KETIKA ALLAH MEMBERIKAN KESEMPATAN

Beberapa waktu lalu, sesama teman yang tinggal di Bandung, bercerita. Dia rutin dikunjungi kerabat jauh dari Kota Tasikmalaya. Seorang perempuan berumur sekitar 60 tahunan. Beliau datang dengan salah seorang cucunya menggunakan transportasi umum.

Kalau saja beliau sehat, tentu tidak menjadi masalah melakukan perjalanan cukup jauh dengan kendaraan umum dan hanya ditemani seorang cucu berusia 12 tahunan. Namun beliau pernah menderita stroke. Jalannya tidak normal lagi dan jari-jari tangannya yang sebelah kiri kaku sulit digerakkan.

Biasanya beliau datang di pertengahan bulan. Beliau mengunjungi rumah orangtua teman saya terlebih dahulu. Baru setelah itu mengunjungi rumah teman saya tersebut sambil berlanjut pulang kembali ke Kota Tasik.

Teman saya tidak bisa melarang beliau untuk datang. Keinginan beliau yang tinggi membuatnya selalu mampu untuk melakukan perjalanan Tasik-Bandung bolak-balik dalam satu hari.

Teman saya bilang, dulu setiap kali beliau datang, selalu merasa terganggu. Dia  merasa kerabatnya itu membebani keluarganya. Memang kebiasaan ini sudah terjadi berpuluh tahun lamanya. Sejak beliau masih relatif muda, masih sehat. Beliau sering berkeluh-kesah dengan segala permasalahan hidupnya. Termasuk masalah ekonomi.

Sudah sering orangtua teman saya membantu beliau terutama dalam masalah ekonomi tersebut. Termasuk memberi beberapa kali modal untuk berbisnis kecil-kecilan, namun tidak pernah berhasil. Selalu saja modal itu habis karena kebutuhan lain yang lebih mendesak.

Sang suami dari kerabat teman saya itu sudah lama tidak mau bekerja lagi setelah mengalami kebangkrutan karena ditipu orang. Dengan 4 orang anak, tentu saja hidupnya semakin sulit secara ekonomi karena tidak ada penopang keluarga. Dialah yang kemudian turun tangan. Hingga sekarang, dalam kondisi kesehatan yang kurang baik pun beliau meminta bantuan kepada keluarga teman saya itu hampir setiap bulannya.

Namun sekarang, teman saya itu merasakan hal yang berbeda. Dia bersyukur Allah sudah mengirimkan beliau kepadanya. Bahkan kadang jika telat datang, teman saya selalu menunggu-nunggu. Serasa ada yang kurang, katanya, dan merasa rugi.

Kenapa begitu ya?

Karena teman saya sekarang sudah menyadari. Kedatangan beliau adalah kesempatan yang Allah berikan untuk menambah bekal di akhirat kelak yang nilainya berlipat ganda. Yaitu kesempatan untuk bersedekah. Seperti yang tercantum di surat Al-Baqarah ayat 261 yang menjadi pilihan untuk #insightQuran kali ini.

Apalagi di bulan Ramadan seperti saat ini. Pemberian kepada beliau menjadi sangat berharga. Karena Rasulullah SAW lebih bersemangat dan rajin bersedekah di bulan Ramadan.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar bersedekah. Semangat beliau dalam bersedekah lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307)

Kadang kita lupa bahwa ketidaknyamanan yang datang kepada kita adalah kesempatan dari Allah untuk mendapatkan keuntungan. Hati kita masih sering tertutup untuk melihat hal seperti ini. Karenanya kita perlu terus berikhtiar. Berproses agar hati kita terbuka dan mampu dengan mudah mengenali kebaikan-kebaikan Allah yang terbungkus ketidaknyamanan.

#enlightenedheart

#ketikaAllahmemberikesempatan

#oneweekonepost

#wifiregionbandung

KETIKA ALLAH MENGGERAKKAN HATI

Hari ini saya terbangun kurang bersemangat. Sejak kemarin saya diberikan kesempatan tidak berpuasa karena pencernaan kurang mendukung.

