KEHIDUPAN DUNIA

Saat ini kita sedang melalui salah satu tahap kehidupan manusia. Yaitu menjalani kehidupan di alam dunia. Di alam dunia ini kita berikhtiar untuk memenuhi kebutuhan hidup agar bisa menjalani kehidupan ini sebaik-baiknya.

Kita bekerja atau berkarya di tempat masing-masing. Apakah menjadi seorang karyawan, pebisnis, bahkan istri dan ibu rumah tangga. Saya percaya hampir tidak ada yang ingin hidupnya sengsara. Kita ingin hidup di dunia ini selalu bahagia.

Namun kenyataannya tidak begitu. Tidak sedikit orang yang sering mengalami kekecewaan, kegelisahan, kekhawatiran, kekesalan, dan kemarahan di sepanjang hidupnya. Apalagi jika kita berada di kota besar yang suasananya dipenuhi kesempatan berkarir dan fasilitas yang menggiurkan.

Kota besar itu menjadi magnet bagi banyak orang untuk datang mengadu nasibnya di sana. Maka berbondong-bondonglah mereka menjadi karyawan di berbagai perusahaan atau membangun bisnisnya di sana.

Kota itu tumbuh menjadi kota yang semakin padat dengan kompetisi yang semakin ketat dan kemacetan yang semakin parah. Sehingga tekanan pekerjaan bagi para karyawan dan pebisnis semakin tinggi. Mereka harus berangkat ke tempat bekerja atau berbisnis lebih pagi dan pulang lebih malam. Hal itu dilakukan agar bisa memenangkan kompetisi dalam dunia kerja dan bisnisnya serta menghindari jam-jam macet yang parah.

Ketika seseorang hanya memikirkan keinginan memenuhi kebutuhan hidup lahiriyahnya semata, maka semua yang dialaminya akan terasa berat dan membebani. Tekanan pekerjaan yang semakin kuat dan kemacetan yang semakin parah bisa membuat mereka merasakan stres berkepanjangan.

Semua itu disikapi oleh mereka dengan beragam cara. Ada yang memilih jalan pendek agar kebutuhan-kebutuhan lahiriyahnya segera terpenuhi. Jalan yang tidak semestinya mereka lakukan. Menyogok, korupsi, dan menjegal orang lain yang dianggap pesaingnya adalah beberapa cara yang biasanya mereka lakukan.

Ada juga yang berusaha tetap berada di jalan yang dibenarkan, tetapi perilakunya dalam berhubungan dengan orang lain menjadi buruk. Cepat marah atau tersinggung, sering tidak menepati janji, dan menyalahkan orang atau pihak lain adalah beberapa perilaku diantaranya.

Kedua cara itu bisa membuat mereka stres berkepanjangan dan menderita penyakit raga seperti sakit pencernaan dan tekanan darah tinggi. Jika tidak dicari penyebabnya, penyakit-penyakit itu tidak akan membaik malah bisa menjadi lebih parah dengan munculnya penyakit lain seperti jantung dan stroke.

“Saya sudah ikhtiar mengobati penyakit-penyakit itu kok dan gaya hidup juga sudah berubah. Pola makan dan pola tidur sudah diperbaiki. Olahraga sudah rutin dilakukan. Tapi kenapa masih kambuhan terus ya?”

Semua yang disebutkan hanyalah untuk mengobati raga. Bagaimana dengan jiwa atau hati kita? Karena kita sebagai manusia tidak hanya diciptakan dalam
bentuk raga saja melainkan juga jiwa. Jiwa diciptakan menemani raga tentu ada maksudnya, ada fungsinya bagi kita dalam menjalani kehidupan ini. Pantas saja kita sulit untuk bahagia karena ternyata ada satu bagian dari diri kita yang terlupakan, yaitu jiwa kita.

Jadi jika ingin bisa menjalani kehidupan dunia ini dengan bahagia, jangan lupakan jiwa kita. Penuhi juga kebutuhan-kebutuhannya.

#sarapankata
#day15
#kmoindonesia
#kmobatch12
#kehidupandunia
#kebutuhanjiwadanraga
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#oneweekonepost
#wifiregionbandung
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day42

B A H A G I A

Kita sudah sering mendengar atau membaca orang menyarankan,” hadirkan bahagia, ciptakan bahagia.” Atau kata-kata dalam Bahasa Inggris,” Don’t worry, be happy”, yang pernah merebak karena merupakan sya’ir lagu terkenal di masanya. Yang artinya kira-kira seperti ini: “Jangan khawatir, berbahagialah”.

Khawatir memang salah satu sifat atau keadaan yang membuat diri kita tidak bahagia. Karena bahagia sejatinya adalah keadaan tenang dan tenteram yang kita rasakan tanpa ada sedikitpun rasa kecewa, khawatir, gelisah, atau marah.

