bergunjing, dan lain-lain.

Nah apa langkah pertama yang harus dilakukan? Yaitu menanam pohonnya. Menanam? Seperti apa menanam pohon sabar, ikhlas, ringan tangan, dan sebagainya itu?

InsyaAllah dilanjut di postingan berikutnya ya 😊

#tafakur
#kemampuankalbu
#dbas
#enlightenedheart
#MTBandung

INSIGHT QURAN DAY 7

PENCERAHAN DARI SI SAKIT

Setiap kali menjenguk mereka yang sakit, kita sering merasa sedih dan khawatir atas sakit yang mereka derita. Apalagi jika yang sakit adalah salah seorang terdekat kita dan sakitnya cukup parah. Ditambah lagi ketika melihat begitu berat dia menerima sakitnya itu.

Saya sedang mengalami hal itu sekarang. Bahkan ketika masih di rumah sedang bersiap-siap untuk menjenguknya, kesedihan itu sudah mulai terasa. Rasa kasihan akan sakit yang diderita seseorang tersayang di sana terbayang-bayang. Hati mulai khawatir dan gelisah dan jika terus diikuti air mata pun ikut turun membanjiri kedua pipi. Hati ini ini mengkerut jadinya. Bahagia menghilang dari sana.

Tiba-tiba saya seperti mendengar suara yang mengingatkan. Hei, bukan itu yang Allah mau. Bukan itu maksud Allah memberikan sajiannya kali ini untukmu. Tapi Dia sedang mengingatkanmu, kalau kamu suatu saat berada dalam posisi si sakit, apa yang akan kamu lakukan? Mengeluh, mengaduh, memprotes, bahkan menjadi sensitif gampang tersinggung dan marah-marah? Atau menerima dengan ikhlas dan sabar menghadapi sakitmu sambil terus berikhtiar dan berdoa serta tetap tenang dan tersenyum kepada siapapun?

Tentunya saya ingin melakukan apa yang Allah mau dan itu adalah pilihan yang kedua. Bukankah sakit adalah salah satu ujian Allah? Dan Allah, saking sayangnya kepada kita, Dia tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan kita, manusia sebagaimana tertulis dalam ayat yang terpilih untuk #insightQuran di Jumat pertama ini, Al-Baqarah ayat 286.

Dan Allah itu Maha Suci, tak mungkin ingkar janji. Jadi setiap Allah memberikan musibah kepada kita, pasti kita mampu menghadapinya.

Tapi … kok ada yang kelihatannya kepayahan dengan cara mengeluh, protes, putus asa, marah, bahkan bunuh diri? Artinya dia tidak mampu kan? Kalau begitu kenapa Allah masih juga memberikan ujian itu kepadanya?

Bukan Allah yang ingkar janji, melainkan dia belum mampu untuk menghadapinya. Karena dia belum atau sangat sedikit mengasah hatinya dimana seharusnya kemampuan itu berada.

Allah memberikan potensi yang sama lho untuk kita, manusia, akal dan hati. Potensi hati inilah kemudian jarang kita sadari yang justru sangat dibutuhkan pada saat ujian-ujian Allah menghampiri kita.

Jadi, jangan lupa untuk mengolah hati, mengisi hati kita dengan Alquran. Agar kita mampu menghadapi semua ujian yang disajikan Allah untuk kita.

#berbagikebaikan
#backtoquran
#albaqarah286
#enlightenedheart

INSIGHT QURAN DAY 6

Sudah berapa kali di hari kemarin kesabaran kita terusik dari sejak kita bangun tidur sebelum subuh?

Di saat membangunkan anak yang sulit dibangunkan. Ketika suami menegur kita dengan suara agak ketus. Sewaktu melihat hasil pekerjaan asisten rumah tangga yang tidak sesuai harapan. Pada saat mendengar kabar bahwa salah seorang tetangga menggunjingkan kita.

Ketika dalam perjalanan kita terjebak macet. Saat sebuah motor menyalip tiba-tiba kendaraan kita. Sewaktu atasan tidak menerima pekerjaan kita. Saat tim kita tidak mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik. Dan … masih banyak lagi.

