KOREKSI DIRI

Pagi tadi saya disuguhi peristiwa yang membekas di hati. Waktu itu pengemudi mobil yang saya tumpangi mengklakson angkot di depan kami. Angkot itu berhenti terlalu tengah dan menghalangi mobil kami.

Ketika kami melewati angkot itu, sopirnya berteriak dengan nada kurang enak didengar, “Mangga… mangga, Paaak! Ieu teh Romadhon, puasa Paaak!” (Silakan… silakan, Pak. Ini Bulan Ramadan, puasa Pak!)

Saya tahu maksudnya meminta kami bersabar. Apalagi sekarang sedang puasa Ramadan. Dia menganggap klakson yang kami bunyikan adalah tanda ketidaksabaran. Mungkin juga karena melihat pandangan kami yang tanpa senyum. Sehingga dia beranggapan kami kesal karena terhalangi.

Mungkin betul ada rasa kesal dari pengemudi mobil kami karena jalannya terhalangi, sehingga dia membunyikan klakson tanpa senyum di wajahnya. Dan nasihat sopir angkot itu baik kan? Mengingatkan kami untuk bersabar.

Tapi coba rasakan. Dia meminta kami bersabar, sementara apa yang dia lakukan belum mencerminkan hal yang sama. Seorang yang sabar tentunya tidak akan mengingatkan seseorang dengan cara  berteriak dan dengan nada kurang enak didengar.

Itulah, kadang-kadang kita tidak menyadari untuk koreksi diri. Malah mengingatkan orang lain untuk  berperilaku baik tapi kita sendiri lupa caranya bukan seperti orang berperilaku baik yang kita nasihatkan.

Jika saja saya ada di posisi sopir angkot itu, seperti apa semestinya berperilaku? Koreksi diri, apa sih yang membuat orang itu membunyikan klakson. O, ternyata  mobil yang saya kemudikan menghalangi jalan mobil lain. Jadi segera pindahkan posisi mobil ke tempat lain yang tidak menghalanginya sambil meminta maaf.

Hanya saja jangan lupa. Pada saat berada di posisi yang terhalangi pun perlu berhati-hati. Apakah dengan membunyikan klakson akan membuat orang lain terganggu? Toh kita juga bisa menunggu sesaat sampai angkot itu berjalan kembali. Kecuali jika menunggu terlalu lama, baru kita bunyikan klakson sekali saja dan wajah kita dihiasi senyum sopan ketika berpapasan pandangan dengan  sopir angkot tersebut.

Ah, kalau cuma nulis kan gampang. Pas ngalaminnya, emang bisa sabar?

Bisa. Asalkan hati kita sudah terbuka karena dipenuhi kebenaran-kebenaran Alquran dan Hadis. Tau kan sabar itu pembuka pintu surga? Tau kan Allah akan bersama dengan orang-orang sabar? Tau kan Allah suka banget kalau kita bersabar? Itu semua adalah kebenaran-kebenaran dari Alquran dan Hadis.

Jadi teruslah berproses, bertafakur agar kebenaran-kebenaran itu tertanam dan memenuhi hati.

#selfreminder

#berbagikebaikan

#tafakur

#enlightenedheart

#oneweekonepost

#wifiregionbandung

KENANGAN RAMADAN

Ada rasa rindu ketika mengenang Ramadan sebelumnya. Karena Ramadan kali ini terasa ada yang kurang di hati. Ini adalah Ramadan pertama tanpa kehadiran salah seorang terdekat. Papap tercinta.

Salah satu kenangan yang sangat melekat adalah ajakannya untuk salat tarawih berjamaah. Dulu sewaktu rumah jauh dari mesjid, kami melakukannya di rumah. Beliau menjadi imamnya. Bacaannya sangat baik dan merdu. Walaupun kadang saya merasa terpaksa kala itu. Namun ternyata kebiasaan menjadi makmumnya membuat saya mampu menghafal banyak surat pendek dengan bacaan yang baik.

Apa pelajaran yang didapat? Hafalkanlah surat-surat pendek itu dengan bacaan yang baik. Karena jika bacaan kita salah, ketika kita menjadi imam untuk anak-anak kita, mereka bisa jadi menghafalnya dengan bacaan salah. Bukankah salah melafalkan bisa salah juga artinya?

Kenangan yang lain adalah kebaikan hatinya. Beliau sering memberi atau bersedekah untuk siapa saja, khususnya di Bulan Ramadan. Semakin giat beliau lakukan. Hatinya mudah terenyuh yang kadang membuatnya mudah tertipu orang. Tapi itu tidak menghalanginya untuk terus memberi. Entah karena sedekahnya yang kuat, saya menyaksikan tak pernah beliau kesulitan dalam hal materi. Kehidupannya pun terlihat tenang dan damai.