Saya semakin tak bersemangat ketika teringat hari ini ada jadwal silaturahmi dengan teman-teman komunitas yang sudah ditunggu-tunggu. Tetapi saya ragu bisa hadir atau tidak di silaturahmi itu. Badan terasa belum fit.

Saat hati sedang tak bersahabat itu, tiba-tiba terbaca postingan teman di salah satu grup WA. Hanya karena dia menggunakan kata “assalamu’alaikum” dan saya merasa berkewajiban untuk membalas salamnya. Dia membutuhkan bantuan berupa buku-buku untuk aktivitas sosial KKN anaknya di pelosok Kalimantan.

Tiba-tiba saya juga teringat satu keinginan yang belum terlaksana. Menyumbangkan majalah-majalah yang sekarang menumpuk tak termanfaatkan di atas rak. Ada seorang teman yang bersedia dan dengan senang hati mau menerima untuk aktivitas sosialnya.

Entah kenapa hati yang murung jadi bersemangat lagi. Jadilah pagi ini saya, dibantu asisten RT, menyiapkan beberapa buku dan banyak majalah untuk kemudian kami packing. Dan betapa leganya hati ketika adzan dzuhur berkumandang, semua sudah rapih siap dikirimkan besok atau lusa karena hari ini libur.

Sambil memandang tumpukan dus yang tertumpuk rapih, rasa syukur menyelinap di hati. Sakit yang Allah berikan telah menggerakkan saya kepada aktivitas berbagi yang insyaAllah disukai-Nya. Jika saya sehat tentu aktivitas ini tidak terlaksana. Saya akan asyik dengan silaturahmi.

Bukan berarti silaturahmi lebih jelek. Allah sangat suka jika kita bersilaturahmi. Tapi, apakah kita mampu menghalau godaan bergunjing, riya’, dengki yang mungkin saja datang pada saat bersilaturahmi? Mungkin Allah sedang menyelamatkan saya dari godaan-godaan itu. MasyaAllah…

Jadi benar adanya apa yang Allah ucapkan dalam surat Al-Baqarah ayat 216. Apapun yang Dia berikan adalah yang terbaik untuk kita.

Alhamdulillah… ❤

#insightQuran
#AllahMahaBaik
#oneweekonepost
#wifiregionbandung
#enlightenedheart

KOREKSI DIRI

Pagi tadi saya disuguhi peristiwa yang membekas di hati. Waktu itu pengemudi mobil yang saya tumpangi mengklakson angkot di depan kami. Angkot itu berhenti terlalu tengah dan menghalangi mobil kami.

Ketika kami melewati angkot itu, sopirnya berteriak dengan nada kurang enak didengar, “Mangga… mangga, Paaak! Ieu teh Romadhon, puasa Paaak!” (Silakan… silakan, Pak. Ini Bulan Ramadan, puasa Pak!)

Saya tahu maksudnya meminta kami bersabar. Apalagi sekarang sedang puasa Ramadan. Dia menganggap klakson yang kami bunyikan adalah tanda ketidaksabaran. Mungkin juga karena melihat pandangan kami yang tanpa senyum. Sehingga dia beranggapan kami kesal karena terhalangi.

Mungkin betul ada rasa kesal dari pengemudi mobil kami karena jalannya terhalangi, sehingga dia membunyikan klakson tanpa senyum di wajahnya. Dan nasihat sopir angkot itu baik kan? Mengingatkan kami untuk bersabar.

Tapi coba rasakan. Dia meminta kami bersabar, sementara apa yang dia lakukan belum mencerminkan hal yang sama. Seorang yang sabar tentunya tidak akan mengingatkan seseorang dengan cara  berteriak dan dengan nada kurang enak didengar.

Itulah, kadang-kadang kita tidak menyadari untuk koreksi diri. Malah mengingatkan orang lain untuk  berperilaku baik tapi kita sendiri lupa caranya bukan seperti orang berperilaku baik yang kita nasihatkan.