Apakah semua itu mengusik kesabaran kita? Mungkin ada yang sudah mampu merasa tidak terusik ketika mengalami sebagian dari peristiwa-peristiwa di atas. Atau bisa jadi masih selalu terusik ketika mengalami semua itu.

Padahal kita ingin selalu bahagia. Bagaimana bisa keinginan itu tercapai jika berbagai peristiwa seperti di atas yang mungkin saja setiap harinya kita alami, selalu membuat kesabaran kita terusik? Kita jadi merasa sedih, kecewa, kesal, dan mungkin marah.

Padahal Allah memang akan selalu menguji kita untuk mengetahui kita ini baik atau tidak menurut-Nya, salah satunya melalui ujian kesabaran ini. Tapi Allah juga menjanjikan kebaikan/pahala yang lebih besar dari apa yang sudah diikhtiarkan bagi mereka yang bersabar. Dan yang lebih keren lagi, Allah akan selalu bersama kita jika kita bersabar seperti yang tertulis dalam 3 ayat yang terpilih untuk #insightQuran day 6 ini.

Betapa beruntungnya menjadi orang yang sabar. Siapa yang tidak mau dibersamai Sang Maha Segalanya setiap saat? Saya mau banget.

Sayangnya sabar tidak otomatis kita dapatkan begitu saja. Melainkan melalui proses perenungan yang terus-menerus. Dimana berbagai peristiwa tersebut kita pandang dalam sudut pandang Alquran yaitu sudut pandang yang baik menurut Allah. Atau kalau saya akan bertanya apa sih yang Allah ingin kita lakukan pada saat peristiwa-peristiwa itu terjadi.

Mau mampu bersabar? Sudahkah kita berproses untuk itu?

#tebarkebaikan
#muhammad31
#annahl96
#albaqarah153

INSIGHT QURAN DAY 5

Hari ini seharian saya ga kemana-mana. Allah sedang memberi kesempatan untuk mengistirahatkan raga dan peluruhan dosa, insyaAllah. Betapa baik-Nya! Terima kasih, ya Allah!

Dulu setiap kali kesempatan seperti ini datang, saya banyak ditemani oleh berhamburannya petanyaan-pertanyaan yang mencerminkan keluhan dan protes.

Kenapa kambuh terus? Kok enggak sembuh-sembuh? Padahal sudah menjaga makan, berobat ke dokter dan terapis, minum berbagai macam obat dan suplemen, berolahraga, dan tak lupa berdoa. Tapi masih kambuhan juga. Apa salah saya?

Sehingga saat itu saya merasakan sedih, kecewa, dan kesal. Perasaan yang sama sekali tidak nikmat. Saya dalam kondisi tidak bahagia.

Tetapi ketika saya mampu melihat kebaikan dan keberuntungan di balik sakit yang diderita, maka saya merasakan hal yang sama sekali berbeda. Saya merasa tenang dan tenteram. Saya merasa nikmat karenanya. Saya merasa bahagia.

Ahhh … Bahkan janji Allah di surat pertama yang terpilih untuk #insightQuran day 5 ini, segera saya terima setelah saya melakukan apa yang Allah inginkan. Dan saya rasa-rasakan, semakin banyak hal yang saya syukuri maka rasa nikmat yang dirasakan pun semakin banyak. MasyaAllah …

Ini baru kenikmatan di dunia, bagaimana kenikmatan di akhirat? Tidak ada yang tahu tapi yang pasti jauh lebih nikmat lagi. Seperti yang tertulis di surat pilihan ke dua hari ini.

Mau ditambah kenikmatan oleh Allah? Bersyukurlah terus untuk apapun yang datang kepada kita.

 

#sebarkebaikan
#janjiAllah
#ibrahim7
#assajdah17

Hari ini seharian saya ga kemana-mana. Allah sedang memberi kesempatan untuk mengistirahatkan raga dan peluruhan dosa, insyaAllah. Betapa baik-Nya! Terima kasih, ya Allah!

