VICTIM OR VICTOR? (3)

Menjadi seorang pemenang (victor) adalah keinginan banyak orang. Namun ternyata sedikit yang tahu apalagi yang menyadari bahwa ada kebiasaan-kebiasaan kita yang membuat kita selalu selalu berada dalam kondisi sebaliknya, yaitu menjadi korban (victim). Salah satunya adalah berdalih atau excusing.

Bagaimana kita mengetahui kalau kita atau seseorang itu sedang berdalih? Mudah saja. Dia selalu memiliki banyak alasan untuk setiap kesalahan yang dia lakukan agar orang tidak menganggap kesalahan itu adalah kesalahan dirinya sendiri semata.

“Waktunya kurang pas, lagi banyak deadline,” begitu kata seseorang ketika pekerjaannya tidak selesai pada waktunya. Padahal mungkin dia yang kurang mampu mengatur waktu sehingga semua pekerjaan yang sudah mendekati masa tenggatnya menumpuk di satu waktu.

“Semuanya juga mengalami penurunan penjualan, karena katanya daya beli masyarakat menurun,” ketika ditanya kenapa omset bisnisnya menurun. Padahal mungkin dia belum bersungguh-sungguh dalam melatih timnya untuk meningkatkan pelayanan bagi para calon pelanggan.

“Saya sih tidak berburuk sangka, saya pikir dia orang yang dapat dipercaya,” begitu katanya ketika proyeknya gagal. Padahal mungkin dia yang kurang hati-hati ketika merekrut tim.

“Saya kan masih awam dalam menulis,” ketika ditanya kenapa naskah bukunya tidak selesai juga. Jawabannya seolah-olah tidak mencerminkan berdalih karena menunjuk dirinya sendiri. Tapi dia tetap berdalih jika dia tidak melakukan apa-apa untuk menghilangkan keawaman menulisnya itu.

Bagaimana kita bisa maju dan sukses jika kita sering berdalih untuk berbagai kesalahan yang kita lakukan. Ketika evaluasi dilakukan maka hasilnya tidak akurat. Semestinya yang diperbaiki adalah diri kita sendiri, karena berdalih maka yang diperbaiki adalah hal lain yang tidak akan membantu kita untuk menjadi lebih baik karena sumber masalah yaitu yang ada dalam diri kita sendiri dibiarkan tetap ada.

Masih sulit untuk mengakui bahwa penyebab kegagalan itu dari diri sendiri? Coba kembalikan kepada tujuan kita, bekerja atau berbisnis itu untuk apa? Dan bayangkan bagaimana perasaan kita ketika kita sudah mencapai tujuan itu. Senang? Gembira? Puas? Rasakan sepenuh hati sehingga kemudian kita akan bersedia dengan tulus melakukan apapun untuk mencapainya. Termasuk mengakui bahwa diri sendirilahyang menyebabkan kegagalan itu.

Enggak percaya? Bagaimana bisa percaya hal itu benar atau tidak kalau kita tidak mencobanya. Ya kan?

#sarapankata
#day11
#kmoindonesia
#kmobatch12
#berdalih
#excusing
#victimorvictor?
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day38

VICTIM OR VICTOR? (2)

Siapa sih yang tidak ingin menjadi pemenang? Saya percaya hampir semua orang ingin menjadi pemenang. Tapi ternyata tidak mudah menjadi seorang pemenang. Karena ada hal-hal yang kita lakukan tanpa kita sadari membuat kita tidak bisa menjadi pemenang melainkan menjadi korban. Salah satunya adalah penolakan kita terhadap ketidaknyamanan yang kita alami.

Apakah anda pernah merasa kecewa, gelisah, khawatir, kesal yang berujung pada marah dan stres? Atau bahkan mungkin sering? Biasanya disebabkan oleh apa? Kalau saya, salah satunya adalah tidak mau menerima kenyataan bahwa apa yang saya harapkan tidak tercapai. Dan itu kadang tanpa disadari.

Misalnya tanpa sadar ternyata saya pernah menolak kegagalan dalam berbisnis. Ketika itu bisnis baju muslim saya semakin hari semakin menurun performanya. Cirinya apa bahwa saya menolak? Saat itu terjadi saya mengeluh dengan bertanya-tanya tidak hanya kepada diri sendiri dan orang-orang terdekat, tapi juga kepada Allah.

Kenapa kok bisnis saya semakin terpuruk? Padahal sudah mengikuti banyak seminar dan pelatihan bisnis dan menerapkan apa yang didapat. Padahal sudah aktif di komunitas bisnis. Padahal beberapa kali ikut program mentoring. Padahal orang lain yang melakukan hal sama bisa maju bisnisnya. Apa salah saya?

Ketika kemudian kita mendapatkan jawaban yang mengarah kepada menyalahkan hal lain di luar diri kita, maka pada saat itulah kita menjadi korban atau victim. Pada saat kita diposisi ini, maka kita akan sulit menjadi
pemenang atau victor.