Pertanyaannya adalah bagaimana membuat agar kita bahagia? Terutama pada saat kita bekerja atau berkarya di tempat kerja atau bisnis kita. Tentu saja jawabannya adalah dengan mengetahui hal apa saja yang bisa membuat kita bahagia.

Sering saya mendengar atau membaca bahwa bahagia itu sederhana.

“Bahagia itu sederhana, ketika saya bisa melakukan me time di sela-sela kesibukan bekerja.”

“Bahagia itu sederhana saat saya bisa melihat bos tersenyum.”

“Bahagia itu sederhana, di saat saya mendapatkan bonus.”

“Bahagia itu sederhana, di hari kerja bisa menikmati makan siang tepat waktu dan tanpa gangguan.”

“Bahagia itu sederhana, di hari kerja masih bisa melihat matahari ketika sampai di rumah.”

Betulkah semua itu? Coba yuk kita rasa-rasakan. Kalau kemudian kita tidak bisa melakukan atau mendapatkan semua itu; berarti kita tidak bahagia. Atau memang yang diinginkan adalah bahagia sewaktu-waktu saja? Kadang kita merasa bahagia, kadang tidak?

Kalau saya sih inginnya selalu bahagia. Dan rasanya hampir semua orang menginginkan hal yang sama. Jadi penyebab kita bahagia bukanlah seperti hal-hal di atas. Kenapa ya?

Karena kita tidak bisa memastikan hal-hal di atas selalu kita dapatkan. Semua itu adalah hal-hal di luar diri kita yang tidak mampu kita kendalikan. Apa kita bisa selalu melakukan me time setiap kita inginkan? Apakah kita bisa selalu membuat bos tersenyum? Apakah kita bisa selalu memastikan mendapatkan bonus? Apakah kita bisa selalu makan siang tepat waktu dan tanpa gangguan? Apakah kita bisa selalu melihat matahari setiap pulang kerja? Ya betul, tidak bisa.

Sehingga semua itu tidak bisa membuat kita selalu bahagia. Lantas apa dong yang bisa?

Ternyata hanya diri kita sendirilah yang bisa membuat bahagia. Hanya hal-hal di dalam diri kita yang bisa mengantarkan diri kita untuk selalu bahagia. Karena bahagia adalah salah satu rasa yang bisa kita miliki, yang artinya sangat melibatkan hati; maka hanya hati kitalah yang bisa membuat kita bahagia. Hati yang bagaimana?

Hati yang sudah memiliki kemampuan untuk menghadapi kehidupan di dunia ini, termasuk kehidupan kita di dunia kerja atau bisnis. Kemampuan apa? Kemampuan seperti sabar, ikhlas, dan berserah diri. Jika hati sudah memiliki berbagai kemampuan itu maka apapun yang terjadi kepada kita, tidak akan membuat kita kecewa, khawatir, gelisah, atau marah. Melainkan kita akan selalu dalam keadaan tenang tenteram atau dengan kata lain kita selalu bahagia.

Begitu juga di saat kita bekerja, berkarya, ataupun berbisnis. Kita bisa me time atau tidak, tidak masalah, hati kita tetap tenang. Bos tersenyum, cemberut, atau marah; hati kita tetap tenteram. Kita mendapatkan bonus atau tidak, kita tidak kecewa. Makan siang kita telat dan penuh gangguan, kita tidak kesal. Setelah bekerja atau berbisnis kita sampai di rumah matahari masih terlihat atau tidak, kita tidak tidak gelisah. Kita jadi selalu bahagia.

Betapa nikmatnya!

#sarapankata
#day14
#kmoindonesia
#kmobatch12
#bahagia
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day41

S T R E S

Pernahkah anda merasa sangat tertekan dan penuh beban pada saat menghadapi pekerjaan di kantor atau di bisnis anda? Atau pada saat sedang berkarya dalam bidang apapun itu? Perasaan apa lagi yang anda rasakan saat itu? Lelah? Khawatir? Gelisah? Marah? Atau semua terasa?

Saya pernah mengalami saat-saat seperti itu. Yaitu setiap kali saya harus berkutat dengan berbagai proses pelaporan di kampus dan dikejar deadline. Juga setiap kali menghadapi proses produksi dan pelaporan penjualan di bisnis busana muslim saya. Semua rasa yang disebutkan di akhir alinea sebelumnya hadir menghampiri saya.

Alhasil kondisi badan saya drop. Sakit pencernaan kambuh dibarengi dengan sakit kepala yang parah. Pekerjaan dan bisnis jadi agak terbengkalai karena tidak bisa beraktivitas optimal. Setelah membaikpun pekerjaan di kantor dan bisnis semakin menumpuk. Dan kembali perasaan-perasaan di atas menghampiri. Badan drop lagi. Penyakit yang membaik memarah lagi. Dan begitulah seterusnya. Jadi semacam lingkaran kehidupan saya yang tak habis-habisnya.

