HANYA MENYAMPAIKAN

Masihkah kita memaksakan kehendak kita kepada anak-anak kita? Atau pasangan kita? Atau mereka yang secara hierarkis ada di bawah kita?

Apakah kalau anak-anak susah disuruh salat, kita masih ngomel sambil mengancam mereka? Apakah kalau pasangan masih malas bersedekah, kita masih menegur dengan keras. Apakah kalau bawahan kita masih suka bergunjing, kita menyindir yang menyakitkan hatinya?

Padahal Allah saja tidak pernah memaksa kita untuk mentaati-Nya. Siapa yang mau beriman silakan beriman, siapa yang mau kafir silakan kafir. Itu tercermin dalam ayat yang menjadi pilihan untuk #insightQuran kali ini, surat Al-Kahfi ayat 29.

Lantas apakah kita diam saja kalau ada ketidakbenaran di depan kita? Tentu saja tidak. Kita diminta untuk mengingatkan mereka, kita diminta untuk menyampaikan kebenaran walaupun hanya satu ayat saja yang kita ketahui. Seperti menurut hadis ini.

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari).

Namun sebelumnya kita ber-tabayyun dulu. Tanyakan kenapa mereka melakukan itu. Karena siapa tahu mereka punya dasar yang kuat juga yaitu Al-Quran atau hadis, yang kita tidak mengetahuinya.

Ketika itu terjadi, maka apa yang mereka lakukan benar adanya. Tidak perlu diperdebatkan lagi. Yang penting apa yang mereka lakukan tidak melanggar Al-Quran dan Hadis.

Jika apa yang mereka lakukan tidak sesuai Al-Quran dan hadis barulah kita peringatkan baik-baik. Kita sampaikan kebenaran sesuai Al-Quran dan hadis. Kalau mereka masih tidak mengubah prilakunya, ya sudah biarkan saja. Karena semua ada pertanggungjawaban kelak. Apa yang mereka lakukan akan mereka pertanggungjawabkan kelak oleh mereka sendiri.

Tapi kan mereka anak-anak dan pasangan saya, yang saya sayangi. Saya tidak mau nanti mereka menderita di akhirat kelak. Gimana dong?

Ajaklah mereka untuk belajar hati, yaitu mengisi hati mereka dengan kebaikan-kebaikan atau kebenaran-kebenaran Al-Quran dan hadis. Begitu hati mereka dipenuhi itu, tanpa kita suruh, tanpa diingatkan, dengan sendirinya mereka akan melakukan apa yang Allah inginkan itu.

#enlightenedheart
#berbagikebaikan
#hanyamenyampaikan
#alkahfi29
#oneweekonepost
#wifiregionbandung

“BERBISNIS” DENGAN-NYA

Beberapa waktu lalu saya terpaku dengan postingan salah seorang sahabat jiwa yang mampir di timeline FB saya yang isinya kira-kira seperti ini: Sudah pernah menemukan belum promo big sale buy one get 10, atau super-super big sale buy one get 700? Berbisnis dengan siapa bisa begini? Kalau ada, mau gak?

MasyaAllah! Seperti ada yang menampar pipi ini. Apalagi ketika komen saya dibalasnya kira-kira seperti ini: Padahal kalau ada promo buy one get one free aja di mal-mal atau supermarket, yang artinya cuma dapat 2, dikejar-kejar. Semakin keras tamparannya terasa. Begitu tertamparnya saya sehingga saya memutuskan untuk memilih surat Al-An’am ayat 160 untuk #insightQuran di Jumat ini.

Dan ayat terpilih ini diperkuat juga oleh satu hadis di bawah ini:

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Jika hamba-Ku bertekad melakukan kejelekan, janganlah dicatat hingga ia melakukannya. Jika ia melakukan kejelekan tersebut, maka catatlah satu kejelekan yang semisal. Jika ia meninggalkan kejelekan tersebut karena-Ku, maka catatlah satu kebaikan untuknya. Jika ia bertekad melakukan satu kebaikan, maka catatlah untuknya satu kebaikan. Jika ia melakukan kebaikan tersebut, maka catatlah baginya sepuluh kebaikan yang semisal hingga 700 kali lipat.” (HR. Bukhari no. 7062 dan Muslim no. 129).