Jika saja saya ada di posisi sopir angkot itu, seperti apa semestinya berperilaku? Koreksi diri, apa sih yang membuat orang itu membunyikan klakson. O, ternyata  mobil yang saya kemudikan menghalangi jalan mobil lain. Jadi segera pindahkan posisi mobil ke tempat lain yang tidak menghalanginya sambil meminta maaf.

Hanya saja jangan lupa. Pada saat berada di posisi yang terhalangi pun perlu berhati-hati. Apakah dengan membunyikan klakson akan membuat orang lain terganggu? Toh kita juga bisa menunggu sesaat sampai angkot itu berjalan kembali. Kecuali jika menunggu terlalu lama, baru kita bunyikan klakson sekali saja dan wajah kita dihiasi senyum sopan ketika berpapasan pandangan dengan  sopir angkot tersebut.

Ah, kalau cuma nulis kan gampang. Pas ngalaminnya, emang bisa sabar?

Bisa. Asalkan hati kita sudah terbuka karena dipenuhi kebenaran-kebenaran Alquran dan Hadis. Tau kan sabar itu pembuka pintu surga? Tau kan Allah akan bersama dengan orang-orang sabar? Tau kan Allah suka banget kalau kita bersabar? Itu semua adalah kebenaran-kebenaran dari Alquran dan Hadis.

Jadi teruslah berproses, bertafakur agar kebenaran-kebenaran itu tertanam dan memenuhi hati.

#selfreminder

#berbagikebaikan

#tafakur

#enlightenedheart

#oneweekonepost

#wifiregionbandung

SALING MEMAAFKAN DI PINTU RAMADAN

Kemarin ketika diberi kesempatan meminta maaf secara langsung kepada kerabat, seorang kerabat bilang: “Minta maaf itu kan gak harus karena mau puasa di Bulan Ramadan. Kapan saja bisa.”

Ya, setuju banget. Sayangnya kita lebih sering lupa untuk meminta maaf di waktu lain. Kenapa ya?

Karena ternyata meminta maaf (dan memaafkan) adalah kemampuan hati. Pantas saja sering lupa melakukannya karena di hati kita masih sedikit kebenaran-kebenaran Al Quran dan Hadis (islami) yang terpatri. Moment ini menjadi pengingat diri untuk terus berproses, bertafakur agar hati semakin cemerlang. Sehingga meminta maaf serta memaafkan tak pernah terlupakan lagi.

Beruntunglah banyak yang mengingatkan kita untuk meminta maaf sebelum berpuasa di Bulan Ramadan. Paling tidak pada saat inilah waktu saling memaafkan itu terlaksana.

Karena si diri ini hatinya masih miskin kebenaran-kebenaran islami, maka melalui tulisan ini MEMOHON MAAF LAHIR BATIN untuk semua sahabat yang telah setia membaca tulisan-tulisan di sini. Walaupun mungkin kita belum pernah jumpa, tapi tulisanpun bisa salah dan tak berkenan di hati. Manusia memang tempatnya salah. Astaghfirullah wa atubu ilaih…

Selamat menunaikan ibadah puasa sahabat semua. Semoga Allah ridho dengan semua yang kita lakukan di Bulan Suci ini. Aamiin ya mujibassailliin ❤️.

#marhabanyaramadan

#maaflahirbatin

#enlightenedheart

#oneweekonepost

#wifiregionbandung

SELF EDITING

Terus terang, ini adalah tahapan dalam menulis yang cukup menantang buat saya. Tahapan selanjutnya setelah menjadi seorang kreator. Semangat untuk melakukannya sering dikalahkan oleh aktivitas berkreasi tersebut.

Buat saya rasanya membosankan. Saya harus berkutat dengan satu naskah. Membaca, menelusuri, memperbaiki naskah itu-itu lagi yang dilakukan beberapa kali. Ya, melakukan self editing minimal 3 kali sebelum kemudian naskah kita siap untuk diajukan ke penerbit. Bahkan bisa jadi lebih dari itu. Kebayang kan bosannya?