Pelajaran yang didapat adalah untuk hidup yang lebih tenang dan damai, raihlah salah satunya dengan banyak-banyak bersedekah.

Namun ada satu pelajaran yang sangat berharga dari kerinduan kepada beliau. Ramadan tahun lalu, mungkin beliau tidak menyadari adalah ramadan terakhirnya. Dan Ramadan kali ini beliau sudah tak mengalaminya. Ini sangat mungkin terjadi pada kita.

Jadi, manfaatkanlah sebaik-baiknya Ramadan kali ini. Kita tak pernah tahu apakah Ramadan kali ini adalah Ramadan terakhir kita atau bukan.

MasyaAllah. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Terima kasih Papap sayang. Bahkan dalam ketiadaanmu, masih mampu memberikan pelajaran yang sangat berharga buat saya. Doa saya selalu untuk Papap. Semoga menjadi pahala yang terus mengalir ya, Pap, buat Papap. InsyaAllah… Aamiin yaa robbal aalamiin 🙏❤️.

Allahumaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu. Aamiin yaa mujibassaailliin 🙏❤.

#selfreminder
#IloveyouPapap
#kenanganramadan
#ramadanberbagi
#enlightenedheart

SALING MEMAAFKAN DI PINTU RAMADAN

Kemarin ketika diberi kesempatan meminta maaf secara langsung kepada kerabat, seorang kerabat bilang: “Minta maaf itu kan gak harus karena mau puasa di Bulan Ramadan. Kapan saja bisa.”

Ya, setuju banget. Sayangnya kita lebih sering lupa untuk meminta maaf di waktu lain. Kenapa ya?

Karena ternyata meminta maaf (dan memaafkan) adalah kemampuan hati. Pantas saja sering lupa melakukannya karena di hati kita masih sedikit kebenaran-kebenaran Al Quran dan Hadis (islami) yang terpatri. Moment ini menjadi pengingat diri untuk terus berproses, bertafakur agar hati semakin cemerlang. Sehingga meminta maaf serta memaafkan tak pernah terlupakan lagi.

Beruntunglah banyak yang mengingatkan kita untuk meminta maaf sebelum berpuasa di Bulan Ramadan. Paling tidak pada saat inilah waktu saling memaafkan itu terlaksana.

Karena si diri ini hatinya masih miskin kebenaran-kebenaran islami, maka melalui tulisan ini MEMOHON MAAF LAHIR BATIN untuk semua sahabat yang telah setia membaca tulisan-tulisan di sini. Walaupun mungkin kita belum pernah jumpa, tapi tulisanpun bisa salah dan tak berkenan di hati. Manusia memang tempatnya salah. Astaghfirullah wa atubu ilaih…

Selamat menunaikan ibadah puasa sahabat semua. Semoga Allah ridho dengan semua yang kita lakukan di Bulan Suci ini. Aamiin ya mujibassailliin ❤️.

#marhabanyaramadan

#maaflahirbatin

#enlightenedheart

#oneweekonepost

#wifiregionbandung

IKHTIAR SUNGGUH-SUNGGUH

Ketika kita sudah tahu bahwa keinginan Allahlah yang pasti terjadi, apakah kita tetap semangat untuk berikhtiar? Kalau keinginan kita tidak sama dengan keinginan-Nya jadi sia-sia dong. Kan sudah pasti keinginan kita tak akan terwujud.

Sudah lupa ya kalau Allah itu Maha Tahu? Maha Pengasih dan Penyayang? Tak mungkinlah Dia memberikan keburukan untuk kita. Pasti Dia berikan kebaikan selalu untuk kita bahkan yang terbaik. Betapa baiknya Allah.

Dan ikhtiar juga adalah salah satu tugas kita di dunia sebagai bentuk perwujudan dari alasan penciptaan kita. Yaitu sebagai khalifah.

Bayangkan, ketika kita punya bos yang sangat baik kepada kita; pasti kita akan melakukan tugas yang diberikan kepada kita sebaik-baiknya. Nah, ini Allah lho, Sang Maha Kuasa; Bos dari segala bos. Masa kesangat-baikkan-Nya dibalas dengan seadanya oleh kita.

So, berikhtiarlah dengan sungguh-sungguh karenanya.

#selfreminder
#marhabanyaramadan
#ikhtiarsungguhsungguh
#enlightenedheart

MASYAALLAH 😍

MasyaAllah 😍.