Dulu setiap kali kesempatan seperti ini datang, saya banyak ditemani oleh berhamburannya petanyaan-pertanyaan yang mencerminkan keluhan dan protes.

Kenapa kambuh terus? Kok enggak sembuh-sembuh? Padahal sudah menjaga makan, berobat ke dokter dan terapis, minum berbagai macam obat dan suplemen, berolahraga, dan tak lupa berdoa. Tapi masih kambuhan juga. Apa salah saya?

Sehingga saat itu saya merasakan sedih, kecewa, dan kesal. Perasaan yang sama sekali tidak nikmat. Saya dalam kondisi tidak bahagia.

Tetapi ketika saya mampu melihat kebaikan dan keberuntungan di balik sakit yang diderita, maka saya merasakan hal yang sama sekali berbeda. Saya merasa tenang dan tenteram. Saya merasa nikmat karenanya. Saya merasa bahagia.

Ahhh … Bahkan janji Allah di surat pertama yang terpilih untuk #insightQuran day 5 ini, segera saya terima setelah saya melakukan apa yang Allah inginkan. Dan saya rasa-rasakan, semakin banyak hal yang saya syukuri maka rasa nikmat yang dirasakan pun semakin banyak. MasyaAllah …

Ini baru kenikmatan di dunia, bagaimana kenikmatan di akhirat? Tidak ada yang tahu tapi yang pasti jauh lebih nikmat lagi. Seperti yang tertulis di surat pilihan ke dua hari ini.

Mau ditambah kenikmatan oleh Allah? Bersyukurlah terus untuk apapun yang datang kepada kita.

#sebarkebaikan
#janjiAllah
#ibrahim7
#assajdah17

INSIGHT QURAN DAY 4

Saat long weekend seperti ini, banyak dari kita yang mempergunakannya dengan berlibur menghabiskan waktu bersama keluarga. Untuk apa?

“Agar kedekatan dengan keluarga tetap terjaga dan menyegarkan kembali pikiran dari kejenuhan dan kesibukan sehari-hari di tempat kerja.”

Bagaimana ketika kita bekerja atau berbisnis? Untuk apa kita melakukan itu?

“Tentu saja untuk memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarga.”

Dalam hidup yang sebentar ini, apa sih yang sebetulnya ingin kita capai? Kalau kita inginkan tidak hanya dunia tetapi juga akhirat, apakah jawaban-jawaban di atas sudah mencerminkan ke sana?

Ternyata belum. Padahal alasan atau niat kita melakukan berbagai aktivitas menjadi penentu untuk itu. Hal yang sederhana tapi sering tidak kita sadari. Dan Allah sudah mengingatkan kita melalui dua ayat yang saya pilih untuk #insightQuran day 4 ini.

Kalau kemudian ada yang bertanya untuk apa kita makan makanan sehat dan bergizi, atau untuk apa berolahraga, sekarang kita sudah tahu jawabannya. Jawaban yang mengantarkan kita tidak hanya mendapatkan dunia saja melainkan akhirat juga.

Jadi … apa ya jawabannya?

#berbagikebaikan
#backtoquran
#huud15
#huud16

INSIGHT QURAN DAY 3

Pagi tadi ketika saya akan memulai suatu aktivitas yang sudah direncanakan sebelumnya karena DL-nya sudah dekat, tiba-tiba suami mengajak untuk membereskan ruang keluarga karena sudah mulai berantakan. Saya sempat ingin protes keberatan karena sudah punya rencana tadi. Tapi tiba-tiba saya teringat dengan 2 ayat Alquran yang kemudian saya jadikan untuk #insightQuran day 3 ini.

Tentunya ini adalah ujian ketidaknyamanan untuk saya. Dan Allah tidak ingin saya merespon ujian tersebut dengan memprotes kepada suami. Allah inginkan saya sabar memghadapinya. Akhirnya saya segera membereskan kembali perlengkapan untuk beraktivitas tadi. Dan saya memasang senyum sebelum kemudian menyusul suami untuk membantunya membereskan ruang tengah.

