HANYA MENYAMPAIKAN

Masihkah kita memaksakan kehendak kita kepada anak-anak kita? Atau pasangan kita? Atau mereka yang secara hierarkis ada di bawah kita?

Apakah kalau anak-anak susah disuruh salat, kita masih ngomel sambil mengancam mereka? Apakah kalau pasangan masih malas bersedekah, kita masih menegur dengan keras. Apakah kalau bawahan kita masih suka bergunjing, kita menyindir yang menyakitkan hatinya?

Padahal Allah saja tidak pernah memaksa kita untuk mentaati-Nya. Siapa yang mau beriman silakan beriman, siapa yang mau kafir silakan kafir. Itu tercermin dalam ayat yang menjadi pilihan untuk #insightQuran kali ini, surat Al-Kahfi ayat 29.

Lantas apakah kita diam saja kalau ada ketidakbenaran di depan kita? Tentu saja tidak. Kita diminta untuk mengingatkan mereka, kita diminta untuk menyampaikan kebenaran walaupun hanya satu ayat saja yang kita ketahui. Seperti menurut hadis ini.

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari).

Namun sebelumnya kita ber-tabayyun dulu. Tanyakan kenapa mereka melakukan itu. Karena siapa tahu mereka punya dasar yang kuat juga yaitu Al-Quran atau hadis, yang kita tidak mengetahuinya.

Ketika itu terjadi, maka apa yang mereka lakukan benar adanya. Tidak perlu diperdebatkan lagi. Yang penting apa yang mereka lakukan tidak melanggar Al-Quran dan Hadis.

Jika apa yang mereka lakukan tidak sesuai Al-Quran dan hadis barulah kita peringatkan baik-baik. Kita sampaikan kebenaran sesuai Al-Quran dan hadis. Kalau mereka masih tidak mengubah prilakunya, ya sudah biarkan saja. Karena semua ada pertanggungjawaban kelak. Apa yang mereka lakukan akan mereka pertanggungjawabkan kelak oleh mereka sendiri.

Tapi kan mereka anak-anak dan pasangan saya, yang saya sayangi. Saya tidak mau nanti mereka menderita di akhirat kelak. Gimana dong?

Ajaklah mereka untuk belajar hati, yaitu mengisi hati mereka dengan kebaikan-kebaikan atau kebenaran-kebenaran Al-Quran dan hadis. Begitu hati mereka dipenuhi itu, tanpa kita suruh, tanpa diingatkan, dengan sendirinya mereka akan melakukan apa yang Allah inginkan itu.

#enlightenedheart
#berbagikebaikan
#hanyamenyampaikan
#alkahfi29
#oneweekonepost
#wifiregionbandung

PENTINGKAH MEMILIKI TUJUAN HIDUP?

Suatu pagi kita pergi ke pasar tanpa tahu apa yang akan dimasak hari itu. Apa yang kemudian biasanya kita lakukan? Kalau saya biasanya kemudian kebingungan akan membeli apa, sehingga membutuhkan waktu cukup lama. Tak jarang badan jadi terasa capek karena keliling-keliling di sana.

Begitu sampai di rumah kadang saya baru menyadari ada bahan atau bumbu yang diperlukan tidak terbeli. Tapi lebih sering lagi menemukan bahan atau bumbu yang tidak dibutuhkan ada di dalam plastik belanjaan yang saya bawa.

Tapi berbeda ketika saya berbelanja di pasar dan sudah tahu akan memasak apa hari itu. Saya bisa segera menuju los yang biasa menjual bahan dan bumbu yang dibutuhkan. Waktu yang dibutuhkan jadi jauh lebih singkat. Saya juga merasa tidak capek karena tenaga yang digunakan lebih sedikit.

Sesampainya di rumah tak lagi kebingungan karena semua bahan dan bumbu lengkap tersedia. Dan tentunya juga lebih hemat karena tidak membeli bahan atau bumbu yang tidak dibutuhkan.

Begitulah jika sudah tahu TUJUAN ke pasar, kita jadi EFISIEN. Semua aktivitas di pasar kita lakukan tanpa banyak membuang waktu, tenaga, dan dana.

