SELALU MERASA BERUNTUNG

Alkisah ada sepasang suami istri. Sang istri dilahirkan tidak sempurna, dia tidak mempunyai kaki. Pekerjaan mereka sehari-hari adalah berjualan makanan ringan yang biasa dijajakan di lapak sekitar pasar swalayan menengah. Pasar swalayan itu tidak terlalu dekat dari kamar kontrakan mereka, karena mereka harus mencari kontrakan yang murah. Di sekitar sana harga kamar kontrakan cukup tinggi tidak terbayar oleh penghasilan mereka sebagai penjual makanan ringan lapakan.

Setiap pagi sang suami menggendong sang istri sambil membawa sekarung besar makanan ringan yang sudah dibungkus plastik kecil ke sekitar pasar swalayan itu. Ketika memiliki cukup uang, mereka menggunakan jasa tukang becak menuju ke sana. Tetapi tidak jarang sang suami harus menggendongnya berjalan kaki dengan lama perjalanan tidak kurang dari setengah jam, karena kondisi keuangan mereka tidak memungkinkan untuk membayar ongkos becak.

Jika sedang beruntung, makanan ringannya terjual habis dan mereka bisa mengantungi cukup uang untuk makan, sedikit simpanan pembayaran kontrakan, dan ongkos becak. Tetapi jika hujan deras tiba-tiba turun setiba mereka di pasar swalayan atau salah seorang dari mereka sakit misalnya, maka kadang jualannya hanya sedikit bahkan tak satupun yang terjual.

Ketika ditanya apakah mereka tidak khawatir pada saat itu? Dengan menyungging senyum salah satu dari mereka menjawab,” Alhamdulillah, Allah sedang memberikan kesempatan badan untuk beristirahat sambil beribadah lain. Kalau tidak begini tidak ada waktu bagi kami untuk itu.”

Rupanya mereka biasanya menunggu hujan berhenti atau menghabiskan waktu ketika sakit dengan membaca Quran atau berdzikir. Lantas bagaimana dengan makan dan kebutuhan lain jika jualannya tidak laku?

“Alhamdulillah, selalu ada yang bisa dimakan atau diminum walau hanya sedikit,”jawabnya lagi. “Bahkan jika tidak ada sekalipun, tetap kami syukuri karena kami masih diberi kesempatan untuk beribadah dan memohon ampunan-Nya.”

MasyaAllah! Dan memang selama ini ada saja rezeki yang mereka terima ketika membutuhkan sesuatu. Entah dari pemberian tetangga, atau pembeli setianya, bahkan orang yang tak dikenal.

Itu mereka. Dengan kondisi minim tetap selalu merasa beruntung. Bagaimana dengan kita?

Kita memiliki pekerjaan atau bisnis yang jauh lebih baik dari mereka. Kita memiliki tempat tinggal yang lebih layak. Kita atau pasangan kita memiliki tubuh yang lebih sempurna. Tapi diberi sedikit saja ketidaknyaman, seperti ditegur atasan, omset turun, tim agak berulah, partner/pelanggan yang tidak sesuai harapan; maka kecewa, khawatir, gelisah, kesal, bahkan marah kita rasakan.

Ternyata hidup berkualitas bukan ditentukan oleh siapa atau apapun itu di luar kita. Melainkan pilihan. Diri kitalah yang memilih untuk selalu merasa beruntung atau tidak. Seminim apapun kondisi kita, jika kita memilih untuk selalu merasa beruntung maka perasaan-perasaan positif akan lebih sering bahkan selalu hadir dibandingkan perasaan-perasaan negatif. Maka hidup berkualitas dapat kita raih.

Jadi mau memilih yang mana? Selalu merasa beruntung atau sebaliknya? Jika inginkan hidup yang berkualitas, kita sudah tahu apa yang harus dipilih.

#sarapankata
#day26
#kmoindonesia
#kmobatch12
#selalumerasaberuntung
#memupukperasaanpositif
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day54

M E M A A F K A N

Pernahkah kita melakukan kesalahan? Kemudian ketika menyadarinya kita merasa menyesal? Misalnya ketika kita mengirimkan proposal tidak sesuai dengan yang diinginkan calon partner sehingga dia membatalkan keinginan kerjasamanya. Kita tidak teliti pada saat itu.

Kemudian atasan menegur kita bahkan pandangan teman satu timpun seolah menyalahkan kita. Kita merasa bersalah dan menyesal. Rasa sedih dan mungkin kesalpun terasa. Hati kita mengkerut jadinya.

Apa yang kita harapkan setelah itu? Kita ingin dimaafkan karena telah melakukan kesalahan itu. Betul? Dan ketika kita sudah dimaafkan, bagaimana rasanya? Ya, lega dan senang. Hati kita mengembang segera. Pada saat itu kita juga hanya ingin melakukan hal-hal yang baik. Karena perasaan positif sedang melingkupi kita.

Sebaliknya, ketika orang lain melakukan kesalahan yang membuat kita merasa kecewa, kesal, bahkan marah. Pada saat itu hati kita mengkerut. Perasaan negatiflah yang menguasai. Rasa tidak enakpun merebak.