Dan banyak orang yang bilang saat itu saya mengalami stres. Stres adalah penyakit yang sering dialami tidak hanya yang bekerja san berbisnis. Tetapi juga semua orang yang memang merasa sangat tertekan dan terbebani dengan hal-hal yang dihadapinya.

Jelas sekali saya tidak bahagia saat itu, jika makna bahagia adalah hanya merasakan ketenangan dan ketenteraman saja. Jika saya berbahagia, tentunya saya tidak merasa sangat tertekan dan terbebani. Saya juga tidak merasa lelah, khawatir, gelisah, dan marah.

Apakah hidup seperti itu yang ingin kita jalani sepanjang usia kita? Kalau saya tidak mau. Saya ingin hidup selalu bahagia. Karenanya saya perlu tahu apa sih yang menyebabkan saya merasa sangat tertekan dan terbebani jika menghadapi hal-hal di atas itu? Apakah memang pekerjaan atau tugasnya yang berat di luar kemampuan saya? Ataukah saya yang kurang atau bahkan tidak mengasah potensi diri menjadi kemampuan yang bisa menghadapi segala permasalahan hidup dengan tetap tenang dan tenteram?

Pada saat kita sudah tahu jawabannya, maka kita akan lebih mudah untuk memperbaiki diri agar bahagia tetap hadir meskipun pekerjaan dan tugas di kantor maupun bisnis mendatangi kita.

Mau? Yuk kita sama-sama cari tahu penyebabnya 😊

#sarapankata
#day13
#kmoindonesia
#kmobatch12
#stres
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day40

C I N T A

Cinta adalah salah satu rasa yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. Karena dia adalah rasa maka hatilah yang bermain ketika kita menggunakannya. Karena berhubungan dengan hati maka pada saat merasakannya bisa mendorong seseorang berbuat di luar batas kemampuan yang disadarinya. Karena begitulah hati, memiliki potensi yang sangat dahsyat.

Mendengar kata cinta, sering kita menganggap bahwa dia selalu menghasilkan hal yang positif. Seseorang anak yang dicintai misalnya, dia akan tumbuh menjadi anak yang baik, bersemangat, dan bahagia. Seseorang yang mencintai pekerjaannya akan melakukan segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaannya sebaik-baiknya. Dia jadi selalu bersemangat dan serius dalam bekerja atau berkarya.

Sayangnya tidak selalu begitu. Cinta juga bisa menghasilkan hal yang negatif yang membuat kita tidak bahagia. Tidak hanya putus cinta atau kehilangan seseorang atau sesuatu yang dicintai, seseorang bisa merasakan tidak bahagia ketika dia menerapkan cintanya kepada yang bukan semestinya.

Seseorang yang bekerja atau berbisnis, sering merasa kecewa, khawatir, kesal, gelisah, dan marah jika kecintaannya ditujukan kepada dunia semata. Dia begitu cinta akan harta atau tahta, sehingga ketika harta atau tahta yang diinginkannya tidak tercapai atau hilang maka dia jadi kecewa, kesal, bahkan bisa jadi marah. Dia begitu cinta dan berharap kepada anak dan pasangan hidupnya, sehingga ketika anak atau pasangan hidupnya itu meninggalkannya atau bertingkah tidak sesuai harapannya, maka dia juga merasakan hal yang sama.

Walaupun kadang yang diharapkannya tercapai sehingga dia sewaktu-waktu merasakan senang dan gembira juga; namun bukan bahagia namanya jika masih merasakan kecewa, khawatir, kesal, gelisah, atau marah. Bahkan jika rasa terakhir itu sangat sering menghampirinya dan dalam tingkatan yang cukup tinggi; bisa jadi dia mengalami stres yang berkepanjangan.

Selanjutnya bisa ditebak, bisa jadi kesehatannya menurun baik fisik maupun jiwa. Kasus dideritanya berbagai penyakit fisik berat seperti jantung, stroke, dan kanker dipercaya salah satunya disebabkan oleh stres berkepanjangan. Kasus bunuh diri atau bunuh diri bersama anak misalnya memperlihatkan penurunan kesehatan jiwa seseorang yang sangat parah.

Ternyata cinta itu tidak sesederhana dan seindah yang kita kira. Tapi tentu saja kesempatan merasakan keindahan cinta itu tetap ada. Allah selalu memberikan pilihan kepada kita dalam hidup kita ini. Pilihlah yang mengantarkan kita kepada rasa bahagia. Dan saya percaya sebagian besar dari kita sudah mengetahuinya, kepada siapa/apa cinta kita tujukan agar hal itu tercapai.

