MAKNA KEHILANGAN

Pernahkah merasa kehilangan? sepertinya semua orang pernah. Mulai dari kehilangan benda atau hal yang tidak terlalu berarti sampai yang begitu penting dalam hidup kita. Mulai dari kehilangan ballpoin, buku, ikat rambut, peniti; sampai kehilangan kendaraan, uang dalam jumlah besar, dan orang terdekat yang kita sayangi.

Perasaan yang kita alami biasanya tergantung dari seberapa banyak dan pentingnya hal atau benda yang hilang tersebut. Jika hal atau benda yang hilang tidak terlalu berarti, maka hanya merasakan sedikit sedih yang tidak lama. Tetapi jika yang hilang adalah hal atau benda yang cukup penting, kita pun merasakan kesedihan mendalam dan lama. Termasuk ketika mengalami kehilangan orang terdekat yang kita sayangi karena kematian misalnya.

Tapi apakah itu yang Allah inginkan ketika kita kehilangan orang terdekat karena kematian? Apakah itu yang jiwa inginkan? Tidak. Karena jiwa dan juga Allah inginkan kita selalu bahagia. Bukan bahagia namanya jika mengalami kesedihan mendalam dan lama.

Tapi kenapa ya, perasaan itu tetap ada? Bagaimana cara menghalaunya? Bagaimana supaya bisa selalu bahagia?

Kita perlu hati yang mampu untuk menghalaunya. Hati yang mampu melihat makna dibalik peristiwa kehilangan itu. Hati yang tidak terjebak dalam fakta. Karena fakta sering menipu. Justru sesungguhnya yang tidak terlihat dibalik fakta itulah yang lebih penting. Yang bisa membuat kita selalu bahagia.

Sadarilah bahwa kehilangan orang terdekat karena kematian adalah cara Allah menyayangi kita. Itu adalah salah satu kebaikan yang Allah berikan. Saat itu Allah sedang mengingatkan, bahwa suatu saat giliran kitalah yang menghadapi kematian. Mengingatkan sudah sejauhmana persiapan kita menghadapinya.

Bukankah kematian pasti akan mendatangi kita? Seperti yang tertulis dalam dua surat terpilih untuk #insightQuran  kali ini, Al-Baqarah: 185 dan Al-Anbiya: 27.

Pasti kita semua inginkan husnul khotimah. Dan husnul khotimah hanya bisa diraih jika hati telah memiliki kemampuan untuk terus mengingat Allah di saat kematian itu tiba.

Jika pada saat sakit biasa saja kita sulit untuk khusyu mengingat Allah, bagaimana bisa mengingat-Nya pada saat kematian datang yang sakitnya luar biasa. Jadi mampukanlah hati  untuk itu. Teruslah berproses untuk mendapatkan kemampuan tersebut.

#backtoquran

#oneweekonepost

#wifiregionbandung

#enlightenedheart

MASIH TENTANG SEDEKAH

Akhir-akhir ini saya sering menggunakan jasa taksi online. Lebih praktis, mengurangi konsumsi energi tubuh, dan stres.

Praktis karena saya gak perlu repot mencari lahan parkir, membeli bensin, membersihkan mobil jika kotor. Waktu yang dikeluarkan untuk bepergian menjadi lebih pendek.

Hal ini juga mengurangi konsumsi energi tubuh, selain saya tidak perlu menyetir. Dan mengurangi stres karena tidak mengalami kejengkelan pada saat disalip misalnya, atau berlama-lama mencari lahan parkir.

Memang semakin hari kecanggihan teknologi membuat hidup kita semakin mudah. Bahkan untuk membayar taksi online pun saya tidak perlu menggunakan uang tunai. Saya bisa menggunakan fasilitas e-money.

Tapi untuk hal bayar-membayar ini, ternyata saya lebih suka cara konvensional, bayar tunai saja. Kenapa? Karena dengan membayar tunai saya berkesempatan untuk memberi berbagi kebaikan lebih banyak, yaitu memberi pembayaran lebih kepada mereka.

Memang kebaikan tidak hanya memberi pembayaran lebih. Kita juga bisa memberikan kebaikan dengan sapaan dan ucapan terima kasih yang ramah disertai senyum yang tulus.

Namun pemberian pembayaran lebih bisa menjadi ibadah yang sangat menyenangkan Allah. Jika kita niatkan ini untuk bersedekah.

Bukankah Allah sangat suka dengan sedekah? Seperti yang tercantum dalam 2 ayat yang terpilih untuk #insightQuran Jumat ini, surat Al-Hadid ayat 18 dan Al-Baqarah ayat 261.