Tentu saja kita ingin rasa tidak enak itu berganti menjadi rasa nikmat. Bagaimana caranya? Apakah dengan mengomel dan memarahi si pembuat kesalahan? Tidak. Justru kita semakin merasa tidak enak, apalagi ketika dia memperlihatkan seolah-olah tidak menyesal.

Jadi, apa yang bisa kita lakukan untuk menghilangkan rasa tidak enak itu? Coba lakukan sebaliknya. Maafkanlah dia. Pada saat memaafkan kita menerima kesalahannya yang sudah terjadi. Coba rasakan bagaimana hati kita saat itu. Hati kita menjadi lega dan tenang.

Tidak hanya itu. Solusi untuk permasalahan yang hadir karena kesalahan itupun segera terpikirkan. Tak perlu diungkit-ungkit lagi peristiwa kesalahannya. Melainkan lakukanlah langkah selanjutnya. Apakah dengan memperbaiki sistem internal yaitu proses mengajukan proposal. Atau juga menerapkan sanksi tertentu jika hal tersebut terjadi lagi.

Semua merasa lega dan senang. Suasana kerja menjadi menyenangkan. Pekerjaan bisa dilakukan dengan lebih baik. Karena perasaan positif tetap terjaga.

Ada satu lagi aktivitas memaafkan yang perlu dilakukan untuk memupuk perasaan positif. Kalau tadi memaafkan orang lain, yang satu ini adalah memaafkan diri sendiri.

Memang tidak cukup ya dengan dimaafkan oleh orang lain ketika kita melakukan kesalahan? Ternyata ketika kita berbuat salah, justru seringkali diri kita sulit untuk menerima dan memaafkan kesalahan kita itu. Padahal orang lain sudah memaafkan kita. Tapi hati ini masih mengkerut, masih merasa kecewa dan kesal.

Kenapa saya sebodoh itu? Coba kalau kemarin saya lebih teliti, tentu ini tidak terjadi. Tentu kerjasama yang menguntungkan itu terlaksana. Begitu mungkin hati kita berkeluh kesah ketika belum memaafkan diri kita sendiri.

Bagaimana kita bisa meningkatkan kualitas hidup kita, jika sering seperti itu? Ayolah bergerak maju. Jangan terpaku di masa lalu. Maafkanlah diri kita sambil berjanji untuk memperbaikinya. Begitu hal itu kita lakukan, hati segera mengembang. Karena rasa lega dan tenang yang datang menggantikan kecewa dan kesal.

Lagipula apa kita lupa, segala sesuatu yang terjadi pada kita walaupun hal yang tak diinginkan, pasti ada hikmah di baliknya. Apakah itu membuat kita menyadari kelemahan kita, atau membuat kita semakin kuat dalam menghadapi berbagai hal yang tak diinginkan di masa mendatang. Kalau kejadian itu tidak kita alami bagaimana kita bisa tahu kelemahan kita dan memiliki kesempatan untuk memperbaikinya? Bagaimana kita bisa kuat jika tidak pernah merasakan atau terbiasa dengan ketidaknyamanan?

Maka cobalah menerima dengan memaafkan diri kita dan orang lain.

#sarapankata
#day25
#kmoindonesia
#kmobatch12
#oneweekonepos
#wifiregionbandung
#memaafkan
#memupukperasaanpositif
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day53

T E R S E N Y U M

Untuk meningkatkan kualitas hidup yang sebagian besar dihabiskan di tempat kerja dan bisnis, kita perlu berikhtiar. Ikhtiar itu berupa memupuk perasaan-perasaan positif yang kita butuhkan dan menghilangkan atau paling tidak meminimalkan perasaan-perasaan negatif. Kemarin kita sudah mengetahui dan mungkin sudah mencoba juga cara untuk mengetahui perasaan-perasaan apa saja, kapan terjadinya, dan kenapa perasaan itu muncul.

Jika kita bicara perasaan, maka hatilah yang terlibat. Karena hanya hati yang mampu merasakan. Kerja hatilah yang membuat perasaan-perasaan itu muncul. Dengan demikian hatilah yang perlu kita olah agar perasaan-perasaan positif itu selalu muncul pada saat kita butuhkan.

Pada saat kapan sih perasaan-perasaan positif itu biasanya muncul? Coba cek lagi hasil dari pengisian tabel kemarin. Kalau ditelusuri adalah ketika hati sedang terbuka atau mengembang karena ada sesuatu yang kita sukai atau inginkan terjadi. Pada saat itu hati tersenyum dan bahkan mulut kitapun terpengaruh dengan menyunggingkan senyum juga. Coba deh ingat-ingat, pada saat sesuatu yang kita sukai atau inginkan terjadi, biasanya kita secara tidak sadar berjalan atau mengerjakan pekerjaanpun sambil senyum-senyum sendiri. Iya kan?

Nah, ternyata sebaliknya, pada saat mulut kita tersenyumpun bisa mempengaruhi hati kita. Tentu saja rasa senang harus hadir juga. Sehingga ketika mulut menyungging senyum, hati ikut tersenyum.

Caranya sangat mudah. Ketika sedang merasa kecewa, khawatir, gelisah, sedih, kesal misalnya; alihkan perhatian kita kepada hal-hal yang membuat kita senang atau yang kita sukai. Apakah dengan mengingat tingkah laku anak kita, mengobrol santai dengan sahabat kita, mengajak peliharaan kita bermain, memasak, membaca buku ringan dan menghibur, dan sebagainya.