#sarapankata
#day12
#kmoindonesia
#kmobatch12
#cinta
#hati
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day39

VICTIM OR VICTOR? (3)

Menjadi seorang pemenang (victor) adalah keinginan banyak orang. Namun ternyata sedikit yang tahu apalagi yang menyadari bahwa ada kebiasaan-kebiasaan kita yang membuat kita selalu selalu berada dalam kondisi sebaliknya, yaitu menjadi korban (victim). Salah satunya adalah berdalih atau excusing.

Bagaimana kita mengetahui kalau kita atau seseorang itu sedang berdalih? Mudah saja. Dia selalu memiliki banyak alasan untuk setiap kesalahan yang dia lakukan agar orang tidak menganggap kesalahan itu adalah kesalahan dirinya sendiri semata.

“Waktunya kurang pas, lagi banyak deadline,” begitu kata seseorang ketika pekerjaannya tidak selesai pada waktunya. Padahal mungkin dia yang kurang mampu mengatur waktu sehingga semua pekerjaan yang sudah mendekati masa tenggatnya menumpuk di satu waktu.

“Semuanya juga mengalami penurunan penjualan, karena katanya daya beli masyarakat menurun,” ketika ditanya kenapa omset bisnisnya menurun. Padahal mungkin dia belum bersungguh-sungguh dalam melatih timnya untuk meningkatkan pelayanan bagi para calon pelanggan.

“Saya sih tidak berburuk sangka, saya pikir dia orang yang dapat dipercaya,” begitu katanya ketika proyeknya gagal. Padahal mungkin dia yang kurang hati-hati ketika merekrut tim.

“Saya kan masih awam dalam menulis,” ketika ditanya kenapa naskah bukunya tidak selesai juga. Jawabannya seolah-olah tidak mencerminkan berdalih karena menunjuk dirinya sendiri. Tapi dia tetap berdalih jika dia tidak melakukan apa-apa untuk menghilangkan keawaman menulisnya itu.

Bagaimana kita bisa maju dan sukses jika kita sering berdalih untuk berbagai kesalahan yang kita lakukan. Ketika evaluasi dilakukan maka hasilnya tidak akurat. Semestinya yang diperbaiki adalah diri kita sendiri, karena berdalih maka yang diperbaiki adalah hal lain yang tidak akan membantu kita untuk menjadi lebih baik karena sumber masalah yaitu yang ada dalam diri kita sendiri dibiarkan tetap ada.

Masih sulit untuk mengakui bahwa penyebab kegagalan itu dari diri sendiri? Coba kembalikan kepada tujuan kita, bekerja atau berbisnis itu untuk apa? Dan bayangkan bagaimana perasaan kita ketika kita sudah mencapai tujuan itu. Senang? Gembira? Puas? Rasakan sepenuh hati sehingga kemudian kita akan bersedia dengan tulus melakukan apapun untuk mencapainya. Termasuk mengakui bahwa diri sendirilahyang menyebabkan kegagalan itu.

Enggak percaya? Bagaimana bisa percaya hal itu benar atau tidak kalau kita tidak mencobanya. Ya kan?

#sarapankata
#day11
#kmoindonesia
#kmobatch12
#berdalih
#excusing
#victimorvictor?
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day38

BERSERAH DIRI

Kalau dua hari lalu sajian sarapan saya adalah tentang salah satu kata yang mudah untuk diucapkan tetapi sulit untuk dilakukan, yaitu ikhlas; maka hari ini sajiannya adalah kata lain dengan ciri yang sama yaitu berserah diri atau pasrah.

Siapa tidak tahu dengan kata itu, saya kira hampir semua orang tahu. Bahkan mungkin hampir semuanya pernah mengucapkannya.

“Pasrah saja, kawan, mau apa lagi?”

“Kalau sudah begini, saya hanya bisa pasrah.”

“Akhirnya saya pasrah, mau gimana lagi coba?”

Begitu kata “pasrah” sering saya dengar atau baca. Dari nada dan kata-kata lain yang “menemani” kata “pasrah” itu terkesan bahwa pasrah adalah jalan terakhir yang ditempuh ketika berbagai ikhtiar sudah dilakukan dan tidak ada hasilnya.

Misalnya ada seorang teman yang berpasrah ketika dia tidak berhasil menagih hutang yang dipinjam partnernya dalam jumlah yang cukup besar. Padahal hutangnya itu diambil dari sebagian uang bisnisnya yang katanya sedang sangat dibutuhkan saat itu. Berbagai cara sudah dilakukan, dari cara halus sampai dengan ancaman dilaporkan kepada yang berwajib dan diperkarakan ke pengadilan. Tapi tidak ada hasilnya. Partnernya menantang “silakan diperkarakan,” katanya.