Bener ya. Bahwa kita itu tak banyak tahu. Bahkan sedetik dari sekarangpun. Apa yang terjadi esok hari, apa yang ada di dalam rahim seorang ibu, kapan dan dimana kematian menghampiri, apalagi tentang hari kiamat. Hanya Allah yang tahu. Segala hal , bahkan hal terkecil sekalipun Dia mengetahuinya.

Termasuk apa yang terbaik untuk aku, sang jiwa. Dan karena Allah sangat sayang kepada manusia, maka yang Dia berikan pasti yang terbaik untuk jiwa.

Jadi kenapa masih mengeluh dengan ketidaknyamanan yang datang kepada kita?

MasyaAllah 😍. Memang Allah Maha Luar Biasa ❤️.

“Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)

#selfreminder

#pencerahanpagi

#AllahMahaTahu

#enlightenedheart

#untukbahagia

SURGA

SURGA

Siapa sih yang tak inginkan surga? Sepertinya hampir semua orang inginkan itu. Hal ini tercermin dari seringnya kita berdoa “robbanaa aatinaa fii dunya hasanah, wa fil aakhiroti hasanah waqinaa adzaabannaar”.

Tapi sadarkah kita bahwa surga itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang beriman dan beramal saleh saja? Atau dengan kata lain mereka yang taat kepada Allah saja. Termasuk pada saat kita mengalami ketidaknyamanan. Ini sudah menjadi janji Allah yang tercantum di ayat terpilih #insightQuran Jumat ini, surat An-Nisaa’ ayat 122.

Beberapa waktu lalu ada teman yang curhat. Dia merasa berat dalam menjalani hidup ini. Berbagai ketidaknyamanan tak henti mendatanginya.

Rupanya dia lupa bahwa saat ini sedang berada di dunia. Dunia tempatnya kita diuji melalui berbagai ketidaknyamanan.

Tapi sesungguhnya, ketidaknyamanan itu untuk kebaikan kita. Melalui ketidaknyamanan itulah kita jadi tidak terlena.

Coba saja perhatikan, pada saat kapan kita banyak berdoa dan mengingat Allah. Apakah ketika sedang mengalami ketidaknyamanan atau kenyamanan? Bahkanpada saat kita mengeluh kepada Allah, itu artinya kita sedang mengingat-Nya

Dengan banyak berdoa dan mengingat Allah memperbesar jalan kita untuk taat. Yang artinya memperbesar kita untuk mencapai surga-Nya.

Kalau begitu semestinya kita bersyukur dengan ketidaknyamanan yang dialami. Karena saat itu Allah sedang membuka jalan kita untuk taat.

Tinggal kitanya saja yang memilih menjadi taat dengan bersabar, ikhlas, dan berserah diri; atau sebaliknya. Semua ada di tangan kita. Jika memilih untuk taat maka surga yang diinginkan akan dapat kita raih, sesuai dengan janji Allah.

#surga

#taat

#janjiAllah

#enlightenedheart

HP

Tadi pagi sambil beraktivitas di dapur, Emak, panggilan untuk asisten rumah tangga, bercerita. Dulu di kampung sewaktu remaja, kalau ada hari libur, dia bersama beberapa temannya bermain. Tapi bermainnya menghasilkan. Seringnya membuat suatu makanan, seperti berbagai keripik dari bahan yang tersedia.

Beda banget sama remaja sekarang, lanjutnya. Setiap libur mereka bermain juga. Tapi sering tidak menghasilkan, karena hanya main-main (dalam arti sesungguhnya) hp saja sambil foto-foto.

Saya tercenung sambil membenarkan dalam hati. Karena saya teringat diri sendiri, bahkan ketika sudah tidak remaja lagi. Pada saat teknologi hp hadir dengan dilengkapi game canggih dan kamera, saya sudah berkeluarga. Tapi saya tetap tertarik menghabiskan waktu untuk memainkan game-game tersebut dan juga berfoto ria.

Kemudian foto-foto itu saya upload di medsos dengan caption tanpa kebaikan. Dan saya lanjutkan dengan menlusuri postingan teman-teman yang sering tidak banyak manfaatnya. Pada saat itu saya tidak menyadari terbuangnya waktu yang berharga.

Ternyata kemajuan teknologi tidak hanya membantu kita semakin mudah menjalani hidup, tetapi melenakan juga. Kita terlena karena kemudahan itu. Tanpa menyadari bahwa hal itu bisa membuat kita tidak bahagia.

Ketika nilai-nilai ujian jelek, bisnis merugi, nulis gak kelar-kelar; galau kan? Kitapun berkeluh kesah. Padahal semua itu karena kita terlena oleh canggihnya hp.