Kita jadi tersenyum karenanya. Dan hal itu bisa memupuk perasaan-perasaan positif kita semakin sering terasa. Sementara perasaan-perasaan negatif kita semakin jarang terasa.

Tapi apa kita harus melakukan pengalihan perhatian terus-menerus supaya semakin berkualitas hidup ini? Bagaimana permasalahan yang sudah membuat kita berperasaan negatif? Tidak mungkin kita biarkan begitu saja tanpa ikhtiar untuk menyelesaikannya. Dan ketika hati kita kembali ke permasalahan itu untuk berikhtiar menyelesaikannya, perasaan-perasaan negatif menguasai lagi. Bukan hanya membuat hati kita mengkerut dan terasa tidak enak, perasaan-perasaan itu juga menghambat kita menyelesaikan lebih cepat permasalahan tersebut.

Jadi apa yang harus kita lakukan?

Tersenyum baru satu cara paling sederhana yang bisa kita lakukan untuk memupuk perasaan-perasaan positif itu. Semakin berat permasalahannya maka
bisa jadi semakin sulit bahkan tidak bisa lagi kita menggunakan cara ini.

Tapi tenang. Masih ada beberapa cara lagi yang bisa kita lakukan untuk itu. Cara apa saja?

Kalau mau tahu, baca tulisan saya lagi di sini besok ya. InsyaAllah …

#sarapankata
#day24
#kmoindonesia
#kmobatch12
#tersenyum
#memupukperasaanpositif
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day52

KENALI DIRI 5

Ketika sudah mengetahui hasil dari The Wheel of Work Life Balance, kita perlu melakukan satu langkah lagi sebelum mencari tahu dan menerapkan bagaimana cara memupuk perasaan-perasaan positif dan meminimalkan perasaan-perasaan negatif. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui kapan perasaan-perasaan itu muncul dan kenapa perasaan itu yang kita rasakan pada saat itu .

Caranya dengan membuat tabel yang terdiri dari 3 kolom dan 15 baris. Kolom pertama dengan judul “Perasaan-perasaan” untuk 7 perasaan positif dan 7 perasaan negatif dituliskan per barisnya ke bawah. Kolom kedua diberi judul “Peristiwa” dan kolom ketiga diberi judul “Alasan”.

Di setiap baris dalam kolom “Peristiwa” diisi oleh peristiwa-peristiwa apa saja yang membuat kita merasa ke 14 perasaan itu. Isilah masing-masing kotak sebanyak yang diingat. Kemudian di setiap baris dalam kolom “Alasan” diisi oleh apa yang menyebabkan perasaan-perasaan itu ada di setiap peristiwa yang kita alami.

Contohnya untuk kotak pertemuan antara “Kekhawatiran” dengan “Peristiwa” diisi dengan kapan sih kita merasakan kekhawatiran pada saat bekerja, berkarya, dan berbisnis itu? Misalnya (1) ketika sedang melakukan suatu program atau proyek dengan tim, (2) ketika menyerahkan laporan hasil kerja kepada atasan, (3) ketika keberhasilan diperoleh, dsb.

Kemudian di kotak sebelah kanannya diisi dengan kenapa kekhawatiran itu kita rasakan. Misalnya (1) khawatir proyek atau programnya gagal karena kemampuan tim yang kurang memadai, (2) khawatir atasan kecewa, kesal, atau marah karena laporan hasil kerja tidak sesuai harapannya, (3) khawatir keberhasilan tersebut “direbut” oleh pihak lain di masa mendatang, dsb.

Atau untuk kotak pertemuan antara “Kekecewaan” dengan “Peristiwa” diisi dengan misalnya (1) ketika partner tidak menepati janji, (2) ketika penjualan tidak mencapai target, (3) ketika pelanggan melayangkan komplain, dsb. Dan di kotak sebelah kanannya diisi dengan (1) berharap partner selalu menepati janji, (2) berharap penjualan selalu mencapai target, (3) berharap pelanggan selalu puas dengan produk dan layanan kita, dsb.

Dengan mengisi semua kotak-kotak yang masih kosong di tabel yang saya sebut sebagai Tabel Perasaan, Peristiwa, dan Alasan itu, akan memudahkan kita untuk mengetahui dan menerapkan bagaimana cara memupuk perasaan-perasaan positif dan meminimalkan perasaan-perasaan negatif di diri kita. Seperti apa cara memupuknya? Dan bagaimana menerapkannya? Yuk, kita sama-sama cari tahu besok pagi, insyaAllah …

#sarapankata
#day23
#kmoindonesia
#kmobatch12
#kenalidiri
#tabelperasaanperistiwadanalasan
#wheelofworklifebalance
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day51

KENALI DIRI (4)

Sesuai janji kemarin, tulisan saya hari ini akan membahas tentang apakah perlu berganti bidang karir, pekerjaan, atau bisnis ketika diketahui karier atau pekerjaan kita ternyata tidak cocok dengan profil keseharian kita? Bagusnya memang berganti, namun kadang kita tidak bisa begitu saja meninggalkan karier, pekerjaan, atau bidang bisnis kita dan mencari yang baru. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan apalagi jika kita sudah berkeluarga atau menjadi tulang punggung keluarga.