Apakah salah mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu? Sebetulnya jika pertanyaan itu ditujukan benar-benar hanya untuk mencari solusi agar ketidaknyamanan/kegagalan yang kita terima itu segera teratasi, bisa jadi tidak masalah. Dan tanpa kecenderungan menyalahkan hal lain di luar diri kita. Bahkan hal itu bisa membantu kita untuk segera mendapatkan solusi dan membuat keadaan membaik lagi.

Sayangnya itu bukanlah tahap pertama bagi kita untuk sampai kepada ciri menerima. Ada langkah lain yang justru paling penting yang sering kita lupakan untuk sampai ke tahap tersebut. Sebelum pertanyaan-pertanyaan itu diajukan kita perlu menyadari bahwa kita memang pantas menerima ketidaknyamanan/kegagalan tersebut.

Jadi tidak mengherankan ketika ketidaknyamanan/kegagalan itu datang, kita bertanya-tanya terus-menerus karena kecewa dan iri dengan apa yang dicapai orang lain, tanpa berusaha dengan sungguh-sungguh mencari solusinya. itulah yang akhirnya bisa membuat kita marah dan stres.

Dan bahkan sebaiknya kita menyadari bahwa kita pantas menerima ketidaknyamanan/kegagalan itu sebelum hal itu terjadi. Ini membantu kita semakin siap menerima pada saat hal itu terjadi. Sehingga kita tidak akan merasa kecewa, gelisah, khawatir, marah, dan stres pada saat ketidaknyamanan itu datang.

Ternyata tidak sulit, ya menjadi victor? Atau … sulit?

#sarapankata
#day9
#kmoindonesia
#kmobatch12
#oneweekonepost
#wifibandung
#wifiregionbandung
#menolak
#victimorvictor?
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day36

VICTIM OR VICTOR? (1)

“Jalanan macet.”

“Hujan deras banget.”

“Ban motor bocor.”

Pernahkah mendengar seseorang yang menjawab seperti itu ketika dia datang terlambat pada saat meeting atau masuk kerja/kuliah misalnya? Sering, ya?

“Terlalu banyak tugas/pekerjaan dalam satu waktu.”

“Printernya rusak.”

“Anak rewel.”

“Waktunya mepet banget.”

Atau pernahkah mendengar seseorang menjawab seperti di atas ketika dia tidak bisa mengerjakan tugasnya di tempat kerja/kampus misalnya? Ternyata sering juga, ya.

Apakah salah jika seseorang memberikan alasan-alasan seperti itu? Belum tentu. Bisa jadi apa yang dikatakannya itu memang benar adanya. Jalanan memang macet, hujannya memang deras banget, printernya memang rusak, atau waktunya memang mepet banget.

Tetapi bukan masalah salah atau benar, terjadi atau tidak, apa yang dikatakannya itu. jika itu menjadi kebiasaan maka kita menjadi sering dan dengan mudah membiarkan janji atau tugas/perkerjaan kita terbengkalai. Pada saat seperti itu beribu alasan bisa dengan mudah kita temukan. Sehingga kita mungkin jadi tidak merasa bersalah dan mungkin juga tidak ada keinginan untuk mengerjakan tugas/pekerjaan kita dengan baik. Kita jadi lalai akan tanggungjawab/janji kita.

Bagaimana mungkin kita bisa menjadi pemenang jika hal itu sering kita lakukan? Bagaimana mungkin kita bisa mencapai keinginan-keinginan/mimpi-mimpi kita jika sering dan dengan mudah memberi alasan seperti itu? Katanya ingin berprestasi di tempat kerja. Katanya ingin bisnisnya sukses. Katanya ingin bisa lulus kuliah tepat waktu dan dengan nilai yang baik. Katanya ingin jadi penulis buku yang hebat dan terkenal.

Apakah semua itu bisa kita capai hanya dengan “ingin”? Tapi kita tidak memperbaiki kebiasaan-kebiasaan kita yang tidak baik seperti di atas? Yaitu dengan mudah kita memberikan banyak alasan untuk ketidakdisiplinan kita?

Selama kita merasa selalu menjadi korban (victim) kita akan sulit untuk menjadi pemenang (victor). Itulah kemudian yang membuat kita menjadi sering mengeluh saja tanpa mencari solusi dari apa yang kita keluhkan itu. Kita menjadi merasa nyaman dalam keluhan-keluhan itu. Kita tidak merasa bersalah ketika keluhan itu disampaikan.

Tapi memang semua kembali kepada diri masing-masing. Menjadi victim atau victor adalah pilihan. Tidak ada yang bisa menentukannya kecuali diri kita sendiri.

Jadi mau tetap menjadi victim atau berubah menjadi victor?

#sarapankata
#day7
#kmoindonesia
#kmobatch12
#victimorvictor?
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day34