Untunglah saat saya terlena, Allah mengingatkan melalui berbagai ketidaknyamanan. Setelah itu, saya menggunakan hp yang dimanfaatkan untuk berbisnis dan menulis.

Ya, berkomunikasi dengan tim atau klien, saya lakukan via hp. Menuliskan berbagai ide, mapping, ouline, bahkan menuangkannya menjadi tulisan juga saya lakukan dengan hp.

Tentu saja semua aktivitas itu saya pilih karena saya yakin bisa mendekatkan kepada tujuan hidup saya. InsyaAllah…

Kalau kamu gimana?

#memanfaakanhp

#untukberbisnis

#untukmenulis

#enlightenedheart

#oneweekonepost

#wifiregionbandung

PENTINGKAH MEMILIKI TUJUAN HIDUP? Part 2

Beberapa kali saya bertemu dengan teman yang curhat dengan ketidakpuasan hidupnya. Terutama dengan perasaannya ketika berada di tempat kerja atau bisnis.

Ketika saya bertanya kenapa tetap bertahan bekerja di tempat itu atau berbisnis di bidang itu? Banyak alasan dikemukakan. Butuh dan kalau berhenti gak tau dapat kerja lagi atau bisa berbisnis lagi. Tidak diijinkan berhenti oleh atasan atau pasangan. Sayang, masuknya atau mengawalinya penuh perjuangan. Dan sebagainya.

Well, hidup adalah pilihan untuk melakukan berbagai aktivitas. Seperti yang sudah dibahas di part 1, ketika kita akan melakukan sesuatu semestinya kita sudah yakin bahwa pilihan itu sesuai atau bisa mendekatkan kita kepada tujuan hidup.

Ketika kita menyadari bahwa aktivitas itu mendekatkan kepada tujuan hidup, maka kita tidak akan mengeluh. Kita malah akan semakin semangat. Apapun yang orang lain lakukan kepada kita tidak menjadi masalah.

Kalau masih merasa kecewa, kesal, dan marah; bisa jadi apa yang kita lakukan tidak mendukung kepada pencapaian tujuan hidup. Atau barangkali tujuan hidup yang dipilih tidak sejalan dengan tujuan penciptaan kita.

Kalau begitu tujuan hidup mana yang sejalan dengan itu?

Jawabannya sudah tersedia dengan jelas dan sering kita ucapkan dalam doa yang tertulis di surat pilihan untuk #insightQuran kali ini. Yaitu surat Al-Baqarah ayat 201.

Begitu kita yakin dengan tujuan hidup itu, semua pilihan akan jatuh kepada hal yang mendukung terwujudnya hal tersebut. Dan kita tak akan mengeluh dengan apapun yang terjadi. Karena yakin tujuan hidup akan tercapai dengan pilihan tersebut.

#tujuanhidup

#dbas

#hidupadalahpilihan

#enlightenedheart

MAKNA KEHILANGAN

Pernahkah merasa kehilangan? sepertinya semua orang pernah. Mulai dari kehilangan benda atau hal yang tidak terlalu berarti sampai yang begitu penting dalam hidup kita. Mulai dari kehilangan ballpoin, buku, ikat rambut, peniti; sampai kehilangan kendaraan, uang dalam jumlah besar, dan orang terdekat yang kita sayangi.

Perasaan yang kita alami biasanya tergantung dari seberapa banyak dan pentingnya hal atau benda yang hilang tersebut. Jika hal atau benda yang hilang tidak terlalu berarti, maka hanya merasakan sedikit sedih yang tidak lama. Tetapi jika yang hilang adalah hal atau benda yang cukup penting, kita pun merasakan kesedihan mendalam dan lama. Termasuk ketika mengalami kehilangan orang terdekat yang kita sayangi karena kematian misalnya.

Tapi apakah itu yang Allah inginkan ketika kita kehilangan orang terdekat karena kematian? Apakah itu yang jiwa inginkan? Tidak. Karena jiwa dan juga Allah inginkan kita selalu bahagia. Bukan bahagia namanya jika mengalami kesedihan mendalam dan lama.

Tapi kenapa ya, perasaan itu tetap ada? Bagaimana cara menghalaunya? Bagaimana supaya bisa selalu bahagia?

Kita perlu hati yang mampu untuk menghalaunya. Hati yang mampu melihat makna dibalik peristiwa kehilangan itu. Hati yang tidak terjebak dalam fakta. Karena fakta sering menipu. Justru sesungguhnya yang tidak terlihat dibalik fakta itulah yang lebih penting. Yang bisa membuat kita selalu bahagia.