Karena itu mari kita coba cara yang keempat untuk mengenali diri.

Saya menyebut cara ini sebagai The Wheel of (Work) Life Balance. Kenapa kata “work” ditempatkan di dalam tanda kurung? Karena sebetulnya cara ini tidak hanya bisa digunakan ketika kita berurusan dengan pekerjaan atau bisnis kita, melainkan juga bisa dipergunakan untuk semua hal dalam kehidupan kita.

Cara ini merupakan adaptasi dari cara yang dikemukakan oleh Seph Fontane Pennock dan Hugo Alberts dalam artikelnya yang berjudul “The Wheel of Life”. Di artikelnya itu mereka menawarkan cara bagaimana seseorang bisa mengetahui kepuasan atau ketidakpuasan dalam beberapa hal penting di hidupnya. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan rasa kepuasan hidup orang tersebut.

The Wheel of (Work) Life Balance merupakan lingkaran yang terbagi ke dalam 14 bagian. 7 bagian di kiri lingkaran adalah perasaan-perasaan negatif yang bisa kita rasakan pada saat bekerja, berkarya, dan berbisnis. Sementara 7 bagian di kanan lingkaran adalah perasaan-perasaan positifnya.

Positif di sini artinya bahwa semakin sering kita merasakan perasaan-perasaan ini, maka semakin tenang dan tenteram hati kita atau semakin bahagia. Negatif artinya bahwa semakin sering kita merasakannya, maka semakin sering ketidakbahagiaan akan kita rasakan.

7 bagian di kiri lingkaran adalah:
1. Kekhawatiran
2. Kegelisahan
3. Kekecewaan
4. Kesedihan
5. Ketidakperdulian
6. Kemarahan
7. Keputusasaan

7 bagian di kanan lingkaran adalah:
1. Kesabaran
2. Keikhlasan
3. Kepasrahan/keberserahdirian
4. Keperdulian
5. Kepuasan
6. Keyakinan
7. Ketenangan

Angka 1 sampai dengan 10 yang ada di setiap bagian merupakan hasil penilaian diri seberapa sering perasaan-perasaan itu dirasakan pada saat bekerja, berkarya, dan berbisnis. 1 artinya tidak pernah merasakan dan 10 artinya selalu merasakan hal tersebut.

Caranya sangat mudah, kita tinggal melakukan penilaian seberapa sering perasaan-perasaan di setiap bagian dirasakan pada saat bekerja, berkarya, atau berbisnis. Kemudian tandai angka di bagian tersebut sesuai hasil penilaian itu.

Hasilnya akan memperlihatkan perasaan-perasaan apa saja yang dominan dirasakan pada saat kita bekerja, berkarya, atau berbisnis. Biasanya jika bagian kanan hasil penilaiannya tinggi maka bagian kiri rendah, dan sebaliknya. Dari hasil itu kita akan tahu perasaan-perasaan mana saja yang perlu dimunculkan dan perasaan-perasaan mana saja yang perlu dihilangkan.

Nah, setelah kita mengetahui perasaan-perasaan mana saja yang perlu kita pupuk dan perasaan-perasaan mana saja yang perlu kita hilangkan, maka sekarang tinggal mencari tahu dan menerapkan bagaimana cara memupuk dan menghilangkannya. Mau tahu?

Cek postingan saya besok ya, insyaAllah …

#sarapankata
#day22
#kmoindonesia
#kmobatch12
#kenalidiri
#teskepribadian
#wheelofworklifebalance
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day50

KENALI DIRI (3)

Kalau kita merasa belum juga mengenali diri karena belum yakin dengan hasil dari dua cara pertama, maka ada cara ketiga. Cara ketiga ini memang terasa lebih meyakinkan karena kita nanti didampingi oleh seseorang atau beberapa orang yang ahli di bidangnya. Yaitu tes kepribadian berbayar dimana kita harus bertemu langsung dengan ahli yang menyelenggarakannya untuk melakukan (berbagai) aktivitas sebagai bentuk tesnya.

Tidak sedikit penyelenggara yang menawarkan tes kepribadian berbayar ini. Mahal? Tergantung test apa yang kita pilih. Semakin rumit dan banyak melibatkan ahli di dalamnya maka semakin mahal harganya. Boleh juga kita cari yang nyaman di kantong. Salah satu yang pernah saya ikuti adalah Tes Stifin.

Menurut Farid Poniman dalam buku yang berjudul “Stifin Personality: Mengenali Mesin Kecerdasan Anda”, Tes Stifin adalah tes yang dilakukan dengan cara men-scan kesepuluh ujung jari. Tujuannya adalah untuk mengenali jati diri seperti apa sih kita ini. Hal-hal apa saja yang kita yakini, kemampuan apa yang kita miliki, pekerjaan apa yang cocok untuk kita, dan yang terpenting dalam kondisi apa kira merasa nyaman.

Kenapa menggunakan sidik jari? Sidik jari kita ternyata mampu memberikan informasi tentang komposisi susunan syaraf sehingga bisa diketahui ciri-ciri dominan yang kita miliki. Dari ciri-ciri dominan inilah bisa membuat kita mengetahui jati diri atau kepribadian kita.