Rasanya? Jangan ditanya, luar biasa indahnya. Saya dan suami melakukan aktivitas bersama diselingi canda tawa. Pekerjaan terasa ringan dan menyenangkan, dan tak terasa segera selesai. Ruang keluarga rapih kembali dan suasana rumah tetap menyenangkan untuk semua. MasyaAllah 😍.

Lantas bagaimana dengan rencana aktivitas saya tadi yang DL-nya sudah dekat? Ketika saya memutuskan untuk mengikuti keinginan suami, saya hanya berpikir seperti ini. Kalau saya melewatkan DL memangnya saya kemudian jadi masuk neraka? Kan tidak. Justru ketika saya memprotes suami dan suami kesal, kemudian terjadi cekcok misalnya; itu bisa menyebabkan saya masuk neraka karena tidak lulus ujian Allah.

Jadi DL-nya terlewati? Ternyata tidak juga. Ketika aktivitas beres-beres itu hampis selesai, saya meminta izin sebentar untuk melakukan aktivitas tersebut. Alhamdulillah suami mengizinkan. Dan saya masih bisa mengejar untuk tidak melewati DL. MasyaAllah, semua terselesaikan tanpa harus membuat suasana menjadi panas dan tidak menyenangkan. Indah kah?

Percaya deh. Alquran tidak mungkin membuat kita sengsara. Bahkan membuat hidup ini semakin indah.

#oneweekonepost
#wifiregionbandung
#alanbiya35
#aliimran186

INSIGHT QURAN DAY 2

 

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman curhat tentang hal yang sedang membuatnya khawatir akhir-akhir ini. Dia khawatir dengan biaya sekolah yang semakin mahal. Sementara 3 anaknya masih kecil-kecil yang dalam waktu dekat mulai membutuhkan biaya untuk memenuhi pendidikannya.

Memang salah satu hal yang sering kita khawatir adalah rezeki. Kita khawatir sengsara karena kekurangan harta, tidak bisa membiayai pendidikan terbaik untuk anak-anak, tidak bisa memberikan tempat berlindung yang layak untuk keluarga, tidak mampu membiayai anak istri ketika sakit, tidak bisa hidup layak setelah pensiun, dan sebagainya.

Dengan berbagai kekhawatiran itu, justru membuat hidup kita jadi tidak bahagia. Kita merasa gelisah dan mudah curiga karena khawatir kehilangan harta kita. Mau seumur hidup seperti itu?

“Ya, enggak mau lah. Tapi apa bisa hidup tanpa rasa khawatir dan gelisah memikirkan rezeki kita?”

Sangat bisa. Yuk coba kita renungkan dua ayat yang saya pilih untuk day 2 #insightQuran ini. Ternyata Allah sudah menentukan rezeki kita, berapa jumlahnya dan dalam bentuk apa.

Dan karena Allah Maha Tahu, Dia tidak akan memberikan rezeki yang tidak kita butuhkan. Rezeki yang Dia berikan selalu sesuai dengan yang kita butuhkan baik jumlah maupun bentuknya. Jadi untuk apa lagi kita khawatirkan itu?

Yang terpenting bagi kita adalah tetap melakukan ikhtiar sungguh-sungguh di jalan Allah. Karena pada saat itulah kita dinilai oleh-Nya. Dan hasil penilaian-Nya itu akan ikut menentukan bagaimana kehidupan kita di akhirat kelak.

 

#sebarkebaikan
#day2
#alankabut62
#asysyura27

INSIGHT QURAN DAY 1

Ini adalah postingan saya di IG tadi malam. Tadinya tidak akan saya posting di sini. Tapi setelah saya baca lagi, karena tujuannya adalah untuk berbagi kebaikan, kenapa tidak? Siapa tahu ada yang berminat untuk melakukan hal sama. Yuk sama-sama kita berbagi kebaikan.