Kalau saya merasa ada rasa nyaman dan nikmat ketika memberikan uang itu kepada mereka. Padahal jumlahnya tidak besar, paling banyak mungkin 5 ribu. Tapi coba perhatikan ketika mereka menerimanya, penuh rasa terima kasih dan wajahnya sumringah. Hati ini jadi mengembang dan enak sekali rasanya. Coba deh rasakan.

Bahkan saya pernah disopiri oleh seseorang yang sedang bete, kelihatannya. Dia terlihat cemberut dan tidak ramah. Tapi begitu diberi pembayaran lebih, dia terlihat surprise dan senang. Wajahnya berubah menjadi berseri-seri dan kata-katanya terdengar ramah. Betapa nikmatnya terasa di hati.

Memang Allah itu selalu benar. Tidak hanya bahagia di akhirat kelak yang bisa kita raih, tetapi juga bahagia di dunia ini. Seperti yang tertuang dalam 2 hadis di bawah ini:

“Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR. Bukhari Muslim)

”Perumpamaan orang yang pelit dengan orang yang bersedekah seperti dua orang yang memiliki baju besi, yang bila dipakai menutupi dada hingga selangkangannya. Orang yang bersedekah, dikarenakan sedekahnya ia merasa bajunya lapang dan longgar di kulitnya. Sampai-sampai ujung jarinya tidak terlihat dan baju besinya tidak meninggalkan bekas pada kulitnya. Sedangkan orang yang pelit, dikarenakan pelitnya ia merasakan setiap lingkar baju besinya merekat erat di kulitnya. Ia berusaha melonggarkannya namun tidak bisa.” (HR. Bukhari)

#sedekah
#enlightenedheart
#oneweekonepost
#WiFIregionBandung

KETIKA KITA BERSEDEKAH

Siapa yang tidak tahu sedekah itu sangat disukai Allah. Salah satu ayat yang menjadi pilihan #insightQuran kali ini, surat Al-Baqarah ayat 261, menyiratkan hal tersebut. Jika ingin menambah perbekalan untuk di kehidupan selanjutnya, kita bisa menggunakan cara ini.

Atau barangkali kita sudah sering melakukan karena menyadari itu bisa menyelamatkan kita nanti. Alhamdulillah jika iya.

Tapi pernahkan mengalami hal seperti ini? Kita merasa kesal karena berulang kali ada seseorang yang datang meminta bantuan kepada kita, saat dia sedang kesulitan. Di awal kita dengan ikhlas membantunya dengan meniatkan sedekah. Tapi ketika hal itu terus rutin berlangsung, kita jadi curiga dan bersuudzon dia keenakan dan tidak mau berusaha untuk menyelesaikan masalahnya secara mandiri. Dia jadi tergantung kepada kita.

Kita tetap memberinya sedekah seperti biasa ketika dia datang lagi menemui. Tapi kali ini dia juga mendapatkan “nasihat” yang cukup keras dari kita. Dia pun berterima kasih dan pergi seperti biasanya.

Tapi sadarkah kita, sedekah yang kita berikan menjadi sia-sia ketika dia merasa tersakiti karena “nasihat” kita. Seperti yang tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat 264. Lebih baik kita tidak memberinya sedekah dengan meminta maaf dan perkataan yang baik. Seperti yang tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat 263.

Betapa baiknya Allah selalu memberikan pilihan bagi kita. Sekarang tinggal memilih mana yang membuat Allah suka dan kitapun tidak merugi.

#insightQuran
#enlightenedheart
#bersedekah
#backtoQuran
#jumatbarokah

 

DIBALIK KEINDAHAN SILATURAHMI

Siapa yang tidak suka bertemu dan melepaskan kangen dengan kerabat atau teman lama yang sudah lama tidak bertemu? Sebagian besar dari kita pasti menyukainya. Saya juga. Selain karena pasti seru bertemu lagi dengan mereka, Allah juga sangat suka jika kita menjaga tali silaturahmi dengan siapa saja.

Hal ini tertulis dalam salah satu yang menjadi pilihan di #insightQuran Jumat ini, yaitu surat An-Nisa’ ayat 1. Dan betapa Allah terlihat sangat tidak suka kepada siapa saja yang memutuskan tali silaturahmi yang tertulis dalam ayat pilihan lain yaitu Al-Baqarah ayat 27.

Jadi ketika ada kesempatan untuk bersilaturahmi apakah itu reuni, kumpul keluarga, arisan, atau janjian bertemu; manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya.