Bukankah aktivitas ini bisa diserahkan ke pihak lain? Editor freelance misalnya?

Ternyata tidak. Tahapan ini perlu dilakukan sendiri terlebih dulu. Setelah itu jika ingin mendapat bantuan dari editor freelance, boleh-boleh aja.

Kenapa? Karena pada saat self editing ini, kita tidak hanya sekedar memperbaiki kesalahan menulis, pemakaian bahasa baku, dan bahasa yang efisien serta enak dibaca. Melainkan juga pemangkasan dan penambahan substansi yang hanya bisa dilakukan oleh Sang Penulis.

Lantas gimana ya caranya agar lebih bersemangat dalam melakukan aktivitas mengedit ini?

Saya menemukan satu cara yang bisa membuat lebih semangat. Ketika itu saya sedang melakukan self editing untuk naskah buku solo ke 3. Sebelum mengedit ke 3 kali, saya minta beberapa teman untuk menjadi reader dan memberikan masukan. Teman-teman tersebut saya pilih dengan berbagai alasan, salah satunya adalah mereka termasuk target pasar.

Pada saat mereka memberikan masukan terjadilah diskusi yang mengasikkan. Berbagai insight yang cerdas menambah semangat saya untuk melanjutkan aktivitas self editing.

Buat yang mengalami hal yang sama, silakan dicoba. Mudah-mudahan bisa membantu.

#selfediting
#tipsmenulis
#hadirkanreader
#gandrungmenulis
#oneweekonepost
#wifiregionbandung

HP

Tadi pagi sambil beraktivitas di dapur, Emak, panggilan untuk asisten rumah tangga, bercerita. Dulu di kampung sewaktu remaja, kalau ada hari libur, dia bersama beberapa temannya bermain. Tapi bermainnya menghasilkan. Seringnya membuat suatu makanan, seperti berbagai keripik dari bahan yang tersedia.

Beda banget sama remaja sekarang, lanjutnya. Setiap libur mereka bermain juga. Tapi sering tidak menghasilkan, karena hanya main-main (dalam arti sesungguhnya) hp saja sambil foto-foto.

Saya tercenung sambil membenarkan dalam hati. Karena saya teringat diri sendiri, bahkan ketika sudah tidak remaja lagi. Pada saat teknologi hp hadir dengan dilengkapi game canggih dan kamera, saya sudah berkeluarga. Tapi saya tetap tertarik menghabiskan waktu untuk memainkan game-game tersebut dan juga berfoto ria.

Kemudian foto-foto itu saya upload di medsos dengan caption tanpa kebaikan. Dan saya lanjutkan dengan menlusuri postingan teman-teman yang sering tidak banyak manfaatnya. Pada saat itu saya tidak menyadari terbuangnya waktu yang berharga.

Ternyata kemajuan teknologi tidak hanya membantu kita semakin mudah menjalani hidup, tetapi melenakan juga. Kita terlena karena kemudahan itu. Tanpa menyadari bahwa hal itu bisa membuat kita tidak bahagia.

Ketika nilai-nilai ujian jelek, bisnis merugi, nulis gak kelar-kelar; galau kan? Kitapun berkeluh kesah. Padahal semua itu karena kita terlena oleh canggihnya hp.

Untunglah saat saya terlena, Allah mengingatkan melalui berbagai ketidaknyamanan. Setelah itu, saya menggunakan hp yang dimanfaatkan untuk berbisnis dan menulis.

Ya, berkomunikasi dengan tim atau klien, saya lakukan via hp. Menuliskan berbagai ide, mapping, ouline, bahkan menuangkannya menjadi tulisan juga saya lakukan dengan hp.

Tentu saja semua aktivitas itu saya pilih karena saya yakin bisa mendekatkan kepada tujuan hidup saya. InsyaAllah…

Kalau kamu gimana?