Bagaimana respon teman saya atas hal itu? Dia tahu memperkarakan bukan hal yang mudah. Berbelit prosedurnya dan ongkosnya mahal. Dia sadar itu bisa berlarut-larut dan bisa membuat dia menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan dana yang tidak sedikit. Akhirnya dia bilang dengan wajah kuyu,” Ya sudah, saya pasrah saja. Mau gimana lagi coba?”

Atau saya pernah mendengar ada seorang karyawan di-phk. Sejak setahun sebelumnya dia sudah mendengar desas-desus bahwa perusahaan tempatnya bekerja itu akan melakukan pengurangan karyawan karena kondisi keuangan perusahaan yang semakin buruk. Dia berikhtiar dengan melakukan berbagai tugasnya sebaik-baiknya agar dia dinilai berharga oleh perusahaan sehingga dipertahankan tidak ikut di-phk.

Dia semakin rajin datang ke kantor, tidak pernah terlambat. Dan pulang lewat dari jam yang ditentukan kadang sampai malam sekali masih di kantor menyelesaikan tugasnya. Dia pun memberi perhatian lebih kepada atasan langsungnya. Dia mengirimkan bunga dan kartu ucapan ketika atasannya itu berulang tahun dan mendapat suatu penghargaan. Dia menjenguk ketika anak atasannya itu sakit dan dirawat di rumah sakit. Dia menawarkan bantuan ketika atasannya itu melangsungkan syukuran ketika akan berangkat haji.

Namun ketika phk diberlakukan, dia termasuk yang ikut di-phk. Dia pun dengan sangat kecewa berkata,” kalau sudah begini, saya hanya bisa pasrah.”

Berpasrah atau berserahdiri adalah salah satu sikap yang dibutuhkan agar kita tetap mampu menjalani kehidupan di dunia ini dengan baik atau dengan kata lain bahagia. Termasuk ketika memanfaatkan waktu kita di bisnis dan tempat kerja. Rasa bahagia membuat kita selalu bersemangat untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Rasa bahagia membuat kita selalu memandang segala sesuatu itu positif. Rasa bahagia juga membuat kita selalu bersikap baik kepada siapapun. Semua itu membuat kita mampu menjadi pekerja teladan dan pebinis handal. Siapa yang tidak mau? Sebagian besar orang pasti menginginkan itu.

Masih belum yakin? Inilah janji Allah kepada mereka yang berserah diri:

“… Dan barangsiapa yang bertawakkal (berserah diri) kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath-Thalaq: 3)

Semestinya kita menjadi bahagia karena Allah berjanji untukmencukupi segala keperluan kita jika kita berserah diri. Dan janji Allah adalah pasti. Dia Maha Suci tak mungkin ingkar janji.

Tapi apakah kita bisa merasa selalu bahagia dengan cara berserah diri seperti dua contoh di atas? Wajah kuyu dan rasa kecewa ketika mengatakan keberserahan dirinya itu memperlihatkan mereka tidak bahagia, jika bahagia diartikan sebagai rasa tenang dan tenteram tanpa ada rasa sedih, kecewa, gelisah, dan khawatir.

Mereka sudah berserah diri tapi masih belum merasa bahagia. Kenapa ya?

#sarapankata
#day10
#kmoindonesia
#kmobatch12
#berserahdiri
#pasrah
#tawakal
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day37

VICTIM OR VICTOR? (2)

Siapa sih yang tidak ingin menjadi pemenang? Saya percaya hampir semua orang ingin menjadi pemenang. Tapi ternyata tidak mudah menjadi seorang pemenang. Karena ada hal-hal yang kita lakukan tanpa kita sadari membuat kita tidak bisa menjadi pemenang melainkan menjadi korban. Salah satunya adalah penolakan kita terhadap ketidaknyamanan yang kita alami.

Apakah anda pernah merasa kecewa, gelisah, khawatir, kesal yang berujung pada marah dan stres? Atau bahkan mungkin sering? Biasanya disebabkan oleh apa? Kalau saya, salah satunya adalah tidak mau menerima kenyataan bahwa apa yang saya harapkan tidak tercapai. Dan itu kadang tanpa disadari.

Misalnya tanpa sadar ternyata saya pernah menolak kegagalan dalam berbisnis. Ketika itu bisnis baju muslim saya semakin hari semakin menurun performanya. Cirinya apa bahwa saya menolak? Saat itu terjadi saya mengeluh dengan bertanya-tanya tidak hanya kepada diri sendiri dan orang-orang terdekat, tapi juga kepada Allah.

Kenapa kok bisnis saya semakin terpuruk? Padahal sudah mengikuti banyak seminar dan pelatihan bisnis dan menerapkan apa yang didapat. Padahal sudah aktif di komunitas bisnis. Padahal beberapa kali ikut program mentoring. Padahal orang lain yang melakukan hal sama bisa maju bisnisnya. Apa salah saya?

