SELALU MERASA BERUNTUNG

Alkisah ada sepasang suami istri. Sang istri dilahirkan tidak sempurna, dia tidak mempunyai kaki. Pekerjaan mereka sehari-hari adalah berjualan makanan ringan yang biasa dijajakan di lapak sekitar pasar swalayan menengah. Pasar swalayan itu tidak terlalu dekat dari kamar kontrakan mereka, karena mereka harus mencari kontrakan yang murah. Di sekitar sana harga kamar kontrakan cukup tinggi tidak terbayar oleh penghasilan mereka sebagai penjual makanan ringan lapakan.

Setiap pagi sang suami menggendong sang istri sambil membawa sekarung besar makanan ringan yang sudah dibungkus plastik kecil ke sekitar pasar swalayan itu. Ketika memiliki cukup uang, mereka menggunakan jasa tukang becak menuju ke sana. Tetapi tidak jarang sang suami harus menggendongnya berjalan kaki dengan lama perjalanan tidak kurang dari setengah jam, karena kondisi keuangan mereka tidak memungkinkan untuk membayar ongkos becak.

Jika sedang beruntung, makanan ringannya terjual habis dan mereka bisa mengantungi cukup uang untuk makan, sedikit simpanan pembayaran kontrakan, dan ongkos becak. Tetapi jika hujan deras tiba-tiba turun setiba mereka di pasar swalayan atau salah seorang dari mereka sakit misalnya, maka kadang jualannya hanya sedikit bahkan tak satupun yang terjual.

Ketika ditanya apakah mereka tidak khawatir pada saat itu? Dengan menyungging senyum salah satu dari mereka menjawab,” Alhamdulillah, Allah sedang memberikan kesempatan badan untuk beristirahat sambil beribadah lain. Kalau tidak begini tidak ada waktu bagi kami untuk itu.”

Rupanya mereka biasanya menunggu hujan berhenti atau menghabiskan waktu ketika sakit dengan membaca Quran atau berdzikir. Lantas bagaimana dengan makan dan kebutuhan lain jika jualannya tidak laku?

“Alhamdulillah, selalu ada yang bisa dimakan atau diminum walau hanya sedikit,”jawabnya lagi. “Bahkan jika tidak ada sekalipun, tetap kami syukuri karena kami masih diberi kesempatan untuk beribadah dan memohon ampunan-Nya.”

MasyaAllah! Dan memang selama ini ada saja rezeki yang mereka terima ketika membutuhkan sesuatu. Entah dari pemberian tetangga, atau pembeli setianya, bahkan orang yang tak dikenal.

Itu mereka. Dengan kondisi minim tetap selalu merasa beruntung. Bagaimana dengan kita?

Kita memiliki pekerjaan atau bisnis yang jauh lebih baik dari mereka. Kita memiliki tempat tinggal yang lebih layak. Kita atau pasangan kita memiliki tubuh yang lebih sempurna. Tapi diberi sedikit saja ketidaknyaman, seperti ditegur atasan, omset turun, tim agak berulah, partner/pelanggan yang tidak sesuai harapan; maka kecewa, khawatir, gelisah, kesal, bahkan marah kita rasakan.

Ternyata hidup berkualitas bukan ditentukan oleh siapa atau apapun itu di luar kita. Melainkan pilihan. Diri kitalah yang memilih untuk selalu merasa beruntung atau tidak. Seminim apapun kondisi kita, jika kita memilih untuk selalu merasa beruntung maka perasaan-perasaan positif akan lebih sering bahkan selalu hadir dibandingkan perasaan-perasaan negatif. Maka hidup berkualitas dapat kita raih.

Jadi mau memilih yang mana? Selalu merasa beruntung atau sebaliknya? Jika inginkan hidup yang berkualitas, kita sudah tahu apa yang harus dipilih.

#sarapankata
#day26
#kmoindonesia
#kmobatch12
#selalumerasaberuntung
#memupukperasaanpositif
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day54