#memanfaakanhp

#untukberbisnis

#untukmenulis

#enlightenedheart

#oneweekonepost

#wifiregionbandung

MAKNA KEHILANGAN

Pernahkah merasa kehilangan? sepertinya semua orang pernah. Mulai dari kehilangan benda atau hal yang tidak terlalu berarti sampai yang begitu penting dalam hidup kita. Mulai dari kehilangan ballpoin, buku, ikat rambut, peniti; sampai kehilangan kendaraan, uang dalam jumlah besar, dan orang terdekat yang kita sayangi.

Perasaan yang kita alami biasanya tergantung dari seberapa banyak dan pentingnya hal atau benda yang hilang tersebut. Jika hal atau benda yang hilang tidak terlalu berarti, maka hanya merasakan sedikit sedih yang tidak lama. Tetapi jika yang hilang adalah hal atau benda yang cukup penting, kita pun merasakan kesedihan mendalam dan lama. Termasuk ketika mengalami kehilangan orang terdekat yang kita sayangi karena kematian misalnya.

Tapi apakah itu yang Allah inginkan ketika kita kehilangan orang terdekat karena kematian? Apakah itu yang jiwa inginkan? Tidak. Karena jiwa dan juga Allah inginkan kita selalu bahagia. Bukan bahagia namanya jika mengalami kesedihan mendalam dan lama.

Tapi kenapa ya, perasaan itu tetap ada? Bagaimana cara menghalaunya? Bagaimana supaya bisa selalu bahagia?

Kita perlu hati yang mampu untuk menghalaunya. Hati yang mampu melihat makna dibalik peristiwa kehilangan itu. Hati yang tidak terjebak dalam fakta. Karena fakta sering menipu. Justru sesungguhnya yang tidak terlihat dibalik fakta itulah yang lebih penting. Yang bisa membuat kita selalu bahagia.

Sadarilah bahwa kehilangan orang terdekat karena kematian adalah cara Allah menyayangi kita. Itu adalah salah satu kebaikan yang Allah berikan. Saat itu Allah sedang mengingatkan, bahwa suatu saat giliran kitalah yang menghadapi kematian. Mengingatkan sudah sejauhmana persiapan kita menghadapinya.

Bukankah kematian pasti akan mendatangi kita? Seperti yang tertulis dalam dua surat terpilih untuk #insightQuran  kali ini, Al-Baqarah: 185 dan Al-Anbiya: 27.

Pasti kita semua inginkan husnul khotimah. Dan husnul khotimah hanya bisa diraih jika hati telah memiliki kemampuan untuk terus mengingat Allah di saat kematian itu tiba.

Jika pada saat sakit biasa saja kita sulit untuk khusyu mengingat Allah, bagaimana bisa mengingat-Nya pada saat kematian datang yang sakitnya luar biasa. Jadi mampukanlah hati  untuk itu. Teruslah berproses untuk mendapatkan kemampuan tersebut.

#backtoquran

#oneweekonepost

#wifiregionbandung

#enlightenedheart

MASIH TENTANG SEDEKAH

Akhir-akhir ini saya sering menggunakan jasa taksi online. Lebih praktis, mengurangi konsumsi energi tubuh, dan stres.

Praktis karena saya gak perlu repot mencari lahan parkir, membeli bensin, membersihkan mobil jika kotor. Waktu yang dikeluarkan untuk bepergian menjadi lebih pendek.

Hal ini juga mengurangi konsumsi energi tubuh, selain saya tidak perlu menyetir. Dan mengurangi stres karena tidak mengalami kejengkelan pada saat disalip misalnya, atau berlama-lama mencari lahan parkir.

Memang semakin hari kecanggihan teknologi membuat hidup kita semakin mudah. Bahkan untuk membayar taksi online pun saya tidak perlu menggunakan uang tunai. Saya bisa menggunakan fasilitas e-money.

Tapi untuk hal bayar-membayar ini, ternyata saya lebih suka cara konvensional, bayar tunai saja. Kenapa? Karena dengan membayar tunai saya berkesempatan untuk memberi berbagi kebaikan lebih banyak, yaitu memberi pembayaran lebih kepada mereka.