Kita (atau saya mungkin ya, yang lain mah enggak 😔) sering lupa atau mungkin hati ini belum mampu untuk “melihat dengan jelas” promo spektakuler itu. Saya pun sering membiarkan kesempatan berharga itu berlalu begitu saja. Duh! Bangun Leny! Katanya ingin DBAS (Dunia Bahagia Akhirat Surga), tapi ada promo besar-besaran super duper keren gini, dicuekin.

Padahal promo but one get one free itu hanya sedikit dan bermanfaat buat kita hanya di dunia. Sementara promo besar-besaran dari Allah itu selain jauh lebih banyak jumlahnya, tidak hanya di dunia manfaatnya terasa tapi juga sampai di akhirat kelak. MasyaAllah!

Untunglah promo itu masih terus berlangsung sampai akhir zaman. So, jangan tunda-tunda lagi, yuk berbuat baik untuk siapa saja! Karena semua itu akan kembali kepada kita. Ternyata berbuat baik tidak hanya menguntungkan orang lain yang kita beri kebaikan, melainkan untuk diri kita sendiri dan bahkan berlipat ganda jumlahnya.

Thanks to sahabat jiwa Teh Tia Soenardi untuk remindernya yang jleb banget ini 🙏.

 

#oneweekonepost
#wifiregionbandung
#berbagikebaikan
#enlightenedheart

BAHASA DAN RASA

BAHASA DAN RASA

Dua hari lalu adalah hari yang menyenangkan. Banyak hal yang sebetulnya tidak baru, tapi ternyata ketika mempelajari lebih dalam salah satunya, bisa membuat saya merasa lebih baik. Ya, rasa. Ini memang tentang rasa.

Rasa apa yang ingin selalu kita miliki sebenarnya di dalam hidup ini? Kalau saya rasa tenang, damai, dan tenteram. Nikmat banget jika itu bisa diraih. Tapi apa bisa, sementara di dunia tidak hanya kenyamanan yang menghampiri kita tetapi juga ketidaknyaman?

Konon ada satu hormon yang akan muncul pada saat kita merasa terancam. Karena merasa terancam tubuh kita jadi merasa tertekan. Dan hormon ini memiliki fungsi untuk mengedalikan rasa tertekan atau stres tersebut. Selama kita tidak merasakan stres berlebihan, hormon itu hadir dalam jumlah yang bisa kita terima. Namun di saat stres yang kita rasa meningkat maka hormon ini akan banyak diproduksi tubuh dan bisa mengganggu tubuh kita karena hadir berlebihan. Segala sesuatu yang berlebihan itu memang tidak baik kan? Hormon itu bernama kortisol.

Sementara ada satu hormon lagi yang muncul ketika kita merasakan kasih sayang atau cinta. Pada saat seperti itu biasanya sikap dan perilaku kita kemudian menjadi menyenangkan, penuh perhatian, dan gembira. Hormon inilah yang membantu perasaan-perasaan positif hadir di diri kita. Semakin kita merasakan cinta maka semakin banyak hormon ini dikeluarkan oleh kelenjar pituary kita; dan semakin sering kita bersikap dan berperilaku positif. Hal ini membuat kita semakin sering merasa bahagia atau merasa tenang, damai, dan tentram seperti yang saya inginkan. Hormon ini bernama oksitosin.

Dua hormon itu menjadi pilihan buat kita pada saat kita menjalani hidup. Mau banyak mengeluarkan kortisol atau oksitosin? Kalau saya, sesuai keinginan di awal, tentunya oksitosin. So, saya perlu mencari tahu hal-hal apa saja yang bisa saya lakukan agar hormon ini selalu bahkan semakin banyak hadir di tubuh saya.

Ternyata mudah. Tidak perlu mencari-cari dengan biaya, waktu, dan tenaga yang banyak. Melalui bahasa yang kita ucapkan, kita bisa menghadirkan banyak oksitosin di tubuh kita. Maksudnya?

Begini. Ternyata kata-kata yang kita ucapkan bisa menentukan yang muncul di tubuh kita itu kortisol atau oksitosin. Setiap kali kita mengalami, melihat, atau mendengar sesuatu; ucapkanlah kata-kata positif atau paling tidak netral sesuai dengan kenyataan yang ada.