Ternyata hal ini tidak hanya berlaku untuk kegiatan kita ke pasar saja. Kegiatan apapun itu jika dimulai dengan TUJUAN maka kegiatan itu akan kita lakukan lebih baik. Bahkan makan, tidur, dan berolahraga pun misalnya, akan terlaksana lebih baik jika di awal kita sudah tahu apa TUJUAN-nya.

Apa tujuan kita makan, tidur, dan berolahraga? Jika tujuannya adalah untuk sehat, maka saya akan melakukan kegiatan-kegiatan tersebut langsung dengan memilih makanan sehat, jam tidur yang disarankan, dan serius dalam berolahraga. Saya tidak bingung memilih makanan yang akan dimakan, tidak bingung menentukan jam tidur, tidak main-main dalam berolahraga.

Jadi memang betul ya, setiap kegiatan itu ternyata paling baik jika dimulai dengan TUJUAN. Sekarang kita jadi tahu bahwa setiap akan melakukan sesuatu tanya dulu ke dalam diri kita apa TUJUAN-nya. Ketika kita sudah menemukannya, InsyaAllah kita akan lebih baik atau EFISIEN dalam melakukannya.

Referensi:
Materi ke 1 Tafakur Mutiara Tauhid (Bandung).

#selfreminder
#tujuanhidup
#tafakurmutiaratauhid
#dbas
#enlightenedheart

STEP BY STEP

Siapa yang suka membuat kue atau camilan? Dulu, saya kurang suka memasak termasuk membuat kue atau camilan. Lebih suka beli jadi. Lebih praktis, enggak capek, dan kemungkinan rasa enaknya lebih besar dibandingkan buatan sendiri 😁.

Tapi sejak menerapkan pola makan tertentu, saya tidak bisa lagi membeli makanan terutama kue dan camilan sembarangan. Memang sih, sudah mulai ada yang menjual makanan sesuai pola makan saya, tapi lokasinya jauh di luar kota.

Suatu saat pernah saya mencoba memesan setelah memastikan makanan yang dipesan sampai di rumah masih aman dimakan dan tidak hancur. Tapi karena salah memberikan instruksi kepada bedinde, paket makanan itu datang ketika rumah kosong. Bagus sih kurir jasa pengiriman berinisiatif menitipkan paket tersebut kepada satpam. Sayangnya satpam lupa menyampaikan ke rumah di hari yang sama. Alhasil makanan diterima keesokan harinya dalam kondisi yang sudah tidak layak makan.

Jadilah saya mencoba membuat camilan sendiri. Bukan yang rumit, melainkan sederhana saja cara membuatnya dengan bahan-bahan yang cukup mudah didapatkan juga. Tapi dalam membuatnya tetap saja harus step by step, sesuai yang tercantum di resepnya. Pernah tidak sengaja ada satu langkah semestinya dilakukan di awal, karena lupa akhirnya dilakukan di akhir menjelang adonan dibakar. Kue yang dihasilkan ternyata kurang memuaskan. Bentuknya kurang oke dan rasanya agak berbeda dari kue dengan cara buat sesuai resepnya.

Hal yang sama terjadi dalam coaching. Coaching juga memiliki “resep” agar hasilnya sesuai yang diharapkan. Dalam resep tentunya ada cara membuat makanan/minuman tersebut. Nah “cara membuat” untuk coaching terdiri dari 3 fase yang perlu dilakukan secara berurutan.

Fase pertama adalah opening. Aktivitas di fase ini adalah membangun rapport atau kedekatan dengan coachee. Masih ingat kan postingan saya beberapa hari lalu tentang hal ini? Ternyata penting ya membangun kedekatan dengan coachee. Kenapa? Silakan cek lagi di postingan sebelumnya yang berjudul “Membangun Rapport”. Atau boleh juga klik link ini: http://lenypuspadewi.com/2018/03/06/membangun-rapport/.

Fase selanjutnya adalah “Sampaikan dan Dengarkan” yang merupakan fase inti dari caching. Di fase ini kita menggali coachee dengan mengajukan powerful questions. Wah, apalagi nih? Apa bedanya dengan Positive Questions yang kemarin sempat diposting? Tenang … insyaAllah saya jelaskan di postingan berikutnya ya. So tetap intip sekali-sekali ke sini.