Memang kebaikan tidak hanya memberi pembayaran lebih. Kita juga bisa memberikan kebaikan dengan sapaan dan ucapan terima kasih yang ramah disertai senyum yang tulus.

Namun pemberian pembayaran lebih bisa menjadi ibadah yang sangat menyenangkan Allah. Jika kita niatkan ini untuk bersedekah.

Bukankah Allah sangat suka dengan sedekah? Seperti yang tercantum dalam 2 ayat yang terpilih untuk #insightQuran Jumat ini, surat Al-Hadid ayat 18 dan Al-Baqarah ayat 261.

Kalau saya merasa ada rasa nyaman dan nikmat ketika memberikan uang itu kepada mereka. Padahal jumlahnya tidak besar, paling banyak mungkin 5 ribu. Tapi coba perhatikan ketika mereka menerimanya, penuh rasa terima kasih dan wajahnya sumringah. Hati ini jadi mengembang dan enak sekali rasanya. Coba deh rasakan.

Bahkan saya pernah disopiri oleh seseorang yang sedang bete, kelihatannya. Dia terlihat cemberut dan tidak ramah. Tapi begitu diberi pembayaran lebih, dia terlihat surprise dan senang. Wajahnya berubah menjadi berseri-seri dan kata-katanya terdengar ramah. Betapa nikmatnya terasa di hati.

Memang Allah itu selalu benar. Tidak hanya bahagia di akhirat kelak yang bisa kita raih, tetapi juga bahagia di dunia ini. Seperti yang tertuang dalam 2 hadis di bawah ini:

“Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR. Bukhari Muslim)

”Perumpamaan orang yang pelit dengan orang yang bersedekah seperti dua orang yang memiliki baju besi, yang bila dipakai menutupi dada hingga selangkangannya. Orang yang bersedekah, dikarenakan sedekahnya ia merasa bajunya lapang dan longgar di kulitnya. Sampai-sampai ujung jarinya tidak terlihat dan baju besinya tidak meninggalkan bekas pada kulitnya. Sedangkan orang yang pelit, dikarenakan pelitnya ia merasakan setiap lingkar baju besinya merekat erat di kulitnya. Ia berusaha melonggarkannya namun tidak bisa.” (HR. Bukhari)

#sedekah
#enlightenedheart
#oneweekonepost
#WiFIregionBandung

COACHING

Dulu saya pikir antara coaching dan mentoring itu sama saja. Ternyata tidak. Coaching dan mentoring adalah proses yang berbeda. Ini saya sadari ketika saya diberi kesempatan pertama kali untuk menjadi notulis dalam satu sesi coaching.

Coaching kali itu dilaksanakan di sebuah cafe yang tidak terlalu ramai jadi cukup nyaman untuk melakukan aktivitas coaching. Ketika coachee datang, kami, terutama sang coach menyambutnya dengan ramah. Kemudian terjadi percakapan informal antara coach dengan coachee yang membuat suasana nyaman bagi keduanya untuk bercakap-cakap.

Ternyata saat itu proses coaching sudah dimulai, dimana sang coach membangun kedekatan dengan coachee agar coachee nyaman dan percaya kepada sang coach. Hal ini membuat proses selanjutnya menjadi lebih mudah dan lancar. Coachee menjadi terbuka dan mau diajak berkomunikasi oleh sang coach.

Yang menarik adalah selama proses coaching, sang coach hanya memberikan pertanyaan-pertanyaan dan menkonfirmasikan kembali jawaban-jawaban dari coachee. Tidak pernah sekalipun coach memberikan ide, saran, ataupun bercerita tentang pengalamannya. Rupanya itulah cara coach menggali pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan terbaik dari coachee.

Dengan cara tersebut ternyata coachee mampu mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang apa yang ingin di capai, kenapa hal itu penting, dan bagaimana cara mencapainya. Lho kok tentang apa yang ingin dicapai? Bukannya seseorang ingin di-coaching dalam rangka menemukan solusi untuk permasalah yang dihadapinya?