Ada 5 tipe kepribadian dari Tes Stifin ini yaitu Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, dan Insting. Ke 5 tipe kepribadian ini memiliki chemistry atau ketertarikan yang berbeda yaitu Sensing kepada “harta”, Thinking kepada “tahta”, Intuiting kepada “kata”, Feeling kepada “cinta”, dan Insting kepada “bahagia”.

Karakter atau profil keseharian masing-masing tipe kepribadianpun berbeda. Jika ingin mengetahui secara rinci silakan dibaca saja bukunya. Saya akan memberikan contoh salah satunya saja yaitu tipe Feeling.

Profil keseharian tipe Feeling adalah sebagai berikut:
1. Lebih menggunakan perasaan.
2. Ingin menyenangkan orang lain.
3. Mencari keharmonisan.
4. Ingin selalu mempimpin.
5. Pertimbangannya berdasarkan kasih sayang.
6. Menghargai perasaan orang lain.
7. Mengambil keputusan dengan mempertimbangkan akibatnya terhadap orang lain.
8. Hangat dan ramah kepada orang lain.
9. Pandai berempati.
10. Bekerjasama di komunitas sosial yang baik.
11. Menghindari argumen, konflik dan konfrontasi.
12. Perasaan mereka mudah sakit dan dendam.
13. Memulai dengan pembicaraan kecil.
14. Bertanya jika memungkinkan.
15. Mampu menunjukkan kekaguman dan emosional.
16. Kurang memiliki ketegasan menuntut hak.
17. Menggunakan banyak kata-kata berharga.
18. Sering menggunakan nama orang lain.
19. Lebih seperti sikap wanita (peluangnya 65%).

Karir atau pekerjaan yang cocok bagi tipe Feeling adalah: politisi, trainer/inspirator, motivator, psikolog, psikiater, counselor, ideolog, negarawan, personalia, lawyer, budayawan, diplomat, humas, salesman, seniman, dll.

Kemudian masing-masing tipe kepribadian bisa dibagi menjadi 2 tipe berdasarkan hal apa yang mendorong dia untuk melakukan sesuatu, kecuali untuk tipe Insting. Jika dorongan itu datangnya dari dalam dirinya maka dia bertipe Introvert, tetapi jika dorongan itu datangnya dari luar dirinya maka dia bertipe Ekstrovert. Sehingga jika kita mengikuti Test Stifin ini di belakang tipe hasil test itu disematkan huruf I (untuk introvert) atau E (untuk ekstrovert).

Nah, dari profil keseharian dan karier atau pekerjaan yang cocok, barangkali bisa menjadi pertimbangan kenapa kok selama ini kita sering merasa kecewa, gelisah, khawatir, kesal, dan marah pada saat bekerja atau berbisnis.

Jadi artinya kita perlu berganti pekerjaan ya?

Tunggu dulu. Siapa tahu bukan hal itu yang menjadi masalah melainkan hal lain lagi. Kita bahas tentang itu besok ya. InsyaAllah …

Btw, ada yang tahu kenapa tipe Feeling yang dijadikan contoh di tulisan ini?

#sarapankata
#day21
#kmoindonesia
#kmobatch12
#kenalidiri
#teskepribadian
#stifin
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day49

KENALI DIRI (2)

Cara kedua untuk mengenali diri adalah dengan mengikuti tes kepribadian yang banyak ditawarkan. Wah, kan mahal biayanya?

Tenang, ada kok yang murah. Hanya membutuhkan sedikit paket data untuk menggunakan internet setengah sampai satu jam. Waktu yang dibutuhkan tergantung dari tes kepribadian mana yang dipilih dan berapa tes kepribadian yang kita ikuti.

Saya baru saja mencoba 2 tes kepribadian melalui internet. Kenapa 2 bukan 1 tes saja? Untuk memastikan bahwa karakter/ciri-ciri saya mendekati kenyataan. Kalau hasil kedua tes mirip artinya ciri-ciri di hasil tersebut mendekati ciri-ciri yang saya miliki dalam kenyataan. Tetapi jika berbeda berarti ada yang salah, entah tesnya yang kurang akurat atau saya yang mengerjakannya kurang serius.

Tes pertama yang saya pilih adalah Tes Kepribadian DISC yang ditawarkan oleh website http://ekrut.com/tests/disc. Tes ini bertujuan untuk mengetahui kepribadian DISC dengan mudah yaitu mencari tahu bagaimana faktor DISC (Dominance, Influence, Steadiness dan Compliance) mempengaruhi perilaku kita terhadap sesama dan keseharian kita.

Saya diminta untuk mengerjakan 24 kelompok pernyataan. Satu kelompok terdiri dari 4 pernyataan. Dari 4 pernyataan tersebut saya diminta memilih 2 pernyataan, 1 yang paling mewakili dan 1 yang paling tidak mewakili diri saya.

Dan hasilnya adalah saya seorang convincer/persuader/promoter dengan ciri-ciri sebagai berikut: antusias, optimis, pandai berbicara; ceroboh, tidak konsisten dan tidak teratur, namun berusaha terlihat hebat dan menyenangkan orang lain; ingin mendapat pengakuan dan nama baik; takut kehilangan status sosial dan konflik.