Di fase inti ini juga kita menjadi pendengar yang aktif atau active listener. Seperti apa aktivitas active listening ini, juga insyaAllah akan saya sampaikan di postingan selanjutnya. Jadi emang perlu ya, intip-intip ke sini lagi. Hehe …

Fase terakhir adalah closing. Di fase ini kita sebagai coach meminta coachee menyimpulkan apa yang didapatkan dan dirasakan selama proses coaching berlangsung. Dan jangan lupa diakhiri dengan ucapan terima kasih dan bagaimana keberlanjutan coaching sebagai salam perpisahan untuk sesi coaching tersebut.

Fase-fase coaching di atas seperti juga cara membuat suatu masakan, dilakukan step by step dan berurutan. Itu kalau kita ingin proses coaching berjalan baik dan hasilnya sesuai yang diharapkan.

Ya … tapi kan belum tahu apa itu powerful questions dan active listening …

Makanya intip terus di sini ya untuk dua hal itu, insyaAllah segera tayang 😄.

#coachlife
#kandelaprivatecoachestraining
#kandelainstitute
#coachchangeslife
#fasefasecoaching

“BERBISNIS” DENGAN-NYA

Beberapa waktu lalu saya terpaku dengan postingan salah seorang sahabat jiwa yang mampir di timeline FB saya yang isinya kira-kira seperti ini: Sudah pernah menemukan belum promo big sale buy one get 10, atau super-super big sale buy one get 700? Berbisnis dengan siapa bisa begini? Kalau ada, mau gak?

MasyaAllah! Seperti ada yang menampar pipi ini. Apalagi ketika komen saya dibalasnya kira-kira seperti ini: Padahal kalau ada promo buy one get one free aja di mal-mal atau supermarket, yang artinya cuma dapat 2, dikejar-kejar. Semakin keras tamparannya terasa. Begitu tertamparnya saya sehingga saya memutuskan untuk memilih surat Al-An’am ayat 160 untuk #insightQuran di Jumat ini.

Dan ayat terpilih ini diperkuat juga oleh satu hadis di bawah ini:

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Jika hamba-Ku bertekad melakukan kejelekan, janganlah dicatat hingga ia melakukannya. Jika ia melakukan kejelekan tersebut, maka catatlah satu kejelekan yang semisal. Jika ia meninggalkan kejelekan tersebut karena-Ku, maka catatlah satu kebaikan untuknya. Jika ia bertekad melakukan satu kebaikan, maka catatlah untuknya satu kebaikan. Jika ia melakukan kebaikan tersebut, maka catatlah baginya sepuluh kebaikan yang semisal hingga 700 kali lipat.” (HR. Bukhari no. 7062 dan Muslim no. 129).

Kita (atau saya mungkin ya, yang lain mah enggak 😔) sering lupa atau mungkin hati ini belum mampu untuk “melihat dengan jelas” promo spektakuler itu. Saya pun sering membiarkan kesempatan berharga itu berlalu begitu saja. Duh! Bangun Leny! Katanya ingin DBAS (Dunia Bahagia Akhirat Surga), tapi ada promo besar-besaran super duper keren gini, dicuekin.

Padahal promo but one get one free itu hanya sedikit dan bermanfaat buat kita hanya di dunia. Sementara promo besar-besaran dari Allah itu selain jauh lebih banyak jumlahnya, tidak hanya di dunia manfaatnya terasa tapi juga sampai di akhirat kelak. MasyaAllah!

Untunglah promo itu masih terus berlangsung sampai akhir zaman. So, jangan tunda-tunda lagi, yuk berbuat baik untuk siapa saja! Karena semua itu akan kembali kepada kita. Ternyata berbuat baik tidak hanya menguntungkan orang lain yang kita beri kebaikan, melainkan untuk diri kita sendiri dan bahkan berlipat ganda jumlahnya.

Thanks to sahabat jiwa Teh Tia Soenardi untuk remindernya yang jleb banget ini 🙏.

