SELF EDITING

Terus terang, ini adalah tahapan dalam menulis yang cukup menantang buat saya. Tahapan selanjutnya setelah menjadi seorang kreator. Semangat untuk melakukannya sering dikalahkan oleh aktivitas berkreasi tersebut.

Buat saya rasanya membosankan. Saya harus berkutat dengan satu naskah. Membaca, menelusuri, memperbaiki naskah itu-itu lagi yang dilakukan beberapa kali. Ya, melakukan self editing minimal 3 kali sebelum kemudian naskah kita siap untuk diajukan ke penerbit. Bahkan bisa jadi lebih dari itu. Kebayang kan bosannya?

Bukankah aktivitas ini bisa diserahkan ke pihak lain? Editor freelance misalnya?

Ternyata tidak. Tahapan ini perlu dilakukan sendiri terlebih dulu. Setelah itu jika ingin mendapat bantuan dari editor freelance, boleh-boleh aja.

Kenapa? Karena pada saat self editing ini, kita tidak hanya sekedar memperbaiki kesalahan menulis, pemakaian bahasa baku, dan bahasa yang efisien serta enak dibaca. Melainkan juga pemangkasan dan penambahan substansi yang hanya bisa dilakukan oleh Sang Penulis.

Lantas gimana ya caranya agar lebih bersemangat dalam melakukan aktivitas mengedit ini?

Saya menemukan satu cara yang bisa membuat lebih semangat. Ketika itu saya sedang melakukan self editing untuk naskah buku solo ke 3. Sebelum mengedit ke 3 kali, saya minta beberapa teman untuk menjadi reader dan memberikan masukan. Teman-teman tersebut saya pilih dengan berbagai alasan, salah satunya adalah mereka termasuk target pasar.

Pada saat mereka memberikan masukan terjadilah diskusi yang mengasikkan. Berbagai insight yang cerdas menambah semangat saya untuk melanjutkan aktivitas self editing.

Buat yang mengalami hal yang sama, silakan dicoba. Mudah-mudahan bisa membantu.

#selfediting
#tipsmenulis
#hadirkanreader
#gandrungmenulis
#oneweekonepost
#wifiregionbandung