Misalnya ketika kita menghadapi macet. Apa saja hal positif atau netral yang bisa kita ucapkan? Wah, banyak mobil ya … Atau … Wih, makmur ya orang-orang Indonesia (banyak yang bisa beli mobil dan bensin kan?) …

Coba rasakan bedanya ketika kita mengalami macet dan kata-kata ini yang terucap. Ya macet, bakalan lama nih … Ya udah stuck aja, kapan nyampenya …

Terasa kan? Hati ini mengkerut, murung, dan khawatir ketika mengucapkan kata-kata di alinea kedua? Kortisollah yang diproduksi pada saat itu. Berbeda dengan rasa ketika mengucapkan kata-kata di alinea sebelumnya. Hati tetap terbuka, lebih tenang dan segera menerima kondisi itu dengan santai. Oksitosinlah yang hadir.

Dan itu juga yang terjadi ketika saya mengucapkan “Terus terang saya mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan materi-materi yang diberikan. Tiba-tiba blank ketika harus berhadapan dengan orang yang di coach. Dan saya sulit melakukan aktivitas menulis berbarengan dengan menjadi active listener.” Wajah saya jadi tak bersemangat, pandangan sedih, hati mengkerut, dan tubuh mulai terasa lelah.

Tetapi ketika di akhir sesi saya mengucapkan “Semua menarik dan menantang. Saya ingin bisa seperti yang lain juga yang sudah mampu melakukannya. Jadi saya akan terus rajin berlatih karenanya.” Saya merasakan semangat yang menggelora, hati yang terbuka, dan lelah itu tiba-tiba menghilang. MasyaAllah … Amazing ya …

Alhamdulillah … Thanks to Mba Damayanti AHa dan Kaka Salsabila Athaya Zahra yang sudah menemani dan memacu saya untuk terus maju. Special thanks to my best coach Fauzi Rachmanto untuk ilmu, ajakan, dan idenya. You’re still my love, my best, my pride, always (lebay? Ga apa2. Yang penting oksitosin yg muncul kan? 😄).

#coachlife
#coachingchangeslife
#kandelacoachingtraining
#kandelainstitute
#WiFIregionBandung
#oneweekonepost

 

INSIGHT QURAN DAY 3

Pagi tadi ketika saya akan memulai suatu aktivitas yang sudah direncanakan sebelumnya karena DL-nya sudah dekat, tiba-tiba suami mengajak untuk membereskan ruang keluarga karena sudah mulai berantakan. Saya sempat ingin protes keberatan karena sudah punya rencana tadi. Tapi tiba-tiba saya teringat dengan 2 ayat Alquran yang kemudian saya jadikan untuk #insightQuran day 3 ini.

Tentunya ini adalah ujian ketidaknyamanan untuk saya. Dan Allah tidak ingin saya merespon ujian tersebut dengan memprotes kepada suami. Allah inginkan saya sabar memghadapinya. Akhirnya saya segera membereskan kembali perlengkapan untuk beraktivitas tadi. Dan saya memasang senyum sebelum kemudian menyusul suami untuk membantunya membereskan ruang tengah.

Rasanya? Jangan ditanya, luar biasa indahnya. Saya dan suami melakukan aktivitas bersama diselingi canda tawa. Pekerjaan terasa ringan dan menyenangkan, dan tak terasa segera selesai. Ruang keluarga rapih kembali dan suasana rumah tetap menyenangkan untuk semua. MasyaAllah 😍.

Lantas bagaimana dengan rencana aktivitas saya tadi yang DL-nya sudah dekat? Ketika saya memutuskan untuk mengikuti keinginan suami, saya hanya berpikir seperti ini. Kalau saya melewatkan DL memangnya saya kemudian jadi masuk neraka? Kan tidak. Justru ketika saya memprotes suami dan suami kesal, kemudian terjadi cekcok misalnya; itu bisa menyebabkan saya masuk neraka karena tidak lulus ujian Allah.

Jadi DL-nya terlewati? Ternyata tidak juga. Ketika aktivitas beres-beres itu hampis selesai, saya meminta izin sebentar untuk melakukan aktivitas tersebut. Alhamdulillah suami mengizinkan. Dan saya masih bisa mengejar untuk tidak melewati DL. MasyaAllah, semua terselesaikan tanpa harus membuat suasana menjadi panas dan tidak menyenangkan. Indah kah?

Percaya deh. Alquran tidak mungkin membuat kita sengsara. Bahkan membuat hidup ini semakin indah.

#oneweekonepost
#wifiregionbandung
#alanbiya35
#aliimran186