 

#oneweekonepost
#wifiregionbandung
#berbagikebaikan
#enlightenedheart

MEMBANGUN RAPPORT

Suatu ketika saya datang sendirian untuk menjadi peserta workshop. Sampai di sana ternyata tidak ada satu orang pesertapun yang dikenal. Namanya workshop tentu saja banyak praktek yang dilakukan peserta. Dan praktek-praktek itu dilakukan bersama-sama secara berkelompok. Karena itu saya harus bisa bekerjasama dengan beberapa orang tidak dikenal dalam satu kelompok ketika workshop itu berjalan.

Dengan kondisi tidak saling mengenal satu sama lain antar anggota kelompok, muncul rasa sungkan dan kurang nyaman di hati ini pada saat berhadapan dengan teman-teman satu kelompok. Untunglah hal pertama yang pemateri workshop berikan kepada kami, para peserta, adalah kesempatan berkenalan dengan teman-teman satu kelompok. Kemudian saya jadi tahu kenapa penting hal itu dilakukan.

Setelah berkenalan satu sama lain, rasa sungkan dan tidak nyaman itu jauh berkurang. Bahkan jika kita cukup pintar dalam berkomunikasi, maka kedekatanlah yang semakin terasa. Hilang sudah rasa sungkan dan tidak nyaman itu. Dan ternyata hal itu sangat menguntungkan kami. Praktek-praktek atau tugas-tugas bersama dalam kelompok tersebut bisa dikerjakan dengan baik, serta masing-masing peserta jadi bisa mengerti dengan baik materi yang disampaikan.

Hal yang sama saya alami juga pada saat praktek di sesi pertama Kandela Private Coaches Training minggu lalu. Bahkan saya mengalami hal yang tidak disangka-sangka sebelumnya. Walaupun saya sudah mengenal dengan baik sang coachee, ternyata tidak menjamin bisa dengan mudah mendapatkan kedekatan sesungguhnya.

Hal itu terlihat langsung ketika dia menolak untuk menjawab pertanyaan pertama yang ditugaskan pada sesi praktek coaching tersebut. Saya sempat kebingungan ketika itu terjadi. Untunglah pemateri mengarahkan saya untuk menerima penolakan itu dan mengajukan pertanyaan yang lebih sederhana dan dirasakan lebih mudah diterima oleh coachee.

Menarik ya? Saya perlu cari tahu agar mampu membangun rapport atau kedekatan dengan coachee sehingga hal di atas tidak terjadi lagi. Alhamdulillah tidak perlu menunggu lama untuk itu, di akhir sesi ketika melakukan evaluasi, saya mendapatkan jawabannya.

Sedikitnya ada 3 hal yang perlu saya perhatikan dan perbaiki agar kedekatan dengan coachee terbangun baik. Pertama, menghilangkan rasa superior jika coachee adalah orang yang secara hirarkis di bawah kita, seperti yang dialami saya kemarin ketika praktek dan dipertemukan dengan anak sulungku. Atau sebaliknya menghilangkan rasa inferior jika coachee adalah orang yang secara hirarkis di atas kita.

Kemudian menggunakan tone suara best friend sehingga membuat coachee merasa diperlakukan ramah dan menyenangkan. Suasana kaku di awal akan terasa semakin cair jika coachee merasa nyaman bersama kita.

Dan terakhir adalah tidak terburu-buru masuk ke fase selanjutnya dalam coaching setelah fase opening ini. Ya, fase membangun kedekatan ini adalah fase pertama atau opening dalam suatu coaching. Fase yang penting untuk keberlajutan yang baik dan hasil memuaskan bagi suatu sesi coaching. Sehingga lakukan dengan sabar dan pastikan coachee kita sudah merasa nyaman dan percaya kepada kita sebelum berpindah ke fase selanjutnya.

Ah senangnya! Baiklah. Jika begitu saya akan pelajari lebih dalam lagi dan memperbaiki ketiga hal di atas pada saat praktek coaching nanti. Terima kasih my best coach Fauzi yang sudah memberikan insight-insightnya yang sangat membantu.

“Wait! Memang ada berapa fase yang perlu kita lalui dalam sebuah sesi coaching itu? Dan apa saja sih?”

Next time insyaAllah saya cerita tentang itu. Okay!

