MEMEGANG ERAT TUJUAN HIDUP

Tujuan hidup itu penting, bahkan sangat penting. Tidak jarang saya mendengar kata-kata itu dari seseorang yang hasil olah hatinya mempengaruhi hidup saya. Dulu ketika di awal-awal beliau mengatakannya, saya mengangguk-angguk seolah setuju dengannya. Tetapi sesungguhnya hati saya bertanya-tanya, apa iya ya? Kenapa kok sangat penting?

Kita sudah pernah membahas masalah ini sebelumnya. Bahwa jika tujuan hidup kita untuk kebaikan tidak hanya diri kita sendiri tetapi juga orang lain maka hal-hal baiklah yang akan masuk ke dalam hati kita. Kita tidak mau mencoba memasukkan hal-hal buruk karena sadar bahwa itu akan membuat tujuan hidup kita tidak tercapai. Sementara jika tujuan hidup kita hanya untuk memuaskan ego diri sendiri tanpa mempedulikan hal lain, maka akan banyak hal-hal buruk yang masuk ke dalam hati kita.

Jadi sangat penting memiliki tujuan hidup ketika kita ingin memupuk perasaan-perasaan positif dan menghilangkan perasaan-perasaan negatif yang ada di hati kita. Dan tujuan hidup itu bisa membuat kita tidak putus asa melainkan terus bersemangat untuk selalu menghadirkan perasaan-perasaan positif dan meninggalkan perasaan-perasaan negatif tersebut. Sehingga semua sikap dan perilaku kita mengarah ke sana.

Ah, tapi saya kok masih sering merasakan perasaan-perasaan negatif itu walaupun sudah memiliki tujuan hidup yang disarankan. Kenapa ya?

Well, seperti yang sudah pernah kita bahas juga di sini, bahwa hanya memiliki tujuan hidup yang sesuai itu belum cukup. Jika kita tidak yakin dengan atau memegang erat tujuan hidup kita yang penuh kebaikan, maka kita tetap tidak mampu mencegah masuknya hal-hal buruk ke dalam hati kita. Jadi hanya dengan memegang erat tujuan hidup itulah maka perasaan-perasaan negatif bisa kita halau dari hati dan perasaan-perasaan positif semakin menguasai hati kita.

Lantas bagaimana caranya supaya kita bisa memegang erat tujuan hidup kita? Mudah. Setiap kali perasaan-perasaan negatif itu mulai muncul, coba segera rasakan ketika tujuan hidup kita sudah tercapai. Rasakan sepenuh hati semua perasaan yang muncul pada saat itu. Jika memang yang terasa adalah kesenangan dan kepuasan yang menggebu, rasakan sepenuh hati. Atau rasa lega dan nikmat yang sangat menenangkan, rasakan sepenuh hati. Sehingga perasaan-perasaan itu menguasai hati kita dan kita hanya inginkan rasa itu saja yang ada di hati. Terhalaulah sudah perasaan-perasan negatif dari hati kita.

Apa betul? Silakan dicoba. Karena hanya dengan mencobanya kita tahu jawabannya.

#sarapankata
#day28
#kmoindonesia
#kmobatch12
#memegangerattujuanhidup
#memupukperasaanpositif
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day56

TUJUAN HIDUP

Pernahkah kita merasa heran ketika melihat atau mendengar seseorang merespon berbeda dengan kita pada saat mengalami peristiwa yang sama? Misalnya ketika atasan kita di tempat kerja kesal dan menegur dengan keras karena kesalahan yang kita lakukan; kita bisa tetap tenang dan menerimanya. Tetapi ada orang lain yang mengalami hal sama merasa sakit hati dan marah karenanya.

Atau partner bisnis kita sering ingkar janji, kita bisa tetap tenang menghadapinya. Tetapi ada orang lain pada saat mengalami hal yang sama merasa kesal sehingga kemudian memutuskan tali silaturahmi dengan partnernya itu.

Kok bisa ya? Apa yang menyebabkan perbedaan respon tersebut?

Respon adalah cara kita menyikapi sesuatu. Sikap dan perilaku kita ternyata ditentukan oleh apa yang ada di hati kita. Jika hati kita dipenuhi kebaikan-kebaikan maka sikap dan perilaku kita juga penuh kebaikan. Tetapi sebaliknya, jika hati kita dipenuhi hal-hal yang buruk maka sikap dan perilaku kita juga penuh keburukan.

Begitulah potensi hati. Sangat dahsyat sehingga selalu mempengaruhi sikap dan perilaku kita. Karenanya kita tidak boleh sembarangan memasukkan semua hal ke dalam hati kita. Pilihlah hanya hal-hal kebaikan saja. Agar kita hanya bersikap dan berperilaku baik selama hidup kita yang tidak lama ini.

Lantas bagaimana caranya agar kita bisa memilih hal-hal baik saja yang masuk ke dalam hati kita? Caranya adalah dengan menentukan apa tujuan hidup kita.

Jika tujuan hidup kita untuk kebaikan tidak hanya diri kita sendiri tetapi juga orang lain maka hal-hal baiklah yang akan masuk ke dalam hati kita. Kita tidak mau mencoba memasukkan hal-hal buruk karena sadar bahwa itu akan membuat tujuan hidup kita tidak tercapai. Sementara jika tujuan hidup kita hanya untuk memuaskan ego diri sendiri tanpa mempedulikan hal lain, maka akan banyak hal-hal buruk yang masuk ke dalam hati kita.

Apakah cukup sampai di sini saja agar hati kita penuh kebaikan?

Ternyata belumlah cukup. Jika kita tidak yakin dengan tujuan hidup kita yang penuh kebaikan, maka kita tetap tidak mampu mencegah masuknya hal-hal buruk ke dalam hati kita. Kenapa demikian?

Kita yakin akan sesuatu hal artinya sesuatu itu sudah masuk dan tertanam di
hati kita. Dengan masuk dan tertanamnya sesuatu itu di hati kita, maka otomatis sesuatu itu akan mempengaruhi sikap dan perilaku kita. Misalnya ketika kita bersabar pada saat mendapatkan kendala di tempat kerja, hal itu terjadi karena kita yakin dengan bersabar kendala itu bisa lebih mudah teratasi. Selain itu dengan bersabar kemungkinan kita menyakiti orang lain jadi kecil dan kita tidak ingin menyakiti orang lain, karena kita yakin semakin jarang kita menyakiti orang lain maka akan semakin jarang orang lain itu menyakiti kita.

Jadi kita perlu untuk yakin akan tujuan hidup kita. Begitu kita yakin dengan tujuan hidup kita, artinya kita sangat menginginkan tujuan hidup kita itu tercapai, maka sikap dan perilaku kita akan selalu mendukung kepada tujuan hidup kita itu.

Pertanyaannya, sudahkah kita punya tujuan hidup? Dan apakah tujuan hidup kita itu penuh kebaikan? Sudah yakinkah kita dengan tujuan hidup kita itu?

#sarapankata
#day18
#kmoindonesia
#kmobatch12
#tujuanhidup
#kebaikan
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day46