Tes kedua adalah Tes Kepribadian Sanguin, Koleris, Melankolis, dan Plegmatis yang ditawarkan oleh website https://www.quibblo.com/quiz/gT2G–d/Tes-Kepribadian-Sanguin-Koleris-Melankolis-atau-Plegmatis.

Di tes kedua ini saya diminta mengerjakan 40 kelompok pernyataan dimana 20 pernyataan tentang kelemahan dan 20 sisanya tentang kekuatan saya. Dan hasilnya adalah sanguinis atau influencer.

Ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
1. Kekuatan:
a. Suka bicara
b . Secara fisik memegang pendengar, emosional dan demonstratif
c. Antusias dan ekspresif
d. Ceria dan penuh rasa ingin tahu
e. Hidup di masa sekarang
f. Mudah berubah (banyak kegiatan / keinginan)
g. Berhati tulus dan kekanak-kanakan
h. Senang kumpul dan berkumpul (untuk bertemu dan bicara)
i. Umumnya hebat di permukaan
j. Mudah berteman dan menyukai orang lain
k. Senang dengan pujian dan ingin menjadi perhatian
l. Menyenangkan dan dicemburui orang lain
m. Mudah memaafkan (dan tidak menyimpan dendam)
n. Mengambil inisiatif/ menghindar dari hal-hal atau keadaan yang membosankan
o. Menyukai hal-hal yang spontan

2. Kelemahan:
a. Suara dan tertawa yang keras (terlalu keras)
b. Membesar-besarkan suatu hal / kejadian
c. Susah untuk diam
d. Mudah ikut-ikutan atau dikendalikan oleh keadaan atau orang lain (suka nge-Gank)
e. Sering minta persetujuan, termasuk hal-hal yang sepele
f. RKP! (Rentang Konsentrasi Pendek)
g. Dalam bekerja lebih suka bicara dan melupakan kewajiban (awalnya saja antusias)
h. Mudah berubah-ubah
i. Susah datang tepat waktu jam kantor
j. Prioritas kegiatan kacau
k. Mendominasi percakapan, suka menyela dan susah mendengarkan dengan tuntas
l. Sering mengambil permasalahan orang lain, menjadi seolah-olah masalahnya
m. Egoistis
n. Sering berdalih dan mengulangi cerita-cerita yg sama
o. Konsentrasi ke “How to spend money” daripada “How to earn/save money”.

Ternyata mirip ya hasil kedua tes tersebut? 😄

Perlu disadari, tes tersebut hanyalah buatan manusia, keakuratannya tidak sempurna. Tetapi cukup membantu kita mengenali seperti apa sih diri kita ini. Sehingga kita bisa berfokus kepada meningkatkan kekuatan dan mengatasi kekurangan yang kita miliki.

#sarapankata
#day20
#kmoindonesia
#kmobatch12
#kenalidiri
#teskepribadian
#karakterdiri
#ciridiri
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day48

KENALI DIRI

Ketika kita ingin berhasil di suatu bidang apakah itu dalam bekerja maupun berbisnis, kita perlu mengenali diri sendiri. Dan ingat keberhasilan yang dimaksud tentunya tidak melulu dari pencapaikan berupa kenaikan pendapat atau omset, kenaikan jabatan atau peringkat bisnis, dan semakin populernya diri serta bisnis kita. Melainkan juga keberhasilan dalam membuat hidup ini lebih berkualitas secara jiwa dan raga.

Mengenali diri adalah mengetahui dan menyadari kelebihan dan kekurangan diri kita. Sehingga ketika kita sudah kenal akan diri kita, kita bisa mencari solusi apa yang membuat keberhasilan yang kita inginkan ini masih belum juga tercapai.

Ada beberapa cara untuk mengenali diri. Cara pertama ini menurut saya adalah cara yang paling mudah. Caranya dengan mencari nilai-nilai apa saja yang hadir pada saat kita mengalami keberhasilan tertinggi kita di masa lalu. Dan mencari nilai-nilai apa saja yang tidak ada pada saat kita mengalami keterpurukan terendah di masa lalu. Batasi masing-masing 3 nilai saja.

Nilai-nilai di sini maksudnya adalah sikap, perasaan, keyakinan yang kita miliki, seperti antusias, jujur, sabar, rajin, ikhlas, mau belajar, berserah diri, berani, penuh perhitungan, inovatif, dan sebagainya. Contoh untuk nilai-nilai yang hadir ketika keberhasilan datang adalah ketika saya mampu menyelesaikan 2 naskah buku solo dalam jangka waktu 2 bulan, saat itu saya sedang MEMEGANG (memiliki) 3 nilai utama yaitu antusias, mau belajar, dan sabar.

Sementara ketika saya mengalami sakit pencernaan yang parah untuk pertama kalinya dan berlangsung lama atau sulit sembuh, saat itu saya sedang TIDAK memegang 3 nilai utama yaitu penuh perhitungan, mau belajar, dan ikhlas. Ini adalah contoh dari nilai-nilai yang tidak ada pada saat saya mengalami
keterpurukan.

Dari dua pencarian itu saya menemukan 5 nilai yang jika saya pegang maka keberhasilan bisa saya raih. Ke 6 nilai itu adalah antusias, mau belajar, sabar, penuh perhitungan, dan ikhlas. Sehingga kemudian setiap saya berikhtiar untuk mencapai suatu keinginan, saya akan memegang ke 5 nilai ini agar kesempatan untuk mencapai kebehasilan semakin tinggi.