“Satu lagi! Seperti apa sih tone suara best friend itu dan ada berapa tone suara yang biasanya bermanfaat jika kita sedang melakukan coaching?”

Nah … kalau yang ini akan lebih jelas dan asyik jika mendengar langsung dari pakarnya. Dm saya kalau belum tau siapa orangnya. Okay!

#coachlife
#kandelaprivatecoachestraining
#kandelainstitute
#coachchangeslife
#membangunrapport

KALA CINTA MENYAPA (Review Buku)

Ini adalah #ceritabuku kedua hari ini. Berbeda dalam pemilihan kata, penyajian, dan target pembaca; tapi ternyata tetap memiliki persamaan. Persamaannya adalah nuansa islami yang kental terasa sejak membaca cover bukunya.

Cinta adalah kata yang segera menarik perhatian ketika muncul dalam suatu tulisan, khususnya bagi kalangan anak muda. Kata ini mengajak yang membaca melayangkan imajinasinya tentang berbagai rasa yang pernah, sedang, dan diharapkan hadir ketika kata itu datang menyapa.

Tapi berbeda ketika membaca kata itu di buku ini. Kata yang menjadi bagian judul tidak membuat imajinasi melayang tak karuan tetapi segera diarahkan kepada sesuatu yang membuat hati ini terpaku dan ingin segera membaca isinya melalui kalimat ini: “Kau selalu tanyakan cintamu padanya, lalu apa kabar cintamu kepada-Nya”. Ya, karena sebagian besar dari kita lupa akan cinta kepada Allah ketika sapaan cinta kepada manusia menghampiri.

Berbagai tulisan yang mengupas makna cinta penulis disajikan dengan apik dengan pengayaan kisah-kisah islami dari beberapa Nabi termasuk Rasulullah SAW dan para sahabat. Adem rasanya membaca semua itu.

Saya jadi teringat dengan buku solo pertama saya yang berjuduk Menjemput Jodoh Impian. Ada kesamaan dalam isi yang disampaikan. Bahwa ketika kita berniat untuk memilih pasangan hidup yang diimpikan jadikanlah diri ini baik sesuai yang Allah inginkan.

Terima kasih Mas Arika sudah mengajak saya mengarungi makna cinta yang luas dan berharga juga insight penyajian tulisan yang berbeda. Tetaplah dalam mencinta-Nya agar ridho-Nya selalu menemani dalam menjalani kehidupan ini.

Kepo ingin baca tapi belum punya bukunya? Komen aja insyaAllah sy kasih kontak penulisnya 😊.
.
.
#reviewbuku
#tentangcinta
#cintaAllah
#membacaitumenenangkan

 

 

 

 

KETIKA AL-QURAN TAK DIAGUNGKAN LAGI (Review Buku)

Hari ini saya akan melunasi janji yang sudah lama dibuat, yaitu mereview dua buku dengan penyajian berbeda tetapi memiliki persamaan dari isinya. Dan inilah #ceritabuku pertama hari ini.

Kalau teman-teman ingin menambah pengetahuan tentang isi Alquran seperti apa, maka buku yang satu ini layak menjadi salah satu pilihan untuk dibaca. Kenapa? Karena buku ini menyajikan dengan lengkap ayat-ayat Alquran beserta makna dan konteksnya ketika diturunkan.

Dengan membaca buku ini kita seolah membaca Alquran dari awal sampai akhir. Karena buku ini ditulis bagi siapa saja yang memiliki semangat untuk terus mempelajari Alquran sepanjang hayatnya yang diharapkan dapat menjadi media belajar yang efektif.

Tidak hanya itu, buku ini juga memberikan tips-tips. Misalnya tips agar mudah mengamalkan Alquran, dari mulai mengamalkannya dari perintah yang mudah hingga selain menjaga hubungan baik dengan Allah juga menjaga hubungan baik dengan sesama.

Penyajiannya yang to the point membuat kita segera tahu pesan apa yang ingin disampaikan oleh penulis di setiap tulisannya. Hanya saja agar kita lebih memahaminya, maka bacalah dengan perlahan dan diresapi. Karena Alquran hanya bisa dimengerti oleh hati, sehingga prosesnya tidak bisa terburu-buru.