Ketika kemudian kita mendapatkan jawaban yang mengarah kepada menyalahkan hal lain di luar diri kita, maka pada saat itulah kita menjadi korban atau victim. Pada saat kita diposisi ini, maka kita akan sulit menjadi
pemenang atau victor.

Apakah salah mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu? Sebetulnya jika pertanyaan itu ditujukan benar-benar hanya untuk mencari solusi agar ketidaknyamanan/kegagalan yang kita terima itu segera teratasi, bisa jadi tidak masalah. Dan tanpa kecenderungan menyalahkan hal lain di luar diri kita. Bahkan hal itu bisa membantu kita untuk segera mendapatkan solusi dan membuat keadaan membaik lagi.

Sayangnya itu bukanlah tahap pertama bagi kita untuk sampai kepada ciri menerima. Ada langkah lain yang justru paling penting yang sering kita lupakan untuk sampai ke tahap tersebut. Sebelum pertanyaan-pertanyaan itu diajukan kita perlu menyadari bahwa kita memang pantas menerima ketidaknyamanan/kegagalan tersebut.

Jadi tidak mengherankan ketika ketidaknyamanan/kegagalan itu datang, kita bertanya-tanya terus-menerus karena kecewa dan iri dengan apa yang dicapai orang lain, tanpa berusaha dengan sungguh-sungguh mencari solusinya. itulah yang akhirnya bisa membuat kita marah dan stres.

Dan bahkan sebaiknya kita menyadari bahwa kita pantas menerima ketidaknyamanan/kegagalan itu sebelum hal itu terjadi. Ini membantu kita semakin siap menerima pada saat hal itu terjadi. Sehingga kita tidak akan merasa kecewa, gelisah, khawatir, marah, dan stres pada saat ketidaknyamanan itu datang.

Ternyata tidak sulit, ya menjadi victor? Atau … sulit?

#sarapankata
#day9
#kmoindonesia
#kmobatch12
#oneweekonepost
#wifibandung
#wifiregionbandung
#menolak
#victimorvictor?
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day36

I K H L A S

I H K L A S

Setiap kali saya bertemu dengan atau mendengar ada orang yang mau menerima berbagai ketidaknyamanan yang datang kepadanya tetapi dia tetap bisa tenang, tersenyum, tidak mengeluh malah bersyukur; saya kagum sekaligus bertanya-tanya. Keren banget ya dia. Tapi kok bisa?

Keren banget karena saya jarang menemukan orang yang mampu seperti itu. Saya lebih sering bertemu atau mendengar orang merasakan gelisah, khawatir, kesal, bahkan marah ketika mengalami ketidaknyamanan. Saya sendiripun masih mengalami hal yang sama jika mengalami hal itu. Paling tidak pada pukulan pertama, yaitu ketika di awal saya merasakan ketidaknyamanan itu.

Misalnya, saya pernah mendengar ada seseorang yang ditipu oleh sahabatnya pada saat berbisnis. Dia menjadi bankrut dan kehidupan keluarganya berantakan karena istrinya tidak bisa menerima kenyataan jika harus mengalami kesulitan ekonomi. Tapi dia bisa tetap tenang dan mungkin karena ketenangannya tersebut membuat dia mampu untuk bangkit kembali dari kejatuhannya itu. Dia akhirnya berhasil membangun kembli
bisnisnya dan bertemu dengan jodohnya lagi yang lebih baik dan mau mengerti serta mendukungnya di setiap keadaan.

Atau saya juga pernah mendengar ada seseorang yang difitnah dan dijatuhkan di lingkungan bekerjanya. Bahkan tidak hanya sekali dia mengalaminya, melainkan beberapa kali. Tapi entah kenapa, dia selalu mampu bersikap tenang dan tidak banyak mengeluh dengan bercerita ke sana ke mari. Dia tetap mampu hadir di tempat kerjanya dan mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik.

Atau seseorang yang akhir-akhir ini saya kenal dan lihat sendiri. Bagaimana tenangnya, bagaimana dia tetap tersenyum ketika berkata-kata, tidak ada keluhan sedikitpun bahkan syukur sering terucap dari mulutnya. Padahal saat ini dia berada dibawah vonis dokter bahwa hidupnya tidak lebih dari satu bulan lagi karena penyakit yang menggerogotinya. Dia tetap bersemangat berbagi ilmu dan menularkan kebaikan walaupun kondisi tubuh sudah melemah. Katanya,” Selama saya masih mampu untuk melakukan itu semua, saya tidak akan berhenti walaupun misalnya hanya mampu berkata-kata saja karena badan sudah tak bisa digerakkan sama sekali”.