Apakah hal ini bisa memastikan saya berhasil mencapai berbagai keinginan saya? Tidak
juga. Masih ada beberapa cara lagi yang bisa kita lakukan yang membantu kita mendapatkan kesempatan untuk meraih keberhasilan. Selain perlu disadari tentu saja adanya ketentuan Allah juga yang ikut bermain di sini.

Tapi silakan coba dulu cara pertama ini sebelum kita berlanjut ke cara lainnya.

#sarapankata
#day19
#kmoindonesia
#kmobatch12
#kenalidiri
#nilai
#values
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day47

TUJUAN HIDUP

Pernahkah kita merasa heran ketika melihat atau mendengar seseorang merespon berbeda dengan kita pada saat mengalami peristiwa yang sama? Misalnya ketika atasan kita di tempat kerja kesal dan menegur dengan keras karena kesalahan yang kita lakukan; kita bisa tetap tenang dan menerimanya. Tetapi ada orang lain yang mengalami hal sama merasa sakit hati dan marah karenanya.

Atau partner bisnis kita sering ingkar janji, kita bisa tetap tenang menghadapinya. Tetapi ada orang lain pada saat mengalami hal yang sama merasa kesal sehingga kemudian memutuskan tali silaturahmi dengan partnernya itu.

Kok bisa ya? Apa yang menyebabkan perbedaan respon tersebut?

Respon adalah cara kita menyikapi sesuatu. Sikap dan perilaku kita ternyata ditentukan oleh apa yang ada di hati kita. Jika hati kita dipenuhi kebaikan-kebaikan maka sikap dan perilaku kita juga penuh kebaikan. Tetapi sebaliknya, jika hati kita dipenuhi hal-hal yang buruk maka sikap dan perilaku kita juga penuh keburukan.

Begitulah potensi hati. Sangat dahsyat sehingga selalu mempengaruhi sikap dan perilaku kita. Karenanya kita tidak boleh sembarangan memasukkan semua hal ke dalam hati kita. Pilihlah hanya hal-hal kebaikan saja. Agar kita hanya bersikap dan berperilaku baik selama hidup kita yang tidak lama ini.

Lantas bagaimana caranya agar kita bisa memilih hal-hal baik saja yang masuk ke dalam hati kita? Caranya adalah dengan menentukan apa tujuan hidup kita.

Jika tujuan hidup kita untuk kebaikan tidak hanya diri kita sendiri tetapi juga orang lain maka hal-hal baiklah yang akan masuk ke dalam hati kita. Kita tidak mau mencoba memasukkan hal-hal buruk karena sadar bahwa itu akan membuat tujuan hidup kita tidak tercapai. Sementara jika tujuan hidup kita hanya untuk memuaskan ego diri sendiri tanpa mempedulikan hal lain, maka akan banyak hal-hal buruk yang masuk ke dalam hati kita.

Apakah cukup sampai di sini saja agar hati kita penuh kebaikan?

Ternyata belumlah cukup. Jika kita tidak yakin dengan tujuan hidup kita yang penuh kebaikan, maka kita tetap tidak mampu mencegah masuknya hal-hal buruk ke dalam hati kita. Kenapa demikian?

Kita yakin akan sesuatu hal artinya sesuatu itu sudah masuk dan tertanam di
hati kita. Dengan masuk dan tertanamnya sesuatu itu di hati kita, maka otomatis sesuatu itu akan mempengaruhi sikap dan perilaku kita. Misalnya ketika kita bersabar pada saat mendapatkan kendala di tempat kerja, hal itu terjadi karena kita yakin dengan bersabar kendala itu bisa lebih mudah teratasi. Selain itu dengan bersabar kemungkinan kita menyakiti orang lain jadi kecil dan kita tidak ingin menyakiti orang lain, karena kita yakin semakin jarang kita menyakiti orang lain maka akan semakin jarang orang lain itu menyakiti kita.

Jadi kita perlu untuk yakin akan tujuan hidup kita. Begitu kita yakin dengan tujuan hidup kita, artinya kita sangat menginginkan tujuan hidup kita itu tercapai, maka sikap dan perilaku kita akan selalu mendukung kepada tujuan hidup kita itu.

Pertanyaannya, sudahkah kita punya tujuan hidup? Dan apakah tujuan hidup kita itu penuh kebaikan? Sudah yakinkah kita dengan tujuan hidup kita itu?

#sarapankata
#day18
#kmoindonesia
#kmobatch12
#tujuanhidup
#kebaikan
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day46

B E R S Y U K U R

Ketika kita sudah menyadari bahwa hidup di dunia ini hanya sebentar, apa yang ingin kita lakukan? Apakah memanfaatkan waktu sebaik-baiknya? Kalau saya iya.

Namun memanfaatkan waktu sebaik-baiknya yang seperti apa? Jawabannya tergantung dari keyakinan yang dimiliki oleh masing-masing orang. Jika kita yakin akan adanya kehidupan akhirat yang kekal, maka waktu akan kita manfaatkan secara seimbang tidak melulu untuk kebaikan dunia melainkan juga untuk kebaikan akhirat kita.