Namun jangan sampai apa yang Allah sangat sukai itu menjadi sebaliknya. Dan kemungkinan itu terbuka lebar ketika godaan bergunjing menghampiri kita.

Bergunjing adalah salah satu perilaku yang tidak disukai Allah. Hal ini tertulis dalam surat terakhir Jumat ini yaitu surat Al-Hujurat ayat 12.

“Iya ya, saya sering tergoda dan akhirnya bergunjing juga. Padahal saya sudah tahu dan sudah mempersiapkan juga untuk tidak bergunjing. Gimana dong?”

Memang kadang tanpa sadar kita terbawa untuk bergunjing. Yang artinya kita masih belum meyakini tentang ketidakbaikan bergunjing ini. Sehingga masih dikalahkan oleh ego atau nafsu buruk kita yang ingin merasakan senang dan nikmatnya bergunjing.

Kita masih perlu banyak mengajak hati belajar, merenung, dan merasa-rasakan. Sehingga kita yakin tentang buruknya bergunjing dan otomatis kita tidak terbawa ketika ada godaan bergunjing.

#enlightenedheart
#backtoquran
#oneweekonepost
#wifiregionbandung

HANYA MENYAMPAIKAN

Masihkah kita memaksakan kehendak kita kepada anak-anak kita? Atau pasangan kita? Atau mereka yang secara hierarkis ada di bawah kita?

Apakah kalau anak-anak susah disuruh salat, kita masih ngomel sambil mengancam mereka? Apakah kalau pasangan masih malas bersedekah, kita masih menegur dengan keras. Apakah kalau bawahan kita masih suka bergunjing, kita menyindir yang menyakitkan hatinya?

Padahal Allah saja tidak pernah memaksa kita untuk mentaati-Nya. Siapa yang mau beriman silakan beriman, siapa yang mau kafir silakan kafir. Itu tercermin dalam ayat yang menjadi pilihan untuk #insightQuran kali ini, surat Al-Kahfi ayat 29.

Lantas apakah kita diam saja kalau ada ketidakbenaran di depan kita? Tentu saja tidak. Kita diminta untuk mengingatkan mereka, kita diminta untuk menyampaikan kebenaran walaupun hanya satu ayat saja yang kita ketahui. Seperti menurut hadis ini.

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari).

Namun sebelumnya kita ber-tabayyun dulu. Tanyakan kenapa mereka melakukan itu. Karena siapa tahu mereka punya dasar yang kuat juga yaitu Al-Quran atau hadis, yang kita tidak mengetahuinya.

Ketika itu terjadi, maka apa yang mereka lakukan benar adanya. Tidak perlu diperdebatkan lagi. Yang penting apa yang mereka lakukan tidak melanggar Al-Quran dan Hadis.

Jika apa yang mereka lakukan tidak sesuai Al-Quran dan hadis barulah kita peringatkan baik-baik. Kita sampaikan kebenaran sesuai Al-Quran dan hadis. Kalau mereka masih tidak mengubah prilakunya, ya sudah biarkan saja. Karena semua ada pertanggungjawaban kelak. Apa yang mereka lakukan akan mereka pertanggungjawabkan kelak oleh mereka sendiri.

Tapi kan mereka anak-anak dan pasangan saya, yang saya sayangi. Saya tidak mau nanti mereka menderita di akhirat kelak. Gimana dong?

Ajaklah mereka untuk belajar hati, yaitu mengisi hati mereka dengan kebaikan-kebaikan atau kebenaran-kebenaran Al-Quran dan hadis. Begitu hati mereka dipenuhi itu, tanpa kita suruh, tanpa diingatkan, dengan sendirinya mereka akan melakukan apa yang Allah inginkan itu.

#enlightenedheart
#berbagikebaikan
#hanyamenyampaikan
#alkahfi29
#oneweekonepost
#wifiregionbandung

PENTINGKAH MEMILIKI TUJUAN HIDUP?

Suatu pagi kita pergi ke pasar tanpa tahu apa yang akan dimasak hari itu. Apa yang kemudian biasanya kita lakukan? Kalau saya biasanya kemudian kebingungan akan membeli apa, sehingga membutuhkan waktu cukup lama. Tak jarang badan jadi terasa capek karena keliling-keliling di sana.

Begitu sampai di rumah kadang saya baru menyadari ada bahan atau bumbu yang diperlukan tidak terbeli. Tapi lebih sering lagi menemukan bahan atau bumbu yang tidak dibutuhkan ada di dalam plastik belanjaan yang saya bawa.