Dan saat ini, setiap hari pintu rumahnya selalu terbuka di jam-jam tertentu untuk memberi kesempatan kepada siapapun yang ingin mendapatkan ilmu dan kebaikannya. Padahal untuk makan saja dia harus disuapi karena kedua tangannya sudah terlalu lemah untuk digunakan beraktivitas. MasyaAllah …

Ternyata ada ya orang-orang istimewa seperti itu. Apa sih yang membuat mereka bisa bersikap seperti itu? Tetap tenang, tersenyum, tidak mengeluh, bahkan bersyukur dengan keadaan tidak nyaman yang dialaminya. Ikhlas bahkan dalam kondisi sangat tidak nyaman sekalipun. Kenapa mereka bisa berbeda dari kebanyakan orang?

Ah, pertanyaan-pertanyaan yang masih membuat saya penasaran. Bagaimana dengan anda?

#sarapankata
#day8
#kmoindonesia
#kmobatch12
#ikhlas
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day35

VICTIM OR VICTOR? (1)

“Jalanan macet.”

“Hujan deras banget.”

“Ban motor bocor.”

Pernahkah mendengar seseorang yang menjawab seperti itu ketika dia datang terlambat pada saat meeting atau masuk kerja/kuliah misalnya? Sering, ya?

“Terlalu banyak tugas/pekerjaan dalam satu waktu.”

“Printernya rusak.”

“Anak rewel.”

“Waktunya mepet banget.”

Atau pernahkah mendengar seseorang menjawab seperti di atas ketika dia tidak bisa mengerjakan tugasnya di tempat kerja/kampus misalnya? Ternyata sering juga, ya.

Apakah salah jika seseorang memberikan alasan-alasan seperti itu? Belum tentu. Bisa jadi apa yang dikatakannya itu memang benar adanya. Jalanan memang macet, hujannya memang deras banget, printernya memang rusak, atau waktunya memang mepet banget.

Tetapi bukan masalah salah atau benar, terjadi atau tidak, apa yang dikatakannya itu. jika itu menjadi kebiasaan maka kita menjadi sering dan dengan mudah membiarkan janji atau tugas/perkerjaan kita terbengkalai. Pada saat seperti itu beribu alasan bisa dengan mudah kita temukan. Sehingga kita mungkin jadi tidak merasa bersalah dan mungkin juga tidak ada keinginan untuk mengerjakan tugas/pekerjaan kita dengan baik. Kita jadi lalai akan tanggungjawab/janji kita.

Bagaimana mungkin kita bisa menjadi pemenang jika hal itu sering kita lakukan? Bagaimana mungkin kita bisa mencapai keinginan-keinginan/mimpi-mimpi kita jika sering dan dengan mudah memberi alasan seperti itu? Katanya ingin berprestasi di tempat kerja. Katanya ingin bisnisnya sukses. Katanya ingin bisa lulus kuliah tepat waktu dan dengan nilai yang baik. Katanya ingin jadi penulis buku yang hebat dan terkenal.

Apakah semua itu bisa kita capai hanya dengan “ingin”? Tapi kita tidak memperbaiki kebiasaan-kebiasaan kita yang tidak baik seperti di atas? Yaitu dengan mudah kita memberikan banyak alasan untuk ketidakdisiplinan kita?

Selama kita merasa selalu menjadi korban (victim) kita akan sulit untuk menjadi pemenang (victor). Itulah kemudian yang membuat kita menjadi sering mengeluh saja tanpa mencari solusi dari apa yang kita keluhkan itu. Kita menjadi merasa nyaman dalam keluhan-keluhan itu. Kita tidak merasa bersalah ketika keluhan itu disampaikan.

Tapi memang semua kembali kepada diri masing-masing. Menjadi victim atau victor adalah pilihan. Tidak ada yang bisa menentukannya kecuali diri kita sendiri.

Jadi mau tetap menjadi victim atau berubah menjadi victor?

#sarapankata
#day7
#kmoindonesia
#kmobatch12
#victimorvictor?
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day34

S A B A R

“Jadi gimana cara kamu menemukan solusi itu, Zan?” Tanya saya penasaran.

Azantya, adik kelas di SMA yang sekarang memiliki bisnis fashion yang sedang menanjak naik itu, tampak sudah siap menjawab ketika telepon genggamnya berbunyi. Diliriknya layar telepon genggam yang ada di meja kafe tempat kami bertemu ini, kemudian menjawab,” Maaf ya, Teh. Saya terima telepon dulu sebentar. Dari tim saya.”

Dan Azantyapun beberapa saat menjawab telepon tersebut. Terdengar suara perempuan namun tidak jelas apa yang dikatakannya dari telepon genggamnya itu. Hanya saja dari nada bicaranya terdengar kepanikan. Tapi Azantya terlihat tenang dengan senyum tampak membayang di bibirnya. Kemudian diapun berkata-kata dengan ketenangan yang sama walaupun terasa nada ketegasannya.