Bahasa yang digunakan penulis bukanlah bahasa yang mendayu-dayu melainkan bahasa yang umum digunakan ketika seseorang ingin menyampaikan gagasannya di depan publik. Karenanya kenikmatan dalam membaca buku ini tidak terletak di pemilihan kata dan penyampaiannya melainkan pada pesannya yang berharga karena tentang pedoman hidup kita, umat muslim.

Terima kasih Mas Ilham sudah membuat saya lebih paham akan Alquran. dan membuka wawasan kepenulisan saya lebih lebar. Walaupun ada sedikit pandangan yang berbeda dengan yang saya yakini, namun perbedaan bukanlah untuk diperdebatkan. Perbedaan hadir untuk dipilih dan hasil pemilihan itu dihormati. Karena Allah selalu memberikan pilihan kepada kita, tidak pernah memaksakan kehendak-Nya. Begitulah kita juga semestinya.

Tertarik untuk membeli dan membacanya? Di toko-toko buku juga tersedia. Tapi kalau mau lebih praktis silakan langsung hubungi penulisnya seperti yang saya lakukan juga.

#reviewbuku
#bukutentangAlquran
#membacaituasyik
#oneweekonebook

POSITIVE QUESTIONS

Ketika ada seseorang yang curhat atau melihat seseorang yang dekat dengan kita tidak segera menyelesaikan pekerjaannya, maka biasanya otomatis kita akan bertanya “apa sih kesulitan/kendalanya?” Tentu saja kita bermaksud baik karena siapa tahu bisa membantunya setelah menjawab pertanyaan itu.

Sayangnya kita tidak menyadari pada saat kita memilih kata “kesulitan” atau “kendala” untuk diucapkan maka perasaannya, dan juga kita, cenderung menjadi negatif. Dan mungkin dengan rasa lelah, sedih, nyaris putus asa, jengkel, dan kesal; dia pun kemudian menceritakan “kesulitan-kesulitan”nya itu.

Terbayang pada saat dia bercerita perasaan-perasaan negatif itu semakin kuat menguasai hati. Dan biasanya kemudian dia dan kita jadi terfokus pada “kesulitan-kesulitan itu” bukan kepada solusi.

Saya jadi mengerti kenapa di pelatihan privat coaching dari Kandela Institute yang saya ikuti beberapa hari lalu, pemateri Coach Fauzi Rachmanto mensyaratkan untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan positif kepada coachee. Bagaimana bisa sang coachee menemukan solusinya kalau karena pertanyaan kita, sang coach, dia jadi hanya terfokus pada “kesulitan-kesulitan” yang dihadapi. Padahal seorang coach hanya bertugas membantu sang coachee untuk menemukan dan kemudian menerapkan sendiri solusi dari tantangan-tantangan yang sedang dihadapinya. Bukan memberitahukannya.

Jadi pertanyaan apa dong yang bisa kita lontarkan? Coba kita ajak dia untuk menemukan sebetulnya apa sih yang saat itu ingin dia raih dengan bertanya misalnya “apa sih yang ingin dicapai dalam satu tahun ini?” Maka dia akan terfokus kepada tujuan yang akan diraih tersebut bukan kesulitan-kesulitannya. Suasana hati lebih nyaman karena perasaan-perasaan positiflah yang cenderung muncul di hati.

Lantas selanjutnya apa? Kita bisa melontarkan pertanyaan dengan menggunakan cara scalling: “Jika dilihat dari skala satu sampai sepuluh, dimana sepuluh adalah tujuan tersebut sudah tercapai; maka saat ini anda sudah berada di angka berapa?” Dan dia akan menjawab berdasarkan ukuran tersebut. Sehingga kita tahu bahwa dia sedang menghadapi sesuatu yang cukup menantang ketika dia menyebutkan angka berada di sekitar angka 5 misalnya.

Gimana? Lebih enak kan rasanya? Kenapa coba? Ya betul, karena perasaan-perasaan positiflah yang hadir pada saat itu.