Itu pula hal baru yang saya temui saat itu. Ternyata untuk mendapatkan solusi tidak selalu dimulai dari membicarakan permasalahan yang dihadapi. Kita bisa memulainya dengan menemukan apa yang ingin dicapai.

Dan saya lihat cara ini jauh lebih efektif, karena keduanya tidak akan terjebak dalam membicarakan permasalahan yang berlarut-larut dan membuat hati menciut. Dengan membicarakan hal yang ingin dicapai hati menjadi terbuka lebar dan bersemangat. Percakapanpun cepat bergulir karena coachee bersemangat untuk mendapatkan cara mencapainya.

Di akhir sesi coaching, ketika coachee ditanya apa saja yang didapat selama proses coaching selama 1,5 jam itu; dia menjawab dengan antusias dan terlihat puas. Bahwa dia mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan dia bersemangat untuk melakukan berbagai hal yang bisa membuatnya meraih apa yang ingin dicapai, yang dia temukan pada saat sesi coaching.

Dia merasa takjub dan semakin bersemangat ketika kita bilang bahwa semua itu ditemukan sendiri olehnya. Coach hanya membantu dengan cara bertanya saja.

Mau merasakan hal yang sama dengan coachee itu? Kebetulan saat ini saya sedang menawarkan 1 sesi free coaching (30 menit) untuk 3 orang saja. Anda boleh memilih tema tentang menulis atau bekerja untuk sesi coaching kali ini.

Tapi sayangnya sesi free coaching ini hanya bisa dilakukan di Kota Bandung, itupun terbatas di Bandung bagian Utara atau Barat. Untuk Anda yang berdomisili di luar Bandung, boleh-boleh saja mengajukan diri. Namun jika terpilih, pada saat sesi coaching nanti silakan luangkan waktu untuk berkunjung ke Bandung.

Silakan email saya jika berminat ya.

#coachlife
#coaching
#berfokuskepadatujuan
#oneweekonepost
#wifiregionbandung
#freecoaching

DIBALIK KEINDAHAN SILATURAHMI

Siapa yang tidak suka bertemu dan melepaskan kangen dengan kerabat atau teman lama yang sudah lama tidak bertemu? Sebagian besar dari kita pasti menyukainya. Saya juga. Selain karena pasti seru bertemu lagi dengan mereka, Allah juga sangat suka jika kita menjaga tali silaturahmi dengan siapa saja.

Hal ini tertulis dalam salah satu yang menjadi pilihan di #insightQuran Jumat ini, yaitu surat An-Nisa’ ayat 1. Dan betapa Allah terlihat sangat tidak suka kepada siapa saja yang memutuskan tali silaturahmi yang tertulis dalam ayat pilihan lain yaitu Al-Baqarah ayat 27.

Jadi ketika ada kesempatan untuk bersilaturahmi apakah itu reuni, kumpul keluarga, arisan, atau janjian bertemu; manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya.

Namun jangan sampai apa yang Allah sangat sukai itu menjadi sebaliknya. Dan kemungkinan itu terbuka lebar ketika godaan bergunjing menghampiri kita.

Bergunjing adalah salah satu perilaku yang tidak disukai Allah. Hal ini tertulis dalam surat terakhir Jumat ini yaitu surat Al-Hujurat ayat 12.

“Iya ya, saya sering tergoda dan akhirnya bergunjing juga. Padahal saya sudah tahu dan sudah mempersiapkan juga untuk tidak bergunjing. Gimana dong?”

Memang kadang tanpa sadar kita terbawa untuk bergunjing. Yang artinya kita masih belum meyakini tentang ketidakbaikan bergunjing ini. Sehingga masih dikalahkan oleh ego atau nafsu buruk kita yang ingin merasakan senang dan nikmatnya bergunjing.

Kita masih perlu banyak mengajak hati belajar, merenung, dan merasa-rasakan. Sehingga kita yakin tentang buruknya bergunjing dan otomatis kita tidak terbawa ketika ada godaan bergunjing.

#enlightenedheart
#backtoquran
#oneweekonepost
#wifiregionbandung