Sadarilah bahwa kehilangan orang terdekat karena kematian adalah cara Allah menyayangi kita. Itu adalah salah satu kebaikan yang Allah berikan. Saat itu Allah sedang mengingatkan, bahwa suatu saat giliran kitalah yang menghadapi kematian. Mengingatkan sudah sejauhmana persiapan kita menghadapinya.

Bukankah kematian pasti akan mendatangi kita? Seperti yang tertulis dalam dua surat terpilih untuk #insightQuran  kali ini, Al-Baqarah: 185 dan Al-Anbiya: 27.

Pasti kita semua inginkan husnul khotimah. Dan husnul khotimah hanya bisa diraih jika hati telah memiliki kemampuan untuk terus mengingat Allah di saat kematian itu tiba.

Jika pada saat sakit biasa saja kita sulit untuk khusyu mengingat Allah, bagaimana bisa mengingat-Nya pada saat kematian datang yang sakitnya luar biasa. Jadi mampukanlah hati  untuk itu. Teruslah berproses untuk mendapatkan kemampuan tersebut.

#backtoquran

#oneweekonepost

#wifiregionbandung

#enlightenedheart

MASIH TENTANG SEDEKAH

Akhir-akhir ini saya sering menggunakan jasa taksi online. Lebih praktis, mengurangi konsumsi energi tubuh, dan stres.

Praktis karena saya gak perlu repot mencari lahan parkir, membeli bensin, membersihkan mobil jika kotor. Waktu yang dikeluarkan untuk bepergian menjadi lebih pendek.

Hal ini juga mengurangi konsumsi energi tubuh, selain saya tidak perlu menyetir. Dan mengurangi stres karena tidak mengalami kejengkelan pada saat disalip misalnya, atau berlama-lama mencari lahan parkir.

Memang semakin hari kecanggihan teknologi membuat hidup kita semakin mudah. Bahkan untuk membayar taksi online pun saya tidak perlu menggunakan uang tunai. Saya bisa menggunakan fasilitas e-money.

Tapi untuk hal bayar-membayar ini, ternyata saya lebih suka cara konvensional, bayar tunai saja. Kenapa? Karena dengan membayar tunai saya berkesempatan untuk memberi berbagi kebaikan lebih banyak, yaitu memberi pembayaran lebih kepada mereka.

Memang kebaikan tidak hanya memberi pembayaran lebih. Kita juga bisa memberikan kebaikan dengan sapaan dan ucapan terima kasih yang ramah disertai senyum yang tulus.

Namun pemberian pembayaran lebih bisa menjadi ibadah yang sangat menyenangkan Allah. Jika kita niatkan ini untuk bersedekah.

Bukankah Allah sangat suka dengan sedekah? Seperti yang tercantum dalam 2 ayat yang terpilih untuk #insightQuran Jumat ini, surat Al-Hadid ayat 18 dan Al-Baqarah ayat 261.

Kalau saya merasa ada rasa nyaman dan nikmat ketika memberikan uang itu kepada mereka. Padahal jumlahnya tidak besar, paling banyak mungkin 5 ribu. Tapi coba perhatikan ketika mereka menerimanya, penuh rasa terima kasih dan wajahnya sumringah. Hati ini jadi mengembang dan enak sekali rasanya. Coba deh rasakan.

Bahkan saya pernah disopiri oleh seseorang yang sedang bete, kelihatannya. Dia terlihat cemberut dan tidak ramah. Tapi begitu diberi pembayaran lebih, dia terlihat surprise dan senang. Wajahnya berubah menjadi berseri-seri dan kata-katanya terdengar ramah. Betapa nikmatnya terasa di hati.

Memang Allah itu selalu benar. Tidak hanya bahagia di akhirat kelak yang bisa kita raih, tetapi juga bahagia di dunia ini. Seperti yang tertuang dalam 2 hadis di bawah ini:

“Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR. Bukhari Muslim)

”Perumpamaan orang yang pelit dengan orang yang bersedekah seperti dua orang yang memiliki baju besi, yang bila dipakai menutupi dada hingga selangkangannya. Orang yang bersedekah, dikarenakan sedekahnya ia merasa bajunya lapang dan longgar di kulitnya. Sampai-sampai ujung jarinya tidak terlihat dan baju besinya tidak meninggalkan bekas pada kulitnya. Sedangkan orang yang pelit, dikarenakan pelitnya ia merasakan setiap lingkar baju besinya merekat erat di kulitnya. Ia berusaha melonggarkannya namun tidak bisa.” (HR. Bukhari)

#sedekah
#enlightenedheart
#oneweekonepost
#WiFIregionBandung