Hal itu juga yang sedang saya ikhtiarkan sekarang ini setiap kali berkomunikasi dengan orang lain. Memang perlu dibiasakan dengan banyak-banyak berlatih. Salah satunya adalah ketika saya diberi kesempatan sharing pengalaman menulis di salah satu kampus di Bandung kemarin.

Saya coba untuk menerapkannya dengan melontarkan positive questions setiap kali bertanya kepada audience. Saya perhatikan wajah-wajah audience terlihat cerah dan cukup bersemangat ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Terima kasih Kak Jee Luvina dan NulisYuk yang sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk berlatih menerapkan positive questions ini. Senang sekali bisa berbagi pengalaman menulis dan bertemu dengan calon-calon penulis hebat yang penuh semangat.
.
.
#coachlife
#positivequestions
#sharingkepenulisan
#STBABandung
#kandelainstitute
#nulisyuk

BAHASA DAN RASA

BAHASA DAN RASA

Dua hari lalu adalah hari yang menyenangkan. Banyak hal yang sebetulnya tidak baru, tapi ternyata ketika mempelajari lebih dalam salah satunya, bisa membuat saya merasa lebih baik. Ya, rasa. Ini memang tentang rasa.

Rasa apa yang ingin selalu kita miliki sebenarnya di dalam hidup ini? Kalau saya rasa tenang, damai, dan tenteram. Nikmat banget jika itu bisa diraih. Tapi apa bisa, sementara di dunia tidak hanya kenyamanan yang menghampiri kita tetapi juga ketidaknyaman?

Konon ada satu hormon yang akan muncul pada saat kita merasa terancam. Karena merasa terancam tubuh kita jadi merasa tertekan. Dan hormon ini memiliki fungsi untuk mengedalikan rasa tertekan atau stres tersebut. Selama kita tidak merasakan stres berlebihan, hormon itu hadir dalam jumlah yang bisa kita terima. Namun di saat stres yang kita rasa meningkat maka hormon ini akan banyak diproduksi tubuh dan bisa mengganggu tubuh kita karena hadir berlebihan. Segala sesuatu yang berlebihan itu memang tidak baik kan? Hormon itu bernama kortisol.

Sementara ada satu hormon lagi yang muncul ketika kita merasakan kasih sayang atau cinta. Pada saat seperti itu biasanya sikap dan perilaku kita kemudian menjadi menyenangkan, penuh perhatian, dan gembira. Hormon inilah yang membantu perasaan-perasaan positif hadir di diri kita. Semakin kita merasakan cinta maka semakin banyak hormon ini dikeluarkan oleh kelenjar pituary kita; dan semakin sering kita bersikap dan berperilaku positif. Hal ini membuat kita semakin sering merasa bahagia atau merasa tenang, damai, dan tentram seperti yang saya inginkan. Hormon ini bernama oksitosin.

Dua hormon itu menjadi pilihan buat kita pada saat kita menjalani hidup. Mau banyak mengeluarkan kortisol atau oksitosin? Kalau saya, sesuai keinginan di awal, tentunya oksitosin. So, saya perlu mencari tahu hal-hal apa saja yang bisa saya lakukan agar hormon ini selalu bahkan semakin banyak hadir di tubuh saya.

Ternyata mudah. Tidak perlu mencari-cari dengan biaya, waktu, dan tenaga yang banyak. Melalui bahasa yang kita ucapkan, kita bisa menghadirkan banyak oksitosin di tubuh kita. Maksudnya?

Begini. Ternyata kata-kata yang kita ucapkan bisa menentukan yang muncul di tubuh kita itu kortisol atau oksitosin. Setiap kali kita mengalami, melihat, atau mendengar sesuatu; ucapkanlah kata-kata positif atau paling tidak netral sesuai dengan kenyataan yang ada.

Misalnya ketika kita menghadapi macet. Apa saja hal positif atau netral yang bisa kita ucapkan? Wah, banyak mobil ya … Atau … Wih, makmur ya orang-orang Indonesia (banyak yang bisa beli mobil dan bensin kan?) …

Coba rasakan bedanya ketika kita mengalami macet dan kata-kata ini yang terucap. Ya macet, bakalan lama nih … Ya udah stuck aja, kapan nyampenya …

Terasa kan? Hati ini mengkerut, murung, dan khawatir ketika mengucapkan kata-kata di alinea kedua? Kortisollah yang diproduksi pada saat itu. Berbeda dengan rasa ketika mengucapkan kata-kata di alinea sebelumnya. Hati tetap terbuka, lebih tenang dan segera menerima kondisi itu dengan santai. Oksitosinlah yang hadir.