***

Hari pertama niat untuk posting #insightQuran baru bisa terlaksana mendekati tengah malam. Mata sudah 5 watt tapi tiba-tiba ada notifikasi IG dari Mas Rezky yang memposting day 2 #insightQuran nya. Jadi teringat janji saya di komen postingan day 1 dia untuk posting day 1 hari ini. So, let me try …

Hari ini Bandung diguyur hujan dua kali. Sekali di sore hari kemudian berhenti. Dan yang kedua di malam hari. Udara menjadi lebih sejuk dan suasana menjadi lebih rileks dan menenangkan. Siapa yang tidak suka dengan ketenangan? Rasanya jarang.

Hujan juga membuat kita terselamatkan dari kekeringan. Air untuk minum, mandi, dan mencuci berlimpah lagi. Tanaman sayur dan buah-buahan tumbuh subur. Lapangan rumput menghijau kembali menyediakan makanan bagi ternak untuk dimanfaatkan daging, susu, dan kotorannya. Dan salah satu waktu mustajab untuk berdoa. Pantas saja ada yang bilang hujan adalah rahmat.

Tapi kenapa sering kita mendengar orang mengeluh jika hujan turun? Jemuran jadi tidak kering. Perjalanan terganggu karena harus berteduh atau macet karena banjir. Badan meriang karena kehujanan. Rumah kebanjiran. Jadwal jd berantakan. Dsb.

Ternyata karena hanya orang yang “berpikir” sajalah yang mampu melihat besarnya rahmat Allah dari turunnya hujan. Sesuai yg tertulis di surat An-Nahl ayat 10 dan 11.

Kenapa saya sematkan tanda petik dlm kata “berpikir”? Karena aktivitas berpikir di sini bukanlah akal melainkan hati. Hanya hatilah yg mampu mencapai keberadaan rahmat Allah di kala turunnya hujan. Sehingga mereka yang menggunakan hatinya untuk berpikir itu tidak mengeluh ataupun mengomel melainkan bersyukur.

Saya mengajak teman-teman untuk berbagi kebaikan dengan posting tulisan seperti yang saya posting ini. Caranya pilih satu atau beberapa ayat dan maknai melalui tulisan. Jangan lupa pakai hashtag #insightQuran, kemudian mention. Lakukan selama 7 hari berturut-turut dan ajak teman-teman anda melakukan hal sama. Semoga kebaikan menjadi lebih menyebar dan kita terlibat di dalamnya. Dan semoga Allah ridho dengan apa yang kita lakukan ini. Aamiin …

#berbagikebaikan
#day1
#backtoquran
#annahl10
#annahl11

ALASAN EMOSIONAL

Cara lain untuk memupuk perasaan-perasaan positif adalah dengan menemukan alasan emosional. Seperti apakah itu? Yuk kita simak cerita di bawah ini.

Pada saat melihat ibu atau ayah kita, atau keduanya, yang sekarang tampak semakin tua dan lemah, atau bahkan mungkin sedang berjuang untuk kesembuhan sakitnya yang cukup parah; apa yang terasa? Apakah rasa sedih karena belum mampu membalas jasa-jasa mereka terhadap kita? Ataukah merasa menyesal karena selama ini terlalu disibukkan oleh pekerjaan atau bisnis dan keluarga kecil kita sehingga mereka terbengkalai tidak mendapatkan perhatian yang cukup?

Kemudian kita teringat akan perjuangan mereka melahirkan dan membesarkan kita dengan penuh kasih sayang. Terasa begitu besar kasih sayang mereka kepada kita. Apalagi ketika kita sudah mempunyai anak. Bagaimana perasaan kita terhadap anak kita, maka seperti itu jugalah perasaan mereka terhadap kita.