“Ada apa kalau boleh tahu, Zan?” Setelah Azantya menutup telepon genggamnya.

“O, itu. Biasalah. Ada kesalahan pengiriman, beberapa paket barang tertukar dikirimkan ke alamat yang bukan semestinya,” jawab Azantya sambil tersenyum.

“Sering hal seperti itu terjadi?”

“Sebetulnya hanya satu orang yang sering melakukan itu, yang barusan telepon itu. Memang agak teledor orangnya.”

“Sering? Memang enggak pernah dikasih tahu atau sanksi kalau dia melakukan itu lagi?” Tanyaku heran.

Azantya tertawa kecil,” Sudah. Tapi terulang lagi dan lagi.”

“Terus kenapa dia masih dipertahankan menjadi tim kamu?”

Azantya terdiam sebentar sambil memandang saya. Bibirnya tetap menyunggingkan sedikit senyum,” Dia memang tidak sepintar dan secekatan tim yang lain. Tidak jarang melakukan kesalahan bahkan untuk hal-hal kecil seperti lupa menyimpan peralatan. Tapi dia single parents, anaknya 3 masih perlu biaya banyak. Niat saya berbisnis bukan semata-mata untuk profit pribadi saja, tetapi juga ingin membantu orang lain yang membutuhkan.”

MasyaAllah, rasa kagum mulai saya rasakan. Kemudian kamipun melanjutkan percakapan yang terpotong tadi. Namun tidak lama terdengar telepon genggam Azantya berbunyi lagi. Diliriknya layar telepon genggam itu dan kali ini lebih cepat dia menjawab panggilan telepon tersebut.

“Maaf, sebentar ya, Teh. Dari suami,” katanya sambil berdiri dan menjauh dari tempat kami duduk. Beberapa saat kemudian Azantya berjalan kembali mendekati meja kami sambil berkata,” Ya udah, Pa, bawa ke sini aja Dik Rasya nya.”

“Rasya lagi agak rewel, mungkin karena sedang kurang enak badan, sedang agak pilek dia. Risya masih betah di toko buku. Jadi enggak sinkron deh,” katanya menjelaskan sambil tertawa kecil. Rasya adalah anak bungsu laki-laki Azantya yang baru bersekolah di TK. Sementara Risya adalah anak sulung perempuannya yang sudah di SMA.

Tidak lama kemudian suami dan anak bungsu Azantya datang. Rasya langsung merangkul ibunya dengan manja. Kata-kata bernada manja berhamburan keluar dari mulut kecilnya.

Yang membuat saya kagum adalah kesabaran Azantya menghadapi kemanjaan Rasya ketika kami kemudian melanjutkan percakapan yang tertunda setelah suaminya kembali ke toko buku untuk menemani anak sulung mereka. Tidak jarang percakapan kami harus berhenti sesaat karena Rasya meminta perhatian ibunya. Dari mulai ingin memesan makanan dan minuman tertentu, membujuk Rasya untuk tidak memesan minuman dingin, ke toilet, minta dipijit kakinya, minta dicium kedua pipinya, sampai minta disuapi.

Namun tidak ada sekalipun Azantya menghadapinya dengan kesal dan keras. Hanya ketenangan dan kelembutan yang tercermin dalam setiap tindakannya. MasyaAllah …

Kemudian terdengar lagi telepon genggam Azantya berbunyi. Dari timnya lagi. Sepertinya kali ini masalahnya cukup pelik sehingga membutuhkan kehadirannya di sana. Dan lagi-lagi sikap dia tetap tenang dalam menghadapi permasalahannya itu. Tidak terlihat kegelisahan dan kekhawatiran di dalamnya.

“Maaf sekali lagi ya, Teh. Kita enggak bisa lebih lama lagi ngobrolnya. Padahal saya masih kangen. Padahal saya yang semangat mengajak Teteh bertemu,” katanya ketika kami bersalaman pipi berpamitan. Kemudian dia mengajak Rasya berjalan meninggalkan kafe itu menuju toko buku untuk menyusul suami dan anak sulungnya.

Dan rasa kagum itu masih terus ada di hati ketika sosoknya menghilang ditelan dinding pembatas kafe dengan bagian lain di mal besar itu. Apa ya, yang ada di hatinya sehingga kesabarannya tetap ada walaupun berbagai ketidaknyamanan sedang menghampirinya?

#sarapankata
#day6
#kmoindonesia
#kmobatch12
#sabar
#worklifebalance
#spiritualityatwork
#workwithshinedheart
#lenypuspadewi
#lenymenulis
#myfourthbook
#inspiringbooks
#100dayswritingchallenge2
#day33