Tapi berbeda ketika saya berbelanja di pasar dan sudah tahu akan memasak apa hari itu. Saya bisa segera menuju los yang biasa menjual bahan dan bumbu yang dibutuhkan. Waktu yang dibutuhkan jadi jauh lebih singkat. Saya juga merasa tidak capek karena tenaga yang digunakan lebih sedikit.

Sesampainya di rumah tak lagi kebingungan karena semua bahan dan bumbu lengkap tersedia. Dan tentunya juga lebih hemat karena tidak membeli bahan atau bumbu yang tidak dibutuhkan.

Begitulah jika sudah tahu TUJUAN ke pasar, kita jadi EFISIEN. Semua aktivitas di pasar kita lakukan tanpa banyak membuang waktu, tenaga, dan dana.

Ternyata hal ini tidak hanya berlaku untuk kegiatan kita ke pasar saja. Kegiatan apapun itu jika dimulai dengan TUJUAN maka kegiatan itu akan kita lakukan lebih baik. Bahkan makan, tidur, dan berolahraga pun misalnya, akan terlaksana lebih baik jika di awal kita sudah tahu apa TUJUAN-nya.

Apa tujuan kita makan, tidur, dan berolahraga? Jika tujuannya adalah untuk sehat, maka saya akan melakukan kegiatan-kegiatan tersebut langsung dengan memilih makanan sehat, jam tidur yang disarankan, dan serius dalam berolahraga. Saya tidak bingung memilih makanan yang akan dimakan, tidak bingung menentukan jam tidur, tidak main-main dalam berolahraga.

Jadi memang betul ya, setiap kegiatan itu ternyata paling baik jika dimulai dengan TUJUAN. Sekarang kita jadi tahu bahwa setiap akan melakukan sesuatu tanya dulu ke dalam diri kita apa TUJUAN-nya. Ketika kita sudah menemukannya, InsyaAllah kita akan lebih baik atau EFISIEN dalam melakukannya.

Referensi:
Materi ke 1 Tafakur Mutiara Tauhid (Bandung).

#selfreminder
#tujuanhidup
#tafakurmutiaratauhid
#dbas
#enlightenedheart

POHON SIKAP/PERILAKU Part 2

Ketika kita ingin bisa memanen buah sabar, ikhlas, ringan tangan, memaafkan, dan sebagainya; hal pertama yang perlu dilakukan adalah menanam pohon sikap/perilaku itu. Bagaimana cara menanamnya?

Apa yang kita butuhkan ketika kita akan menanam pohon buah-buahan? Tentunya berbagai benih dari pohon tersebut. Benih dari pohon sikap/perilaku adalah berbagai kebenaran dari Alquran yang sudah kita tahu yang bisa memunculkan sikap/perilaku tersebut. Artinya akal kita sudah mau menerima berbagai kebenaran tersebut.

Misalnya, sikap sabar dihasilkan dari kebenaran-kebenaran: (1) ada transfer pahala ketika dizalimi, (2) Allah beserta orang sabar, dan (3) Allah hanya memberi yang kita butuhkan. No 1 sampai 3 adalah benih-benih yang perlu kita tanam agar sikap sabar bisa kita panen (muncul pada saat dibutuhkan).

Cara menanamnya adalah dengan menurunkan kebenaran-kebenaran tersebut dari akal ke hati. Atau saya menyebutnya berproses, melalui perenungan dan merasa-rasakan berbagai peristiwa yang Allah inginkan kita meresponnya dengan sabar, dilihat dari pandangan 3 kebenaran Alquran di atas.

Misalnya ketika dizalimi, segera renungkan melalui 3 kebenaran tersebut. O, saat itu sedang ada transfer pahala untuk kita. O, saat itu Allah sedang memberikan yang kita butuhkan. Dan, ingatlah bahwa Allah akan selalu beserta orang-orang sabar.

Agar pohon yang kita tanam benihnya itu tumbuh dengan subur, kita perlu memupuknya. Sehingga kita bisa memanen buah dengan kualitas yang kita inginkan. Cara memupuknya adalah dengan sering berproses. Karena semakin sering kita melakukan perenungan-perenungan, maka benih-benih itu semakin dalam tertanam di hati kita. Jika benih-benih itu sudah tertanam dengan mendalam di hati, maka buah sabar yang kita inginkan itu akan selalu muncul di saat kita butuhkan.

Masih bingung? Enggak apa-apa. Coba ulangi membacanya beberapa kali atau dm saya kalau ingin mendiskusikannya lebih jauh.

#tafakur
#kemampuankalbu
#dbas
#enlightenedheart
#MTBandung