Saya teringat perjuangan ketika hamil terutama di 3 bulan pertama dengan morning sicknya. Juga 2 bulan terakhir ketika kehamilan sudah membesar. Membawa beban perut yang semakin berat, bukan hanya cepat lelah ketika berjalan lama dan sering sakit pinggang bagian belakang, tetapi juga ketidaknyaman ketika tidur. Serba salah menentukan tidur dalam posisi apa. Telentang terasa agak sesak nafas. Miring ke kiri atau kanan, jika terlalu lama juga terasa pegal. Apalagi ketika kontraksi mulai terasa sering datang.

Tetapi saya juga ingat, semua itu tidak terasa berat karena menyadari bahwa ada sesuatu yang kehadirannya sangat diharapkan di perut saya. Seorang anak.

Rasa sakit dan tidak nyaman ketika melahirkan menambah daftar perjuangan itu. Bagaimana sakitnya perut yang semakin lama semakin menjadi ketika persalinan semakin dekat. Dan tenaga yang dikeluarkan pada saat persalinan juga tidak sedikit. Tetapi semua itu hilang ketika terpandang anak yang didamba ada di pelukan.

Selesaikah perjuangan seorang ibu? Belum. Hari-hari selanjutnya direpotkan oleh tingkah sang bayi yang memang sedang membutuhkan banyak perhatian. Kurang tidur, telat makan, badan tidak terperhatikan adalah beberapa hal yang menemani hari-hari kita dengan bayi sampai usia 2 tahun ketika waktunya disapih.

Setelah itu, perjuangan dan kasih sayang ibu terus berlanjut seperti iuga kasih sayang dan perjuangan ayah. Bagaimana ayah berjuang untuk memberikan segala sesuatunya yang terbaik untuk kita. Makanan, baju, rumah, sekolah, hiburan terbaik untuk kita. Selalu berusaha menyenangkan dan mengabulkan keinginan kita.

Kasih sayang mereka tidak berhenti hingga kita dewasa dan berumah tangga. Saya ingat bagaimana khawatirnya mereka ketika saya sakit. Mereka sering berkunjung sambil membawakan makanan kesukaan saya. Dan yang pasti doa mereka tidak pernah putus setiap harinya untuk kita, seperti juga doa kita kepada anak-anak kita.

Ah, ternyata saya sangat menyayangi mereka. Saya ingin membuat mereka bahagia tidak hanya ketika mereka masih ada tetapi juga setelah meninggal dunia. Saya ingin mengajak mereka untuk semakin taat pada-Nya agar apa yang kuinginkan itu tercapai. Tapi itu sulit karena kemampuan saya hanya sebatas mengajak sementara menjadi taat ditentukan oleh diri mereka sendiri. Saya tidak bisa mengendalikan mereka untuk mau taat.

Ada satu cara lagi yang bisa saya lakukan yang bisa saya kendalikan. Yaitu menjadi anak perempuannya yang salihah. Dengan menjadi salihah saya bisa membantu mereka untuk mendapatkan amal saleh ketika nanti mereka sudah tiada. Pahala tetap mengalir untuk mereka atas doa yang saya panjatkan kepada Allah bagi mereka.

Untuk menjadi anak salihah artinya saya butuh untuk selalu taat kepada Allah. Taat kepada Allah tidak hanya menjalankan amalan fisik seperti salat, puasa, zakat, baca alquran, sedekah. Melainkan juga amalan hati seperti sabar, ikhlas, khusu’, dan berserahdiri atau disebut juga perasaan-perasaan positif.

Kalau amalan fisik, sebagian besar dari kita sudah terbiasa melakukannya sejak kecil dulu. Sayangnya tidak untuk amalan hati. Sepertinya masih perlu perjuangan untuk bisa melakukan amalan ini.

Tetapi karena saya merasakan keinginan yang demikian kuat untuk membahagiakan kedua orangtua, maka sayapun berikhtiar terus untuk mampu merasakan perasaan-perasaan positif tersebut. Itulah yang disebut sebagai alasan emosional dalam memupuk perasaan-perasaan positif kita.

Cerita di atas adalah alasan emosional saya. Apakah alasan emosional anda?

#sarapankata
#day27
#kmoindonesia
#kmobatch12
#alasanemosional
#memupukperasaanpositif
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day55