Dan itu juga yang terjadi ketika saya mengucapkan “Terus terang saya mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan materi-materi yang diberikan. Tiba-tiba blank ketika harus berhadapan dengan orang yang di coach. Dan saya sulit melakukan aktivitas menulis berbarengan dengan menjadi active listener.” Wajah saya jadi tak bersemangat, pandangan sedih, hati mengkerut, dan tubuh mulai terasa lelah.

Tetapi ketika di akhir sesi saya mengucapkan “Semua menarik dan menantang. Saya ingin bisa seperti yang lain juga yang sudah mampu melakukannya. Jadi saya akan terus rajin berlatih karenanya.” Saya merasakan semangat yang menggelora, hati yang terbuka, dan lelah itu tiba-tiba menghilang. MasyaAllah … Amazing ya …

Alhamdulillah … Thanks to Mba Damayanti AHa dan Kaka Salsabila Athaya Zahra yang sudah menemani dan memacu saya untuk terus maju. Special thanks to my best coach Fauzi Rachmanto untuk ilmu, ajakan, dan idenya. You’re still my love, my best, my pride, always (lebay? Ga apa2. Yang penting oksitosin yg muncul kan? 😄).

#coachlife
#coachingchangeslife
#kandelacoachingtraining
#kandelainstitute
#WiFIregionBandung
#oneweekonepost

 

POHON SIKAP/PERILAKU Part 2

Ketika kita ingin bisa memanen buah sabar, ikhlas, ringan tangan, memaafkan, dan sebagainya; hal pertama yang perlu dilakukan adalah menanam pohon sikap/perilaku itu. Bagaimana cara menanamnya?

Apa yang kita butuhkan ketika kita akan menanam pohon buah-buahan? Tentunya berbagai benih dari pohon tersebut. Benih dari pohon sikap/perilaku adalah berbagai kebenaran dari Alquran yang sudah kita tahu yang bisa memunculkan sikap/perilaku tersebut. Artinya akal kita sudah mau menerima berbagai kebenaran tersebut.

Misalnya, sikap sabar dihasilkan dari kebenaran-kebenaran: (1) ada transfer pahala ketika dizalimi, (2) Allah beserta orang sabar, dan (3) Allah hanya memberi yang kita butuhkan. No 1 sampai 3 adalah benih-benih yang perlu kita tanam agar sikap sabar bisa kita panen (muncul pada saat dibutuhkan).

Cara menanamnya adalah dengan menurunkan kebenaran-kebenaran tersebut dari akal ke hati. Atau saya menyebutnya berproses, melalui perenungan dan merasa-rasakan berbagai peristiwa yang Allah inginkan kita meresponnya dengan sabar, dilihat dari pandangan 3 kebenaran Alquran di atas.

Misalnya ketika dizalimi, segera renungkan melalui 3 kebenaran tersebut. O, saat itu sedang ada transfer pahala untuk kita. O, saat itu Allah sedang memberikan yang kita butuhkan. Dan, ingatlah bahwa Allah akan selalu beserta orang-orang sabar.

Agar pohon yang kita tanam benihnya itu tumbuh dengan subur, kita perlu memupuknya. Sehingga kita bisa memanen buah dengan kualitas yang kita inginkan. Cara memupuknya adalah dengan sering berproses. Karena semakin sering kita melakukan perenungan-perenungan, maka benih-benih itu semakin dalam tertanam di hati kita. Jika benih-benih itu sudah tertanam dengan mendalam di hati, maka buah sabar yang kita inginkan itu akan selalu muncul di saat kita butuhkan.

Masih bingung? Enggak apa-apa. Coba ulangi membacanya beberapa kali atau dm saya kalau ingin mendiskusikannya lebih jauh.

#tafakur
#kemampuankalbu
#dbas
#enlightenedheart
#MTBandung