M E M A A F K A N

Pernahkah kita melakukan kesalahan? Kemudian ketika menyadarinya kita merasa menyesal? Misalnya ketika kita mengirimkan proposal tidak sesuai dengan yang diinginkan calon partner sehingga dia membatalkan keinginan kerjasamanya. Kita tidak teliti pada saat itu.

Kemudian atasan menegur kita bahkan pandangan teman satu timpun seolah menyalahkan kita. Kita merasa bersalah dan menyesal. Rasa sedih dan mungkin kesalpun terasa. Hati kita mengkerut jadinya.

Apa yang kita harapkan setelah itu? Kita ingin dimaafkan karena telah melakukan kesalahan itu. Betul? Dan ketika kita sudah dimaafkan, bagaimana rasanya? Ya, lega dan senang. Hati kita mengembang segera. Pada saat itu kita juga hanya ingin melakukan hal-hal yang baik. Karena perasaan positif sedang melingkupi kita.

Sebaliknya, ketika orang lain melakukan kesalahan yang membuat kita merasa kecewa, kesal, bahkan marah. Pada saat itu hati kita mengkerut. Perasaan negatiflah yang menguasai. Rasa tidak enakpun merebak.

Tentu saja kita ingin rasa tidak enak itu berganti menjadi rasa nikmat. Bagaimana caranya? Apakah dengan mengomel dan memarahi si pembuat kesalahan? Tidak. Justru kita semakin merasa tidak enak, apalagi ketika dia memperlihatkan seolah-olah tidak menyesal.

Jadi, apa yang bisa kita lakukan untuk menghilangkan rasa tidak enak itu? Coba lakukan sebaliknya. Maafkanlah dia. Pada saat memaafkan kita menerima kesalahannya yang sudah terjadi. Coba rasakan bagaimana hati kita saat itu. Hati kita menjadi lega dan tenang.

Tidak hanya itu. Solusi untuk permasalahan yang hadir karena kesalahan itupun segera terpikirkan. Tak perlu diungkit-ungkit lagi peristiwa kesalahannya. Melainkan lakukanlah langkah selanjutnya. Apakah dengan memperbaiki sistem internal yaitu proses mengajukan proposal. Atau juga menerapkan sanksi tertentu jika hal tersebut terjadi lagi.

Semua merasa lega dan senang. Suasana kerja menjadi menyenangkan. Pekerjaan bisa dilakukan dengan lebih baik. Karena perasaan positif tetap terjaga.

Ada satu lagi aktivitas memaafkan yang perlu dilakukan untuk memupuk perasaan positif. Kalau tadi memaafkan orang lain, yang satu ini adalah memaafkan diri sendiri.

Memang tidak cukup ya dengan dimaafkan oleh orang lain ketika kita melakukan kesalahan? Ternyata ketika kita berbuat salah, justru seringkali diri kita sulit untuk menerima dan memaafkan kesalahan kita itu. Padahal orang lain sudah memaafkan kita. Tapi hati ini masih mengkerut, masih merasa kecewa dan kesal.

Kenapa saya sebodoh itu? Coba kalau kemarin saya lebih teliti, tentu ini tidak terjadi. Tentu kerjasama yang menguntungkan itu terlaksana. Begitu mungkin hati kita berkeluh kesah ketika belum memaafkan diri kita sendiri.

Bagaimana kita bisa meningkatkan kualitas hidup kita, jika sering seperti itu? Ayolah bergerak maju. Jangan terpaku di masa lalu. Maafkanlah diri kita sambil berjanji untuk memperbaikinya. Begitu hal itu kita lakukan, hati segera mengembang. Karena rasa lega dan tenang yang datang menggantikan kecewa dan kesal.

Lagipula apa kita lupa, segala sesuatu yang terjadi pada kita walaupun hal yang tak diinginkan, pasti ada hikmah di baliknya. Apakah itu membuat kita menyadari kelemahan kita, atau membuat kita semakin kuat dalam menghadapi berbagai hal yang tak diinginkan di masa mendatang. Kalau kejadian itu tidak kita alami bagaimana kita bisa tahu kelemahan kita dan memiliki kesempatan untuk memperbaikinya? Bagaimana kita bisa kuat jika tidak pernah merasakan atau terbiasa dengan ketidaknyamanan?

Maka cobalah menerima dengan memaafkan diri kita dan orang lain.

#sarapankata
#day25
#kmoindonesia
#kmobatch12
#oneweekonepos
#wifiregionbandung
#memaafkan
#memupukperasaanpositif
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day53