Sebaliknya jika kita tidak memiliki keyakinan akan keberadaan akhirat, maka waktu hanya akan kita habiskan untuk meraih kebaikan dunia saja. Padahal belum tentu kita mendapatkan kebaikan di dunia jika kebaikan diartikan hidup yang berkualitas atau bahagia.

Bagaimana dengan para pekerja dan pebisnis yang sebagian waktunya dihabiskan untuk bekerja dan berbisnis? Sementara aktivitas dalam bekerja dan berbisnis sering dimaknai hanya untuk urusan dunia.

Itu karena kita tidak menyadari bahwa sesungguhnya dalam berbagai aktivitas bekerja dan berbisnis, kita tetap dihampiri oleh urusan akhirat kita. Dan itu sudah ada dimulai dari niat kita bekerja dan berbisnis itu. Akan berbeda hasilnya jika bekerja dan berbisnis hanya diniatkan untuk meraih harta, jabatan, dan popularitas semata dengan diniatkan karena Allah.

Selain itu pada saat beraktivitaspun urusan akhirat mendatangi kita. Ketika kita berhadapan dengan berbagai kendala atau kesulitan, di sanalah urusan akhirat berada. Jika kita mampu menghadapinya dengan bersabar, ikhlas, dan berserahdiri; maka kebaikan akhirat akan kita dapatkan. Sementara jika kita menghadapinya dengan mengeluh, kecewa, kesal, dan marah; maka kebaikan akhirat tidak akan kita dapatkan.

Bahkan ternyata ketika kita memilih untuk berniat dan menghadapi berbagai kendala itu tanpa keinginan mendapatkan kebaikan akhirat, biasanya kebaikan di duniapun tidak kita dapatkan. Jika kebaikan di dunia diartikan sebagai hidup yang berkualitas atau bahagia.

Lantas apa yang bisa kita lakukan agar bisa seimbang mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat? Selalu gunakan hati untuk kebaikan dalam setiap aktivitas kita. Sulit?

Ada satu cara sederhana yang bisa membantu kita agar bisa selalu menggunakan hati untuk kebaikan. Yaitu dengan bersyukur. Seberapa seringkah kita bersyukur setiap hari? Jangan-jangan sangat jarang. Kenapa ya? Biasanya karena kita jarang merasa beruntung. Jarang merasakan kebaikan-kebaikan dari Allah. Padahal Allah memberikan kenikmatan dan anugerah-Nya kepada kita setiap saat. Tidak percaya?

Yuk, coba kita renungkan bersama. Apakah yang kita hirup setiap kali bernafas? Ya, betul oksigen. Darimana kita mendapatkannya? Dari udara di sekitar kita secara GRATIS. Coba bayangkan jika saja Allah mengubah aturannya: “Mulai sekarang setiap makhluk hidup di dunia harus membayar sejumlah uang untuk mendapatkan oksigen”. Bagaimana nasib kita? Bisa hancur tentu saja. Bukan hanya kita yang kesulitan mendapatkan oksigen karena mahal harganya. Tetapi juga binatang dan tumbuhan kemungkinan tidak
bisa bertahan. Keseimbangan alam terganggu dan bisa menyebabkan kehancuran dunia.

Itu adalah hal yang kita anggap kecil sehingga kita tidak menyadarinya. Ketika kita sekarang sudah menyadarinya, semestinya kita bersyukur setiap saat.

Di awal tahun ini, saya membaca postingan ajakan seorang mentor menulis untuk membuat 17 jurnal syukur. Dan karena menurut saya sangat menarik bisa membantu saya semakin sering bersyukur, langsung sesaat setelah sang mentor memposting ajakan itu, sayapun membuatnya. Dan inilah 17 jurnal syukur saya:

1. Masih diberi kesempatan untuk beribadah.
2. Dipertemukan dengan Majelis Tafakur Mutiara Tauhid.
3. Dipertemukan dengan sahabat-sahabat jiwa.
4. Suami dan anak bersedia bergabung dengan Majelis di atas.
5. Semakin hari hati terasa semakin pintar dan dunia terasa semakin indah.
6. Dipertemukan dengan pola makan sehat.
7. Diberi kesehatan yang semakin baik.
8. Diberi kesempatan berhaji dengan hati (MasyaAllah …).
9. Kakak Sasha lulus S-1 dengan predikat cumlaude.
10. Disetujui resain dari kampus oleh suami dan atasan-atasan di kampus dan sekarang sedang diproses.
11. Dipertemukan dengan aktivitas menyenangkan (atau mungkin passion, semoga) baru yaitu menulis.
12. Dipertemukan dengan kelas-kelas online menulis yang sangat membantu.
13. Dipertemukan dengan mentor-mentor menulis yang keren.
14. Dipertemukan dengan sahabat-sahabat menulis yang baik.
15. Selesai 2 naskah buku solo dalam waktu 2 bulan, 1 sudah launching yang satu insyaAllah sebentar lagi.
16. Launching 2 buku dan selesai 1 naskah buku antologi bersama.
17. Terbentuknya Kandela Institute, membuat kebersamaan keluarga kecil kami semakin erat.

Bagaimana dengan jurnal syukur anda?

#sarapankata
#day17
#kmoindonesia
#kmobatch12
#bersyukur
#17jurnalsyukur
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day45